PENGUMUMAN KONSTITUSI KERAJAAN (6)
Dalam berita ini saya berbeban untuk menyampaikan berita lebih lanjut mengenai hukum Taurat. Banyak perde-batan timbul antara guru-guru Kristen mengenai hukum Taurat ini. Timbulnya perdebatan ini terutama disebabkan karena mereka kurang memperoleh terang Alkitab tentang hukum Taurat. Menurut ekonomi Perjanjian Lama, Allah memperlakukan umat-Nya berdasarkan hukum Taurat. Ini-lah prinsip hukum Taurat. Tetapi dalam ekonomi Perjanji-an Baru hari ini, Allah memperlakukan umat-Nya bukan menurut hukum Taurat, melainkan menurut iman (keper-cayaan). Jadi, hukum Taurat ialah prinsip hubungan Allah dengan umat-Nya dalam Perjanjian Lama, sedangkan iman ialah prinsip hubungan-Nya dengan kita dalam Perjanjian Baru. Menurut ekonomi Perjanjian Lama, perlu memelihara hukum Taurat agar dapat diperkenan oleh Allah. Tetapi ha-ri ini diperkenan atau tidak oleh Allah adalah masalah iman.
Prinsip hukum Taurat telah dihapus, tetapi perintah hukum Taurat tidak dihapus. Hanya karena prinsip hukum Taurat telah dihapus, janganlah mengira bahwa perintah hukum Taurat pun telah dihapus dan tidak perlu menghor-mati orang tua kita atau menahan diri supaya tidak men-curi. Tidak, bukannya dihapus, melainkan perintah hukum taurat telah ditingkatkan. Meskipun hubungan kita dengan Allah tidak berdasarkan prinsip hukum Taurat, kita harus tetap memperhatikan perintah-perintah hukum Taurat yang telah ditingkatkan.
TIDAK PERLU MEMELIHARA HARI SABAT
Pada butir ini penganut Adven Hari Ketujuh mungkin berkata, “Ya, kita harus mempertahankan semua perintah hukum Taurat. Salah satu perintah-perintah ini ialah me-melihara hari Sabat. Berdasarkan apa yang telah Anda ka-takan tentang tidak menghapuskan perintah hukum Taurat, kami memberi tahu Anda bahwa Anda harus memelihara hari Sabat.” Meskipun perintah Allah tidak dihapus, tetapi satu dari perintah-perintah ini yaitu hukum Taurat menge-nai memelihara hari Sabat, tidak berkaitan dengan morali-tas. Melainkan suatu hukum tata cara. Tata cara ialah suatu bentuk, bayangan yang tidak perlu kita perhatikan lagi hari ini. Sebagai contoh, kita tidak perlu mempersembahkan kurban bakaran hewan, bukan? Demikian pula, kita tidak perlu lagi memelihara hari Sabat. Dalam Perjanjian Lama, zaman bayang-bayang, perlu ada kurban-kurban, perayaan-perayaan, dan memelihara hari Sabat. Tetapi hari ini ada-lah zaman realitas. Kurban bakaran kita bukan domba atau kambing, melainkan Kristus, realitas semua kurban bakar-an Perjanjian Lama. Demikian pula, perhentian kita bukan pada suatu hari yang khusus, melainkan Kristus. Karena Kristus, realitas itu ada di sini, maka semua bayang-bayang telah berlalu. Karena perintah untuk memelihara Sabat ia-lah perintah ritual, bukan perintah moral, maka kita tidak diharuskan memelihara hari Sabat. Perintah ini tidak ber-hubungan dengan moralitas, melainkan dengan bayang-ba-yang, tata cara ini telah berlalu.
PRINSIP HUKUM TAURAT
Kita perlu terkesan dengan prinsip hukum Taurat. Perlakuan Allah terhadap umat-Nya selalu berdasarkan su-atu prinsip. Misalnya, Allah memperlakukan Abraham ada-lah berdasarkan janji Allah. Allah tidak memberi Abraham perintah hukum Taurat, Ia hanya memberikan janji-janji. Jadi, Allah memperlakukan dia menurut janji-Nya. Janji yang diberikan Allah kepada Abraham menjadi prinsip ba-gi-Nya dalam memperlakukan Abraham. Kemudian, Allah memberi hukum Taurat kepada umat Israel melalui Musa. Hukum Taurat yang diberikan di Gunung Sinai menjadi prinsip bagi-Nya dalam memperlakukan umat Israel. Dengan demikian, hukum Taurat menjadi prinsip perlakuan Allah terhadap umat-Nya dalam Perjanjian Lama. Kini dalam Per-janjian Baru, Allah memperlakukan kaum beriman menu-rut iman (kepercayaan), tidak lagi menurut hukum Taurat. Ini dikembangkan sepenuhnya dalam Kitab Roma dan Galatia. Jika Anda membaca kedua kitab ini, Anda akan nampak bahwa Allah memperlakukan kaum beriman da-lam Kristus bukan menurut hukum Taurat, melainkan me-nurut iman. Dalam Perjanjian Lama Allah menerima orang menurut hukum Taurat. Jika seseorang ingin diterima oleh Allah, ia harus memenuhi standar hukum Taurat. Tetapi hari ini Allah menerima kita bukan menurut hukum Taurat, melainkan menurut percaya atau tidaknya kita dalam Kristus. Jadi, diterimanya kita oleh Allah hari ini adalah berdasarkan iman.
PERINTAH HUKUM TAURAT TIDAK DIHAPUSKAN, TETAPI DITINGKATKAN
Fakta bahwa Allah memperlakukan kita, kaum ber-iman, tidak lagi menurut prinsip hukum Taurat, bukan berarti bahwa perintah hukum Taurat telah dihapus. Misal-nya, dua perintah pertama hukum Taurat lama berkenaan dengan tidak memiliki ilah lain dan tidak membuat patung-patung (berhala). Prinsip hukum Taurat telah dihapus bu-kan berarti bahwa perintah-perintah ini telah dihapus. Se-baliknya, menurut Perjanjian Baru, perintah-perintah ini ditekankan, dikuatkan, dan ditingkatkan. Dalam Perjanjian Lama diperintahkan untuk tidak membuat patung-patung secara jasmaniah, tetapi dalam Perjanjian Baru kita diberi tahu bahwa keserakahan juga merupakan penyembahan berhala (Kol. 3:5). Keserakahan ialah suatu berhala. Melalui ini kita nampak bahwa perintah mengenai berhala itu telah ditingkatkan. Memang, prinsip hukum Taurat telah dihapus, tetapi bukan perintahnya. Perintah mengenai menghormati orang tua kita tidak pernah dihapus. Dalam Perjanjian Baru perintah ini juga diulangi, diteguhkan, dan ditingkatkan. Hari ini kita harus lebih menghormati orangtua kita dari-pada umat Israel di masa lampau.
Kita telah nampak bahwa Tuhan Yesus pun meningkatkan perintah mengenai pembunuhan dan perzinaan. Karena perintah Perjanjian Lama tentang pembunuhan dan perzinaan kurang memadai, Tuhan melengkapinya. Perintah lama tentang pembunuhan tidak mencakup masalah dengki atau marah. Jadi, Tuhan melengkapi hukum Taurat lama tentang pembunuhan dengan mengatakan bahwa siapa yang marah terhadap saudaranya harus dihukum. Ia pun me-lengkapi larangan mengenai perzinaan dengan mengatakan bahwa siapa memandang perempuan serta menginginkan-nya, ia sudah berzina dengan dia dalam hati. Dengan con-toh-contoh ini kita nampak bahwa hukum Taurat moral tidak pernah dihapus, bahkan telah ditingkatkan. Kesepu-luh perintah-perintah itu telah diulang dan ditingkatkan da-lam Perjanjian Baru kecuali perintah yang keempat, perin-tah untuk memelihara hari Sabat. Perintah ini telah berlalu sebab tidak berkenaan dengan moralitas, melainkan suatu perintah ritual.
STANDAR MORALITAS YANG LEBIH TINGGI
Sekarang kita membicarakan beban saya yang sesung-guhnya dalam berita ini. Memang dalam Perjanjian Baru keselamatan itu berdasarkan pada prinsip iman, tidak ada sangkut pautnya dengan hukum Taurat. Kita semua telah diselamatkan berdasarkan iman, bukan berdasarkan meme-lihara hukum Taurat. Tetapi setelah kita diselamatkan, ki-ta harus menempuh suatu kehidupan yang memiliki stan-dar moralitas yang lebih tinggi daripada hukum Taurat lama. Jangan berpikir bahwa kita bebas untuk berbuat seenaknya, cemar atau bahkan amoral, karena kita telah diselamatkan bukan menurut prinsip hukum Taurat. Ja-ngan mengira bahwa, karena Allah tidak menanggulangi kita menurut prinsip hukum Taurat tetapi menurut prinsip iman, kita tidak perlu memperhatikan perintah hukum Taurat. Setiap orang yang berpikir demikian telah dibius oleh ajaran-ajaran yang terdapat dalam sebagian kekristenan hari ini. Kita harus cermat. Sekali lagi saya katakan, setelah kita diselamatkan, kita perlu menempuh suatu kehidupan dengan standar yang jauh lebih tinggi daripada standar hu-kum Taurat lama. Standar kita harus lebih tinggi daripada tuntutan hukum Taurat. Hukum Taurat melarang kita membunuh orang, tetapi kita bahkan tidak boleh marah ter-hadap orang. Bahkan jika kita mengatai saudara kita “kafir”, suatu penghinaan, atau “jahil”, kata kutukan yang menun-jukkan suatu pemberontakan, kita akan berada dalam ba-haya hukuman. Kita tidak hanya tidak boleh membunuh saudara kita, bahkan jika kita menyebut mereka “kafir” atau “jahil”, kita akan berada dalam kesulitan.
MASALAH AMARAH DAN HAWA NAFSU
Dalam Matius 5 Tuhan Yesus mengatakan tentang pem-bunuhan dan perzinaan. Pembunuhan menyangkut amarah kita dan perzinaan menyangkut nafsu kita. Amarah dan nafsu senantiasa merusak dan mempersulit kita. Jika kita ini batu, kita takkan disulitkan oleh kedua hal ini. Tidak peduli betapa kerasnya Anda menyakiti, menghina, atau me-mukul, batu itu tidak akan bereaksi, sebab batu itu tidak mempunyai perasaan. Lagi pula, batu tidak memiliki hawa nafsu. Maka, tidak akan tergoda oleh nafsu. Tetapi setiap hari kita terganggu oleh amarah kita atau dicobai oleh hawa nafsu kita. Alangkah mudahnya kita tersinggung atau sakit hati! Beberapa di antara kita mungkin ada yang tersinggung paling sedikit sepuluh kali sehari. Anda mungkin tersinggung oleh suami atau istri Anda, oleh anak-anak Anda, oleh te-tangga Anda, atau oleh besan Anda. Bahkan Anda mungkin tersinggung oleh sepatu Anda, kompor, atau teko teh Anda. Saya tahu beberapa saudari yang pernah tersinggung oleh dapur mereka. Seolah-olah amarah mereka tiada habisnya. Yang lain terganggu oleh hawa nafsu. Karena itu, saya te-lah menunjukkan dalam satu berita Pelajaran-Hayat Kitab Kejadian bahwa Anda tidak boleh berada sendirian dengan seorang yang berlawanan jenis dalam suatu jangka waktu. Jika Anda berbuat demikian, Anda akan tergoda oleh nafsu Anda yang besar.
Untuk dapat menempuh suatu kehidupan dengan stan-dar moral yang lebih tinggi daripada standar hukum Taurat lama, Anda harus mengatasi amarah dan hawa nafsu Anda. Boleh jadi Anda mengatakan bahwa hal ini tidak mudah Anda lakukan. Benar, tidak mudah. Itulah sebabnya Anda perlu hayat lain. Betapa kita perlu tinggal bersama Kristus! Kita harus berkontak dengan Dia tidak hanya hari demi hari, bah-kan jam demi jam. Karena temperamen dan hawa nafsu di dalam kita, kita perlu tetap dalam persekutuan yang terus-menerus dengan Dia. Anda harus menyadari bahwa Anda bukan kayu atau batu. Jika Anda kayu atau batu, Anda ti-dak akan bermasalah dengan temperamen dan hawa nafsu. Tetapi karena Anda orang yang hidup, Anda memilki dua hal ini di dalam Anda. Tidakkah Anda mempunyai temperamen dan hawa nafsu di dalam Anda? Setiap saat kita dapat ter-sandung oleh temperamen kita atau tergoda oleh hawa nafsu kita. Berhati-hatilah! Berjaga-jaga dan berdoalah mengenai dua “setan” ini, temperamen kita dan hawa nafsu kita. Se-telah kita diselamatkan menurut prinsip iman, kita perlu menempuh suatu kehidupan yang lebih tinggi, kehidupan dengan standar yang paling tinggi. Kehidupan dengan stan-dar yang paling tinggi ini ialah kehidupan yang mengatasi temperamen dan hawa nafsu kita.
PERINGATAN MENGENAI HUKUMAN KAUM BERIMAN
Minggu demi minggu banyak orang yang dibius oleh ajar-an kekristenan tertentu. Ajaran-ajarannya tidak memper-ingatkan orang-orang Kristen atau memberi tahu mereka akan kebenaran. Banyak orang tidak diperingatkan bahwa mereka akan menghadapi masalah karena amarah, meman-dang rendah atau mengatai orang, atau mengumbar hawa nafsu mereka. Padahal bahkan memandang rendah sedikit saja saudara kita, kita akan bertanggung jawab atas hu-kuman (Mat. 5:22). Ini bukan berarti kita akan binasa. Ti-dak seorang pun yang telah beroleh selamat akan binasa, sebaliknya tidak seorang pun yang telah hilang akan ber-syarat berdiri di hadapan takhta penghakiman Kristus. Ha-nya mereka yang telah diselamatkan berdasarkan prinsip iman yang bersyarat berada di sana. Tetapi janganlah me-ngira bahwa Anda mustahil mempunyai masalah di depan takhta penghakiman Kristus. Anda mungkin berkata kepada Tuhan, “Aku tidak pernah merampok bank atau membunuh seseorang. Satu-satunya perkara yang aku lakukan hanyalah marah-marah.” Tetapi perbuatan yang hanya marah-marah saja dapat membawa Anda ke dalam hukuman.
Dalam Matius 5:22 penghakiman kaum beriman pada takhta peradilan Kristus diumpamakan oleh tiga macam peng-hakiman menurut latar belakang umat Yahudi: penghakiman di pintu gerbang kota, penghakiman di hadapan Mahkamah Agung, dan penghakiman neraka yang menyala-nyala. Ke-tiga macam penghakiman ini menunjukkan satu pengha-kiman pada takhta penghakiman Kristus. Kita sebagai orang Kristen yang telah diselamatkan berdasarkan prinsip iman, tidak akan diadili di depan takhta putih yang dikatakan dalam Wahyu 20. Sebaliknya kita akan diadili di depan takh-ta penghakiman Kristus selama seribu tahun sebelum peng-hakiman pada takhta putih. Penghakiman pada takhta putih besar diperuntukkan bagi orang-orang kafir mengenai ke-binasaan mereka yang kekal. Tetapi penghakiman pada takhta penghakiman Kristus diperuntukkan bagi kaum ber-iman, entah mereka akan mendapatkan pahala atau hukuman.
Walaupun banyak di antara kalian berada dalam ke-kristenan selama bertahun-tahun, kalian mungkin tidak pernah mendengar berita yang demikian jelas. Pernahkah Anda mendengar suatu khotbah yang memberi tahu Anda bahwa sekalipun Anda diselamatkan oleh iman melalui ka-runia, Anda harus tetap menempuh suatu kehidupan yang memiliki standar yang lebih tinggi daripada standar yang dituntut oleh hukum Taurat lama! Pernahkah Anda diberi tahu bahwa Anda harus menempuh suatu kehidupan yang tidak marah-marah atau yang tidak memandang perempu-an serta menginginkannya? Hukum Taurat yang lebih tinggi, hukum Taurat Kerajaan Surga, tidak hanya menyentuh per-buatan lahiriah, tetapi juga motivasi batiniah. Alangkah tingginya standar hukum Taurat ini! Peringatan Tuhan ten-tang standar hukum Taurat ini sangat serius. Sampai-sampai Ia mengatakan dimasukkan ke dalam neraka menyala-nyala. Sekali lagi saya berkata, ini bukan berarti bahwa kaum beriman akan binasa. Kekristenan yang kasihan hanya mem-beri tahu orang bahwa mereka akan pergi ke surga atau neraka. Tetapi Alkitab dengan jelas mengatakan bahwa se-telah kita diselamatkan menurut prinsip iman, kita harus menggenapi semua tuntutan hukum Taurat baru. Hukum Taurat itu bukan lagi prinsip berdasarkan apa kita disela-matkan, tetapi merupakan suatu standar moral yang perlu kita pelihara. Prinsip hukum Taurat telah dihapus, tetapi moralitas yang dituntut oleh perintah hukum Taurat tetap ada dan telah ditingkatkan. Janganlah mengira bahwa kita tidak perlu lagi memperhatikan moralitas kita, karena kita tidak beroleh selamat di bawah hukum Taurat. Ini suatu konsepsi yang mutlak salah. Butir penting dalam perintah yang Tuhan umumkan ialah bahwa kita tidak perlu meme-lihara hukum Taurat untuk keselamatan kita, tetapi sete-lah kita diselamatkan melalui iman, kita harus mempunyai standar moralitas yang jauh lebih tinggi daripada standar hukum Taurat lama.
DIPAKSA TINGGAL BERSAMA KRISTUS
Setelah mendengar berita ini, Anda mungkin mengata-kan bahwa Anda tidak dapat melakukannya. Sangatlah ba-ik bila kita berkata bahwa kita tidak dapat melakukannya, sebab dengan demikian berarti kita sadar betapa kita me-merlukan Kristus, yang telah menggantikan kita, untuk ma-suk ke dalam kita dalam kebangkitan menjadi hayat kita. Peringatan Tuhan dalam Matius 5 harus memaksa kita tinggal bersama Kristus. Kita harus menempuh kehidupan sehari-hari dengan takut dan gentar. Kita perlu berkata, “Aku harus menghampiri Kristus yang telah bangkit. Aku harus bekerja sama dengan Dia. Aku harus percaya kepada-Nya dan bersandar kepada-Nya. Karena standar moralitas Kerajaan Surga lebih tinggi bagiku untuk melakukannya, aku harus tetap bersama dengan Tuhan. Jika aku marah-ma-rah terhadap saudaraku, aku berkemungkinan dibakar dalam api. Betapa seriusnya hal ini!”
Ketika beberapa guru Kristen mendengar ini, mereka mungkin berkata, “Adalah suatu bidah bila mengajarkan bahwa orang yang telah beroleh selamat akan dibakar dalam api”. Bacalah Matius 5 sekali lagi. Pasal ini bukan kata-kata yang dikatakan kepada orang yang tidak percaya, melainkan perkataan yang diberikan kepada murid-murid, orang-orang yang telah beroleh selamat, anak-anak Allah. Jika mereka tidak mengendalikan amarah mereka, mereka akan dilemparkan ke dalam api yang menyala-nyala. Bebe-rapa orang mungkin mengatakan, “Api yang menyala-nyala ini bukan lautan api”. Janganlah bertengkar tentang api apa ini, sebab api yang kecil pun sudah dapat menyebabkan kita sengsara. Hari Minggu demi hari Minggu, begitu ba-nyak orang Kristen dipenuhi dengan ajaran-ajaran yang berlapiskan gula. Mereka tidak pernah mendengar perka-taan yang jelas dari Matius 5. Kita bersyukur kepada Tuhan karena belas kasihan-Nya, karunia-Nya, dan iman-Nya yang telah Ia berikan kepada kita sehingga melalui-Nya kita diselamatkan. Alangkah ajaibnya kita diselamatkan karena iman! Tetapi sebagai umat yang telah diselamatkan, kita harus mendengarkan perkataan peringatan yang serius ini, yaitu marah-marah terhadap saudara kita dapat menyebab-kan kita dibakar dalam api neraka.
Pengertian dibakar oleh api ini terdapat dalam 1 Korintus 3 dan Ibrani 6. 1 Korintus 3:15 mengatakan, “Jika pe-kerjaannya terbakar, ia akan menderita kerugian; ia sendiri akan diselamatkan, tetapi seperti dari dalam api.” Sekali-pun orang demikian akan diselamatkan, namun ia akan di-selamatkan seperti dari dalam api. Ibrani 6:7-8 mengatakan,
“Sebab tanah yang menghisap air hujan yang sering turun ke atasnya dan menghasilkan tumbuh-tumbuhan yang ber-guna bagi mereka yang mengerjakannya, menerima berkat dari Allah; tetapi jikalau menghasilkan semak duri dan rumput duri, tanah itu tidak berguna dan sudah dekat pada kutuk yang berakhir dengan pembakaran.” Di sini kaum beriman diumpamakan seperti tanah yang mengha-silkan tumbuh-tumbuhan yang menerima berkat Allah atau menghasilkan semak duri dan rumput duri yang akan di-bakar. Betapa dahsyat melewati pembakaran yang sedemi-kian! Lagi pula, dalam Wahyu 2:11 Tuhan berkata, “Siapa yang menang, ia tidak akan menderita apa-apa oleh kema-tian yang kedua.” Perkataan ini mengandung arti bahwa orang Kristen yang kalah/gagal akan menderita di dalam ke-matian yang kedua, lautan api (Why. 20:15). Menderita dalam kematian yang kedua ialah terjamah oleh lautan api. Tentu saja kita tidak mau terjamah oleh api ini.
HUKUMAN SEZAMAN
Masalah penghakiman kaum beriman dan penderitaan dalam api ini bukan ajaran aliran Calvin atau aliran Arme-nian. Menurut aliran Calvin, begitu kita diselamatkan, kita diselamatkan selamanya dan tidak ada masalah apa-apa lagi. Dalam satu pengertian, aliran Calvin memang benar, sebab begitu kita diselamatkan, kita selamanya beroleh selamat. Namun, kita tidak dapat mengatakan tidak ada masalah apa-apa lagi. Ada kemungkinan dibakar dalam api. Menu-rut aliran Armenian ada sebagian orang mungkin disela-matkan pada pagi hari dan kehilangan keselamatan mereka pada malam hari itu juga. Keselamatan mereka naik dan turun seperti tangga elektronik. Baik aliran Calvin maupun aliran Armenian keduanya tidak mengikuti firman murni Alkitab. Alkitab mewahyukan bahwa kita diselamatkan sam-pai kekal, tetapi setelah kita diselamatkan, kita perlu meng-atasi semua perkara dosa. Jika tidak, kita akan didisiplin-kan, dihukum. Bila Anda tidak bertobat dan mengakui dosa Anda, dan tetap dalam perzinaan, pada zaman yang akan datang Anda akan dimasukkan dalam api dan dibakar, bukan untuk kebinasaan kekal, melainkan sebagai suatu hukuman sezaman.
MENGHINDARI TEMPERAMEN
DAN HAWA NAFSU KITA
Zaman kita ini adalah zaman percabulan dan perzi-naan. Setiap negara penuh dengan amoralitas. Mengenai masalah ini, begitu banyak orang telah terbius oleh “bawang putih” dan telah kehilangan perasaan mereka tentang dosa. Kiranya perkataan ini membuat kita sadar! Kita harus menjauhi arus kecondongan hari ini. Tidak ada yang lebih menghina Allah daripada perzinaan yang merusak umat ciptaan Allah menurut citra-Nya. Kita semua harus meng-hindari temperamen kita dan hawa nafsu kita. Jauhkanlah hawa nafsu Anda! Marah-marah dan mengumbar hawa naf-su kita bukan suatu hal yang tidak berarti. Mengumbar perkara-perkara ini dapat menyebabkan kita terbakar. Jadi, kita perlu memperhatikan perkataan yang jelas ini, suatu perkataan yang akan memaksa kita tinggal dekat Kristus. Kita perlu berdoa, “Tuhan, aku mempunyai temperamen dan hawa nafsu di dalamku. Tetapi, Tuhan, aku bersyukur kepada-Mu bahwa aku memiliki Tuhan di dalam rohku. Tuhan, aku tidak mau tinggal bersama hawa nafsu jas-maniku dan temperamen jiwaku. Aku ingin tinggal di da-lam rohku bersama-Mu. Ya, Tuhan Yesus terkasihku.” Inilah keselamatan kita, kelepasan kita, dan kekudusan kita. Siang dan malam kita harus tinggal bersama Tuhan Yesus dalam roh kita, memandang kepada-Nya, berkontak dengan Dia, serta mengandalkan-Nya.
Temperamen, problem setiap orang Kristen, seperti se-ekor musang: tersembunyi, licik, dan selalu ada. Kita semua harus berjaga-jaga terhadapnya. Hawa nafsu juga adalah sa-tu problem yang besar. Maaf saya mengatakan bahkan di antara kaum beriman pun terdapat banyak perkara percabul-an. Betapa memalukan! Tidak ada yang lebih memalukan daripada percabulan atau perzinaan di antara kaum beriman. Ini merusak umat ciptaan Allah, kehidupan gereja, dan ke-saksian gereja. Berulang kali Rasul Paulus memperingat-kan kita bahwa orang yang cabul, orang berzina tidak akan mendapat bagian dalam Kerajaan Allah (1 Kor. 6:9-10; Gal. 5:19-21; Ef. 5:5). Kaum beriman yang melakukan perzinaan atau percabulan itu tidak berbagian dalam Kerajaan Surga. Umat kerajaan hendaklah mempunyai standar kebenaran yang tertinggi. Janganlah marah-marah atau memandang perempuan serta menginginkannya. Waspadalah! Anda per-lu mempertimbangkan perkara-perkara ini dengan serius dan menanggulangi motivasi itu sampai pada akar-akarnya. Perkataan ini bukan suatu ancaman, melainkan suatu peringatan yang memaksa kita tinggal dekat dengan Kristus.
Syukur kepada Tuhan bahwa kita mempunyai Injil Matius dan Injil Yohanes. Kita perlu mengandalkan hayat yang diwahyukan dalam Injil Yohanes. Haleluya, kita me-miliki hayat sedemikian! Hayat ini ialah hayat kebangkit-an, hayat kemenangan. Kristus telah menang dan kini da-lam kebangkitan-Nya, Ia tinggal di dalam kita. Inilah hayat yang mampu memenuhi tuntutan tertinggi Kerajaan Surga.
BERPERILAKU (HIDUP) MENURUT ROH
Kita harus sangat jelas tentang fakta bahwa pada ha-kikatnya kita tidak memelihara hukum Taurat, tetapi kita berperilaku menurut roh. Roma 8:4 mengatakan bahwa jika kita berperilaku menurut roh, dengan spontan kita meng-genapkan semua kebenaran tuntutan hukum Taurat. Kita bukan berusaha memelihara hukum Taurat, sebab semakin kita mencoba menaatinya semakin kita melanggarnya. Ini diwahyukan dan dicatat sepenuhnya dalam Roma 7. Hari ini kita tidak di bawah hukum Taurat atau peraturan un-tuk menaati hukum Taurat. Kita bebas dari hukum Taurat, dan kini kita berperilaku menurut roh. Di dalam roh ter-dapat Raja, Kristus, yang adalah hayat kebangkitan kita. Ketika kita berperilaku menurut roh, kita menggenapkan tuntutan hukum Taurat tertinggi.
Saya percaya bahwa kini kita sudah mengerti jelas tentang hukum Taurat. Kita dapat memberi tahu orang bah-wa prinsip hukum Taurat telah berlalu, tetapi perintah hu-kum Taurat itu masih tetap ada dan telah ditingkatkan. Sekalipun kita tidak dapat memenuhi standar tuntutan yang lebih tinggi ini, namun kita memiliki hayat kebangkitan dalam roh kita. Karena itu kita tidak perlu memelihara hu-kum Taurat dalam arti berjuang sendiri, melainkan kita harus berperilaku menurut roh. Ketika kita berperilaku me-nurut roh, spontan kita mengenapkan semua tuntutan hu-kum Taurat dan mempunyai standar moral tertinggi. Inilah kesaksian Yesus, kesaksian gereja. Inilah kehidupan gereja yang wajar, realitas Kerajaan Surga.