KELANJUTAN MINISTRI RAJA (4)
Berita ini ialah kelanjutan berita mengenai Matius 9:9-17.
C. Tidak Menambalkan Secarik Kain yang Belum Susut pada Baju yang Tua
Dalam Matius 9:16 Tuhan melanjutkan dengan sesuatu yang bahkan lebih halus, lebih manis, dan lebih akrab. Ia berkata, “Tidak seorang pun menambalkan secarik kain yang belum susut pada baju yang tua, karena jika demikian kain penambal itu akan mencabik baju itu, lalu makin besarlah koyaknya.” Istilah “belum susut” dalam bahasa Yunaninya ialah “agnaphos” dibentuk dengan “a”, yang berarti tidak dan “gnapto” yang berarti menyisir wol. Jadi istilah ini berarti tidak disisir, tidak diuapi, dan tidak dicuci, tidak diselesai-kan, tidak diregangkan, tidak diapa-apakan. Kain yang tidak susut melambangkan Kristus dari inkarnasi-Nya sampai pe-nyaliban-Nya, sebagai sehelai kain baru yang belum diapa-apakan, belum diselesaikan; sedangkan baju baru dalam Lu-kas 5:36 melambangkan Kristus sebagai baju baru setelah “digarap” dalam penyaliban-Nya, (istilah Yunani yang ber-arti baru dalam Lukas 5:36 sama dengan kata “segar” da-lam Mat. 9:17). Mula-mula Kristus adalah kain yang belum susut untuk membuat baju baru. Kemudian, melalui kema-tian dan kebangkitan-Nya dijadikan baju baru untuk me-nutupi kita sebagai kebenaran kita di hadapan Allah, agar kita dapat dibenarkan oleh Allah dan diperkenan oleh-Nya (Luk. 15:22; Gal. 3:27; 2 Kor. 1:30). Jika secarik kain yang belum susut dijahitkan pada baju yang tua, ia akan mena-rik pakaian itu karena daya kerutnya, sehingga memper-besar koyaknya. Menjahitkan secarik kain yang belum susut pada pakaian yang tua berarti meniru apa yang Kristus lakukan dalam kehidupan insani-Nya di bumi. Inilah yang diusahakan oleh kaum modernis hari ini. Mereka hanya me-niru perbuatan insani Yesus untuk memperbaiki perilaku mereka; mereka tidak percaya kepada Yesus yang tersalib sebagai Penebus mereka atau Kristus yang bangkit sebagai jubah mereka yang baru untuk menutupi mereka sebagai kebenaran mereka di hadapan Allah.
Baju tua dalam ayat 16 melambangkan perilaku yang baik, perbuatan yang baik, dan praktek-praktek agamawi yang dihasilkan oleh hayat usang alamiah manusia. Tuhan Yesus sangat berhikmat. Dalam ayat 16 Ia tidak mengata-kan, “Kalian murid-murid Yohanes harus mengetahui bahwa baju kalian robek dan compang-camping. Dengan berpuasa berarti kamu memotong secarik kain yang belum susut dan menggunakannya untuk menambal bajumu.” Secara tidak langsung, Tuhan Yesus menunjukkan kepada murid-murid Yohanes bahwa mereka tidak memiliki baju yang sempurna. Ia menunjukkan bahwa baju mereka telah koyak dan dengan berpuasa mereka mencoba untuk menambalnya. Tidak se-orang manusia pun dapat mengucapkan perkataan seperti yang Tuhan Yesus katakan dalam ayat 16. Firman-Nya yang berhikmat penuh dengan arti, teguran, wahyu, dan pengajaran. Tuhan berkata kepada murid-murid Yohanes, “Mengapa kalian bertanya kepada-Ku tentang berpuasa? Puasa kalian merupakan suatu cara untuk menambal baju yang koyak. Dengan berpuasa kalian menunjukkan kalian tahu bahwa baju kalian yang koyak perlu ditambal. Yohanes, gurumu, memperkenalkan kalian semua kepada-Ku. Seka-rang kalian menggunakan Aku untuk menambal baju kalian. Ini berarti kalian memotong secarik kain-Ku yang tidak su-sut untuk menambal lubang pada baju kalian. Tetapi baju-Ku penuh dengan kekuatan susut. Janganlah menaruh bagian mana pun pada jubah kalian yang telah usang dan compang-camping. Jika demikian, koyaknya akan bertambah besar.”
Kisah dalam Lukas 5:36 sedikit berbeda dengan yang terdapat dalam Matius 9:16. Lukas 5:36 mengatakan: “Tidak seorang pun mengoyakkan secarik kain dari baju yang baru untuk menambalkannya pada baju yang tua.” Perhatikan-lah bahwa Matius mengatakan “kain” dan Lukas mengata-kan “baju”. Tuhan Yesus mengibaratkan diri-Nya secarik kain yang belum susut. Ini menunjukkan siapa sebenarnya Dia menjelang inkarnasi-Nya dan penyaliban-Nya. Selama jangka waktu itu Ia adalah kain yang belum susut, kain baru yang belum diuapi dan dicuci. Melalui kematian dan kebangkitan-Nya, kain baru ini diselesaikan dan menjadi baju yang baru. Tujuan Tuhan memberikan diri-Nya kepada kita bukan sebagai secarik kain yang belum susut, melainkan sebagai baju yang telah rampung dan genap supaya kita dapat mengenakannya sebagai kebenaran kita untuk dibenarkan di hadapan Allah. Setelah kematian dan kebangkitan-Nya, Ia dijadikan baju yang telah selesai dibuat untuk kita kenakan, sehingga kita dapat menghadiri pernikahan-Nya. Jadi, Ia bukan hanya Mempelai Laki-laki, tetapi juga jubah pernikahan kita yang membuat kita bersyarat untuk menghadiri pesta pernikahan-Nya.
Mengapa Tuhan Yesus, setelah memberi tahu kita bah-wa Ia Mempelai Laki-laki, selanjutnya mengatakan tentang baju baru, jubah baru; kita harus memandang lebih dalam untuk membedakan maknanya. Tuhan memberi tahu kita bahwa Mempelai Laki-laki beserta dengan kita. Tetapi lihat-lah diri Anda, apakah Anda layak terhadap penyertaan-Nya? Apakah Anda mengira bahwa kondisi Anda yang sesung-guhnya dalam pandangan Allah layak terhadap penyertaan Mempelai Laki-laki? Kita semua wajib menjawab: “Tidak.” Semua yang ada pada kita dan semua apa adanya kita ti-dak patut terhadap penyertaan Tuhan. Untuk menikmati penyertaan Tuhan kita memerlukan beberapa syarat; kita perlu berada dalam kondisi tertentu, situasi tertentu. Apa adanya kita oleh kelahiran, apa adanya kita secara alamiah, apa saja yang kita lakukan, dan apa saja yang kita miliki, tidak membuat kita bersyarat terhadap penyertaan Mempelai Laki-laki. Mempelai Laki-laki itu Kristus, dan Kristus ialah Allah sendiri. Misalkan, hari ini Allah menyatakan diri ke-pada Anda. Dapatkah Anda hanya duduk di sana? Dia Allah yang Mahakudus, Allah yang Mahabesar, dan Dia yang sede-mikian itu justru adalah Mempelai Laki-laki. Ingatlah kem-bali cerita anak yang hilang dalam Lukas 15. Anak hilang itu pulang ke rumah. Jelas sang bapa sangat mengasihinya, tetapi kondisi anak sama sekali tidak cocok dengan penyer-taan Bapa. Karena itu, sang bapa segera berkata kepada hambanya untuk mengambilkan jubah yang paling baik dan mengenakannya pada anaknya, yang akan membuatnya cocok dengan penyertaan-Nya. Mempelai Laki-laki kita ada-lah Allah sendiri. Bagaimana kita sebagai orang dosa yang kasihan ini dapat menikmati penyertaan Raja surgawi? Kita harus ingat konteks ayat-ayat ini dalam Matius 9: Tuhan Yesus makan bersama-sama dengan pemungut cukai dan orang berdosa. Kita adalah “pemungut cukai” dan orang berdosa. Kita tidak bersyarat, kita perlu sesuatu untuk menutupi kita sehingga kita dapat duduk dalam penyertaan Tuhan. Inilah sebabnya, setelah Tuhan mengatakan diri-Nya sebagai Mempelai Laki-laki, Ia memberi tahu kita bahwa kita perlu mengenakan jubah baru. Setelah kita mengena-kan jubah baru, barulah layak di hadirat-Nya. Ketika pada anak yang hilang itu dikenakan jubah yang terindah, ia se-gera dapat berdiri di hadapan bapanya yang terhormat. Jubah yang terbaik membuat ia bersyarat menikmati penyertaan Bapa. Kita sebagai orang dosa dan “pemungut cukai”, perlu mengenakan jubah baru agar kita layak dalam penyertaan Mempelai Laki-laki.
Saya tidak suka memberikan ajaran dan doktrin semata-mata. Saya lebih suka praktek, pengalaman. Marilah kita periksa bersama Anda. Sejak Kristus menjadi jubah baru se-telah kebangkitan-Nya, bagaimana kita dapat mengenakan-Nya? Galatia 3:27 mengatakan, “Karena kamu semua, yang dibaptis dalam Kristus, telah mengenakan Kristus.” Kita harus mengenakan Kristus, dan cara untuk mengenakan-Nya ialah dibaptis ke dalam Dia. Sekarang kita harus nampak bagaimana kita dapat dibaptis ke dalam Kristus. Kita telah nampak setelah kebangkitan-Nya, Kristus menjadi jubah baru; tetapi Alkitab juga memberi tahu kita bahwa setelah kebangkitan-Nya, Ia dijadikan Roh pemberi-hayat (1 Kor. 15:45). Andaikata Kristus itu bukan Roh, bagaimana kita dapat dibaptis ke dalam-Nya? Dengan disalibkan, dikubur, dan dibangkitkan, Kristus dijadikan pneuma pemberi-hayat, nafas pemberi-hayat, udara kehidupan. Sebagai nafas, mudah bagi-Nya untuk masuk ke dalam kita; dan sebagai udara, mudahlah bagi kita untuk masuk ke dalam-Nya. Kristus dalam kebangkitan dijadikan Roh. Roh pemberi-hayat ini almuhit. Dalam Roh inilah terdapat semua adanya Kristus dan segala hal yang telah Ia genapkan. Roh almuhit ini ialah diri Kristus Yang Almuhit dan Kristus ini sebagai Roh adalah baju baru bagi kita untuk kita kenakan. Karena itu, bahkan baju itu juga adalah Roh. Kita dibaptis ke dalam Kristus yang adalah Roh — itulah artinya kita mengena-kan Kristus. Kristus adalah pneuma, Roh almuhit. Ketika kita dibaptis ke dalam-Nya, kita mengenal Dia. Segera Ia yang adalah Roh menjadi pakaian kita, penutup kita dan kita pun bersyarat. Karena itu baju baru yang harus kita kenakan ialah Kristus sendiri sebagai Roh almuhit.
Inilah makna firman Tuhan dalam Matius 28:19, “Ja-dikanlah semua bangsa murid-Ku dan baptislah mereka dalam nama Bapa dan Anak dan Roh Kudus.” Realitas nama itu adalah di dalam Roh. Membaptis orang ke dalam nama, berarti membaptis mereka ke dalam Roh, yakni Kristus sebagai pneuma almuhit. Kristus berinkarnasi, Ia hidup di bumi, Ia disalibkan, menggenapkan tebusan, dan kemudian dibangkitkan. Setelah segala sesuatu selesai, Ia menjadi pneuma yang almuhit dalam kebangkitan-Nya. Inkarnasi ter-masuk dalam pneuma ini. Kebangkitan, kekuatan kebang-kitan-Nya, dan hayat kebangkitan-Nya semua termasuk dalam pneuma ini. Ketika kita dibaptis ke dalam-Nya, kita mengenakan-Nya. Kita harus mengenakan Kristus sebagai baju kita dan baju baru ini ialah Roh Almuhit. Kristus bukan lagi kain yang belum susut, Ia kini adalah baju yang telah sempurna. Dalam baju yang telah sempurna ini ter-dapat kekuatan penebusan, kekuatan kebangkitan, dan semua unsur persona ilahi. Baju baru ini bukan hanya se-carik kain melainkan pneuma ilahi, Roh almuhit, termasuk inkarnasi Kristus, penyaliban-Nya, karya penebusan-Nya, kebangkitan-Nya, dan kekuatan kebangkitan-Nya. Kini Ia adalah baju yang telah sempurna bagi kita untuk kita pakai. Haleluya kita dapat mengenakan Kristus yang sedemikian.
D. Tidak Menuang Anggur yang Baru ke Dalam Kantong Kulit yang Tua
Ayat 17 mengatakan,“Begitu pula anggur yang baru ti-dak dituang ke dalam kantong kulit yang tua, karena jika demikian kantong itu akan koyak sehingga anggur itu ter-buang dan kantong itu pun hancur. Tetapi anggur yang baru disimpan orang dalam kantong yang baru pula, dan dengan demikian terpeliharalah kedua-duanya.” Kata Yunani untuk kata “baru” dalam ayat ini adalah “neos”, yang berarti baru dalam waktu, baru-baru ini, baru dimiliki. Anggur yang baru di sini melambangkan Kristus sebagai hayat baru, penuh dengan semangat, merangsang orang sehingga bergairah. Anggur baru itu ialah Hayat Kristus yang menggairahkan. Hayat ilahi diibaratkan sebagai anggur yang merangsang kekuatan. Ketika kita menerima hayat-Nya, hayat ini be-kerja di dalam kita sepanjang hari untuk merangsang kita dan membuat kita bergairah. Anggur baru ini menguatkan kita, membuat kita berenergi, dan membuat kita riang gembira. Penyelamat rajani ini bukan hanya Mempelai Laki-laki bagi umat kerajaan untuk kenikmatan mereka, mela-inkan juga baju baru mereka untuk memperlengkapi mere-ka secara luaran, agar mereka bisa memenuhi syarat untuk menghadiri pernikahan. Selanjutnya, Dia adalah hayat baru mereka untuk merangsang mereka secara batiniah guna menikmati Dia sebagai Mempelai Laki-laki mereka. Sebagai Raja surgawi, Dia adalah Mempelai Laki-laki bagi kenik-matan umat kerajaan, dan kerajaan surgawi-Nya adalah pesta pernikahan (22:2). Saat itu mereka akan menikmati Dia. Untuk menikmati Dia sebagai Mempelai Laki-laki dalam pesta kerajaan, mereka memerlukan Dia sebagai baju baru mereka secara luaran dan anggur baru mereka secara batiniah.
Renungkanlah kembali perumpamaan anak yang hilang. Setelah ia mengenakan jubah yang terbaik, anak hilang itu masih akan berkata, “Oh Bapa, jubah yang terbaik memu-askan Engkau, tetapi tidak memuaskan Aku. Aku masih lapar dan perlu dikenyangkan.” Bapa segera memberi tahu hambanya agar menyembelih anak lembu yang tambun dan berkata, “Marilah kita makan dan bersukacita.” Sebab itu, suplai persediaan Bapa bukan hanya untuk sesuatu yang lahiriah, tetapi juga untuk sesuatu yang batiniah. Karena itu, setelah Tuhan mengatakan tentang baju baru, Ia langsung mengatakan tentang anggur baru. Anggur baru bukan suplai persediaan untuk kebutuhan lahiriah, melainkan untuk kebutuhan batiniah. Kita perlu sesuatu untuk menutupi kita, kita pun perlu sesuatu untuk memenuhi kita, kita begitu miskin lahir dan batin. Kita perlu jubah baru yang menu-tupi kita untuk kepentingan Bapa, kita perlu anggur baru di dalam kita untuk kepentingan kita sendiri. Kita perlu jubah baru dan anggur baru bersama-sama. Tuhan itulah jubah baru bagi kita dan juga anggur baru. Ia penutup kita dan ke-puasan kita. Ia bukan hanya membuat kita bersyarat, tetapi juga memuaskan kita. Jadi, Dialah persyaratan kita dan kepuasan kita, suplai persediaan untuk semua kelaparan dan kehausan batiniah kita.
Dalam ayat 17, Tuhan mengatakan bahwa janganlah menuang anggur yang baru ke dalam kantong kulit yang tua. Kantong kulit yang tua melambangkan praktek agamawi, seperti berpuasa yang dilakukan oleh orang Farisi dalam agama yang usang dan oleh murid-murid Yohanes dalam agama yang baru. Semua agama adalah kantong kulit yang tua. Anggur baru yang ditaruh di dalam kantong kulit yang tua mengoyakkan kantong kulit itu dengan kekuatan pera-giannya. Menaruh anggur yang baru ke dalam kantong kulit yang tua berarti menaruh Kristus sebagai hayat yang menggairahkan ke dalam agama. Inilah yang dipraktekkan oleh beberapa kelompok kekristenan hari ini. Mereka ber-usaha memasukkan Kristus ke dalam berbagai upacara, formalitas, dan praktek agamawi mereka. Umat kerajaan tidak seharusnya melakukan hal ini. Mereka harus mena-ruh anggur yang baru ke dalam kantong kulit yang baru.
Anggur yang baru perlu sebuah kantong kulit sebagai wadah. Anggur yang baru penuh dengan daya peragian. Jika Anda memasukkannya ke dalam kantong kulit yang tua, daya peragian anggur baru itu akan memecahkan kantong kulit yang tua. Dalam ayat ini Kristus seolah-olah berkata ke-pada orang Farisi dan murid-murid Yohanes, “Berpuasa itu sebuah kantong kulit yang lama. Jangan memasukkan ang-gur baru hayat-Ku ke dalam kantong kulit praktek agama-mu yang usang. Anggur akan memecahkan praktek agama-mu. Anggur baru hayat-Ku membutuhkan kantong kulit yang baru.”
Beberapa orang memang telah menerima anggur baru, tetapi mereka berusaha menuangkan anggur baru itu ke da-lam kantong kulit yang tua. Saya telah mengamati kebo-dohan semacam ini lebih dari empat puluh tahun. Banyak orang datang ke gereja lokal dan mencicipi anggur baru. Mereka mengatakan, “Ini sungguh sangat ajaib lagi indah. Ini barulah apa yang dibutuhkan gerejaku.” Kemudian me-reka mencoba membawa anggur baru ini kembali ke kan-tong kulit yang tua. Tahukah apa yang terjadi? Kantong kulit yang tua dan pecah, dan anggur yang baru tumpah. Namun, jika Anda memasukkan anggur baru itu ke dalam kantong yang baru, keduanya akan terpelihara.
Kita telah nampak bahwa anggur baru milik kantong kulit yang baru. Tetapi hari ini apa yang disebut gerakan kharimastik telah terbawa ke dalam kantong kulit “kekris-tenan” yang usang. Bahkan beberapa aliran “kekristenan” mempunyai upacara agama (misa) kharimastik. Barang-barang kharismatik dicampur-baurkan dengan upacara dalam penyembahan kepada Maria. Betapa kacaunya ini! Inilah ragi yang dicampurkan dengan tepung yang baik (13:33). Dengan perkataan lain, itulah anggur baru yang dimasukkan ke dalam kantong kulit yang tua. Saya khawatir, jangan-jangan ini bahkan bukan lagi anggur yang baru, sebab nam-paknya tidak ada daya peragian. Jika tidak, kantong kulit yang lama akan pecah. Bila gerakan kharismatik adalah ang-gur baru yang murni penuh dengan daya peragian, pasti akan memecahkan kantong kulit “kekristenan” yang usang.
E. Memasukkan Anggur Baru
ke Dalam Kantong Kulit yang Baru
Dalam ayat 17 Tuhan berkata pula, “Tetapi anggur yang baru disimpan orang dalam kantong yang baru pula, dan dengan demikian terpeliharalah kedua-duanya.” Kata Yunani untuk “baru” di sini ialah kainos, yang berarti baru dalam sifat, kualitas, atau bentuk; tidak terbiasa (lazim), belum pernah dipakai, karena itu berarti segar. Kantong kulit yang baru melambangkan hidup gereja dalam gereja lokal seba-gai wadah bagi anggur yang baru, yaitu Kristus sendiri se-bagai hayat yang menggairahkan. Umat kerajaan dibangun ke dalam gereja (16:18), dan gereja terekspresi melalui ge-reja-gereja lokal tempat hidup umat kerajaan (18:15-20). Me-reka adalah orang-orang yang dilahirkan kembali yang me-nyusun Tubuh Kristus menjadi gereja (Rm. 12:5; Ef. 1:22-23). Tubuh Kristus sebagai kepenuhan-Nya juga disebut “Kristus itu” (1 Kor. 12:12), mengacu kepada Kristus yang korporat. Kristus yang individual adalah anggur yang baru, hayat yang menggairahkan di batin, dan Kristus yang korporat adalah kantong kulit yang baru, wadah luaran yang menampung anggur yang baru. Bagi umat kerajaan ini bukanlah soal berpuasa atau perkara agama yang lain, melainkan soal hidup gereja dengan Kristus sebagai isinya. Kristus datang bukan untuk mendirikan agama bumiah yang berisi upacara-upacara, melainkan untuk mendirikan suatu kerajaan hayat yang surgawi. Dia sedang mendirikan kerajaan semacam itu bukan dengan praktek agamawi yang mati, melainkan de-ngan diri-Nya sendiri, persona yang hidup, sebagai Penye-lamat, Tabib, Mempelai Laki-laki, kain yang belum susut, dan anggur yang baru, bagi para pengikut-Nya untuk kenik-matan penuh mereka agar mereka bisa menjadi kantong kulit yang baru untuk menampung diri-Nya dan bisa men-jadi bahan penyusun kerajaan-Nya.
Kita telah nampak bahwa anggur yang baru ialah hi-dup gereja. Gereja sesungguhnya adalah perluasan Kristus. Kristus yang individual ialah anggur di dalam kita. Ketika Kristus yang individual ini meluas menjadi Kristus yang korporat, itulah gereja. Kristus yang korporat ini ialah kantong kulit, wadah untuk diisi dengan Kristus yang indi-vidual sebagai anggur kita. Jangan sekali-kali menganggap gereja ialah suatu agama; gereja ialah keseluruhan korpo-rat yang penuh dengan Kristus, sebab gereja itulah perlu-asan Kristus.
Kristus bukan hanya baju baru kita dan anggur baru kita, bahkan berkembang menjadi kantong anggur kita yang baru untuk memuat anggur. Dia adalah persyaratan lahir-iah kita, Dia adalah kepuasan batiniah kita; dan Dialah gereja, Tubuh secara korporat (1 Kor. 12:12), yang mampu menampung anggur. Kristus itu segala-galanya. Dialah Mem-pelai Laki-laki, baju baru, anggur yang baru, dan juga wadah korporat untuk menampung apa yang kita nikmati dari Dia. Makna di sini sangat dalam.
Kita perlu nampak lebih jauh tentang Kristus sebagai anggur yang baru. 1 Korintus 12:12 berkata, “Karena sama seperti tubuh itu satu dan anggota-anggotanya banyak, dan semua anggota tubuh itu, sekalipun banyak, merupa-kan satu tubuh, demikian pula Kristus.” Dalam ayat ini di-katakan bahwa bukan hanya para anggota yang disusun bersama adalah satu Tubuh, bahkan Tubuh ini adalah Kristus. Kita selalu menganggap Kristus sebagai Kepala, jarang sekali bahkan mungkin tidak pernah mengatakan Kristus itu juga Tubuh. Dikatakan secara riil, bagaimana Kristus itu juga adalah Tubuh? Dia adalah Tubuh sebab Tubuh terdiri atas banyak anggota yang dipenuhi dengan Kristus. Kristus di dalam Anda, Kristus di dalam saya, dan Kristus itu juga di dalam kita masing-masing. Kita semua memiliki Kristus di dalam kita. Dalam 1 Korintus 1 Paulus mengatakan bahwa Kristus tidak terpecah belah. Kristus di dalam Anda adalah satu dengan Kristus di dalam saya, dan Kristus di dalam kita adalah satu dengan Kristus di dalam semua orang Kristen lainnya. Karena itu, Kristus ialah Tu-buh yang terdiri atas begitu banyak anggota yang diisi de-ngan Dia. Inilah kantong kulit yang baru, yakni hidup ge-reja untuk menampung Kristus sebagai anggur yang baru itu.
Tanpa adanya kantong kulit, bagaimana kita dapat me-nyimpan anggur? Janganlah menganggap diri Anda indivi-dual adalah sebuah wadah. Bukan, Anda hanyalah sebagian dari wadah. Bagaimana mungkin sebuah gelas yang pecah berkeping-keping mampu menampung air? Mampukah ke-pingan-kepingan itu menampung air? Tidak mungkin. Ja-ngan mengira diri sendiri adalah cukup lumayan; Anda tidak terhitung siapa-siapa. Anda hanyalah salah satu ang-gota Tubuh, sebagian kecil dari Tubuh. Memang benar, ada sejumlah darah dalam jari kelingking saya, tetapi jari ke-lingking ini hanyalah sebagian dari tubuh saya. Jika Anda memotongnya dari tubuh, aliran darah dalam jari segera terhenti. Tidak hanya tidak menampung darah, malahan akan kehilangan darah. Kapan kala Anda meninggalkan hidup gereja, saat itu pula Anda mulai kehilangan Kristus; anggur baru mulailah bocor. Tidak ada sesuatu pun selain hidup gereja yang dapat menampung Kristus yang kita nik-mati. Jangan sekali-kali menganggap gereja sebagai suatu hal yang tidak berarti.
Kita harus pula menyadari bahwa kantong kulit itu ti-dak hanya wadah anggur, tetapi juga sarana bagi kita untuk minum anggur. Banyak di antara kita dapat bersak-si, setiap kali kita masuk dalam persidangan gereja, kita menemukan bahwa disinilah tempatnya di mana kita dapat benar-benar minum Kristus. Di sinilah kita minum Tuhan yang sebelumnya tidak pernah kita lakukan. Hidup gereja bukan hanya sebuah wadah, tetapi juga sebuah sarana yang darinya kita dapat minum. Kita memerlukan Kristus seba-gai baju baru, kita memerlukan Kristus sebagai anggur yang baru, kita pun memerlukan Kristus secara korporat sebagai kantong kulit yang baru. Kita memerlukan hidup gereja. Kita tidak mempedulikan agama, tata cara, atau ritual. Kita hanya mempedulikan Kristus di dalam Anda dan Kristus di dalam saya. Inilah kantong kulit yang baru.
Pada butir ini, saya ingin mengatakan sepatah dua patah kata kepada anak-anak muda. Boleh jadi anak-anak muda berkata, “Asalkan kita tinggal bersama-sama dengan kaum tua, kita akan berada dalam agama. Tetapi jika kita pergi dari mereka, kita tidak akan agamis.” Konsepsi ini keliru. Segala sesuatu tergantung pada apakah gereja me-rupakan perluasan Kristus atau bukan. Bukan soal usia. Bahkan seandainya yang datang semuanya bayi, mereka masih dapat berada dalam agama jika mereka tidak memi-liki Kristus sebagai kepuasan mereka. Jika kaum tua dipe-nuhi dengan Kristus dan berbaur menjadi satu dengan Dia, mereka adalah gereja, tak peduli berapa tua mereka. Ingat-lah bahwa agama ialah sesuatu yang bagi Allah namun tanpa Kristus. Tetapi gereja ialah Kristus yang diperluas, gereja adalah perluasan Kristus. Kantong kulit yang baru ialah Kristus diperluas ke dalam suatu ekspresi yang kor-porat. Inilah gereja. Gereja bukan sesuatu bagi Allah tanpa Kristus dan tanpa Roh. Gereja adalah suatu wujud perluas-an Kristus dan yang penuh dengan Kristus. Gereja dipe-nuhi dengan Kristus dan disusun dengan Kristus. Tidak pe-duli berapa usia kita, kita harus dipenuhi dengan Kristus. Kemudian ketika kita berhimpun bersama, kita akan men-jadi ekspresi lokal gereja. Inilah kantong kulit. Tidak peduli berapa banyak kekuatan peragian yang terdapat dalam hayat ilahi Kristus, takkan dapat meletuskan gereja.
Hari ini terdapat empat macam orang Kristen. Yang pertama disebut orang Kristen, tetapi bukan orang Kristen yang sejati. Mereka orang-orang aliran modern, yang disebut orang Kristen modern. Mereka hanya menerima Kristus sebagai baju baru. Mereka mengatakan, “Lihatlah bagaima-na Yesus hidup: Ia penuh dengan kasih dan pengorbanan diri. Kita wajib meniru Dia dan mengikuti Dia.” Tetapi berlaku demikian sama saja dengan memotong secarik kain baru untuk ditambalkan pada baju yang tua. Orang-orang modern coba-coba mengambil kain yang belum susut dari kehidupan insani Tuhan dan menggunakannya untuk menambal lubang dalam perilaku mereka. Tetapi kain yang belum susut itu mengerut sehingga membuat lubang yang makin besar. Orang modern tidak percaya bahwa Kristus mati di atas salib bagi dosa mereka, mereka tidak percaya bahwa Kristus itu Allah, dan mereka tidak percaya akan kebangkitan-Nya. Mereka semata-mata percaya bahwa mereka harus meniru kehidupan insani Yesus.
Orang Kristen fundamental adalah jenis orang Kristen yang kedua. Mereka percaya bahwa Kristus adalah Allah, Kristus adalah penebus mereka, Kristus mati di atas salib bagi dosa-dosa mereka dan telah bangkit. Orang Kristen fun-damental menerima Kristus yang telah bangkit sebagai kebenaran mereka. Mereka menerima Kristus, bukan seba-gai selembar kain yang baru, melainkan sebagai baju baru yang telah rampung. Namun, mereka hanya mengetahui sedikit sekali mengenai hayat batiniah, anggur yang di da-lam. Mereka mengenakan Kristus sebagai jubah luar, tetapi mereka tidak minum Dia sebagai anggur yang di dalam.
Orang Kristen jenis yang ketiga dapat disebut orang Kristen hayat batiniah. Mereka tidak hanya mengenakan Kristus sebagai baju baru mereka, tetapi mereka juga me-ngenal Dia sebagai hayat batiniah mereka. Pada hakikatnya mereka sangat menitik-beratkan hayat batiniah mereka. Orang Kristen hayat batiniah merupakan suatu perbaikan atas kedua kelompok sebelumnya. Tetapi bagaimanapun ba-iknya, mereka kekurangan satu perkara. Mereka kekurang-an kantong kulit, hidup gereja.
Keempat ialah umat gereja. Umat gereja bukan hanya kaum fundamentalis atau umat berhayat batiniah saja. Mereka bergereja, sebab mereka memiliki kantong kulit yang baru.
Pada hari-hari akhir Tuhan sedang memulihkan tidak hanya baju yang baru, ini yang Dia pulihkan melalui Martin Luther dalam hal pembenaran oleh iman; Tuhan pun tidak hanya memulihkan hayat batiniah, yang Dia pulihkan mela-lui orang-orang seperti Madame Guyon, William Law, Andrew Murray, dan Jessie Penn Lewis. Kita bersyukur kepada Tuhan karena semua hal yang telah Dia pulihkan. Namun, pada akhir zaman ini Tuhan sedang memulihkan hal yang terakhir dan final, yakni hidup gereja. Mereka yang menik-mati hidup gereja adalah umat gereja. Di antara umat gereja, baju yang baru, anggur yang baru, dan kantong ku-lit yang baru, semua telah dipulihkan. Kita memiliki Kristus secara korporat sebagai hidup gereja kita. Tuhan tidak ber-henti sampai pada baju yang baru atau anggur yang baru. Dia maju lebih lanjut dari Mempelai Laki-laki ke kain baru, dari kain baru ke jubah baru, dari jubah yang baru ke ang-gur yang baru, dan dari anggur yang baru ke kantong kulit yang baru. Setelah kantong kulit ada gereja. Setelah gereja, sudah tidak ada yang lainnya lagi. Gereja adalah tujuan terakhir Allah. Ketika kita sampai pada gereja, kita berada dalam penyempurnaan terakhir kehendak Allah. Jadi, sete-lah kantong kulit, Tuhan tidak menyebutkan lagi yang lain.
Puji Tuhan, Dialah Tabib kita! Setelah Dia menyem-buhkan kita, Dia menjadi Mempelai Laki-laki kita. Dia juga jubah yang membuat kita bersyarat dan anggur yang baru untuk menggairahkan kita. Ketika saya nampak wajah sau-dara saudari dalam sidang, saya dapat mengatakan bahwa mereka telah digairahkan oleh anggur yang baru. Betapa kita memuji Tuhan bahwa anggur yang baru ini berada di dalam perluasan-Nya, kantong kulit yang baru. Kristus itu segala-gala kita! Kita perlu mengenal Tuhan kita sejauh dan seluas ini. Dia bukan hanya Raja kita, Juruselamat kita, dan hayat kita, Dia juga Tabib kita, dan Tabib yang terka-sih ini adalah Mempelai Laki-laki. Dan Mempelai Laki-laki ini menjadi jubah kita, anggur kita yang baru, dan akhir-nya Dia adalah kantong kulit kita. Kita perlu mengenal Dia sejauh ini. Kini kita berada di dalam kantong kulit, di da-lam hidup gereja, menikmati Dia sampai tingkat sedemi-kian tinggi. Haleluya bagi Kristus dan gereja!