BAGI MANUSIA “HAL INI” TIDAK MUNGKIN, TETAPI BAGI ALLAH SEGALA SESUATU MUNGKIN DUA PERUMPAMAAN
Ada dua perumpamaan dalam Matius 21 dan 22 yang menduduki tempat yang sangat penting dalam Alkitab. Pasal dua puluh satu berbicara mengenai pekerjaan dalam kebun anggur, dan pasal dua puluh dua membahas mengenai perjamuan kawin. Kebun anggur adalah masalah pekerjaan, sementara perjamuan kawin adalah masalah kenikmatan. Perumpamaan yang pertama adalah mengenai Allah mengirim budak-budak-Nya untuk bekerja, dan perumpamaan yang kedua adalah mengenai Allah memanggil umat-Nya untuk menikmati perjamuan. Sementara pekerjaan memerlukan manusia untuk membayar harga, kenikmatan tidak perlu membayar harga. Kita harus sepenuhnya memegang prinsip dari kedua perumpamaan ini. Perumpamaan yang pertama menggambarkan bagaimana Allah memerlukan manusia untuk membayar harga, untuk berjerih lelah. Allah menuntut agar manusia berbuah. Namun perumpamaan yang kedua memberitahu kita bahwa Allah hanya ingin manusia menikmati. Di sini, manusia tidak diminta untuk membayar harga apapun, karena semuanya telah siap sedia. Dalam perumpamaan ini, jika kita mengatakan bahwa Allah menuntut sesuatu dari manusia, tuntutan itu hanyalah agar manusia menikmati apa yang telah Allah sediakan. Dalam perumpamaan yang pertama Allah menuntut sesuatu dari manusia, sementara dalam perumpamaan yang kedua manusia menerima segala sesuatu dari Allah.
Mengacu kepada apakah kedua perumpamaan ini? Semua pembaca Alkitab seharusnya menyadari bahwa perumpamaan yang pertama mengacu kepada dispensasi hukum, sedangkan perumpamaan yang kedua mengacu kepada dispensasi kasih karunia. Dalam dispensasi hukum taurat, Allah telah menanggulangi manusia menurut hukum taurat, menuntut manusia melakukan segala sesuatu, tetapi dalam dispensasi kasih karunia, Allah menanggulangi manusia oleh sarana kasih karunia, Ia mendambakan manusia menikmati segala sesuatu yang telah Ia kerjakan. Ketika Allah menanggulangi manusia menurut hukum taurat, selama dispensasi hukum taurat itu, ada suatu situasi tertentu dengan sebuah hasil tertentu. Dalam dispensasi yang kedua, ketika Allah menanggulangi manusia menurut kasih karunia, ada sebuah situasi yang berbeda dengan sebuah hasil yang berbeda.
DISPENSAI HUKUM TAURAT
Dalam dispensasi hukum taurat Allah menuntut manusia untuk berjerih lelah, untuk memiliki tingkah laku yang baik, untuk membayar harga, dan berkeringat. Ketika manusia berada di bawah hukum taurat Perjanjian Lama, Allah tidak pernah menyuplai manusia tetapi selalu menuntut banyak hal dari manusia. Dalam Matius 21 ada sebuah kebun anggur yang memerlukan banyak hal untuk dikerjakan dan yang di dalamnya menuntut manusia untuk berjerih lelah. Seluruh kebun anggur meminta manusia untuk menghabiskan waktunya dan membayar harga. Tetapi apakah hasilnya? Hasilnya adalah manusia tidak menghasilkan buah bagi Allah—manusia tidak merampungkan apapun. Bukan karena hukumnya yang salah, tetapi karena manusia memiliki kelemahan dan kejahatan sehingga manusia tidak dapat melakukan apapun. Maka dari itu, Tuhan menunjukkan kepada kita perumpamaan yang pertama, bahwa meskipun Allah berulang kali meminta manusia untuk berbuah, Ia tidak menerima buah apapun. Hal ini menunjukkan bahwa di bawah hukum taurat, jika manusia ingin memuaskan tuntutan Allah berdasarkan tingkah lakunya sendiri dan kebenarannya sendiri, hasilnya adalah kesia-siaan dan kehampaan, karena manusia tidak dapat melakukannya. Perumpamaan ini tidak mengatakan bahwa manusia memberi buah terlalu sedikit tetapi manusia tidak berbuah sama sekali. Jika manusia mencoba memenuhi tuntutan Allah di bawah hukum taurat, ia pasti gagal untuk merampungkan apapun. Maka, perumpamaan yang pertama dengan jelas mengacu kepada dispensasi hukum taurat.
DISPENSASI KASIH KARUNIA
Perumpamaan yang kedua mengacu kepada dispensasi kasih karunia. Dispensasi kasih karunia tidak dapat disamakan seperti sebuah kebun anggur tetapi merupakan sebuah perjamuan kawin. Apakah kita perlu membayar harga ketika seseorang mengundang kita ke sebuah perjamuan kawin? Tidak seorang pun yang perlu membayar harga berapapun untuk menghadiri sebuah perjamuan kawin. Ini menunjukkan kepada kita bahwa dalam dispensasi kasih karunia, Allah menanggulangi manusia menurut kasih karunia. Segala sesuatu telah disediakan oleh Allah, dan kita adalah orang-orang yang dengan sederhana dipanggil untuk menikmati perjamuan kawin itu. Kita harus memandang kepada Tuhan untuk menunjukkan kepada kita prinsip kasih karunia agar kita melihat bahwa segala sesuatu telah siap dan telah disediakan oleh Allah. Kita adalah orang yang dengan sederhana dipanggil untuk menikmati dan bukan untuk membayar harga apapun.
PERBEDAAN ANTARA HUKUM TAURAT
DALAM PERJANJIAN LAMA DENGAN KASIH KARUNIA DALAM PERJANJIAN BARU
Hukum taurat meminta kita untuk bekerja, sedangkan kasih karunia meminta kita untuk menerima. Hukum taurat adalah agar kita berjerih lelah, sementara kasih karunia adalah agar kita menikmati. Ada dua gambar: yang pertama ialah gambar dari kebun anggur dimana semua orang sedang berjerih lelah, dan gambar yang kedua ialah gambaran dari perjamuan kawin dimana semua orang sedang menikmati. Dalam dispensasi hukum taurat, manusia bekerja, berjerih lelah, dan berusaha keras. Dalam dispensasi kasih karunia, Allah membuat segala sesuatunya siap dan Ia menyediakan segalanya; manusia hanya perlu menikmatinya saja.
Apakah perbedaan antara kedua perumpamaan ini? Kita semua telah mengetahui bahwa seseorang yang ingin bertumbuh dalam hayat di hadapan Allah harus mengaku dosa-dosanya dan menanggulangi dosa-dosanya itu serta menanggulangi hati nuraninya. Tetapi beberapa orang mungkin mengatakan bahwa perkataan ini terlalu tinggi dan mengherankan kalau ada orang yang dapat melakukannya. Atau mereka mungkin bertanya, “Siapakah yang dapat menanggulangi dosa-dosanya dan menanggulangi hati nuraninya dengan tuntas? Di dalam perjanjian Baru Allah meminta kita untuk menanggulangi dosa-dosa kita, mengakui dosa-dosa kita, menanggulangi hati nurani kita, dan mempersembahkan diri kita kepadanya dengan cara yang tuntas. Apakah ini permintaan hukum taurat ataukah permintaan kasih karunia?” Jika kita membaca Perjanjian Baru dengan teliti, kita akan menemukan bahwa ada di beberapa tempat tertentu dalam Perjanjian Baru yang meminta kita mengaku dosa-dosa kita dan menanggulangi hati nurani kita. Sebagai contoh, Matius 5:26 yang mengatakan, “Sesungguhnya Aku berkata kepadamu: Engkau tidak akan keluar dari sana, sebelum engkau membayar hutangmu sampai lunas.” Juga dalam Ibrani 9:14 memberitahu kita bahwa kita harus menanggulangi dosa-dosa kita supaya kita dapat melayani Allah yang hidup dengan hati nurani yang murni. Secara luaran, semua perkataan ini tampaknya seperti hukum taurat, tetapi di dalam Perjanjian Baru, semua perkataan ini pada hakekatnya adalah kasih karunia.
Berikut inilah masalahnya. Bukankah kita telah berkata bahwa hukum taurat menuntut banyak hal atas manusia dan bahwa kasih karunia semuanya adalah mengenai menikmati tanpa tuntutan apapun? Ketika kita mengaku dosa-dosa kita, menanggulangi dosa-dosa kita, dan menanggulangi hati nurani kita tampaknya seperti tuntutan hukum taurat, bagaimana kita dapat mengatakan bahwa semuanya itu berhubungan dengan kasih karunia? Di permukaannya memang tampak bahwa semua perkara itu merupakan tuntutan, tetapi dalam kenyataannya, di dalam Perjanjian Baru semuanya adalah kasih karunia, secara mutlak semuanya ialah kasih karunia. Di dalam Perjanjian Lama kita melihat bahwa Allah telah berbicara dengan perkataan yang menuntut kepada manusia. Sebagai contoh, Ulangan 6:5 yang dengan jelas mengatakan, “Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap kekuatanmu.” Perjanjian Baru juga memiliki permintaan ini dan memberitahu kita bahwa kita harus meninggalkan segalanya untuk mengasihi Tuhan (Luk. 10:27; Mat. 19:29; Luk. 14:26). Kedua perintah ini—yang satu di Perjanjian Lama dan satunya lagi di Perjanjian Baru—tampaknya sama, tetapi sebenarnya tidak sama.
HUKUM TAURAT DALAM PERJANJIAN LAMA MENUNJUKKAN KETIDAKMAMPUAN MANUSIA
Contoh lainnya adalah bahwa Perjanjian Lama meminta manusia untuk menghormati ayah dan ibunya (Kel. 20:12), dan di dalam Perjanjian Baru juga meminta manusia untuk menghormati ayahnya dan ibunya (Ef. 6:2-3). Perjanjian Lama meminta manusia menjadi kudus (Im. 19:2), dan Perjanjian Baru juga meminta manusia menjadi kudus (1 Pet. 1:16). Tampaknya Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru mengatakan hal yang sama, dan sulit untuk mengatakan perbedaannya. Memang benar bahwa kedua perintah dari Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru merupakan perkataan yang keluar dari mulut Allah, tetapi kekudusan dalam Perjanjian Lama sesungguhnya berbeda dari yang ada dalam Perjanjian Baru. Singkatnya, semua perintah yang ada dalam Perjanjian Lama membuktikan ketidakmampuan dan ketidaksanggupan manusia. Di masa Perjanjian Lama, Allah telah memberikan perintah-perintah dan ketetapan hukum bagi manusia agar mereka menaatinta dan mengikutinya, tetapi dalam melakukan hal ini Ia hanya memiliki satu tujuan—untuk menunjukkan ketidkmampuan dan ketidakberdayaan manusia.
Pernahkah kita merenungkan mengapa di dalam Perjanjian Lama Allah menginginkan manusia menghormati orang tuanya, menjadi kudus, mengasihi Dia, dan sebagainya? Apakah Allah memberikan hukum taurat agar manusia melanggarnya ataukah agar melaksanakannya? Semua orang yang mengenal Alkitab mengerti bahwa tidak ada jalan bagi manusia untuk melaksanakan perintah Allah. Jika demikian, mengapa Allah masih menetapkan hukum taurat? Kita perlu memperhatikan satu hal ini. Karena manusia tidak mengenal dirinya sendiri, maka Allah memberinya sebuah tuntutan yang sangat ketat agar manusia mengenal dirinya sendiri. Allah sepertinya berkata, “Kalian benar-benar sakit dan perlu istirahat, tetapi karena kalian tidak mau melakukannya, Aku tidak memiliki pilihan kecuali mengutus kalian untuk bekerja di kebun anggur agar kalian mengetahui keadaan kalian yang sesungguhnya.”
Masalahnya adalah bahwa sampai sekarang banyak yang dari kita masih tidak mengenal siapa diri kita. Namun, Allah sungguh-sungguh mengenal manusia. Manusia tidak memiliki jalan untuk menyenangkan Allah, dan tidak ada satu kebaikan pun dari tingkah laku manusia yang dapat memenuhi permintaan Allah atau dapat diterima oleh Allah. Namun manusia masih berpikir bahwa ia mampu dan dapat melakukan segalanya. Dalam situasi inilah Allah memberi manusia hukum taurat dan menuntut agar manusia menjadi kudus dan mutlak mengasihi Dia. Karena manusia tidak dapat memenuhi hukum apapun, pada akhirnya ketidakmampuan manusia terekspos.
Ketika Allah memberikuan hukum taurat dalam Perjanjian Lama, Dia tidak pernah mengharapkan manusia untuk melaksanakan hukum itu karena Ia sudah mengetahui bahwa manusia tidak akan dapat melakukannya. Satu-satunya tujuan hukun taurat itu adalah untuk membuktikan ketidakmampuan manusia. Semua hukum dalam Perjanjian Lama digunakan untuk menunjukkan ketidakmampuan manusia dan ketidakberdayaannya. Maka dari itu, ketika kita membaca perintah atau sebuah hukum, kita seharusnya bersujud di hadapan Allah dan berkata, “Oh Tuhan, aku tidak dapat melakukannya. Engkau mau agar aku mengasihi-Mu dengan seluruh hatiku, dengan seluruh jiwaku, dengan seluruh akal budiku, dan dengan seluruh kekuatanku, tetapi aku bahkan tak dapat memberi-Mu salah satunya, terlebih keempat “seluruh” itu.” Kesadaran yang demikianlah yang sesungguhnya Allah cari.
Lukas 10:27 mengatakan, “Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap kekuatanmu dan dengan segenap akal budimu, dan kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri.” Di dalam Alkitab tuntutan akan kasih memiliki dua sisi: keempat “segenap” terhadap Allah—segenap hati, segenap jiwa, segenap kekuatan, segenap akal budi—dan sebuah kata “seperti” terhadap manusia—kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri. Jika kita bertanya pada diri sendiri, apakah kita sudah memiliki salah satu “segenap” ini? Apakah kita mampu memenuhi “seperti” ini? Sesungguhnya kita bahkan tidak memiliki separuh pun dari semua “segenap” ini. Ketika kita gembira, kita mungkin mengasihi Tuhan sedikit, dan ketika sesama kita manusia membuat kita senang, kita mungkin mengasihinya sedikit. Kita bahkan tidak dapat mengasihi orang tua kita, menghindari sesama kita. Maka dari itu, Allah telah memberikan hukum taurat Perjanjian Lama supaya bisa menunjukkan ketidakmampuan, ketidakberdayaan, dan ketidaksanggupan manusia.
HUKUM PERJANJIAN BARU MEMBUKTIKAN BAHWA BAGI MANUSIA MUSTAHIL,
TETAPI BAGI ALLAH TIDAK ADA YANG MUSTAHIL
Ini adalah situasi dari perintah-perintah dalam Perjanjian Lama, tetapi bagaimana dengan perintah-perintah yang ada dalam Perjanjian Baru? Perintah-perintah dan hukum-hukum dalam Perjanjian Baru berbeda dari yang ada di dalam Perjanjian Lama. Perintah-perintah dan hukum-hukum dalam Perjanjian Baru adalah untuk membuktikan bahwa Allah mampu, untuk membuktikan bahwa bagi manusia mustahil, tetapi bagi Allah semuanya tidak ada yang mustahil. Tuhan berkata kepada murid-murid-Nya dalam Matius 19:24, “Lebih mudah seekor unta masuk melalui lubang jarum daripada seorang kaya masuk ke dalam Kerajaan Surga.” Sangat sulit bagi seekor unta untuk masuk melewati lubang jarum. Setelah murid-murid mendengarkan perkataan ini, mereka bertanya, “Jika demikian, siapakah yang dapat diselamatkan?” Inilah kesimpulan para murid itu, tetapi Tuhan Yesus berkata, “Bagi manusia hal ini tidak mungkin, tetapi bagi Allah segala sesuatu mungkin” (ay. 26).
Bagi manusia hal ini tidak mungkinmengacu kepada hukum taurat; bagi Allah segala sesuatu mungkin mengacu kepada kasih karunia. Tidaklah mungkin bagi manusia untuk memelihara kebun anggur, untuk menanam pokok-pokok anggur, dan berbuah bagi kenikmatan manusia, tetapi hal ini mungkin bagi Allah untuk menyediakan sebuah perjamuan kawin dengan sebuah suplai anggur yang kaya untuk dinikmati oleh manusia. Kita harus ingat bahwa perintah-perintah dari Perjanjian Lama adalah untuk menunjukkan kepada kita bahwa bagi manusia hal ini tidak mungkin, sementara perintah-perintah dari Perjanjian Baru menunjukkan pada kita bahwa bagi Allah segala sesuatunya adalah mungkin dan bahwa segala sesuatunya tergantung pada diri Allah sendiri.
Perjanjian Lama adalah masalah hukum taurat, dan tidak ada jalan bagi manusia untuk menggenapi hukum itu berdasarkan dirinya sendiri. Perjanjian Baru bukan masalah hukum; melainkan ia membuka jalan bagi manusia untuk menerima hayat Allah, yakni diri Kristus sendiri yang masuk ke dalam manusia dan menyuplai manusia untuk memenuhi permintaan Allah dalam manusia. Di dalam Perjanjian Baru, seberapapun Allah menuntut manusia, Ia juga akan banyak menyuplai manusia; namun, di dalam Perjanjian Lama, apapun yang telah Allah tuntut terhadap manusia, hanya membuktikan betapa tidak mampunya manusia. Di dalam masa Perjanjian Baru, ketika kita menjamah Allah dan bersekutu dengan Allah, semua yang mustahil menjadi tidak mustahil dan semua ketidakmampuan kita menjadi kemampuan kita.
Ada sebuah bagian di dalam Alkitab yang mencatat mujizat mengenai Tuhan Yesus memberi makan lima ribu orang (14:14-21). Pada hari itu, tidak termasuk anak-anak dan wanita, ada lima ribu orang. Murid-murid berkata kepada Tuhan Yesus, “Tempat ini terpencil dan hari mulai malam. Suruhlah orang banyak itu pergi supaya mereka dapat membeli makanan di desa-desa” (ay. 15). Tetapi Tuhan Yesus berkata, “Kamu harus memberi mereka makan” (ay. 16). Ini adalah perintah Tuhan yang tegas, tetapi murid-murid menjawab bahwa mereka tidak tahu di mana mereka dapat memperoleh makanan. Jika ceritanya berakhir di sini, maka perintah Tuhan akan menjadi hukum taurat—Perjanjian Lama. Namun, perkataan Tuhan di sini bukanlah Perjanjian Lama tetapi Perjanjian Baru, bukan hukum taurat melainkan kasih karunia. Untuk lebih spesifiknya, perkataan Tuhan di sini bukan sebuah perintah tetapi sebuah petunjuk, menunjukkan kepada manusia cara untuk menerima kasih karunia Allah yang lebih berlimpah. Ketika diri kita tidak memiliki apapun untuk dimakan, bagaimana kita dapat memberi makan orang lain? Kemudian Tuhan bertanya kepada mereka, “Berapa banyak roti yang ada padamu?” (Mark. 6:38). Mereka berkata, “Lima roti dan dua ikan.” Kemudian Tuhan mengambil kelima roti dan kedua ikan itu, memberkatinya, dan memberikannya kepada murid-murid, para murid memberikannya kepada orang banyak itu, dan mereka semua makan sampai kenyang. Ini membuktikan bahwa di balik tuntutan Tuhan Yesus terdapat sebuah suplai yang besar.
Setelah seseorang beroleh selamat, ia harus mengaku dosa-dosanya, menanggulangi dosa-dosa dan hati nuraninya, dan mempersembahkan dirinya kepada Tuhan. Tidak ada satu pun dari hal-hal ini yang dapat dilakukan berdasarkan diri kita sendiri. Namun, haruskah kita berhenti sampai di sini? Jika kita berhenti di sini, semua hal ini akan menjadi hukum taurat bagi kita. Kita tidak seharusnya berhenti sampai di sini; melainkan, kita harus membawa semua ketidakmampuan kita kepada Tuhan dan memberitahu Dia, “Oh Tuhan, Engkau ingin agar aku menanggulangi dosa-dosa dan hati nuraniku, tetapi aku tak bisa melakukannya.” Dengan datang kepada Tuhan dalam cara ini, kita akan melihat seberapa besar kekuatan Allah dan betapa berlimpahnya kasih karunia Kristus yang dapat bekerja di dalam kita.
PERINTAH-PERINTAH DARI PERJANJIAN BARU MEMBUKA JALAN BAGI KASIH KARUNIA ALLAH
Perjanjian Lama menyebabkan manusia melihat ketidakmampuannya, sementara Perjanjian Baru merupakan jalan Allah membuka kasih karunia-Nya bagi manusia. Ketika manusia menyadari bahwa dirinya miskin, ia akan terbuka untuk menerima kasih karunia Allah yang berlimpah. Singkatnya, setiap perintah dan tuntutan Allah membuktikan ketidakmampuan manusia dan ketidaksanggupannya. Ketika kita membawa semua perintah dan tuntutan kepada Allah, Ia akan dengan segera membuka jalan untuk menyalurkan suplai-Nya kepada kita terus menerus.
Ada seorang istri yang merasa bahwa ia harus mengaku dosa kepada suaminya. Baginya hal ini sangatlah sulit untuk dilakukan karena ia telah terbiasa menjadi seorang istri yang lebih dominan. Tekadnya sangat kuat dan ia sangat bangga. Biasanya, istrilah yang takut kepada suaminya, tetapi dalam kasus ini suaminyalah yang takut padanya. Namun, suatu hari, ia merasa bahwa ia bersalah dan bahwa ia seharusnya mengaku dosa kepada suaminya. Namun ketika ia mempertimbangkan untuk melakukan hal itu, ia menemui beberapa masalah. Pertama, ia tidak banyak memiliki kekuatan; kedua, ia takut kehilangan mukanya; dan ketiga, karena dahulu ia telah menekan suaminya, ia takut suaminya akan berbalik menekan dia. Pada titik itu ia merasa bahwa ia tidak dapat lagi menjadi seorang Kristen. Ia tahu bahwa menjadi seorang Kristen berarti bahwa ia harus diterangi oleh Tuhan. Ia juga tahu bahwa setelah ia diterangi oleh Tuhan, ia harus menanggulangi semua perasaan tidak damai dalam hati nuraninya; jika tidak, ia bahkan akan merasa lebih tidak damai lagi. Jadi ia memutuskan, “Aku hanya akan menjadi seorang Kristen yang biasa; aku akan menjadi apa adanya aku.” Jenis orang Kristen yang seperti ini adalah orang Kristen pada umumnya. Hati mereka sangat tulus, perkataan mereka benar, dan mereka merasa sedih di dalamnya.
Bagaimana kita dapat membantu orang yang seperti ini? Kita harus membantu mereka mengetahui bahwa semua perintah dalam Perjanjian Baru membuka jalan bagi kasih karunia Allah. Ketika kita menerima sebuah perintah dari Allah, kita harus membawanya kembali kepada-Nya dan berkata kepada-Nya, “Oh Tuhan, aku tidak dapat melakukannya; aku memberi Engkau perintah ini sama seperti para murid memberi Engkau lima roti dan dua ikan itu. aku selalu tak mampu. Aku memberi perintah-Mu dan diriku pada-Mu. Tuhan, lakukanlah apa yang menurut-Mu baik. Aku sama sekali tidak dapat melakukan apa-apa.” Mereka yang mempraktekkan datang kepada Tuhan dengan cara ini akan diberkati dan akan menerima suplai yang berlimpah dari Tuhan. Hal ini dapat dibandingkan dengan para murid yang membawa lima roti dan dua ikan kepada Tuhan. Segera setelah mereka melakukan hal itu, kekayaan itu ternyatakan.
Jangan berpikir bahwa mujizat lima roti dan dua ikan adalah satu-satunya mujizat. Setiap kali Allah memimpin kita untuk menaati perintah-Nya, di sana juga akan ada mujizat. Jika Tuhan tidak menunjukkan sebuah mujizat di dalam kita, kita tidak dapat melakukan apapun dan kita tidak akan memiliki apapun. Kita mungkin berada pada batas akhir kita, namun Tuhan menyebabkan orang mati bangkit. Setiap kali kita melakukan perintah Tuhan, Ia pasti menampilkan sebuah mujizat yang besar di dalam kita.
Kita harus percaya kepada Allah, karena Ia tidak akan pernah menyalahkan kita. Jika kita merasa bahwa kita telah menyalahi suami kita, kita harus mengaku dosa kepadanya. Jika kita tidak dapat melakukannya, kita harus memberikan diri kita kepada Tuhan. Maka Tuhan pasti akan menangani hasilnya. Kita tidak perlu gelisah atau meragukan apapun. Kasih karunia Tuhan sungguh ajaib! Kita tidak mampu melakukan banyak hal, tetapi setelah kita berdoa, mempersembahkan diri kita kepada Tuhan, dan meletakkan diri kita ke dalam tangan kemurahan Tuhan, maka akan ada kekuatan yang meluap di dalam kita, yang tidak dapat digambarkan memaksa kita untuk mengaku dosa. Kita mungkin tidak berkata sepatah kata pun, tetapi air mata kita akan menetes deras. Ketika hal ini terjadi, kita tidak akan merasa malu sama sekali. Kita hanya akan merasa bahwa kita dipenuhi denga Allah dan bahwa kita penuh dengan kekuatan. Mungkin karena alasan inilah orang yang terhadapnya kita mengaku dosa akan diselamatkan.
SELAMA KITA MAU MAKA ALLAH MAMPU
Semua perintah dalam Perjanjian Baru sama dengan hukum yang ada di Perjanjian Lama—semuanya adalah tuntutan Allah atas manusia yang meminta manusia untuk melakukan sesuatu. Namun, tuntutan Allah dalam Perjanjian Baru bukan dimaksudkan semata-mata untuk digenapi oleh manusia, tetapi dimaksudkan untuk digenapi oleh diri Allah sendiri. Bagaimana kita dapat meminta seorang pasien tuberkolosis untuk berjalan ke Kaohshiung? Jika ia ingin pergi ke Kaohshiung, kita harus mengijinkan ia naik pesawat atau setidaknya dengan kereta api. Kita tidak boleh mengijinkannya menghabiskan energinya. Hari ini banyak sekali anak-anak Tuhan yang tidak mengerti bahwa perintah-perintah Allah dalam Perjanjian Baru dan juga kasih karunia-Nya bukanlah masalah kemampuan kita, tetapi masalah kemauan kita. Jika kita mau, kita akan membawa semua ketidakmampuan dan ketidakberdayaan kita kepada Allah. Selama kita mau, maka Allah mampu. Ketika kita meletakkan diri kita ke dalam tangan Allah, Ia akan memiliki jalan untuk mempertunjukkan “tanda-tanda dan mujizat-mujizat” di dalam kita.
Jika kita menemukan adanya beban untuk mengaku dosa-dosa kita, menanggulangi dosa-dosa dan hati nurani kita, dan mempersembahkan diri kepada Tuhan, kita seharusnya tidak berkecil hati. Di dalam Perjanjian Baru, selama kita mau menaati tuntutan Allah dan meletakkan diri kita ke dalam tangan Allah, maka Allah akan memampukan kita di tengah-tengah ketidakmampuan kita. Maka kita akan dapat melihat hadirat Allah, kasih karunia Allah, dan kemuliaan Allah yang kekal.