Daftar isi Matius (2) · Berita Ketiga Puluh Satu · bab 15/17

Berita Ketiga Puluh Satu

PENGENDALIAN DIRI DAN SIKAP RAJA TERHADAP SETIAP SITUASI

Dalam Matius 11 kita tampak pengendalian diri dan sikap Raja terhadap setiap situasi. Pasal 10 menunjukkan baik ministri Raja maupun perluasan ministri-Nya oleh kedua belas rasul, telah ditolak. Dalam pasal 10 Tuhan memberi tahu murid-murid bahwa mereka akan dianiaya dan dibenci, bahkan oleh mereka yang disebut orang-orang kudus dalam majelis agama dan dalam majelis agama dan dalam rumah ibadat. Dia memperingatkan mereka bahwa mereka akan dianiaya bahkan oleh sanak keluarga mereka. Dalam pasal 11 kita tampak tiga ministri yang ditolak: ministri Yohanes Pembaptis, ministri Raja, dan ministri utusan Raja—kedua belas rasul. Yohanes yang menjalankan ministri sesuai dengan amanat Tuhan Yesus pun ditolak. Dalam pasal 11 kita tampak bagaimana Raja menanggulangi penolakan ini. Poin utama dalam pasal ini ialah bagaimana seharusnya kita menghadapi penolakan ini.

I. MENGUATKAN PELOPOR–NYA YANG DIPENJARA

A. Pelopor yang Dipenjara Mengutus Murid-murid-Nya untuk Merangsang Raja

Dalam ayat 2-3 kita tampak bahwa kesabaran Yohanes Pembaptis, pelopor Raja yang ditolak, telah habis. Sebab itu, Yohanes “menyuruh murid-muridnya bertanya kepada-Nya, ‘Engkaukah yang akan datang itu atau haruskah kami menantikan orang lain?’” Perkataan Yohanes di sini tidak berarti bahwa ia meragukan Kristus. Dia bertanya kepada Kristus seperti ini dengan maksud merangsang Dia agar membebaskan dirinya. Dia tahu bahwa Kristus adalah Yang akan datang, dan dia dengan tegas telah memperkenal-kanNya kepada orang-orang (Yoh. 1:26-36). Sesudah itu, Yohanes dipenjara (Mat. 4:12). Dalam penjara itu dia menunggu, mengharapkan Kristus melakukan sesuatu untuk melepaskan dirinya. Namun, Kristus tidak melakukan apa pun untuknya, walaupun dia telah berbuat banyak hal untuk menolong orang lain. Ketika Yohanes mendengar hal ini, mungkin dia nyaris tersandung (ayat 6). Karena itu ia mengutus murid-muridnya menyampaikan pertanyaan itu untuk merangsang hati Kristus. Tidak diragukan bahwa dalam benak Yohanes, Kristus ialah Mesias. Ia tidak mengutus murid-muridnya untuk bertanya apakah ia Mesias. Ia mencoba merangsang Kristus untuk membebaskannya dari penjara. Tetapi amat sulit untuk merangsang Tuhan Yesus. Semakin Anda mencoba untuk merangsang-Nya, semakin dingin Dia terhadap Anda. Anda takkan dapat menggerakan-Nya dengan merangsang-Nya. Jika Anda mencoba berbuat demikian, Dia akan menjadi lebih enggan melakukan sesuatu bagi Anda.

B. Jawaban Raja Surgawi

Dalam ayat 4-6 terdapat jawaban Tuhan kepada Yohanes. Ayat 4-5 mengatakan, “Pergilah dan katakanlah kepada Yohanes apa yang kamu dengar dan kamu lihat: orang buta melihat, orang lumpuh berjalan, orang kusta sembuh, orang tuli mendengar, orang mati dibangkitkan, dan kepada orang miskin diberitakan kabar baik.” Pertama-tama Tuhan menyinggung orang buta menerima daya lihat, karena tidak ada mukjizat semacam ini dalam Perjanjian Lama. Dari hal ini Dia memberi bukti yang jelas kepada Yohanes bahwa tidak ada orang lain selain Mesias yang dapat melakukan mukjizat semacam itu (Yes. 35:5). Dalam hal rohani pun, yang mula-mula terjadi adalah orang buta menerima daya lihat. Dalam keselamatan Tuhan, mula-mula Dia membuka mata kita (Kis. 26:18); kemudian, kita dapat menerima Dia dan berjalan mengikuti Dia. Orang lumpuh melambangkan orang yang tidak dapat berjalan di jalan Allah. Setelah diselamatkan, mereka dapat berjalan dengan hayat yang baru (9:5-6; Yoh. 5:8-9). Orang kusta yang menjadi tahir melambangkan orang yang telah diselamatkan dari pemberontakan (kusta) dan menjadi umat kerajaan. Orang tuli melambangkan orang yang tidak dapat mendengar Allah. Setelah diselamatkan, mereka dapat mendengar suara Tuhan (Yoh. 10:27). Orang mati melambangkan orang yang mati dalam dosa-dosa (Ef. 2:1, 5), tidak bisa berkontak dengan Allah. Setelah dilahirkan kembali, mereka dapat bersekutu dengan Allah melalui roh mereka yang dilahirkan kembali. Orang miskin melambangkan semua orang yang tidak memiliki Kristus dan tidak memiliki Allah, serta tidak memiliki pengharapan di dalam dunia (Ef. 2:12). Setelah menerima Injil, mereka menjadi kaya dalam Kristus (2 Kor. 8:9; Ef. 3:8). Ayat 6 berkata, “Berbahagialah orang yang tidak menolak Aku.” Perkataan ini menyiratkan bahwa Yohanes Pembaptis mungkin sudah tersandung karena Tuhan, sebab Tuhan tidak melakukan tindakan apa-apa untuk kepentingannya berdasarkan caranya. Di sini Tuhan mendorongnya untuk menempuh jalan yang sudah Dia tetapkan agar dia dapat menerima berkat. Berkat ini sangat erat hubungannya dengan partisipasi dalam Kerajaan Surga.

Dalam ayat-ayat ini Tuhan seolah-olah berkata kepada Yohanes, “Tidak diragukan, Aku adalah Mesias. Aku yang adalah Mesias ini tidak tergantung pada apakah Aku melakukan sesuatu untukmu atau tidak. Aku telah menyembuhkan orang buta, orang tuli, dan orang yang sakit. Aku telah membangkitkan orang mati. Tetapi Aku tidak ingin melakukan apa pun bagimu. Jangan mengharapkan sesuatu dari Aku. Aku akan meninggalkan kamu di dalam penjara sampai kamu dipenggal. Berbahagialah orang yang tidak tersandung di dalam-Ku.” Dalam pemulihan Tuhan kita perlu belajar pelajaran ini. Bila Tuhan melakukan sesuatu yang positif bagi kita, kita girang sekali. Tetapi sering kali Tuhan tidak melakukan apa pun bagi kita. Dia tidak melakukan apa pun untuk menyelamatkan Yohanes dari penjara, karena jika Yohanes dibebaskan dari penjara, maka ministrinya akan bersaing dengan ministri Tuhan. Yohanes dipenjara karena telah diatur oleh kedaulatan Tuhan untuk menamatkan ministrinya, suatu ministri perkenalan. Setelah pekerjaan memperkenalkan dilakukan, ministrinya wajib diakhiri. Sebab itu, Allah dengan kedaulatan-Nya mengakhiri ministri Yohanes dengan jalan memenjarakannya.

II. MEMUJI PELOPOR–NYA

Pertanyaan murid-murid Yohanes kepada Tuhan mungkin menyebabkan murid-murid Tuhan memiliki kesan yang negatif terhadap Yohanes. Karena itu, dalam ayat 7-15 Tuhan secara terbuka memuji pelopor-Nya. Jawaban Tuhan kepada Yohanes secara tersirat menunjukkan kesalahan Yohanes. Namun, perkataan-Nya kepada orang banyak mengenai Yohanes dengan jelas menjadi kesaksian bagi Yohanes. Ingatlah bahwa keempat murid mula-mula yang mengikuti Tuhan adalah hasil dari ministri perkenalan Yohanes. Yohanes telah menegaskan, “Lihatlah Anak Domba Allah,” sehingga Yohanes serta Andreas mengikuti Tuhan Yesus. Kemudian mereka membawa Yakobus dan Petrus kepada Tuhan. Jadi, keempat murid itu dibawa kepada Kristus dengan perantaraan ministri Yohanes Pembaptis.

A. Bukan Buluh yang Digoyangkan Angin

di Padang Gurun atau Orang yang Berpakaian Halus

Dalam pujian-Nya yang terbuka terhadap Yohanes Pembaptis, Tuhan Yesus telah memberikan suatu pernyataan. Dalam ayat 7 Tuhan berkata,“Untuk apakah kamu pergi ke padang gurun? Melihat buluh yang digoyangkan angin-kali?” Buluh melambangkan orang yang lemah dan rapuh (12:20; 1 Raj. 14:15). Ketika Yohanes Pembaptis bersaksi bagi Kristus di padang gurun, dia bukanlah orang yang selemah itu. Namun, ketika dalam penjara, ia agaknya seperti buluh yang digoyangkan angin. Tuhan Yesus sangat berhikmat, perahmat, dan berbelas kasihan. Seandainya kita ini Tuhan, kita akan tersinggung oleh Yohanes. Karena Tuhan sudah mengetahui bahwa Yohanes agak lemah, Dia memberinya semangat. Dia seolah-olah berkata, “Yohanes, hati-hatilah. Tampaknya kamu agak lemah terhadap Aku.” Inilah makna perkataan Tuhan terhadap Yohanes. Tetapi ketika ia berkata kepada orang banyak dan kepada murid-murid lain, Dia memuji Yohanes, dengan menjelaskan bahwa Yohanes bukan seorang yang lemah atau penakut, tetapi seorang saksi yang perkasa. Dalam ayat 8 Tuhan bertanya, “Atau untuk apakah kamu pergi? Melihat orang yang berpakaian ha-luskah? Orang yang berpakaian halus itu tempatnya di istana raja.” Yohanes Pembaptis bersaksi dengan berani bagi Kristus di padang gurun, tidak lemah seperti orang yang berpakaian halus. Tetapi Tuhan bersaksi bahwa ia bukan buluh yang digoyangkan angin atau orang yang berpakaian halus.

B. Lebih daripada Nabi

Ayat 9 mengatakan, “Jadi, untuk apakah kamu pergi? Melihat nabikah? Benar, dan Aku berkata kepadamu, bahkan lebih daripada nabi.” Tuhan bersaksi bahwa Yohanes jauh lebih besar daripada seorang nabi. Ia seorang nabi besar, lebih besar daripada semua nabi yang sebelum dia.

C. Seorang Utusan yang Mendahului Raja Surgawi untuk Mempersiapkan Jalan bagi-Nya

Yohanes diutus Allah sebagai utusan sebelum kedatangan Kristus untuk mempersiapkan jalan bagi-Nya (Mat. 11:10) agar orang-orang berbalik kepada Allah dan menerima Raja Surgawi dan Kerajaan Surga. Ministri Yohanes adalah untuk membuka jalan bagi kerajaan.

D. Lebih Besar daripada Semua Orang yang

Dilahirkan Sebelum Kerajaan Surga, tetapi

Lebih Kecil daripada yang Berada dalam Kerajaan Surga

Dalam ayat 11 Tuhan berkata, “Sesungguhnya Aku berkata kepadamu: Di antara mereka yang dilahirkan oleh perempuan tidak pernah tampil seorang yang lebih besar daripada Yohanes Pembaptis, namun yang terkecil dalam Kerajaan Surga lebih besar daripada dia.” Walaupun Yohanes lebih besar daripada semua nabi, tetapi ia tidak di dalam Kerajaan Surga. Dibandingkan dengan nabi-nabi Perjanjian Lama, Yohanes lebih besar, tetapi dibandingkan dengan orang-orang dalam Perjanjian Baru, ia lebih kecil. Yohanes berada dalam masa peralihan, lebih besar daripada mereka yang mendahuluinya, tetapi lebih kecil daripada mereka yang datang setelah dia. Semua nabi sebelum Yohanes hanya bernubuat bahwa Kristus akan datang, tetapi Yohanes bersaksi bahwa Kristus telah datang. Nabi-nabi mengharapkan Kristus, tetapi Yohanes melihat Kristus. Karena itu, Yohanes lebih besar daripada semua nabi. Walaupun Yohanes melihat Kristus yang berinkarnasi dan memperkenalkan Dia kepada orang-orang, dia tidak memiliki Kristus yang bangkit yang berhuni di dalamnya. Umat kerajaan memiliki Kristus yang demikian. Yohanes hanya dapat mengatakan, “Inilah Kristus”, tetapi umat kerajaan dapat mengatakan, “Bagiku hidup adalah Kristus” (Flp. 1:21). Karena itu, yang terkecil dalam Kerajaan Surga lebih besar daripadanya. Keadaan seseorang bisa lebih besar atau lebih kecil tergantung pada hubungannya dengan Kristus. Kristus adalah faktor yang menentukan. Makin dekat seseorang kepada Kristus, makin besarlah dia.

Para nabi menubuatkan kedatangan Kristus dan Yohanes memperkenalkan Kristus yang telah datang. Nabi-nabi mengatakan bahwa Kristus akan datang, dan Yohanes mengatakan Kristus ada di sana. Walaupun Yohanes dekat dengan Kristus, tetapi ia tidak sedekat dengan Dia seperti kita, sebab kita memiliki Kristus di dalam kita. Kristus di dalam kita dan kita di dalam Dia. Karena Kristus berbaur dengan kita, hubungan kita dengan Kristuslah yang paling intim. Kristus di dalam kita, dan kita berbaur dengan Dia, bahkan satu dengan Dia. 1 Korintus 6:17 berkata, “Siapa yang mengikatkan dirinya pada Tuhan, menjadi satu roh dengan Dia.” Apa yang dapat lebih dekat daripada ini? Hubungan yang dekat dengan Kristus ini membuat kita lebih besar daripada semua orang yang mendahului kita. Betapa besarnya berkat ini!

Kita perlu menyadari pada zaman apa kita hidup. Petrus, Yohanes, dan bahkan Paulus hidup pada zaman permulaan kerajaan, tetapi kita berada pada akhir zaman ini. Anda lebih suka di mana? Pada permulaan, pertengahan, atau akhir? Martin Luther pada pertengahan, tetapi kita bukan pada permulaan atau pada pertengahan, tetapi pada akhir. Orang besar seperti Martin Luther berdiri di atas bahu para rasul yang terdahulu, tetapi sekarang kita di atas bahu Martin Luther dan orang-orang besar lain.

Karena itu, kita lebih tinggi daripada mereka semua. Bahkan yang terkecil di antara kita pun sudah dapat memberi kesaksian yang kuat tentang dibenarkan oleh iman, baik secara objektif maupun subjektif. Janganlah menganggap hari ini sebagai hari yang tidak berarti.

Ketika saya menuntut Tuhan lima puluh tahun yang lalu, keadaannya amat miskin. Kami menghabiskan banyak uang untuk buku-buku, dan bepergian mengunjungi beberapa orang. Keadaan saat itu tidak dapat dibandingkan dengan keadaan hari ini. Hari ini Anda semua terpendam dengan kekayaan. Yang saya khawatirkan adalah Anda tidak mempunyai selera yang baik. Setiap hari kita berpesta. Kita bukan berada pada masa peralihan, tidak pula pada permulaan, atau pertengahan zaman Perjanjian Baru, kita justru berada pada akhir zaman ini. Pada akhir zaman, segala sesuatu akan lebih baik, lebih tinggi, dan lebih kaya. Puji Tuhan bahwa kita begitu dekat dengan Kristus! Banyak berita yang Anda dengar tentang Kristus yang belum pernah didengar oleh orang-orang pada masa lalu. Banyak di antara Anda berada dalam kekristenan selama bertahun-tahun. Pernahkah Anda diberi tahu tentang Kristus yang almuhit? Pernahkah Anda mendengar tentang makan Yesus? Tetapi kini kita memakan-Nya dan menikmati-Nya. Jadi, kita ini besar. Beranikah Anda mengatakan bahwa Anda lebih besar? Menurut prinsip dalam Alkitab, yang paling akhir selalu lebih besar. Yang terakhir akan menjadi yang pertama. Karena kita ini yang terakhir, maka kitalah yang terbesar.

E. Sebagai Elia

Ayat 14 mengatakan,“Dan — jika kamu mau menerimanya — dialah Elia yang akan datang itu.” Maleakhi 4:5 menubuatkan bahwa Elia akan datang. Ketika Yohanes Pembaptis dikandung, dikatakan bahwa dia akan berjalan di depan Tuhan dalam roh dan kuasa Elia (Luk. 1:17). Karena itu, di suatu aspek, Yohanes bisa dianggap “Elia yang akan datang” (Mat. 17:10-13). Namun, nubuat Maleakhi 4:5 sebenarnya akan digenapi selama kesusahan besar, ketika Elia yang sejati, satu di antara dua saksi, akan datang untuk menguatkan umat Allah (Why. 11:3-12).

F. Nabi-nabi dan Hukum Taurat Bernubuat Hingga Tampilnya Yohanes

Ayat 13 mengatakan,“Sebab semua nabi dan kitab Taurat bernubuat hingga tampilnya Yohanes.” Ini membuktikan bahwa zaman Perjanjian Lama berakhir dengan kedatangan Yohanes.

G. Sejak Tampilnya Yohanes Pembaptis Hingga Sekarang,

Kerajaan Surga Diperebutkan dengan Paksa

Ayat 12 mengatakan,“Sejak tampilnya Yohanes Pembaptis hingga sekarang, Kerajaan Surga diperebutkan dengan paksa, dan orang yang merebut dengan paksa mendapatkannya” (Tl.). Sejak hari Yohanes Pembaptis hingga saat itu, orang-orang Farisi dengan keras menghambat orang-orang yang hendak masuk ke dalam Kerajaan Surga. Karena itu, orang yang mau masuk harus merebutnya dengan “paksa”. Siapa bertelinga hendaklah ia mendengar.

H. Siapa Bertelinga Hendaklah Ia Mendengarkan

Firman Kristus tentang Yohanes Pembaptis, pelopor-Nya, sangat berkaitan dengan diri-Nya sendiri dan Kerajaan Surga, yang berbeda dengan pengajaran-pengajaran usang dan tradisional. Karena itu, yang bertelinga hendaklah ia mendengarkannya (Mat. 11:15).

III. MENGELUHKAN DAN MENGECAM

ANGKATAN YANG BEBAL

DAN TIDAK MAU BERTOBAT

Setelah Tuhan memuji Yohanes, Dia lalu berpaling kepada generasi penolak serta mengecam mereka. Pujian-Nya terhadap Yohanes menyadarkan mereka bahwa mereka telah menolak Yohanes. Tidak peduli Yohanes itu sebesar apa, ia sudah dipenjarakan akibat penolakan angkatan zaman itu.

A. Angkatan Ini Tidak Menanggapi Pemberitaan Si Pelopor ataupun Pemberitaan Raja Surgawi

Dalam ayat 16-17 Tuhan berkata, “Dengan apakah akan Kuumpamakan orang-orang zaman ini? Mereka seumpama anak-anak yang duduk di pasar dan berseru kepada teman-temannya: Kami meniup seruling bagimu, tetapi kamu tidak menari, kami menyanyikan kidung duka, tetapi kamu tidak berkabung.” Kristus dan Yohanes Pembaptis “meniup seruling” untuk memberitakan Injil kerajaan, tetapi kaum agamawan Yahudi tidak “menari” karena sukacita keselamatan. Yohanes dan Kristus “menyanyikan kidung duka” untuk memberitakan pertobatan, tetapi kaum agamawan Yahudi tidak “berkabung” karena kepedihan dosa. Kebenaran Allah menuntut mereka bertobat, tetapi mereka tidak mau taat. Anugerah Allah memberi mereka keselamatan, tetapi mereka tidak mau menerimanya.

Ayat 18-19 mengatakan, “Karena Yohanes datang, ia tidak makan, tidak minum, dan mereka berkata: Ia kerasukan setan. Kemudian Anak Manusia datang, Ia makan dan minum, dan mereka berkata: Lihatlah, Ia seorang pelahap dan peminum, sahabat pemungut cukai dan orang berdosa. Tetapi hikmat Allah dibenarkan oleh perbuatannya.” Yohanes yang datang untuk membawa manusia kepada pertobatan (Mrk. 1:4) dan membuat mereka berduka karena dosa, tidak berselera untuk makan dan minum (Luk. 1:15-17). Sedangkan Kristus yang datang untuk membawa keselamatan kepada orang dosa dan membuat mereka bersukacita di dalamnya, memiliki rasa sukacita untuk makan dan minum bersama mereka (Mat. 9:10-11). Umat kerajaan, yang tidak berada di bawah peraturan apa pun mengikuti hikmat ilahi, khusus memperhatikan Kristus yang berhuni di batin mereka, yang adalah hikmat mereka (1 Kor. 1:30), tidak memperhatikan cara hidup yang di luar.

Karena Yohanes Pembaptis menempuh hidup yang aneh dan tidak lazim, dengan tidak makan dan minum seperti orang biasa, para penentang mengatakan, “Ia kerasukan setan.” Tetapi mereka menyebut Kristus pelahap dan peminum, teman pemungut cukai dan orang berdosa. Kristus bukan hanya Penyelamat, tetapi juga teman orang berdosa yang bersimpati dengan problem mereka dan dapat merasakan kepedihan mereka.

Dalam ayat 19 Tuhan berkata, “Tetapi hikmat Allah dibenarkan oleh perbuatannya.” Hikmat adalah Kristus (1 Kor. 1:24, 30). Apa saja yang dilakukan oleh Kristus dilakukan dengan hikmat Allah, yaitu diri Kristus sendiri. Hikmat ini dibenarkan, diteguhkan oleh pekerjaan hikmat-Nya, perbuatan hikmat-Nya. Beberapa tulisan kuno yang berwibawa memakai istilah “kebenaran” dalam ayat ini dengan istilah “anak-anak”. Umat kerajaan adalah anak-anak hikmat, yang membenarkan Kristus dan perbuatan-Nya dan mengikuti-Nya sebagai hikmat mereka. Kristus dibenarkan oleh umat kerajaan, yang mengerti kapan perlu makan dan kapan tidak perlu makan; juga mengenali peniupan seruling dan nyanyian duka, mengerti kapan perlu bersukaria dan bertobat. Kita yang adalah umat kerajaan, anak-anak hikmat, mempunyai hikmat untuk membedakan kapan waktunya bertobat dan kapan waktunya bersukaria. Tetapi angkatan yang menolak terlalu bodoh. Jika Anda menyanyikan lagu, mereka tidak menanggapinya. Jika Anda menyanyikan bagi mereka lagu duka untuk bertobat, mereka tidak menanggapi juga. Mereka keras kepala, bodoh, dan kurang hikmat.

B. Kota-kota yang Tidak Bertobat

Ayat 20 mengatakan,“Lalu Yesus mulai mengecam kota-kota yang tidak bertobat, sekalipun di situ Ia paling banyak melakukan mukjizat-mukjizat-Nya.” Tuhan melanjutkan, “Celakalah engkau Khorazim! Celakalah engkau Betsaida!”, sebab pada umumnya, mereka telah menolak Dia. Mengenai Kapernaum Ia berkata, “Engkau akan diturunkan sampai ke dunia orang mati.” Dunia orang mati adalah tempat perse-mayaman jiwa dan roh orang mati (Luk. 16:22-23; Kis. 2:27).

Dia pun mengatakan tentang Kapernaum, “Pada hari penghakiman, tanggungan negeri Sodom akan lebih ringan daripada tanggunganmu” (ayat 24). Ini menunjukkan bahwa Kapernaum lebih buruk daripada Sodom.

IV. MENGAKUI KEHENDAK BAPA DENGAN PUJIAN

A. Menjawab Bapa dalam Persekutuan-Nya

dengan Bapa Ketika Mengeluh

dan Mengecam Angkatan yang Bebal

dan Tidak Mau Bertobat

Ayat 25 dimulai dengan kata-kata “pada waktu itu”. Ini menunjukkan pada saat Tuhan mengecam kota-kota. Ayat 25 berkata, “Pada waktu itu berkatalah Yesus, ‘Aku bersyukur kepada-Mu, Bapa, Tuhan langit dan bumi.’” Kata-kata “Pada waktu itu berkatalah Yesus . . .” menurut bahasa aslinya seharusnya, “Pada waktu itu Yesus menjawab dan berkata , . . .” Ketika Tuhan mengecam kota-kota yang besar itu, Dia menjawab, kata-Nya, “Aku bersyukur kepada-Mu, Bapa.” Kata “menjawab” ini sangat bermakna. Kepada siapakah Tuhan menjawab? Ia menjawab Bapa. Ketika Tuhan sedang mengecam kota-kota, Tuhan bersekutu dengan Bapa. Pada saat itu, sebagai jawaban kepada Bapa, Dia mengucapkan pujian bagi Bapa.

Ketika Tuhan mengecam kota-kota itu, ada tiga pihak di sana. Pihak pertama yaitu Tuhan, pihak kedua, yaitu kota-kota itu, dan pihak ketiga yaitu Bapa yang menyertai Dia. Ketika Tuhan mengecam Khorazim, Betsaida, dan Kapernaum, Bapa mungkin bertanya kepada-Nya, “Apakah engkau gembira dengan ini?” Kemudian Tuhan menjawab dan berkata, “Aku bersyukur kepada-Mu, Bapa.” Bapa mungkin berkata kepada Putra, “Engkau mengecam kota-kota ini karena kota-kota ini menolak Engkau. Apakah Engkau merasa senang karena ini?” Tuhan segera menjawab dan memuji Bapa, “Tuhan langit dan bumi”.

Adakalanya ada pihak ketiga yang hadir ketika Anda sedang berbicara dengan istri Anda. Anda adalah pihak pertama, istri Anda pihak kedua, dan Tuhan pihak ketiga. Boleh jadi Anda berkata kepada istri Anda, “Kemarin engkau tidak baik kepadaku, perilakumu buruk.” Ketika Anda berkata demikian, pihak ketiga yang juga hadir di sana mungkin bertanya, “Bagaimana? Apakah kamu senang? Memang istri Anda tidak begitu baik kemarin.” Pada saat itu dapatkah Anda berkata, “Aku bersyukur kepada-Mu, Bapa?” Ini bukan suatu hal yang mudah bagi kita. Tetapi Tuhan Yesus dapat melakukannya, dengan berkata, “Aku bersyukur kepada-Mu, Bapa, Tuhan langit dan bumi. Aku mengakui kekuasaan-Mu. Jika ini bukan dari Bapa, takkan ada sebuah kota pun yang menolak Aku. Bahkan penolakan ini berasal dari Bapa, Aku memihak kepada-Mu. Situasi ini sangat baik. Aku mengatakan kepada Engkau, Bapa, bahwa Aku merasa senang dan Aku dapat bersyukur kepada-Mu karenanya.”

B. Mengakui Kehendak Bapa dengan Pujian

Kata Yunani “bersyukur” dalam ayat 25 berarti mengakui dengan pujian. Tuhan mengakui dan memuji jalan Bapa dalam melaksanakan ekonomi-Nya. Meskipun orang tidak menanggapi ministri-Nya, malah menghina-Nya (ayat 16-19) dan kota-kota yang besar menolak-Nya (ayat 20-24), Dia memuji Bapa, mengakui kehendak Bapa. Dia tidak mencari kemakmuran dalam pekerjaan-Nya, melainkan mencari kehendak Bapa; kepuasan-Nya dan perhentian-Nya tidak bertumpu pada pengertian dan penyambutan manusia, melainkan juga dikenal oleh Bapa (ayat 26-27). Kristus percaya bahwa penolakan kota-kota terhadap-Nya berasal dari Bapa. Bagaimana situasi kita hari ini? Ketika kita ditolak, ditentang, dikritik, diserang, dan dikutuk, dapatkah kita memuji Bapa? Pernahkah Anda berkata, “Bapa, Aku memuji Engkau karena penolakan dan tentangan orangtua dan teman-temanku?” Kita perlu mengenal bahwa penolakan semacam itu berada di bawah kedaulatan Tuhan dan pujilah Dia karenanya.

Dalam pujian Tuhan, kata “Bapa” mengacu kepada hubungan Bapa dengan Dia, Anak (Putra); sedangkan “Tuhan langit dan bumi” mengacu kepada hubungan Allah dengan alam semesta. Ketika umat Allah dikalahkan oleh musuh-Nya, Allah disebut “Allah semesta langit” (Ezr. 5:11-12; 2:18, 37). Tetapi ketika ada manusia yang berdiri bagi-Nya di bumi, Allah disebut “yang Empunya langit dan bumi” (Kej. 14:19, 22). Kini, Tuhan sebagai Anak Manusia menyebut Bapa “Tuhan langit dan bumi”, menunjukkan bahwa Tuhan berdiri di bumi untuk kepentingan Allah.

1. Bapa Menyembunyikan Pengenalan terhadap Anak dan Bapa bagi Orang Bijak dan Orang Pandai

Ayat 25 berkata pula bahwa Bapa telah “menyembunyikan semuanya itu bagi orang bijak dan orang pandai”. Kata “semuanya itu” menunjukkan semua hal mengenai pengenalan terhadap Anak dan Bapa (ayat 27). Kata-kata “orang bijak dan orang pandai” mengacu kepada orang-orang di tiga kota yang dikecam dalam ayat 20-24, orang-orang yang bijak dan pandai dalam pandangan mereka sendiri. Kehendak Bapa adalah menyembunyikan pengenalan terhadap Anak dan Bapa dari orang-orang semacam itu.

2. Bapa Mewahyukan Semuanya Itu kepada Anak-anak Kecil

Tuhan memuji Bapa yang telah mewahyukan semua hal itu kepada anak-anak kecil. Kata “anak-anak kecil” mengacu kepada murid-murid yang adalah anak-anak hikmat. Bapa senang mewahyukan Anak dan diri-Nya sendiri kepada mereka. Mengenal Anak dan Bapa keduanya merupakan masalah kedaulatan Bapa. Dalam Matius 16:17, setelah Petrus menerima wahyu bahwa Yesus adalah Kristus, Anak Allah yang hidup, Yesus berkata kepadanya, “Berbahagialah engkau Simon anak Yunus, sebab bukan manusia yang menyatakan itu kepadamu, melainkan Bapa-Ku yang di surga.” Jadi, mengenal Anak merupakan masalah pewahyuan Bapa.

3. Yang Berkenan dalam Pandangan Bapa

Ayat 26 mengatakan,“Ya Bapa, itulah yang berkenan kepada-Mu.” Itulah yang berkenan kepada Bapa bahwa Putra telah ditolak. Bapa berkenan melihat Putra ditolak. Bagi kita sulit mempercayai hal ini. Jika orang tua Anda dan sanak saudara Anda bersatu dengan Anda tentang pemulihan Tuhan, Anda akan gembira dan memuji Tuhan. Tetapi Anda wajib memuji Tuhan ketika Anda mengalami penolakan, dengan berkata, “Aku memuji Engkau Bapa, sebab Engkaulah Tuhan langit dan bumi. Segala sesuatu berasal dari Bapa dan Aku memuji Engkau karena situasi ini.”

4. Semua Telah Diberikan kepada Anak oleh Bapa

Ayat 27 mengatakan,“Semua telah diserahkan kepada-Ku oleh Bapa-Ku.” “Semua” mengacu kepada sisa umat yang telah Bapa berikan kepada Anak (Yoh. 3:27; 6:37, 44, 65; 18:9). Perkataan ini menyiratkan bahwa orang bijak dan pandai menolak Anak karena Bapa tidak berkenan memberikan mereka kepada Anak. Namun, semua sisa umat telah diberikan kepada Anak oleh Bapa. Petrus, Yohanes, Yakobus, dan Andreas adalah sebagian dari antara mereka yang diberikan kepada Anak oleh Bapa. Tuhan Yesus berkata, “Semua yang diberikan Bapa kepada-Ku akan datang kepada-Ku, dan siapa saja yang datang kepada-Ku, ia tidak akan Kubuang” (Yoh. 6:37). Keberadaan kita dalam pemulihan Tuhan hari ini mutlak adalah belas kasihan Bapa yang berdaulat. Kita perlu menyembah Bapa untuk ini. Di antara banyak orang Kristen di dunia, kita berada dalam pemulihan. Saya mempunyai perasaan mendalam di batin saya bahwa selama bertahun-tahun pemulihan Tuhan telah ada di negeri ini, dan Dia pun telah menuai hasilnya. Dia terus mengumpulkan sisa umat di antara orang Kristen. Selama bertahun-tahun kami berada di balai sidang Elden di Los Angeles, Tuhan mengumpulkan sisa umat. Bulan demi bulan, Tuhan membawa sisa umat dari berbagai kota, daerah, dan negara. Itu sungguh suatu pengumpulan sisa umat. Semua yang dihimpunkan bersama dapat bersaksi bahwa kita diberikan oleh Bapa. Pemulihan Tuhan bukan pekerjaan orang Kristen yang biasa, melainkan pengumpulan sisa-sisa umat Tuhan untuk memulihkan Kerajaan Allah dalam hidup gereja. Hari ini Tuhan masih tetap melakukan pekerjaan pengumpulan sisa-sisa umat.

5. Tidak Seorang pun Mengenal Putra Kecuali Bapa

dan Tidak Seorang pun Mengenal Bapa Kecuali Putra

dan Orang yang Menerima Wahyu Putra

Dalam ayat 27 Tuhan berkata, “Tidak seorang pun mengenal Anak selain Bapa, dan tidak seorang pun mengenal Bapa selain Anak dan orang yang kepadanya Anak itu berkenan menyatakannya.” Kata “mengenal” di sini dalam bahasa aslinya berarti pengenalan yang penuh, bukan hanya pengenalan yang objektif. Mengenai Anak, hanya Bapa yang memiliki pengenalan semacam ini; mengenai Bapa, hanya Anak dan orang yang diberi wahyu oleh Anak yang memiliki pengenalan semacam ini. Karena itu, untuk mengenal Anak, Bapa perlu mewahyukan-Nya (16:17), dan untuk mengenal Bapa, perlu Anak mewahyukan-Nya (Yoh. 17:6, 26). “Semuanya itu” yang disebutkan dalam ayat 25 sulit bagi orang alamiah untuk memahaminya. Pemulihan Tuhan mutlak berlawanan dengan kerajaan kegelapan musuh. Jelas bahwa si jahat tidak rela membiarkan orang mengenal perkara-perkara Bapa, Anak, dan pemulihan Tuhan. Sebab itu, perlu belas kasihan kedaulatan Bapa. Kita tampak perkara-perkara tertentu dan dibawa ke dalamnya, ini pun kedaulatan Allah. Sekalipun orang lain menyalahkan apa yang kita tampak itu, tetapi kita bersukacita karena kita telah tampak perkara-perkara ini. Penampakan kita bukan karena kepandaian kita, melainkan karena belas kasihan Bapa. Bapa telah menunjukkan semuanya itu kepada kita.

V. MEMANGGIL ORANG YANG BERBEBAN

BERAT UNTUK MENDAPATKAN PERHENTIAN

DAN JALAN UNTUK MENDAPATKAN PERHENTIAN

A. Panggilan

Dalam ayat 28 Tuhan menyerukan panggilan: “Marilah kepada-Ku, semua yang telah letih lesu dan berbeban berat, Aku akan memberikan kelegaan kepadamu.” Tuhan seolah-olah berkata, “Kamu semua yang letih lesu dan menanggung beban berat, datanglah kepada-Ku dan beristirahat-lah. Kamu semua orang beragama dan kamu semua orang duniawi yang letih lesu dan berbeban berat, datanglah kepada-Ku dan Aku akan memberikan kelegaan (perhentian).” Sungguh perkataan yang penuh anugerah (kasih karunia). Letih lesu (jerih lelah) yang disebutkan dalam ayat 28 bukan hanya mengacu kepada jerih lelah untuk memelihara perintah hukum Taurat dan peraturan-peraturan agamawi, tetapi juga mengacu kepada jerih lelah dalam berjuang untuk berhasil dalam pekerjaan apa saja. Jadi, siapa yang berjerih lelah, selalu memikul beban berat. Sesudah Tuhan memuji Bapa, mengakui jalan Bapa, dan mengumumkan ekonomi ilahi, Dia memanggil orang semacam ini datang kepada-Nya untuk menerima perhentian. Perhentian bukan hanya berarti dibebaskan dari jerih lelah dan beban di bawah hukum Taurat dan agama, di bawah pekerjaan atau tanggung jawab apa pun, tetapi juga mengacu kepada damai sejahtera yang sempurna dan kepuasan yang penuh.

B. Jalan

1. Memikul Gandar Raja Surgawi

Dalam ayat 29-30 kita mempunyai jalan untuk mendapatkan perhentian: “Pikullah gandar yang Kupasang dan belajarlah kepada-Ku, karena Aku lemah lembut dan rendah hati dan jiwamu akan mendapat ketenangan. Sebab gandar yang Kupasang itu menyenangkan dan beban-Ku pun ringan.” Gandar (kuk) Tuhan adalah melakukan kehendak Bapa. Ini bukan diatur oleh tuntutan hukum Taurat atau agama yang mana pun, atau diperbudak oleh pekerjaan apa pun, melainkan dikuasai oleh kehendak Bapa. Tuhan menempuh hidup yang demikian, tidak memperhatikan apa-apa selain kehendak Bapa-Nya (Yoh. 4:34; 5:30; 6:38). Dia sepenuhnya taat kepada kehendak Bapa (Mat. 26:39, 42). Jadi, Dia meminta kita untuk belajar dari Dia. Kehendak Allah ialah kuk kita. Karena itu, kita tidak bebas berbuat sesuka hati, sebaliknya kita memikul kuk. Anak-anak muda, janganlah mengira bahwa Anda begitu bebas merdeka. Dalam pemulihan Tuhan kita semua telah memikul kuk. Betapa baiknya memikul kuk! Kuk Tuhan itu menyenangkan dan beban-Nya ringan. Kuk Tuhan ialah kehendak Bapa dan beban-Nya ialah pekerjaan untuk melakukan kehendak Bapa. Kuk semacam ini menyenangkan, tidak menyulitkan; beban semacam ini ringan, tidak berat. Kata “menyenangkan” dalam bahasa aslinya berarti cocok untuk dipakai; juga berarti baik, bagus, lembut, halus, mudah, menyenangkan, yang berlawanan dengan apa yang keras, kasar, tajam, dan sulit (derita).

2. Belajar dari Dia

Dalam ayat 29 Tuhan menyuruh kita untuk belajar dari Dia. Dia lemah lembut dan rendah hati. Lemah lembut berarti tidak melawan penentangan, dan rendah hati berarti tidak memandang diri sendiri tinggi. Terhadap semua penentangan, Tuhan lemah lembut; terhadap semua penolakan, Dia rendah hati. Dia sepenuhnya taat kepada kehendak Bapa-Nya, tidak ingin melakukan apa-apa untuk diri-Nya sendiri atau berharap mendapatkan sesuatu untuk diri-Nya. Karena itu, tidak peduli keadaan bagaimana, hati-Nya tetap memiliki perhentian; Dia sepenuhnya puas dengan kehendak Bapa-Nya.

Tuhan berkata bahwa jika kita memikul kuk-Nya dan belajar dari Dia, kita akan mendapat perhentian jiwa kita. Perhentian yang kita peroleh dengan memikul kuk Tuhan dan belajar dari Dia adalah untuk jiwa kita. Ini adalah perhentian yang batini, bukan yang bersifat luaran belaka.

Jika kita ditentang ketika kita melakukan ministri, dan kita melawan, kita tidak akan mempunyai kedamaian. Tetapi sebaliknya jika kita tunduk kepada kehendak Bapa, dan mengakui bahwa penentangan itu berasal dari Bapa, kita akan mempunyai damai dalam jiwa kita. Yohanes Pembaptis tidak menganggap pemenjaraannya itu berasal dari Bapa, karena itu ia tidak bisa tenang. Jika ia menyadari bahwa pemenjaraannya disebabkan oleh kehendak Bapa, ia akan tenang sekalipun dalam penjara. Kristus Raja surgawi, selalu tunduk kepada kehendak Bapa, menerima kehendak Allah sebagai bagian-Nya dan tidak menolak apa pun. Karena itu, Dia selalu tenang. Kita wajib belajar dari Dia dan juga menerima penglihatan ini. Jika kita melakukannya, kita akan mendapatkan perhentian dalam jiwa kita.