← Daftar isi Matius (2) · bab 5/17

PENGUMUMAN KONSTITUSI KERAJAAN (9)

Dalam berita ini kita akan melihat bagian keempat dari pengumuman konstitusi kerajaan oleh Raja di atas gunung, Matius 6:1-18, mengenai perbuatan benar umat kerajaan.

V. MENGENAI PERBUATAN BENAR UMAT KERAJAAN

A. Prinsipnya — Janganlah Melakukan Kebenaran di Hadapan Orang

Dalam Matius 5:17-48 kita nampak pelengkapan dan pengubahan hukum Taurat. Dalam ayat-ayat ini, semua hu-kum Taurat baru Kerajaan Surga menggali dan menying-kapkan temperamen, nafsu, dan manusia alamiah kita. Jadi, ayat-ayat ini bukan menanggulangi perbuatan lahiriah kita, melainkan menanggulangi temperamen kita, hawa nafsu kita, dan semua unsur alamiah lain yang tersembunyi di dalam kita.

Matius 6:1 mengatakan, “Ingatlah, jangan kamu mela-kukan kewajiban agamamu (kebenaranmu) di hadapan orang supaya dilihat mereka, karena jika demikian, kamu tidak beroleh upah dari Bapamu yang di surga.” Melakukan ke-benaran di sini menyatakan perbuatan benar, seperti mem-beri sedekah (ayat 2-4), berdoa (ayat 5-15), dan berpuasa (ayat 16-18). Memang benar ayat-ayat ini membicarakan perbuatan benar umat kerajaan. Namun sebenarnya ayat-ayat ini menyingkapkan diri (ego) dan daging. Di dalam kita ada sesuatu yang lebih buruk daripada amarah dan hawa nafsu. Setiap orang tahu betapa buruknya daging, tetapi banyak orang Kristen bahkan tidak tahu betapa buruknya ego dan daging. Tentu saja kata “ego” dan “daging” tidak di-gunakan dalam ayat-ayat ini. Tetapi baik ego maupun da-ging telah disingkapkan di sini. Dalam kedelapan belas ayat ini Tuhan menggunakan tiga ilustrasi: memberi sedekah, berdoa, dan berpuasa — untuk mewahyukan betapa kita ini dipenuhi dengan ego dan daging.

Daging manusia, mencari kemuliaan bagi diri sendiri, selalu ingin melakukan perbuatan baik di hadapan manu-sia untuk mendapatkan pujian manusia. Tetapi umat kera-jaan, yang hidup dalam roh yang dikosongkan, merendah, serta berperilaku dalam hati yang murni dan tidak berca-bang di bawah pengaturan surgawi dan kerajaan, tidak dibo-lehkan melakukan apa pun di dalam daging untuk menda-patkan pujian manusia, tetapi harus melakukan segala hal di dalam roh untuk menyenangkan Bapa Surgawi mereka.

Bagi umat kerajaan, Allah bukan hanya Allah mereka, tetapi juga Bapa mereka; mereka tidak hanya diciptakan oleh Allah, tetapi juga dilahirkan kembali oleh Bapa; mereka tidak hanya memiliki hayat insani alamiah yang diciptakan, tetapi juga memiliki hayat ilahi rohani yang bukan ciptaan. Karena itu, hukum Taurat baru kerajaan yang di-umumkan oleh Raja di atas gunung, diberikan kepada mereka dengan maksud agar mereka memeliharanya bukan berdasarkan hayat insani mereka yang telah jatuh, melain-kan berdasarkan hayat ilahi kekal Bapa; bukan untuk men-dapatkan kemuliaan dari manusia, melainkan untuk mene-rima pahala dari Bapa.

Mengenai tiga ilustrasi ini Tuhan menggunakan kata “tersembunyi” dalam tiap-tiap ilustrasi (ayat 4, 6, 18). Kita harus melakukan perbuatan benar kita secara tersembunyi, sebab Bapa kita tersembunyi. Dalam ayat 4 Tuhan menga-takan bahwa Bapa kita melihat segala sesuatu yang tersem-bunyi. Umat kerajaan, sebagai anak-anak Bapa Surgawi, harus hidup dalam hadirat Bapa dan memperhatikan keha-diran Bapa. Apa pun yang mereka lakukan secara tersem-bunyi untuk Kerajaan Bapa, dilihat secara tersembunyi oleh Bapa dan Dia akan membalasnya. Bapa surgawi mere-ka melihat secara tersembunyi. Hal ini merupakan suatu pendorong bagi perbuatan benar mereka di tempat yang tersembunyi. Ini mungkin terjadi dalam zaman ini (2 Kor. 9:10-11), atau sebagai upah (pahala) dalam zaman yang akan datang (Luk. 14:14).

Hasil dari melakukan perbuatan benar secara tersembu-nyi ialah diri (ego) dan daging terbunuh. Dalam masyarakat hari ini jika orang-orang tidak diperbolehkan memamerkan perbuatan baik mereka, mereka tidak akan melakukannya. Asalkan orang-orang boleh memamerkan perbuatan benar mereka di depan umum; mereka akan senang melakukan-nya. Ini pun merupakan praktek yang menyedihkan dari kekristenan yang telah merosot hari ini. Terutama dalam hal pengumpulan dana yang memberikan kesempatan yang sangat baik bagi para penyokong untuk pamer. Semakin be-sar kesempatan untuk pamer, mereka semakin bergairah untuk memberikan banyak uang. Sudah tentu pamer sema-cam ini berasal dari daging. Memberi sedekah kepada kaum miskin dengan maksud menunjukkan betapa murah hati-nya Anda itu, bukan masalah temperamen, hawa nafsu daging, atau sifat alamiah. Melainkan masalah ego, daging. Pamer semacam ini semata-mata bermaksud menyombong-kan diri Anda. Jadi, prinsip dasar kita sebagai umat kerajaan dalam melakukan perbuatan benar ialah tidak memamer-kan diri kita. Sedapat mungkin, sembunyikanlah diri Anda, tutupilah diri Anda, dan lakukanlah segala kebajikan yang tersembunyi. Hendaklah kita tersembunyi sedemikian rupa sehingga tak ubahnya seperti yang Tuhan Yesus katakan, janganlah diketahui tangan kirimu apa yang diperbuat ta-ngan kananmu (ayat 3). Ini berarti kita tidak boleh mem-beri tahu orang lain apa yang sedang kita lakukan. Umpa-manya, Anda berpuasa tiga hari, janganlah memburukkan rupa Anda dengan menunjukkan air muka yang sedih. Sebaliknya, berilah kesan kepada orang lain bahwa Anda ti-dak berpuasa sehingga puasa Anda tersembunyi. Jangan berpuasa di hadirat manusia, tetapi secara tersembunyi di hadirat Bapa Surgawi. Berbuat demikian berarti membunuh ego dan daging.

Kita mendorong kaum beriman untuk berfungsi dalam sidang-sidang gereja. Namun berfungsi ada bahayanya juga jika mengandung maksud untuk pamer diri. Melakukan perkara di hadirat manusia ada bahayanya. Jika Anda mengingat pengalaman Anda sendiri, Anda akan menyadari bahwa mungkin sembilan dari sepuluh kali Anda berfungsi dilakukan di hadapan manusia. Ini untuk memuliakan ego dan daging. Tetapi konstitusi Kerajaan Surga tidak membe-rikan satu inci pun kepada temperamen, nafsu daging, dan unsur alamiah kita; tidak pula memberi tempat sedikit pun kepada ego dan daging kita. Oleh belas kasihan dan anuge-rah Tuhan, kita harus melakukan sebanyak mungkin secara tersembunyi. Berusahalah senantiasa melakukan perkara-perkara itu sehingga menyenangkan Allah dan benar terha-dap orang secara tersembunyi. Berusahalah jangan membi-arkan orang lain tahu. Lakukanlah kebenaran Anda dalam hadirat Allah semata.

Bapa kita melihat yang tersembunyi. Ketika Anda ber-doa sendiri dalam kamar Anda, tidak seorang pun melihat Anda, Bapa Surgawi melihatnya. Janganlah berdoa di ujung jalan atau dalam rumah ibadah supaya dilihat orang. Ber-doalah di tempat yang tersembunyi yang akan dilihat oleh Bapa Anda yang melihat yang tersembunyi. Kemudian Anda juga akan menerima jawaban dari Dia secara tersembunyi. Saya khawatir kalau-kalau banyak orang di antara kita yang hanya mempunyai pengalaman secara terbuka, tidak mempunyai pengalaman apa pun secara tersembunyi. Tidak hanya Bapa melihat pengalaman-pengalaman kita, tetapi se-tiap orang pun bisa melihatnya. Ini menunjukkan bahwa kita tidak menyangkal ego atau menolak daging. Kita harus senantiasa mengerjakan sesuatu secara tersembunyi agar dapat menolak si aku dan menyingkirkan daging. Jika mung-kin, lakukanlah segala sesuatu secara tersembunyi, untuk tidak memberi kesempatan apa pun kepada ego Anda dan tidak memberi tempat sedikit pun kepada daging Anda.

Sekalipun Tuhan membicarakan masalah pahala (ayat 1, 5), tetapi perkara yang penting di sini bukanlah pahala, melainkan pertumbuhan dalam hayat. Orang beriman yang bertumbuh secara terbuka tidak bertumbuh secara sehat. Kita semua perlu beberapa pertumbuhan yang tersembunyi dalam hayat, beberapa pengalaman yang tersembunyi dalam Kristus. Kita perlu berdoa kepada Tuhan, menyembah Tuhan, bersentuhan dengan Tuhan, dan bersekutu dengan Tuhan secara tersembunyi. Boleh jadi bahkan tidak ada sa-tu pun orang yang dekat dengan kita mengetahui atau me-mahami apa yang sedang kita lakukan. Kita perlu penga-laman-pengalaman terhadap Tuhan yang tersembunyi ini, sebab pengalaman-pengalaman ini akan membunuh ego dan daging kita. Sekalipun temperamen dan nafsu daging ada-lah buruk, tetapi yang paling merusak kita dalam pertum-buhan hayat kita ialah ego. Ego paling terlihat saat senang melakukan sesuatu secara terbuka untuk umum, di hadap-an banyak orang. Orang yang kuat egonya senang melaku-kan suatu kebenaran di depan orang. Kita semua mengakui bahwa kita, tanpa terkecuali, memiliki ego seperti ini. Orang yang selalu melakukan sesuatu di depan orang dengan mak-sud pamer adalah orang yang bersifat daging. Ego senang disanjung dan daging senang disegani. Mungkin Anda tidak pernah mendengar bahwa ayat-ayat tersebut menanggulangi ego dan daging. Bila kita melihat firman ini, kita harus menyadari bahwa bagian firman ini menyingkapkan ego dan daging kita.

Sekali lagi, masalah yang penting dan menentukan di sini bukan pahala melainkan pertumbuhan dalam hayat. Kaum beriman yang hanya tahu menonjolkan ego dan memamerkan daging tidak akan mampu bertumbuh dalam hayat. Pertum-buhan murni dalam hayat ialah menanggalkan ego. Mereka yang egonya telah ditanggalkan dan dagingnya telah ditang-gulangi kadang-kadang mungkin masih bisa membicarakan masalah perbuatan mereka. Namun, saya sendiri sangat waspada untuk membicarakan hal ini. Sangatlah tidak se-hat jika kita menonjolkan perbuatan benar kita. Malahan kita harus banyak berdoa, tetapi tidak membiarkan orang lain tahu berapa banyaknya doa kita. Inilah yang sehat. Ji-ka Anda berdoa setiap saat tanpa memberi tahu orang lain atau membiarkan mereka tahu, itu berarti Anda sehat dan Anda sedang bertumbuh. Namun, misalkan Anda selalu memberi tahu orang lain berapa banyaknya Anda berdoa, berarti tidak saja Anda akan kehilangan pahala Anda, Anda juga takkan bertumbuh dalam hayat dengan sehat. Kita se-mua harus mengakui bahwa kita mempunyai ego yang sa-ngat licik, dan daging yang licik di dalam kita. Kita semua memiliki kelemahan ini. Ketika kita berdoa sendirian dalam kamar, kita sering berharap agar orang lain dapat mende-ngar bahwa kita sedang berdoa. Sama halnya, kita melaku-kan perbuatan benar dengan maksud agar orang lain meli-hatnya. Kedambaan dan maksud-maksud demikian tidak sehat, karena ini menunjukkan bahwa kita tidak bertum-buh dalam hayat. Membuat pernyataan di hadapan orang tidak akan membantu kita bertumbuh dalam hayat. Jika Anda ingin bertumbuh dan sehat dalam hayat rohani, Anda harus membunuh ego dalam melakukan perbuatan benar. Tak peduli perbuatan benar macam apa yang kita lakukan — memberikan suatu barang kepada kaum beriman, berdoa, berpuasa, melakukan sesuatu untuk menyenangkan Allah — kita harus berusaha sebisanya melakukannya secara tersembunyi. Bila perbuatan benar Anda tersembunyi, yakinlah bahwa Anda bertumbuh dalam hayat dan sehat. Tetapi bila Anda memamerkan diri sendiri dalam perbuatan baik Anda, Anda tidak sehat. Pameran semacam ini sangat merusak pertumbuhan Anda dalam hayat.

Alam semesta menunjukkan bahwa Allah itu tersem-bunyi, Allah itu rahasia. Sekalipun Ia telah melakukan ba-nyak hal, orang tidak sadar bahwa Ia telah melakukannya. Kita telah nampak hal-hal yang dilakukan oleh Allah, teta-pi tidak ada satu pun di antara kita yang pernah nampak Dia, sebab Ia selalu tersembunyi, selalu rahasia. Hayat Allah memiliki sifat yang begitu rahasia dan tersembunyi. Jika kita mengasihi orang lain dengan hayat kita sendiri, hayat ini akan pamer diri di hadapan orang. Tetapi jika kita me-ngasihi orang lain dengan kasih Allah, kasih ini akan se-lalu tetap tersembunyi. Hayat manusia kitalah yang suka pamer, pamer secara umum, tetapi hayat Allah selalu ter-sembunyi. Orang yang munafik adalah orang yang mem-punyai manifestasi lahiriah tanpa memiliki sesuatu yang batiniah. Apa pun yang ia miliki hanyalah suatu pameran lahiriah, tidak ada realitas batiniah. Ini mutlak berlawanan dengan sifat Allah dan dengan hayat-Nya yang tersembu-nyi. Walaupun Allah mempunyai begitu banyak di dalam-Nya, tetapi hanya sedikit yang dimanifestasikan. Jika kita hidup oleh hayat ilahi ini, kita mungkin banyak berdoa, tetapi orang lain tidak akan tahu berapa banyak kita telah berdoa. Kita mungkin memberi banyak untuk membantu orang lain, tetapi tidak seorang pun akan tahu berapa banyak kita telah memberi. Kita mungkin sering berpuasa, tetapi ini juga tidak diketahui oleh orang lain. Kita mungkin me-miliki banyak di dalam kita, tetapi amat sedikit yang ter-manifestasikan. Inilah hakiki umat Kerajaan Surga dalam melakukan perbuatan benar mereka.

Ini jauh berbeda dengan hakiki orang dunia. Jika orang dunia menyumbang seratus dolar, mereka mengumumkan-nya, bahkan berbuat seolah-olah mereka telah memberikan yang lebih besar daripada yang sesungguhnya. Tetapi jika kita sebagai orang Kristen memberi seratus dolar, lebih baik memberi tahu orang-orang lain bahwa kita hanya mem-beri seketip. Kita berbuat lebih banyak daripada yang ter-tampak. Kita tidak bisa melakukan pemberian semacam ini dalam hayat alamiah kita. Hal ini hanya dapat dilakukan dalam hayat ilahi, hayat yang tidak senang pamer. Inilah bu-tir yang penting dan menentukan dalam bagian firman ini.

Jika kita serius menjadi umat kerajaan, kita harus belajar hidup oleh hayat Bapa kita yang tersembunyi. Kita seharusnya tidak hidup berdasarkan hayat alamiah kita yang selalu memamerkan diri. Jika kita hidup berdasarkan hayat Bapa kita yang tersembunyi, kita akan melakukan banyak perkara tanpa memamerkannya. Sebaliknya, semua yang akan kita lakukan secara rahasia, tersembunyi dari mata orang. Biografi banyak orang beriman menunjuk-kan bahwa mereka melakukan beberapa perkara tertentu secara tersembunyi, perkara yang hanya orang ketahui setelah mereka meninggal dunia. Inilah jalan yang benar. Saya mengetahui sejumlah kaum beriman yang terkasih yang telah bekerja bagi Tuhan, bagi gereja, dan bagi kaum beriman secara tersembunyi. Mereka tidak pernah damba un-tuk pamer atau membiarkan orang lain mengetahui bahwa perkara-perkara itu mereka yang melakukannya. Perbuatan-perbuatan ini dilakukan menurut sifat Bapa kita dan me-nurut hayat-Nya yang rahasia dan tersembunyi.

B. Mengenai Sedekah

1. Jangan Menggembar-gemborkan hal itu

Ayat 2: “Jadi, apabila engkau memberi sedekah, ja-nganlah engkau menggembar-gemborkan hal itu, seperti yang dilakukan orang munafik di rumah-rumah ibadat dan di lorong-lorong, supaya mereka dipuji orang. Sesungguhnya Aku berkata kepadamu: Mereka sudah mendapat upahnya.” Sesungguhnya roh umat kerajaan yang dikendalikan oleh surga membatasi mereka dari membanggakan diri secara daging yang demikian.

Ketika saya masih berada di suatu denominasi, baki per-sembahan diedarkan pada setiap kebaktian Minggu pagi. Pada saat itu, uang yang beredar ialah uang logam temba-ga dan dolar perak, bukan uang kertas. Beberapa orang bi-asanya menaruh persembahan mereka dalam baki persem-bahan dengan cara yang dapat menarik perhatian orang lain. Itulah pamer diri. Tentu mereka tidak mengatakan sesuatu, tetapi mereka menjatuhkan uang logam di atas baki dengan suara keras. Dengan berbuat demikian mereka telah menggembar-gemborkan hal itu di hadapan orang lain. Ketika tiba saatnya menghitung jumlah persembahan, maka nama orang yang paling banyak mempersembahkan akan ditulis pada urutan pertama, sedang yang memberi paling sedikit terdaftar paling akhir. Daftar nama mereka kemu-dian ditempel di sebuah ruangan besar atau dekat pintu. Jika orang yang telah memberi paling banyak terdaftar paling akhir, ia mungkin tidak akan lagi memberi dalam jumlah banyak di kemudian hari.

Karena itulah, di dalam gereja kita tidak membuat ca-tatan persembahan kaum beriman. Uang kontan itu dimasuk-kan dalam kotak persembahan dan tidak ada kesempatan bagi ego atau daging untuk disanjung. Memang pengguna-an cek menimbulkan sedikit masalah. Dalam praktek hidup gereja kita di China bertahun-tahun yang lalu, kita jarang mengunakan cek. Tetapi penggunaan cek bukan suatu hu-kum Taurat. Setiap hal tergantung pada motivasi dan sikap kita. Saya bukan mengatakan bahwa kaum beriman tidak boleh menggunakan cek. Prinsipnya ialah bahwa kita tidak memberi dengan maksud pamer atau menerima sanjungan orang. Sebaliknya, kita melakukannya secara tersembunyi di hadirat Bapa Surgawi kita. Dalam hal ini hanya Anda sen-diri yang tahu apa motivasi dan sikap Anda.

2. Janganlah Diketahui Tangan Kirimu Apa yang Diperbuat Tangan Kananmu

Ayat 3 mengatakan, “Tetapi jika engkau memberi sede-kah, janganlah diketahui tangan kirimu apa yang diperbuat tangan kananmu.” Perkataan ini menunjukkan bahwa per-buatan benar umat kerajaan sebisanya harus dirahasiakan. Apa yang mereka lakukan dalam roh mereka di bawah pe-merintahan surgawi hanya untuk menyenangkan Bapa sur-gawi, tidak seharusnya dipengaruhi daging mereka dalam nafsu untuk mencari kemuliaan manusia.

3. Memberi Sedekah secara Tersembunyi

Dalam ayat 4 Raja mengatakan, “Hendaklah sedekahmu itu diberikan dengan tersembunyi, maka Bapamu yang melihat yang tersembunyi akan membalasnya kepadamu.” Umat kerajaan hidup dengan hayat ilahi Bapa dan berjalan menurut roh mereka. Dengan demikian, mereka dituntut un-tuk melakukan hal-hal baik secara tersembunyi, bukan di muka umum. Memamerkan di muka umum tidak sesuai dengan sifat ilahi Allah yang rahasia dan tersembunyi.

C. Mengenai Doa

1. Jangan Pamer

Dalam doa, seperti halnya memberi sedekah, umat ke-rajaan tidak seharusnya pamer. Ayat 5 mengatakan, “Apa-bila kamu berdoa, janganlah berdoa seperti orang munafik. Mereka suka mengucapkan doanya dengan berdiri dalam rumah-rumah ibadat dan pada tikungan-tikungan jalan raya, supaya mereka dilihat orang. Sesungguhnya Aku berkata kepadamu: Mereka sudah mendapat upahnya.” Doa yang mencari pujian manusia mungkin memperoleh upah dari ma-nusia, tetapi tidak akan menerima jawaban dari Bapa. Jadi, itu adalah doa yang sia-sia.

2. Berdoa Secara Tersembunyi

Doa kita hendaklah secara tersembunyi. Dalam ayat 6 Raja berkata, “Tetapi jika engkau berdoa, masuklah ke da-lam kamarmu, tutuplah pintu dan berdoalah kepada Bapa-mu yang ada di tempat tersembunyi. Dengan demikian, Bapamu yang melihat yang tersembunyi akan membalasnya kepadamu.” Umat kerajaan harus memiliki pengalaman doa dalam kamar pribadi mereka, yang melaluinya mereka berkontak dengan Bapa Surgawi secara tersembunyi, mengalami kenikmatan yang tersembunyi atas Bapa, dan menerima jawaban yang tersembunyi dari Dia.

3. Jangan Bertele-tele

Ketika kita berdoa, janganlah bertele-tele. Ayat 7 me-ngatakan,“Lagi pula dalam doamu itu janganlah kamu bertele-tele seperti kebiasaan bangsa-bangsa yang tidak me-ngenal Allah. Mereka menyangka bahwa dengan banyaknya kata-kata doanya akan dikabulkan.” Ini tidak berarti bahwa kita tidak perlu mengulangi doa kita. Tuhan mengulangi doa-Nya tiga kali di Getsemani (Mat. 26:44), Rasul Paulus meng-ucapkan doa yang sama sebanyak tiga kali (2 Kor. 12:8), dan kumpulan orang banyak di surga memuji Allah ber-ulang-ulang dengan seruan haleluya (Why. 19:1-6). Ini berarti bahwa kita tidak seharusnya mengulangi kata-kata yang hampa, perkataan yang diucapkan secara sia-sia.

Ayat 8 mengatakan, “Jadi, janganlah kamu seperti me-reka, karena Bapamu mengetahui apa yang kamu perlukan, sebelum kamu minta kepada-Nya.” Meskipun Allah Bapa kita mengetahui keperluan kita, kita tetap harus meminta kepada-Nya, karena orang yang meminta, menerima (Mat. 7:8).

4. Pola Doa

Dalam ayat 9-13 kita nampak pola doa. Namun itu bukan pola untuk semua doa. Doa yang diberikan dalam Matius 6 ini mutlak berbeda dengan doa yang diajarkan dalam Yohanes. Dalam Matius 6 kita tidak disuruh berdoa dalam nama Tuhan, tetapi dalam Yohanes 14 sampai 17 Tuhan Yesus berulang kali menyuruh kita untuk berdoa dalam na-ma-Nya. Alasan perbedaan ini ialah doa dalam Matius ini tidak berhubungan dengan hayat, melainkan dengan kera-jaan. Dalam pola doa yang pendek ini sedikitnya dua kali menyebutkan kerajaan. Ayat 10 mengatakan,“datanglah Ke-rajaan-Mu”, dan ayat 13 mengatakan,“Karena Engkaulah yang punya Kerajaan.” Sebaliknya doa dalam Injil Yohanes bersangkutan dengan hayat. Berdoa dalam nama Tuhan bu-kan menyangkut masalah kerajaan, melainkan masalah hayat. Berdoa dalam nama Tuhan pada hakikatnya adalah berdoa dalam Persona Tuhan. Kita berdoa dengan Dia da-lam satu nama dan dalam satu hayat. Karena itu, kita ber-satu dengan Dia dalam hayat dalam doa kita kepada Allah Sang Bapa. Tetapi sebagaimana kita telah nampak, doa dalam Matius 6 mutlak berbeda, sebab doa ini adalah doa kerajaan.

Bila Anda ingin mempunyai doa dalam hayat, Anda harus membaca Injil Yohanes. Anda harus tinggal di dalam Tuhan dan bersatu dengan Dia. Anda harus menetap dalam roh Anda dan berdoa dalam keesaan dengan Dia. Inilah ar-tinya berdoa dalam nama-Nya. Tetapi doa dalam Matius 6 adalah mengenai kerajaan. Dengan perkataan lain, ini ada-lah doa peperangan, doa peperangan melawan musuh Allah bagi Kerajaan Allah.

Ayat 9 dimulai dengan kata-kata, “Karena itu, berdoa-lah demikian.” Kata “demikian” tidak berarti kita harus mengucapkannya atau menghafalkannya secara harfiah. Dalam Kisah Para Rasul dan Surat-surat Kiriman tidak ada contoh pengutipan doa ini. Namun dalam kekristenan ter-tentu, hari ini doa ini diucapkan pada setiap kebaktian Minggu pagi. Saya sering kali mengucapkan doa ini selagi muda dalam suatu denominasi. Ini bukan berarti mereka ti-dak melakukannya dengan tulus. Malahan banyak yang jus-tru melakukannya dengan sangat tulus.

a. Berdoa agar Nama Allah Dikuduskan

Dalam pola doa yang diberikan dengan teladan oleh Tuhan, tiga permohonan yang pertama menyiratkan Trinitas Ke-Allahan: “Dikuduskanlah nama-Mu” terutama berhubung-an dengan Bapa; “Datanglah Kerajaan-Mu” terutama berhu-bungan dengan Putra; dan “Jadilah kehendak-Mu” teruta-ma berhubungan dengan Roh. Hal ini sedang digenapi dalam zaman ini, dan akan sepenuhnya digenapi dalam zaman kera-jaan yang akan datang, ketika nama Allah menjadi indah di seluruh bumi (Mzm. 8:2), kerajaan dunia akan menjadi Kera-jaan Kristus (Why. 11:15), dan kehendak Allah akan rampung.

Ayat 9 mengatakan, “Bapa kami yang di surga, Diku-duskanlah nama-Mu.” Hari ini nama Allah tidak dikuduskan, sebaliknya dicemarkan dan dibuat menjadi awam. Orang yang tidak percaya mungkin bertanya, “Allah itu apa? Allah itu siapa?” Orang membicarakan Yesus Kristus sama seperti mereka membincangkan Plato atau Hitler. Mereka menja-dikan nama Tuhan Yesus itu biasa. Tetapi kita tahu bahwa hari itu akan tiba, dalam masa seribu tahun, ketika nama Allah dikuduskan. Tetapi sebelum saat itu, nama Bapa kita dikuduskan seluruhnya dalam hidup gereja hari ini. Kita ti-dak menyeru nama Bapa atau membicarakan nama Tuhan secara biasa. Sebaliknya, ketika kita mengatakan “Bapa” atau “Tuhan”, kita menguduskan nama-nama yang kudus ini. Jadi, kita berdoa, “Ya Bapa, dikuduskanlah nama-Mu.”

b. Berdoa agar Kerajaan Allah Datang

Ayat 10 mengatakan,“Datanglah Kerajaan-Mu.” Walau kerajaan sudah ada dalam hidup gereja hari ini, tetapi ma-nifestasi kerajaan baru akan datang kemudian. Jadi kita harus berdoa untuk kerajaan yang akan datang. Masalah kerajaan ini jelas berkaitan dengan Allah Putra.

c. Berdoa agar Jadilah Kehendak Allah di Bumi

Ayat 10 mengatakan,“Jadilah kehendak-Mu di bumi seperti di surga.” Setelah pemberontakan Iblis (Yeh. 28:17; Yes. 14:13-15), bumi jatuh ke dalam tangan perampasan Iblis. Jadi kehendak Allah tidak dapat terlaksana di bumi seperti di surga. Karena itu, Allah menciptakan manusia dengan maksud memulihkan bumi bagi diri-Nya sendiri (Kej. 1:26-28). Setelah kejatuhan manusia, Kristus datang untuk membawa pemerintahan surgawi ke bumi, sehingga bumi dapat dipulihkan bagi kepentingan Allah, agar kehendak Allah dapat terlaksana di bumi seperti di surga. Itulah se-babnya Raja baru mendirikan Kerajaan Surga bersama para pengikut-Nya. Umat kerajaan harus berdoa untuk hal ini sampai bumi sepenuhnya terpulih bagi kehendak Allah dalam zaman kerajaan yang akan datang.

Ketika nama Bapa dikuduskan, Kerajaan Putra pun datang, dan jadilah kehendak Roh di bumi seperti di surga, itulah saatnya manifestasi kerajaan. Tetapi kita yang ber-ada dalam realitas kerajaan hari ini harus berdoa untuk semua hal ini.

d. Berdoa agar Allah Memberi Kita Makanan Kita Tiap Hari

Ayat 11 mengatakan,“Berikanlah kami pada hari ini makanan kami yang secukupnya.” Doa ini adalah almuhit. Sebagai pola, doa ini pertama memperhatikan nama Allah, Kerajaan Allah, dan kehendak Allah; kedua memperhatikan keperluan kita. Ini mewahyukan bahwa dalam doa pepe-rangan ini Tuhan masih memperhatikan keperluan kita. Menurut ayat 11 hendaklah kita mohon “makanan kita un-tuk hari ini secukupnya”. Raja tidak menghendaki umat-Nya khawatir akan hari esok (ayat 34). Dia menghendaki mereka berdoa hanya untuk keperluan mereka hari ini. Istilah “makanan yang secukupnya” menunjukkan suatu kehidupan yang ditempuh demi iman. Umat kerajaan tidak seharusnya hidup bersandarkan apa yang mereka simpan, sebaliknya, mereka seharusnya hidup demi iman, bersan-darkan suplai harian Bapa.

e. Berdoa agar Alah Mengampuni Kesalahan Kita

Ayat 12 mengatakan,“dan ampunilah kami dari kesa-lahan kami, seperti kami juga mengampuni orang yang bersalah kepada kami.”

Ketiga, pola doa ini memperhatikan kegagalan umat kerajaan di hadapan Allah dan memperhatikan hubungan mereka dengan orang lain. Mereka harus meminta Bapa mengampuni kesalahan-kesalahan mereka, kegagalan mere-ka, dan pelanggaran mereka, seperti mereka mengampuni orang yang bersalah kepada mereka untuk memelihara damai sejahtera. Ayat 12 menunjukkan dalam doa peperangan ini kita harus mengakui bahwa kita mempunyai kekurangan, kesalahan, dan kekeliruan. Kita berhutang kepada orang lain. Karena itu, kita harus mohon Bapa untuk mengampuni kita seperti kita mengampuni orang lain oleh karena Bapa.

f. Berdoa agar Allah Jangan Membawa Kita ke

Dalam Pencobaan, tetapi Melepaskan Kita dari yang Jahat

Ayat 13 mengatakan,“dan janganlah membawa kami ke dalam pencobaan, tetapi lepaskanlah kami dari yang jahat.” Pola doa ini memperhatikan perkara yang keempat, kelepasan umat kerajaan dari si jahat dan dari hal-hal yang jahat. Mereka harus meminta Bapa agar tidak membawa mereka ke dalam pencobaan, tetapi melepaskan mereka dari si jahat, Iblis, dan dari kejahatan yang berasal dari dia. Ingatlah, Raja pernah dibawa ke dalam pencobaan. Kadang-kadang Bapa membawa kita ke dalam situasi di mana kita diuji dan dicobai. Karena itu, ketika kita berdoa kepada Bapa, kita harus menyadari kelemahan kita dengan berkata, “Ya Bapa, aku sangat lemah. Janganlah membawa aku ke da-lam pencobaan.” Ini berarti bahwa Anda mengakui Anda le-mah. Jika Anda tidak mengakui kelemahan Anda, Anda mungkin tidak berdoa demikian. Sebaliknya, Anda mungkin merasa bahwa Anda kuat. Justru inilah saatnya bagi Bapa membawa Anda ke dalam pencobaan untuk menunjukkan kepada Anda bahwa Anda sama sekali tidak kuat. Karena itu lebih baik doa kita menunjukkan kepada Bapa bahwa kita tahu kelemahan kita. Kita harus mengatakan, “Bapa, aku menyadari sepenuhnya bahwa aku lemah. Janganlah membawa aku ke dalam pencobaan. Engkau tidak perlu ber-buat itu, Bapa, sebab aku tahu kelemahanku.” Janganlah berkata kepada diri Anda, “Apa pun yang akan terjadi, aku yakin dapat bertahan.” Jika itu sikap Anda, bersiap sedialah dibawa ke padang belantara untuk menghadapi cobaan. Jangan mempunyai sikap semacam itu, berdoalah agar Bapa tidak akan membawa Anda ke dalam pencobaan, melainkan melepaskan Anda dari si jahat.

g. Mengenal Kerajaan, Kuasa, dan Kemuliaan Allah

Menurut pola doa ini, umat kerajaan harus mengenal kerajaan, kuasa, dan kemuliaan Allah. Ayat 13 mengata-kan pula, “Karena Engkaulah yang punya Kerajaan dan kuasa dan kemuliaan sampai selama-lamanya. Amin.” Kera-jaan adalah ruang lingkup tempat Allah melaksanakan ku-asa-Nya sehingga Dia dapat mengekspresikan kemuliaan-Nya.

5. Syarat Doa — Mengampuni Kesalahan Orang

Ayat 14 dan 15 mewahyukan syarat doa yaitu meng-ampuni kesalahan orang lain. Ayat-ayat ini mengatakan, “Karena jikalau kamu mengampuni kesalahan orang, Bapa-mu yang di surga akan mengampuni kamu juga. Tetapi jikalau kamu tidak mengampuni orang, Bapamu juga tidak akan mengampuni kesalahanmu.” Kata “karena” menunjuk-kan bahwa perkataan dalam ayat 14-15 adalah penjelasan ten-tang alasan umat kerajaan harus mengampuni orang yang bersalah kepada mereka (ayat 12). Jika mereka tidak meng-ampuni kesalahan orang, Bapa surgawi juga tidak akan mengampuni kesalahan mereka, demikian, doa mereka akan terhambat.

D. Mengenai Berpuasa

Dalam ayat 16-18 dikatakan tentang puasa. Kita tidak seharusnya menampakkan kepada orang lain bahwa kita sedang berpuasa, kita harus berpuasa secara tersembunyi. Ayat 16 mengatakan,“Apabila kamu berpuasa, janganlah muram mukamu seperti orang munafik. Mereka mengubah air mukanya, supaya orang melihat bahwa mereka sedang berpuasa. Sesungguhnya Aku berkata kepadamu: Mereka sudah mendapat upahnya.” Berpuasa bukanlah menahan diri dari makan, melainkan tidak dapat makan karena beban yang sungguh-sungguh saat berdoa bagi perkara tertentu. Ini juga suatu ekspresi dari kerendahan hati dalam mencari belas kasihan Allah. Memberi sedekah adalah memberikan apa yang berhak kita miliki, sedangkan berpuasa adalah melepaskan apa yang berhak kita nikmati.

Ayat 17-18 mengatakan, “Tetapi apabila engkau berpu-asa, minyakilah kepalamu dan cucilah mukamu, supaya ja-ngan dilihat oleh orang bahwa engkau sedang berpuasa, melainkan hanya oleh Bapamu yang ada di tempat tersem-bunyi. Maka Bapamu yang melihat yang tersembunyi akan membalasnya kepadamu.” Ini menunjukkan bahwa puasa kita, seperti pemberian sedekah kita dan doa kita, harus di-lakukan di tempat tersembunyi, tidak di hadapan manusia. Bapa yang melihat di tempat tersembunyi, Dialah yang akan membalas kita.