TERBENTUKNYA PENOLAKAN TERHADAP RAJA (2)
Kita telah nampak bahwa Matius merupakan kitab mengenai doktrin kerajaan. Dalam Injilnya, Matius tidak memberikan catatan sejarah; ia menggabungkan fakta-fakta sejarah menjadi satu untuk mewahyukan doktrin kerajaan. Sampai berita ini, kita telah nampak bahwa Kristus dila-hirkan, diurapi, diuji, memulai ministri-Nya, menarik kha-layak, mengumumkan konstitusi surgawi dan melanjutkan ministri-Nya. Ministri-Nya menghasilkan suasana lingkungan yang memungkinkan Dia mewahyukan diri-Nya dalam ba-nyak aspek. Selain itu, ministri-Nya menyebabkan Dia ditolak sepenuhnya oleh angkatan jahat. Kita pun nampak bahwa Tuhan memanggil orang yang letih lesu dan menang-gung beban berat untuk datang kepada-Nya guna menda-patkan perhentian. Dia menunjukkan kepada mereka bah-wa jalan untuk mendapatkan perhentian ialah dengan menolak peraturan agama dan hanya mempedulikan Kepala serta anggota Tubuh. Melalui semua inilah Kerajaan Surga dibangunkan di bumi di antara manusia. Kita semua perlu terkesan dengan gambaran yang sedemikian jelas.
Kini kita harus nampak bahwa Kerajaan Surga terba-ngun, perlu ada peperangan rohani. Peperangan ini tercan-tum dalam 12:22-37. Dalam pembangunan kerajaan, pepe-rangan terus berlangsung. Walaupun kita telah melihat banyak perkara, kita belum nampak bahwa pembangunan kerajaan memerlukan peperangan rohani. Ketika Kristus, Raja surgawi, membangun Kerajaan Surga di antara manusia di bumi, Dia juga berperang. Namun manusia tidak meli-hat peperangan ini. Mereka hanya nampak apa yang Dia lakukan secara lahiriah, tanpa menyadari apa yang terjadi di dalam-Nya. Karena itu Matius memilih fakta sejarah lain untuk menunjukkan bahwa peperangan ini berlangsung terus, ketika Raja sedang membangun Kerajaan Surga.
III. PUNCAK PENOLAKAN
Pada masa 12:22-37, ministri Tuhan tidak lagi terbuka. Tuhan tidak lagi melakukan ministri-Nya secara terbuka, sebaliknya Ia lebih berhati-hati dan tenang. Namun, apa yang Tuhan lakukan dalam ayat 22 yaitu menyembuhkan orang yang dirasuk setan, merupakan satu fakta sejarah yang tidak dapat disembunyikan.
A. Orang yang Dirasuk Setan Dibawa
ke Hadapan Raja Surgawi
dan Raja Menyembuhkannya
Ayat 22 mengatakan,“Kemudian dibawalah kepada Yesus seorang yang kerasukan setan. Orang itu buta dan bisu, lalu Yesus menyembuhkannya, sehingga si bisu itu
berkata-kata dan melihat.” Orang yang buta dan bisu me-lambangkan orang yang tidak memiliki daya lihat rohani, yaitu tidak mampu melihat Allah dan hal-hal rohani; kare-na itu, tidak dapat memuji Allah dan berbicara untuk Allah. Inilah keadaan yang nyata dari semua orang yang telah jatuh. Orang yang demikian itu dibawa kepada Raja, Raja mengusir setan dan orang itu dapat melihat dan berkata-kata. Ia mengucapkan apa yang ia lihat. Ini jelas suatu mukjizat yang sangat besar.
B. Semua Orang Takjub dan Heran
Bahwa Raja Ialah Anak Daud
Ayat 23 mengatakan,“Maka takjublah sekalian orang banyak itu, katanya, ‘Ia ini agaknya Anak Daud.’” Mukjizat yang dilakukan dalam penyembuhan orang buta dan bisu itu menakjubkan banyak orang, sehingga mereka berkata: Ia ini agaknya Anak Daud. Ini menunjukkan bahwa mereka mengenal Kristus sebagai Mesias mereka, Raja mereka.
C. Orang-orang Farisi Mengatakan Bahwa Raja
Mengusir Setan dengan Kuasa Beelzebul, Pemimpin Setan
Sekalipun banyak orang takjub, orang-orang Farisi me-rasa terserang, sehingga mereka tidak bisa bertoleransi ter-hadap fakta bahwa dengan mukjizat yang luar biasa itu Tuhan Yesus telah mendapatkan banyak orang. Sebab itu, orang-orang Farisi perlu mengatakan sesuatu untuk meng-hadapi situasi itu. Menurut ayat 24, mereka berkata, “Dengan Beelzebul, pemimpin setan, Ia mengusir setan.” Inilah hujat terbesar yang ditujukan kepada Raja surgawi oleh orang-orang Farisi yang menentang-Nya. Beelzebul asalnya ditulis Beel-zebub, yang berarti “dewa lalat”, yang kemudian diubah men-jadi beelzebul yang berarti “dewa tahi”, sebagai julukan bagi pemimpin setan (Mrk. 3:22; Luk. 11:15, 18-19). Raja di tim-bunan tahi, tempat yang paling najis, penuh lalat, adalah Iblis (Satan). Sebab itu, dalam pandangan orang Yahudi kuno, Beelzebul menunjukkan Iblis (Satan) sebagai raja setan-setan dan sebagai raja lalat-lalat yang kotor di atas tim-bunan tahi. Mengatakan bahwa Kristus mengusir setan oleh Beelzebul berarti bahwa Dia mengusir mereka oleh Iblis. Alangkah besarnya hujat yang menuduh Raja surgawi ini!
D. Jawaban Raja Surgawi
Tuduhan orang-orang Farisi memberi Kristus kesem-patan untuk mewahyukan sesuatu yang lebih lanjut. Sekali lagi ministrinya menghasilkan suatu situasi yang memung-kinkan Dia mewahyukan sesuatu, yang kecuali itu kita tidak dapat nampak hal tersebut. Kelihatannya Tuhan meng-usir setan, tetapi pada hakikatnya Dia tidak hanya meng-usir setan, bahkan suatu peperangan.
1. Kerajaan Iblis (Satan) Tidak Dapat Bertahan Jika Iblis Mengusir Iblis
Ayat 25-26 berkata,“Tetapi Yesus mengetahui pikiran mereka lalu berkata kepada mereka, ‘Setiap kerajaan yang terpecah-pecah pasti binasa dan setiap kota atau rumah tang-ga yang terpecah-pecah tidak dapat bertahan. Demikianlah juga kalau Iblis mengusir Iblis, ia pun terbagi-bagi dan melawan dirinya sendiri; bagaimanakah kerajaannya dapat bertahan?’” Tuhan seolah-olah berkata kepada orang-orang Farisi, “Bagaimana Aku dapat mengusir setan oleh Iblis? Jika demikian, maka Iblis akan melawan Iblis dan kerajaannya tidak dapat bertahan.” Ayat 26 adalah ayat yang unik dalam seluruh Alkitab, tidak ada ayat lain yang membuka rahasia bahwa Iblis mempunyai kerajaan. Iblis (Satan) ialah pengu-asa dunia ini (Yoh. 12:3) dan penguasa udara (Ef. 2:2). Iblis mempunyai wewenangnya (Kis. 26:18) dan malaikat-malai-katnya (Mat. 25:4), yang adalah bawahannya sebagai peme-rintah, penguasa, dan penghulu dunia kegelapan (Ef. 6:12). Jadi, Iblis memiliki kerajaannya, yaitu kuasa kegelapan (Kol. 1:13). Kerajaan Iblis dibangun di atas bumi dan di an-tara manusia. Tetapi Raja surgawi telah datang mendirikan Kerajaan surgawi juga di antara manusia di bumi. Sebab itu, dua kerajaan ini bertentangan. Kerajaan Iblis ialah ke-rajaan lama, tetapi Raja surgawi sedang mendirikan kera-jaan baru, Kerajaan Surga. Dengan demikian kita nampak bahwa peperangan sedang berkecamuk.
2. Pengikut-pengikut Orang Farisi Mengusir Setan oleh Beelzebul
Dalam ayat 27 Tuhan berkata kepada orang Farisi, “Jadi, jika Aku mengusir setan dengan kuasa Beelzebul, dengan kuasa siapakah pengikut-pengikutmu mengusirnya? Karena itu, merekalah yang akan menjadi hakimmu.” Pada hakikat-nya bukan Tuhan Yesus, melainkan pengikut-pengikut orang Farisi yang mengusir setan dengan Beelzebul. Perkataan Tuhan ini menunjukkan bahwa orang-orang Farisi bersatu dengan Iblis, penghulu setan.
3. Raja Mengusir Setan oleh Roh Allah Berarti Kerajaan Allah Sudah Datang
Ayat 28 mengatakan,“Tetapi jika Aku mengusir setan dengan kuasa Roh Allah, maka sesungguhnya Kerajaan Allah sudah datang kepadamu.” Roh Allah adalah kuasa Kerajaan Allah. Di mana Roh Allah berkuasa, di sana ada Kerajaan Allah, dan di tempat itu setan tidak ada kedudukan. Oleh firman Tuhan di sini kita nampak bahwa berperang bagi kerajaan tidak dilakukan dengan diri sendiri, melainkan di-lakukan dengan Roh Allah. Dalam ayat 28 Tuhan berkata bahwa Dia mengusir setan oleh Roh Allah dan inilah datang-nya Kerajaan Allah. Di mana saja Roh Allah menggunakan kekuasaan-Nya mengatasi situasi yang berlawanan, itulah Kerajaan Allah.
Tuhan selalu berhati-hati dengan firman-Nya. Dalam ayat 28 Dia berbicara mengenai Kerajaan Allah, bukan Ke-rajaan Surga. Bahkan pada saat itu, Kerajaan Surga masih belum datang. Namun Kerajaan Allah sudah ada.
4. Mengikat Orang Kuat, Masuk ke Dalam Rumahnya dan Merampas Harta Bendanya
Ayat 29 mewahyukan bahwa sebelum Tuhan mengusir setan, terlebih dulu Dia berperang melawan Iblis. Ayat ini mengatakan, “Atau bagaimanakah orang dapat memasuki ru-mah seorang yang kuat dan merampas harta bendanya apabila tidak diikatnya dulu orang kuat itu? Sesudah di-ikatnya barulah ia dapat merampok rumah itu.” “Rumah” di sini melambangkan kerajaan Iblis dan “orang kuat” ialah Iblis, si jahat itu. Harta benda di sini dalam bahasa aslinya berarti “bejana”, atau “instrumen”, atau “alat-alat”. Orang-orang yang jatuh yang berada di bawah Iblis adalah bejana Iblis, in-strumen untuk dipakai olehnya. Mereka adalah barang-barangnya, yang disimpan dalam rumahnya, kerajaannya. Kata tentang mengikat orang kuat menunjukkan bahwa ke-tika Tuhan mengusir setan, mula-mula Dia mengikat Iblis. Orang-orang hanya melihat terusirnya setan. Mereka tidak nampak terikatnya Iblis, si orang kuat. Jadi Tuhan meng-gunakan kesempatan yang tersedia oleh karena tuduhan orang Farisi, untuk membukakan rahasia peperangan rohani. Kelihatannya, Tuhan hanya mengusir setan; tetapi sebenar-nya Dia berperang, mengikat orang kuat. Ini menunjukkan kepada kita bahwa jika hari ini kita ingin membangun kerajaan, kita harus mengikat dulu orang kuat itu.
Jalan untuk mengikat orang kuat itu ialah berdoa. Ke-tika kita sampai pada Matius 17, kita akan nampak bahwa murid-murid datang kepada Tuhan dan bertanya kepada-Nya mengapa Tuhan dapat mengusir setan sedangkan mereka tidak. Dalam 17:21 Tuhan berkata kepada murid-murid-Nya: “Jenis ini tidak dapat diusir kecuali dengan berdoa dan berpuasa.” Jika Anda tidak berdoa dan berpuasa, Anda takkan dapat mengusir setan jenis ini. Perkataan Tuhan ke-pada murid-murid-Nya menunjukkan bahwa sebelum Dia mengusir setan, Dia sungguh-sungguh berdoa dan berpuasa. Untuk mengikat seorang kuat, kita wajib berdoa dan berpu-asa. Tuhan berdoa dan berpuasa secara tersembunyi, se-hingga murid-murid tidak nampak hal ini. Kita harus bela-jar seperti Tuhan berpuasa secara tersembunyi dan berdoa secara tersembunyi. Saya percaya bahwa ketika Tuhan Yesus berada di bumi, Dia sering berpuasa, berdoa, berperang, dan mengikat orang kuat. Hari ini kita semua harus dalam roh yang sama. Setiap hari roh kita haruslah roh yang ber-puasa dan roh yang berdoa sehingga setiap hari kita dapat membelenggu orang kuat, yakni Iblis, raja kerajaan kege-lapan.
Iblis mempunyai kerajaan kegelapan di bumi dan selu-ruh bumi berada di bawah cengkeramannya. Sulit untuk mengeluarkan satu orang dari tangan Iblis. Setiap orang yang telah jatuh merupakan alat-alat dalam rumah Iblis. Rumah Iblis adalah kerajaan Iblis dan dalam rumah Iblis terdapat banyak alat, yaitu orang-orang yang telah jatuh. Untuk me-ngeluarkan satu orang yang telah jatuh dari rumah Iblis, terlebih dulu kita harus membelenggu orang kuat dengan doa dan puasa. Inilah peperangan rohani untuk mendirikan Kerajaan Surga.
Matius 12 menduduki tempat yang khusus dalam Per-janjian Baru, sebab pasal ini mewahyukan bahwa Iblis mem-punyai kerajaan, Iblis ialah orang kuat yang merampas semua ciptaan Allah. Untuk mengeluarkan orang dari ceng-keraman Iblis terlebih dulu Iblis itu harus diikat. Jalan untuk mengikat orang kuat ialah dengan berpuasa dan ber-doa. Peperangan yang tersingkap dalam Matius 12 tidak nampak dalam kesebelas pasal sebelumnya. Dalam pasal-pasal itu kita nampak perhentian dan pelanggaran peraturan-peraturan bagi Kepala dan bagi anggota Tubuh. Tetapi kita tidak nampak akan adanya kerajaan kegelapan. Ada dua ke-rajaan, kerajaan kegelapan dan Kerajaan Surga di dalam terang. Kedua kerajaan ini berlawanan satu dengan yang lain di bumi, sebab itu kita perlu berperang. Kita semua harus berpuasa dan berdoa untuk membelenggu orang kuat, sehingga kita dapat merampok rumahnya.
Inilah wahyu yang sejati. Tidak banyak orang Kristen yang membaca Matius 12 sedemikian, sebab mereka tidak nampak kerajaan. Bagi mereka, kerajaan hanya semata-mata istilah doktrin atau sesuatu yang ada pada masa yang akan datang. Tetapi kita mengetahui bahwa semua yang Tuhan lakukan dengan kita hari ini ialah untuk mendi-rikan Kerajaan Surga. Kita adalah umat kerajaan. Hari ini peperangan sedang berkecamuk di antara dua kerajaan. Ke-lanjutan ministri Tuhan mendatangkan kesempatan untuk wahyu yang lebih lanjut ini.
5. Yang Tidak Bersama Raja Melawan Raja
dan yang Tidak Mengumpulkan Bersama Raja, Mencerai beraikan
Dalam ayat 30 Tuhan berkata, “Siapa yang tidak ber-sama Aku, ia melawan Aku dan siapa yang tidak mengum-pulkan bersama Aku, Ia menceraiberaikan.” Pada saat itu orang Farisi tidak bersama Raja surgawi, mereka melawan Dia. Mereka tidak mengumpulkan bersama Dia, tetapi men-ceraiberaikan. Karena itu mereka mutlak terpisah dari Dia dan bersatu dengan musuh-Nya, Iblis.
6. Hujat terhadap Roh Kudus Tidak Akan Diampuni
Dalam ayat 31 Tuhan berkata kepada orang Farisi, “Se-mua dosa dan hujat manusia akan diampuni, tetapi hujat terhadap Roh Kudus tidak akan diampuni.” Menghujat Roh Kudus berbeda dengan menghina Roh Kudus (Ibr. 10:29). Menghina Roh Kudus adalah tidak menaati Dia dengan sepenuh hati. Banyak orang beriman melakukan hal ini. Jika mereka mengakui dosa ini, mereka akan diampuni dan dicuci oleh darah Tuhan (1 Yoh. 1:7, 9). Tetapi menghujat Roh Kudus adalah memfitnah seperti yang dilakukan oleh orang-orang Farisi dalam ayat 24. Tuhan mengusir setan dengan Roh. Tetapi orang Farisi yang melihatnya mengata-kan bahwa Tuhan mengusir setan dengan Beelzebul, pemimpin setan. Inilah hujat terhadap Roh Kudus. Dengan hujat semacam itu, penolakan orang Farisi terhadap Raja surgawi mencapai puncaknya.
Tuhan seolah-olah berkata kepada orang Farisi, “Hujatmu tidak dapat diampuni. Aku mengusir setan bersandarkan Roh Allah, tetapi kamu mengatakan bahwa Aku mengusir-nya bersandarkan Iblis, raja setan-setan. Kamu berkata demikian sungguh kamu telah mengatakan kata hujat yang tidak dapat diampuni. Kamu tidak hanya menghina Roh Kudus, tidak taat kepada Roh Kudus, tetapi juga menghujat Roh Kudus. Roh Kudus itu adalah Roh Allah, bahkan Allah sendiri. Aku mengusir setan bersandarkan Allah sebagai Roh Kudus, namun kamu berkata bahwa Allah ini adalah Iblis, raja setan-setan dan raja lalat-lalat najis dari timbunan ta-hi. Ketika berkata demikian, kamu telah melakukan dosa yang tidak dapat diampuni.”
7. Mengucapkan Sesuatu yang Menentang Roh
Kudus Tidak Akan Diampuni di Dunia Ini dan di Dunia yang Akan Datang
Dalam ayat 32 Tuhan melanjutkan, “Apabila seorang mengucapkan sesuatu menentang Anak manusia, ia akan di-ampuni, tetapi jika ia berkata-kata menentang Roh Kudus, ia tidak akan diampuni, di dunia ini tidak, dan di dunia yang akan datang pun tidak.” Dalam ekonomi Allah Tritunggal, Bapa memiliki rencana penebusan (Ef. 1:5, 9), Anak me-rampungkannya berdasarkan rencana Bapa (1 Ptr. 2:24; Gal. 1:4), dan Roh Kudus menjangkau orang dosa untuk menerapkan penebusan yang dirampungkan oleh Anak (1 Kor. 6:11; 1 Ptr. 1:2). Jika seorang dosa menghujat Anak seperti yang dilakukan oleh Saulus dari Tarsus, Roh Kudus masih memiliki tumpuan untuk bekerja di atas dirinya dan membuatnya bertobat dan percaya kepada Anak agar dia dapat diampuni (lihat 1 Tim. 1:13-16). Tetapi jika orang do-sa menghujat Roh Kudus, Roh Kudus tidak memiliki tum-puan untuk bekerja di atas dirinya, dan tidak akan ada orang yang akan membuatnya bertobat dan percaya. Jadi, orang semacam itu tidak mungkin diampuni. Ini bukan hanya logis menurut alasan, tetapi juga bersifat pemerintahan ber-dasarkan prinsip administrasi Allah, seperti yang diwahyu-kan di sini oleh perkataan Tuhan.
Dalam administrasi pemerintahan Allah, pengampunan-Nya memiliki seluk-beluk zaman. Untuk administrasi-Nya, Dia sudah merencanakan berbagai zaman. Masa dari keda-tangan Kristus kali pertama sampai kekekalan zaman ini adalah untuk keselamatan kekal orang dosa. Pengampunan ini diberikan kepada orang dosa dan orang beriman. Peng-ampunan Allah secara zaman dibagi ke dalam tiga zaman: zaman ini, zaman sekarang, dari kedatangan Kristus kali pertama sampai kedatangan Kristus kali kedua; zaman yang akan datang, masa seribu tahun untuk pemulihan dan pemerintahan surgawi, dari kedatangan Kristus kali kedua sampai akhir langit lama dan bumi lama; dan kekekalan, zaman kekal dari langit baru dan bumi baru. Pengampunan Allah dalam zaman ini adalah untuk keselamatan kekal orang dosa. Pengampunan ini diberikan kepada orang dosa dan orang beriman. Pengampunan Allah dalam zaman yang akan datang berhubungan dengan pahala sezaman orang beriman. Jika setelah beroleh selamat orang beriman mela-kukan suatu dosa, tetapi tidak melakukan pemberesan me-lalui pengakuan dan pembasuhan darah Tuhan (1 Yoh. 1:7, 9), sebelum ia meninggal atau sebelum kedatangan kembali Tuhan, dosa itu tidak akan diampuni pada zaman ini, me-lainkan akan tetap ada dan akan dihakimi pada takhta penghakiman Kristus (2 Kor. 5:10). Dalam keadaan seperti itu, orang beriman tidak bisa diberi pahala berupa keraja-an; maksudnya tidak bisa berbagian dengan Kristus dalam kemuliaan dan sukacita dalam manifestasi Kerajaan Surga, tetapi akan didisiplinkan supaya dosa itu dibereskan, dan diampuni dalam zaman yang akan datang (18:23-35). Peng-ampunan semacam ini akan memelihara keselamatan kekal kaum beriman, tetapi tidak akan membuatnya memenuhi syarat untuk berbagian dalam kemuliaan dan sukacita ke-rajaan yang akan datang.
8. Pohon Dikenal dari Buahnya
Dalam ayat 33 Tuhan berkata, “Jikalau suatu pohon ka-mu katakan baik, maka baik pula buahnya; jikalau suatu po-hon kamu katakan tidak baik, maka tidak baik pula buahnya. Sebab dari buahnya pohon itu dikenal.” Orang-orang Farisi yang jahat itu disingkapkan oleh perbuatan jahat mereka.
9. Yang Diucapkan Mulut Meluap dari Hati
Ayat 34-35 berkata,“Hai kamu keturunan ular berbisa, bagaimanakah kamu dapat mengucapkan hal-hal yang baik, sedangkan kamu sendiri jahat? Karena yang diucapkan mulut meluap dari hati. Orang yang baik mengeluarkan hal-hal yang baik dari perbendaharaannya yang baik dan orang yang jahat mengeluarkan hal-hal yang jahat dari perbendaharaan-nya yang jahat” Orang Farisi dipenuhi dengan beraneka ra-gam kejahatan dalam hati mereka. Sebab itu, mulut mere-ka mengucapkan kejahatan yang meluap dari hati mereka.
10. Setiap Kata Sia-sia yang Diucapkan Orang
Harus Dipertanggungjawabkan
pada Hari Penghakiman
Ayat 36 mengatakan,“Tetapi aku berkata kepadamu: Setiap kata sia-sia yang diucapkan orang harus dipertang-gungjawabkannya pada hari penghakiman.” Kata Yunani menerjemahkan kata “sia-sia” dengan kata “argos”, terdiri dari dua kata: “a”, yang berarti tidak dan “ergon” berarti peker-jaan. Perkataan sia-sia adalah perkataan yang tidak bekerja, tidak berkhasiat, tidak memiliki fungsi yang positif, tidak berguna, tidak menguntungkan, tidak menghasilkan sesuatu, dan kosong. Orang-orang yang mengucapkan perkataan se-macam itu akan mempertanggungjawabkannya satu per satu pada hari penghakiman. Karena itu, setiap perkataan yang jahat menuntut pertanggungjawaban yang lebih besar!
Tuhan seolah-olah berkata kepada para penentang, “Waspadalah dengan perkataanmu. Setiap kata sia-sia, kata yang tidak perlu, akan dihakimi. Pada hari penghakiman, apa pun yang kamu katakan akan diadili pada saat itu.” Perkara ini sangat serius.
11. Orang Dibenarkan atau Dihukum Menurut Ucapannya
Dalam ayat 37 Tuhan menyimpulkan, “Karena menurut ucapanmu engkau akan dibenarkan, dan menurut ucapanmu pula engkau akan dihukum.” Alangkah seriusnya peringat-an ini! Kita harus belajar mengendalikan dan membatasi pembicaraan kita.
Orang-orang Farisi yang menentang tidak hanya dikalahkan, tetapi juga ditaklukkan. Mereka tidak beralasan lagi. Setiap kali Tuhan Yesus memberi jawaban, tidak ada perbantahan lagi.
?