Daftar isi Matius (2) · Berita Kedelapan Belas · bab 2/17

Berita Kedelapan Belas

PENGUMUMAN KONSTITUSI KERAJAAN (6)

Dalam berita ini saya berbeban untuk menyampaikan berita lebih lanjut mengenai hukum Taurat. Banyak perdebatan timbul antara guru-guru Kristen mengenai hukum Taurat ini. Timbulnya perdebatan ini terutama disebabkan karena mereka kurang memperoleh terang Alkitab tentang hukum Taurat. Menurut ekonomi Perjanjian Lama, Allah memperlakukan umat-Nya berdasarkan hukum Taurat. Inilah prinsip hukum Taurat. Tetapi dalam ekonomi Perjanjian Baru hari ini, Allah memperlakukan umat-Nya bukan menurut hukum Taurat, melainkan menurut iman (kepercayaan). Jadi, hukum Taurat ialah prinsip hubungan Allah dengan umat-Nya dalam Perjanjian Lama, sedangkan iman ialah prinsip hubungan-Nya dengan kita dalam Perjanjian Baru. Menurut ekonomi Perjanjian Lama, perlu memelihara hukum Taurat agar dapat diperkenan oleh Allah. Tetapi hari ini diperkenan atau tidak oleh Allah adalah masalah iman.

Prinsip hukum Taurat telah dihapus, tetapi perintah hukum Taurat tidak dihapus. Hanya karena prinsip hukum Taurat telah dihapus, janganlah mengira bahwa perintah hukum Taurat pun telah dihapus dan tidak perlu menghormati orang tua kita atau menahan diri supaya tidak mencuri. Tidak, bukannya dihapus, melainkan perintah hukum taurat telah ditingkatkan. Meskipun hubungan kita dengan Allah tidak berdasarkan prinsip hukum Taurat, kita harus tetap memperhatikan perintah-perintah hukum Taurat yang telah ditingkatkan.

TIDAK PERLU MEMELIHARA HARI SABAT

Pada butir ini penganut Adven Hari Ketujuh mungkin berkata, “Ya, kita harus mempertahankan semua perintah hukum Taurat. Salah satu perintah-perintah ini ialah me-melihara hari Sabat. Berdasarkan apa yang telah Anda katakan tentang tidak menghapuskan perintah hukum Taurat, kami memberi tahu Anda bahwa Anda harus memelihara hari Sabat.” Meskipun perintah Allah tidak dihapus, tetapi satu dari perintah-perintah ini yaitu hukum Taurat mengenai memelihara hari Sabat, tidak berkaitan dengan moralitas. Melainkan suatu hukum tata cara. Tata cara ialah suatu bentuk, bayangan yang tidak perlu kita perhatikan lagi hari ini. Sebagai contoh, kita tidak perlu mempersembahkan kurban bakaran hewan, bukan? Demikian pula, kita tidak perlu lagi memelihara hari Sabat. Dalam Perjanjian Lama, zaman bayang-bayang, perlu ada kurban-kurban, perayaan-perayaan, dan memelihara hari Sabat. Tetapi hari ini adalah zaman realitas. Kurban bakaran kita bukan domba atau kambing, melainkan Kristus, realitas semua kurban bakaran Perjanjian Lama. Demikian pula, perhentian kita bukan pada suatu hari yang khusus, melainkan Kristus. Karena Kristus, realitas itu ada di sini, maka semua bayang-bayang telah berlalu. Karena perintah untuk memelihara Sabat ialah perintah ritual, bukan perintah moral, maka kita tidak diharuskan memelihara hari Sabat. Perintah ini tidak berhubungan dengan moralitas, melainkan dengan bayang-ba-yang, tata cara ini telah berlalu.

PRINSIP HUKUM TAURAT

Kita perlu terkesan dengan prinsip hukum Taurat. Perlakuan Allah terhadap umat-Nya selalu berdasarkan suatu prinsip. Misalnya, Allah memperlakukan Abraham adalah berdasarkan janji Allah. Allah tidak memberi Abraham perintah hukum Taurat, Ia hanya memberikan janji-janji. Jadi, Allah memperlakukan dia menurut janji-Nya. Janji yang diberikan Allah kepada Abraham menjadi prinsip bagi-Nya dalam memperlakukan Abraham. Kemudian, Allah memberi hukum Taurat kepada umat Israel melalui Musa. Hukum Taurat yang diberikan di Gunung Sinai menjadi prinsip bagi-Nya dalam memperlakukan umat Israel. Dengan demikian, hukum Taurat menjadi prinsip perlakuan Allah terhadap umat-Nya dalam Perjanjian Lama. Kini dalam Perjanjian Baru, Allah memperlakukan kaum beriman menurut iman (kepercayaan), tidak lagi menurut hukum Taurat. Ini dikembangkan sepenuhnya dalam Kitab Roma dan Galatia. Jika Anda membaca kedua kitab ini, Anda akan tampak bahwa Allah memperlakukan kaum beriman dalam Kristus bukan menurut hukum Taurat, melainkan menurut iman. Dalam Perjanjian Lama Allah menerima orang menurut hukum Taurat. Jika seseorang ingin diterima oleh Allah, ia harus memenuhi standar hukum Taurat. Tetapi hari ini Allah menerima kita bukan menurut hukum Taurat, melainkan menurut percaya atau tidaknya kita dalam Kristus. Jadi, diterimanya kita oleh Allah hari ini adalah berdasarkan iman.

PERINTAH HUKUM TAURAT TIDAK DIHAPUSKAN, TETAPI DITINGKATKAN

Fakta bahwa Allah memperlakukan kita, kaum beriman, tidak lagi menurut prinsip hukum Taurat, bukan berarti bahwa perintah hukum Taurat telah dihapus. Misalnya, dua perintah pertama hukum Taurat lama berkenaan dengan tidak memiliki ilah lain dan tidak membuat patung-patung (berhala). Prinsip hukum Taurat telah dihapus bukan berarti bahwa perintah-perintah ini telah dihapus. Sebaliknya, menurut Perjanjian Baru, perintah-perintah ini ditekankan, dikuatkan, dan ditingkatkan. Dalam Perjanjian Lama diperintahkan untuk tidak membuat patung-patung secara jasmaniah, tetapi dalam Perjanjian Baru kita diberi tahu bahwa keserakahan juga merupakan penyembahan berhala (Kol. 3:5). Keserakahan ialah suatu berhala. Melalui ini kita tampak bahwa perintah mengenai berhala itu telah ditingkatkan. Memang, prinsip hukum Taurat telah dihapus, tetapi bukan perintahnya. Perintah mengenai menghormati orang tua kita tidak pernah dihapus. Dalam Perjanjian Baru perintah ini juga diulangi, diteguhkan, dan ditingkatkan. Hari ini kita harus lebih menghormati orangtua kita daripada umat Israel di masa lampau.

Kita telah tampak bahwa Tuhan Yesus pun meningkatkan perintah mengenai pembunuhan dan perzinaan. Karena perintah Perjanjian Lama tentang pembunuhan dan perzinaan kurang memadai, Tuhan melengkapinya. Perintah lama tentang pembunuhan tidak mencakup masalah dengki atau marah. Jadi, Tuhan melengkapi hukum Taurat lama tentang pembunuhan dengan mengatakan bahwa siapa yang marah terhadap saudaranya harus dihukum. Ia pun melengkapi larangan mengenai perzinaan dengan mengatakan bahwa siapa memandang perempuan serta menginginkannya, ia sudah berzina dengan dia dalam hati. Dengan contoh-contoh ini kita tampak bahwa hukum Taurat moral tidak pernah dihapus, bahkan telah ditingkatkan. Kesepuluh perintah-perintah itu telah diulang dan ditingkatkan dalam Perjanjian Baru kecuali perintah yang keempat, perintah untuk memelihara hari Sabat. Perintah ini telah berlalu sebab tidak berkenaan dengan moralitas, melainkan suatu perintah ritual.

STANDAR MORALITAS YANG LEBIH TINGGI

Sekarang kita membicarakan beban saya yang sesungguhnya dalam berita ini. Memang dalam Perjanjian Baru keselamatan itu berdasarkan pada prinsip iman, tidak ada sangkut pautnya dengan hukum Taurat. Kita semua telah diselamatkan berdasarkan iman, bukan berdasarkan memelihara hukum Taurat. Tetapi setelah kita diselamatkan, kita harus menempuh suatu kehidupan yang memiliki standar moralitas yang lebih tinggi daripada hukum Taurat lama. Jangan berpikir bahwa kita bebas untuk berbuat seenaknya, cemar atau bahkan amoral, karena kita telah diselamatkan bukan menurut prinsip hukum Taurat. Jangan mengira bahwa, karena Allah tidak menanggulangi kita menurut prinsip hukum Taurat tetapi menurut prinsip iman, kita tidak perlu memperhatikan perintah hukum Taurat. Setiap orang yang berpikir demikian telah dibius oleh ajaran-ajaran yang terdapat dalam sebagian kekristenan hari ini. Kita harus cermat. Sekali lagi saya katakan, setelah kita diselamatkan, kita perlu menempuh suatu kehidupan dengan standar yang jauh lebih tinggi daripada standar hukum Taurat lama. Standar kita harus lebih tinggi daripada tuntutan hukum Taurat. Hukum Taurat melarang kita membunuh orang, tetapi kita bahkan tidak boleh marah terhadap orang. Bahkan jika kita mengatai saudara kita “kafir”, suatu penghinaan, atau “jahil”, kata kutukan yang menunjukkan suatu pemberontakan, kita akan berada dalam bahaya hukuman. Kita tidak hanya tidak boleh membunuh saudara kita, bahkan jika kita menyebut mereka “kafir” atau “jahil”, kita akan berada dalam kesulitan.

MASALAH AMARAH DAN HAWA NAFSU

Dalam Matius 5 Tuhan Yesus mengatakan tentang pembunuhan dan perzinaan. Pembunuhan menyangkut amarah kita dan perzinaan menyangkut nafsu kita. Amarah dan nafsu senantiasa merusak dan mempersulit kita. Jika kita ini batu, kita takkan disulitkan oleh kedua hal ini. Tidak peduli betapa kerasnya Anda menyakiti, menghina, atau memukul, batu itu tidak akan bereaksi, sebab batu itu tidak mempunyai perasaan. Lagi pula, batu tidak memiliki hawa nafsu. Maka, tidak akan tergoda oleh nafsu. Tetapi setiap hari kita terganggu oleh amarah kita atau dicobai oleh hawa nafsu kita. Alangkah mudahnya kita tersinggung atau sakit hati! Beberapa di antara kita mungkin ada yang tersinggung paling sedikit sepuluh kali sehari. Anda mungkin tersinggung oleh suami atau istri Anda, oleh anak-anak Anda, oleh tetangga Anda, atau oleh besar Anda. Bahkan Anda mungkin tersinggung oleh sepatu Anda, kompor, atau teko teh Anda. Saya tahu beberapa saudari yang pernah tersinggung oleh dapur mereka. Seolah-olah amarah mereka tiada habisnya. Yang lain terganggu oleh hawa nafsu. Karena itu, saya telah menunjukkan dalam satu berita Pelajaran-Hayat Kitab Kejadian bahwa Anda tidak boleh berada sendirian dengan seorang yang berlawanan jenis dalam suatu jangka waktu. Jika Anda berbuat demikian, Anda akan tergoda oleh nafsu Anda yang besar.

Untuk dapat menempuh suatu kehidupan dengan standar moral yang lebih tinggi daripada standar hukum Taurat lama, Anda harus mengatasi amarah dan hawa nafsu Anda. Boleh jadi Anda mengatakan bahwa hal ini tidak mudah Anda lakukan. Benar, tidak mudah. Itulah sebabnya Anda perlu hayat lain. Betapa kita perlu tinggal bersama Kristus! Kita harus berkontak dengan Dia tidak hanya hari demi hari, bahkan jam demi jam. Karena temperamen dan hawa nafsu di dalam kita, kita perlu tetap dalam persekutuan yang terus-menerus dengan Dia. Anda harus menyadari bahwa Anda bukan kayu atau batu. Jika Anda kayu atau batu, Anda tidak akan bermasalah dengan temperamen dan hawa nafsu. Tetapi karena Anda orang yang hidup, Anda memilki dua hal ini di dalam Anda. Tidakkah Anda mempunyai temperamen dan hawa nafsu di dalam Anda? Setiap saat kita dapat tersandung oleh temperamen kita atau tergoda oleh hawa nafsu kita. Berhati-hatilah! Berjaga-jaga dan berdoalah mengenai dua “setan” ini, temperamen kita dan hawa nafsu kita. Setelah kita diselamatkan menurut prinsip iman, kita perlu menempuh suatu kehidupan yang lebih tinggi, kehidupan dengan standar yang paling tinggi. Kehidupan dengan standar yang paling tinggi ini ialah kehidupan yang mengatasi temperamen dan hawa nafsu kita.

PERINGATAN MENGENAI HUKUMAN KAUM BERIMAN

Minggu demi minggu banyak orang yang dibius oleh ajaran kekristenan tertentu. Ajaran-ajarannya tidak memperingatkan orang-orang Kristen atau memberi tahu mereka akan kebenaran. Banyak orang tidak diperingatkan bahwa mereka akan menghadapi masalah karena amarah, memandang rendah atau mengatai orang, atau mengumbar hawa nafsu mereka. Padahal bahkan memandang rendah sedikit saja saudara kita, kita akan bertanggung jawab atas hukuman (Mat. 5:22). Ini bukan berarti kita akan binasa. Tidak seorang pun yang telah beroleh selamat akan binasa, sebaliknya tidak seorang pun yang telah hilang akan bersyarat berdiri di hadapan takhta penghakiman Kristus. Hanya mereka yang telah diselamatkan berdasarkan prinsip iman yang bersyarat berada di sana. Tetapi janganlah mengira bahwa Anda mustahil mempunyai masalah di depan takhta penghakiman Kristus. Anda mungkin berkata kepada Tuhan, “Aku tidak pernah merampok bank atau membunuh seseorang. Satu-satunya perkara yang aku lakukan hanyalah marah-marah.” Tetapi perbuatan yang hanya marah-marah saja dapat membawa Anda ke dalam hukuman.

Dalam Matius 5:22 penghakiman kaum beriman pada takhta peradilan Kristus diumpamakan oleh tiga macam penghakiman menurut latar belakang umat Yahudi: penghakiman di pintu gerbang kota, penghakiman di hadapan Mahkamah Agung, dan penghakiman neraka yang menyala-nyala. Ketiga macam penghakiman ini menunjukkan satu penghakiman pada takhta penghakiman Kristus. Kita sebagai orang Kristen yang telah diselamatkan berdasarkan prinsip iman, tidak akan diadili di depan takhta putih yang dikatakan dalam Wahyu 20. Sebaliknya kita akan diadili di depan takhta penghakiman Kristus selama seribu tahun sebelum penghakiman pada takhta putih. Penghakiman pada takhta putih besar diperuntukkan bagi orang-orang kafir mengenai kebinasaan mereka yang kekal. Tetapi penghakiman pada takhta penghakiman Kristus diperuntukkan bagi kaum beriman, entah mereka akan mendapatkan pahala atau hukuman.

Walaupun banyak di antara kalian berada dalam kekristenan selama bertahun-tahun, kalian mungkin tidak pernah mendengar berita yang demikian jelas. Pernahkah Anda mendengar suatu khotbah yang memberi tahu Anda bahwa sekalipun Anda diselamatkan oleh iman melalui karunia, Anda harus tetap menempuh suatu kehidupan yang memiliki standar yang lebih tinggi daripada standar yang dituntut oleh hukum Taurat lama! Pernahkah Anda diberi tahu bahwa Anda harus menempuh suatu kehidupan yang tidak marah-marah atau yang tidak memandang perempuan serta menginginkannya? Hukum Taurat yang lebih tinggi, hukum Taurat Kerajaan Surga, tidak hanya menyentuh perbuatan lahiriah, tetapi juga motivasi batiniah. Alangkah tingginya standar hukum Taurat ini! Peringatan Tuhan tentang standar hukum Taurat ini sangat serius. Sampai-sampai Ia mengatakan dimasukkan ke dalam neraka menyala-nyala. Sekali lagi saya berkata, ini bukan berarti bahwa kaum beriman akan binasa. Kekristenan yang kasihan hanya memberi tahu orang bahwa mereka akan pergi ke surga atau neraka. Tetapi Alkitab dengan jelas mengatakan bahwa setelah kita diselamatkan menurut prinsip iman, kita harus menggenapi semua tuntutan hukum Taurat baru. Hukum Taurat itu bukan lagi prinsip berdasarkan apa kita diselamatkan, tetapi merupakan suatu standar moral yang perlu kita pelihara. Prinsip hukum Taurat telah dihapus, tetapi moralitas yang dituntut oleh perintah hukum Taurat tetap ada dan telah ditingkatkan. Janganlah mengira bahwa kita tidak perlu lagi memperhatikan moralitas kita, karena kita tidak beroleh selamat di bawah hukum Taurat. Ini suatu konsepsi yang mutlak salah. Butir penting dalam perintah yang Tuhan umumkan ialah bahwa kita tidak perlu memelihara hukum Taurat untuk keselamatan kita, tetapi setelah kita diselamatkan melalui iman, kita harus mempunyai standar moralitas yang jauh lebih tinggi daripada standar hukum Taurat lama.

DIPAKSA TINGGAL BERSAMA KRISTUS

Setelah mendengar berita ini, Anda mungkin mengatakan bahwa Anda tidak dapat melakukannya. Sangatlah baik bila kita berkata bahwa kita tidak dapat melakukannya, sebab dengan demikian berarti kita sadar betapa kita me-merlukan Kristus, yang telah menggantikan kita, untuk masuk ke dalam kita dalam kebangkitan menjadi hayat kita. Peringatan Tuhan dalam Matius 5 harus memaksa kita tinggal bersama Kristus. Kita harus menempuh kehidupan sehari-hari dengan takut dan gentar. Kita perlu berkata, “Aku harus menghampiri Kristus yang telah bangkit. Aku harus bekerja sama dengan Dia. Aku harus percaya kepada-Nya dan bersandar kepada-Nya. Karena standar moralitas Kerajaan Surga lebih tinggi bagiku untuk melakukannya, aku harus tetap bersama dengan Tuhan. Jika aku marah-marah terhadap saudaraku, aku berkemungkinan dibakar dalam api. Betapa seriusnya hal ini!”

Ketika beberapa guru Kristen mendengar ini, mereka mungkin berkata, “Adalah suatu bidah bila mengajarkan bahwa orang yang telah beroleh selamat akan dibakar dalam api”. Bacalah Matius 5 sekali lagi. Pasal ini bukan kata-kata yang dikatakan kepada orang yang tidak percaya, melainkan perkataan yang diberikan kepada murid-murid, orang-orang yang telah beroleh selamat, anak-anak Allah. Jika mereka tidak mengendalikan amarah mereka, mereka akan dilemparkan ke dalam api yang menyala-nyala. Beberapa orang mungkin mengatakan, “Api yang menyala-nyala ini bukan lautan api”. Janganlah bertengkar tentang api apa ini, sebab api yang kecil pun sudah dapat menyebabkan kita sengsara. Hari Minggu demi hari Minggu, begitu banyak orang Kristen dipenuhi dengan ajaran-ajaran yang berlapiskan gula. Mereka tidak pernah mendengar perkataan yang jelas dari Matius 5. Kita bersyukur kepada Tuhan karena belas kasihan-Nya, karunia-Nya, dan iman-Nya yang telah Ia berikan kepada kita sehingga melalui-Nya kita diselamatkan. Alangkah ajaibnya kita diselamatkan karena iman! Tetapi sebagai umat yang telah diselamatkan, kita harus mendengarkan perkataan peringatan yang serius ini, yaitu marah-marah terhadap saudara kita dapat menyebabkan kita dibakar dalam api neraka.

Pengertian dibakar oleh api ini terdapat dalam 1 Korintus 3 dan Ibrani 6. 1 Korintus 3:15 mengatakan, “Jika pekerjaannya terbakar, ia akan menderita kerugian; ia sendiri akan diselamatkan, tetapi seperti dari dalam api.” Sekalipun orang demikian akan diselamatkan, namun ia akan diselamatkan seperti dari dalam api. Ibrani 6:7-8 mengatakan,

“Sebab tanah yang menghisap air hujan yang sering turun ke atasnya dan menghasilkan tumbuh-tumbuhan yang berguna bagi mereka yang mengerjakannya, menerima berkat dari Allah; tetapi jikalau menghasilkan semak duri dan rumput duri, tanah itu tidak berguna dan sudah dekat pada kutuk yang berakhir dengan pembakaran.” Di sini kaum beriman diumpamakan seperti tanah yang menghasilkan tumbuh-tumbuhan yang menerima berkat Allah atau menghasilkan semak duri dan rumput duri yang akan dibakar. Betapa dahsyat melewati pembakaran yang sedemikian! Lagi pula, dalam Wahyu 2:11 Tuhan berkata, “Siapa yang menang, ia tidak akan menderita apa-apa oleh kematian yang kedua.” Perkataan ini mengandung arti bahwa orang Kristen yang kalah/gagal akan menderita di dalam kematian yang kedua, lautan api (Why. 20:15). Menderita dalam kematian yang kedua ialah terjamah oleh lautan api. Tentu saja kita tidak mau terjamah oleh api ini.

HUKUMAN SEZAMAN

Masalah penghakiman kaum beriman dan penderitaan dalam api ini bukan ajaran aliran Calvin atau aliran Armenian. Menurut aliran Calvin, begitu kita diselamatkan, kita diselamatkan selamanya dan tidak ada masalah apa-apa lagi. Dalam satu pengertian, aliran Calvin memang benar, sebab begitu kita diselamatkan, kita selamanya beroleh selamat. Namun, kita tidak dapat mengatakan tidak ada masalah apa-apa lagi. Ada kemungkinan dibakar dalam api. Menurut aliran Armenian ada sebagian orang mungkin diselamatkan pada pagi hari dan kehilangan keselamatan mereka pada malam hari itu juga. Keselamatan mereka naik dan turun seperti tangga elektronik. Baik aliran Calvin maupun aliran Armenian keduanya tidak mengikuti firman murni Alkitab. Alkitab mewahyukan bahwa kita diselamatkan sampai kekal, tetapi setelah kita diselamatkan, kita perlu mengatasi semua perkara dosa. Jika tidak, kita akan didisiplinkan, dihukum. Bila Anda tidak bertobat dan mengakui dosa Anda, dan tetap dalam perzinaan, pada zaman yang akan datang Anda akan dimasukkan dalam api dan dibakar, bukan untuk kebinasaan kekal, melainkan sebagai suatu hukuman sezaman.

MENGHINDARI TEMPERAMEN

DAN HAWA NAFSU KITA

Zaman kita ini adalah zaman percabulan dan perzinaan. Setiap negara penuh dengan amoralitas. Mengenai masalah ini, begitu banyak orang telah terbius oleh “bawang putih” dan telah kehilangan perasaan mereka tentang dosa. Kiranya perkataan ini membuat kita sadar! Kita harus menjauhi arus kecondongan hari ini. Tidak ada yang lebih menghina Allah daripada perzinaan yang merusak umat ciptaan Allah menurut citra-Nya. Kita semua harus menghindari temperamen kita dan hawa nafsu kita. Jauhkanlah hawa nafsu Anda! Marah-marah dan mengumbar hawa nafsu kita bukan suatu hal yang tidak berarti. Mengumbar perkara-perkara ini dapat menyebabkan kita terbakar. Jadi, kita perlu memperhatikan perkataan yang jelas ini, suatu perkataan yang akan memaksa kita tinggal dekat Kristus. Kita perlu berdoa, “Tuhan, aku mempunyai temperamen dan hawa nafsu di dalamku. Tetapi, Tuhan, aku bersyukur kepada-Mu bahwa aku memiliki Tuhan di dalam rohku. Tuhan, aku tidak mau tinggal bersama hawa nafsu jas-maniku dan temperamen jiwaku. Aku ingin tinggal di dalam rohku bersama-Mu. Ya, Tuhan Yesus terkasihku.” Inilah keselamatan kita, kelepasan kita, dan kekudusan kita. Siang dan malam kita harus tinggal bersama Tuhan Yesus dalam roh kita, memandang kepada-Nya, berkontak dengan Dia, serta mengandalkan-Nya.

Temperamen, problem setiap orang Kristen, seperti seekor musang: tersembunyi, licik, dan selalu ada. Kita semua harus berjaga-jaga terhadapnya. Hawa nafsu juga adalah satu problem yang besar. Maaf saya mengatakan bahkan di antara kaum beriman pun terdapat banyak perkara percabulan. Betapa memalukan! Tidak ada yang lebih memalukan daripada percabulan atau perzinaan di antara kaum beriman. Ini merusak umat ciptaan Allah, kehidupan gereja, dan kesaksian gereja. Berulang kali Rasul Paulus memperingatkan kita bahwa orang yang cabul, orang berzina tidak akan mendapat bagian dalam Kerajaan Allah (1 Kor. 6:9-10; Gal. 5:19-21; Ef. 5:5). Kaum beriman yang melakukan perzinaan atau percabulan itu tidak berbagian dalam Kerajaan Surga. Umat kerajaan hendaklah mempunyai standar kebenaran yang tertinggi. Janganlah marah-marah atau memandang perempuan serta menginginkannya. Waspadalah! Anda perlu mempertimbangkan perkara-perkara ini dengan serius dan menanggulangi motivasi itu sampai pada akar-akarnya. Perkataan ini bukan suatu ancaman, melainkan suatu peringatan yang memaksa kita tinggal dekat dengan Kristus.

Syukur kepada Tuhan bahwa kita mempunyai Injil Matius dan Injil Yohanes. Kita perlu mengandalkan hayat yang diwahyukan dalam Injil Yohanes. Haleluya, kita memiliki hayat sedemikian! Hayat ini ialah hayat kebangkitan, hayat kemenangan. Kristus telah menang dan kini dalam kebangkitan-Nya, Ia tinggal di dalam kita. Inilah hayat yang mampu memenuhi tuntutan tertinggi Kerajaan Surga.

BERPERILAKU (HIDUP) MENURUT ROH

Kita harus sangat jelas tentang fakta bahwa pada hakikatnya kita tidak memelihara hukum Taurat, tetapi kita berperilaku menurut roh. Roma 8:4 mengatakan bahwa jika kita berperilaku menurut roh, dengan spontan kita menggenapkan semua kebenaran tuntutan hukum Taurat. Kita bukan berusaha memelihara hukum Taurat, sebab semakin kita mencoba menaatinya semakin kita melanggarnya. Ini diwahyukan dan dicatat sepenuhnya dalam Roma 7. Hari ini kita tidak di bawah hukum Taurat atau peraturan untuk menaati hukum Taurat. Kita bebas dari hukum Taurat, dan kini kita berperilaku menurut roh. Di dalam roh terdapat Raja, Kristus, yang adalah hayat kebangkitan kita. Ketika kita berperilaku menurut roh, kita menggenapkan tuntutan hukum Taurat tertinggi.

Saya percaya bahwa kini kita sudah mengerti jelas tentang hukum Taurat. Kita dapat memberi tahu orang bahwa prinsip hukum Taurat telah berlalu, tetapi perintah hukum Taurat itu masih tetap ada dan telah ditingkatkan. Sekalipun kita tidak dapat memenuhi standar tuntutan yang lebih tinggi ini, namun kita memiliki hayat kebangkitan dalam roh kita. Karena itu kita tidak perlu memelihara hukum Taurat dalam arti berjuang sendiri, melainkan kita harus berperilaku menurut roh. Ketika kita berperilaku menurut roh, spontan kita mengenapkan semua tuntutan hukum Taurat dan mempunyai standar moral tertinggi. Inilah kesaksian Yesus, kesaksian gereja. Inilah kehidupan gereja yang wajar, realitas Kerajaan Surga.