KELANJUTAN MINISTRI RAJA (1)
Dalam konstitusi Kerajaan Surga ada empat ayat yang memberi tahu kita bagaimana kita dapat masuk ke dalam Kerajaan Surga. Yang pertama ialah Matius 5:3 yang me-ngatakan, “Berbahagialah orang yang miskin di hadapan Allah (miskin di dalam roh), karena merekalah yang punya Kerajaan Surga”; yang kedua mengatakan, “Berbahagialah orang yang dianiaya karena kebenaran, karena merekalah yang punya Kerajaan Surga” (Tl.) (5:10). Kedua ayat ini di-tujukan pada masa kini. Jika kita ingin berada dalam rea-litas kerajaan hari ini, kita perlu miskin di dalam roh kita dan dianiaya karena kebenaran. Realitas kerajaan hari ini terutama bergantung pada kebenaran. Kita diantar masuk ke dalam realitas kerajaan melalui miskin di dalam roh. Setelah kita mengalami perubahan dalam pikiran kita, kita berpaling kepada Tuhan dan menjadi kosong dalam roh kita. Dengan demikian Tuhan masuk ke dalam roh kita dengan Kerajaan Surga-Nya. Sejak saat itulah, kita mulai hidup da-lam realitas kerajaan. Karena kita benar, kita tinggal dalam realitas ini. Namun, jika kita tidak benar, kita berada di lu-ar realitas kerajaan. Asalkan kita memegang kebenaran, kita terpelihara dalam realitas kerajaan. Periksalah kehi-dupan Anda setiap hari. Jika Anda kendur, terlalu bebas, dan tidak mempedulikan kebenaran, Anda segera terpisah dari realitas kerajaan. Jika kita ingin berada dalam realitas ke-rajaan hari ini, kita harus miskin di dalam roh kita dan kita harus mempertahankan diri kita dalam kebenaran, bahkan mau menderita demi kebenaran.
Dua ayat lain yang memberi tahu kita bagaimana ma-suk kerajaan, keduanya menunjukkan cara memasuki mani-festasi Kerajaan Surga kelak. Matius 5:20 mengatakan, “Aku berkata kepadamu: Jika kebenaranmu tidak melebihi kebenaran ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi, sesung-guhnya kamu tidak akan masuk ke dalam Kerajaan Surga” (Tl.). Hal ini menunjukkan cara untuk berbagian dalam ma-nifestasi kerajaan. Jika kita ingin masuk ke dalam manifes-tasi Kerajaan Surga, kita perlu kebenaran yang melampaui. Karena itu, kebenaran tidak hanya memelihara kita dalam realitas kerajaan, tetapi juga membawa kita ke dalam ma-nifestasi kerajaan.
Ayat yang terakhir ialah 7:21 yang mengatakan, “Bukan setiap orang yang berseru kepada-Ku: Tuhan, Tuhan! akan masuk ke dalam Kerajaan Surga, melainkan orang yang melakukan kehendak Bapa-Ku yang di surga.” Ayat ini me-nunjukkan bahwa untuk masuk ke dalam Kerajaan Surga, kita harus melakukan kehendak Bapa. Karena itu kebenar-an dan melakukan kehendak Bapa akan membawa kita ma-suk ke dalam manifestasi kerajaan. Kebenaran terutama me-nunjukkan kehidupan kita, dan melakukan kehendak Bapa terutama menunjukkan pekerjaan kita. Baik kehidupan mau-pun pekerjaan kita harus sesuai dengan konstitusi Kerajaan Surga. Jika kehidupan kita menurut konstitusi ini, kita akan benar. Dan jika pekerjaan kita menurut konstitusi, berarti melakukan kehendak Allah. Kehidupan dan pekerja-an semacam ini membuat kita bersyarat memasuki mani-festasi kerajaan. Sebab itu, karena kita miskin di dalam roh, kita dibawa ke dalam realitas kerajaan, dan melalui kebe-naran kita dipelihara dalam realitas ini. Dengan melampaui kebenaran dan melakukan kehendak Bapa, kita akan me-masuki manifestasi Kerajaan Surga.
Setelah mengumumkan konstitusi Kerajaan Surga di atas gunung, Tuhan Yesus turun dari gunung untuk me-lanjutkan ministri-Nya. Dalam berita ini kita akan melihat kelanjutan ministri Raja.
I. TANDA DENGAN MAKNA ZAMAN
Setelah Sang Raja turun dari gunung untuk melaksa-nakan ministri rajani-Nya, hal pertama yang dilakukan-Nya adalah mentahirkan orang yang najis, menyembuhkan orang yang sakit, dan mengusir setan dari orang yang kera-sukan agar mereka dapat menjadi umat Kerajaan Surga (8:2-17).
Mukjizat atau tanda-tanda yang tercatat dalam ayat 21 pasal 7 mempunyai makna zaman. Tujuan keempat perumpamaan yang tercatat dalam Matius 8:2-16 berbeda dengan yang terdapat dalam Markus 1:29—2:1 dan Lukas 4:38-41; 5:12-14; 7:1-10. Catatan Markus menunjukkan bahwa Yesus adalah Hamba Allah yang sesuai dengan sejarah. Catatan Matius membuktikan bahwa Kristus adalah Raja Kerajaan Surga yang sesuai dengan doktrin. Dalam Injilnya, Matius menjajarkan beberapa perumpamaan untuk menampilkan suatu doktrin. Catatan Lukas mewahyukan bahwa Yesus adalah orang yang tepat sebagai Juruselamat manusia, yang sesuai dengan moralitas. Catatan Yohanes mempersaksikan bahwa Kristus adalah Anak Allah dan Allah sendiri, yang se-dikit banyak sesuai dengan sejarah. Karena itu, dalam keem-pat Injil terdapat tiga macam urutan: sejarah, doktrinal, dan moral. Dalam Matius 8:1-17 terdapat tiga mukjizat: penta-hiran kusta, penyembuhan budak laki-laki kafir yang lumpuh, dan penyembuhan ibu mertua Petrus serta penyembuhan orang banyak. Semua perkara ini dikelompokkan bersama untuk menampilkan suatu doktrin yang bermakna zaman. Marilah kita terlebih dulu melihat perkara penyembuhan kusta (Mat. 8:1-4).
A. Menyembuhkan Orang Kusta
1. Raja Turun dari Bukit
Dalam 8:1 mengatakan, “Setelah Yesus turun dari bukit (gunung), orang banyak berbondong-bondong mengikuti Dia.” Turunnya Raja dari gunung menunjukkan bahwa Raja Surga-wi telah turun dari surga ke bumi. Ia mula-mula datang kepada orang Yahudi karena jelas bahwa orang yang sakit kusta di sini mewakili umat Yahudi. Raja Surgawi turun dari surga membawakan keselamatan pertama-tama kepada orang Yahudi yang kena kusta. Menurut Roma 1, keselamat-an pertama-tama untuk orang Yahudi dan kemudian untuk orang kafir (ayat 16).
2. Seorang yang Sakit Kusta Datang kepada-Nya
dan Menyembah Dia, Mohon Dia Mentahirkannya
Ayat 2 mengatakan, “Seorang yang sakit kusta datang kepada-Nya, lalu sujud menyembah Dia dan berkata, ‘Tuan, jika Tuan mau, Tuan dapat mentahirkan Aku.’” Orang yang sakit kusta menyembah Raja baru dan memanggil-Nya Tuhan, mengenal bahwa Dialah Tuhan Allah. Dalam realitas, Raja baru adalah Allah Yehova (Mat. 1:21, 23).
Penyakit yang disembuhkan dalam perkara yang terca-tat dalam Matius 8 sangat bermakna, karena setiap pe-nyakit menunjukkan penyakit rohani yang khusus. Orang golongan pertama yang diselamatkan oleh Penyelamat Raja-ni untuk menjadi umat kerajaan diwakili oleh orang kusta. Menurut contoh dalam Alkitab, kusta adalah akibat dari pemberontakan dan ketidaktaatan. Miriam terkena kusta karena dia memberontak terhadap wakil kekuasaan Allah (Bil. 12:1-10). Kusta Naaman dibersihkan karena keta-atannya (2 Raj. 5:1, 9-14). Dalam pandangan Allah, semua manusia yang jatuh telah terkena kusta karena pemberon-takan mereka. Kusta ialah suatu ekspresi pemberontakan. Pemberontakan adalah batiniah dan kusta adalah manifes-tasi lahiriahnya. Kini Penyelamat rajani datang untuk me-nyelamatkan manusia dari pemberontakan mereka dan mentahirkan mereka dari kusta agar mereka dapat menjadi umat kerajaan-Nya.
Kusta ialah penyakit yang najis. Dalam Perjanjian Lama orang yang terkena kusta harus diasingkan dari perkemah-an umat Israel sampai ia ditahirkan. Ini menunjukkan bah-wa setiap orang di antara umat Allah yang memberontak sehingga menjadi kusta, akan dikucilkan dari persekutuan umat Allah sampai ia disembuhkan. Orang yang sakit kusta di sini mewakili orang Yahudi. Orang Yahudi menjadi pem-berontak terhadap Allah. Jadi, dalam pandangan Allah, me-reka berpenyakit kusta. Bagaimanapun, Raja surgawi mula-mula datang kepada mereka, bukan untuk menghakimi mereka, tetapi untuk menyembuhkan mereka. Sebagaimana Tuhan menunjukkan dalam Matius 9:12 bahwa Ia datang sebagai Tabib untuk menyembuhkan orang sakit. Ia datang dahulu kepada orang Yahudi untuk menyembuhkan mereka dan membawakan keselamatan kepada mereka.
3. Raja Mengulurkan Tangan-Nya
dan Menyentuh Orang Itu untuk Mentahirkan Dia
Ayat 3 mengatakan, “Lalu Yesus mengulurkan tangan-Nya, menyentuh orang itu dan berkata, ‘Aku mau, jadilah tahir.’ Seketika itu juga tahirlah orang itu dari kustanya.” Menurut hukum Taurat, orang kusta harus diasingkan dari orang-orang lain karena kenajisannya. Tidak seorang pun boleh menyentuhnya (Im. 13:45-46). Namun, Raja baru, se-bagai seorang manusia dan bahkan Penyelamat rajani, menyentuh orang kusta itu. Benar-benar penuh rahmat dan simpatik! Dengan sentuhan-Nya satu kali saja, orang yang sakit kusta itu segera menjadi tahir. Pentahiran yang sungguh ajaib!
4. Orang Kusta yang Ditahirkan Disuruh Raja
Mempersembahkan Persembahan
sebagai Suatu Kesaksian
Ayat 4 mengatakan, “Lalu Yesus berkata kepadanya, ‘Ingatlah, jangan engkau memberitahukan hal ini kepada siapa pun, tetapi pergilah, perlihatkanlah dirimu kepada imam dan persembahkanlah persembahan yang diperintah-kan Musa, sebagai bukti bagi mereka.’” Raja baru memberi tahu orang kusta yang ditahirkan bahwa untuk pentahir-annya, dia perlu melakukan hal-hal yang sesuai dengan per-aturan hukum Taurat lama, karena masa peralihan masih berlaku, hukum Taurat lama belum digenapi oleh kematian penebusan-Nya.
B. Menyembuhkan Hamba Perwira
1. Seorang Perwira Menghampiri Tuhan dan Memohon Dia untuk Menyembuhkan Hamba-Nya
Setelah Tuhan masuk ke Kapernaum, “datanglah seo-rang perwira mendapatkan Dia dan memohon kepada-Nya, ‘Tuan, hambaku terbaring di rumah karena sakit lumpuh dan ia sangat menderita’” (Mat. 8:5-6). Seorang perwira ialah opsir yang mengepalai seratus orang prajurit dalam pasuk-an Romawi. Orang kusta dalam ayat 2-4 mewakili orang Yahudi, sedangkan perwira dalam ayat 5-13 mewakili orang bukan Yahudi. Di hadapan Allah, orang Yahudi telah men-jadi kusta, najis, karena pemberontakan dan ketidaktaatan mereka. Sedangkan orang bukan Yahudi telah menjadi lumpuh, mati fungsinya, karena dosa mereka. Penyelamat rajani mulai datang kepada orang Yahudi, kemudian kepa-da orang bukan Yahudi (Kis. 3:26; 13:46; Rm. 1:16; 11:11). Orang Yahudi yang percaya diselamatkan oleh sentuhan lang-sung-Nya (ayat 3), sedangkan orang bukan Yahudi yang per-caya diselamatkan melalui iman pada perkataan-Nya (ayat 8, 10, 13).
2. Si Perwira Mengenal Kekuasaan, Hanya Memohon Sepatah Kata
Ketika Tuhan memberi tahu perwira bahwa ia akan datang dan menyembuhkan hambanya, perwira itu datang kepada-Nya, “Tuan, aku tidak layak menerima Tuan di da-lam rumahku, tetapi katakan saja sepatah kata, maka hamba-ku itu akan sembuh.” Perwira bukan Yahudi itu mengenal kekuasaan Penyelamat rajani dan menyadari bahwa perka-taan-Nya memiliki kekuasaan untuk menyembuhkan. Jadi dia percaya bukan hanya kepada Penyelamat rajani, tetapi ju-ga percaya kepada perkataan-Nya, dan meminta agar Tuhan sendiri tidak usah pergi, melainkan hanya mengucapkan sepatah kata saja. Ini adalah iman yang lebih kuat, dan hal ini mengherankan Penyelamat (ayat 10).
3. Sang Raja Takjub Akan Iman Perwira Bukan
Yahudi, Menunjukkan Banyak Orang Bukan Yahudi
Akan Berbagian dalam Kenikmatan Kerajaan
Ayat 10 mewahyukan bahwa Tuhan Yesus heran akan iman perwira dan berkata, “Sesungguhnya Aku berkata ke-padamu, iman sebesar ini tidak pernah Aku jumpai pada seorang pun di antara orang Israel.” Karena itu dalam ayat 11-12 Tuhan berkata bahwa “banyak orang akan datang dari timur dan barat dan duduk makan bersama-sama dengan Abraham, Ishak, dan Yakub di dalam Kerajaan Surga, se-dangkan anak-anak Kerajaan itu akan dicampakkan ke dalam kegelapan yang paling gelap.” Ini menunjukkan bahwa orang bukan Yahudi akan berbagian dalam Injil kerajaan (Ef. 3:6, 8; Gal. 2:8-9; Rm. 1:13-16). Keterangan mengenai Kerajaan Surga dalam ayat 11 menunjukkan manifestasi Kerajaan Surga. Dalam manifestasi kerajaan, para pemenang dari ka-um beriman bukan Yahudi akan berpesta dengan Abraham, Ishak, dan Yakub.
Anak-anak kerajaan dalam ayat 12 ditujukan kepada orang Yahudi yang telah beroleh selamat yang adalah benih yang baik (13:38), tetapi imannya tidak cukup kuat untuk memungkinkan mereka masuk melalui pintu yang sempit dan menempuh jalan yang sesak (7:13-14). Mereka tidak bisa mengikuti pesta dalam manifestasi kerajaan (Luk. 13:24-30). Kegelapan yang paling gelap adalah kegelapan yang di luar kemuliaan yang cemerlang dalam manifestasi Keraja-an Surga (16:28; 25:30). Dicampakkan ke dalam kegelapan yang di luar pada zaman kerajaan yang akan datang berbe-da dengan dicampakkan ke dalam lautan api untuk selama-lamanya setelah masa seribu tahun (Why. 20:15).
4. Hamba Perwira Disembuhkan Seturut Iman Perwira
Ayat 13 mengatakan,“Lalu Yesus berkata kepada per-wira itu, ‘Pulanglah dan jadilah kepadamu seperti yang engkau percaya.’ Pada saat itu juga sembuhlah hambanya.” Orang kusta itu disembuhkan oleh sentuhan langsung Raja. Raja mengulurkan tangan-Nya dan menyentuh dia, dan si kusta itu disembuhkan. Tetapi hamba perwira ini bukan di-sembuhkan oleh sentuhan langsung Raja, melainkan oleh perkataan Raja. Perwira bukan Yahudi percaya akan perkata-an ini dan hambanya disembuhkan. Orang Yahudi selalu di-selamatkan oleh sentuhan langsung Raja, tetapi kita sebagai orang bukan Yahudi diselamatkan bukan oleh sentuhan lang-sung-Nya, melainkan oleh pengucapan firman penyelamat-an-Nya. Kita percaya akan firman ini dan kita disembuh-kan; tidak ada satu pun dari kita sebagai orang kafir yang menerima sentuhan langsung dari Tuhan. Kita diselamat-kan melalui percaya akan firman Injil yang menghidupkan dan melahirkan kita kembali. Sebab itu, hamba perwira mewakili semua orang beriman bukan Yahudi. Tuhan tidak memuji iman si kusta, karena iman dalam hal ini bukan yang hendak ditonjolkan. Butir yang ditonjolkan ialah sen-tuhan Raja. Tetapi dengan penyembuhan hamba perwira, hal iman sangat ditonjolkan. Karena itu, Tuhan memuji iman perwira. Hasilnya, hamba itu disembuhkan.
Hamba itu lumpuh. Lumpuh berarti tubuh tidak ber-fungsi. Sebelum kita, orang kafir, diselamatkan, kita mutlak tidak berfungsi. Orang Yahudi kena kusta, tetapi kita lum-puh, tidak berfungsi, karena dosa kita. Kita perlu kesela-matan penyembuhan Raja surgawi. Ia telah menyampaikan firman-Nya kepada kita, dan kita telah mempercayainya. Karena itu kita telah disembuhkan sehingga fungsi kita telah pulih dan kini kita dapat mulai melayani Tuan kita. Kita ini justru sama seperti hamba yang telah disembuhkan itu dan mampu untuk melayani Tuhan lagi.
C. Menyembuhkan Ibu Mertua Petrus
Ayat 14-15 mengatakan, “Setibanya di rumah Petrus, Yesus melihat ibu mertua Petrus terbaring karena sakit de-mam. Dipegang-Nya tangan perempuan itu, lalu lenyaplah demamnya. Ia pun bangun dan melayani Dia.” Ibu mertua Petrus mewakili orang Yahudi yang hidup pada akhir zaman ini yang akan diselamatkan dengan menerima Penyelamat rajani. Pada saat itu, selama kesengsaraan besar, orang Yahudi dalam pandangan Allah akan terkena “demam” (ayat 14), “panas” terhadap hal-hal lain yang bukan Allah. Setelah keselamatan orang bukan Yahudi genap, Penyelamat rajani akan kembali kepada sisa orang Yahudi supaya mereka da-pat diselamatkan (Rm. 11:25-26; Za. 12:10). Ibu mertua Petrus disembuhkan di rumah Petrus. Pada akhir zaman ini, semua sisa orang Yahudi akan diselamatkan di rumah Israel. Selanjutnya mereka akan diselamatkan oleh sentuhan lang-sung Penyelamat rajani (ayat 15), seperti orang kusta Yahudi (ayat 3).
Pada akhir zaman ini keselamatan akan kembali dari orang bukan Yahudi kepada orang Yahudi. Namun, tidak akan kembali kepada orang Yahudi yang berserakan, tetapi kepada orang Yahudi yang di dalam rumah Israel. Pada sa-at itulah orang Yahudi akan menderita sakit demam. Bah-kan hari ini pun orang Yahudi juga demikian. Banyak di antara mereka bergairah dalam bidang ilmiah, keuangan, pendidikan, dan berbagai macam tuntutan duniawi. Namun dalam pandangan Allah, semua ini adalah demam. Suhu orang Yahudi hari ini sangat tinggi dalam semangat mere-ka terhadap politik, industri, pertanian, dan peperangan. Me-reka diwakili oleh ibu mertua Petrus yang demam. Tetapi dalam kegairahan dan semangat mereka, mereka tidak ber-sandar kepada Allah atau mempedulikan moralitas. Sama seperti Tuhan menyembuhkan ibu mertua Petrus, Ia pun akan kembali lagi pada akhir zaman ini untuk menyem-buhkan orang Yahudi yang bergairah, terbakar, dan sakit demam. Ia tidak akan menyembuhkan mereka melalui iman mereka, tetapi melalui sentuhan langsung-Nya. Pada kedatangan Tuhan kali kedua, orang Yahudi akan langsung tersentuh oleh kedatangan-Nya dan akan diselamatkan.
Setelah ibu mertua Petrus disembuhkan, ia segera bangun dan melayani Tuhan (ayat 15). Ini menunjukkan bahwa pada kedatangan Tuhan, orang-orang Yahudi yang tersisa, setelah diselamatkan, akan bangun dan melayani Dia pada masa seribu tahun.
D. Menyembuhkan Banyak Orang —
Pemulihan pada Semua yang di Bumi dalam Masa Seribu Tahun
1. Menjelang Malam
Ayat 16 mengatakan,“Menjelang malam dibawalah ke-pada Yesus banyak orang yang kerasukan setan dan de-ngan sepatah kata Yesus mengusir roh-roh itu dan me-nyembuhkan semua orang yang menderita sakit.” Kata “banyak” dan “orang” mewakili semua orang yang di bumi pada masa seribu tahun. Masa seribu tahun adalah zaman terakhir dari langit lama dan bumi lama; jadi, dianggap sebagai “malam hari” bagi langit lama dan bumi lama. Se-telah “malam” ini akan terdapat hari baru yaitu langit dan bumi baru dengan Yerusalem Baru.
2. Banyak Orang yang Dirasuk Setan dan Semua
Orang yang Sakit Disembuhkan —
Pencicipan dari Kekuatan Zaman yang Akan Datang
Pada masa seribu tahun, kekuatan untuk mengusir setan dan menyembuhkan penyakit akan ternyata sampai puncaknya. Maka, semua orang yang kerasukan setan dan semua orang yang sakit akan disembuhkan. Nubuat Yesaya membuktikan hal ini (Yes. 35:5-6). Akan terdapat pemulih-an yang sejati. Pengusiran setan dan penyembuhan orang sakit pada zaman ini hanyalah suatu pencicipan dari kekuatan ekstensif dari zaman yang akan datang. Dalam ayat 16, setelah Tuhan menyembuhkan ibu mertua Petrus, ketika menjelang malam, Ia menyembuhkan banyak orang yang dirasuk setan dan semua yang sakit. Ini menunjuk-kan bahwa setelah Kristus kembali dan orang Yahudi dise-lamatkan, masa seribu tahun akan dimulai. Selama masa itu, semua orang sakit akan disembuhkan. Karena itu, tanda mukjizat yang tercatat dalam ayat 2-17 mempunyai makna yang bersifat zaman.
3. Penggenapan Firman yang Disampaikan oleh Nabi
Ayat 17 mengatakan,“Hal itu terjadi supaya digenapi firman yang disampaikan melalui Nabi Yesaya: ‘Dialah yang memikul kelemahan kita dan menanggung penyakit kita.’” Semua kesembuhan yang dirampungkan atas orang-orang yang telah jatuh adalah hasil dari penebusan Tuhan. Di atas salib, Dia memikul kelemahan kita, menanggung penyakit kita, dan merampungkan kesembuhan yang sempurna bagi kita. Namun, dalam zaman ini, penerapan kekuatan kesem-buhan ilahi ini hanya merupakan suatu pencicipan bagi kita; pada zaman yang akan datang, kita akan mengalami kenikmatan yang penuh.
II. JALAN UNTUK MENGIKUTI RAJA
A. Raja Menyuruh Mereka Meninggalkan
Orang Banyak yang Mengelilingi
Ayat 18 mengatakan,“Ketika Yesus melihat orang ba-nyak mengelilingi-Nya, Ia menyuruh bertolak ke seberang.” Dalam ministri-Nya, seperti yang tercatat dalam keempat kitab Injil, Tuhan selalu menarik diri dari orang banyak. Dia tidak ingin orang-orang yang sekadar ingin tahu me-nyertai Dia. Dia tidak mempedulikan orang banyak, tetapi hanya memperhatikan orang-orang yang mencari-Nya de-ngan tulus.
B. Seorang Ahli Taurat Datang Mengikuti Raja
Dalam ayat 18-22, kita nampak jalan untuk mengikuti Raja surgawi. Jalan itu diwahyukan melalui kisah dua orang yang datang kepada Raja. Yang pertama, seorang ahli Taurat berkata kepadanya, “Guru, aku akan mengikuti Engkau, ke mana saja Engkau pergi.” Dengan mengatakan hal ini, dia tidak mempertimbangkan membayar harga. Karena itu, Raja menjawab dalam ayat 20, dengan cara yang menyebabkan-nya mempertimbangkan membayar harga.
C. Raja Mengungkapkan kepada Ahli Taurat
bahwa Dia Tidak Mempunyai Tempat untuk Istirahat
Dalam ayat 20 Tuhan berkata kepada ahli Taurat yang ingin mengikuti-Nya, “Rubah mempunyai liang dan burung mempunyai sarang, tetapi Anak Manusia tidak mem-punyai tempat untuk meletakkan kepala-Nya.” Di sini Tuhan menunjukkan bahwa diri-Nya adalah Anak manusia. Dalam ministri rajani-Nya, Raja baru terus-menerus mengambil kedudukan Anak Manusia, sampai 16:13-17. Bahkan rubah dan burung memiliki tempat istirahat, tetapi Raja kerajaan itu tidak memiliki tempat istirahat. Ini membuktikan bah-wa kerajaan yang didirikan-Nya bukanlah kerajaan mate-rial, bukan bersifat bumiah, melainkan kerajaan rohani, bersifat surgawi. Tuhan seolah-olah berkata kepada ahli Taurat, “Apakah kamu ingin mengikuti Aku? Kamu telah meremehkan harga untuk itu. Kamu seorang ahli Taurat, seorang terpelajar dengan kedudukan tinggi dalam masya-rakat, harus menyadari bahwa Aku tidak terhitung apa-apa dan Aku tidak mempunyai apa pun. Aku bahkan lebih kecil daripada burung dan rubah, karena Aku tidak ada tempat untuk meletakkan kepala.” Saya percaya bahwa ahli Taurat itu kecewa sehingga ia tidak mau mengikuti-Nya. Prinsip ikut Tuhan hari ini juga sama. Kita harus mempertimbangkan harganya. Dalam hal mengikuti Raja ini, tidak ada kenik-matan materi.
D. Seorang Murid Lain Minta Izin
Menguburkan Ayahnya Terlebih Dulu
Ayat 21 mengatakan,“Seorang lain, yaitu salah seorang murid-Nya, berkata kepada-Nya, ‘Tuhan, izinkanlah aku per-gi dulu menguburkan ayahku.’” Dengan berkata demikian, murid ini, yang bukan ahli Taurat, terlalu berlebihan da-lam mempertimbangkan harga yang harus dikeluarkan un-tuk mengikuti Raja Kerajaan Surga. Murid ini, nampaknya diperingatkan oleh kasus pertama, membesarkan harganya. Ia seolah-olah berkata kepada Tuhan, “Aku mau ikut Engkau, tetapi aku memiliki ayah yang telah meninggal. Biarlah aku pulang dan menguburnya lebih dulu, dan kemudian aku akan kembali mengikuti Engkau.”
E. Raja Memberi Tahu Murid Itu untuk
Mengikuti Dia dan Membiarkan Orang Mati
Menguburkan Orang Mati
Karena murid ini meninggikan harga yang harus ia keluarkan dalam mengikuti Raja, Ia menjawabnya dengan mendorongnya mengikuti Dia, melepaskan pertimbangan-nya akan harga, dan menyerahkan penguburan ayahnya kepada orang lain. Tuhan berkata, “Ikutlah Aku dan biarlah orang-orang mati menguburkan orang-orang mati mereka.” Betapa ajaibnya Tuhan Yesus! Ia dengan sengaja mengece-wakan orang yang pertama dan dengan tenang mendorong orang yang kedua. Dalam hal memperlakukan orang, Tuhan sangat bijaksana. Seandainya saya ini Tuhan Yesus, saya akan sangat girang mendengar bahwa seorang ahli Taurat ingin mengikuti saya, dan saya akan mendorongnya. Namun Tuhan bersikap dingin terhadapnya dan sama sekali tidak mendorongnya. Sebaliknya, Ia seolah-olah berkata, “Apakah kamu mau ikut Aku? Kamu mempunyai tempat tidur yang nyaman, tempat yang asyik untuk meletakkan kepalamu. Tetapi jika kamu mengikuti Aku; kamu tidak akan mem-punyai tempat untuk meletakkan kepalamu. Aku bahkan lebih buruk daripada rubah dan burung.” Jadi, Ia membuat orang yang berkedudukan tinggi ini kecil hati. Tetapi kepa-da murid yang telah diperingatkan oleh hal ini agar tidak mengikuti Tuhan secara ringan atau kendur, Tuhan mem-beri dorongan. Perkataan Tuhan mendorong dia melupakan segala persiapan yang ia lakukan, membiarkan orang-orang yang mati menguburkan orang-orang mati mereka; ia hanya perlu mengikuti Dia.
Melalui dua kejadian ini kita nampak, tidaklah mudah untuk mengontaki orang. Bagaimana perlakuan Anda jika kedua macam orang ini datang kepada Anda? Mungkin Anda akan menerima keduanya. Namun Tuhan tidak demikian memperlakukan mereka; Dia mencegah yang seorang dan mendorong yang lainnya.
Melalui perkara-perkara ini kita nampak jalan untuk mengikuti Raja surgawi. Pertama, jika kita mengikuti Dia, kita tidak boleh mengharapkan kenikmatan materi apa pun. Kedua, untuk mengikuti Dia, kita harus tidak mengindah-kan permintaan orang mati. Tuhan memberi tahu murid-Nya, untuk “membiarkan orang-orang mati menguburkan orang-orang mati mereka”. Orang mati yang pertama meng-acu kepada orang-orang yang mati secara rohani, seperti yang disebutkan dalam Efesus 2:1, 5; orang mati yang kedua mengacu kepada ayah murid itu, yang mati secara jasmani. Akhirnya, orang yang mati rohaninya akan memenuhi ke-wajiban menguburkan orang yang mati jasmaninya. Melalui pengalaman, kita telah belajar bahwa kita tidak boleh kembali untuk memenuhi kewajiban bagi orang-orang yang mati. Biarlah orang-orang mati melaksanakan tugas mereka demi orang-orang mati. Kita adalah orang-orang yang hidup dan kita harus terus mengikuti raja. Tetapi janganlah meng-harapkan kenikmatan materi apa pun, karena Anda mungkin tidak mempunyai sarang, tidak mempunyai liang, tidak ada tempat untuk meletakkan kepala Anda. Jika Anda tidak mengharapkan kenikmatan materi apa pun dan jika Anda membiarkan orang-orang mati menanggung kewajiban orang-orang mati, Anda dapat terus mengikuti Dia.