PENGUMUMAN KONSTITUSI KERAJAAN (12)
Dalam berita ini kita akan melihat bagian yang terakhir pengumuman konstitusi kerajaan oleh Raja, 7:12-29.
VIII. MENGENAI TUMPUAN KEHIDUPAN DAN PEKERJAAN UMAT KERAJAAN
Sebelum kita melihat 7:13-29, marilah kita mengu-langi apa yang telah diungkapkan dalam konstitusi ini. Kita harus memiliki kesan yang sangat dalam dengan fakta bahwa konstitusi Kerajaan Surga adalah berdasarkan pada hayat ilahi dan sifat umat kerajaan. Kita perlu ingat bahwa kon-stitusi setiap bangsa selalu selaras dengan hayat dan sifat bangsa itu. Tidak seorang pun mampu memenuhi tuntutan konstitusi ini tanpa dilahirkan kembali dan memiliki hayat dan sifat Bapa surgawi. Para filsuf dan guru yang tidak percaya mengutip ayat-ayat dalam Matius 5—7 tanpa me-mahami perkataan yang mereka kutip. Konstitusi ini tidak diberikan kepada orang yang tidak percaya, sebab konstitusi ini didasarkan pada hayat dan sifat ilahi umat kerajaan yang rohani dan surgawi. Jadi, hanya umat kerajaanlah yang dapat hidup menurut konstitusi ini. Tidak hanya de-mikian, bahkan tidak seorang pun dari umat kerajaan yang dapat menggenapkan tuntutan konstitusi ini tanpa mereka hidup menurut sifat ilahi dan hayat ilahi di dalam mereka. Konstitusi ini tidak diberikan menurut hayat alamiah atau sifat insani umat kerajaan. Saya ulangi, konstitusi ini di-bentuk menurut hayat ilahi dan sifat ilahi.
Konstitusi ini mula-mula mewahyukan hakiki umat kerajaan, seperti yang tersirat dalam sembilan berkat dalam 5:3-12. Konstitusi yang melukiskan apa yang harus dilaku-kan oleh umat kerajaan dan bagaimana mereka harus ber-buat, semuanya bersesuaian dengan hakiki umat kerajaan. Apa pun yang dilakukan oleh umat kerajaan merupakan eks-presi hakiki mereka. Perbuatan, tindakan, perkataan, dan tingkah laku lahiriah mereka adalah ekspresi hayat dan sifat ilahi mereka. Apa yang ada di dalam batin mereka ter-manifestasikan dalam perbuatan lahiriah mereka. Jadi, ba-gian pertama konstitusi ini, bagian mengenai hakiki umat kerajaan, sangat mendasar. Bagian yang kedua mengung-kapkan pengaruh umat kerajaan atas dunia, dan ketiga me-ngenai hukum Taurat Kerajaan Surga. Sebagaimana kita telah nampak, semua hukum Taurat yang telah dilengkapi dan diubah telah menyingkapkan amarah dan nafsu daging kita. Mulai dari pasal 6, konstitusi dasar Kerajaan Surga melanjutkan membicarakan cara umat kerajaan melaksa-nakan perbuatan benar mereka. Bagian konstitusi ini meng-gali keluar ego (diri) dan daging. Kemudian, bagian selan-jutnya memberi tahu kita bahwa umat kerajaan hendaklah hidup di bumi tanpa kekhawatiran apa pun. Kita bukan berada di sini untuk khawatir, melainkan untuk menunai-kan kewajiban kita di bawah pemeliharaan Bapa Surgawi kita. Dia akan memberi sandang dan pangan kepada kita, dan menyuplai segala keperluan kita. Karena itu, kita ha-rus menunaikan tanggung jawab kita untuk memenuhi maksud tujuan Allah, tanpa kekhawatiran apa pun. Dalam 7:1-12, konstitusi ini menunjukkan sikap yang harus kita miliki terhadap orang lain, bagaimana kita memperlakukan orang lain, dan bagaimana kita harus memperhatikan ke-pentingan mereka. Pada saat kita sampai pada 7:12, ham-pir setiap aspek kehidupan dan perbuatan kita telah terung-kapkan. Kini, konstitusi ini tampaknya sudah genap, lengkap, dan almuhit.
Namun, masih ada satu perkara yang perlu disinggung yaitu umat kerajaan berada di bumi untuk melakukan ke-hendak Allah Bapa. Karena itu dalam bagian yang terakhir tidak disinggung tentang amarah, hawa nafsu, insan alami-ah, ego (diri), daging, kekhawatiran atau sikap kita terha-dap orang lain. Dalam bagian ini kita membaca perihal masuk melalui pintu yang sempit dan jalan yang sesak (7:13-14). Kita nampak pula bahwa kita harus mendirikan rumah dan melakukan kehendak Bapa yang di surga (ayat 24-27, 21). Jadi, kesimpulan konstitusi Kerajaan Surga meng-giring kita masuk melalui pintu yang sempit dan jalan yang sesak; dengan demikian kita dapat melakukan kehendak Bapa Surgawi dan dapat mendirikan rumah.
Jika kita mempertimbangkan konstitusi Kerajaan Sur-ga ini secara menyeluruh, kita akan nampak bahwa konsti-tusi ini sepenuhnya mewahyukan apa adanya umat keraja-an, mereka harus bagaimana, dan apa yang harus mereka lakukan. Konstitusi ini juga menunjukkan di mana mereka kini berada dan ke mana mereka akan pergi. Konstitusi ini pun menunjukkan bahwa pada jalan yang sesak ini, kita harus melakukan kehendak Bapa Surgawi dan kita harus mendirikan rumah yang sesuai dengan firman Raja Surga-wi. Dalam bagian terakhir konstitusi ini tidak disinggung mengenai amarah, ego (diri), daging, kekhawatiran, atau kata-kata apa pun tentang sikap kita terhadap orang lain. Malahan terdapat empat kata yang sangat penting dan me-nentukan, yaitu pintu, jalan, kehendak, dan rumah. Di sini terdapat pintu yang sempit, jalan yang sesak, kehendak Bapa Surgawi, dan rumah yang didirikan di atas batu karang; batu karang ini adalah kata-kata hikmat Raja Surgawi. Andai-kata kita ini tidak termasuk di antara orang-orang yang berada di bawah sembilan berkat yang dibahas di depan, tidak menggenapi hukum Taurat yang telah dilengkapi dan diubah, kita tidak dapat masuk melalui pintu yang sempit, berjalan pada jalan yang sesak, melakukan kehendak Bapa Surgawi atau mendirikan rumah di atas batu karang. Jadi, bagian yang terakhir ini merupakan penggenapan konstitusi ini.
A. Masuk Melalui Pintu yang Sempit dan Menempuh Jalan yang Sesak
Ayat 13-14 mengatakan, “Masuklah melalui pintu yang sempit, karena lebarlah pintu dan luaslah jalan yang me-nuju kepada kebinasaan, dan banyak orang yang masuk melaluinya; karena sempitlah pintu dan sesaklah jalan yang menuju kepada kehidupan, dan sedikit orang yang menda-patinya.” Siapakah yang dapat masuk melalui pintu yang sempit, yang disebutkan dalam ayat 13? Hanya umat kera-jaan yang memiliki hakiki yang diuraikan dalam sembilan berkat yang disinggung dalam pasal 5. Orang yang masuk melalui pintu yang sempit adalah orang yang miskin dalam roh, berdukacita, lemah lembut, lapar dan haus akan kebenar-an, berbelaskasihan, murni dalam hati, suka berdamai de-ngan semua orang, rela dianiaya demi kebenaran, dan mau dicela karena Kristus. Hanya mereka yang memiliki hakiki sedemikian yang bisa masuk melalui pintu yang sempit. Selain itu, orang yang masuk melalui pintu yang sempit haruslah orang yang melakukan hukum yang lebih tinggi dari kerajaan, hukum yang telah dilengkapi dan diubah, dan mereka tidak seharusnya mempunyai kekhawatiran apa pun tentang kehidupan mereka. Sebaliknya, mereka harus per-caya bahwa Bapa Surgawi mereka akan memperhatikan mereka. Tambahan pula, mereka tidak boleh malas, kendur, melainkan harus rajin dan giat. Inilah orang-orang yang masuk melalui pintu yang sempit dan berjalan di atas jalan yang sesak.
Jalan ini sesak, terbatas di setiap sisi. Pintu itu sempit dan jalan itu sesak, sebab hukum Taurat baru kerajaan le-bih ketat dan permintaan kerajaan lebih tinggi daripada hukum Taurat dan permintaan perjanjian yang lama. Pintu yang sempit bukan hanya menanggulangi perbuatan lahir-iah, tetapi juga menanggulangi motivasi batiniah. Manusia lama, ego (diri), daging, konsepsi manusia, dan dunia dengan kemuliaannya, semuanya disingkirkan; hanya yang berhu-bungan dengan kehendak Allah baru dapat masuk. Umat kerajaan pertama-tama perlu masuk melalui pintu yang sempit, dan kemudian berjalan di jalan yang sesak. Mereka bukan berjalan dulu, lalu masuk melalui pintu. Masuk me-lalui pintu adalah memulai berjalan di jalan yang berlangsung seumur hidup.
Kita semua senang berada dalam pemulihan Tuhan dan sangat menghargai pemulihan ini. Tetapi izinkan saya meng-ajukan pertanyaan ini kepada Anda: Sebagai orang yang berada dalam pemulihan Tuhan, apakah Anda berjalan pada jalan yang sesak? Kita semua harus dapat mengatakan bahwa kita bukan menempuh jalan kekristenan, melainkan menempuh jalan yang sesak. Kita terbatasi di tiap sisi. Me-reka yang berada di dalam kekristenan dapat mengguna-kan musik “rock and roll” atau cara-cara duniawi lainnya dalam pelayanan kekristenan mereka, tetapi kita tidak da-pat sebab jalan kita sesak. Semua anak muda ingin sekali bebas dengan menyingkirkan semua letusan. Ketika anak-anak muda itu lulus dari SMA, mereka bagaikan burung-burung terkurung yang ingin bebas. Namun banyak yang begitu bebas, mereka tidak terkendali, tidak ada larangan. Sebaliknya kita dalam pemulihan Tuhan menempuh jalan yang sesak, bahkan harus mempunyai beberapa pengenda-lian dalam melaksanakan doa–baca. Dalam doa–baca, kita tidak boleh seperti orang-orang duniawi pada suatu tontonan bola yang tidak ada pembatasan. Dalam pemulihan Tuhan kita harus berperilaku di dalam roh kita. Hidup di dalam roh, berperilaku di dalam roh, telah membatasi kita. Bahkan ketika kita mengasihi, bersukacita, dan bergembira, kita harus berada di bawah pembatasan. Kita tidak boleh seperti mereka yang melemparkan semua pembatasan dalam mela-kukan kegemaran mereka. Sebaliknya kita harus bergairah di dalam batasan roh. Bahkan dalam sidang pun demikian. Sekalipun kita boleh sepenuhnya membebaskan roh kita, tetapi dalam hal yang menyangkut aktivitas jasmani kita harus terbatasi. Dalam segala sesuatu, kita perlu mengambil jalan sesak, bukan jalan lebar.
Kita harus terbatasi dalam persekutuan kita dengan para saudara. Apakah Anda hendak memuji seorang saudara? Anda harus memujinya dengan terbatas. Apakah Anda hen-dak menegur seorang saudara? Anda harus menegurnya se-cara terbatas. Apakah Anda mempunyai persekutuan de-ngan beberapa saudara? Ini sangat baik, tetapi Anda harus bersekutu dengan mereka secara terbatas. Kadang kala ke-tika Anda sedang dalam persekutuan, Anda lupa semua ba-tasan. Anda melanjutkan berjam-jam tanpa mempedulikan keperluan makan dan istirahat. Dan lagi, dalam persekutu-an Anda, Anda membicarakan tentang semua hal dari peng-hulu malaikat Mikhael, sampai ke Martin Luther, juga membicarakan semua saudara dan saudari dalam gereja. Anda mempersekutukan setiap orang tanpa batas. Puji Tuhan bahwa kita sungguh-sungguh bebas. Namun, kita masih mempunyai batasan, kendali, dan kekangan.
Pikirkanlah contoh Tuhan Yesus dalam Yohanes 7, ke-tika saudara-saudara-Nya mengusulkan agar ia pergi ke Yudea, supaya diri-Nya dikenal orang-orang. Tuhan berkata, “Waktu-Ku belum tiba, tetapi bagi kamu selalu ada waktu” (Yoh. 7:6). Perkataan Tuhan menunjukkan bahwa Ia terba-tasi, Ia berjalan pada jalan sesak. Sebagai umat kerajaan, kita pun harus berjalan pada jalan yang sesak. Jalan kita penuh dengan pembatasan, kendali, dan kekangan. Tetapi ja-nganlah mengira pembatasan itu suatu penghalang. Seba-liknya, pembatasan akan mempercepat jalan kita. Jika kita menolak dibatasi, kemajuan kita akan lambat. Namun, jika kita mau dibatasi dan dikendali, kecepatan kita akan ber-tambah. Setelah melalui keenam bagian konstitusi yang di depan, dalam bagian yang terakhir kita diantarkan ke pintu yang sempit dan kita berada pada jalan yang sesak.
1. Pintu yang Lebar dan Jalan yang Luas Menuju
kepada Kebinasaan, Banyak Orang yang
Masuk Melaluinya
Ayat 13 Tuhan mengatakan, “Masuklah melalui pintu yang sempit, karena lebarlah pintu dan luaslah jalan yang menuju kepada kebinasaan, dan banyak orang yang masuk melaluinya.” Kebinasaan di sini tidak mengacu kepada ke-binasaan orang yang bersangkutan, melainkan kepada kebi-nasaan perbuatan dan pekerjaan seseorang (1 Kor. 3:15). Tidak diragukan lagi bahwa “kekristenan” hari ini mem-bawa orang kepada kebinasaan. Waktu akan membuktikan bahwa hal ini benar. Oleh belas kasihan Tuhan, saya tidak pernah menempuh jalan “kekristenan”, sebab dalam batin saya yakin bahwa itu suatu jalan lebar yang menuju ke-pada kebinasaan. Tetapi pintu yang sempit dan jalan yang sesak, menuju kepada kehidupan. Bila Anda mengambil jalan kekristenan, jalan yang lebar, roh Anda akan segera menjadi mati. Akhirnya, segala sesuatu yang Anda lakukan akan runtuh, sebab jalan yang luas itu menuju kepada ke-binasaan. Ini bukan opini saya, melainkan perkataan rasul dalam 1 Korintus 3.
Dalam 1 Korintus 3:10 Paulus mengatakan bahwa ia telah meletakkan dasarnya, yakni Kristus, dan orang lain membangun di atasnya. Kemudian Paulus mengatakan, “Tetapi tiap-tiap orang harus memperhatikan, bagaimana ia harus membangun di atasnya.” Sebab kita mungkin mem-bangun di atas dasar ini dengan emas, perak, batu perma-ta, atau dengan kayu, rumput kering, jerami. Dalam ayat 13-15 Paulus berkata, “. . . karena hari Tuhan akan me-nyatakannya. Sebab hari itu akan tampak dengan api dan bagaimana pekerjaan masing-masing orang, akan diuji oleh api itu. Jika pekerjaan yang dibangun seseorang tahan uji, ia akan mendapat upah. Jika pekerjaannya terbakar, ia akan menderita kerugian; ia sendiri akan diselamatkan, tetapi seperti dari dalam api.” Dalam ayat-ayat ini Paulus seolah-olah mengatakan, “Perhatikanlah bagaimana kamu memba-ngun. Jika kamu membangun dengan emas, perak, dan batu permata, Anda akan mendapat upah.” Inilah pekerjaan pada jalan yang sesak yang menuju ke upah (pahala) kehidupan dalam hayat. Namun, Paulus seolah-olah juga berkata, “Jika pekerjaanmu dari kayu, rumput kering, dan jerami, akan terbakar oleh api, dan kamu takkan mendapat upah.” Dengan perkataan lain, pekerjaan demikian akan berakibat kebinasaan. Anda mungkin menyatakan bahwa Anda ada-lah seorang pekerja Kristus, tetapi Anda membangun dengan bahan apa? Dari ayat-ayat ini, dalam 1 Korintus 3, kita nampak bahwa bukan hanya mereka yang mendirikan bioskop dan perjudian kasino akan menuju kepada kebina-saan, tetapi juga mereka yang membangun “tempat-tempat” ibadah orang Kristen. Api akan menguji sifat pekerjaan Anda. Jika pekerjaan Anda dari kayu, rumput kering, dan jerami, itu pasti pada jalan luas yang menuju kepada kebinasaan.
Karena kita tidak berada pada jalan yang luas, tetapi pada jalan yang sesak, maka ada banyak perkara yang ti-dak dapat kita lakukan. Saya lebih suka mempunyai satu ons emas daripada banyak pon kayu. Saya tidak ingin me-miliki kayu, rumput kering, dan jerami bertumpuk-tumpuk, karena itu hanya akan menyebabkan kebakaran hebat. Walaupun sedikit saya lebih suka memiliki emas, perak, dan batu permata. Sekalipun kita ingin nampak penam-bahan jumlah dalam semua gereja, tetapi kita tidak mau penambahan jumlah pada jalan yang luas. Sebaliknya, kita ingin penambahan pada jalan yang sesak, penambahan emas, perak, dan batu permata. Jika kita mempunyai penam-bahan semacam ini, Tuhan akan mempunyai kesaksian pada jalan yang sesak.
2. Pintu yang Sempit dan Jalan yang Sesak
Menuju Kepada Kehidupan,
Sedikit Orang yang Mendapatinya
Ayat 14 mengatakan,“Karena sempitlah pintu dan se-saklah jalan yang menuju kepada kehidupan (hayat), dan sedikit orang yang mendapatinya.” Hayat di sini mengacu kepada keadaan kerajaan yang selalu diberkati, yang penuh dengan hayat kekal Allah. Hayat ini ada di dalam realitas kerajaan hari ini, dan akan berada dalam manifestasi kera-jaan pada zaman yang akan datang (Mat. 19:29; Luk. 18:30). Dalam pemulihan Tuhan hari ini kita mengambil jalan yang sesak yang menuju kepada hayat.
B. Membedakan Nabi Palsu dari Buah-buah Mereka
Ayat 15 mengatakan,“Waspadalah terhadap nabi-nabi palsu yang datang kepadamu dengan menyamar seperti domba, tetapi sesungguhnya mereka adalah serigala yang buas.” Jika kita mengambil jalan yang sesak, kita harus membedakan siapa nabi palsu. Ini berarti bahwa pada jalan yang sesak kita harus waspada terhadap setiap macam ke-palsuan. Tentang nabi-nabi yang palsu Tuhan berkata, “Dari buahnyalah kamu akan mengenal mereka” (ayat 16). Kita mengenal seorang nabi bukan dari perkataannya, khot-bahnya, atau pekerjaannya, melainkan dari buahnya. Se-mua orang Kristen hari ini pada umumnya dipengaruhi oleh perkataan orang. Seorang pembicara yang fasih dengan kata-kata yang membujuk dapat menyesatkan banyak orang. Janganlah mendengarkan kata-kata yang fasih atau kata-kata yang membujuk. Sebaliknya, tunggu dan lihatlah buah macam apa yang dihasilkan. Inilah cara untuk membe-dakan seorang nabi benar atau palsu. Gereja terus maju, dan kesaksian Tuhan tersebar luas ke seluruh dunia. Sebab pintu terbuka lebar, maka beberapa orang yang mengaku diri sebagai nabi mencoba masuk, menyatakan bahwa me-reka mengetahui beberapa perkara dan dapat melakukan banyak pekerjaan. Biarlah mereka mengatakan semau mereka, sebab kita akan memandang kepada Tuhan untuk membuktikan mereka dari buah mereka. Kita perlu mene-rapkan prinsip ini pada setiap perkara demikian. Jangan mendengarkan perkataan yang membujuk, tetapi lihatlah buahnya. Setiap pohon yang baik menghasilkan buah yang baik, tetapi pohon yang tidak baik menghasilkan buah yang tidak baik pula. Setiap pohon yang tidak menghasilkan buah yang baik akan ditebang dan dibuang ke dalam api (7:17-19).
C. Syarat untuk Memasuki Kerajaan Surga
1. Tidak Hanya Menyeru Nama Tuhan, tetapi Juga Melakukan Kehendak Bapa yang di Surga
Ayat 21 mengatakan,“Bukan setiap orang yang berseru kepada-Ku: Tuhan, Tuhan! akan masuk ke dalam Kerajaan Surga, melainkan orang yang melakukan kehendak Bapa-Ku yang di surga.” Ini bukan menunjukkan realitas Kera-jaan Surga hari ini, melainkan manifestasi kerajaan yang akan datang. Untuk masuk ke dalam Kerajaan Surga, kita perlu melakukan dua hal: menyeru nama Tuhan dan mela-kukan kehendak Bapa yang di surga. Menyeru nama Tuhan melayakkan kita untuk diselamatkan (Rm. 10:13), tetapi untuk masuk ke dalam Kerajaan Surga, kita juga perlu melakukan kehendak Bapa yang di surga. Karena itu, “Bukan setiap orang yang berseru, ‘Tuhan, Tuhan,’ akan ma-suk ke dalam Kerajaan Surga, melainkan orang yang me-nyeru nama Tuhan dan melakukan kehendak Bapa yang di surgalah yang akan masuk.”
Karena masuk ke dalam Kerajaan Surga menuntut kita melakukan kehendak Bapa surgawi, hal ini jelas berbeda dengan masuk ke dalam Kerajaan Allah melalui kelahiran kembali (Yoh. 3:3, 5). Masuk Kerajaan Allah diperoleh melalui dilahirkan dari hayat ilahi; masuk Kerajaan Surga diperoleh melalui memperhidupkan hayat itu.
Dalam ayat 21 Tuhan tidak mengatakan, “Bapamu,” tetapi “Bapaku.” Di sini seolah-olah Tuhan mengatakan, “Aku, Anak Manusia, dan Anak Allah, selalu melakukan kehendak Bapa-Ku. Kamu juga anak-anak Allah, adalah saudara-saudara-Ku. Jadi, kamu harus menjadi mitra-Ku dan mengambil jalan yang sama seperti jalan yang Kutem-puh. Kini kamu bukan melakukan kehendak Bapamu, me-lainkan kehendak Bapa-Ku. Kamu hidup bersamaku menurut kehendak Bapa-Ku.” Dalam bagian yang terakhir dari kon-stitusi dasar ini, bukan lagi masalah negatif untuk menang-gulangi temperamen, hawa nafsu, ego (diri), daging, dan ke-khawatiran kita; melainkan mutlak adalah suatu perkara positif dalam melakukan kehendak Bapa yang di surga. Umat kerajaan tidak untuk yang lain, melainkan untuk melaku-kan kehendak Bapa. Kita di sini bukan hanya untuk me-ngalahkan temperamen kita, hawa nafsu kita, ego, dan da-ging, juga bukan hanya untuk berlaku baik dan bersimpati kepada orang lain. Kita di sini untuk menggenapkan ke-hendak Bapa yang di surga. Untuk melakukan kehendak Bapa, kita perlu berjalan pada jalan yang sesak. Dalam ajaran-ajaran ahli filsafat dunia, tidak ada hayat ilahi dan sifat ilahi, juga tidak ada jalan ilahi. Tetapi di sini, kesim-pulan akhir konstitusi dasar Kerajaan Surga ini ialah ke-hendak Bapa yang di surga. Ini menunjukkan bahwa kita mempunyai seorang Bapa yang di Surga dan kita adalah anak-anak Bapa. Namun, bagian akhir konstitusi dasar ini tidak hanya menyinggung masalah hayat, tetapi juga masa-lah kehendak Bapa. Bapa kita mempunyai satu kehendak yang harus dirampungkan, dan kita dapat merampungkan-Nya hanya oleh hayat-Nya. Kita perlu hidup di dalam hayat dan berdasarkan hayat Bapa yang di surga. Kehidupan se-macam ini adalah untuk melakukan kehendak Bapa.
Dalam konstitusi Kerajaan Surga kita tidak dapat nam-pak apa sebetulnya kehendak Bapa itu. Namun, ini jelas di-wahyukan dalam pasal 16. Kehendak Bapa ialah membangun gereja yang bertumpu pada Putra sebagai batu karang. Ini dikembangkan sepenuhnya dalam Kisah Para Rasul dan Surat Kiriman rasul dan Kitab Wahyu. Perjanjian Baru me-nunjukkan bahwa kehendak Bapa yang ilahi dan kekal itu ialah membangun gereja.
2. Banyak yang Bernubuat, Mengusir Setan,
dan Mengadakan Mukjizat demi Nama Tuhan,
tetapi Tidak Menurut Kehendak Bapa yang di Surga
Ayat 22 mengatakan,“Pada hari terakhir banyak orang akan berseru kepada-Ku: Tuhan, Tuhan, bukankah kami bernubuat demi nama-Mu, dan mengusir setan demi nama-Mu, dan mengadakan banyak mukjizat demi nama-Mu juga?” Kata “Pada hari terakhir” menunjukkan pada hari takhta penghakiman Kristus (1 Kor. 3:13; 4:5; 2 Kor. 5:10). Pada ha-ri penghakiman ketika semua orang beriman akan berdiri di depan takhta penghakiman Kristus, banyak orang akan berkata kepada Tuhan bahwa mereka bernubuat, mengusir setan, dan mengadakan banyak mukjizat demi nama-Nya, tetapi mereka akan ditolak oleh Tuhan.
3. Tuhan Tidak Berkenan kepada Mereka,
tetapi Memandang Mereka sebagai Pembuat Kejahatan
Ayat 23 mengatakan,“Pada waktu itulah Aku akan berterus terang kepada mereka dan berkata: Aku tidak per-nah mengenal kamu! Enyahlah dari hadapan-Ku, kamu se-kalian yang melakukan kejahatan!” Di sini kata “mengenal” berarti “memperkenankan”. Kata Yunani yang sama dalam Roma 7:15 diterjemahkan “tahu”. Dalam ayat ini Paulus me-ngatakan, “Sebab apa yang aku lakukan, aku tidak tahu.” Tuhan tidak pernah memperkenan orang-orang yang ber-nubuat, mengusir setan, dan melakukan banyak mukjizat (ayat 22) dalam nama-Nya, tetapi tidak melakukan hal-hal itu menurut kehendak Bapa surgawi (ayat 21). Tuhan tidak menyangkal bahwa mereka melakukan hal-hal itu. Tetapi Ia menganggap hal-hal itu sebagai kejahatan, karena hal-hal itu tidak dilakukan berdasarkan kehendak Bapa surga-wi, tidak dilakukan sejalan dengan kehendak ilahi. Tuhan se-olah-olah berkata, “Kamu bernubuat dalam nama-Ku, meng-usir setan dalam nama-Ku, dan melakukan banyak muk-jizat demi nama-Ku, tetapi Aku tidak pernah mengizinkan kamu melakukannya. Aku tidak pernah berkenan kepadamu sebab kamu melakukan semua hal itu dengan tidak sah. Kamu melakukannya dalam dirimu, dalam kedambaanmu dan menurut maksudmu sendiri, bukan menurut kehendak Bapa-Ku.” Jadi, orang-orang yang melakukan hal-hal itu, walaupun melakukannya dalam nama Tuhan, tidak akan ma-suk ke dalam Kerajaan Surga, melainkan akan diusir dari Tuhan, yaitu dikucilkan dari manifestasi kerajaan pada zaman yang akan datang.
Kita nampak dari perkataan Tuhan di sini bahwa be-berapa pekerjaan dapat dilakukan demi nama Tuhan, tetapi bukan dilakukan menurut kehendak Allah. Apakah Anda melakukan pekerjaan semacam ini, atau apakah Anda me-lakukan kehendak Allah? Kita telah membicarakan banyak tentang pergi ke kampus, tetapi apakah kita pergi ke sana untuk melakukan sesuatu pekerjaan atau melakukan ke-hendak Bapa kita yang di surga? Saudara saudari muda, bagaimana kalian menjawab pertanyaan ini? Apakah kalian pergi ke kampus untuk melakukan kehendak Bapa yang di surga? Kita harus berkeyakinan bahwa apa pun yang kita kerjakan, kita sedang melakukan kehendak Bapa yang di surga. Bila tidak, Tuhan Yesus akan menyebut kita, “pem-buat kejahatan”. Bahkan bernubuat dalam nama Tuhan, tetapi bukan menurut kehendak Bapa, juga suatu macam kejahatan. Tidak hanya demikian, mengusir setan dalam nama Tuhan dan melakukan banyak mukjizat demi nama Tuhan, tetapi tidak menurut kehendak Allah, dalam pan-dangan Raja Surgawi juga sebagai kejahatan.
Pelari dalam perlombaan apa pun harus berlari pada jalur yang tepat. Sekalipun Anda mungkin berlari lebih ce-pat daripada yang lain, lari Anda takkan diakui bila Anda berlari di luar jalur Anda; berlari semacam itu akan diang-gap tidak sah. Anda harus berlomba lari di antara kedua garis memanjang, Anda harus berlari dalam jalan yang sesak. Hari ini pekerjaan banyak pekerja Kristen tidak terbatas oleh jalur surgawi. Dalam pandangan mereka, mereka telah melakukan banyak demi nama Tuhan dan untuk Tuhan. Namun, dalam pandangan Tuhan, pekerjaan mereka ialah semacam pelanggaran dari jalur surgawi. Sebab itu, peker-jaan mereka termasuk kejahatan. Perkataan Tuhan dalam 7:21-23 adalah peringatan yang tegas untuk kita semua yang mengatakan bahwa kita tidak boleh hanya memperhatikan bernubuat, mengusir setan, atau mengadakan mukjizat-mukjizat. Kita harus memperhatikan jalan surgawi. Jika Anda melanggar jalan itu sebagai pelari dalam perlombaan surgawi, Anda akan tidak memenuhi syarat. Jalan yang sesak terbentang dalam pemulihan Tuhan, dan kita harus ter-batas dalam lari kita. Jika kita berlari di antara batas, tidak di luarnya, kita akan diperkenan oleh Tuhan.
Sekali lagi saya katakan bahwa kesimpulan konstitusi Kerajaan Surga ialah menggiring kita melalui pintu yang sempit dan jalan yang sesak. Kini kita berlari pada jalan yang sesak ini. Kita tidak boleh hanya memperhatikan nubuat, mengusir setan, atau mengadakan mukjizat-mukjizat; seba-liknya, kita seharusnya hanya memperhatikan kehendak Bapa kita yang di surga. Anda mungkin bertanya-tanya ba-gaimana kita dapat mengetahui kehendak Bapa. Kita dapat mengetahuinya oleh hayat Bapa dan sifat Bapa yang di da-lam kita. Sifat Bapa akan selalu memberi tahu kita “ya” atau “tidak”. Jika Anda berlari menurut sifat ilahi dan di dalam jalan yang sesak, sifat ilahi akan menunjukkan, “Ya, kamu benar, teruskanlah.” Tetapi jika Anda tidak berlari menu-rut sifat ilahi atau jika Anda keluar dari jalur, sifat ilahi akan berkata, “Jangan jalan ke sini.” Siapa pun tidak perlu diberi tahu apa yang harus dilakukan, sebab sifat ilahi yang mengatur, membatasi ada di dalam kita. Sifat ini memberi tahu kita di mana kita berada. Seorang pelari dalam perlom-baan dapat nampak jalurnya, sehingga ia tidak perlu diberi tahu orang lain. Demikian pula, kita mempunyai jalur di dalam kita, yaitu jalur hayat ilahi dan sifat ilahi, dan kita dapat mengetahui di mana kita berada. Menurut sifat ilahi yang ada di dalam kita, kita tidak dapat menggunakan musik rock dalam sidang-sidang kita. Sekalipun Anda dapat men-coba cara duniawi yang berbeda-beda, sifat ilahi takkan me-nyetujui itu semua dan menunjukkan bahwa Anda melang-gar jalur. Mereka semua yang adalah umat kerajaan, me-reka semua yang telah dilahirkan kembali oleh Bapa, me-miliki hayat-Nya dan sifat-Nya di dalam mereka. Hayat dan sifat Bapa menunjukkan apakah kita berada pada jalan yang sesak atau tidak. Marilah kita semua berlomba lari menurut sifat Bapa.
D. Dua Macam Bangunan di Atas Dua Macam Fondasi
1. Bangunan di Atas Batu, Menurut Perkataan Tuhan
Dalam ayat 24 Raja mengatakan, “Jadi, setiap orang yang mendengar perkataan-Ku ini dan melakukannya, ia sama dengan orang yang bijaksana, yang mendirikan rumahnya di atas batu.” Kata batu di sini tidak mengacu kepada Kristus, melainkan kepada perkataan hikmat-Nya, perkataan yang mewahyukan kehendak Bapa-Nya yang di surga. Kehidupan dan pekerjaan umat Kerajaan harus didirikan di atas per-kataan Raja baru untuk menggenapkan kehendak Bapa surgawi. Inilah yang dimaksud dengan masuk melalui pintu yang sempit dan menempuh jalan yang sesak yang menuju kepada hayat.
Ayat 25 mengatakan,“Kemudian turunlah hujan dan datanglah banjir, lalu bertiuplah angin melanda rumah itu, tetapi rumah itu tidak rubuh sebab didirikan di atas batu.” Hujan yang turun dari langit berasal dari Allah; banjir (su-ngai) yang datang dari bumi berasal dari manusia; dan angin yang bertiup dari angkasa berasal dari Iblis. Semua-nya itu akan menguji kehidupan dan pekerjaan umat keraja-an. Walaupun hujan datang, banjir melanda, angin menerpa, rumah yang dibangun di atas batu tidak akan rubuh, sebab rumah itu dibangun menurut jalan sesak, jalan melakukan kehendak Bapa. Rumah yang dibangun di atas batu, rumah yang tidak rubuh, sama seperti pekerjaan yang dibangun dengan emas, perak, dan batu permata, pekerjaan yang dapat bertahan terhadap api penguji (1 Kor. 3:12-13).
2. Bangunan di Atas Pasir, Tidak Menurut Perkataan Tuhan
Ayat 26 mengatakan,“Tetapi setiap orang yang men-dengar perkataan-Ku ini dan tidak melakukannya, ia sama dengan orang yang bodoh, yang mendirikan rumahnya di atas pasir.” Pasir mengacu kepada konsepsi manusia dan ca-ra alamiah. Jika kita hidup dan bekerja berdasarkan kon-sepsi manusia dan cara alamiah kita, berarti kehidupan dan pekerjaan kita didirikan di atas pasir, bisa rubuh. Inilah yang dimaksud dengan masuk melalui pintu yang lebar dan me-nempuh jalan yang luas yang menuju kepada kebinasaan. Ayat 27 mengatakan,“Kemudianlah turunlah hujan dan datanglah banjir, lalu bertiuplah angin melanda rumah itu, sehingga rubuhlah rumah itu dan hebatlah kerusakannya.” Rumah yang dibangun di atas pasir, yang rubuh, sama se-perti pekerjaan yang dibangun dengan kayu, rumput kering, dan jerami, pekerjaan yang akan terbakar oleh api penguji. Namun, orang yang membangun itu sendiri akan diselamat-kan (1 Kor. 3:12-15). Membangun rumah kita di atas opini dan konsepsi kita ialah membangun rumah di atas pasir yang “tenggelam”. Ketika hujan, banjir, dan angin menguji rumah yang dibangun di atas pasir itu, rumah yang tidak mempu-nyai fondasi yang kukuh itu akan rubuh. Inilah kesimpul-an Tuhan tentang konstitusi Kerajaan Surga.
Konsepsi dasar konstitusi Kerajaan Surga menyatakan bahwa umat kerajaan harus benar-benar ketat terhadap diri sendiri, berbelaskasihan, bermurah hati terhadap orang lain, dan secara sembunyi tulus murni terhadap Allah.
Saya tidak dapat memberi tahu Anda betapa konstitusi dasar ini telah menguasai saya bertahun-tahun. Saya hanya dapat bersaksi bahwa kehidupan saya, sepak terjang saya, berada di bawah konstitusi ini. Saya harap kita semua akan dibawa ke dalam jalan yang sesak ini untuk membangun rumah di atas batu (karang) yang kukuh menurut kehendak Bapa kita yang di surga.
IX. KUASA DALAM PEMBICARAAN
Ayat 28-29 mengatakan, “Setelah Yesus mengakhiri per-kataan ini, takjublah orang banyak itu mendengar pengajaran-Nya, sebab Ia mengajar mereka sebagai orang yang berku-asa, tidak seperti ahli-ahli Taurat mereka.” Kristus, sebagai Sang Raja baru Kerajaan Surga, berbicara dengan kuasa dalam mengumumkan hukum Taurat baru kerajaan.