TERBENTUKNYA PENOLAKAN TERHADAP RAJA (1)
Dalam berita ini kita melihat terbentuknya penolakan terhadap Raja (Mat. 12:1-50).
I. ALASAN PENOLAKAN — MELANGGAR HARI SABAT
Alasan penolakan mereka terhadap Raja ialah melanggar hari Sabat (Mat. 12:1-14).
A. Memetik dan Memakan Bulir Gandum
1. Raja Surgawi dan Murid-murid-Nya
Melewati Ladang Gandum pada Hari Sabat
dan Murid-murid Memetik Bulir Gandum dan Memakannya
Matius 12:1 mengatakan, “Pada waktu itu, pada hari Sabat, Yesus berjalan di ladang gandum. Karena lapar, murid-murid-Nya memetik bulir gandum dan memakannya.” “Pada waktu itu” menghubungkan pasal 12 dengan pasal 11. Pada waktu Tuhan memanggil orang untuk beristirahat dari se-gala usaha memelihara hukum Taurat dan peraturan-per-aturan agama, Dia berjalan melintasi ladang gandum pada hari Sabat, dan murid-murid-Nya mulai memetik bulir gan-dum dan memakannya, seakan-akan melanggar hari Sabat. Ingatlah, dalam catatannya, Matius mengemukakan bebera-pa fakta secara bersama untuk menyajikan suatu doktrin. Catatan dalam Injil lainnya tidak sama benar dengan yang tercatat di sini. Anak kalimat “pada waktu itu” sangat pen-ting, yang menunjukkan waktu Tuhan memanggil orang untuk masuk ke dalam perhentian-Nya. Pada saat itu, semua murid-Nya lapar. Ketika kita lapar, kita tidak punya perhentian. Perhentian mencakup juga kepuasan. Ketika Anda puas, Anda memiliki perhentian. Tetapi jika Anda tidak mempunyai kepuasan, Anda tidak memiliki perhentian.
Ketika Tuhan memanggil orang masuk ke dalam per-hentian, murid-murid-Nya lapar. Karena itu, Dia membawa mereka ke ladang gandum, ladang yang ditumbuhi gandum. Tidak diragukan, Dia mengetahui bahwa ladang gandum ini telah matang, penuh bulir-bulir gandum yang baik un-tuk dimakan. Tuhan sengaja berbuat demikian. Dia menge-tahui bahwa murid-murid-Nya lapar, Dia membawa mereka ke ladang gandum untuk mendapatkan perhentian. Ini me-rupakan suatu lambang. Panggilan untuk datang kepada-Nya supaya mendapatkan perhentian dalam pasal 11 dise-rukan pada hari Sabat. Ini dibuktikan oleh kata-kata “Pada waktu itu” yang dimulai pasal 12. Hari Sabat ialah hari perhentian. Pada hari perhentian Tuhan memanggil orang-orang masuk ke dalam perhentian. Dia seolah-olah berkata, “Kamu sekalian memelihara hari Sabat, tetapi kamu masih berjerih payah dan berjuang untuk menjalankan hukum Taurat. Kamu menanggung beban berat dari semua hukum Taurat, ritual, tata cara, dan peraturan. Sekalipun kamu memelihara hari Sabat secara lahiriah, pada hakikatnya ka-mu tidak mempunyai perhentian. Kamu perlu datang kepa-da-Ku. Kamu bekerja keras dan dibebani dengan masalah taat pada hukum Taurat. Datanglah kepada-Ku, maka kamu akan mendapatkan perhentian.” Petrus dan Yohanes mung-kin berkata, “Kami lapar dan tidak memiliki perhentian. Kami perlu makan.” Tetapi hari itu hari Sabat, dan sebe-narnya semua aktivitas telah berhenti. Sebab itu, murid-murid sulit menemukan makanan. Ketika mengetahui hal ini, Tuhan Yesus membawa mereka ke ladang gandum.
Bertahun-tahun yang lalu saya tidak mengerti menga-pa Tuhan Yesus berbuat demikian. Kini saya paham bahwa Dia berbuat demikian karena Dia telah memanggil orang masuk ke dalam perhentian-Nya. Dia tahu murid-murid-Nya lapar; karena hari itu hari Sabat maka sulit untuk memperoleh makanan. Mereka tidak dapat membeli apa pun, melakukan apa pun, atau pergi ke mana pun, murid-murid mungkin berkata, “Tuhan Yesus, apa yang akan kami lakukan? Engkau telah memanggil kami kepada-Mu untuk mendapatkan perhentian, tetapi kami lapar dan seolah-olah tidak ada jalan bagi kami untuk memperoleh suatu makanan. Bagaimana kami dapat memiliki perhentian jika kami de-mikian lapar?” Murid-murid berada di bawah beban meme-lihara peraturan hari Sabat. Peraturan-peraturan ini telah menjadi beban berat bagi murid-murid yang lapar. Karena itu, Tuhan Yesus memelopori mereka untuk tidak berpegang pada peraturan-peraturan dengan membawa murid-murid-Nya keluar dari situasi yang berpegang pada peraturan-peraturan ke ladang gandum. Maksud Tuhan berbuat demi-kian ialah untuk membebaskan murid-murid dari peratur-an memelihara hari Sabat. Ketika mereka berada di ladang gandum, setiap orang bebas dari beban ini dan merasa pu-as, dan masuk ke dalam perhentian. Inilah latar belakang penolakan mereka terhadap Tuhan dalam pasal 12. Harus-kah murid-murid menderita lapar dalam memelihara hari Sabat atau haruskah mereka melupakan hari Sabat dan mencari sesuatu makanan untuk memuaskan rasa lapar me-reka? Tuhan memelopori untuk membawa murid-murid-Nya yang lapar masuk ke dalam ladang gandum di mana mereka semua mendapatkan makanan.
2. Orang-orang Farisi Melihat dan Menyalahkan Mereka
Ayat 2 berkata, “Melihat itu, berkatalah orang-orang Farisi kepada-Nya, ‘Lihatlah, murid-murid-Mu melakukan sesuatu yang tidak diperbolehkan pada hari Sabat.’” Orang-orang Farisi, “pengawas hari Sabat”, menangkap basah Tuhan Yesus dan murid-murid-Nya. Mereka tentunya telah meng-amat-amati Tuhan. Jika tidak, mengapa mereka berada di ladang gandum pada hari Sabat? Orang-orang Farisi tentu-nya dengan sengaja mengikuti Dia untuk memata-matai-Nya.
Orang Farisi menyalahkan apa yang dilakukan oleh murid-murid Tuhan, dengan mengatakan bahwa hal itu tidak boleh mereka lakukan pada hari Sabat. Hari Sabat ditetapkan supaya orang-orang Yahudi mengingat penyele-saian penciptaan Allah (Kej. 2:2), memelihara tanda perjanjian yang diadakan oleh Allah dengan mereka (Yeh. 20:12), dan mengingat penebusan Allah yang sudah rampung bagi mereka (Ul. 5:15). Karena itu, melanggar hari Sabat adalah perkara yang serius dalam pandangan orang Farisi yang agamawi. Bagi mereka, hal itu tidak diperbolehkan dan tidak sesuai dengan Kitab Suci. Tetapi mereka tidak memili-ki pengenalan yang memadai mengenai Kitab Suci. Berdasar-kan pengetahuan mereka yang miskin, mereka memperha-tikan tata cara memelihara hari Sabat, tidak memperhatikan rasa lapar orang. Alangkah bodohnya jika kita hanya mem-perhatikan tata cara yang sia-sia!
3. Pembelaan Raja
Situasi dan kondisi ini memberi Tuhan Yesus suatu kesempatan untuk lebih banyak mewahyukan diri-Nya. Orang Farisi mengira bahwa Yesus telah terjebak. Tetapi bagi Tuhan Yesus ini merupakan kesempatan untuk me-wahyukan diri-Nya kepada mereka dan murid-murid-Nya. Sebelum ini Tuhan telah mewahyukan diri-Nya sebagai Tabib, Mempelai Laki-laki, Gembala, dan Yang punya tuai-an. Setelah “tertangkap” oleh orang Farisi, Tuhan mewah-yukan diri-Nya paling tidak dalam lima aspek besar.
a. Daud dan Orang-orangnya telah Masuk ke Dalam Rumah Allah dan Makan Roti Sajian
Menurut ayat 3-4, Tuhan bertanya kepada orang Farisi, “Tetapi jawab-Nya kepada mereka, ‘Tidakkah kamu baca apa yang dilakukan Daud, ketika ia dan orang-orang yang mengikutinya lapar, bagaimana ia masuk ke dalam Rumah Allah dan bagaimana mereka makan roti sajian yang tidak boleh dimakan, baik olehnya maupun oleh mereka yang mengikutinya, kecuali oleh imam-imam?’” Orang Farisi me-ngatakan bahwa murid-murid Tuhan tidak boleh memetik gandum di ladang dan memakannya; dengan demikian me-reka menyalahkan murid-murid itu karena mereka berbuat sesuatu yang bertentangan dengan Kitab Suci. Tetapi Tuhan menjawab, “Tidakkah kamu baca . . . ?” menunjukkan kepada mereka aspek lain yang terdapat dalam Kitab Suci, yang membenarkan Dia dan murid-murid-Nya. Jadi, orang-orang Farisi disalahkan karena kekurangan pengenalan yang memadai terhadap Kitab Suci. Tuhan Yesus seolah-olah berkata, “Kamu datang ke sini untuk menangkap Aku menurut Kitab Suci. Janganlah mengira bahwa kamu me-ngerti benar tentang Kitab Suci. Kamu hanya mengerti seba-gian, secara sangat dangkal. Kamu tidak pernah menjamah kedalaman Kitab Suci. Kamu mungkin telah membacanya, tetapi kamu tidak memahaminya. Bacalah apa yang Daud lakukan ketika ia dan pengikutnya lapar. Mereka makan sesuatu, roti sajian dalam bait yang menurut peraturan imamat tidak boleh mereka makan. Kamu orang-orang Farisi mengira bahwa Aku telah berbuat tidak benar. Tetapi ti-dakkah kamu baca bahwa Daud dan pengikut-pengikutnya berbuat hal yang sama?” Kita harus mengapresiasi penge-tahuan Tuhan tentang Kitab Suci.
Perkataan Tuhan di sini menyiratkan bahwa Dia ada-lah Daud yang sejati. Pada zaman dulu, ketika mereka di-tolak, Daud dan para pengikutnya masuk ke dalam Rumah Allah dan memakan roti sajian, kelihatannya melanggar hukum imamat. Kini Daud yang sejati dan para pengi-kutnya juga ditolak, dan murid-murid memetik gandum dan memakannya, kelihatannya melakukan sesuatu yang bertentangan dengan peraturan Sabat. Sebagaimana Daud dan para pengikutnya tidak dianggap salah, demikian pula Kristus dan murid-murid-Nya tidak seharusnya disalahkan. Kedua peristiwa ini berkaitan dengan hal makan. Raja Daud adalah lambang Kristus. Daud mempunyai pengikut, dan Kristus, Daud yang sejati, juga mempunyai murid-murid sebagai pengikut-Nya. Raja Daud dan pengikut-pengikut-Nya ditolak oleh orang, Daud yang sejati dan pengikut-pengikut-Nya juga ditolak. Sebagaimana Daud dan pengikut-pengikut-Nya lapar, begitu juga Kristus dan murid-murid-Nya lapar. Tambahan pula, baik Daud dan pengikut-pengikutnya maupun Kristus dan pengikut-pengikut-Nya, kedua-duanya sama-sama tidak mempunyai makanan, tetapi mereka men-dapati sebuah tempat di mana ada makanan. Bagi Daud tempat yang ada makanan yaitu di Rumah Allah dan bagi Kristus di ladang gandum. Semuanya ini mengandung arti bahwa Daud dan pengikut-pengikutnya merupakan lambang, bayang-bayang Kristus dan murid-murid-Nya.
Selanjutnya, perkataan Tuhan di sini menyiratkan per-ubahan zaman dari imamat kepada kerajaan. Pada zaman dulu, kedatangan Daud mengubah zaman dari zaman imam kepada zaman raja. Dalam zaman itu raja berada di atas imam. Dalam zaman imam, pemuka umat harus mende-ngarkan imam (Bil. 27:21-22). Tetapi dalam zaman raja, imam harus taat kepada raja (1 Sam. 2:35-36). Karena itu, apa yang dilakukan Raja Daud bersama para pengikutnya tidak melanggar hukum. Kini kedatangan Kristus meng-ubah zaman lagi, kali ini dari zaman hukum Taurat ke-pada zaman anugerah. Dalam zaman ini, Kristus berada di atas segalanya. Apa pun yang dilakukan-Nya adalah benar. Memelihara hari Sabat termasuk dalam zaman lama hukum Taurat. Tetapi dalam zaman anugerah, Kristuslah yang menentukan segalanya. Bukan masalah hukum Taurat, me-lainkan Kristus. Sebab itu, Tuhan seolah-olah berkata ke-pada orang-orang Farisi, “Kamu tidak seharusnya menya-lahkan Aku atau murid-murid-Ku. Bukan lagi hukum Taurat yang memberikan kata-kata yang menentukan, tetapi Aku, Kristus, Aku memberikan kepadamu perkataan terakhir yang menentukan. Akulah Raja sejati, Daud sejati. Akulah Kristus yang telah mendatangkan zaman anugerah. Jadi, apa pun yang Aku katakan atau lakukan itu merupakan ketetapan yang terakhir dan menentukan.” Orang-orang Farisi berla-gak seakan-akan paham benar akan Kitab Suci, tetapi kali ini mereka jelas sudah kalah. Alangkah kuatnya pembelaan Tuhan!
b. Imam-imam Melanggar Sabat Pada Hari Sabat di Dalam Bait Suci
Dalam ayat 5 Tuhan bertanya kepada orang-orang Farisi, “Atau tidakkah kamu baca dalam kitab Taurat bah-wa pada hari-hari Sabat, imam-imam melanggar hukum Sabat di dalam Bait Allah, namun tidak bersalah?” Di sini Tuhan menunjukkan kepada orang-orang Farisi kasus lain dalam Kitab Suci, yang menyingkapkan betapa sedikitnya pengenalan mereka terhadap Kitab Suci. Dia menunjukkan bahwa apa yang dilakukan imam-imam dalam Bait Suci pada hari Sabat tidaklah salah.
c. Raja Surgawi Lebih Besar daripada Bait
Kemudian dalam ayat 6 Tuhan mengumumkan, “Aku berkata kepadamu: Di sini ada yang melebihi Bait Allah.” Betapa beraninya Tuhan! Dia orang Nazaret, tetapi ketika Dia berdiri di hadapan orang-orang Farisi, Dia seolah-olah berkata, “Pandanglah Aku. Aku lebih besar daripada Bait Allah.” Orang-orang Farisi pasti sangat tercengang sampaisampai mereka tidak dapat mengatakan apa pun.
Tuhan mewahyukan kepada orang-orang Farisi bahwa Dia melebihi Bait Allah. Ini menunjukkan perpalingan yang lain, penggenapan lambang dari bait kepada satu per-sona. Dalam hal Daud, terjadi perpalingan dari satu zaman ke zaman yang lain. Dalam hal ini, tentang imam, terjadi per-palingan dari bait ke satu persona yang melebihi bait. Ka-rena imam-imam tidak bersalah dalam berbuat sesuatu pada hari Sabat di dalam bait, bagaimana mungkin murid-murid Tuhan bisa disalahkan dengan melakukan sesuatu pada hari Sabat di dalam Dia yang lebih besar daripada bait? Dalam hal pertama, raja melanggar peraturan imam; dalam hal kedua, imam melanggar peraturan Sabat. Menurut Kitab Suci, tidak ada yang bersalah. Jadi, menurut Kitab Suci yang Tuhan lakukan adalah benar.
Nampaknya imam-imam melanggar hari Sabat, tetapi sesungguhnya mereka tidak melanggarnya, sebab mereka berada di dalam Bait Allah. Dalam wilayah itu segala hari dan segala sesuatu adalah kudus. Di luar Bait Allah segala sesuatu adalah awam. Tetapi begitu sesuatu itu dibawa ke dalam Bait Allah, dikuduskan oleh Bait Allah. Demikian pula segala hari dikuduskan oleh Bait Allah. Di luar Bait Allah, ada hari-hari biasa dan hari-hari kudus, tetapi di dalam Bait Allah tidak ada perbedaan itu. Segala sesuatu, segala hari, setiap perkara dan setiap orang yang berada di dalam Bait Allah adalah kudus. Namun, Bait Allah di sini hanyalah bayang-bayang, bukan realitas. Realitasnya adalah Kristus, Bait Allah yang lebih besar. Tuhan seolah-olah ber-kata, “Aku Bait sejati, yang lebih besar daripada Bait Allah. Di dalam-Ku, Petrus, Yohanes, dan semua nelayan Galilea dikuduskan. Di dalam-Ku segala hari ialah hari kudus. Jika imam-imam bebas bertindak dengan leluasa dalam berbagai macam aktivitas, pada hari Sabat dalam Bait Suci, tidak lebih leluasakah murid-murid-Ku yang terkasih ini melaku-kan sesuatu di dalam-Ku? Bait Allah melindungi imam-imam ini; kini Aku, Bait Allah yang lebih besar, melindungi murid-murid-Ku. Orang-orang Farisi, janganlah menganggu Aku. Biarlah murid-murid-Ku bebas, karena mereka semua berada dalam Bait Suci yang lebih besar.” Inilah perubahan dari lambang ke realitas. Pembelaan Tuhan terlalu dalam bagi orang Farisi untuk didebat. Mereka tidak berdaya se-dikit pun melawan pembelaan Tuhan, sehingga terkatuplah mulut mereka.
d. Allah Menghendaki Belas Kasihan Bukan Persembahan
Selanjutnya Tuhan berkata, “Jika memang kamu me-ngerti maksud firman ini: Yang Kukehendaki ialah belas kasihan dan bukan persembahan, tentu kamu tidak meng-hukum orang yang tidak bersalah” (ayat 7). Dengan ini, Tuhan menunjukkan bahwa apa yang dilakukan orang-orang Farisi tidak menurut maksud hati Allah. Mereka keras dalam peraturan, tetapi mengabaikan belas kasihan Allah. Tetapi Allah menghendaki belas kasihan, bukan persem-bahan.
e. Anak Manusia Adalah Tuhan atas Hari Sabat
Terakhir dalam ayat 8 Tuhan berkata, “Karena Anak Manusia adalah Tuhan atas hari Sabat.” Betapa beraninya Tuhan Yesus! Ia menang dalam perkara itu, dan orang-orang Farisi yang tercengang, diam seribu bahasa. Tidak ada sesuatu yang dapat mereka katakan. Ucapan Tuhan kepada orang-orang Farisi bahwa Dia adalah Tuhan hari Sabat, sama seperti seseorang yang mengatakan kepada patroli jalan raya bahwa dia adalah tuan jalan raya itu. Andaikata Anda dihadang oleh seorang patroli jalan raya, kemudian Anda berkata kepadanya, “Janganlah mengganggu aku. Akulah tuan jalan raya dan jalan raya ini milikku. Kamu hanya seorang patroli jalan raya yang aku gaji. Sebagai tu-an jalan raya, aku dapat mengubah semua peraturan. Me-mang aku memberitahukan kepadamu beberapa peraturan tentang jalan raya, tetapi kini aku telah mengubahnya tan-pa memberitahukan kepadamu, sebab akulah tuan jalan raya.”
Dalam ayat 8 Tuhan menunjukkan perpalingan ketiga, perpalingan yang menyatakan hak, dari hak hari Sabat ke-pada Tuhan atas hari Sabat. Sebagai Tuhan atas hari Sabat, Dia memiliki hak untuk mengubah peraturan tentang hari Sabat. Jadi, Tuhan mengemukakan pembelaan rangkap tiga kepada orang Farisi yang menyalahkan. Dia adalah Daud yang sejati, bait yang lebih besar, dan Tuhan atas hari Sabat. Karena itu, Dia dapat melakukan apa saja yang disukai-Nya pada hari Sabat, dan apa pun yang dilakukan-Nya dibenarkan oleh diri-Nya sendiri. Dia berada di atas semua upacara dan peraturan. Karena Dia ada di sana, kita tidak se-harusnya memperhatikan upacara dan peraturan apa pun.
B. Tuhan Menyembuhkan Orang yang Tangannya Mati Sebelah dalam Rumah Ibadat pada Hari Sabat
1. Raja Surgawi Masuk ke Dalam Rumah Ibadat
Ayat 9 mengatakan, “Setelah pergi dari sana, Yesus ma-suk ke rumah ibadat mereka.” Setelah menang dalam perkara dengan orang Farisi, Tuhan Yesus masuk ke dalam rumah ibadat mereka. Hal ini terjadi pada hari Sabat lain (Luk. 6:6). Tuhan Yesus sungguh seorang yang menimbulkan kerepot-an. Setelah membuat kerepotan di ladang gandum, menga-lahkan “patroli hari Sabat”, menurut catatan Matius, Dia pergi bersama murid-murid-Nya ke rumah ibadat bahkan berbuat hal yang lebih merepotkan.
2. Orang yang Mati Sebelah Tangannya
Dalam rumah ibadat ada seorang yang mati sebelah ta-ngannya. Ketika orang-orang Farisi bertanya kepada Tuhan apakah boleh menyembuhkan orang pada hari Sabat, Dia berkata kepada mereka, “Jika seorang dari antara kamu mempunyai seekor domba dan domba itu terjatuh ke da-lam lubang pada hari Sabat, tidakkah ia akan menangkap-nya dan mengeluarkannya? Bukankah manusia jauh lebih berharga daripada domba? Karena itu, boleh berbuat baik pada hari Sabat” (ayat 11-12). Di sini kita nampak hikmat Tuhan. Saat ini Dia tidak mengutip sebuah ayat, tetapi Dia menunjukkan kepada praktek mereka. Dengan perkataan lain, dalam perkara yang pertama, Dia mengutip ayat Kitab Suci, dalam perkara yang kedua, Dia mengetengahkan se-jarah. Sekali lagi mulut mereka terkatup.
3. Tangan yang Mati Sebelah Dipulihkan
Ayat 13 mengatakan,“Lalu kata Yesus kepada orang itu, ‘Ulurkanlah tanganmu!’ Orang itu pun mengulurkannya, maka pulihlah tangannya itu dan menjadi sehat seperti ta-ngannya yang lain.” Dalam perkataan Tuhan terkandung ha-yat yang menghidupkan. Dengan mengulurkan tangannya, orang itu menerima firman pemberi hayat Tuhan, dan ta-ngannya yang mati sebelah terpulih karena hayat dalam fir-man-Nya.
Memimpin murid-murid masuk ke dalam ladang gandum menunjukkan bahwa Tuhan memperhatikan diri-Nya sebagai Kepala Tubuh. Sebagai Kepala, Dia adalah segala sesuatu — Daud yang sejati, bait yang lebih besar, dan Tuhan atas hari Sabat. Menyembuhkan tangan yang mati sebelah menandakan bahwa Dia memperhatikan anggota-anggota-Nya. Dia menyembuhkan orang yang mati sebelah tangan-nya, mengibaratkan orang ini sebagai domba. Tangan ada-lah anggota tubuh, dan domba adalah anggota kawanan. Tuhan mau melakukan apa saja untuk menyembuhkan ang-gota-anggota-Nya, untuk menyelamatkan domba-Nya yang jatuh. Hari Sabat atau bukan, yang Tuhan perhatikan ada-lah kesembuhan anggota Tubuh-Nya yang mati. Bagi Dia, peraturan-peraturan tidak menjadi masalah; penyelamatan domba-Nya yang jatuh adalah segala-Nya.
Jangan membaca Kitab Matius sebagai buku cerita atau hanya sebagai doktrin, kita harus masuk ke dalam buku ini. Dengan menjajarkan dua perkara ini, kita nampak bahwa dalam perkara yang pertama Kristus memperhatikan diri-Nya sebagai Kepala dan dalam perkara yang kedua Dia memperhatikan anggota-anggota Tubuh-Nya. Tangan adalah masalah tubuh dan domba adalah sebagian dari kawanan domba, yang juga menunjukkan Tubuh. Dalam perkara yang pertama Tuhan Yesus memperhatikan ke-Tuhanan-Nya, ke-pemimpinan-Nya. Dalam perkara yang kedua Dia memper-hatikan salah satu anggota-Nya yang lemah dan sakit. Dia tidak mempedulikan hari Sabat. Dia hanya memperhatikan kepemimpinan-Nya dan anggota-anggota Tubuh-Nya. Karena itu, kita harus mengambil kesimpulan bahwa Tuhan hanya memperhatikan Kristus dan gereja. Tuhan bisa berkata, “Hari Sabat tidak berarti. Aku tidak peduli. Aku mempedulikan kepemimpinan-Ku dan anggota-anggota Tubuh-Ku. Sebab Akulah Kepala, Tuhan; apa pun yang Aku katakan selalu benar. Aku memperhatikan kepemimpinan-Ku dan aku juga memperhatikan anggota-Ku. Aku ingin membuat anggota-anggota-Ku hidup. Aku ingin menolong mereka, mengang-kat mereka, dan menyembuhkan mereka. Aku ingin membu-at anggota-anggota-Ku hidup. Aku ingin menolong mereka, mengangkat mereka, dan menyembuhkan mereka. Aku ti-dak peduli akan semua doktrin dan praktek-praktek agama. Aku hanya memperhatikan anggota-anggota-Ku agar selalu kuat dan hidup.” Dalam hati Raja surgawi ini tidak ada Sabat, doktrin, dan peraturan apa pun. Sebaliknya dalam hati-Nya ada ke-Tuhanan-Nya. Kita harus nampak bahwa Dialah Tuhan dan Dia mengatasi hari Sabat. Hari Sabat semata-mata hanya alat yang dipergunakan oleh Dia, tetapi Dia sendiri adalah Tuhan atas hari Sabat. Tuhan juga mem-perhatikan anggota-anggota-Nya, termasuk setiap anggota tubuh-Nya yang sakit, lemah, atau dalam keadaan susah. Dia akan melakukan sesuatu untuk anggota-Nya, menolong, menyembuhkan, dan menghidupkan. Saya menengadah kepada Tuhan agar kita semua nampak hal ini.
Hari ini prinsipnya sama. Asalkan kita bagi Kristus dan gereja beserta semua anggota, segala sesuatu akan beres. Tidak ada beban atau peraturan. Pada hari Sabat, kedua belas rasul puas dan memiliki perhentian; pada hari Sabat, orang yang mati sebelah tangannya juga memiliki perhen-tian. Jadi ada hari Sabat yang sejati bagi murid-murid dan bagi orang yang mati sebelah tangannya, sebab mereka me-nerima perawatan dan penyembuhan dari Kristus. Apa pun yang mereka perlukan mereka terima dari Dia. Hari ini juga demikian.
4. Orang Farisi Bersekongkol untuk Membunuh Raja Surgawi
Ayat 14 mengatakan,“Lalu keluarlah orang-orang Farisi itu dan membuat rencana untuk membunuh Dia.” Dalam pandangan orang-orang Farisi yang agamawi, perbuatan Tuhan yang melanggar hari Sabat berarti merusak per-janjian Allah dengan bangsa Israel, yaitu merusak hubungan antara Allah dengan Israel. Karena itu, mereka bersekongkol menentang-Nya, mencari jalan untuk membunuh-Nya. Pelang-garan hari Sabat membuat kaum agamawan Yahudi menolak Raja surgawi. Orang-orang Farisi, orang-orang yang alkitabiah, berkomplot untuk membunuh Yesus bagi Allah! Ini sulit di-percayai. Tetapi mereka dibutakan oleh agama mereka. Me-reka tidak dapat nampak Kristus ataupun gereja, Kepala ataupun anggota. Mereka mutlak buta, tertutup, terselu-bung oleh agama mereka. Menurut pengertian mereka, Tuhan Yesus harus dibunuh dan mereka bersekongkol demi tujuan ini. Pada akhirnya, mereka benar-benar menyalibkan Kristus. Namun, sesungguhnya mereka melakukan menurut kedaulatan Allah.
Pada butir ini, Matius 12:14, penolakan terhadap Kristus oleh agama mencapai puncaknya. Agama sepenuhnya menolak Raja Surgawi dan berkomplot untuk membunuh Dia.
II. PENOLAKAN MENYEBABKAN DIA BERPALING KEPADA ORANG BUKAN YAHUDI
A. Raja Pergi dari Orang-orang yang Menolak-Nya
Penolakan ini menyebabkan Raja dengan keselamatan rajani-Nya berpaling dari orang Yahudi kepada orang kafir (Mat. 12:15-21). Ayat 15 mengatakan,“Tetapi Yesus mengetahui maksud mereka lalu menyingkir dari sana.”
B. Raja Menyembuhkan Semua Orang Sakit
Ayat 15 berkata pula bahwa banyak orang mengikuti-Nya dan Dia menyembuhkan mereka semua. Menurut ayat 16, “Ia dengan keras melarang mereka memberitahukan si-apa Dia.” Dia memperingatkan mereka sebab orang-orang Farisi bersepakat membunuh Dia. Karena itu, sejak saat itu, Tuhan berusaha menyembunyikan diri-Nya.
C. Nubuat Yesaya Tentang Berpalingnya Raja kepada Bangsa-bangsa
Ayat 17-18 mengatakan, “Supaya digenapi firman yang disampaikan oleh Nabi Yesaya, ‘Lihatlah, itu Hamba-Ku yang Kupilih, yang Kukasihi, yang kepada-Nya jiwa-Ku berkenan;
Aku akan menaruh Roh-Ku ke atas-Nya, dan Ia akan me-nyatakan keadilan kepada bangsa-bangsa.’” Ini menunjukkan karena orang-orang Yahudi menolak-Nya, Raja Surgawi dengan Kerajaan Surga-Nya akan berpaling kepada bangsa-bangsa lain (orang kafir), dan bangsa-bangsa lain akan me-nerima-Nya dan percaya kepada-Nya (ayat 21).
1. Tidak Berbantah, Tidak Berteriak
Ayat 19 juga merupakan kutipan dari Kitab Yesaya yang mengatakan, “Ia tidak akan berbantah dan tidak akan berte-riak dan orang tidak akan mendengar suara-Nya di jalan-jalan.” Ini menunjukkan bahwa Dia tidak lagi bebas mela-yani secara terbuka, sebaliknya Dia harus menyembunyikan diri. Alasan penolakan dan perlunya Tuhan bersembunyi ada-lah karena pelanggaran peraturan agama. Ini karena perha-tian terhadap kepemimpinan-Nya dan anggota-anggota Tubuh-Nya. Oleh alasan inilah penolakan mencapai puncaknya. Hari ini prinsipnya sama. Semakin sedikit kita memperhatikan peraturan agama, semakin banyak kita memperhatikan Kristus dan Tubuh-Nya, maka lebih banyak penentangan.
2. Tidak Memutuskan Buluh yang Patah Terkulai
dan Tidak Memadamkan Sumbu yang Pudar Nyalanya
Ayat 20, kutipan lebih lanjut dari Kitab Yesaya, menga-takan “Buluh yang patah terkulai tidak akan diputuskan-Nya, dan sumbu yang pudar nyalanya tidak akan dipadamkan-Nya, sampai Ia menjadikan hukum itu menang.” Sebagai orang yang diurapi dengan Roh, Kristus tidak hanya tidak akan berteriak di jalan-jalan, Dia pun tidak akan memutuskan buluh yang patah terkulai dan tidak akan memadamkan sumbu yang pudar nyalanya. Orang-orang Yahudi biasa membuat suling dari buluh. Bila buluh itu sudah terkulai, mereka mematahkannya. Mereka juga membuat obor dengan sumbu yang menyalakan minyak. Bila minyaknya habis, sumbu itu akan berasap (pudar nyalanya) dan mereka me-madamkannya. Sebagian umat Tuhan seperti buluh yang ter-kulai, yang tidak dapat mengeluarkan suara musik; yang lain seperti sumbu yang berasap, yang tidak dapat mengha-silkan terang yang memancar. Namun Tuhan tidak akan me-mutuskan buluh yang terkulai atau memadamkan sumbu yang berasap. Meskipun Tuhan ditolak, Dia masih penuh belas kasihan. Bahkan mereka yang telah menjadi buluh yang terkulai tidak akan Dia patahkan; mereka yang telah menjadi sumbu yang berasap tidak akan Dia padamkan. Sebaliknya Dia masih membukakan pintu anugerah kepada mereka semua. Di antara para pengikut-Nya dan kaum ber-iman-Nya pada hari ini, banyak yang telah menjadi buluh yang patah terkulai yang tidak mampu lagi mengeluarkan suara musik. Lazimnya, buluh-buluh yang terkulai akan dipatahkan dan dibuang. Tetapi Kristus tidak berbuat demi-kian. Di samping itu, banyak orang beriman-Nya tidak lagi menyala seperti lampu terang. Seharusnya Dia memadamkan mereka semua dan melempar mereka. Tetapi Dia tidak ber-buat demikian. Sebaliknya, Dia penuh dengan belas kasihan. Tidak peduli berapa banyak tentangan, aniaya, dan serangan, Raja surgawi ini selalu penuh dengan belas kasihan. Dia adalah Penyelamat rajani yang berbelas kasihan. Boleh jadi Anda menolak Dia hari ini, tetapi Dia akan tetap berbelas kasihan kepada Anda. Esok hari jika Anda berkata, “Tuhan Yesus, aku bertobat.” Dia dengan rahmat akan memperlakukan Anda. Sungguh Dia Penyelamat yang berbelas kasihan! Dia tidak pernah memutuskan buluh yang terkulai atau memadamkan sumbu yang pudar nyalanya. Sebalik-Nya, Dia akan menunggu Anda menerima belas kasihan dan anugerah-Nya.
D. Bangsa-bangsa Akan Berharap dalam Nama-Nya
Ayat 21 mengatakan,“Dan pada-Nyalah bangsa-bangsa akan berharap.” Karena penolakan oleh kaum agamawan Yahudi, Raja surgawi dengan keselamatan-Nya berpaling kepada bangsa-bangsa lain. Kini bangsa-bangsa lain berha-rap dalam nama-Nya, percaya kepada-Nya, dan menerima Dia sebagai Penyelamat rajani mereka.
Bagian firman ini mewahyukan bahwa di satu pihak, Tuhan itu berani lagi tegas, dan di pihak lain, Dia berbelas kasihan. Di satu pihak, Dia kuat, di pihak lain, Dia berbe-las kasihan dan lemah lembut. Inilah Raja yang mendiri-kan Kerajaan Surga dan inilah jalan bagi Dia untuk men-dirikan kerajaan-Nya. Jangan mengira bahwa dalam pasal 12 Tuhan telah dikalahkan. Itu konsepsi yang keliru. Dia bukan dikalahkan tetapi sedang mendirikan kerajaan-Nya. Itu sama dengan kita hari ini, janganlah mengatakan, “Be-gitu banyak serangan dan tentangan. Banyak desas-desus tersebar melawan kita. Betapa sulit bagi pemulihan Tuhan. Pemulihan itu akan dikalahkan! Itu salah. Sekalipun jumlah kita demikian sedikit, dan seolah-olah semua kekristenan bangkit melawan kita. Tetapi pada hakikatnya kita tidak salah. Siapakah yang menyukai Alkitab dan mengetahuinya lebih daripada kita? Tidakkah kita hidup di hadirat Allah dan mengasihi Tuhan Yesus? Tidakkah kita menerima-Nya sebagai hayat kita setiap hari? Lalu mengapa begitu banyak orang Kristen yang terkasih menentang kita dan tidak me-nentang orang lain? Hari ini perlakuan mereka sama ter-hadap kita seperti terhadap Tuhan Yesus ketika Dia berada di bumi. Sekalipun Dia seorang manusia kecil, tetapi musuh Allah tahu bahwa Dia yang akan mengalahkannya dan mendirikan Kerajaan Surga. Hari ini prinsipnya juga sama. Musuh-musuh tahu bahwa inilah pemulihan Tuhan dan bahwa pemulihan ini akan mengalahkan mereka dan men-dirikan Kerajaan Surga. Janganlah sekali-kali menganggap bahwa pemulihan Tuhan sebagai pekerjaan kekristenan yang biasa. Semakin banyak tentangan, aniaya, kritik, dan se-rangan, semakin kita diteguhkan. Jangan berharap tentangan itu mereda. Jika tidak seorang pun menentang kita, itu tandanya kita salah, kita kehilangan kesaksian. Tetapi asal-kan kita ditentang dan diserang, menunjukkan bahwa kita benar. Serangan tidak membuat kita rugi apa-apa, sebalik-nya membuat kita mendapatkan sesuatu. Inilah jalan terba-ngunnya Kerajaan Surga. Dibangunkan melalui diserang, dianiaya, dan dikritik. Dalam Matius 12 Tuhan Yesus bukan kalah perang, justru Dia menang. Sama seperti hari ini. Puji Tuhan bahwa kita tidak berperang secara manusiawi, tetapi secara “Tuhan Yesus”. Ketika Dia diserang, Dia menang. Demikian pula, semakin pemulihan diserang, Kerajaan Surga semakin dibangunkan. Tanpa diragukan, kerajaan itu diba-ngunkan di antara kita dalam pemulihan Tuhan. Puji Dia!