← Daftar isi Matius (2) · bab 10/17

KELANJUTAN MINISTRI RAJA (2)

III. KEKUASAAN RAJA

Dalam Matius 8:23—9:8 kita nampak kekuasaan Raja. Urutan dalam Injil Matius sangat ajaib. Setelah Raja berkata dengan suatu cara untuk menunjukkan bahwa ia tidak mempunyai apa pun, bahkan rumah atau tempat untuk istirahat, dan setelah tidak mengizinkan pengikut-Nya mela-kukan kewajiban orang mati, catatan Injil Matius mewah-yukan kekuasaan Raja ini. Sekalipun Ia tidak mempunyai apa pun, Ia mempunyai kekuasaan. Dalam 8:23—9:8 keku-asaan ini terdiri atas tiga aspek: berkuasa atas angin dan laut (8:23-27); berkuasa atas setan-setan (8:28-34); dan ber-kuasa untuk mengampuni dosa (9:1-8).

A. Atas Angin dan Laut

Kekuasaan Tuhan dinyatakan atas angin dan laut. Ini bukan kekuasaan yang biasa, melainkan kekuasaan yang luar biasa. Tuhan dan murid-murid-Nya berada dalam perahu, sekonyong-konyong mengamuklah angin ribut di danau itu, sehingga perahu itu ditelan gelombang (ayat 24). Ke-tika murid-murid itu takut kalau-kalau mereka akan tewas, mereka membangunkan Tuhan dari tidur (ayat 25). Tuhan berkata, “Mengapa kamu takut, hai kamu yang kurang per-caya?” (ayat 26). Iman berasal dari firman Tuhan dan ter-gantung pada firman Tuhan (Rm. 10:17). Tuhan memberi mereka firman dalam ayat 18 “bertolaklah ke seberang”. Jika mereka percaya kepada firman itu, mereka tidak perlu berdoa seperti dalam ayat 25. Pemahaman mereka terhadap firman Tuhan tidaklah cukup, sebab itu, iman mereka kecil.

Ayat 26 mengatakan,“Lalu bangunlah Yesus memben-tak angin dan danau itu, sehingga danau itu menjadi te-duh sekali.” Ketika Tuhan dan murid-murid-Nya berlayar menyeberangi laut, dalam perjalanan mereka untuk mengusir setan, sesuatu yang di udara dan di bawah laut mulai mem-persulit mereka. Di udara terdapat malaikat-malaikat yang telah jatuh, dan di dalam laut terdapat setan-setan. Jadi, perintah Tuhan di sini pada hakikatnya bukan ditujukan kepada angin atau laut, melainkan kepada malaikat di uda-ra yang telah jatuh dan kepada setan-setan di bawah per-mukaan air. Suatu bentakan tidak ditujukan kepada se-suatu yang tanpa hayat, melainkan kepada sesuatu yang berpersona. Sang Raja membentak angin dan laut karena di dalam angin ada malaikat-malaikat yang jatuh milik Iblis (Ef. 6:12), dan di dalam laut ada setan-setan (Mat. 8:32). Malaikat-malaikat jatuh di udara dan setan-setan di dalam air bekerja sama untuk menghambat Raja agar tidak bisa pergi ke seberang, karena mereka tahu bahwa Ia akan meng-usir setan-setan di sana (ayat 28-32). Segera setelah Raja memerintahkan malaikat-malaikat yang telah jatuh dan roh-roh jahat itu berhenti, mereka segera taat, dan laut pun jadi teduh sekali. Teduh sekali berkebalikan dengan kapasitas iman mereka yang kecil (ayat 26).

Ayat 27 mengatakan,“Orang-orang itu pun heran dan berkata, ‘Orang seperti apa Dia ini, sehingga angin dan danau pun taat kepada-Nya?’” Sebenarnya, bukan angin dan laut yang taat kepada wewenang Raja, melainkan malaikat-malaikat yang jatuh di balik angin dan setan-setan di da-lam laut. Jadi, dalam ayat 23-27 kita nampak pernyataan kekuasaan Raja yang melampaui (unggul). Ia tidak mempu-nyai liang, sarang, dan tempat untuk meletakkan kepala-Nya, tetapi Ia memiliki kekuasaan yang melampaui atas lingkungan yang alamiah. Ia bersyarat penuh menjadi Raja surgawi dari Kerajaan Surga. Selain Dia, tidak pernah ada seorang Raja di bumi dengan kekuasaan yang sedemikian luar biasa.

B. Atas Setan-setan

Ketika Tuhan Yesus sampai di daerah orang Gadara, Ia dijumpai oleh dua orang yang kerasukan setan. Ketika dua orang kerasukan setan itu menemui Yesus, setan-setan itu berteriak, katanya: “Apa urusan-Mu dengan kami, hai Anak Allah? Apakah Engkau ke mari untuk menyiksa kami sebelum waktunya?” (ayat 29). Raja menyebut diri-Nya Anak Manusia (ayat 20), tetapi setan-setan menyebut-Nya Anak Allah, mencobai-Nya untuk meninggalkan kedudukan-Nya sebagai Anak Manusia. Setan bertanya kepada-Nya apakah Ia datang untuk menyiksa mereka sebelum waktunya. Kata “sebelum waktunya” menyiratkan bahwa Allah sudah me-netapkan satu waktu untuk menyiksa setan-setan, dan setan-setan tahu tentang waktu itu, yang akan tiba setelah masa seribu tahun dan berlangsung sampai kekal (Lihat Why. 20:13).

Setan-setan tidak mau tersiksa sebelum waktunya. Me-reka memohon kepada Tuhan Yesus, “Jika Engkau meng-usir kami, suruhlah kami pindah ke dalam kawanan babi itu” (ayat 31). Fakta bahwa setan memohon kepada-Nya menun-jukkan bahwa mereka berada di bawah kekuatan dan ke-kuasaan Raja. Ayat 32 mengatakan,“Yesus berkata kepada mereka, ‘Pergilah!’ Lalu keluarlah mereka dan masuk ke dalam babi-babi itu. Seluruh kawanan babi itu pun terjun dari tebing yang curam ke dalam danau dan mati di dalam air.” “Pergilah!” Ini adalah perintah yang penuh dari kuasa Raja, dan setan-setan itu menaatinya. Raja memenuhi per-mintaan setan-setan itu dan mengizinkan mereka masuk ke dalam babi-babi itu karena babi adalah binatang yang najis dalam pandangan Allah (Im. 11:7). Babi-babi itu tidak tahan dirasuki setan-setan, dan seluruh kawanan babi itu terjun ke dalam laut. Setan-setan senang karena air adalah tempat kediaman mereka (12:43-44).

Maksud tujuan Tuhan memperbolehkan setan masuk ke dalam kawanan babi bukan untuk menghancurkan pemilik yang memelihara babi-babi itu, melainkan untuk membinasakan milik dari pemilik yang berupa babi yang najis dalam pandangan Allah, Tuhan membinasakan kepu-nyaan mereka yang najis itu dengan harapan bahwa si pemilik dapat diselamatkan dan berpaling kepada-Nya. Babi najis dan yang dipersalahkan oleh Allah tidak seharusnya ada di sana.

Ketika pemiliknya mendengar laporan tentang kawanan babi itu, mereka marah. Ayat 34 mengatakan,“Seluruh kota itu keluar mendapatkan Yesus dan setelah berjumpa de-ngan Dia, mereka pun mendesak, supaya Ia meninggalkan daerah mereka.” Mereka mendesak Tuhan Yesus supaya meninggalkan daerah mereka dan Ia pun benar-benar pergi (9:1). Orang-orang di kota itu menolak Raja karena sudah kehilangan babi-babi mereka. Mereka menginginkan babi-babi mereka yang najis, tetapi tidak menginginkan Raja surgawi kerajaan. Mereka mungkin adalah orang-orang bu-kan Yahudi (Gadara terletak di pantai Laut Galilea, di sebe-rang Galilea bangsa-bangsa lain — 4:15). Mereka menolak Raja surgawi karena cara mencari nafkah mereka yang najis.

Raja datang ke daerah ini untuk menertibkan segala sesuatu. Tuhan tidak hanya mengusir setan-setan dari dua orang itu, bahkan babi-babi itu pun ditenggelamkan. Kare-na itu, seluruh daerah menjadi bersih, sedangkan setan-setan telah kembali ke tempat kediaman mereka. Inilah suatu penampilan kekuasaan Tuhan.

C. Mengampuni Dosa

Dalam Matius 9:1-8 kita nampak kekuasaan Raja untuk mengampuni dosa. Setelah Tuhan datang ke kota-Nya sen-diri, Kapernaum, tempat tinggal-Nya saat itu (4:13), seorang lumpuh lalu dibawa kepada-Nya. Ayat 2 mengatakan, “Ke-tika Yesus melihat iman mereka, berkatalah Ia kepada orang lumpuh itu, ‘Teguhkanlah hatimu, hai anak-Ku, dosa-dosa-mu sudah diampuni.’” Orang yang membawa orang lum-puh itu kepada Tuhan Yesus telah membuka atap di mana Tuhan berada dan sesudah terbuka mereka menurunkan ti-lam (Mrk. 2:4). Dari hal ini Tuhan melihat iman mereka. Penyebutan dosa dalam ayat 2 menunjukkan bahwa orang lumpuh itu sakit karena dosa-dosanya.

Ayat 3 mengatakan, “Mendengar itu, berkatalah bebe-rapa orang ahli Taurat dalam hatinya, ‘Orang ini menghu-jat Allah.’” Ahli Taurat, yang berkeyakinan bahwa mereka mengenal Kitab Suci, berpikir bahwa hanya Allah yang me-miliki kuasa untuk mengampuni dosa-dosa dan bahwa Tuhan Yesus, yang dalam pandangan mereka hanya seorang ma-nusia, telah menghujat Allah, pada saat Ia berkata, “Dosa-dosamu telah diampuni.” Ini menunjukkan bahwa mereka tidak mengakui bahwa Tuhan adalah Allah. Dengan meng-ucapkan perkataan semacam itu, mereka menolak Raja surgawi kerajaan. Ini adalah penolakan pertama dari para pemimpin agama Yahudi. Menurut para ahli Taurat, Tuhan Yesus menganggap diri-Nya Allah dan telah menghujat Allah. Tetapi Tuhan Yesus sama sekali tidak menghujat, sebab Dia adalah Allah. Sebagai Allah, Ia tidak hanya berkuasa atas lingkungan alamiah dan atas setan-setan, Ia pun ber-kuasa penuh untuk mengampuni dosa-dosa manusia.

Tuhan mengetahui dalam hati-Nya (Mrk. 2:8) pikiran ahli-ahli Taurat itu. Ayat 4 dan 5 mengatakan, “Tetapi Yesus mengetahui pikiran mereka, lalu berkata, ‘Mengapa kamu memikirkan hal-hal yang jahat di dalam hatimu? Manakah yang lebih mudah, mengatakan: Dosa-dosamu sudah diam-puni, atau mengatakan: Bangunlah dan berjalanlah?’” Kata “pikiran mereka” di sini berarti konsepsi, dugaan jahat dengan perasaan atau nafsu yang kuat. Ahli-ahli Taurat ti-dak perlu mengucapkan maksud hati mereka, sebab Tuhan Yesus melalui pemahaman Roh-Nya nampak akan apa yang terkandung dalam hati mereka, dan justru kini Ia bertanya kepada mereka tentang mereka sendiri. Tuhan mengetahui pikiran hati ahli-ahli Taurat, menunjukkan bahwa Ia benar-benar Allah. Seandainya bukan, bagaimana Ia dapat menge-tahui perkara-perkara ini? Perhatikanlah bahwa Tuhan tidak mengatakan, “Manakah lebih sulit?” Karena bagi-Nya tidak ada yang sulit. Bagi Tuhan, mengatakan, “Dosa-dosamu su-dah diampuni”, lebih mudah daripada mengatakan, “Bangun-lah dan berjalan.” Karena tidak seorang pun tahu apakah dosa-dosanya telah diampuni atau tidak, maka mudahlah untuk mengatakan hal ini. Tetapi setiap orang akan tahu bila seseorang bangun dan berjalan.

Keselamatan Tuhan tidak hanya mengampuni dosa-dosa kita, tetapi juga membuat kita bangun dan berjalan. Kita tidak bangun dan berjalan dulu, baru menerima peng-ampunan dosa-dosa; keselamatan yang demikian berarti keselamatan berdasarkan perbuatan. Sebaliknya, mula-mula kita mendapat pengampunan dosa, kemudian bangun dan berjalan; keselamatan yang demikian adalah berdasarkan anugerah.

Ayat 6 mengatakan, “Tetapi supaya kamu tahu bahwa di dunia ini Anak Manusia berkuasa mengampuni dosa — lalu berkatalah Ia kepada orang lumpuh itu — ‘Bangunlah, angkat tempat tidurmu dan pulanglah ke rumahmu!’” Meng-ampuni dosa adalah perkara memiliki kuasa di bumi. Hanya Penyelamat rajani yang diberi kuasa oleh Allah (dan yang akan mati untuk menebus orang dosa), yang memiliki ke-kuasaan semacam ini (Kis. 5:31; 10:43; 13:38). Kuasa ini adalah untuk mendirikan Kerajaan Surga (Mat. 16:19).

Tuhan membuat orang lumpuh itu tidak hanya berjalan, tetapi juga mengangkat tempat tidurnya dan berjalan. Sebelumnya, tempat tidur itu yang mengangkat dirinya. Kini dia yang mengangkat tempat tidurnya. Inilah kuasa kesela-matan Tuhan. Orang lumpuh ini dibawa kepada Tuhan oleh orang lain, tetapi dia pulang sendiri. Ini menunjukkan bahwa bukan orang dosa itu yang dapat datang kepada Tuhan, tetapi orang dosa itu yang dapat pulang dari Tuhan karena keselamatan-Nya.

Ayat 7 mengatakan, “Orang itu pun bangun lalu pulang.” Orang lumpuh itu bangun dan berjalan. Hal itu membuk-tikan bahwa dia sudah sembuh, dan penyembuhannya mem-buktikan bahwa dosa-dosanya sudah diampuni. Ini suatu bukti yang kuat bahwa Tuhan Yesus berkuasa mengampuni dosa manusia.

Apa yang diwahyukan dalam perkara-perkara ini ke-pada kita bukan kekuasaan Kristus, melainkan kekuasaan Raja surgawi. Kekuasaan tentu berdasarkan kekuatan. Namun, kekuasaan lebih tinggi daripada kekuatan. Ada se-bagian orang mungkin mempunyai kekuatan, tetapi tanpa kekuasaan. Karena Yesus, Tuhan disahkan sebagai Raja surgawi, Ia perlu menunjukkan kekuasaan-Nya kepada pengikut-pengikut-Nya. Kekuasaan ini untuk menanggu-langi perkara-perkara yang negatif, suasana menantang yang ditimbulkan oleh roh-roh jahat, setan-setan, dan dosa-dosa yang bejat. Kristus sebagai Raja surgawi berkuasa penuh untuk menanggulangi semuanya dan ini semua di-taklukkan di bawah kekuasaan-Nya. Ini mengakibatkan berdirinya Kerajaan Surgawi-Nya di bumi.

Jika kita meletakkan bersama semua perkara yang tercatat dalam 8:1—9:8, kita akan nampak suatu gambaran yang jelas mengenai siapa Raja surgawi ini. Dia adalah Penyelamat orang Yahudi dan orang bukan Yahudi. Dia akan menjadi Penyelamat orang Yahudi yang bertobat dan Dia pun yang akan memulihkan seluruh bumi pada masa seribu tahun. Ia berkuasa atas angin, laut, dan setan. Ia pun berkuasa mengampuni dosa orang dan membuat mereka bangun dan berjalan. Jika kita mau mengikuti Raja surga-wi ini, kita seharusnya tidak mengharapkan kenikmatan materi apa pun, kita perlu mengabaikan kewajiban materi apa pun, dan kita pun perlu mengabaikan kewajiban orang mati serta tugas-tugasnya. Bagian firman “sekilas pandang” ini memberi kita suatu gambaran yang jelas mengenai siapakah Raja surgawi ini.