PENGUMUMAN KONSTITUSI KERAJAAN (10)
Dalam berita ini kita akan melihat bagian kelima dari pengumuman konstitusi kerajaan oleh Raja, Matius 6:19-34, yang bersangkutan dengan harta umat kerajaan.
VI. MENGENAI HARTA UMAT KERAJAAN
A. Bukan Mengumpulkan Harta di Bumi, Melainkan di Surga
Dalam ayat 19-20 Raja mengumumkan bahwa umat kerajaan tidak boleh mengumpulkan harta bagi diri mereka sendiri, melainkan mengumpulkan harta di surga. Mengum-pulkan harta di surga ialah memberi benda materi kepada orang miskin (Mat. 19:21), memperhatikan orang kudus yang kekurangan (Kis. 2:45; 4:34-35; 11:29; Rm. 15:25), dan hamba-hamba Tuhan (Flp. 4:16-17).
1. Di mana Harta Berada, di Situ Juga Hati Berada
Ayat 21 mengatakan,“Karena di mana hartamu berada, di situ juga hatimu berada.” Umat kerajaan harus mengirim
harta mereka ke surga, sehingga hati mereka juga berada di surga. Sebelum mereka pergi ke sana, harta dan hati mereka harus terlebih dulu pergi ke sana.
2. Jika Mata Tulus, Seluruh Tubuh Terang
Ayat 22 mengatakan,“Mata adalah pelita tubuh. Jika matamu baik, teranglah seluruh tubuhmu.” Kedua mata kita hanya dapat berfokus pada satu benda pada satu saat. Jika kita berusaha melihat dua hal sekaligus, penglihatan kita akan kabur. Jika kita memfokuskan mata kita pada satu hal, penglihatan kita akan tulus dan seluruh tubuh kita akan penuh dengan terang. Jika kita mengumpulkan har-ta kita di surga dan di bumi, penglihatan rohani kita akan kabur. Agar penglihatan kita tulus, kita harus menyimpan harta kita di satu tempat saja.
3. Jika Mata Jahat, Seluruh Tubuh Gelap
Ayat 23 mengatakan,“Jika matamu jahat, gelaplah se-luruh tubuhmu. Jadi, jika terang yang ada padamu gelap, betapa gelapnya kegelapan itu.” Memandang dua benda pada saat yang sama, tidak berfokus pada satu benda, berarti membuat mata kita jahat (lihat Mat. 20:15; Ul. 15:9; Ams. 28:22). Jika demikian, seluruh tubuh kita akan menjadi ge-lap. Jika hati kita terpaut pada harta yang dikumpulkan di bumi, terang yang ada di dalam kita akan menjadi gelap, dan kegelapan itu akan menjadi sangat gelap.
B. Tidak Dapat Mengabdi kepada Dua Tuan
Ayat 24 mengatakan,“Tak seorang pun dapat mengabdi kepada dua tuan. Karena jika demikian, ia akan membenci yang seorang dan mengasihi yang lain, atau ia akan setia kepada yang seorang dan tidak mengindahkan yang lain. Kamu tidak dapat mengabdi kepada Allah dan kepada Mamon.” Kata “Mamon” ialah kata dari Bahasa Aram yang mengacu kepada kekayaan, harta. Mamon bertentangan de-ngan Allah, menunjukkan bahwa kekayaan atau harta ada-lah lawan Allah, merampas umat Allah dari pelayanan me-reka kepada Allah.
C. Jangan Khawatir Akan Hidup Kita
1. Hidup Lebih Penting daripada Makanan, Tubuh Lebih Penting daripada Pakaian
Ayat 25 mengatakan,“Karena itu, Aku berkata kepa-damu: Janganlah khawatir tentang hidupmu, mengenai apa yang hendak kamu makan atau minum, dan janganlah khawatir pula tentang tubuhmu, mengenai apa yang hendak kamu pakai. Bukankah hidup itu lebih penting daripada makanan dan tubuh itu lebih penting daripada pakaian?” Dalam ayat ini Tuhan memberi tahu kita jangan mengkha-watirkan hidup kita. Kata “hidup” di sini dalam bahasa aslinya mengacu kepada hayat jiwa, tempat keinginan dan nafsu akan makanan dan pakaian berada (Yes. 29:8). Hidup kita lebih penting daripada makanan dan tubuh kita lebih penting daripada pakaian. Hidup dan tubuh kita itu ada ka-rena Allah, bukan karena kekhawatiran kita. Karena Allah menciptakan kita dengan hidup dan tubuh, Dia pasti akan memperhatikan keperluan hidup dan tubuh kita. Umat kerajaan tidak perlu khawatir tentang hal ini.
2. Janganlah Khawatir Akan Makanan, Minuman, dan Pakaian
Ayat 31 mengatakan,“Karena itu, janganlah kamu kha-watir dan berkata: Apakah yang akan kami makan? Apakah yang akan kami minum? Apakah yang akan kami pakai?” Di sini kita sampai pada butir yang penting dalam ayat 19-34. Secara permukaan, kelihatannya dalam bagian ini, Tuhan berbicara tentang harta benda umat kerajaan. Pada fakta-nya, Dia menyinggung tentang kekhawatiran. Tuhan penuh hikmat. Setelah Dia menjamah temperamen kita, nafsu da-ging, manusia alamiah, ego, dan daging kita, Ia lalu men-jamah kekhawatiran kita. Dalam ayat-ayat ini, kata “kha-watir” dipakai tujuh kali, (ayat 25, 27, 28, 31, 34). Boleh jadi Tuhan juga menjamah hati kita, sebab di mana harta kita, di situlah juga hati kita. Namun, hati kita tidak hanya terpaut pada harta, bahkan pada banyak perkara lain.
Konstitusi Kerajaan Surga terbentuk dari hayat dan sifat Bapa. Meskipun pasal-pasal ini tidak menggunakan kata-kata “hayat” dan “sifat”, tetapi dari konteksnya kita nampak bahwa terpisah dari hayat dan sifat ilahi Bapa, maka pasal-pasal ini akan menjadi sia-sia. Tidak seorang pun dapat menggenapkan tuntutan Kerajaan Surga tanpa adanya hayat dan sifat Bapa. Setiap konstitusi didasarkan pada semacam hayat yang tertentu. Misalnya, Anda ingin membuat konstitusi untuk anjing. Tidak diragukan, kon-stitusi ini harus didasarkan pada hayat anjing. Tidaklah masuk akal kalau dalam konstitusi ini diperintahkan bah-wa setiap pagi anjing-anjing harus melakukan jaga pagi dengan beterbangan di udara. Sebab anjing tidak bisa terbang, maka anjing tidak dapat menggenapkan tuntutan semacam ini. Tetapi jika konstitusi itu mengharuskan anjing-anjing itu melaksanakan jaga pagi dengan menyalak, tidak akan ada masalah. Sama halnya, konstitusi yang diberikan oleh Tuhan Yesus di atas gunung adalah untuk anak-anak Allah, yang didasarkan pada hayat dan sifat Bapa. Dan ayat dalam pasal 5 menunjukkan fakta ini. Ayat 9 mengatakan,”Berbahagialah orang yang membawa damai, karena mereka akan disebut anak-anak Allah.” dan ayat 48 mengatakan,“Karena itu, ha-ruslah kamu sempurna, sama seperti Bapamu yang di surga sempurna.”
Banyak orang Kristen tidak mengerti bagian firman ini, sebab mereka belum nampak bahwa firman ini didasar-kan pada hayat dan sifat ilahi. Bahkan banyak orang yang tidak percaya juga mengutip ayat-ayat dari pasal-pasal ini dalam tulisan-tulisan mereka, dengan mengira bahwa pasal-pasal ini adalah kata-kata yang ditujukan kepada seluruh umat manusia. Bukan, sama seperti hayat anjing tidak bi-sa terbang, begitu pula hayat manusia tidak dapat meme-nuhi permintaan-permintaan konstitusi Kerajaan Surga. Inilah konstitusi yang didasarkan pada hayat ilahi dan sifat ilahi.
Dalam hayat ilahi dan sifat ilahi tidak terdapat kekha-watiran. Kekhawatiran bukan dari hayat ilahi, melainkan dari hayat manusia, sama seperti menyalak berasal dari hayat anjing bukan dari hayat burung. Hayat manusia adalah hayat kekhawatiran, sedangkan hayat Allah ialah hayat kenikmatan, perhentian, penghiburan, dan kepuasan. Bagi Allah, kekhawatiran ialah istilah asing. Pada Dia ti-dak ada hal semacam kekhawatiran. Apakah Anda mengira bahwa Allah pernah khawatir? Apakah Ia pernah terganggu dengan kekhawatiran? Meskipun Allah mempunyai banyak kedambaan, tetapi Ia tidak mempunyai kekhawatiran. Se-baliknya hayat insani kita, sebetulnya terdiri dan tersusun dengan kekhawatiran. Menyingkirkan kekhawatiran dari manusia, hasilnya adalah kematian. Orang yang mati tidak merasa khawatir. Patung lilin dalam museum atau patung di depan katedral tidak memiliki kekhawatiran, tetapi asal-kan Anda seorang yang hidup, Anda tidak dapat menghin-dari kekhawatiran.
Apabila kita mempertimbangkan corak perkataan Tuhan dalam Perjanjian Baru, kita akan nampak bahwa seluruh-nya berbeda dengan perkataan para rasul. Para rasul, ter-utama Paulus, menulis banyak Surat Kiriman. Meskipun Paulus membicarakan banyak perkara ilahi, rohani, dan surgawi, namun coraknya adalah insani. Demikian juga de-ngan tulisan-tulisan Petrus dan Yohanes. Tidak peduli be-rapa banyak penulis kitab Perjanjian Baru berbicara ten-tang perkara-perkara rohani dan ilahi, corak mereka tetap insani. Tetapi corak perkataan Tuhan dalam Perjanjian Baru adalah unik. Sama sekali mustahil bagi kita untuk meng-ulaskannya. Jika Anda membaca Matius 5, 6, 7, 13, 24, dan 25 serta Yohanes 14 sampai 17, Anda akan nampak bahwa corak perkataan Tuhan sangat luar biasa. Bukan insani atau lazim, melainkan sangat dalam dan misterius, tetapi sing-kat, sederhana, dan tepat sasaran. Inilah perkataan ilahi de-ngan corak ilahi. Ketika saya muda, saya membaca suatu ucapan yang ditulis oleh seorang ahli filsafat besar bangsa Perancis yang mengatakan bahwa jika keempat Injil itu palsu, maka orang yang mengatakan itu bersyarat menjadi Kristus. Saya setuju dengan perkataan ini.
Dalam Matius 6, kelihatannya Tuhan menyinggung ten-tang harta. Namun sesungguhnya Ia menjamah masalah kekhawatiran, persoalan dan kehidupan manusiawi kita. Sebagaimana kita telah nampak, dalam 6:1-18, kelihatan-nya dia menyinggung tentang perbuatan benar umat kera-jaan, tetapi sebenarnya dia menjamah ego dan daging. Saya mengenal hal ini bukan dari membaca buku, tetapi dari pengalaman dalam hidup gereja. Berdasarkan pengalaman saya, saya mengerti bahwa memamerkan perbuatan benar pasti berasal dari ego dan daging. Bila kita tetap berada di salib, kita tidak akan pamer seperti itu. Dalam prinsip yang sama, 6:19-34 seolah-olah menjamah kekayaan kita, harta kita; tetapi sesungguhnya, maksud hati Tuhan di sini ialah menjamah kekhawatiran, sumber masalah penghidupan sehari-hari kita. Seluruh dunia terlibat dalam kekhawatir-an. Kekhawatiran itulah roda gigi yang membuat dunia ber-putar. Itulah perongrong seluruh kebudayaan manusia. Bila tidak ada kekhawatiran tentang hidup kita, tidak seorang pun akan berbuat apa-apa. Sebaliknya semua orang akan malas. Jadi, dengan menjamah kekhawatiran kita, Tuhan menjamah roda gigi kehidupan manusia.
Ketika orang-orang muda mendengar perkataan ini, mereka mungkin berkata, “Haleluya! Karena Tuhan Yesus telah menjamah kekhawatiran, roda gigi hidup manusia, maka kita tidak perlu belajar atau bekerja keras. Jika kita lapar, gampang saja, kita makan saja makanan yang ma-sih tersisa.” Konsepsi ini keliru. Dalam 6:26 Tuhan Yesus berkata, “Pandanglah burung-burung di langit, yang tidak menabur dan tidak menuai dan tidak mengumpulkan bekal dalam lumbung, namun diberi makan oleh Bapamu yang di surga.” Andaikata Tuhan Yesus berada di sini, saya akan ber-tanya kepada-Nya, “Tuhan, Engkau mengibaratkan kami seperti burung. Burung tidak menanam ataupun mengum-pulkan bekal; mereka hanya terbang di udara dan tidak melakukan apa-apa. Tuhan, apakah ini berarti bahwa kami tidak perlu berbuat apa pun? Burung-burung mendapat ma-kan dari jerih lelah manusia. Tuhan Yesus, apakah Engkau bermaksud supaya kami mengambil keuntungan dari orang lain? Haruskah kami melupakan pekerjaan dan hanya se-mata-mata menjadi burung-burung di udara, menikmati dan mengambil keuntungan jerih payah orang lain?” Saya juga akan bertanya kepada Tuhan, “Tuhan, Engkau juga mengi-baratkan kami seperti bunga bakung. Bunga bakung tidak melakukan apa pun, tetapi berpakaian lebih megah, lebih indah daripada pakaian Salomo (ayat 28-30). Apakah Eng-kau mengatakan bahwa kami tidak perlu berbuat apa pun, semata-mata menikmati udara, matahari, tanah, dan air?” Inilah konsepsi kebanyakan orang muda yang mengutip kata-kata Tuhan Yesus ini. Mereka berkata, “Marilah kita menjadi burung-burung di udara dan bunga bakung di lem-bah.” Ada kesulitan untuk mengerti firman Tuhan ini. Se-kali lagi saya katakan, andaikata Tuhan di sini, saya akan bertanya kepada-Nya, “Apakah Engkau bermaksud supaya kami semata-mata seperti burung-burung yang terbang ting-gi di udara, mengambil keuntungan jerih payah orang lain? Mereka menabur dan menumbuhkan tanaman dan kita ha-nya datang menikmatinya. Apakah ini benar? Apakah ini adil? Nampaknya seolah-olah semua burung itu pencuri. Saya hanya mempunyai sebidang pekarangan kecil, tetapi burung-burung datang dan mengambil keuntungan dari apa yang saya tanam di pekarangan saya. Apakah kata-ka-tamu itu mengartikan bahwa kita berbuat hal yang sama?” Saya menanyakan pertanyaan-pertanyaan ini sebab saya tahu jiwa orang muda. Setelah bertahun-tahun di sekolah, mereka bosan belajar. Ketika mereka belajar dari SMP ke SMA, dari SMA ke Perguruan Tinggi, dari pra sarjana sampai menjadi pasca sarjana, pelajaran-pelajaran menjadi makin sulit. Daripada giat belajar, banyak orang muda le-bih ingin menjadi seperti burung yang terbang di udara. Jika orang-orang muda itu jujur, mereka akan mengakui bahwa mereka mempunyai konsepsi yang demikian.
Marilah kita sekarang mempertimbangkan maksud Tuhan dalam ayat 19-34. Apakah Tuhan menghendaki orang-orang muda menyelesaikan sekolahnya atau putus sekolah dan menjadi seperti burung yang terbang di udara? Mempu-nyai kekhawatiran itu keliru, sebab kekhawatiran bukan milik hayat ilahi. Tidak ada kekhawatiran dalam hayat Allah. Namun, Tuhan bukan bermaksud bahwa kita tidak seharusnya melakukan kewajiban kita. Ketika Tuhan mem-bawa umat Israel masuk ke dalam tanah permai, mereka harus bekerja di atas tanah itu. Itulah kewajiban mereka. Tanah subur menghasilkan panen yang berlimpah atau tidak tergantung pada sejumlah masalah: udara, sinar ma-tahari, banyaknya hujan, dan suhu yang tepat. Semua ma-salah ini tidak satu pun di bawah penguasa umat Israel. Kewajiban mereka hanyalah bekerja di atas tanah.
Mereka bekerja tidak hanya untuk diri mereka, tetapi juga untuk burung-burung. Jika mereka tidak bertani, burung-burung pun akan sulit hidup. Melakukan kewajiban mereka adalah benar dan perlu, tetapi mempunyai kekhawatiran itu keliru. Demikian pula, kita harus me-lakukan kewajiban kita hari ini, tetapi melakukannya tan-pa mengkhawatirkan hidup kita. Alasan Anda begitu enggan memberi kepada yang lain ialah karena kekhawatiran Anda. Karena kekhawatiran, Anda akan menyukai benda-benda materi. Apabila Anda tidak mempunyai kekhawa-tiran, Anda tidak akan mempedulikan benda-benda materi. Sebaliknya, Anda akan membiarkan orang lain memiliki-nya. Kekhawatiranlah yang menyusahkan kita.
Dalam ekonomi Allah, kita semua harus bekerja. Kita tidak sama seperti orang Israel, sebab kita tidak bisa secara harfiah bekerja pada tanah permai. Orang muda hari ini harus belajar dan mendapat pendidikan yang baik. Belajar sama dengan menggarap tanah dan lulus dari perguruan tinggi sama dengan menuai hasil panen. Anak-anak muda, belajar ialah kewajiban Anda dan Anda harus melakukan-nya. Pada zaman kuno, umat Israel harus bekerja mengga-rap tanah, menabur benih, mengairi, dan menuai. Inilah kewajiban mereka. Tetapi mereka menerima hasil tuaian atau tidak itu tergantung pada Allah. Kewajiban mereka ialah bekerja tanpa kekhawatiran apa pun. Jika mereka khawatir, itu bersalah kepada Allah; mereka tidak perlu kha-watir. Mereka hanya semata-mata melakukan apa saja yang diperintahkan Allah. Misalnya, menurut Kitab Bilangan, Allah meminta mereka mendirikan satu kemah bagi diri-Nya. Kemah yang lain bagi suku Lewi, dan masih ada satu kemah lagi untuk tujuan yang lain. Mereka tidak diperbo-lehkan menyimpan semua hasil mereka untuk kenikmatan mereka. Mereka tidak boleh mempunyai kekhawatiran apa pun. Jika mereka tidak mempunyai kekhawatiran, mereka dapat bermurah hati, mau memberi orang lain dan menaruh benda-benda materi mereka ke dalam tangan Tuhan.
Kita perlu membaca 6:19-34 dalam terang yang demiki-an. Di bawah kedaulatan Allah, umat Israel harus bekerja menggarap tanah. Di bawah kedaulatan Allah, orang-orang muda hari ini harus belajar dan menamatkan sekolah. Jika kita ingin mempunyai hidup gereja yang wajar, semua orang muda harus menamatkan pendidikan perguruan tinggi. Ga-gal menamatkan sekolah perguruan tinggi sama seperti menabur tanpa tuaian. Syarat untuk mencari penghidupan hari ini jauh berbeda dengan ratusan tahun yang lalu. Hari ini orang muda harus menggarap tanah, menabur benih, dan menyiram tanaman melalui giat belajar dan lulus dari sekolah akademi atau perguruan tinggi. Tetapi mereka ti-dak boleh melakukan ini karena kekhawatiran. Kita harus membedakan kekhawatiran dengan kewajiban. Kewajiban Anda ialah menyelesaikan pekerjaan ladang Anda yaitu lulus dari sekolah akademi atau perguruan tinggi. Tetapi Anda tidak boleh melakukan ini karena kekhawatiran. Kita harus membedakan kekhawatiran dengan kewajiban. Kewa-jiban Anda ialah menyelesaikan pekerjaan ladang Anda yaitu lulus dari sekolah akademi atau perguruan tinggi. Jika tidak, sulit untuk mencari nafkah. Untuk hidup di bumi ini bagi Allah, Anda harus menamatkan studi Anda. Tetapi ke-tika Anda belajar dan merampungkan pendidikan Anda, Anda harus berbeda dengan orang-orang dunia. Orang dunia belajar untuk kekhawatiran mereka, tetapi Anda tidak bo-leh belajar untuk kekhawatiran, melainkan untuk meram-pungkan kewajiban Anda. Bila Anda tidak nampak butir ini, bagian firman ini akan semata-mata menjadi suatu hukum Taurat bagi Anda.
Boas, nenek moyang Daud, adalah teladan yang mela-kukan kewajibannya tanpa kekhawatiran. Boas adalah se-orang petani yang kaya, ia sangat produktif. Namun orang ini bukan berproduksi karena kekhawatiran, melainkan demi menunaikan kewajibannya. Ketika tiba saatnya, Tuhan meminta dari dia sejumlah hasilnya, ia segera meluluskan. Sesungguhnya Boas menimbun harta di surga. Dengan meng-atasi kekhawatiran, ia mengumpulkan harta di surga.
Setelah beberapa tahun, banyak orang muda di antara kita akan memiliki gelar sarjana. Saya percaya bahwa di bawah berkat kedaulatan Tuhan, sejumlah kekayaan akan dibawa masuk. Pada saat itu Anda perlu ingat bahwa Anda belajar bukan untuk kekhawatiran, melainkan untuk me-nunaikan kewajiban Anda. Sebab itu, kekayaan yang Anda peroleh tidak seyogianya Anda gunakan untuk kekhawa-tiran Anda, melainkan untuk kewajiban Anda. Kewajiban Anda ialah memberi, mengumpulkan harta di surga. Jangan-lah berharap menjadi jutawan. Janganlah berusaha memi-liki simpanan jutaan dolar. Sebaliknya, belajarlah memberi dan mengumpulkan harta di surga. Pindahkanlah harta An-da dari bumi ke surga. Dengan demikian Anda tidak akan menjadi jutawan di bumi, melainkan seorang jutawan di surga. Kewajiban Anda ialah mencari gelar dan kemudian menjadi kaya. Tetapi janganlah berambisi menjadi jutawan, sebaliknya, jadilah seorang pemberi yang baik menurut hayat dan sifat Bapa Surgawi Anda. Inilah makna bagian Firman ini.
Beban saya dalam berita ini ialah menggali butir dasar ini. Kita semua mempunyai kewajiban kita masing-masing. Ketika kita menunaikan kewajiban kita, kita tidak boleh melakukannya karena kekhawatiran kita, sebab kita mem-punyai hayat ilahi yang tidak mengenal kekhawatiran. Dan kita memiliki Bapa Surgawi yang mahabisa dan almuhit, yang memperhatikan kita dalam berbagai aspek. Dunia ha-ri ini penuh dengan kekhawatiran, tetapi umat kerajaan se-yogianya tidak mengkhawatirkan apa pun. Kita tidak dapat menambahkan sehasta saja pada jalan hidup kita dengan kekhawatiran kita (ayat 27). Mengenai moralitas, kita me-miliki hayat dan sifat Bapa kita di dalam kita untuk mem-buat kita dapat menggenapkan tuntutan moral yang ter-tinggi. Mengenai kehidupan kita, kita mempunyai Bapa Surgawi sendiri yang memelihara kita. Namun, ini bukan berarti kita tidak perlu menunaikan kewajiban kita. Seka-lipun kita harus menunaikan kewajiban kita, kita tidak bo-leh khawatir. Seperti umat Israel yang hidup berkecukupan dan yang memberikan bagian tertentu untuk berbagai ke-perluan, kita pun harus mempunyai tuaian dan mau mem-berikan sejumlah tertentu untuk berbagai keperluan. Pada akhirnya, semua yang kita berikan akan terkumpul dalam bank di surga dan harta kita akan berada di sana.
Ini pun berhubungan dengan pertumbuhan kita dalam hayat setiap hari. Baik kemalasan maupun kekhawatiran akan menunda pertumbuhan Anda dalam hayat. Tidak se-orang pun yang bermalas-malasan dan tidak mau menunai-kan kewajibannya dapat bertumbuh dalam hayat. Setiap orang yang bertumbuh dalam hayat ialah orang-orang yang rajin dan giat. Sudah selayaknyalah kerajinan dan kegiatan ini akan menghasilkan pahala dan sejumlah kekayaan ma-teri yang Anda peroleh. Semua kekayaan ini harus digunakan bukan untuk kekhawatiran Anda, melainkan untuk pembe-rian Anda. Kekhawatiran harus pergi. Janganlah memper-bolehkan kekhawatiran menduduki hidup Anda sehari-hari. Karena hayat Bapa yang di dalam Anda tidak mengenal kekhawatiran, Anda harus pula tidak mempunyai kekha-watiran apa pun. Setiap kelebihan yang Anda miliki jangan Anda gunakan untuk kekhawatiran Anda. Gunakanlah untuk menambah tabungan di bank di surga. Saya meyakinkan Anda jika Anda demikian, Anda akan bertumbuh dalam ha-yat. Satu-satunya orang yang bertumbuh dalam hayat ialah orang yang rajin, dan yang tidak menggunakan kelebihan-nya untuk kekhawatirannya. Anda perlu rajin belajar, men-capai nilai yang baik, dan meraih gelar yang tertinggi. Na-mun, kekayaan yang Anda peroleh jangan Anda gunakan untuk kekhawatiran Anda. Kita bekerja dan menunaikan kewajiban kita, tanpa kekhawatiran sedikit pun. Inilah ja-lan yang tepat untuk bertumbuh dalam hayat Bapa.
3. Bapa Surgawi Mengetahui Semua Keperluan Ini
Dalam ayat 32 Tuhan berkata, “Semua itu dicari bangsa-bangsa yang tidak mengenal Allah. Akan tetapi Bapamu yang di surga tahu bahwa kamu memerlukan semuanya itu.” Umat Kerajaan Surga memiliki hayat ilahi Bapa Surgawi mereka sebagai kekuatan mereka untuk memelihara hukum baru kerajaan. Mereka juga memiliki Bapa surgawi mereka sebagai Yang memperhatikan keperluan materi mereka, maka mereka tidak perlu khawatir tentang hal itu. Bapa Surgawi adalah sumber kekuatan dan suplai me-reka. Jadi, mereka tidak perlu menjadi lemah atau keku-rangan.
4. Carilah Dahulu Kerajaan Bapa dan Kebenaran-Nya
Ayat 33 mengatakan,“Tetapi carilah dahulu Kerajaan Allah dan kebenaran-Nya, maka semuanya itu akan ditam-bahkan kepadamu” (Tl.). Kerajaan Bapa adalah realitas Ke-rajaan Surga hari ini, realitas hidup gereja hari ini, dan akan menjadi manifestasi Kerajaan Surga pada zaman yang akan datang. Kebenaran Bapa adalah kebenaran yang dinyatakan dengan memelihara hukum baru kerajaan, seperti yang di-sebutkan dalam 5:20. Karena umat kerajaan mencari kera-jaan dan kebenaran Bapa Surgawi lebih dulu, maka tidak saja Kerajaan-Nya dan kebenaran-Nya akan diberikan ke-pada mereka, tetapi juga semua keperluan mereka akan di-tambahkan kepada mereka.
5. Janganlah Khawatir Akan Hari Esok
Pada akhirnya, ayat 34 mengatakan,“Karena itu, ja-nganlah kamu khawatir tentang hari esok, karena hari esok mempunyai kekhawatirannya sendiri. Kesusahan sehari cukuplah untuk sehari.” Umat kerajaan tidak seharusnya hidup untuk hari esok, melainkan selalu hidup untuk hari ini. Kata “kesusahan” di sini menunjukkan kesulitan dan kesengsaraan. Ini menunjukkan bahwa Raja dari kerajaan ini telah menjelaskan kepada umat kerajaan bahwa hari-hari mereka di bumi bagi kerajaan akan merupakan hari-hari yang penuh kesulitan dan penderitaan, bukan hari-hari yang lancar dan menyenangkan.