Berita Ketujuh Belas
PENGUMUMAN KONSTITUSI KERAJAAN (5)
Pengajaran dan pemberitaan mengenai Kerajaan Surga dimulai dengan pertobatan (Mat. 3:2; 4:17). Pertobatan berarti perubahan pikiran. Jadi, Kerajaan Surga dimulai dengan pikiran kita. Dari pikiran kita, maju ke roh kita (Mat. 15:3). Kita perlu bertobat dalam pikiran kita dan menjadi miskin dalam roh kita. Kemudian, kita harus suci dalam hati agar tampak Allah (Mat. 5:8). Pikiran, roh, dan hati adalah tiga aspek utama insan batiniah kita. Jika kita menempatkan bersama pasal 4:17 dan 5:3-12, kita tampak sejumlah hal yang berkenaan dengan Kerajaan Surga. Tiga hal pertama, seperti yang telah kita tampak adalah pikiran, roh, dan hati. Kemudian kita perlu mempunyai emosi yang normal, tepat, dan dipertinggi. Hal ini terlihat dalam hal berdukacita (Mat. 5:4), yang berasal dari emosi kita yang telah ditepatkan. Kita juga perlu menjadi lemah lembut, yang membutuhkan tekad yang kuat, normal, dan tepat. Lapar dan dahaga akan kebenaran yang dikatakan dalam 5:6 ialah perkara kedambaan yang murni dan tepat.
Kita harus mendambakan kebenaran ini untuk kerajaan. Berbelas kasihan kepada orang lain berhubungan dengan sikap kita (Mat. 5:7). Sikap kita terhadap orang lain hendaklah merupakan sikap yang berbelas kasihan. Jika kita mempunyai emosi, kehendak, kedambaan, dan sikap yang tepat, kita akan dapat berdamai dengan orang lain. Dengan demikian, keseluruhan diri kita — pikiran, roh, hati, emosi, tekad, kedambaan, dan sikap kita perlu terlatih untuk kehidupan kerajaan. Bila kita mempunyai semua kebajikan ini, kita bersyarat teraniaya. Jika Anda tidak memiliki hal ini, Anda tidak akan dapat menahan aniaya. Akhirnya, mereka yang bersyarat karena mempunyai semua kebajikan ini, tidak hanya teraniaya karena kebenaran, tetapi juga dicela karena Kristus. Inilah hakiki umat kerajaan.
Pada setiap butir dari kesembilan berkat (bahagia) dalam 5:3-12 terdapat upah (pahala). Misalkan, bila Anda miskin dalam roh, Kerajaan Surga ialah kepunyaan Anda. Inilah suatu upah. Jika Anda berdukacita, Anda akan dihibur, dan jika Anda lemah lembut, Anda akan memiliki bumi. Jadi, penghiburan dan bumi juga adalah upah. Menurut ayat 12, upah itu besar bagi mereka yang dianiaya dan dicela karena Kristus. Kita sulit memberi nama upah ini. Bila kita dicela, dianiaya, bahkan difitnah karena Kristus, upah kita di surga adalah besar, begitu besar sehingga di luar batas pengertian kita. Ibrani 13:13 dan 1 Petrus 4:14 keduanya membicarakan dicela karena Kristus. Ibrani 13:13 mengatakan, “Karena itu, marilah kita pergi kepada-Nya di luar perkemahan dan menanggung kehinaan-Nya.” 1 Petrus 4:14 mengatakan, “Berbahagialah kamu, jika kamu dihina karena nama Kristus.” Perkara dicela ini juga dikatakan dalam Roma 15:3, upah besar menunggu mereka yang dicela demi kepentingan Kristus. Kita perlu menjadi umat kerajaan yang mempunyai hakiki yang diwahyukan dalam ayat-ayat ini. Kemudian kita akan dapat menanggung celaan karena Kristus.
IV. MENGENAI HUKUM TAURAT
UMAT KERAJAAN
Dalam berita ini kita akan melihat bagian ketiga firman Raja di atas gunung, yaitu Matius 5:17-48, mengenai hukum Taurat umat Kerajaan Surga. Konstitusi Kerajaan Surga pasti mencakup masalah hukum Taurat. Sebelum zaman Tuhan Yesus, anak-anak Israel mempunyai hukum Taurat Musa. Mereka juga memiliki nabi-nabi. Nubuat selalu membantu hukum Taurat. Ketika orang lemah dalam menaati hukum Taurat, nabi-nabi perlu datang menguatkan mereka untuk memelihara hukum Taurat. Jadi untuk menaati hukum Taurat perlu penguatan dari nabi. Sebab itu, dalam Perjanjian Lama terdapat hukum Taurat dan nabi-nabi. Inilah sebabnya Tuhan membicarakan hukum Taurat dan nabi-nabi dalam ayat 17.
A. Tidak Meniadakan Hukum Taurat
atau Nabi-nabi, tetapi untuk Menggenapinya
Ayat 17 mengatakan,“Janganlah kamu menyangka bahwa Aku datang untuk meniadakan hukum Taurat atau kitab para nabi. Aku datang bukan untuk meniadakannya, melainkan untuk menggenapinya.” Menggenapi hukum Taurat di sini mengandung tiga arti: Kristus telah menuruti hukum Taurat di pihak positif; melalui kematian penggantian-Nya di atas salib Kristus, Dia telah memenuhi tuntutan hukum Taurat di pihak negatif; dan Kristus menggenapkan hukum Taurat lama dengan hukum Taurat baru-Nya dalam bagian ini, sebagaimana diutarakan berkali-kali oleh perkataan, “Tetapi Aku berkata kepadamu” (ayat 22, 28, 32, 34, 39, 44).
Mengenai hukum Taurat, terdapat dua aspek: perintah hukum Taurat dan prinsip hukum Taurat. Perintah hukum Taurat telah digenapkan dan dilengkapi karena kedatangan Tuhan, sedangkan prinsip hukum telah digantikan oleh prinsip kepercayaan menurut ekonomi Perjanjian Baru Allah.
Sebelum Kristus datang, ada hukum Taurat dengan pe-nguatannya melalui nabi-nabi. Lalu mengapa masih perlu hukum Taurat Kerajaan Surga? Sebabnya ialah tuntutan hukum Taurat lama tidak cukup tinggi. Permintaan hukum Taurat lama tidak sempurna. Misalnya, mengenai pembunuhan. Hukum Taurat lama memerintahkan kita tidak boleh membunuh (Kel. 20:13), tetapi tidak mengatakan sepatah kata pun mengenai amarah. Jika Anda membunuh seseorang, Anda akan disalahkan oleh hukum Taurat Musa. Tetapi tidak peduli betapa Anda marah kepada seseorang, asalkan Anda tidak membunuh, Anda tidak akan dipersalahkan oleh hukum Musa. Di sini kita tampak kekurangan dan ketidaksempurnaan hukum Taurat lama. Tuntutan hukum Taurat Kerajaan Surga jauh lebih tinggi daripada hukum Taurat Musa. Menurut hukum Taurat Kerajaan Surga, kita dilarang marah kepada saudara kita. Dalam ayat-ayat 21-22 Tuhan mengatakan, “Kamu telah mendengar yang difirmankan kepada nenek moyang kita: Jangan membunuh; siapa yang membunuh harus dihukum. Tetapi Aku berkata kepadamu: Setiap orang yang marah terhadap saudaranya harus dihukum.” Jadi, hukum Taurat Kerajaan Surga jauh lebih tinggi daripada hukum Taurat Perjanjian Lama.
Contoh lain dari hal ini ialah hukum Taurat mengenai perzinaan. Hukum Taurat lama melarang orang melakukan perzinaan, tetapi hukum Taurat baru melarang orang memandang dengan nafsu birahi kepada seorang perempuan (ayat 27-28). Jadi, prinsip pokok hukum Taurat Kerajaan Surga lebih tinggi daripada hukum Taurat lama. Kita tidak meniadakan hukum Taurat lama, kita melengkapinya dan membuatnya lebih tinggi. Untuk ini, Tuhan Yesus mengatakan bahwa Ia datang bukan untuk menghapuskan hukum Taurat, melainkan untuk menggenapinya.
Banyak orang Kristen tidak paham arti sebenarnya “menggenapi” dalam ayat 17. Melalui pelajaran, pengamatan, dan pengalaman bertahun-tahun, kita tampak bahwa kata “menggenapi” dalam ayat ini mempunyai tiga pengertian:
1. Memelihara Hukum Taurat di Pihak Positif
Pertama, arti “menggenapi” di sini ialah Kristus datang untuk memelihara hukum Taurat di aspek positif. Ketika Ia hidup di bumi, Ia memelihara setiap aspek hukum Taurat lama. Tidak ada seorang pun yang pernah memelihara sepuluh perintah, tetapi Tuhan Yesus memeliharanya dengan sempurna. Ia memelihara hukum Taurat Perjanjian Lama dengan amat positif.
2. Memenuhi (Menggenapi) Tuntutan Hukum Taurat
di Pihak Negatif Melalui Kematian Penggantian di Atas Salib
Karena Kristus telah memelihara hukum Taurat, Ia menjadi Yang sempurna. Kesempurnaan-Nya membuat Dia bersyarat mati di atas salib bagi kita. Inilah pemeliharaan hukum Taurat dalam arti negatif. Inilah cara kedua Kristus menggenapi hukum Taurat. Kita semua telah merusak dan melanggar hukum Taurat. Tetapi pelanggaran kita telah ditanggulangi melalui kematian penggantian Tuhan. Di atas salib Ia adalah pengganti kita, mati bagi kita untuk menggenapi tuntutan hukum Taurat di pihak negatif.
3. Menyempurnakan Hukum Taurat Lama dengan yang Baru
Menggenapi hukum Taurat juga berarti Kristus menyempurnakan hukum Taurat yang lama dengan hukum Taurat-Nya yang baru. Ini diekspresikan oleh firman “Tetapi Aku berkata kepadamu” (ayat 22, 28, 32, 34, 39, 44). Karena Kristus menuruti hukum Taurat, Dia memenuhi syarat untuk menggenapi tuntutan hukum Taurat melalui kematian penggantian-Nya di salib. Karena Kristus menggenapi tuntutan hukum Taurat melalui kematian penggantian-Nya di salib, dia mendatangkan hayat kebangkitan untuk melengkapi hukum Taurat, sepenuhnya menggenapi hukum Taurat. Hukum Taurat lama, hukum yang lebih rendah dengan permintaan yang harus dituruti dan tuntutan yang menghukum manusia, sudah berlalu. Umat kerajaan, sebagai anak-anak Bapa, kini hanya perlu menuruti hukum Taurat baru, hukum yang lebih tinggi, dengan hayat kebangkitan, yaitu hayat kekal Bapa.
Kematian penggantian Kristus membawa masuk hayat kebangkitan. Ketika hayat kebangkitan ini masuk ke dalam kita, hayat ini mampu melakukan pekerjaan ajaib yang merampungkan hukum Taurat. Dia memungkinkan kita untuk menggenapi hukum yang lebih tinggi. Bersandar hayat kebangkitan yang ada di dalam kita, memungkinkan kita tidak hanya mampu untuk tidak membunuh orang lain, bahkan mampu untuk tidak memarahi orang atau membenci orang. Hayat kebangkitan jauh lebih tinggi daripada hayat alamiah, sebab hayat kebangkitan ini sesungguhnya adalah hayat ilahi, hayat abadi, hayat pada taraf tertinggi. Hayat tertinggi yang di dalam kita ini mampu menggenapi tuntutan hukum tertinggi.
Dalam Perjanjian Baru, Injil Matius, kitab kerajaan pertama-tama datang dengan tuntutan-tuntutan. Kemudian Injil Yohanes, kitab hayat, datang dengan hayat untuk menggenapi tuntutan-tuntutan ini. Dengan hayat alamiah, kita tidak dapat menggenapkan tuntutan-tuntutan yang diajukan dalam Matius 5. Tetapi dalam Injil Yohanes kita mempunyai hayat tertinggi yang memungkinkan kita memenuhi tuntutan yang tertinggi. Semua orang Kristen menyukai Injil Yohanes, tetapi tidak banyak yang menyukai Injil Matius. Saya ragu apakah saya pernah mendengar seorang Kristen mengatakan bahwa Injil Matius terlalu menyusahkan sedangkan Injil Yohanes amat sederhana. Injil Yohanes mengatakan bahwa pada awal mulanya ada Firman dan Firman itu adalah Allah, dan Firman itu telah menjadi manusia, penuh anugerah dan kebenaran (Yoh. 1:1, 14). Injil Yohanes memiliki banyak ayat emas, contohnya Yohanes 3:16. Injil ini pun sangat sedikit permintaan dan tuntutan, tetapi terdapat suplai hayat yang berlimpah. Namun, dalam Perjanjian Baru, ternyata lebih dulu ada Injil Matius, bukan Injil Yohanes. Jadi kita tidak dapat melampaui Injil Matius. Tetapi banyak orang Kristen telah diajarkan berbuat demikian. Tiga puluh lima tahun yang lalu saya diajari bahwa orang yang baru percaya tidak seharusnya membaca Injil Matius. Dulu, saya sendiri pun menyuruh orang yang baru percaya untuk tidak lebih dulu membaca Matius. Saya berkata bahwa jika mereka membaca Matius 1 lebih dulu, mereka akan merasa frustasi dalam pembacaan kitab, karena mengira bahwa Alkitab itu terlalu sulit untuk dibaca. Maka, saya menganjurkan orang yang baru percaya untuk memulai pembacaan Alkitab mereka dengan kitab yang keempat, Injil Yohanes; kemudian Roma atau kitab lainnya, tetapi bukan Injil Matius. Injil Matius memerlukan Injil Yohanes dan Injil Yohanes untuk Injil Matius. Injil Matius memberi kita tuntutan kerajaan yang tertinggi, tuntutan yang hanya dapat digenapi oleh hayat ilahi yang diwahyukan dalam Yohanes. Untuk dapat menggenapi tuntutan Kerajaan Surga yang dinyatakan dalam Injil Matius, kita harus menerima suplai hayat yang terdapat dalam Injil Yohanes.
Yesus Sang Raja baru, bukan datang untuk meniadakan hukum Taurat Musa, tetapi Ia datang justru untuk meningkatkan standar hukum Taurat lama. Sekarang tuntutan itu telah lebih tinggi tingkatannya, sehingga bukan lagi hukum Taurat lama, melainkan hukum Taurat baru Kerajaan Surga. Kristus meningkatkan standar hukum Taurat lama dalam dua cara, dengan menyempurnakan hukum Taurat lama dan dengan mengubahnya. Dalam ayat 17-30 kita tampak penyempurnaan hukum Taurat lama. Pengubahan hukum Taurat dimulai dengan ayat 31. Dalam berita ini kita hanya dapat membicarakan tentang penyempurnaan hukum Taurat lama.
Ayat 18 mengatakan,“Karena sesungguhnya Aku berkata kepadamu: Selama belum lenyap langit dan bumi ini, satu huruf kecil atau satu titik pun tidak akan ditiadakan dari hukum Taurat, sebelum semuanya terjadi.” Setelah Kerajaan Seribu Tahun, langit lama dan bumi lama akan berlalu, yaitu ketika langit baru dan bumi baru datang (Why. 21:1; Ibr. 1:11-12; 2 Ptr. 3:10-13). Apa yang tercantum dalam hukum Taurat hanya mencapai akhir Kerajaan Seribu Tahun, sedangkan yang tercakup dalam kitab nabi-nabi mencapai langit baru dan bumi baru (Yes. 65:17; 66:22). Itulah sebabnya dalam ayat 17 disebutkan hukum Taurat dan kitab nabi-nabi, tetapi dalam ayat 18 hanya disebutkan hukum Taurat, bukan kitab nabi-nabi.
Penggenapan hukum Taurat akan berlangsung hingga akhir Kerajaan Seribu Tahun, yaitu pada saat langit lama dan bumi lama akan berlalu. Sebelum hal itu terjadi, satu iota atau satu titik pun dalam hukum Taurat tidak akan ditiadakan. Namun apa yang tercakup dalam kitab nabi-nabi berlangsung lebih jauh dari masa seribu tahun, sampai ke dalam langit baru dan bumi baru.
Kristus menggenapi hukum Taurat dalam tiga cara. Ia sendiri telah memelihara hukum Taurat. Namun, karena kita tidak memeliharanya, maka Ia mati di atas salib bagi pelanggaran kita terhadap hukum Taurat. Kematian penggantian-Nya mendatangkan hayat kebangkitan, yang telah disalurkan ke dalam manusia kita. Oleh hayat kebangkitan-Nya kita dapat menggenapi tuntutan hukum Taurat yang baru dan yang lebih tinggi. Melalui tiga langkah ini, Kristus tidak sekadar menggenapi hukum Taurat lama. Ia telah me-melihara hukum Taurat, Ia mati bagi kita, dan kematian-Nya membawakan ke dalam kita hayat kebangkitan untuk menguatkan kita bagi penggenapan tuntutan hukum Taurat baru. Hari ini kita tidak berusaha memelihara hukum Taurat yang lebih rendah, sebaliknya kita memelihara hukum Taurat yang telah ditingkatkan lebih tinggi melalui hayat yang tertinggi di dalam kita. Kini kita dapat memelihara hukum Taurat yang tertinggi.
B. Memelihara Semua Perintah Hukum Taurat
Adalah Syarat Menjadi Besar dalam Kerajaan
Ayat 19 mengatakan,“Karena itu siapa yang meniadakan salah satu perintah hukum Taurat sekalipun yang paling kecil, dan mengajarkannya demikian kepada orang lain, ia akan disebut yang terkecil di dalam Kerajaan Surga; tetapi siapa yang melakukan dan mengajarkannya, ia akan disebut yang besar di dalam Kerajaan Surga” (Tl.). Perintah di sini mengacu kepada hukum Taurat dalam ayat 18. Umat kerajaan bukan hanya menggenapi hukum Taurat, tetapi juga melengkapinya. Karena itu, sebenarnya mereka tidak meniadakan perintah yang mana pun dari hukum Taurat, bahkan yang terkecil sekalipun. Apakah kita akan menjadi besar atau kecil dalam Kerajaan Surga tergantung pada apakah kita memelihara atau tidak perintah hukum Taurat, bahkan yang terkecil sekalipun. Dalam ayat ini Kristus menekankan fakta bahwa jika kita tidak memelihara semuanya bahkan yang terkecil sekalipun, melainkan meniada-kannya dan mengajarkan orang lain untuk meniadakannya, kita akan menjadi yang terkecil dalam Kerajaan Surga. Dengan perkataan lain, seolah-olah Kristus mengatakan, “Jika kamu ingin menjadi besar dalam Kerajaan Surga, kamu harus mempunyai standar moral yang tertinggi. Jika standar moralmu tidak mencapai standar hukum Taurat baru, kamu akan menjadi yang terkecil dalam Kerajaan Surga.” Tidak ada moral orang lain yang setinggi moral umat kerajaan. Janganlah mengira bahwa kita hanya memperhatikan hayat dan tidak memperhatikan moral. Hayat harus memiliki ekspresinya dan hayat yang tertinggi mempunyai ekspresi yang tertinggi. Moral tidak lain adalah ekspresi hayat. Jadi, bila Anda mempunyai hayat yang tertinggi, Anda pasti akan memiliki moral yang tertinggi sebagai ekspresi hayat ini. Kita perlu berdoa, “Tuhan berilah aku ekspresi hayat yang tertinggi. Berilah aku moral taraf tertinggi. Tuhan, aku bukan hanya orang bermoral, tetapi juga orang kerajaan.”
Karena standar kerajaan lebih tinggi daripada standar moral, maka kita harus melakukan lebih banyak daripada sekadar memelihara standar hukum Taurat yang lama. Menurut standar moral, kita tidak boleh melakukan pembunuhan atau perzinaan. Jika kita menjauhkan diri dari pembunuhan dan perzinaan, kita adalah orang bermoral. Tetapi standar yang demikian itu jauh lebih rendah daripada standar kerajaan. Menurut standar Kerajaan Surga, kita tidak boleh marah terhadap saudara kita atau memandang seorang perempuan serta menginginkannya. Ini bukan standar moral melainkan standar Kerajaan Surga, yang jauh lebih tinggi daripada standar moral. Standar moral mengatakan, “Mata ganti mata dan gigi ganti gigi” (Kel. 21:24; Im. 24:20; Bil. 19:21). Tetapi standar Kerajaan Surga menyuruh kita untuk mengasihi musuh kita, berdoa bagi mereka yang menganiaya kita, dan tidak menolak satu orang pun yang jahat (ayat 44, 39). Jika seseorang menampar pipi kananmu, berilah juga kepadanya pipi kirimu (ayat 39). Alangkah jauh lebih tingginya standar ini daripada standar moral!
Butir yang paling penting dan menentukan yang dititikberatkan Kristus dalam ayat-ayat ini ialah bahwa umat kerajaan harus mempunyai standar moral yang tertinggi. Jika kita tampak hal ini, kita dapat memahami Matius 5:17-48. Kita memiliki hukum Taurat yang tertinggi, hayat tertinggi, dan standar tertinggi. Melalui hayat yang tertinggi kita menggenapi hukum Taurat tertinggi dan memiliki standar yang tertinggi.
C. Melampaui Kebenaran Merupakan Syarat untuk Memasuki Kerajaan
Dalam ayat 20 Sang Raja berkata, “Aku berkata kepadamu: Jika kebenaranmu tidak melebihi kebenaran ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi, sesungguhnya kamu tidak akan masuk ke dalam Kerajaan Surga”(Tl.) Melampaui kebenaran adalah syarat untuk memasuki manifestasi Kerajaan Surga dalam masa seribu tahun. Dengan memelihara hukum Taurat tertinggi untuk standar yang tertinggi, kita memenuhi syarat untuk memasuki manifestasi Kerajaan Surga yang akan datang.
Kebenaran dalam ayat 20 tidak hanya mengacu kepada kebenaran yang objektif, yaitu Kristus yang kita terima ketika kita percaya kepada-Nya dan dengan demikian dibenarkan di hadapan Allah (1 Kor. 1:30; Rm. 3:26), tetapi juga mengacu kepada kebenaran yang subjektif, yaitu Kristus yang berhuni yang diperhidupkan dari diri kita sebagai kebenaran kita agar kita dapat hidup dalam realitas kerajaan hari ini dan memasuki manifestasinya pada masa yang akan datang. Kebenaran yang subjektif ini kita peroleh bukan hanya dengan menggenapi hukum Taurat lama, tetapi juga dengan melengkapi hukum Taurat lama melalui menggenapi hukum Taurat baru Kerajaan Surga yang diberikan oleh Raja Baru dalam bagian firman ini. Kebenaran umat kerajaan ini, yang sesuai dengan hukum Taurat baru Kerajaan, melampaui kebenaran ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi yang sesuai dengan hukum Taurat lama. Hayat alamiah kita tidak mungkin bisa mendapatkan kebenaran yang unggul ini. Kebenaran ini hanya dapat dihasilkan dari hayat yang lebih tinggi, hayat kebangkitan Kristus. Kebenaran ini, yang digambarkan seperti pakaian pesta pernikahan (22:11-12), melayakkan kita untuk berbagian dalam pernikahan Anak Domba (Why. 19:7-8) dan mewarisi Kerajaan Surga dalam manifestasinya, yaitu memasuki Kerajaan Surga pada masa yang akan datang.
Untuk memasuki Kerajaan Allah kita perlu kelahiran kembali sebagai permulaan baru dari hayat kita (Yoh. 3:3, 5), tetapi untuk memasuki Kerajaan Surga, kita diminta untuk memiliki kebenaran yang unggul dalam kehidupan kita setelah dilahirkan kembali. Memasuki Kerajaan Surga adalah hidup dalam realitasnya hari ini dan berbagian dalam manifestasinya pada masa yang akan datang.
D. Mengenai Pembunuhan
1. Hukum Taurat Lama — Jangan Membunuh
Ayat 21 mengatakan,“Kamu telah mendengar yang difirmankan kepada nenek moyang kita: Jangan membunuh; siapa yang membunuh harus dihukum.” Hukum Taurat lama memerintahkan tidak boleh membunuh. Apa yang “telah kamu dengar” dalam ayat 21, 27, 33, 38, dan 43 ialah hukum Taurat Perjanjian lama; sedangkan “Aku berkata kepadamu” dalam ayat 22, 28, 32, 34, 39 dan 44 ialah hukum Taurat baru kerajaan yang melengkapi hukum Taurat Perjanjian Lama.
2. Melengkapi Hukum Taurat Baru —
Tidak Boleh Marah Terhadap Saudara,
Tidak Boleh Memandang Rendah Saudara, dan Tidak Boleh Mengatai Saudara
Dalam ayat 22 Sang Raja berkata, “Tetapi Aku berkata kepadamu: Setiap orang yang marah terhadap saudaranya harus dihukum; siapa yang mencaci maki saudaranya harus dihadapkan ke Mahkamah Agama, dan siapa yang berkata: Jahil! harus diserahkan ke dalam neraka yang menyala-nyala.” Hukum Taurat Perjanjian Lama menanggulangi perbuatan pembunuhan, tetapi hukum Taurat baru kerajaan menanggulangi amarah, yaitu motivasi pembunuhan. Karena itu, permintaan hukum Taurat baru kerajaan lebih dalam daripada permintaan hukum Taurat Lama. Kata “saudara” dalam ayat 22 membuktikan bahwa perkataan raja di sini disampaikan kepada kaum beriman.
Perkara yang paling sulit bagi kita ialah mengendalikan amarah kita. Beberapa orang kelihatannya sangat lemah lembut, tetapi begitu mereka marah, amarah mereka sama seperti kuda liar. Ketika kita marah, tidak seorang pun dapat mengekang kita atau mengendalikan kita. Selama bertahun-tahun saya tidak dapat mendalami pasal ini karena masalah amarah saya.
Tidak memandang rendah atau mengatai orang lain juga sangat sulit bagi kita. Dalam ayat 22 Tuhan mengatakan tentang mengatai saudara kita “raka” (LAI: mencaci maki) atau “moreh” (LAI: jahil). “Raka” berarti bodoh, tolol, tidak ada gunanya. Suatu ungkapan yang merendahkan. “Moreh” berarti bloon, dungu. Ungkapan Ibrani yang bersifat menghakimi, menunjukkan suatu pemberontakan (Bil. 20:10). Ungkapan ini lebih serius daripada “Raka”, suatu ungkapan yang merendahkan. Betapa sulit untuk tidak memandang rendah seorang saudara atau tidak mengatai saudara! Boleh jadi Anda tidak dapat melewati waktu yang mungkin hanya satu minggu tanpa mengatai atau memandang rendah orang. Seakan-akan hampir setiap hari kita kalau bukan mengatai tentu memandang rendah. Suami istri saling menghina dan mengatai. Saya tidak percaya ada satu yang terkecuali. Semua istri memandang rendah dan mengatai suaminya, dan suami berbuat sama terhadap istrinya. Ini suatu masalah yang nyata. Ketika Anda membaca ini, dapatkah Anda tetap mengatakan bahwa Anda itu pemenang, umat Kerajaan Surga? Janganlah putus asa. Sebaliknya lebih terdorong. Ingatlah, kita memiliki hayat pemenang. Bukankah Anda mempunyai Raja di dalam Anda? Kita adalah umat kerajaan, dan kita memiliki Raja di dalam kita. Raja ini ialah hayat rajani, hayat pemenang. Janganlah menengok kepada diri Anda sendiri. Jika Anda memandang diri sendiri, Anda akan kecewa. Lupakanlah diri Anda dan pandanglah hayat rajani yang di dalam Anda. Hayat inilah yang menjadikan kita umat Kerajaan Surga. Lupakanlah hayat alamiah Anda dan ikutilah hayat rajani ini.
Dalam ayat 22 terdapat tiga macam penghakiman. Pertama ialah penghakiman di pintu gerbang kota, yaitu penghakiman distrik. Kedua, penghakiman oleh Mahkamah Agama (Sanhedrin), yaitu penghakiman yang lebih tinggi. Mahkamah Agama ialah suatu badan hukum yang terdiri dari imam-imam kepala, tua-tua, ahli hukum, dan ahli Taurat. Mereka adalah mahkamah yang paling tinggi di kalangan orang Yahudi (Luk. 22:66; Kis. 4:5-6, 15; 5:27, 34, 41). Ketiga, penghakiman Allah melalui Gehenna (neraka) yang apinya menyala-nyala, yaitu penghakiman yang paling tinggi. Ketiga macam penghakiman ini disebutkan oleh Raja baru, yang menggunakan gambaran dari latar belakang Yahudi mengingat semua pendengar-Nya adalah orang Yahudi. Namun sehubungan dengan umat kerajaan, kaum beriman Perjanjian Baru, semua penghakiman tersebut mengacu kepada penghakiman Tuhan di takhta penghakiman Kristus, seperti yang diwahyukan dalam 2 Korintus 5:10; Roma 14:10, 12; 1 Korintus 4:4-5; 3:13-15; Matius 16:27; Wahyu 22:12; dan Ibrani 10:27, 30. Ini dengan jelas menunjukkan bahwa meskipun kaum beriman Perjanjian baru sudah diampuni oleh Allah untuk selamanya, jika mereka berdosa terhadap hukum Taurat baru kerajaan seperti yang disebutkan di sini, mereka masih harus mengalami penghakiman Tuhan, bukan untuk kebinasaan, melainkan untuk pendisiplinan. Namun, ketika kita berdosa terhadap hukum Taurat baru kerajaan, jika kita bertobat dan mengaku dosa-dosa kita, kita akan diampuni dan dibersihkan oleh darah Tuhan Yesus (I Yoh. 1:7, 9).
Dalam ayat 22 Raja baru membicarakan tentang neraka (gehenna) yang menyala-nyala. Kata “Gehenna” ialah bahasa Yunani, sama dengan “Ge Hinnom” dalam bahasa Ibrani, lembah Hinnom, juga disebut Tofet (2 Raj. 23:10; Yes. 30:33; Yer. 19:13), suatu lembah yang dalam dekat Yerusalem dan menjadi tempat pembuangan (sampah) bagi kota itu. Segala jenis kotoran dan mayat orang-orang jahat dibuang ke sana, lalu dibakar. Karena apinya yang terus-menerus menyala, tempat ini menjadi lambang tempat penghukuman kekal, lautan api (Why. 20:15). Istilah ini juga dipakai dalam Matius 5:29-30; 10:28; 18:9; 23:15, 33; Markus 9:43, 45, 47; Lukas 12:5 dan Yohanes 3:6.
a. Sebelum Mempersembahkan Persembahan
kepada Allah Berdamailah Dulu dengan Saudaramu
Ayat 23-24 mengatakan, “Sebab itu, jika engkau mempersembahkan persembahanmu (kurban) di atas mezbah dan engkau teringat akan sesuatu yang ada dalam hati saudaramu terhadap engkau, tinggalkanlah persembahanmu di depan mezbah itu dan pergilah berdamai dulu dengan saudaramu, lalu kembali untuk mempersembahkan persembahanmu itu.”Mempersembahkan kurban (seperti kurban penghapus dosa) adalah untuk menanggulangi dosa; sedangkan persembahan adalah untuk persekutuan dengan Allah. Mezbah yang dikatakan dalam ayat 23 adalah sejenis perabot (Kel. 27:1-8) di pelataran luar Bait Suci (1 Raj. 8:64). Semua kurban dan persembahan dipersembahkan di atas mezbah (Im. 1:9, 12, 17). Dalam mengumumkan hukum Taurat baru kerajaan, Raja menyebutkan persembahan dan mezbah milik zaman yang lama karena selama masa ministri-Nya di bumi, suatu masa peralihan, hukum ritual zaman lama belum lagi berakhir. Dalam keempat kitab Injil, sebelum kematian dan kebangkitan-Nya, atas hal-hal yang berhubungan dengan lingkungan saat itu Tuhan memperlakukan murid-murid-Nya sebagai orang Yahudi berdasarkan hukum Taurat lama; sedangkan atas hal yang berhubungan dengan roh dan hayat, Tuhan menganggap mereka sebagai kaum beriman, bahan penyusun gereja berdasarkan ekonomi Perjanjian Baru.
Kata “sesuatu . . . terhadap engkau” dalam ayat 23 pasti mengacu kepada suatu kesalahan akibat kemarahan atau kegusaran dalam ayat 22. Menurut ayat 24, kita harus berdamai dengan saudara kita lebih dulu agar ingatan kita akan kesalahan itu dapat disingkirkan dan hati nurani kita dapat bebas dari salah. Kemudian kita dapat datang dan mempersembahkan persembahan kita kepada Tuhan dan bersekutu dengan Dia dengan hati nurani yang murni. Raja dari Kerajaan Surga tidak mungkin membiarkan dua saudara, yang belum berdamai satu sama lain, mengambil bagian dalam realitas kerajaan atau pemerintahan dalam manifestasi kerajaan. Ketika Anda datang untuk berkontak dengan Tuhan, Anda merasa bahwa seorang saudara atau saudari mendakwa Anda, Anda perlu menghentikan persekutuan Anda dengan Tuhan dan pergi ke orang itu untuk berdamai dengan dia. Kemudian Anda dapat kembali meneruskan persekutuan Anda dengan Tuhan. Sekalipun ini suatu perkara yang kecil, tetapi tidak mudah dilakukan. Namun, kita harus melakukannya.
b. Sebelum Anda Mati atau Lawan Anda Mati, atau Tuhan Kembali
Ayat 25-26 mengatakan, “Segeralah berdamai dengan lawanmu selama engkau bersama-sama dengan dia di tengah jalan, supaya lawanmu itu jangan menyerahkan engkau kepada hakim dan hakim itu menyerahkan engkau kepada pengawal dan engkau dilemparkan ke dalam penjara. Sesungguhnya Aku berkata kepadamu: Engkau tidak akan keluar dari sana, sebelum engkau membayar utangmu sampai lunas.” Kita perlu segera menyelesaikan permusuhan kita jangan sampai kita mati, lawan kita mati atau Tuhan kembali dan tidak ada kesempatan bagi kita untuk berdamai dengan lawan kita. Kata “di tengah jalan” menunjukkan bahwa kita masih hidup pada masa ini. Masalah diserahkan kepada hakim, kepada pengawalnya dan dilemparkan ke dalam penjara akan diketahui pada takhta penghakiman Kristus ketika Ia kembali (2 Kor. 5:10; Rm. 14:10). Hakim yang dimaksud di sini adalah Tuhan, pengawalnya adalah malaikat, dan penjara adalah tempat pendisiplinan. Keluar dari sana, yaitu keluar dari penjara, ialah diampuni dalam zaman yang akan datang, zaman Kerajaan Seribu Tahun.
Dalam ayat 26 dikatakan, “. . . Kamu harus membayar utangmu sampai lunas” (keping/kuadran yang penghabisan, Tl.). Satu kuadran Romawi adalah mata uang logam tembaga yang sebanding dengan seperempat assarion yang kira-kira sama dengan satu sen dolar. Ini berarti bahwa hal yang paling kecil pun perlu kita bereskan dengan tuntas. Ini menunjukkan betapa ketatnya hukum Taurat baru.
Kita perlu berdamai dengan lawan kita sebelum kita meninggal, atau sebelum lawan kita meninggal, atau sebelum Tuhan kembali. Jika kita tidak mengacuhkannya sekarang, kita harus menanggulanginya pada zaman yang akan datang. Janganlah menunggu zaman berikutnya, sebab penanggulangan di kemudian hari akan lebih merepotkan. Perhatikanlah semua masalah sekarang juga, sebelum Anda meninggal atau sebelum lawan Anda meninggal. Ketika Anda berdua masih hidup, Anda masih mempunyai kesempatan untuk damai dengan dia. Lagi pula, kalau Anda menunggu, Tuhan mungkin sudah kembali sebelum Anda damai dengan dia. Di satu pihak, kembalinya Tuhan memang sangat menakjubkan. Tetapi di pihak lain, tentunya akan mengerikan, karena akan menutup kesempatan bagi kita untuk membereskan masalah pada zaman ini dan memaksa kita untuk membereskannya pada zaman yang akan datang. Sebab itu, jauh lebih baik menyelesaikan semua masalah sebelum zaman yang akan datang. Ini berarti bahwa kita harus membereskan setiap masalah sebelum kita mati, atau sebelum pihak yang lain mati, atau sebelum Tuhan kembali.
E. Mengenai Perzinaan
1. Hukum Taurat Lama — Jangan Berzina
Ayat 27 mengatakan,“Kamu telah mendengar yang difirmankan: Jangan berzina.” Ini tertulis dalam hukum Taurat lama (Kel. 20:14; Bil. 5:18).
2. Hukum Taurat Baru yang Dilengkapi —
Tidak Boleh Memandang serta Menginginkannya
Hukum Taurat baru yang dilengkapi mengenai perzinaan terdapat dalam ayat 28 “Tetapi Aku berkata kepada-mu: Setiap orang yang memandang perempuan serta menginginkannya, sudah berzina dengan dia di dalam hatinya.” Hukum Taurat zaman lama menanggulangi perbuatan zina di luar, sedangkan hukum Taurat baru kerajaan menanggulangi motivasi di batin.
a. Memandang Serius Dosa yang Demikian Itu Berkenaan dengan Kerajaan Surga
Kita harus memandang serius dosa yang demikian itu berkenaan dengan Kerajaan Surga. Seriusnya dosa ini ditunjukkan oleh firman Tuhan dalam ayat 29 dan 30 tentang “cungkillah” mata kita dan “buanglah” dari kita. Dalam kedua ayat ini Tuhan berkata, “Lebih baik bagimu jika satu dari anggota tubuhmu binasa, daripada tubuhmu dengan utuh masuk neraka.” Namun ayat ini tidak dapat kita terapkan secara harfiah, melainkan secara rohani, seperti yang diwahyukan dalam Roma 8:13 dan Kolose 3:5. Saya tahu kasus beberapa orang yang menerapkan perkataan ini secara harfiah. Salah satu kasus ini ialah adanya seorang penjudi yang sungguh-sungguh telah memenggal tangannya setelah membaca bagian firman ini. Pada akhirnya ia menemukan bahwa sekalipun tangannya telah dipenggal, masih ada saja tangan batiniah di dalamnya yang damba untuk berjudi. Ia mengerti bahwa memenggal tangan jasmaninya tak berguna, sebab masalahnya adalah tangan batiniah. Walaupun perkataan ini tidak seharusnya kita terima secara harfiah, tetapi ini mewahyukan betapa seriusnya dosa tersebut.
Menurut firman Tuhan dalam ayat 29 dan 30, bagi orang yang telah beroleh selamat ada kemungkinan dilemparkan ke dalam neraka. Ini berarti bahwa orang yang telah beroleh selamat pun ada kemungkinan menderita oleh kematian yang kedua. Dalam Wahyu 2:11 Tuhan Yesus berkata, “Siapa yang menang, ia tidak akan menderita apa-apa oleh kematian yang kedua.” Sebagaimana telah kita tunjukkan, neraka adalah simbol lautan api, yakni kematian kedua (Why. 20:15). Firman Tuhan dalam Wahyu 2:11 menunjukkan bahwa kaum beriman ada kemungkinan menderita oleh kematian yang kedua. Firman Tuhan dalam Wahyu 2:11 menunjukkan bahwa bagi kaum beriman ada kemungkinan menderita oleh kematian yang kedua. Firman Tuhan dalam Wahyu 2:11 berhubungan dengan firman-Nya dalam Matius 5:29-30. Sebagai orang yang telah beroleh selamat, jika Anda tidak serius menanggulangi dosa semacam ini, pada suatu hari, Anda akan menderita kematian yang kedua. Seperti yang dikatakan Tuhan Yesus di sini, akan dilemparkan ke dalam neraka. Ini bukan berarti bahwa Anda akan binasa, melainkan berarti bahwa Anda akan didisiplinkan. Lagi pula, neraka yang menyala-nyala bukan menunjukkan api penyucian yang dikatakan oleh kekristenan tertentu. Kata “neraka” ini memperingatkan Anda bahwa jika Anda tidak serius menanggulangi dosa ini hari ini, ketika Tuhan Yesus kembali, ia akan melakukan penghakiman-Nya atas Anda (kata-kata lebih lanjut tentang menderita oleh kematian kedua, lihat Pelajaran-Hayat Kitab Wahyu berita ke-11).
Sebagaimana telah kita tampak, ketiga macam hukuman yang dikatakan dalam ayat 22 semua menunjukkan hukuman Kristus pada takhta penghakiman-Nya. Penghakiman ini tidak bersangkutan dengan orang yang tidak beroleh selamat, yang akan diadili pada takhta putih besar setelah masa seribu tahun (Why. 20:12, 15). Tidak seorang pun yang tidak beroleh selamat bersyarat berdiri di hadapan takhta penghakiman Kristus pada saat Ia kembali. Semua orang yang tampil di hadapan takhta penghakiman ini adalah orang-orang yang telah beroleh selamat. Kaum beriman akan diadili di sana, bukan untuk masalah keselamatan atau kebinasaan, melainkan untuk masalah pahala atau hukuman.
Perkataan yang dikatakan oleh Tuhan tentang hukuman dan dilemparkan ke dalam neraka yang menyala-nyala ialah perkataan yang serius. Perkataan yang demikian membuat kita tidak sembarangan, dan membuat kita tidak kendur dalam hal menanggulangi dosa semacam ini. Janganlah mempertimbangkan dosa ini sebagai suatu perkara yang tidak penting. Hari ini situasi terhadap percabulan sangat menyedihkan. Kita jangan kendur. Firman Tuhan sendiri menunjukkan kepada kita betapa seriusnya percabulan. Kita harus waspada dan menanggulangi hal ini dengan sangat serius. Walaupun kita tidak menanggulangi anggota tubuh kita secara harfiah, hendaknya kita mematikan anggota tubuh kita yang berdosa oleh salib Kristus. Seperti yang diwahyukan Roma 8:13, oleh Roh kita harus “mematikan perbuatan-perbuatan tubuh”, dan seperti Kolose 3:5 mengatakan, kita harus mematikan “dalam diri kita segala sesuatu yang duniawi.” Inilah cara yang paling tepat untuk menanggulangi anggota tubuh dosa kita.
b. Menyingkirkan Motivasi Dosa yang Demikian dengan Harga Apa pun
Ayat 29 dan 30 menunjukkan pula bahwa kita harus menyingkirkan tidak saja perbuatan, tetapi juga motivasi dosa semacam ini. Jika kita gagal berbuat demikian, Ia akan memasukkan kita ke dalam api neraka ketika Ia datang. Ini adalah perkataan yang sangat serius.