← Daftar isi Matius (2) · bab 7/17

PENGUMUMAN KONSTITUSI KERAJAAN (11)

Sekarang kita sampai pada bagian pengumuman konstitusi Raja baru di atas gunung, 7:1-12.

VII. MENGENAI PRINSIP-PRINSIP UMAT

KERAJAAN MEMPERLAKUKAN ORANG LAIN

Secara permukaan, kelihatannya tujuan Tuhan dalam 7:1-12 adalah menyinggung prinsip-prinsip umat kerajaan memperlakukan orang lain. Sebenarnya, tujuan-Nya di sini ialah mendorong kita untuk melupakan diri kita sendiri dan memperhatikan orang lain. Dalam dua pasal sebelum-nya, Tuhan telah menggali temperamen, nafsu daging, apa yang ada di dalam, ego, daging, dan kekhawatiran kita. Se-karang Ia membawa kita pada butir di mana kita wajib bel-ajar memperhatikan kepentingan orang lain. Ketika Anda menghakimi orang lain, Anda wajib menghakimi mereka menurut bagaimana Anda menghendaki mereka menghakimi Anda. Mempertimbangkan masalah ini secara demikian ialah memperhatikan orang lain.

Pengaturan surgawi atas umat kerajaan menuntut me-reka memperhatikan kepentingan orang lain. Walaupun be-berapa butir negatif telah disinggung dalam pasal 5 dan 6, namun masalah memperhatikan kepentingan orang lain be-lum terungkapkan hingga pasal 7. Dalam hal apa pun yang kita lakukan, kita harus memikirkan kepentingan orang lain. Kita sungguh-sungguh kurang dalam hal ini, sebab da-lam hayat alamiah kita, kita tidak memikirkan kepenting-an orang lain. Dari permulaan hingga akhir, kita hanya memikirkan diri sendiri. Pemikiran dan pertimbangan kita tertuju pada diri sendiri. Sebab itu, kita selalu memusat-kan pada diri sendiri dan tidak pernah memikirkan orang lain. Saya ingin meminta Anda untuk merenungkan cara penempuhan hidup Anda di masa lampau. Apakah Anda memikirkan orang lain? Jika kita memikirkan orang lain ketika hendak mengkritik atau menghakimi mereka, kita tidak akan mengkritik atau menghakimi mereka. Kita bisa menghakimi dan mengkritik orang lain, karena kita tidak memperhatikan mereka. Bila kita memperhatikan kepen-tingan orang lain, kita akan bersimpati kepada mereka.

A. Jangan Menghakimi, supaya Kamu Tidak Dihakimi

dengan Penghakiman yang Kamu Pakai untuk Menghakimi

Dalam 7:1 Tuhan berkata, “Jangan kamu menghakimi, supaya kamu tidak dihakimi.” Umat kerajaan, yang hidup di dalam roh yang rendah hati di bawah pemerintahan sur-gawi kerajaan, selalu menghakimi diri sendiri, bukan meng-hakimi orang lain. Perkataan Tuhan mengenai jangan menghakimi supaya kita tidak dihakimi seolah-olah bukan merupakan kata-kata yang yang memikirkan orang lain. Namun, jika kita mendalami kata-kata ini, kita nampak bahwa sesungguhnya berarti memperhatikan orang lain. Ketika Anda hendak menghakimi orang lain, Anda harus memperhatikan kepentingan mereka.

Marilah kita berusaha menemukan rahasia perkataan jangan menghakimi ini. Bagaimana kita dapat mengatakan bahwa makna sesungguhnya di sini ialah memperhatikan kepentingan orang lain. Apakah Anda takut dihakimi? Jika Anda takut dihakimi, Anda juga harus sadar bahwa orang lain pun demikian. Apakah Anda merasa tidak enak diha-kimi oleh orang lain? Jika Anda merasa tidak enak dihakimi oleh orang lain, Anda juga harus tahu bahwa orang lain pun merasa demikian. Tidak seorang pun suka dihakimi. Jika Anda tidak suka dihakimi, lalu bagaimana dengan orang lain? Anda perlu memperhatikan mereka. Jika Anda tidak suka dihakimi oleh orang lain, mengapa Anda meng-hakimi orang? Jika Anda takut dihakimi, Anda harus me-mikirkan orang lain, yang juga takut dihakimi. Perhatikan-lah selalu kepentingan orang lain.

Ayat 2 mengatakan, “Karena dengan penghakiman yang kamu pakai untuk menghakimi, kamu akan dihakimi dan ukuran yang kamu pakai untuk mengukur, akan diukurkan kepadamu.” Di bawah pemerintahan surgawi kerajaan, umat kerajaan akan dihakimi dengan penghakiman yang mereka terapkan kepada orang lain. Jika mereka menghakimi orang lain dengan adil, mereka akan dihakimi dengan adil oleh Tuhan; jika mereka menghakimi orang dengan belas kasih-an, mereka akan dihakimi dengan belas kasihan oleh Tuhan. Belas kasihan menang atas penghakiman (Yak. 2:13). Jangan mudah menghakimi orang lain, sebab Anda akan dihakimi dengan taraf yang sama sebagaimana Anda menghakimi orang lain. Bila Anda memperhatikan orang lain, Anda tidak akan dihakimi oleh mereka.

Ayat 2 mengatakan bahwa ukuran yang kita pakai un-tuk mengukur orang lain akan dipakai untuk mengukur kita. Secara permukaan, sepertinya dalam ayat ini Tuhan tidak menyuruh kita memperhatikan orang lain. Tetapi sesung-guhnya, ayat-ayat ini berarti bahwa kita harus memperha-tikan orang lain. Apakah Anda takut diukur oleh orang lain? Jika demikian, Anda harus memperhatikan orang lain, sebab mereka pun takut diukur oleh Anda. Bila Anda mem-perhatikan orang lain, Anda tidak akan menghakimi mereka, mengkritik mereka, atau mengukur mereka.

Dulu saya mengetahui suatu golongan orang Kristen yang membicarakan banyak tentang kerohanian. Dalam su-atu arti, pembicaraan mereka itu murni. Namun golongan ini mempunyai satu kelemahan, suka mengukur orang lain. Seolah-olah setiap orang dalam kelompok ini mempunyai se-buah timbangan kecil dalam sakunya. Bila mereka meng-undang Anda minum teh, mereka mengukur Anda dengan timbangan mereka yang tidak kelihatan. Kemudian mereka akan berkumpul untuk membicarakan Anda. Ada yang akan bertanya, “Sudahkan Anda menemukan di mana dia ber-ada?” Ini berarti, “Sudahkah Anda mengukur dia?” Saya pun mendengar bahwa kelompok ini sama sekali tidak memper-hatikan perasaan orang lain; mereka hanya menyibukkan diri untuk mengukur orang lain. Janganlah mencoba me-nentukan bagaimana keadaan rohaniah orang lain, berapa pesatnya mereka bertumbuh atau bagaimana kondisi mereka dalam hayat. Jika Anda menguasai diri supaya tidak mengukur orang lain, Anda akan terhindar dari mengkritik dan menghakimi orang lain. Ini didasarkan pada prinsip memperhatikan orang lain.

Mereka yang ada dalam kelompok yang saya kisahkan tadi sulit untuk membantu orang lain. Mereka tidak dapat membantu orang lain karena orang lain berada di bawah ukuran mereka, penghakiman, dan kritikan mereka. Dalam membantu orang lain, kita harus menjadi buta. Jika kita ingin membantu orang lain dalam hidup gereja, kita harus menjadi buta. Jika Anda ingin menjadi suami atau istri yang baik, jadilah buta dalam memperhatikan pasangan Anda. Janganlah mempunyai ukuran apa pun kepada orang lain. Inilah caranya menunjukkan belas kasihan terhadap mereka. Jika Anda menunjukkan belas kasihan terhadap orang, Anda akan menerima belas kasihan. Tetapi, jika Anda mengukur orang tanpa belas kasihan, Anda pun akan diukur orang tanpa belas kasihan. Dengan ukuran apa Anda mengukur, akan diukurkan kepada Anda.

Belas kasihan tidak melakukan pengukuran apa pun. Ini berarti belas kasihan tidak mengenakan tuntutan apa pun. Segala sesuatu yang menuntut suatu ukuran bukan-lah belas kasihan. Belas kasihan tidak tahu matematika, tidak tahu bagaimana menambahi atau mengurangi. Belas kasihan sama sekali buta. Mengapa Anda begitu baik terha-dap saya ketika saya begitu kasihan? Sebab, Anda berbelas-kasihan kepada saya.

Kadang kala oleh belas kasihan Tuhan, saya membelaskasihi orang lain. Kemudian, beberapa anak saya yang telah nampak dengan jelas duduk perkaranya berkata kepada saya, “Papa, tidakkah papa mengetahui betapa celakanya orang ini? Mengapa papa begitu baik terhadapnya?” Saya berbaik hati kepadanya sebab saya buta. Namun anak-anak melihat sangat jelas. Orang yang melihat dengan jelas tidak dapat berbelaskasihan. Jika Anda ingin berbelaskasihan, Anda harus seperti Ishak, yang memberkati Yakub secara buta. Demikian pula, kita umat kerajaan, hendaklah buta dalam memperlakukan orang lain. Jika demikian, kita akan membelaskasihani mereka dan selalu memperhatikan mere-ka. Setiap kali anak-anak saya bertanya kepada saya me-ngapa saya berbaik hati kepada mereka yang tidak patut menerima kebaikan, saya menjawab, “Kamu tidak tahu apa yang kulakukan. Matamu terlalu besar dan terlalu terang. Mengapa aku begitu baik terhadapnya? Sebab aku memikir-kan dia.” Inilah prinsip umat kerajaan dalam memperla-kukan orang lain. Bagi kita yang berhubungan dengan me-reka, kita harus memikirkan mereka, bersimpati kepada mereka, dan berbelaskasihan terhadap mereka. Umat kera-jaan wajib memperhatikan orang-orang lain ketika memper-lakukan mereka.

Jika Anda membaca ayat-ayat ini berulang kali, Anda akan nampak bahwa prinsip dasar yang tersembunyi di sini adalah kita harus melupakan diri sendiri dan memperha-tikan orang lain. Tahukah Anda mengapa Anda mengkritik orang lain dan menghakimi mereka? Sebab Anda terlalu banyak memikirkan diri Anda. Anda tidak menghiraukan perasaan orang lain dan tidak memperhatikan mereka. Anda hanya memperhatikan perasaan Anda, sehingga Anda menghakimi dan mengkritik orang lain. Sebab itu jika kita ingin terhindar dari menghakimi orang lain, kita harus memperhatikan mereka. Untuk ini kita perlu melupakan diri kita dan memikirkan orang lain. Bila kita hanya ber-putar pada diri kita sebagai poros dan mengabaikan pera-saan orang lain, kita akan mengkritik mereka. Tetapi jika kita memperhatikan orang lain, kita tidak akan mengha-kimi mereka.

1. Memikirkan Balok di Mata Sendiri, Ketika Melihat Serpihan di Mata Saudara

Dalam ayat 3 Tuhan berkata, “Mengapakah engkau me-lihat serpihan kayu di mata saudaramu, sedangkan balok di dalam matamu tidak engkau ketahui?” Sebagai umat ke-rajaan, yang hidup di dalam roh yang rendah hati di bawah pemerintahan surgawi kerajaan, kita harus mengetahui (memikirkan) balok di mata kita sendiri, ketika kita meli-hat serpihan kayu di mata saudara kita. Serpihan kayu di mata saudara kita seharusnya mengingatkan kita kepada balok di mata kita sendiri.

2. Mengeluarkan Balok dari Mata Anda Terlebih Dulu

Ayat 4 melanjutkan,“Bagaimanakah engkau dapat ber-kata kepada saudaramu: Biarlah aku mengeluarkan serpih-an kayu itu dari matamu, padahal ada balok di dalam matamu?” Perkataan Tuhan dalam ayat 3-4 sangat dalam. Maksud-Nya di sini bukan menyuruh kita memperhatikan diri sendiri, melainkan menyuruh kita memperhatikan orang lain.

Ayat 5 mengatakan, “Hai orang munafik, keluarkanlah dulu balok dari matamu, maka engkau akan melihat dengan jelas untuk mengeluarkan serpihan kayu itu dari mata saudaramu.” Asalkan balok mata itu masih berada di mata kita, pandangan kita kabur dan kita tidak akan nam-pak jelas. Dalam hal menunjukkan kesalahan saudara, kita harus menyadari bahwa kita mempunyai kesalahan yang le-bih besar. Kesalahan saudara kita diibaratkan seperti ser-pihan dan kesalahan kita seperti balok. Jadi, sekali lagi saya katakan, maksud Tuhan ialah agar kita memperhatikan orang lain. Setiap kali Anda mencoba menunjukkan kesa-lahan seseorang, Anda mungkin hanya memperhatikan kesalahannya, namun tidak memperhatikan orangnya. Jika Anda menjadikan kesalahan orang lain sebesar balok, itu menunjukkan bahwa Anda hanya memperhatikan kesalahan-nya, bukan memperhatikan orangnya. Jika Anda memper-hatikan saudara, Anda tidak akan hanya memperhatikan kesalahannya, sebaliknya Anda akan mengatakan, “Kesa-lahannya hanyalah serpihan kayu jika dibandingkan dengan kesalahanku yang sebesar balok. Karena itu aku senang melupakan kesalahannya.”

Maksud Tuhan dalam 7:1-12 ialah agar kita memper-hatikan orang lain. Prinsip bagi umat kerajaan dalam mem-perlakukan orang lain ialah harus memperhatikan kepen-tingan orang lain. Ketika kita memperlakukan orang lain, kita harus memegang prinsip ini. Janganlah semata-mata bertindak menurut perasaan Anda, tetapi perhatikanlah ke-pentingan orang lain. Inilah prinsip yang mendasar.

B. Jangan Memberikan Barang yang Kudus

kepada Anjing, Jangan Melemparkan Mutiara kepada Babi

Ayat 6 mengatakan, “Jangan kamu memberikan barang yang kudus kepada anjing dan jangan kamu melemparkan mutiaramu kepada babi, supaya jangan diinjak-injaknya de-ngan kakinya, lalu ia berbalik mengoyak kamu.” “Barang yang kudus” tentu mengacu kepada kebenaran yang obyektif, yang adalah milik Allah; “mutiaramu” mengacu kepada penga-laman subyektif yang adalah milik kita. Anjing tidak ber-kuku belah, juga tidak memamah biak; babi berkuku belah, tetapi tidak memamah biak. Jadi, kedua binatang ini najis (Im. 11:27, 7). Menurut wahyu dalam 2 Petrus 2:12, 19-22, dan Filipi 3:2, anjing dan babi di sini ditujukan kepada orang yang agamawi tetapi tidak tahir.

Matius 7:6 juga bersangkutan dengan hal memperha-tikan orang lain. Sering kali ketika Anda nampak sesuatu kebenaran, doktrin, atau terang, Anda memberi tahu orang lain tanpa mengindahkan apakah mereka itu “anjing”, “domba”, atau “serigala”. Anda hanya memperhatikan pera-saan senang Anda. Anda mungkin mengatakan, “Oh, aku telah nampak terang mengenai hidup gereja! Gereja adalah mulia dan ajaib!” Dalam kegirangan Anda, mungkin Anda membagikan nikmat ini kepada orang yang tidak layak me-nerimanya. Inilah arti memberikan barang yang kudus kepada anjing. Jika Anda hendak memberikan sesuatu yang kudus kepada orang lain, Anda harus memikirkan orang tersebut. Jangan memberikan barang yang kudus kepada anjing, atau melemparkan mutiara di depan babi. Jika Anda berbicara kepada orang lain tentang sesuatu yang kudus, kebenaran, mutiara, atau pengalaman-pengalaman, Anda harus memperhatikan prinsip dasar mengenai memperha-tikan orang lain. Anda harus memastikan apakah orang itu dapat (layak) menerima apa yang Anda ingin bagikan. Anda pun harus mengerti berapa banyak mereka mampu meneri-manya. Dengan perkataan lain, ketika Anda berbicara ke-pada orang lain tentang hal-hal rohani, jangan berbicara menurut perasaan atau kesenangan Anda, melainkan ber-bicara kepada mereka sesuai dengan kapasitas mereka untuk menerima apa yang harus Anda katakan.

Sering kali kaum muda pergi memberi tahu orang lain tentang gereja atau sesuatu perkara rohani yang telah me-reka alami. Mereka hanya memperhatikan perasaan mere-ka, bukan perasaan orang lain. Malangnya, sering kali orang-orang itu adalah anjing atau babi yang tidak dapat menerima sesuatu yang mereka katakan. Sebaliknya, orang-orang itu berpaling kepada mereka yang membagikan itu, menginjak-injak mutiara dan berusaha menggigitnya. Jadi, setiap kali setelah kita nampak terang tentang beberapa kebenaran atau telah mengalami beberapa perkara yang berharga tentang Tuhan dan ingin membagikannya kepada orang lain, kita harus memperhatikan penerimanya. Kita harus bertanya kepada diri kita sendiri, “Dapatkah orang-orang ini menerima kesaksianku? Dapatkah mereka mene-rima apa yang hendak aku bagikan kepada mereka?” Jika Anda memperhatikan orang lain, Anda tidak akan memba-gikan segala sesuatu kepada setiap orang, dan Anda akan tahu ada sebagian orang yang tidak suka bila Anda mem-berikan kesaksian Anda. Inilah prinsip umat kerajaan da-lam memperlakukan orang lain.

Sering kali kita berbicara kepada orang lain menurut perasaan kita tanpa memperhatikan perasaan orang lain. Pada suatu hari Anda mungkin sangat bersemangat menge-nai hidup gereja dan pemulihan Tuhan. Tetapi di dalam kegairahan Anda, Anda mungkin menyalahi beberapa “an-jing”. Pada kesempatan lain, karena suatu pengalaman yang segar tentang Kristus, Anda mengatakan, “O, Kristus ajaib! Kristus itu tembaga, besi, dan senjata untuk mengalahkan musuh”. Anda begitu girang mengenai pengalaman Anda sehingga Anda memberi tahu setiap orang mengenai itu. Tetapi mungkin ada beberapa orang yang akan berpaling menyerang Anda dengan mengatakan, “Apa! Kita tidak per-nah mendengar bahwa Kristus itulah senjata. Anda belajar dari mana? Bagaimana bisa Anda mengatakan bahwa Kristus adalah tembaga dan besi? Ini perkataan hujat!” Namun, jika Anda memperhatikan orang lain, mungkin Anda tidak dapat mengucapkan sepatah kata mengenai pengalaman segar Anda tentang Kristus. Sebaliknya, Anda akan bijak-sana memperlakukan mereka dan memikirkan apa yang dapat diterima oleh “anjing” atau apa yang dapat dimenger-ti oleh “babi”. Tetapi jika Anda terlalu senang dan hanya memperhatikan diri sendiri dan tidak memperhatikan orang lain, Anda akan terlibat dalam kesulitan bahkan terjerumus ke dalam kesulitan. Pada masa lampau beberapa orang mu-da kita pergi mengunjungi sidang-sidang lain, karena hanya memperhatikan kegairahan diri sendiri, mereka berbicara dengan tidak berhikmat. Mereka memang berkobar-kobar, tetapi karena mereka tidak memperhatikan orang lain, akibatnya mendatangkan kesulitan.

Umat kerajaan seharusnya merupakan umat yang paling berhikmat. Ketika kita berkontak dengan orang lain, kita harus mengetahui temperatur mereka, juga memperhatikan situasi mereka. Kita harus berbuat dengan tepat, agar tidak menyebabkan anjing-anjing menggigit kita atau babi-babi menyerang kita. Jika tidak, bisa jadi mereka berpaling dan merobek-robek kita.

C. Meminta, Mencari, dan Mengetuk

Ayat 7-11 menimbulkan suatu kesulitan karena nam-paknya ayat-ayat ini tidak seharusnya berada di sini. Sela-ma beberapa tahun, saya melompati ayat-ayat ini. Saya mem-baca dari ayat 6 melompat ke ayat 12, sebab ayat 12 sesuai dengan ayat 1 sampai 6. Ayat 12 mengatakan,“Segala se-suatu yang kamu kehendaki supaya orang perbuat kepada-mu, perbuatlah demikian juga kepada mereka. Itulah isi seluruh hukum Taurat dan kitab para nabi.” Ayat ini ada-lah kelanjutan dan kesimpulan keenam ayat yang pertama. Namun, di antara ayat 6 dan 12, terdapat ayat 7-11 sebagai sisipan. Apa maknanya? Sebagaimana telah ditunjukkan, 7:1-12 berkenaan dengan prinsip-prinsip umat kerajaan dalam memperlakukan orang lain. Kita telah nampak bahwa umat kerajaan terutama harus berprinsip memperhatikan orang lain. Dalam hal menghakimi orang lain atau membi-carakan hal-hal kudus, kita harus memperhatikan orang lain. Marilah kita sekarang melihat hubungan antara ayat 7-11 dengan perkara ini.

Ayat 7-8 mengatakan, “Mintalah, maka akan diberikan kepadamu; carilah, maka kamu akan mendapat; ketuklah, maka pintu akan dibukakan bagimu. Karena setiap orang yang meminta, menerima dan setiap orang yang mencari, mendapat dan setiap orang yang mengetuk, baginya pintu dibukakan.” Untuk mengerti ayat-ayat ini perlu pengalam-an. Dengan membaca ayat-ayat ini berulang kali dalam te-rang pengalaman kita, kita dapat memahami bahwa ayat-ayat

ini menunjukkan bahwa kita harus menengadah kepada Bapa Surgawi kita ketika kita memperlakukan orang lain. Kita harus meminta, mencari, dan mengetuk. Sering kali ki-ta tidak berbuat demikian. Namun, ayat-ayat ini menun-jukkan bahwa ketika kita berkontak dengan orang lain, berhubungan dengan orang lain, kita harus menengadah kepada Tuhan dan berkata, “Tuhan, beri tahukanlah kepa-daku bagaimana berkontak dengan mereka. Tuhan, tunjuk-kanlah kepadaku bagaimana memperlakukan mereka.” Ka-dang kala hanya meminta saja tidaklah cukup. Kita harus mencari dan bahkan mengetuk. Ini menunjukkan bahwa berkontak dengan orang lain merupakan suatu masalah yang serius. Jangan mengira itu suatu perkara yang tidak ber-makna. Kita, umat kerajaan harus menghadapi perkara ini dengan serius, jangan melakukannya dengan ringan, sem-barangan atau semata-mata hanya menurut perasaan kita. Sebaliknya, kita harus memperlakukan orang lain dengan memperhatikannya. Kita harus minta satu jalan, mencari jalan, dan bahkan mengetuk pintu surgawi untuk menda-patkan satu jalan. Jadi, kita harus meminta, mencari, dan mengetuk agar kita mempunyai jalan yang tepat untuk berkontak dengan orang-orang.

Dalam Matius, jalan yang tepat untuk berkontak de-ngan orang ialah menurut prinsip kerajaan. Dalam ayat 11, setelah menggunakan contoh anak yang meminta roti dan ikan dalam ayat 9 dan 10, Tuhan berkata, “Jadi, jika kamu yang jahat tahu memberi pemberian yang baik kepada anak-anakmu, apalagi Bapamu yang di surga! Ia akan membe-rikan yang baik kepada mereka yang meminta kepada-Nya.” Karena Matius ialah kitab berdasarkan kerajaan, tidak diragukan bahwa “pemberian yang baik” dalam ayat 11 ada-lah barang-barang kerajaan. Namun, Lukas 11:13 ayat yang sejajar dengan Matius 7:11 mengatakan, “Jadi jika kamu yang jahat tahu memberi pemberian yang baik kepada anak-anakmu, apalagi Bapamu yang di surga! Ia akan membe-rikan Roh Kudus kepada mereka yang meminta kepada-Nya.” Dalam Lukas 11:13 “memberikan yang baik” diganti dengan “Roh Kudus”. Jika kita menaruh dua ayat ini ber-sama, kita akan nampak bahwa jalan yang paling baik bagi umat kerajaan untuk berkontak dengan orang lain ialah menurut kerajaan dan menurut Roh Kudus. Baik kerajaan maupun Roh Kudus adalah jalan untuk berkontak dengan orang. Hikmat yang kita perlukan secara tepat untuk ber-kontak dengan orang lain berasal dari kerajaan dan Roh. Ketika kita berhubungan dengan orang lain, kita harus me-minta, mencari, dan mengetuk. Pada akhirnya, kita akan menerima pimpinan untuk berhubungan dengan orang me-nurut kerajaan dan menurut Roh. Jadi, prinsip pengenda-lian untuk hubungan kita dengan orang lain ialah kerajaan dan Roh. Jika hubungan kita dengan orang lain berdasar-kan prinsip ini, kita tidak akan keliru.

Jika kita memikirkan masa lampau, kita akan mengakui bahwa kita telah melakukan kesalahan dalam hal berkontak dengan orang. Beberapa dari kontak itu tidak menguntungkan siapa pun. Tetapi kini kita telah menerima pelatihan kerajaan. Kita bukan kaum beriman yang kendur, melainkan umat kerajaan yang serius dan ketat. Hubungan kita dengan orang lain adalah menurut prinsip kerajaan dan prinsip Roh Kudus. Kita menerima bimbingan yang kita perlukan dalam berhubungan dengan orang lain melalui meminta, mencari, dan mengetuk. Jika kita meminta, kita akan menerima; jika kita mencari, kita akan mendapatkan; dan jika kita mengetuk, pintu akan dibukakan bagi kita.

Menurut konsepsi insani kita, mula-mula kita meng-ambil jalan dan kemudian sampai di depan pintu. Tetapi kon-sepsi ilahi dalam Alkitab justru berlawanan. Mula-mula kita lewat melalui pintu dan kemudian kita berjalan terus. Tuhan berkata, “Ketuklah dan pintu akan dibukakan bagimu.” Ini berarti bahwa pintu akan dibukakan bagi kita dan kemudi-an kita akan berada di jalan. Jika kita meminta, mencari, dan mengetuk, pintu akan dibukakan bagi kita dan jalan akan tersedia di hadapan kita. Kemudian kita akan menge-tahui bagaimana berkontak dengan orang lain. Untuk ber-kontak dengan orang lain, kita perlu suatu pintu yang terbuka dan jalan yang lurus sebagai bimbingan kita. Kita dapat memiliki pintu yang terbuka ini dan jalan yang lurus hanya dengan meminta, mencari, dan mengetuk. Betapa per-lunya kita semua mencari jalan yang tepat dan yang berfae-dah untuk berkontak dengan orang lain, baik orang kafir, kaum beriman, maupun gereja-gereja.

Kita semua wajib belajar memperhatikan kepentingan orang lain dan berdoa, “Tuhan, tunjukkanlah aku jalan-nya.” Pertama-tama Anda perlu meminta. Jika jalan belum terbuka, Anda harus mencari. Jika jalan tetap belum ter-buka, Anda harus mengetuk. Mengetuk berarti datang men-dekati Dia yang Anda cari. Ketika Anda meminta, mungkin masih terdapat suatu jarak, tetapi ketika Anda mengetuk tidak ada jarak lagi. Sebaliknya, Anda langsung di depan Dia yang Anda cari. Jadi, Anda membutuhkan waktu untuk men-cari Tuhan. Dalam hal berkontak dengan orang lain, kita perlu memohon, mencari, dan mengetuk. Kemudian pintu akan terbuka, jalan yang lurus akan diberikan untuk ber-kontak dengan orang, kontakan kita akan berfaedah dan kita akan diselamatkan dari berbuat kesalahan. Kita juga akan tahu berhati-hati terhadap anjing dan babi. Inilah mak-na penyisipan ayat 7-11 di antara ayat 6 dan 12.

Sebelum kita memikirkan ayat 12, saya perlu menam-bahkan kata-kata lebih lanjut tentang meminta, mencari, dan mengetuk. Meminta adalah berdoa secara umum, men-cari adalah memohon secara khusus, dan mengetuk adalah meminta dengan cara yang paling akrab dan paling sungguh-sungguh. Meminta dan menerima dalam ayat 8 bersesuaian dengan doa umat kerajaan bagi pemeliharaan hukum Taurat baru kerajaan. Dengan doa sedemikian, mereka akan mene-rima. Mencari dan menemukan adalah bersesuaian dengan

6:33. Umat kerajaan yang mencari Kerajaan Bapa dan kebenaran-Nya akan menemukan keduanya. Mengetuk dan pintu akan dibukakan bersesuaian dengan 7:14. Pintu yang sempit akan dibukakan bagi umat kerajaan karena ketukan mereka.

Ayat 11 mengandung satu janji yang besar. Janji ini menegaskan bahwa umat kerajaan diperhatikan dan disup-lai oleh Bapa mereka yang di surga. Jadi, mereka mampu menggenapi hukum Taurat baru kerajaan dan hidup dalam realitasnya, sehingga mereka dapat masuk ke dalam mani-festasinya.

Dalam ayat 9-10, roti dan ikan yang diminta menun-jukkan keperluan orang yang memintanya. Ketika kita min-ta, mencari, dan mengetuk, kita selalu mempunyai keperlu-an. Bapa Surgawi kita mengetahui keperluan kita dan akan memberikan kepada kita apa yang kita perlukan. Tidak ada bapa insani yang memberi anaknya batu jika ia minta roti atau ular jika ia minta ikan, tetapi akan selalu memberi mereka yang baik. Bapa Surgawi kita lebih-lebih akan memberi kita apa yang Dia anggap baik. Bahkan dalam hal kita mencari jalan untuk berkontak dengan orang lain, Dia akan memberi kepada kita jalan yang terbaik, jalan yang kita perlukan.

D. Perbuatlah Apa yang Kamu Kehendaki supaya Orang Perbuat Kepadamu

Kini kita melihat ayat 12, kesimpulan pada bagian prin-sip-prinsip umat kerajaan memperlakukan orang lain. Ayat ini mengatakan “Segala sesuatu yang kamu kehendaki su-paya orang perbuat kepadamu, perbuatlah demikian juga kepada mereka. Itulah isi seluruh hukum Taurat dan kitab para nabi.” Hukum Taurat baru kerajaan tidak bertentangan dengan hukum Taurat dan nabi-nabi; sebaliknya mengge-napinya bahkan melengkapinya.