Daftar isi Matius (2) · Berita Kedua Puluh Tujuh · bab 11/17

Berita Kedua Puluh Tujuh

KELANJUTAN MINISTRI RAJA (3)

IV. BERGEMBIRA DENGAN ORANG BERDOSA

Dalam 9:9-17 kita sampai pada bagian Injil Matius yang sangat lembut, manis, dan akrab. Setelah Raja mengumumkan konstitusi Kerajaan Surga dan setelah ia memanifestasikan kekuasaan-Nya sebagai Raja dalam banyak situasi, dalam 9:9-13 kita tampak ia berjamu dengan orang berdosa.

A. Dipanggilnya Matius

Dalam 9:9 Matius dipanggil. Ayat ini mengatakan, “Setelah Yesus pergi dari situ, Ia melihat seorang yang bernama Matius duduk di tempat pemungutan cukai, lalu Ia berkata kepadanya, ‘Ikutlah Aku.’” Matius disebut juga Lewi (Mrk. 2:14; Luk. 5:27). Dia adalah seorang pemungut cukai yang setelah beroleh selamat menjadi seorang rasul oleh anugerah Allah (Mat. 10:2-3; Kis. 1:13, 26). Dia adalah penulis Injil ini.

Dipanggilnya Matius agak berbeda dengan dipanggilnya Petrus, Andreas, Yakobus, dan Yohanes. Ketika Petrus dan Andreas dipanggil, mereka sedang menebarkan jala di laut. Ketika Yakobus dan Yohanes dipanggil, mereka sedang menambal jala mereka. Tuhan memanggil mereka, mereka meninggalkan pekerjaan mereka dan mengikuti Tuhan Yesus. Ketika Tuhan Yesus berjalan lewat depan kantor pajak, tempat pemungut cukai berada, Ia tampak Matius. Tuhan memanggil Matius dan Matius pun mengikuti-Nya. Menurut catatan dalam 9:9, tampaknya ini adalah kali pertama Tuhan berjumpa dengan Matius. Tentu ada suatu daya tarik entah dalam perkataan Tuhan atau dalam penampilan-Nya, yang membuat Matius mengikuti Dia.

B. Perjamuan yang Disiapkan untuk Raja

Ayat 10 mengatakan,“Kemudian ketika Yesus makan di rumah (Matius), datanglah banyak pemungut cukai dan orang berdosa dan makan bersama-sama dengan Dia dan murid-murid-Nya.” “Rumah” yang dikatakan dalam ayat Injil ini adalah rumah Matius (Luk. 5:29; Mrk. 2:15). Sebagai penulis Injil ini, Matius sengaja tidak mengatakan bahwa itu adalah rumahnya dan dialah yang mengadakan perjamuan besar bagi Tuhan. Ini menunjukkan kerendahan hatinya. Tetapi Lukas 5:29 dengan jelas mengatakan bahwa Lewi, yaitu Matius “mengadakan suatu perjamuan besar untuk Dia di rumah-nya”. Jadi, Matius membuka rumahnya dan menyediakan suatu perjamuan yang besar bagi Tuhan dan murid-murid-Nya.

C. Banyak Pemungut Cukai dan Orang Berdosa

Ikut Serta dalam Perjamuan

dengan Raja dan Murid-Murid-Nya

Ayat 10 mengatakan,“Datanglah banyak pemungut cukai dan orang berdosa dan makan bersama-sama dengan Dia dan murid-murid-Nya.” Ini menunjukkan orang macam apa Matius itu. Ia seorang berdosa, pemungut cukai yang dibenci banyak orang, mempunyai banyak teman berdosa. Jika ia bukan orang serendah itu, mengapa hanya pemungut cukai dan orang berdosa, bukan mereka yang berpangkat lebih tinggi, yang makan bersama-sama dengan Tuhan Yesus di rumah Matius? Sekalipun Matius seorang yang begitu hina, tetapi ia telah Tuhan jadikan bukan hanya seorang murid bahkan seorang di antara kedua belas rasul.

Seorang pemungut cukai adalah seorang yang dianggap rendah. Hampir semua pemungut cukai menyalahgunakan jabatan mereka dengan menuntut lebih banyak daripada yang seharusnya dengan tuduhan palsu (Luk. 3:12-13; 19:2, 8). Membayar pajak kepada pemerintah Roma merupakan hal yang sangat pahit bagi bangsa Yahudi. Mereka yang bertugas mengumpulkan pajak dipandang hina oleh orang-orang dan dipandang sebagai orang yang tidak patut mendapat kehormatan (Luk. 18:9-10). Mereka digolongkan orang berdosa (Mat. 9:10-11). Betapa kita harus menyembah Tuhan, bahkan seorang yang derajatnya begitu rendah seperti Matius, karena belas kasihan Allah dan anugerah-Nya dapat menjadi seorang rasul! Setelah diselamatkan, Matius sangat bersyukur kepada Tuhan sehingga ia membuka rumahnya dan menyiapkan perjamuan bagi Dia dan murid-murid-Nya. Jadi, bagian dari firman ini dimulai dengan cara yang begitu manis dan akrab.

D. Orang-orang Farisi Menyalahkan Raja

yang Berjamu dengan Pemungut Cukai dan Orang Berdosa

Ayat 11 mengatakan,“Pada waktu orang Farisi melihat hal itu, berkatalah mereka kepada murid-murid Yesus, ‘Mengapa gurumu makan bersama-sama dengan pemungut cukai dan orang berdosa?’” Orang Farisi, golongan agamawan Yahudi yang paling ketat, bangga akan kekudusan mereka yang unggul, takwa mereka kepada Allah, dan pengetahuan Alkitab mereka. Ketika Yesus sedang menikmati perjamuan dengan para pemungut cukai dan orang berdosa, orang Farisi mengkritik dan menyalahkan Dia, sehingga mereka bertanya kepada murid-murid-Nya, mengapa guru mereka makan bersama-sama dengan para pemungut cukai dan orang semacam itu. Pertanyaan ini menunjukkan bahwa orang-orang Farisi yang membenarkan diri sendiri tidak mengenal anugerah Allah. Mereka mengira Allah memperlakukan manusia hanya berdasarkan keadilan. Dengan bertanya demikian, mereka tersingkap sebagai orang yang berbeda pendapat dengan Raja surgawi, dan dengan demikian tersingkap pula sebagai orang yang menolak Dia. Ini adalah kelanjutan dari penolakan terhadap Raja surgawi yang dimulai dalam ayat 3, oleh pemimpin-pemimpin agama Yahudi.

E. Tuhan Mewahyukan Diri sebagai Tabib

dan sebagai Yang Datang untuk Memanggil Orang Berdosa

Tuhan mengambil kesempatan untuk memberikan wahyu yang sangat manis tentang diri-Nya sebagai tabib saat orang Farisi datang mengajukan pertanyaan. Dalam ayat 12 kita tampak jawaban Tuhan atas pertanyaan orang Farisi, “Bukan orang sehat yang memerlukan tabib, tetapi orang sakit.” Tuhan memberi tahu orang Farisi bahwa pemungut cukai dan orang berdosa ialah pasien. Jadi bagi mereka Tuhan bukan seorang hakim, melainkan seorang tabib, penyembuh. Dalam memanggil orang untuk mengikuti Dia bagi kerajaan, Raja Kerajaan Surga melayani sebagai seorang tabib, bukan sebagai hakim. Penghakiman seorang hakim dilakukan berdasarkan keadilan, sedangkan penyembuhan yang dilakukan seorang tabib adalah berdasarkan belas kasihan dan anugerah. Orang-orang yang dijadikan-Nya sebagai umat kerajaan surgawi-Nya adalah orang sakit kusta (8:2-4), orang lumpuh (8:5-13; 9:2-8), orang demam (8:14-15), orang yang dirasuk setan (8:16, 28-32), orang yang terkena bermacam-macam penyakit (8:16), pemungut cukai yang diremehkan, dan orang-orang berdosa (9:9-11). Jika Dia mengunjungi orang-orang yang kasihan itu sebagai seorang hakim, semua orang itu akan menerima penghukuman dan ditolak, dan tidak seorang pun akan memenuhi syarat, dipilih, dan dipanggil untuk menjadi umat Kerajaan Surga-Nya. Namun, Dia datang untuk melayani sebagai seorang tabib, untuk menyembuhkan, memulihkan, menghidupkan, dan menyelamatkan mereka agar mereka dapat disusun kembali menjadi warga negara yang baru dan surgawi, sehingga Dia dapat mendirikan kerajaan surgawi-Nya di bumi yang rusak ini. Perkataan Tuhan di sini menyiratkan bahwa orang Farisi yang membenarkan diri sendiri tidak sadar bahwa mereka memerlukan Dia sebagai tabib. Mereka menganggap diri mereka kuat, karena itu mereka dibutakan oleh sikap membenarkan diri sendiri itu. Mereka tidak tahu bahwa mereka sakit.

Orang Farisi yang membenarkan diri mengkritik Tuhan Yesus dan menyalahkan semua orang yang najis. Tetapi Tuhan seolah-olah berkata, “Orang-orang ini bukan najis, mereka sakit. Aku bukan datang sebagai hakim untuk menyalahkan mereka, tetapi sebagai tabib, sebagai penyembuh mereka yang terkasih, lemah lembut, dan akrab.” Ketika Tuhan Yesus mengucapkan kata-kata ini, Ia pasti juga mengacu kepada orang-orang Farisi yang mengira diri mereka benar, padahal sesungguhnya juga sakit seperti yang lain.

Tuhan Yesus memberi orang Farisi kata-kata lebih lanjut dalam ayat 13, “Jadi, pergilah dan pelajarilah arti firman ini: Yang Kukehendaki ialah belas kasihan dan bukan persembahan, karena Aku datang bukan untuk memanggil orang benar, melainkan orang berdosa.” Orang-orang Farisi yang membenarkan diri sendiri yakin bahwa mereka tahu segala hal mengenai Allah. Untuk merendahkan mereka, Tuhan menyuruh mereka belajar lebih banyak.

Belas kasihan merupakan sebagian dari anugerah yang manusia terima dari Allah. Namun, orang yang membenarkan diri sendiri tidak suka menerima belas kasihan atau anugerah dari Allah; mereka lebih suka memberikan sesuatu kepada Allah. Ini berkebalikan dengan jalan Allah dalam ekonomi-Nya. Sebagaimana Allah hendak menunjukkan belas kasihan kepada orang berdosa yang kasihan, demikian pula Dia menghendaki kita menunjukkan belas kasihan dalam kasih kepada orang lain (Mi. 6:6-8; Mrk. 12:33).

Tuhan berkata di sini bahwa Ia datang bukan untuk memanggil orang benar, melainkan orang berdosa. Sesungguhnya, tidak ada yang benar, seorang pun tidak (Rm. 3:10). Semua “orang benar” membenarkan diri sendiri, seperti orang-orang Farisi (Luk. 18:9). Penyelamat rajani datang bukan untuk memanggil orang semacam ini, melainkan memanggil orang-orang berdosa. Orang Farisi bangga terhadap pengetahuan mereka tentang Alkitab, dan mereka mengira bahwa mereka sangat mengenal Alkitab. Tetapi di sini Tuhan Yesus menyuruh mereka pergi untuk belajar lagi, mempelajari makna firman, “Yang Kukehendaki ialah belas kasihan dan bukan persembahan.” Tuhan seolah-olah berkata kepada orang Farisi, “Kalian, orang-orang Farisi, sangat membenarkan diri, kalian menyalahkan orang-orang ini tanpa belas kasihan. Tetapi yang Allah kehendaki ialah belas kasih. Kinilah saatnya bagi-Ku untuk melaksanakan belas kasihan Allah pada orang-orang yang kasihan ini sebagai tabib mereka. Aku di sini bukan sebagai hakim, melainkan sebagai tabib yang penuh kasih memperhatikan masalah mereka, dan kini Aku sedang menyembuhkan mereka.”

Apakah Anda benar? Jika Anda mengatakan, “Tidak, aku tidak benar.” Anda diberkati. Diberkatilah mereka yang tidak menganggap diri sendiri benar, tetapi yang menyadari bahwa dirinya berdosa. Sebab Tuhan datang bukan untuk memanggil orang yang benar; Ia datang untuk memanggil orang berdosa. Tuhan dapat berkata kepada orang yang membenarkan diri, “Jika kamu menganggap dirimu benar, kamu tidak cocok untuk kedatangan-Ku, sebab kedatangan-Ku ialah untuk orang berdosa. Janganlah menganggap dirimu benar! Sebaliknya kamu harus mengetahui bahwa kamu berdosa. Jika kamu menganggap dirimu orang berdosa, maka kamu sudah siap untuk kedatangan-Ku.”

Tanpa adanya suasana yang digambarkan dalam ayat-ayat ini, Tuhan Yesus tidak akan berkesempatan mewahyukan diri-Nya sebagai Tabib. Tuhan tidak sekadar memberi tahu murid-murid-Nya dengan kata-kata, “Kalian harus tahu bahwa Aku datang bukan sebagai seorang hakim, melainkan sebagai seorang Tabib” ini saja. Jika Tuhan berbuat demikian, jadilah doktrin semata-mata. Justru ketika Tuhan sedang makan bersama-sama dengan semua orang yang sakit, Ia mewahyukan diri-Nya sebagai Tabib. Pemungut cukai dan orang berdosa itu bukan sakit jasmani, melainkan sakit rohani. Ketika Tuhan Yesus makan bersama-sama dengan mereka, Ia menyembuhkan mereka. Tuhan memberi tahu orang Farisi, “Hai orang Farisi, kalian adalah hakim, tetapi Aku adalah tabib. Sebagai seorang Tabib, Aku hanya dapat menyembuhkan orang sakit. Jika kamu merasa tidak sakit, maka Aku tidak bersangkut paut dengan kamu, dan Aku tidak dapat menyembuhkan kamu. Aku datang ke sini untuk memanggil orang berdosa, orang yang sakit, bukan orang yang benar atau orang yang sehat. Kalian berdiri di pihak mana — pihak orang benar atau pihak orang berdosa? Jika kamu berpihak pada orang berdosa, maka Aku berada di sini menjadi Tabibmu.”

Matius mewahyukan lebih dari tiga puluh tiga aspek Kristus, di antaranya adalah Kristus sebagai Tabib. Dia bukan hanya Raja, Penyelamat, dan hayat kita, Dia juga Tabib kita. Jika kita memiliki visi ini, kita akan beriman terhadap-Nya, bersandar kepada-Nya. Kita perlu bersandar kepada-Nya sebagai tabib kita.

Injil Matius ialah kitab kerajaan, juga sebuah kitab yang penuh dengan kekayaan Raja surgawi. Raja Surgawi ini ialah Tabib kita dengan kuasa penyembuhan. Penyembuhan-Nya bukanlah sekadar masalah kekuatan, bahkan masalah kekuasaan. Untuk menyembuhkan kita Dia tidak perlu menjamah kita secara langsung. Ia hanya perlu mengatakan sepatah kata, dan kekuasaan-Nya akan datang bersama-sama dengan firman-Nya. Ingatlah kasus penyembuhan hamba perwira. Perwira itu berkata kepada Tuhan: “Katakan saja sepatah kata, maka hambaku itu akan sembuh” (Mat. 8:8). Lebih lanjut perwira itu mampu mengatakan, “Sebab aku sendiri seorang bawahan, dan di bawahku ada pula banyak bawahanku. Aku hanya mengatakan sepatah kata, dan mereka menurutinya, sebab dalam perkataanku terdapat kekuasaan. Tuhan, Engkau tidak perlu datang ke rumah-ku. Beri sajalah sepatah kata, kekuasaan-Mu akan menyertai kata-kata-Mu.” Firman Tuhan menyembuhkan kita bukan dengan kekuatan, tetapi dengan kekuasaan. Sering kali orang Kristen mengira bahwa Tuhan menyembuhkan kita karena Dia dapat menyembuhkan. Ini konsepsi alamiah. Penyembuhan-Nya bukan masalah kekuatan, melainkan masalah kekuasaan. Ia cukup mengatakan, “Sakit, pergilah!” Inilah kekuasaan. Dengan kekuasaan yang sama, Ia pun mampu mengenyahkan penyakit mental. Jadi, ia menyembuhkan kita dengan kekuasaan.

Karena orang Farisi adalah agamawan yang membenarkan diri, Tuhan menanggulangi mereka. Orang Farisi mengira bahwa pemungut cukai dan orang berdosa ditolak. Inilah konsepsi agama mereka. Tuhan mengambil kesempatan, ketika orang Farisi mengekspresikan konsepsi agama mereka, untuk mewahyukan diri-Nya sebagai Tabib. Ia seolah-olah berkata, “Kamu orang Farisi, kaum agamawan, kamu salah. Aku di sini bukan sebagai seorang hakim untuk menyalahkan orang. Aku di sini sebagai seorang Tabib untuk menyembuhkan orang. Dan Aku akan menyembuhkan kamu juga, jika kamu mau disembuhkan.” Alangkah manis dan akrabnya firman dalam bab ini!

V. TIDAK COCOK DENGAN AGAMA

A. Murid-murid Yohanes dan Orang-orang Farisi

Sebagai sebuah kitab doktrin, Injil Matius memberi kita sebuah perkara lain dalam 9:14-17: perkara puasa tanpa mempelai laki-laki. Ayat 14 mengatakan,“Kemudian datanglah murid-murid Yohanes kepada Yesus dan berkata, ‘Mengapa kami dan orang Farisi berpuasa, tetapi murid-murid-Mu tidak?’” Ayat 10-13 mencatat penanggulangan Tuhan terhadap pertanyaan orang Farisi yang berasal dari agama yang usang. Kini dalam ayat 14-17 Tuhan menanggulangi persoalan dari murid-murid Yohanes, yang berasal dari agama yang baru. Yohanes Pembaptis telah membuang, melepaskan agama yang usang, dan memulai ministri-nya di padang gurun, di luar agama. Namun, setelah sejangka waktu, murid-muridnya membentuk agama baru yang menghalangi orang menikmati Kristus, sama seperti yang dilakukan oleh orang Farisi dari agama yang usang. Ministri Yohanes Pembaptis adalah memperkenalkan manusia kepada Kristus agar Kristus bisa menjadi Penebus mereka, hayat mereka, dan segala sesuatu mereka. Namun, beberapa murid Yohanes telah menyimpang dari sasarannya, Kristus, berpaling kepada praktik Yohanes dan menjadikan praktik-praktik itu sebagai suatu agama. Menjadi agamawi adalah melakukan sesuatu untuk Allah, tetapi tanpa Kristus. Melakukan apa saja, bahkan yang sesuai dengan Kitab Suci dan yang mendasar, tetapi tanpa penyertaan Kristus, adalah agama. Murid-murid Yohanes yang berasal dari agama baru, dan orang-orang Farisi yang berasal dari agama usang, sama-sama berpuasa, tetapi tanpa Kristus. Sementara itu, mereka menyalahkan murid-murid Kristus yang tidak berpuasa, tetapi memiliki Kristus bersama dengan mereka dan hidup dalam penyertaan-Nya.

Yohanes Pembaptis dilahirkan sebagai seorang imam, tetapi kemudian ia mutlak membuang segala sesuatu yang agamis. Namun, belum sampai tiga tahun, ia dipenjarakan, murid-muridnya membentuk agama baru. Beragama ialah menyembah Allah, melayani Allah, dan melakukan perkara untuk menyenangkan Allah, tetapi tanpa Kristus. Suatu agama ialah segala sesuatu yang Anda lakukan bagi Allah tanpa Roh, tanpa Kristus. Orang Farisi melakukan banyak sekali perkara bagi Allah, tetapi Kristus tidak ada di dalam mereka. Mereka melakukan banyak perkara untuk melayani Allah, tetapi mereka melakukannya tanpa Roh. Kini murid-murid Yohanes Pembaptis berpuasa tanpa Kristus, tanpa Roh. Namun, puasa ini untuk Allah. Ini berarti bahwa mereka telah membentuk suatu agama lain. Sebab itu dalam ayat 14 terdapat agama lama, agama orang Farisi, dan agama baru, agama murid-murid Yohanes.

Betapa mudahnya mempunyai suatu agama! Janganlah mengira bahwa Anda dapat lepas dari agama hanya dengan meninggalkan cara yang lama dan mengambil cara yang baru. Tidak peduli apakah cara itu lama atau baru, asalkan tidak ada Kristus dan tidak ada Roh di dalamnya, itulah agama. Cara Anda yang baru mungkin semata-mata menjadi agama baru mereka. Ingatkah apa itu agama? Agama ialah melakukan perkara yang menyenangkan Allah tetapi terpisah dari Kristus dan Roh.

Orang-orang Farisi yang menganggap dirinya benar, yang berasal dari agama yang usang merasa terganggu ketika Kristus membuat diri-Nya menjadi teman para pemungut cukai dan orang berdosa yang disalahkan oleh orang-orang Farisi (ayat 11). Murid-murid Yohanes yang berpuasa, yang berasal dari agama yang baru, merasa terganggu dengan Kristus yang makan bersama murid-murid-Nya (ayat 10) dan menyalahkan mereka karena tidak berpuasa. Situasi hari ini pun sama. Di setiap aspek, kaum agamawan menyalahkan kita. Lalu apa yang harus kita lakukan? Kita harus tinggal bersama Sang Tabib.

B. Tidak Berpuasa karena Kehadiran

Mempelai Laki-laki

Dalam hal agama baru, Tuhan bukan hanya Tabib, bahkan Mempelai Laki-laki. Dalam ayat 15 Tuhan Yesus berkata kepada mereka, “Dapatkah sahabat-sahabat mempelai laki-laki berdukacita selama mempelai itu bersama mereka? Tetapi waktunya akan datang mempelai itu diambil dari mereka dan pada waktu itulah mereka akan berpuasa.” Tabib dan Mempelai Laki-laki keduanya menyenangkan. Saya sangat takjub akan hikmat Tuhan. Dalam perkara yang menyangkut orang-orang Farisi, Ia mengibaratkan diri-Nya seorang tabib. Kini dalam perkara yang menyangkut murid-murid Yohanes, Ia mengibaratkan diri-Nya sebagai mempelai laki-laki dalam pernikahan. Tuhan bertanya, dapatkah sahabat-sahabat mempelai laki-laki berdukacita selama mempelai itu bersama mereka? Bersama mempelai laki-laki itu suatu saat yang nikmat. Tetapi jika mempelai laki-laki diambil pergi, mereka akan berpuasa.

Anak kalimat “sahabat-sahabat mempelai laki-laki” menunjukkan murid-murid Tuhan. Pada masa transisi ministri Tuhan di bumi, murid-murid-Nya adalah sahabat-sahabat Mempelai Laki-laki. Kelak, mereka akan menjadi Mempelai Perempuan (Yoh. 3:29; Why. 19:7). Mempelai Laki-laki diambil dari sahabat-sahabat Mempelai ketika Penyelamat rajani itu diambil dari antara murid-murid ke surga (Kis. 1:11). Setelah itu, mereka berpuasa (Kis. 13:2-3; 14:23). Dalam menanggulangi orang Farisi yang membenarkan diri sendiri dan berbeda pendapat (yang berasal dari agama yang usang), Penyelamat rajani menunjukkan bahwa Dia adalah Tabib yang datang untuk menyembuhkan orang sakit (ayat 12). Dalam menanggulangi murid-murid Yohanes yang berbeda pendapat dan berpuasa (yang berasal dari agama yang baru), Dia mewahyukan diri-Nya sebagai Mempelai Laki-laki yang datang untuk mendapatkan Mempelai Perempuan. Yohanes Pembaptis telah memberi tahu murid-muridnya bahwa Kristus adalah Mempelai Laki-laki yang datang untuk mendapatkan mempelai perempuan (Yoh. 3:25-29). Kini, Kristus, Penyelamat Rajani, mengingatkan sebagian dari mereka akan hal ini. Penyelamat Rajani mula-mula menyembuhkan para pengikut-Nya, kemudian menjadikan mereka sahabat-sahabat Mempelai Laki-laki. Akhirnya, Dia akan menjadikan mereka mempelai perempuan-Nya. Mereka seharusnya bersandar kepada-Nya bukan hanya sebagai Tabib mereka supaya hayat mereka bisa disembuhkan, tetapi juga sebagai Mempelai Laki-laki mereka, agar mereka bisa memiliki kenikmatan hidup dalam penyertaan-Nya. Mereka bersama Dia pada peni-kahan yang menggembirakan, bukan tanpa Dia pada pemakaman yang menyedihkan. Lalu bagaimana mereka dapat berpuasa dan bukan berpesta di hadapan-Nya? Pertanyaan yang menyatakan perbedaan pendapat dari murid-murid Yohanes menunjukkan bahwa beberapa dari mereka telah jatuh ke dalam agama yang baru dan telah menolak Penyelamat rajani.

Pertanyaan murid-murid Yohanes tampaknya berhubungan dengan doktrin. Namun, Tuhan tidak menjawab dengan doktrin, melainkan dengan satu persona, persona yang paling menyenangkan, Mempelai Laki-laki. Orang-orang yang agamawi selalu memperhatikan doktrin mereka, bertanya “mengapa” secara doktrinal. Tetapi Kristus hanya memperhatikan diri-Nya. Penghidupan dan tindak-tanduk para pengikut-Nya seharusnya diatur dan diarahkan hanya oleh diri-Nya dan hadir-Nya, bukan dengan doktrin apa pun.

Sangatlah janggal bila seseorang berpuasa pada suatu pernikahan. Lagi pula, berpuasa ketika orang lain menikmati perjamuan nikah merupakan suatu penghinaan bagi mempelai laki-laki. Di sini kita tampak hikmat Tuhan. Ia tidak bertengkar dengan mereka, tetapi Ia dengan pasti menyalahkan kaum agamawan. Tuhan seolah-olah mengatakan, “Kalian, kaum agamawan telah kehilangan sasaran. Tidakkah kalian menyadari bahwa Akulah Mempelai Laki-laki dan semua murid-Ku yang ada di sekitar-Ku adalah sahabat-sahabat Mempelai? Mereka tidak wajib puasa. Mereka wajib berpesta dengan-Ku.” Tanpa kedua perkara ini, Tuhan Yesus tidak akan dapat mewahyukan diri-Nya sebagai Tabib dan Mempelai Laki-laki. Kita harus bersyukur kepada Tuhan karena orang-orang Farisi dan karena murid-murid Yohanes. Kita bahkan harus bersyukur kepada Tuhan karena semua agama, sebab tanpa adanya kesempatan yang diberikan oleh agama, Tuhan tidak akan dapat diwahyukan dalam banyak aspek yang beraneka macam. Hari ini pun sama.