PENGUMUMAN KONSTITUSI KERAJAAN (7)
Dalam berita ini kita akan membicarakan Matius 5:31-48 yang mencakup empat hukum Taurat. Dalam ayat 21-30 Tuhan membicarakan dua hukum Taurat yang telah dileng-kapi, hukum Taurat mengenai pembunuhan dan hukum Taurat mengenai perzinaan. Tetapi keempat hukum Taurat dalam bagian ini, hukum Taurat tentang perceraian, sumpah, melawan orang yang jahat, dan mengasihi musuh kita, se-muanya telah diubah. Apa yang diperintahkan Raja dalam ayat 21-30 sebagai hukum Taurat baru kerajaan meleng-kapi hukum Taurat zaman lama; sedangkan yang diumum-kan oleh Raja dalam ayat 31-48 sebagai hukum Taurat baru kerajaan, menggantikan hukum Taurat zaman lama.
F. Mengenai Perceraian
1. Hukum Taurat Lama — Menceraikan dengan Surat Cerai
Marilah kita terlebih dulu melihat perubahan hukum Taurat mengenai perceraian. Ayat 31 mengatakan,“Telah difirmankan juga: Siapa yang menceraikan istrinya harus memberi surat cerai kepadanya.” Menurut hukum Taurat lama, seseorang dapat menceraikan istrinya hanya dengan memberikan surat cerai. Hukum Taurat zaman lama ten-tang perceraian ditetapkan karena kekerasan hati manusia, bukan menurut rencana Allah sebermula (Mat. 19:7-8). Pe-rintah baru Raja memulihkan perkawinan pada keadaan yang sebermula sebagaimana direncanakan oleh Allah (Mat. 19:4-6).
2. Hukum Taurat Baru — Tidak Boleh Bercerai Kecuali dalam Kasus Perzinaan
Ayat 32 mengatakan,“Tetapi Aku berkata kepadamu: Setiap orang yang menceraikan istrinya kecuali karena zina, ia menjadikan istrinya berzina; dan siapa yang kawin dengan perempuan yang diceraikan, ia berzina.” Ikatan per-kawinan hanya dapat diputuskan oleh kematian (Rm. 7:3) atau perzinaan. Karena itu, bercerai dengan alasan apa pun berarti berzina.
Menurut firman Tuhan Yesus, alasan satu-satunya un-tuk bercerai ialah perzinaan. Hanya dua perkara dapat me-mutuskan tali perkawinan: kematian dari salah satu pihak atau perzinaan, percabulan. Jika satu pihak melakukan per-zinaan, tali perkawinan putus. Inilah prinsipnya. Karena itu, Tuhan Yesus mengatakan bahwa hendaklah tidak ada per-ceraian, kecuali dalam hal perzinaan. Tetapi Anda jangan mengambil kesempatan ini sebagai alasan untuk kawin lagi hanya karena suatu perbuatan percabulan telah terjadi. Ini pun suatu perkara motivasi. Jika mungkin, pihak yang me-lukai hendaknya dimaafkan. Namun, jika pihak yang salah menolak untuk bertobat dan tetap hidup dalam dosa macam ini atau kawin dengan orang lain, masalahnya akan berbe-da. Dalam masalah yang sedemikian ini, tali perkawinan itu putus dan pihak yang lainnya bebas.
Dalam rencana perkawinan semula, Allah menentukan seorang istri untuk seorang suami. Tetapi karena kelemah-an dan kekerasan hati umat Israel, ketika hukum Taurat diberikan, Musa memberikan izin kepada mereka dengan surat cerai. Tetapi sekarang, oleh Kerajaan Surga yang akan datang, hukum Taurat mengenai perceraian ini telah di-ubah, dan masalah perkawinan dipulihkan kembali pada maksud tujuan Allah yang semula. Pada mulanya Allah tidak menciptakan dua atau tiga Hawa untuk Adam, sehingga ia dapat bercerai sekali atau lebih. Tidak, hanya ada seorang suami dan seorang istri. Karena itu Tuhan Yesus, sebagai Raja Kerajaan Surgawi memulihkan masalah perkawinan kepada asal mulanya.
Di sini saya ingin berkata kepada orang-orang muda. Di negeri ini terdapat banyak sekali perceraian setiap tahun. Bahkan ada yang telah menikah beberapa kali. Be-tapa menyedihkan! Anak Allah tidak ada yang boleh berce-rai. Ini serius sekali! Cerai dan kawin lagi berarti mela-kukan perzinaan. Dalam berita sebelum ini, kita nampak betapa seriusnya perzinaan. Karena inilah saya ingin me-nyampaikan suatu peringatan kepada orang-orang muda yang belum menikah, “Janganlah terjun ke dalam perni-kahan secara sembarangan. Hendaklah Anda berdoa kepada Tuhan dan menunggu pimpinan-Nya yang jelas. Jangan se-kali-kali terseret oleh nafsu daging dan keinginan Anda. Jika Anda berbuat demikian, Anda akan menyesalinya kemudian, sebab nafsu daging dan keinginan itu takkan berakhir. Sebelum Anda menikah, kedua mata Anda harus dibuka lebar-lebar untuk mempertimbangkan perkara itu dengan saksama. Tetapi setelah Anda menikah, mata Anda harus ditutup. Ada sebuah pepatah yang mengatakan bahwa cinta membuat Anda buta, tetapi pernikahan mencelikkan mata Anda. Namun kita perlu mengubah pepatah ini. Mata kita harus dibuka sebelum menikah dan ditutup setelah me-nikah. Anak-anak muda, sebelum Anda menikah, mintalah kepada Tuhan untuk mencelikkan mata Anda agar dapat melihat setiap aspek situasinya. Tetapi setelah Anda meni-kah, Anda wajib menutup mata Anda dan menjadi buta. Jadilah istri yang buta atau suami yang buta. Pikirkan saja bahwa suami Anda atau istri Anda begitu simpatik. Jika Anda berbuat demikian, tidak akan ada perceraian.”
Saya heran setiap kali mendengar seorang saudara dan saudari setelah saling mengenal tidak lama kemudian me-nikah. Jangan menikah secara tergesa-gesa atau secara kilat. Tidak ada pernikahan tergesa-gesa yang asalnya dari pimpinan Tuhan. Pernikahan adalah suatu perkara yang membutuhkan banyak doa. Pernikahan adalah sesuatu hal yang menuntut Anda untuk mempersembahkan diri Anda kepada Tuhan. Persembahkanlah diri Anda dan pasangan Anda kepada Tuhan. Persembahkanlah diri Anda di atas mezbah sebagai kurban bakaran kepada Tuhan untuk perni-kahan Anda yang akan datang. Setelah Anda mempersem-bahkan diri Anda kepada Tuhan, carilah pimpinan-Nya dan menunggu Dia sejangka waktu. Saya menganjurkan Anda untuk menunggu paling tidak satu bulan. Janganlah ter-gesa-gesa. Sebagai seorang tua dengan banyak pengalaman, saya menasihatkan Anda untuk mencurahkan banyak waktu dalam masalah ini. Bahkan jika Anda menikah setahun ke-mudian, tidak akan banyak berbeda. Jika menikah dengan seseorang, itu adalah dari Tuhan, Tuhan akan memperta-hankan orang itu bagi Anda. Anda tidak perlu buru-buru. Lagi pula jangan mencari-cari sendiri, pilihan Anda sendiri. Puaslah dengan kehendak Tuhan dan dengan waktu Tuhan. Ini akan menyelamatkan Anda dari kemungkinan bercerai.
Sekali lagi saya katakan, begitu Anda menikah, Anda harus menjadi buta. Berkat melimpah kepada suami dan istri yang buta. Istri yang mencoba memandang jelas-jelas suaminya akan menderita, tetapi istri yang tidak mencoba memandang jelas-jelas akan menikmati hidup. Bagi dia, la-ngit itu biru, matahari bercahaya, dan udara segar. Ia tidak mencari-cari kesalahan suaminya. Ia semata-mata memuji Tuhan karena suaminya.
G. Mengenai Sumpah
1. Hukum Taurat Lama — Jangan Bersumpah Palsu,
Melainkan Peganglah Sumpahmu di Depan Tuhan
Ayat 33 mengatakan,“Kamu telah mendengar pula yang difirmankan kepada nenek moyang kita: Jangan bersumpah palsu, melainkan peganglah sumpahmu kepada Tuhan.” Ini hukum Taurat Lama mengenai sumpah.
2. Hukum Taurat Baru — Jangan Sekali-kali Bersumpah
Dalam ayat 34 dan 36 kita nampak hukum Taurat baru Tuhan tentang sumpah: jangan sekali-kali bersumpah. Hukum Taurat baru kerajaan melarang umat kerajaan ber-sumpah dengan cara apa pun, demi surga, demi bumi, demi Yerusalem, atau demi kepala mereka, karena langit, bumi, Yerusalem, dan kepala mereka tidak berada di bawah ken-dali mereka, melainkan di bawah kendali Allah. Kita tidak boleh bersumpah baik demi langit maupun demi bumi, sebab semuanya bukan milik kita. Demikian pula, kita tidak bo-leh bersumpah demi Yerusalem, sebab sebagai kota Sang Raja Agung, itu bukan wilayah kita. Kita bahkan tidak boleh bersumpah demi kepala kita, sebab kita “tidak berkuasa memutihkan atau menghitamkan sehelai rambut pun”. Se-muanya ini — langit, bumi, Yerusalem, dan bahkan ram-but kepala kita — bukan berada di bawah kendali kita. Kita bukan apa-apa dan kita tidak mengendalikan apa pun.
Dalam ayat 37 Tuhan mengatakan, “Jika ya, hendaklah kamu katakan: Ya, jika tidak, hendaklah kamu katakan: Ti-dak. Apa yang lebih daripada itu berasal dari si jahat.” Perkataan umat kerajaan harus sederhana dan benar: Jika ya, katakanlah ya; jika tidak, katakanlah tidak. Umat ke-rajaan tidak seharusnya mencoba meyakinkan orang dengan banyak bicara. Mereka yang jujur tidak banyak bicara. Te-tapi waspadalah terhadap orang yang banyak bicara; boleh jadi mereka penipu. Penipu itu sangat banyak bicara, sela-lu memberi alasan dan argumentasi untuk perkara-perkara. Tetapi seorang yang jujur selalu singkat. Lagi pula, kita harus menyadari bahwa banyak bicara dalam hadirat Allah tidak membuat Tuhan senang. Ketika kita datang kepada Tuhan, kita harus datang kepada-Nya dalam kejujuran, mengatakan sesuatu kepada-Nya secara sederhana dan singkat.
Dalam ayat 37 Tuhan mengatakan bahwa apa yang lebih daripada itu berasal dari si jahat. Di sini kita sampai pa-da butir yang penting dan menentukan: dalam pembicara-an kita, si jahat mungkin hadir. Ketika kita mengatakan kata-kata yang berlebihan dari yang diperlukan, kata-kata itu bukan dari kita, melainkan dari si Iblis, si jahat. Ini menunjukkan bahwa dalam pembicaraan kita, si jahat be-serta dengan kita. Hal ini khususnya merupakan kenyataan dalam kehidupan pernikahan. Walau kita mungkin tidak banyak berbicara dengan orang lain, namun antara suami dan istri mudah sekali berbicara berlebihan. Jika Anda ingin menghindari pernikahan yang kasihan, biarlah jangan ada pembicaraan yang kendur antara Anda dan suami atau istri Anda. Waspadalah! Ketika Anda berbicara, si jahat mungkin bersama Anda. Ini bukan perkataan saya, melainkan per-kataan Tuhan. Firman Tuhan dalam ayat ini adalah bukti kuat yang mengatakan bahwa si jahat mencari kesempat-an untuk mengekspresikan dirinya melalui pembicaraan kita yang berlebihan. Jangan terlalu banyak bicara. Kata-kanlah sebanyak yang diperlukan. Jangan menyimpang jauh, jika Anda menyimpang lebih jauh daripada yang diperlu-kan, si jahat akan diekspresikan. Jika Anda mengikuti nasihat ini, Anda akan menjadi seorang suami atau istri yang sangat bahagia. Namun, bila Anda terlalu banyak bi-cara, Anda akan menjumpai banyak kesulitan. Ini akan membuka tutup lubang yang tak berdasar dan mengizinkan setan-setan keluar. Kita harus belajar hanya membicarakan apa yang perlu. Jangan berusaha meyakinkan orang dengan banyak kata-kata. Kata-kata itu tidak dapat diandalkan, sebaliknya adalah kepalsuan yang berasal dari si jahat.
H. Mengenai Melawan Orang yang Jahat
1. Hukum Taurat Lama — Mata Ganti Mata, Gigi Ganti Gigi
Kini kita membicarakan hukum Taurat ketiga yang di-ubah oleh Tuhan, hukum Taurat mengenai melawan orang yang jahat. Ayat 38 mengatakan,“Kamu telah mendengar yang difirmankan: Mata ganti mata dan gigi ganti gigi.” Ini hukum Taurat lama.
2. Hukum Taurat Baru — Jangan Melawan
Dalam ayat 39 Tuhan berkata, “Tetapi Aku berkata ke-padamu: Janganlah kamu melawan orang yang berbuat ja-hat kepadamu, melainkan siapa pun yang menampar pipi kananmu, berilah juga kepadanya pipi kirimu.” Hukum Taurat baru bukan melawan orang yang jahat. Dalam ayat ini Tuhan mengatakan bahwa siapa pun yang menampar pipi kananmu, berilah juga kepadanya pipi kirimu. Melaku-kan hal ini menunjukkan tidak adanya perlawanan. Ayat 40 mengatakan,“Kepada orang yang hendak mengadukan engkau karena mengingini bajumu, serahkanlah juga jubah-mu.” Jika seseorang mengingini baju Anda, berilah dia jubah Anda juga. Ini membuktikan bahwa Anda tidak melawan. Dalam ayat 41 Tuhan berkata, “Siapa pun yang memaksa engkau berjalan sejauh satu mil, berjalanlah bersama dia sejauh dua mil.” Memberikan pipi yang lain kepada penam-par, menyerahkan jubah kepada orang yang menginginkan baju kita, dan menempuh mil yang kedua bersama orang yang memaksa, membuktikan bahwa umat kerajaan memi-liki kekuatan untuk menanggung derita dan tidak melawan, kekuatan untuk berjalan tidak dalam daging atau jiwa de-mi kepentingan mereka sendiri, tetapi dalam roh untuk Kerajaan.
Misalnya, seseorang datang kepada Anda dan menghen-daki baju Anda, dan Anda memberikan mantel Anda pula. Mungkin Anda mampu memberikan sepuluh mantel kepa-danya. Hal ini tidak bergantung pada masalah cukup atau tidaknya uang Anda, melainkan bergantung pada mau ti-daknya temperamen Anda untuk melakukannya. Jika sese-orang menghendaki baju Anda, amarah Anda mungkin segera timbul. Jadi, masalahnya bukan baju atau mantel, tetapi temperamen Anda. Prinsipnya sama dengan ditampar pipi kanan atau dipaksa berjalan satu mil.
Melawan dengan mata ganti mata dan gigi ganti gigi berarti Anda melampiaskan amarah Anda. Di sini Tuhan me-ngatakan bahwa kita tidak dapat memuaskan temperamen kita. Jangan melampiaskan “musang” temperamen kita, kita harus membunuhnya. Janganlah menanggulangi orang yang meminta kepada Anda, tanggulangilah temperamen Anda. Masalahnya bukan lawan Anda, melainkan tempera-men Anda. Tuhan mengizinkan seseorang memaksa Anda berjalan sebagai pencobaan untuk menyingkapkan di mana Anda berada, untuk membuktikan bahwa “musang” tempe-ramen Anda masih mendekam di dalam Anda. Kita sebagai manusia rohani, bahkan umat kerajaan, tetapi temperamen kita masih tersembunyi di dalam kita dan perlu disingkap-kan. Mereka yang meminta Anda itu telah menyingkapkan “musang” kecil ini. Jika ada seseorang meminta baju Anda, Anda mungkin mengatakan, “Aku tidak berhutang apa-apa kepadamu! Mengapa engkau datang kepadaku?” Janganlah menyalahkan orang yang meminta, Tuhan telah mengutus-nya — bunuh saja “musang” temperamen Anda. Jangan ma-rah-marah, katakanlah kepadanya, “Karena Anda menghen-daki bajuku, aku akan memberikan mantelku juga.” Ini mem-buktikan bahwa temperamen Anda telah dibunuh. Seluruh umat kerajaan harus dapat mengatakan, “Tidak peduli be-tapa banyaknya tuduhan yang tidak benar yang Anda tim-pakan kepadaku, amarahku tidak terbangkitkan. Aku tetap mengasihimu dan aku mau membagikan segala milikku ke-padamu. Jika Anda menghendaki bajuku, aku akan dengan rela memberimu mantelku juga.” Sikap umat kerajaan hen-daklah selalu seperti ini.
Sekali lagi saya katakan, masalah di sini bukan peri-hal uang, melainkan temperamen kita. Semua masalah yang terdapat dalam ayat 39-41 berkenaan dengan temperamen kita. Para jutawan mampu memberikan ribuan dolar. Te-tapi mereka sering menunjukkan amarah mereka kepada seorang supir taksi hanya karena uang dua puluh lima sen. Uangnya tidak berarti apa-apa, temperamennya yang men-jadi masalah. Kita, umat kerajaan, haruslah mengatasi tem-peramen kita.
Dalam ayat 42 Tuhan mengatakan, “Berilah kepada orang yang meminta kepadamu dan janganlah menolak orang yang mau meminjam dari kamu.” Memberi kepada orang yang meminta dan tidak menolak orang yang mau memin-jam membuktikan bahwa umat kerajaan tidak mementing-kan barang materi dan tidak dikuasai oleh barang itu. Namun, masalah yang sesungguhnya bukanlah kekayaan duniawi. Memberi kepada yang meminta atau yang ingin meminjam telah menjamah diri kita. Tuhan tidak berkata bahwa kita seharusnya tidak memiliki daya pembeda dan berlaku secara bodoh terhadap harta duniawi kita. Tuhan memberi tahu kita agar kita melampaui benda-benda ma-teri maupun temperamen kita. Jangan sekali-kali kita ter-umbar dalam temperamen kita oleh perkara macam ini ataupun terjamah oleh benda-benda materi. Inilah sikap pe-menang umat kerajaan. Ini bukan berarti bahwa kita ter-lalu royal atau tidak berhati-hati dalam mengatur keuang-an. Sekalipun Anda mungkin sangat berhati-hati dalam cara menggunakan uang, tetapi ketika saat-saat yang be-gitu sulit menimpa Anda, seperti yang diumpamakan da-lam ayat 42, Anda harus melampaui benda-benda materi dan temperamen Anda. Tidak ada satu permintaan yang da-pat membangkitkan amarah Anda. Hukum Taurat lama tidak menyinggung amarah orang atau hati orang. Tetapi hukum Taurat baru, hukum Taurat yang telah diubah, me-nyentuh baik temperamen kita maupun hati kita.
I. Mengenai Musuh
1. Hukum Taurat Lama — Kasihilah Sesamamu dan Bencilah Musuhmu
Kini kita melihat hukum Taurat terakhir yang diubah oleh Tuhan, hukum Taurat mengenai musuh. Ayat 43 me-ngatakan, “Kamu telah mendengar yang difirmankan: Ka-sihilah sesamamu manusia dan bencilah musuhmu.” Dikata-kan secara sah, hukum Taurat lama itu adil dan benar, sebab sesama yang baik patut mendapatkan kasih kita dan musuh patut kita benci. Jadi, mengasihi sesama dan mem-benci musuh itu benar dan adil.
2. Hukum Taurat Baru — Kasihilah Musuhmu
dan Berdoa bagi Orang yang Menganiaya Kamu
Ayat 44 mengatakan,“Tetapi Aku berkata kepadamu: Kasihilah musuhmu dan berdoalah bagi mereka yang meng-aniaya kamu.” Sekali lagi, ini adalah masalah yang menja-mah diri manusia kita. Anda mengasihi sesama Anda ka-rena mereka baik menurut perasaan Anda. Sesama Anda sesuai dengan perasaan Anda, namun musuh Anda tidak. Malahan temperamen Anda diganggu. Karena itu, perkara mengasihi musuh kita merupakan suatu ujian. Jika Anda membaca Matius 5, 6, dan 7, Anda akan nampak bahwa konstitusi surgawi ini tidak mengizinkan keluarnya ma-nusia alamiah kita, bahkan seinci pun tidak. Sebaliknya, konstitusi surgawi membunuh setiap kuman dalam kita. Anda membenci musuh Anda, sebab ia tidak sesuai dengan pilihan Anda; Anda mengasihi sesama Anda yang baik, sebab ia sesuai dengan pilihan Anda. Jika Tuhan mengatur Anda hanya mempunyai sesama yang baik, Anda akan berlaku seperti seorang malaikat dan berkata, “Tuhan, teri-ma kasih kepada-Mu karena Tuhan telah memberikan sesama yang begitu menyenangkan.” Tetapi Tuhan takkan mengatur Anda hanya mempunyai sesama yang baik. Paling tidak beberapa di antara mereka sangat menjengkelkan dan Tuhan akan menggunakan mereka untuk memperlihatkan apa yang ada di dalam Anda. Tuhan mungkin bertanya ke-pada Anda, apakah Anda mengasihi sesama Anda yang menyulitkan? Boleh jadi Anda akan menjawab bahwa itu sangat sulit. Alasannya ialah karena mereka bertentangan dengan diri Anda dan perasaan alamiah Anda. Inilah suatu ujian untuk membuktikan apakah Anda hidup berdasarkan diri Anda atau berdasarkan Kristus. Kadang kala Kristus mungkin lebih mengasihi musuh Anda daripada sesama Anda dan Anda harus mengikuti Dia. Tetapi, ini bukan semata-mata perbuatan yang lahiriah.
Semua hukum Taurat ini menjamah diri manusia kita dan menaruh kita di atas salib. Salah satu perintah menge-nai perceraian sudah cukup menyalibkan semua suami dan istri. Lagi pula, perkataan tentang menyatakan ya dan ti-dak juga memaku kita di atas salib. Demikian pula dengan tidak melawan orang yang jahat dan terutama tentang ti-dak membenci musuh kita. Semua hukum Taurat ini mem-bunuh manusia alamiah kita, kegemaran alamiah kita, dan temperamen kita.
a. Berperilaku sebagai Anak-anak Bapa yang di Surga
Ayat 45 mengatakan,“Karena dengan demikianlah kamu menjadi anak-anak Bapamu yang di surga.” Sebutan “anak-anak Bapamu” adalah bukti kuat bahwa umat kera-jaan yang mendengar dekrit Raja baru di atas gunung adalah kaum beriman Perjanjian Baru yang dilahirkan kem-bali. Sebagai anak-anak Bapa kita, kita harus memperla-kukan orang yang jahat dan yang tidak benar sebagaimana kita memperlakukan orang yang baik dan yang benar (ayat 45), kita tidak hanya mengasihi orang yang mengasihi kita, tetapi juga mengasihi orang yang tidak mengasihi kita (ayat 46), dan tidak hanya memberi salam kepada saudara kita, tetapi juga kepada orang lain (ayat 47).
Ayat 45 mengatakan pula tentang Bapa, “. . . yang menerbitkan matahari bagi orang yang jahat dan orang yang baik dan menurunkan hujan bagi orang yang benar dan orang yang tidak benar.” Menurunkan hujan bagi orang yang benar dan orang yang tidak benar terjadi dalam zaman anugerah, tetapi dalam zaman yang akan datang, zaman kerajaan, hujan tidak akan turun bagi orang yang tidak benar (Za. 14:17-18).
Dalam ayat 46 Tuhan bertanya: “Apabila kamu me-ngasihi orang yang mengasihi kamu, apakah upahmu? Bu-kankah pemungut cukai juga berbuat demikian?” Umat kerajaan yang memelihara hukum Taurat baru kerajaan dalam realitas kerajaan akan diberi pahala dalam manifes-tasi kerajaan. Pahala berbeda dengan keselamatan. Sese-orang bisa saja beroleh selamat, tetapi tidak mendapat pahala.
b. Sempurna Seperti Bapa yang di Surga
Ayat 48 mengatakan,“Karena itu, haruslah kamu sem-purna, sama seperti Bapamu yang di surga sempurna.” Bagi umat kerajaan, menjadi sempurna seperti Bapa Surgawi mereka yang adalah sempurna, berarti mereka sempurna dalam kasih-Nya. Mereka adalah anak-anak Bapa, memiliki hayat dan sifat ilahi Bapa. Karena itu, mereka dapat sem-purna sama seperti Bapa. Permintaan hukum Taurat baru kerajaan jauh lebih tinggi daripada permintaan hukum Taurat zaman lama. Permintaan yang lebih tinggi ini ha-nya dapat dipenuhi oleh hayat ilahi Bapa, bukan oleh hayat alamiah. Kerajaan Surga adalah permintaan yang tertinggi, dan hayat ilahi Bapa adalah suplai tertinggi untuk meme-nuhi permintaan itu. Pertama, Injil Matius menyajikan Kerajaan Surga sebagai permintaan yang tertinggi, dan ter-akhir, Injil Yohanes menyajikan hayat ilahi dari Bapa surgawi sebagai suplai tertinggi yang dengannya kita dapat menem-puh hidup yang tertinggi dari Kerajaan Surga. Permintaan dari hukum Taurat baru kerajaan dalam Matius 5 sampai 7 sebenarnya merupakan ekspresi dari hayat baru, hayat ilahi dalam umat kerajaan yang dilahirkan kembali. Permin-taan ini membuka batin orang yang dilahirkan kembali, menunjukkan kepada mereka bahwa mereka mampu menca-pai tingkat yang sedemikian tinggi dan memiliki kehidupan yang sedemikian tinggi.
Semua permintaan dari hukum Taurat yang telah di-ubah ini mewahyukan betapa besarnya kemampuan hayat ilahi bekerja di dalam kita. Hukum Taurat baru ini bukan semata-mata suatu permintaan, melainkan suatu wahyu, menampakkan kepada kita bahwa hayat ilahi ini bahkan dapat membuat kita sempurna sama seperti Bapa kita yang di surga yang adalah sempurna. Kita memiliki hayat yang sempurna ini di dalam kita. Kita mempunyai hayat dengan sifat ilahi sedemikian ini, sehingga dapat membuat kita sem-purna seperti Bapa kita yang di surga.
Berdasarkan ayat 45, kita nampak bahwa Bapa mener-bitkan matahari bagi orang yang jahat dan bagi orang yang baik, dan Ia menurunkan hujan bagi orang yang benar dan orang yang tidak benar. Mula-mula Bapa menerbitkan ma-tahari-Nya bagi yang jahat, kemudian bagi orang yang baik. Seandainya Anda ini adalah Bapa, Anda akan menerbitkan matahari pertama-tama bagi orang yang jahat atau orang yang baik? Pasti Anda akan pertama-tama menerbitkan matahari bagi orang yang baik. Ayat ini juga mengatakan bahwa Bapa menurunkan hujan-Nya bagi orang yang benar dan bagi orang yang tidak benar. Perhatikanlah bahwa susunan dalam ayat bagian ini berubah. Ini menunjukkan bahwa dalam pandangan Bapa yang di surga tidak ada per-bedaan dalam menerbitkan matahari pertama-tama bagi orang yang jahat dan kemudian bagi orang yang baik, serta menurunkan hujan pertama-tama bagi orang yang benar dan kemudian bagi orang yang tidak benar.
Marilah kita menerapkan hal ini pada perkara memperlakukan anak-anak kita. Bahkan dalam hal memperlakukan anak-anak Anda sendiri, Anda mempunyai pilihan Anda. Ini menunjukkan betapa alamiahnya Anda. Misalnya Anda mempunyai tiga anak. Salah satu di antaranya mung-kin sangat menyenangkan, satu nakal, dan satu lagi netral. Hari demi hari ketiga anak ini menyingkapkan keadaan Anda, menunjukkan betapa Anda tidak menyukai yang nakal dan memarahinya. Sekalipun Anda tidak menyukainya, Bapa yang di surga mengasihinya lebih daripada anak yang menyenangkan. Ia telah mengutus anak Anda yang nakal itu menyingkapkan selera alamiah Anda.
Kita mempunyai selera alamiah kita dalam hidup gere-ja. Kita menyukai saudara yang baik-baik dan saudari yang manis-manis. Kita menginginkan semua saudara dan sau-dari seperti ini. Tetapi ini hanya mimpi, sebab selalu ada sebagian orang yang merepotkan kita. Pertimbangkanlah masalah kekurangan di antara penatua-penatua. Banyak saudara yang baik dan lembut, tetapi mereka tidak bisa menjadi penatua. Namun, orang yang bertalenta mungkin agak keras/tajam. Allah menggunakan ini untuk menying-kapkan pilihan alamiah Anda.
Kini kita mengerti kesimpulan dan makna firman Tuhan dalam ayat 31-48. Itu bukan semata-mata masalah mengasihi musuh kita secara lahiriah. Bukan, melainkan masalah di-singkapkannya alamiah kita. Setelah kita disingkapkan, ki-ta akan berkata, “Tuhan, belas kasihanilah aku. Aku sungguh perlu penyelamatan-Mu! Aku ingin tinggal dekat dengan-Mu dan bersandar kepada-Mu. Kemudian aku akan menjadi sem-purna seperti Bapaku.”
Janganlah menerima firman Tuhan sebagai suatu peng-ajaran tentang bagaimana Anda harus berperilaku. Cara ini takkan berguna. Firman Tuhan bertujuan menjamah diri manusia kita, pilihan alamiah kita, dan menyingkapkan apa adanya kita dan keberadaan kita. Ketika kita disingkapkan dan ditaklukkan, kita akan memberi kesempatan penuh kepada hayat ilahi untuk hidup di dalam kita. Ini akan membuat kita sempurna, bahkan seperti Bapa kita yang di surga yang adalah sempurna. Kita tidak dapat meniru Bapa. Semasa muda saya diajarkan oleh mereka yang berada dalam kekristenan bahwa Bapa kita yang di surga menga-sihi mereka yang buruk, karenanya kita pun harus menga-sihi musuh kita sama seperti Bapa kita. Walaupun ini nampaknya baik, namun pada hakikatnya sama seperti mengajar monyet untuk berkelakuan seperti manusia. Anda mungkin mengajar monyet berkelakuan seperti seorang satria yang baik. Namun monyet-monyet tidak berdaya berbuat demikian, sebab mereka bukan anak-anak manusia. Kita ada-lah anak-anak Bapa kita yang di surga, karenanya hayat dan sifat Bapa ada di dalam kita. Semua musuh, pemaksa, penantang yang di luar, telah menyingkapkan apa adanya kita. Karena mereka menyingkapkan manusia alamiah kita, kita pun belajar tidak lagi bersandar kepada diri kita, teta-pi menengadah kepada Bapa kita, dan nampak bahwa kita mempunyai hayat dan sifat-Nya di dalam kita. Melalui pe-nyingkapan ini kita nampak bahwa kita harus tinggal dekat dengan Dia serta hidup oleh hayat dan sifat-Nya. De-ngan demikian kita akan sempurna seperti Bapa kita yang di surga. Inilah hayat kerajaan, kehidupan kerajaan.
Banyak orang Kristen salah paham terhadap ayat-ayat ini, sehingga mereka menerimanya sebagai pengajaran ten-tang perbuatan lahiriah mereka. Inilah sebabnya begitu banyak di antara mereka yang telah putus asa dan menga-takan, “Ini terlalu berat bagi kita. Kita tidak akan dapat mencapainya. Tidak mungkin memenuhinya.” Ini bukan per-kataan biasa yang diberikan oleh Tuhan Yesus, melainkan konstitusi Kerajaan Surga. Sebab kita adalah umat keraja-an-Nya, tentu kita dapat memenuhi permintaan ini. Kita memiliki hayat kerajaan di dalam kita, dan kita dapat meng-genapkan hukum-hukum Taurat ini, bukan bersandarkan diri kita, melainkan bersandarkan hayat dan sifat Bapa. Sebab itu, kita wajib bersyukur kepada-Nya karena Ia meng-utus begitu banyak perkara yang saling berlawanan ke da-lam lingkungan kita untuk menjamah manusia kita dan menyingkapkan keadaan kita yang sebenarnya, sehingga kita dapat takluk sepenuhnya, sambil berpaling kepada-Nya, tinggal dekat dengan-Nya, bersandar kepada-Nya, dan hidup oleh-Nya. Kemudian kita akan menjadi umat kerajaan yang murni dengan hayat kerajaan untuk kehidupan kerajaan yang tepat. Inilah Kerajaan Allah di bumi hari ini, dan inilah ke-hidupan gereja yang wajar.