Berita Ketiga Puluh
PERLUASAN MINISTRI RAJA (2)
Firman Tuhan dalam Matius 10 ialah firman yang dikatakan kepada orang-orang yang diutus. Dalam 10:16—11:1 banyak hal yang dikemukakan. Dengan tampak perkara-perkara ini, kita akan dapat memahami situasi di tempat kita berada hari ini.
IV. PENGANIAYAAN DAN
JALAN UNTUK MENGHADAPINYA
Dalam ayat 16-17 Tuhan menubuatkan datangnya penganiayaan dari agama Yahudi yang akan menimpa rasul-ra-sul-Nya. Nubuat Raja surgawi di sini mengenai penganiayaan atas rasul-rasul oleh agama Yahudi menunjukkan bahwa kerajaan yang didirikan-Nya melalui pemberitaan rasul-rasul-Nya akan ditolak oleh agama Yahudi. Ini juga membuktikan bahwa kerajaan-Nya bukan kerajaan bumiah, melainkan kerajaan surgawi.
A. Para Rasul Diutus sebagai Domba di Antara Serigala
Ayat 16 mengatakan, “Lihat, Aku mengutus kamu seperti domba ke tengah-tengah serigala, sebab itu hendaklah kamu cerdik seperti ular dan tulus seperti merpati.” Sebagai domba di tengah-tengah serigala, rasul-rasul Tuhan, meskipun bukan ular, perlu cerdik seperti ular untuk menghindar agar tidak dilukai oleh serigala, dan tulus seperti merpati, tidak bercampur dengan maksud jahat apa pun dan tidak menyakiti atau melukai orang lain.
B. Diserahkan kepada Majelis Agama dan Dicambuk di Rumah Ibadat
Firman Tuhan mewahyukan bahwa seluruh dunia berada di tangan perusak musuh, penentang ekonomi Allah. Seluruh dunia, baik dunia kafir maupun dunia orang Yahudi, semua menentang Kerajaan Allah. Ayat 17 mengatakan,“Tetapi waspadalah terhadap semua orang; karena ada yang akan menyerahkan kamu kepada majelis agama dan mereka akan mencambuk kamu di rumah ibadatnya.” Ayat ini menunjukkan bahwa bangsa Yahudi pun telah sepenuhnya diduduki oleh musuh Allah. Ketika Tuhan Yesus di bumi, bangsa ini namanya saja milik Allah, tetapi pada hakikatnya tidak. Karena itu, dalam ayat 17 Tuhan mengatakan tentang aniaya yang datang dari majelis agama dan rumah ibadat. Majelis agama ialah majelis tertinggi di antara umat Israel. Fungsi majelis agama ialah mengawasi orang-orang Yahudi dalam memelihara hukum Taurat Perjanjian Lama. Rumah ibadat ialah tempat firman Allah diajarkan kepada umat Israel. Sangatlah bermakna Tuhan menyingkapkan bahwa majelis agama dan rumah ibadat menentang ekonomi Allah. Dia mengatakan bahwa para rasul-Nya, orang-orang yang diutus, akan diserahkan kepada majelis agama dan dicambuk di rumah ibadat. Rumah ibadat jelas bukan gedung bioskop, kasino, atau rumah berhala. Dalam suatu arti, itu adalah tempat kudus, tempat firman kudus Allah diajarkan kepada umat Allah. Namun, Tuhan mengatakan bahwa para rasul Raja surga itu akan dicambuk bahkan di rumah ibadat. Dengan ini kita tampak bahwa rumah ibadat sudah menjadi sesuatu yang jahat. Sekalipun orang Yahudi pergi ke sana mempelajari firman Allah, tetapi mereka yang di dalam rumah ibadat menganiaya rasul Raja surgawi. Tidak hanya demikian, majelis agama yang dibentuk dengan maksud untuk mengawasi umat Israel dalam hal menaati Alkitab, justru merupakan sarang penentang rasul Raja surgawi.
Situasi hari ini pun sama. Bila majelis agama dan rumah ibadat zaman dahulu itu menentang orang yang diutus Sang Raja, lalu bagaimana sistem agama hari ini? Jika kita benar-benar orang yang diutus oleh Raja surgawi, kita akan ditentang oleh organisasi agama hari ini sama seperti para rasul ditentang oleh agama Yahudi. Pada zaman dahulu para rasul dianiaya terutama bukan oleh orang kafir, melainkan oleh orang yang disebut kudus, tokoh-tokoh dalam majelis agama dan dalam rumah ibadat. Menurut pengalaman kita selama bertahun-tahun, hampir semua aniaya, hujat, tentangan, dan serangan berasal dari organisasi agama, bukan dari orang kafir.
Menurut ayat 16, Tuhan Yesus mengibaratkan mereka yang berada dalam majelis agama dan rumah ibadat sebagai serigala, dengan mengatakan Dia mengutus para rasul-Nya “seperti domba di tengah-tengah serigala”. Dapatkah Anda percaya bahwa mereka yang berada dalam majelis agama dan rumah ibadat, orang-orang yang menerangkan dan mengajar firman kudus Allah dan memaksa orang lain yang menaatinya, justru adalah serigala? Jika bukan Tuhan Yesus sendiri yang mengatakan demikian, saya niscaya tidak akan mempercayainya. Sebaliknya, saya akan mengatakan, “Mereka yang dalam majelis agama dan rumah ibadat mungkin membuat kesalahan, tetapi mereka pasti umat Allah, sebab setiap hari mereka membicarakan Alkitab dan mengajar orang bertakwa kepada Allah, menyembah Allah, menghormati Allah, dan memuliakan Allah. Mereka tidak terlalu jahat. Bagaimana Anda dapat mengatakan bahwa mereka itu serigala?” Tetapi Tuhan Yesus menyebut mereka serigala. Pada saat itu, serigala yang dikatakan dalam ayat 16 adalah mereka yang ada dalam majelis agama dan rumah ibadat yang disebutkan dalam ayat 17.
Saulus dari Tarsus berguru pada Gamaliel, seorang guru besar Alkitab, “seorang ahli Taurat yang sangat dihormati orang banyak” (Kis. 22:3; 5:34). Gamaliel adalah salah seorang pemimpin dalam majelis agama. Apakah Gamaliel bagi Allah? Ya, benar. Ia takwa dan bagi Allah, tetapi ia dalam lingkungan yang mutlak menentang ekonomi Allah. Ia merupakan bagian dari sistem majelis agama yang menentang Allah. Berabad-abad yang lampau, bahkan sampai hari ini, keadaannya tetap sama. Tidak peduli berapa banyak orang yang bagi Allah, mereka sudah berada dalam suatu sistem, suatu organisasi yang menentang ekonomi Allah. Dalam Kitab Wahyu 2:9 dan 3:9 Tuhan Yesus mengatakan tentang “jemaah Iblis”. Dalam Matius 10 Tuhan menunjukkan adanya serigala dalam rumah ibadat, dan dalam Wahyu Dia mengatakan tentang jemaah Iblis. Ini menunjukkan bahwa rumah ibadat telah menjadi sarang Iblis.
Tuhan Yesus mula-mula tidak datang ke dunia kafir, Dia datang kepada bangsa yang diperkirakan umat kudus Allah. Bangsa itu memiliki Alkitab kudus, kota kudus, Bait Kudus, imamat kudus, dan pengurbanan kudus. Dia datang kepada mereka dengan tujuan mendirikan Kerajaan Surga. Tampaknya tidak akan ada kesulitan apa-apa. Tetapi ketika Raja surgawi ini mengutus murid-murid-Nya untuk perluasan ministri-Nya, Ia memperingatkan mereka bahwa Dia mengutus mereka pergi seperti domba ke tengah-tengah serigala. Tuhan seolah-olah berkata, “Mereka yang dalam majelis agama, yang memperhatikan Kitab Suci, akan menganiaya kamu. Mereka yang di dalam rumah ibadat, yang mengajarkan firman Allah, akan mencambuk kamu. Waspadalah! Mereka bukan umat kudus Allah, mereka adalah serigala. Mereka bukan bagi Allah, mereka menentang Dia.” Andaikata Anda berada di antara orang-orang Yahudi sebagai orang yang diutus oleh Raja Surgawi dan Anda mendengar bahwa mereka yang berada dalam majelis agama dan rumah ibadat itu serigala, tidakkah Anda terperanjat? Namun, ini benar-benar apa yang Tuhan katakan di sini. Tuhan tidak mengatakan bahwa prajurit-prajurit dalam pasukan Roma adalah serigala; tetapi mereka yang dalam majelis agama dan rumah ibadat, mereka yang menangani firman Allah dan mengajarkannya kepada umat Allah, itulah serigala. Selama berabad-abad, prinsip dalam situasi ini masih tetap sama.
Dalam 9:36 Tuhan mengibaratkan orang seperti domba. Di antara umat Israel, terdapat domba-domba dan serigala-serigala. Serigala-serigala itu terdapat dalam rumah ibadat dan majelis agama. Mereka adalah serigala-serigala yang terpelajar, berkebudayaan, dan beragama. Serigala-serigala itu mengenal Alkitab dengan baik. Walau mereka dapat mengutip ayat-ayat dan menyembah Allah menurut Alkitab, namun Tuhan Yesus tidak menganggap mereka sebagai domba, melainkan sebagai serigala. Sebab itu, pada waktu Matius 10 ditulis, terdapat situasi yang kompleks di antara umat Israel, sebab domba dan serigala bercampur baur. Asalkan domba dapat rukun dengan serigala, tidak ada masalah. Namun, gembala datang dan mengutus anak buah gembala untuk mengumpulkan domba-domba. Jika kita membaca pasal-pasal ini dengan saksama, kita akan tampak bahwa pengumpulan domba ialah penuaian hasil tuaian. Semua domba, tuaian berserakan di antara serigala dan bercampur baur dengan serigala. Ketika domba-domba ingin mengikuti anak buah gembala yang diutus oleh Gembala, serigala segera bangun dan berkata, “Apa! Kamu mencuri domba. Kamu mengacaukan domba-domba itu.” Dengan demikian, sifat serigala tersingkap, dan serigala menyerang anak buah gembala. Karena itu, Tuhan mengatakan bahwa mereka seperti domba di tengah-tengah serigala, dan menganjurkan mereka yang diutus itu harus cerdik seperti ular dan tulus seperti merpati. Ketika serigala menyerang, orang yang diutus-Nya harus cerdik seperti ular untuk menghindarkan diri. Bersamaan dengan itu mereka pun harus tulus seperti merpati.
C. Dibawa ke Hadapan Penguasa-penguasa dan Raja-raja sebagai Suatu Kesaksian demi Raja Surgawi
Ayat 18 mengatakan,“Karena Aku, kamu akan digiring ke hadapan penguasa-penguasa dan raja-raja sebagai suatu kesaksian bagi mereka dan bagi bangsa-bangsa yang tidak mengenal Allah.” Jelas bahwa yang menggiring mereka ini ialah orang kafir. Jadi, Tuhan menunjukkan bahwa kerajaan Allah akan ditentang tidak hanya oleh dunia agama Yahudi, tetapi juga oleh dunia orang kafir yang duniawi. Pada akhirnya, para rasul dibawa ke hadapan penguasa-penguasa dan raja-raja Romawi. Mereka dianiaya dan menjadi suatu kesaksian. Ini mewahyukan kesamaan dunia agama dan dunia politik ketika menentang Kerajaan Surga, sebab keduanya berada di bawah cengkeraman musuh Allah. Maksud tujuan Raja surgawi ialah mendirikan kerajaan-Nya di bumi di wilayah agama dan politik. Ini pasti akan membangkitkan tentangan dan aniaya.
Dalam ayat 19-20 Tuhan berkata, “Apabila mereka menyerahkan kamu, janganlah kamu khawatir tentang bagaimana dan apa yang harus kamu katakan, karena semuanya itu akan dikaruniakan kepadamu pada saat itu juga. Karena bukan kamu yang berkata-kata, melainkan Roh Bapamu; Dia yang akan berkata-kata di dalam kamu.” Rasul-rasul tidak hanya memiliki kuasa Raja surgawi (ayat 1), tetapi juga Roh Bapa mereka. Kuasa Raja menanggulangi roh-roh najis dan penyakit-penyakit; Roh Bapa menanggulangi penganiayaan dari para penentang. Tuhan menyuruh orang-orang yang diutus-Nya tidak berbicara dari diri sendiri saat mereka menjumpai aniaya. Dia seolah-olah berkata, “Janganlah khawatir, dan janganlah berbicara sendiri. Roh Bapamu menyertai kamu.” Asalkan kita mempunyai Roh Tuhan, kita mempunyai penyertaan Tuhan. Penyertaan Tuhan di sini ialah Roh untuk berbicara. Kita harus belajar untuk menghadapi penganiayaan bukan dalam diri kita, melainkan belajar kembali ke dalam roh kita dan mengandalkan roh yang tinggal di dalam kita. Kita harus percaya bahwa Roh Bapa beserta kita dan Dia akan menanggulangi para penentang dan penganiaya. Ini bukan perkara yang mudah untuk kita pelajari. Kita harus menghadapi tentangan dan serangan langsung, bukan dalam diri kita, melainkan dengan kembali ke dalam roh kita, tempat Roh Allah tinggal. Kita harus mengandalkan Dia, membiarkan Dia memimpin kita, dan membiarkan Dia yang berbicara.
D. Dibenci oleh Sanak Saudara
Tuhan juga memberi tahu orang-orang yang diutus-Nya bahwa mereka akan dibenci oleh sanak saudara mereka. Ayat 21 mengatakan “Seorang Saudara akan menyerahkan saudaranya untuk dibunuh, demikian juga seorang ayah terhadap anaknya. Anak-anak akan memberontak terhadap orang tuanya dan akan membunuh mereka.” Orang-orang yang akan menjadi rasul Raja surgawi untuk memberitakan Injil kerajaan harus mengalami putusnya pertalian persaudaraan yang paling dekat.
Dalam ayat 22 Tuhan mengatakan, “Kamu akan dibenci semua orang oleh karena nama-Ku; tetapi orang yang bertahan sampai pada kesudahannya akan selamat.” Selamat di sini bukan berarti diselamatkan dari neraka. Boleh jadi, mengandung arti diselamatkan dari orang-orang yang membenci, tetapi akhirnya berarti diselamatkan ke dalam manifestasi Kerajaan Surga, pahala bagi kaum beriman yang menang, yaitu diselamatkan dari hukuman selama masa seribu tahun. Ini berbeda dengan keselamatan kekal seperti yang diwahyukan dalam Efesus 2:8.
E. Lari dari Kota yang Satu ke Kota yang Lain
Ayat 23 mengatakan “Apabila mereka menganiaya kamu dalam kota yang satu, larilah ke kota yang lain; karena sesungguhnya Aku berkata kepadamu: Sebelum kamu selesai mengunjungi kota-kota Israel, Anak Manusia sudah datang.” Perkataan ini belum digenapi pada saat kedua belas rasul memberitakan sebelum penyaliban Kristus. Hal ini baru akan digenapi pada masa kesusahan besar (24:21). Nubuat dalam ayat 17-23 sangat mirip dengan nubuat yang terdapat dalam 24:9-13. Di sini Raja surgawi mengutus rasul-rasul untuk memberitakan Injil kerajaan kepada orang Yahudi. Setelah bangkit, Dia mengutus rasul-rasul-Nya untuk memberitakan Injil kepada orang bukan Yahudi. Setelah sejumlah orang bukan Yahudi yang beroleh selamat digenapi, Dia akan mengutus rasul-rasul-Nya untuk memberitakan Injil kerajaan kepada orang Yahudi lagi. Pada saat itu, perkataan ini akan digenapi, dan Dia akan datang.
F. Tidak Lebih dari Guru Mereka
Dalam ayat 24 Raja berkata kepada orang-orang yang diutus-Nya, “Seorang murid tidak lebih daripada gurunya, atau seorang hamba daripada tuannya.” Menurut konteksnya, perkataan di sini berarti bahwa dalam menderita aniaya, rasul-rasul tidak dapat melebihi diri-Nya, karena Dia dianiaya dengan sangat hebat.
Ayat 25 mengatakan,“Cukuplah bagi seorang murid jika ia menjadi sama seperti gurunya dan bagi seorang hamba jika ia menjadi sama seperti tuannya. Jika tuan rumah disebut Beelzebul, apalagi seisi rumahnya.” Beelzebul berarti “dewa lalat”, adalah nama dewa bangsa Ekron (2 Raj. 1:2). Istilah ini diganti menjadi Beelzebul oleh orang Yahudi dengan maksud menghina. Beelzebul berarti “dewa tahi” dan dipakai untuk menyebut penghulu setan (12:24, 27; Mrk. 3:22; Luk. 11:15, 18-19). Orang-orang Farisi, orang-orang yang terpandang dalam agama Yahudi, menghina Raja surgawi dengan mengatakan bahwa Dia mengusir setan dengan kuasa penghulu setan (9:34). Dengan memakai nama yang sangat menghujat, mereka menyatakan penghinaan dan penolakan yang paling keras.
G. Tidak Takut terhadap Penganiaya,
tetapi Memberitakan Berita Raja Surgawi di Atap Rumah
Dalam ayat 26-27 Raja memberi tahu orang-orang yang diutus-Nya agar jangan takut terhadap penganiaya, sebaliknya berbicara dalam terang dan memberitakan di atap rumah. Dalam ayat 28 Dia berkata, “Janganlah kamu takut kepada mereka yang dapat membunuh tubuh, tetapi yang tidak berkuasa membunuh jiwa; takutlah terutama kepada Dia yang berkuasa membinasakan baik jiwa maupun tubuh di dalam neraka.” Allah adalah satu-satunya yang berkuasa membinasakan baik jiwa maupun tubuh manusia dalam neraka. Perkataan ini menyiratkan bahwa jika rasul-rasul yang diutus oleh Tuhan tidak tahan menderita penganiayaan, mereka akan didisiplin oleh Allah. Pendisiplinan ini akan terjadi pada zaman yang akan datang, setelah penghakiman pada takhta penghakiman Kristus, ketika kaum beriman menerima pahala atau penghukuman (2 Kor. 5:10; Why. 22:12).
Dalam ayat 32-33 Tuhan berkata, “Setiap orang yang mengakui Aku di depan manusia, Aku juga akan mengakuinya di depan Bapa-Ku yang di surga. Tetapi siapa saja yang menyangkal Aku di depan manusia, Aku juga akan menyangkalnya di depan Bapa-Ku yang di surga.” Perkataan ini diucapkan oleh Raja surgawi kepada rasul-rasul-Nya, yang diutus-Nya untuk memberitakan Injil kerajaan. Sebelumnya, Dia memberi tahu bahwa mereka akan dianiaya (ayat 17, 21-23). Jika seseorang yang dianiaya menyangkal Dia, Dia akan menyangkalnya pada kedatangan-Nya kembali (16:27). Keadaan mereka saat itu, disangkal atau diakui oleh-Nya akan menentukan apakah rasul-rasul layak untuk masuk Kerajaan Surga sebagai pahala dalam zaman yang akan datang. Di sini Raja seolah-olah berkata, “Jika kamu takut akan aniaya dan tidak mengakui nama-Ku di hadapan penganiaya, Aku tidak akan mengakui namamu di hadapan Bapa ketika Aku datang kembali maupun masa seribu tahun dimulai.” Ini berarti bahwa orang semacam ini akan dimasukkan ke dalam kegelapan yang di luar (25:30) dan tidak akan berbagian dalam manifestasi kerajaan.
V. KEKACAUAN YANG DIDATANGKAN
OLEH RAJA DAN JALAN SALIB UNTUK MENGIKUTI DIA
A. Raja Surgawi Datang ke Bumi Bukan Membawa Damai, Melainkan Pedang
Dalam ayat 34 Tuhan Yesus berkata, “Jangan kamu menyangka bahwa Aku datang untuk membawa damai di atas bumi; Aku datang bukan untuk membawa damai, melainkan pedang.” Seluruh bumi berada di bawah cengkeraman Iblis. Raja surgawi datang untuk memanggil sejumlah orang untuk keluar dari cengkeraman itu. Hal ini jelas membangkitkan penentangan dari Iblis. Iblis menghasut orang-orang yang berada di bawah cengkeramannya untuk memerangi orang-orang yang dipanggil oleh Raja surgawi itu. Jadi, kedatangan-Nya tidak mendatangkan damai, melainkan pedang. Sewaktu Kerajaan Surga akan didirikan, pasti timbul konfrontasi antara Kerajaan Surga dan kerajaan dunia. Kedua kerajaan ini tidak dapat hidup berdampingan. Karena Raja surgawi sedang mendirikan kerajaan-Nya di bumi, maka peperangan antara kedua kerajaan ini tidak dapat dielak-kan.
Dalam ayat 35-36 Tuhan berkata, “Sebab Aku datang untuk memisahkan orang dari ayahnya, anak perempuan dari ibunya, menantu perempuan dari ibu mertuanya, dan musuh orang ialah orang-orang seisi rumahnya.” Peperangan yang terjadi karena hasutan Iblis si perampas melawan orang-orang yang dipanggil oleh Raja surgawi, juga berkecamuk di dalam rumah tangga mereka. Orang-orang surgawi yang terpanggil akan diserang oleh kerabatnya, karena kerabatnya tetap berada di bawah tangan perampas si jahat. Ketika sejumlah orang tertarik dan tertangkap oleh Raja surgawi dan memutuskan untuk mengikuti Dia, beberapa orang di dalam keluarga mereka mungkin telah dihasut oleh Iblis untuk melawan mereka, bahkan membunuh mereka.
Saya akan mengisahkan mengenai seorang saudara yang dianiaya oleh istrinya yang tidak beriman. Orang ini mempunyai pekerjaan yang sangat baik di kantor pajak, dan ia sangat kaya. Setelah ia dibawa ke hadapan Tuhan, istrinya mulai menganiaya dirinya. Pada suatu malam, saudara ini mengundang beberapa orang di antara kita ke rumahnya untuk bersantap malam. Ketika suaminya mengundang teman sekerjanya bersantap malam, istrinya sangat gembira dan menyediakan makanan yang paling baik. Tetapi kini sebagai seorang yang beriman, suaminya mengundang beberapa umat gereja ke rumah mereka. Pada malam hari ia mengundang kami, istrinya sengaja tidak masak. Sebaliknya, ia meletakkan sisa-sisa makanan yang dingin di atas meja. Saudara itu memandang kepada kami dengan cucuran air mata. Kami menatap dia dan berkata, “Puji Tuhan! Santapan malam ini sangat lezat. Marilah kita semua makan.” Kemudian kami mulai makan semua sisa makanan itu. Inilah sebuah contoh penganiayaan istrinya.
Mereka yang diutus oleh Tuhan harus menyadari bahwa aniaya menunggu mereka. Tuhan Yesus tidak meninggalkan kita dalam kegelapan. Sebaliknya, ia membuat seluruh situasi sangat terang. Dalam negara Yahudi penuh dengan penentang dan bahkan keluarga dari orang-orang yang terpanggil akan bangkit menentang mereka, bahkan akan membunuh pengikut-pengikut Raja surgawi.
B. Jalan untuk Mengikuti Raja Surgawi
1. Mengasihi Sanak Keluarga Tidak Lebih daripada Mengasihi Tuhan
Dalam ayat 37-39 terdapat jalan untuk mengikuti Raja Surgawi. Dalam ayat 37 Tuhan berkata, “Siapa saja yang mengasihi bapa atau ibunya lebih daripada Aku, ia tidak layak bagi-Ku; dan siapa saja yang mengasihi anaknya laki-laki atau perempuan lebih daripada Aku, ia tidak layak bagi-Ku.” Kasih kita terhadap Tuhan harus mutlak. Kita tidak seharusnya mengasihi sesuatu melebihi diri-Nya. Dialah Yang paling layak mendapatkan kasih kita, dan kita harus layak bagi-Nya.
2. Memikul Salib dan Mengikuti Dia
Ayat 38 melanjutkan, “Siapa saja yang tidak memikul salibnya dan mengikut Aku, ia tidak layak bagi-Ku.” Kristus mengambil kehendak Bapa dan disalibkan (26:39, 42). Ketika Dia dibaptis, Dia dianggap sudah tersalib, dan sejak saat itu Dia memikul salib-Nya untuk melakukan kehendak Allah. Orang-orang yang dipanggil oleh-Nya diserupakan dengan-Nya. Dia meminta mereka memikul salib mereka dan mengikuti Dia, yang mengambil kehendak Allah dengan mengesampingkan diri sendiri. Hal ini menuntut mereka memberikan kasih mereka kepada Dia dulu, bagaimanapun keadaannya, agar mereka layak bagi-Nya.
3. Kehilangan Nyawa karena Dia
Ayat 39 mengatakan,“Siapa saja yang mempertahankan nyawanya (mendapatkan hayat jiwa Tl.), ia akan kehilangan nyawanya, dan siapa saja yang kehilangan nyawanya karena Aku, ia akan memperolehnya.” Mendapatkan hayat jiwa berarti mengizinkan jiwa memiliki kenikmatannya dan menghindari penderitaan. Kehilangan hayat jiwa ialah membuat jiwa kehilangan kenikmatannya. Jika para pengikut Raja surgawi mengizinkan jiwa mereka memiliki kenikmatan pada zaman ini, jiwa mereka akan menderita kehilangan kenikmatannya pada zaman kerajaan yang akan datang. Jika mereka mengizinkan jiwa mereka menderita kehilangan kenikmatannya pada zaman ini karena Raja, jiwa mereka akan mendapat kenikmatan pada zaman kerajaan yang akan datang, yaitu mengambil bagian atas sukacita Raja dalam memerintah atas bumi (25:21, 23).
VI. RAJA BERSATU DENGAN ORANG YANG DIUTUS
A. Menerima Rasul Raja Surgawi Berarti Menerima Raja
Dalam 10:40—11:1 ada masalah kesatuan dengan Raja surgawi. Ayat 40 mengatakan,“Siapa saja yang menyambut kamu, ia menyambut Aku, dan siapa saja yang menyambut Aku, ia menyambut Dia yang mengutus Aku.” Rasul-rasul yang diutus oleh Raja surgawi, setelah dipercaya menerima kekuasaan-Nya (ayat 1), damai sejahtera (ayat 13), dan setelah dihuni oleh Roh Bapa (ayat 20) dan diserupakan dengan Raja dalam penderitaan-Nya (ayat 22, 24-25) dan kematian-Nya (ayat 21, 34-39), bersatu dengan Dia. Jadi, orang yang menerima mereka berarti menerima Dia. Untuk berbagian dalam kesatuan yang sedemikian dengan Raja Surgawi, kita harus mengasihi Dia melebihi segalanya, membayar harga apa pun, dan mengikuti Dia dengan menempuh jalan salib yang sempit seperti yang diwahyukan dalam ayat 37-39. Orang yang diutus tidak hanya memiliki kekuasaan Raja, damai sejahtera, dan Roh Bapa, tetapi juga berbaur dengan Raja dan bersatu dengan Dia. Menerima seorang utusan Raja berarti menerima Raja sendiri, sebab orang yang diutus bersatu dengan Raja. Inilah suatu dorongan bagi mereka yang diutus. Dalam pemulihan Tuhan kita memiliki kuasa, damai sejahtera, Roh, dan keesaan dengan Raja kita. Kita esa dengan Dia. Siapa saja menerima kita, menerima Raja; dan siapa saja menolak kita, menolak Raja. Ini bukan suatu perkara yang tidak penting. Ini sangat serius. Kita semua perlu mempunyai keyakinan bahwa kita memiliki kekuasaan, damai sejahtera, Roh, dan keesaan. Ini semua untuk perluasan ministri Raja. Raja masih menyebarluaskan ministri-Nya hari ini, dan kita adalah orang-orang utusan-Nya yang memiliki kekuasaan, damai sejahtera, Roh, dan kesatuan dengan Raja.
B. Upah Menerima Seorang Nabi atau Seorang yang Benar
Ayat 41 mengatakan,“Siapa saja yang menyambut seorang nabi sebagai nabi, ia akan menerima upah nabi, dan siapa saja yang menyambut seorang benar sebagai orang benar, ia akan menerima upah orang benar.” Nabi adalah orang yang berbicara bagi Allah dan menyampaikan Allah. Orang benar adalah orang yang mencari kebenaran, yang mempraktikkan kebenaran, dan yang dianiaya karena kebenaran demi kerajaan (5:6, 10, 20; 6:1). Raja surgawi adalah nabi yang diutus oleh Allah (Bil. 18:15) dan orang yang Benar (Kis. 3:14). Rasul-rasul-Nya, yang diutus oleh-Nya, diserupakan dengan Dia. Demikian juga nabi-nabi dan orang-orang benar. Karena itu, siapa pun yang menyambut mereka berarti menyambut Dia dan akan menerima upahnya. Orang yang menyambut nabi bersatu dengan perkataan nabi itu, dan orang yang menyambut orang benar bersatu dengan kebenaran orang benar itu. Jadi, mereka akan menerima upah nabi dan upah orang benar.
Orang-orang yang diutus Raja adalah nabi-nabi dan juga adalah orang-orang benar. Nabi selalu datang dengan firman Allah, dan orang benar selalu datang dengan kebenaran. Jika Anda menerima nabi, Anda akan menerima firman Allah; dan jika Anda orang benar, Anda akan menerima kebenarannya. Alangkah baiknya mendapat firman Allah dan kebenarannya. Ini akan membantu kita memasuki realitas kerajaan hari ini, dan manifestasi kerajaan di kemudian hari.
C. Upah karena Memberi Secangkir Air Sejuk kepada Seorang Murid Kecil
Ayat 42 mengatakan,“Siapa saja yang memberi air sejuk secangkir saja pun kepada salah seorang yang kecil ini, karena ia murid-Ku, sesungguhnya Aku berkata kepadamu: Ia tidak akan kehilangan upahnya.” Upah ini akan diberikan pada zaman kerajaan yang akan datang (Luk. 14:14).
VII. RAJA SURGAWI MENGAJAR DAN MENYAMPAIKAN BERITA DI KOTA-KOTA
Matius 11:1 mengatakan, “Setelah Yesus mengakhiri pesan-Nya kepada kedua belas murid-Nya, pergilah Ia dari sana untuk mengajar dan memberitakan Injil di dalam kota-kota mereka.” Setelah Tuhan mengangkat kedua belas murid dan mengutus mereka menyebarluaskan pemberitaan kerajaan, Dia sendiri melakukan ministri-Nya untuk mengajar dan memberitakan Injil kerajaan di kota-kota.