DAPAT MENANGGUNG SEGALA PERKARA DI DALAM KRISTUS
Yohanes 15:5 mengatakan, “Akulah pokok anggur dan kamulah ranting-rantingnya. Barangsiapa tinggal di dalam Aku dan Aku di dalam dia, ia berbuah banyak, sebab di luar Aku kamu tidak dapat berbuat apa-apa.” Filipi 4:11-13 mengatakan, “Kukatakan ini bukanlah karena kekurangan, sebab aku telah belajar mencukupkan diri dalam segala keadaan. Aku tahu apa itu kekurangan dan aku tahu apa itu kelimpahan. Dalam segala hal dan dalam segala perkara tidak ada sesuatu yang merupaka rahasia bagiku. Baik dalam hal kenyang maupun dalam hal kelaparan, dalam hal kelimpahan maupun dalam hal kekurangan. Segala perkara dapat kutanggung di dalam Dia yang memberi kekuatan kepadaku.” Ayat 13 memiliki frase, “Segala perkara dapat kutanggung di dalam Dia yang memberi kekuatan kepadaku. Kita semua mengetahui bahwa Dia yang memberi kekuatan kepadaku mengacu kepada Kristus. Kita dapat melakukan segala sesuatu di dalam Dia yang memberi kekuatan kepada kita.
SEMUA ORANG YANG TELAH BEROLEH SELAMAT
MEMILIKI SEBUAH HATI YANG MAU
MENYENANGKAN ALLAH
Setiap orang yang telah beroleh selamat memiliki sebuah hati yang mau menyenangkan Allah. Di dalam beberapa orang, hati yang sedemikian sangat kuat tetapi di dalam beberapa orang lainnya sangat lemah. Namun demikian, entahkah hatinya kuat atau lemah, semua orang yang telah diselamatkan sesungguhnya memiliki hati yang demikian, kecuali ia tidak pernah berpikir mengenai Allah atau mencari Allah. Ketika seseorang mencari Allah, maka secara spontan ia akan memiliki sebuah hati yang ingin menyenangkan Allah. Hal ini dikarenakan di alam semesta ini Allah damba agar manusia memiliki sebuah hati yang mengasihi dan mencari Dia.
Semua orang yang mengenal Allah tahu bahwa Allah memiliki kasih karunia yang besar bagi manusia dan memiliki banyak pekerjaan di dalam manusia. Namun jika manusia tidak menginginkan hal ini, Allah tidak akan memiliki jalan untuk melakukan apapun. Maka dari itu, bila manusia memberikan hatinya kepada Allah, maka ia menyediakan jalan bagi-Nya untuk bekerja di dalam mereka. Jika seseorang tidak mau memberikan hatinya kepada Allah, maka Allah tidak akan memiliki jalan untuk memberinya kasih karunia dan bekerja di dalamnya. Hal ini dapat diilustrasikan dengan orang tua yang ingin melakukan sesuatu bagi anak-anaknya, namun anak-anak mereka membelakangi mereka dan berpaling dari mereka. Sebagai hasilnya, orang tuanya tidak mampu melakukan apapun. Sebuah hati yang mengasihi Tuhan sangat berharga bagi Tuhan dan itulah yang Tuhan mustikakan. Allah damba agar manusia mengasihi dan mencari Dia. Hal ini bukan berarti bahwa Allah ingin mendapatkan sesuatu yang baik dari manusia, melainkan Allah memiliki banyak hal baik bagi manusia, kasih karunia yang besar bagi manusia, dan banyak pekerjaan yang harus dilakukan di dalam manusia. Jika manusia tidak mengasihi Allah atau mendekat pada-Nya, Allah tidak akan memiliki jalan untuk melakukan apa yang menjadi kedambaan-Nya, jadi Allah selalu mendambakan agar manusia mengasihi-Nya dan mendekat pada-Nya.
Sama seperti yang dilakukan oleh orang tua, Allah terus menerus mendambakan agar anak-anak-Nya menjadi seperti Dia. Ketika ada sebuah hati yang berpaling kepada Tuhan, Ia sangat memustikakannya. Namun seringkali, karena kita tidak terlalu mendambakan Dia, Ia harus menggunakan jalan yang berliku-liku untuk memalingkan kita kepada-Nya. Setiap kali kita merasakan kasih Allah dan kemanisan kasih Allah di dalam kita, maka kasih kita kepada Tuhan secara spontan akan meluap, dan kita berdoa, “Oh Tuhan, aku mengasihi-Mu; hatiku ada di sini untuk mengasihi-Mu.” Kita merasa bahwa Allah begitu indah dan begitu berharga. Jadi kita berdoa kepada Allah, “Oh Tuhan, engaku adalah yang paling berharga; tidak ada yang lebih berharga dari pada Engkau. Meskipun ada begitu banyak hal yang indah, saat dibandingkan dengan-Mu, Engkaulah yang paling mulia. Oh Tuhan, aku tidak peduli apakah aku mampu mengasihi-Mu atau tidak; aku hanya mengasihi-Mu, dan aku akan mengasihi-Mu sampai selamanya.”
ALLAH MEMINTA MANUSIA UNTUK MENGASIHI-NYA DENGAN HATINYA, TETAPI
TIDAK DENGAN KEKUATANNYA SENDIRI
Fakta bahwa kita dapat berdoa demikian membuktikan bahwa Allah telah bekerja di dalam kita. Kadangkala Allah menggunakan lingkungan yang di luar untuk memaksa kita mengasihi Dia; inilah pekerjaan Allah. Kadangkala ia mendorong kita dengan kasih-Nya; ini juga merupakan pekerjaan Allah. Allah melakukan hal-hal ini karena Ia ingin agar kita mengasihi Dia. Allah tidak dapat bekerja terlalu banyak di dalam seseorang yang tidak mengijinkan Allah untuk bekerja di dalamnya dan orang yang tidak merasa bahwa Allah begitu dapat dikasihi. Ketika Allah bekerja di dalam seseorang, pertama-tama Ia akan membiarkan orang itu melihat bahwa Allah begitu indah. Sebagai hasilnya, hati orang ini akan diabngkitkan. Kemudian orang ini akan mengasihi Allah. Ini merupakan sesuatu yang sangat berharga.
Namun, ketika seseorang ingin bangkit mengasihi Allah, muncullah sebuah masalah yang besar. Setiap orang, tanpa terkecuali, memiliki masalah yang sama ini. Pada saat seseorang bangkit mengasihi Allah, sebuag masalah yang besar akan langsung muncul—orang ini akan mencoba melakukan yang terbaik untuk menyenangkan Allah. Kedambaan untuk mengasihi Allah dan untuk menyenangkan Allah adalah tepat dan berharga dan dengan mutlak dapat diterima Allah. Namun orang ini akan mengasihi Allah dengan kekuatannya sendiri dan dalam caranya sendiri. Inilah yang tidak menyenangkan bagi Allah. Allah tidak menginginkan sesuatu apapun yang berasal dari kekuatan diri kita sendiri dan menolak segala sesuatu yang berasal dari kekuatan diri kita sendiri.
Sebagai contoh, saya mungkin meminta seorang saudara untuk melakukan sebuah hal tertentu bersama saya, tetapi saya tidak ingin ia menggunakan usahanya sendiri karena hal itu akan menjadi sebuah masalah. Kedengarannya sangat aneh untuk mengatakan bahwa kita meminta orang membantu kita tetapi kita tidak ingin mereka menggunakan kekuatannya sendiri. Jika seseorang meminta Anda untuk membantunya melakukan sesuatu tetapi ia tidak menginginkan Anda memakai kekuatan Anda, hal ini akan sangat sulit untuk Anda lakukan. Hal itu akan menjadi masalah bagi Anda jika orang itu menginginkan hati Anda, tetapi ia tidak menginginkan hikmat atau cara Anda. Normalnya, jika seseorang meminta saya untuk membantunya, saya akan membantu dia dengan cara saya sendiri, dengan hikmat dan kekuatan saya sendiri. Tetapi jika ia tidak menginginkan kekuatan, hikmat, atau cara saya, mengapa ia ingin saya membantunya? Lebih baik saya tidak membantunya. Untuk menggunakan kekuatan diri kita sendiri merupakan sebuah prinsip manusia. Namun, ini bukanlah cara Tuhan. Ia tidak menginginkan manusia membawa kekuatannya, cara, atau hikmatnya sendiri. Allah hanya menginginkan hati manusia.
MENGAKHIRI KEKUATAN DAN METODE-METODE KITA DAN MENINGGALKAN SEGALA SESUATU BAGI-NYA
Sekitar lima belas tahun yang lalu, saya berjumpa dengan seorang misionaris Barat yang membagikan kesaksiannya kepada saya. Ia berkata bahwa meskipun ia telah diselamatkan selagi ia muda, ia tidak mengenal Allah dengan cukup. Meskipun ia datang ke Cina untuk melakukan pekerjaan misionari, ia masih sangat kurang mengenal Allah. Ia menggunakan sebuah ilustrasi mengenai mengendarai sebuah mobil untuk menjelaskan hal ini. Ia berkata bahwa karena ia bukanlah supir yang handal, ia meminta Tuhan membantunya. Tuhan dianggap sebagai penasihatnya. Setiap kali ia bingung, ia meminta nasihat Tuhan. Ketika ia tidak memiliki kekuatan, ia meminta Tuhan untuk membantunya. Inilah keadaannya di masa yang lalu. Tetapi tetap saja ia tidak berpikir bahwa Tuhan telah sangat membantunya. Tampaknya, semakin ia meminta arahan Tuhan, semakin Tuhan menolak untuk memberi arahan kepadanya. Kemudian ia menjadi jelas bahwa meskipun kasihnya bagi Tuhan adalah benar, ia tidak seharusnya menggunakan kekuatan atau metode-metodenya sendiri; ia harus menghentikan semua usaha dan metodenya sendiri. Ia memang tahu bahwa memiliki hati bagi Tuhan adalah benar dan tanpa hati yang demikian Tuhan tidak akan memiliki jalan untuk memberikan kasih karunia dan bekerja di dalamnya. Namun, ia menyadari bahwa ia harus mengenyampingkan metode serta kekuatannya sendiri. Ia berkata bahwa sekarang ia akan memberikan “seluruh mobilnya” kepada Tuhan, termasuk jok mobil dan ban mobilnya. Ketika Tuhan mengendarai dengan baik, ia kan memuji Tuhan; ketika Tuhan mengendarainya dengan cepat, ia akan berterima kasih kepada Tuhan. Ia menyerahkan seluruh hidupnya ke dalam tangan Tuhan. Ia hanya akan duduk di sebelah Tuhan dan menikmatinya. Semua masalah akan ditangani oleh Tuhan, dan semua kekuatan akan datang dari Tuhan, sementara ia hanya akan melihat-lihat pemandangan dan menikmatinya.
Meskipun ini merupakan sebuah ilustrasi yang sederhana, hal itu menunjukkan pada kita masalah yang dimiliki oleh kebanyakan orang. Baik kita tidak mengasihi Tuhan ataukah kita mengasihi Tuhan, kita menggunakan kekuatan dan metode kita sendiri untuk menyenangkan Dia. Sebagai hasilnya kita menyimpang dari Allah. Kita ingin mengasihi Allah dan menyenangkan Allah dengan kekuatan kita sendiri, menurut pandangan kita sendiri, dan dengan cara kita sendiri; namun, Allah tidak menginginkan semua itu. Sebagai hasilnya, pada akhirnya kita akan menyimpang dari Allah. Maka dari itu, seringkali ketika kita lemah, kita meminta Allah untuk menguatkan kita. Seringkali ketika kita gagal, kita meminta Tuhan untuk membuat kita menang dan membantu kita agar berdiri teguh. Doa yang semacam ini jarang sekali dijawab. Tuhan sulit sekali menjawab doa-doa untuk menguatkan atau membuat kita menang. Maka, banyak orang mungkin meragukan Allah dan bertanya, “Mengapa Allah tidak mendengar doaku?” Masalahnya adalah bahwa jika Anda yang mengendarai mobilnya, dan Anda meminta Tuhan yang menjadi Penasihat atau Penolong Anda, Tuhan tidak akan pernah memberi nasihat atau pertolongan apapun kepada Anda. Ada sebuah perkataan yang sungguh benar: jika kita tidak mengijinkan Tuhan untuk mengerjakan seluruhnya, Tuhan tidak akan bekerja. Jika kita menggunakan cara kita sendiri untuk menyenangkan Tuhan. Kita akan disimpangkan dari Allah dan mungkin juga akan menjadi kecewa. Banyak hal yang menyimpangkan dan masalah yang muncul dari hal ini, tetapi ini juga adalah saatnya kita menerima kasih karunia. Untuk alasan inilah, Allah selalu mengatur situasi tertentu supaya melemahkan kita dan membuat kita merasa bahwa kita tidak dapat menanggung atau mengatasi situasi itu.
ALLAH MEMBANGKITAKAN SITUASI
UNTUK MEREMUKKAN KITA
Jika kita adalah orang-orang yang telah mengasihi Allah, maka kita mungkin meminta Dia untuk membantu kita agar kita lebih mengasihi-Nya untuk menyenangkan Dia. Sebaliknya, Allah bukannya tidak akan membantu kita, tetapi ia akan memperburuk situasi kita untuk menekan kita dan membuat kita tidak dapat melakukan apapun. Pada saat seperti itu, banyak orang akan menjadi heran bahwa mengapa sebelumnya Allah begitu indah, mereka tidak memiliki masalah apapun; namun, sekarang mereka mengasihi Tuhan, situasi mereka menjadi lebih sulit. Inilah sesungguhnya yang sedang Allah kerjakan. Hal ini dikarenakan kita memiliki hati yang mengasihi Allah sehingga Ia menciptakan situasi untuk meremukkan usaha dan semua metode kita. Allah tidak ingin apapun dari usaha atau cara-cara kita; Ia hanya menginginkan hati kita.
Inilah bagian yang tersulit dari pekerjaan Allah di dalam manusia. Seringkali, ketika kita ada hati, maka ada pula masalah. Keduanya tampaknya terpisah. Namun Allah hanya menginginkan hati manusia, bukan usaha atau cara-cara manusia. Masalah ini tampaknya serupa dengan seorang dokter yang sedang mengoperasi seorang pasien yang memilki sebuah tumor. Tumor itu, yang berhubungan dengan tubuh si pasien, harus disingkirkan, tetapi tubuhnya harus dipertahankan. Ketika kita tidak mengasihi Allah, situasi yang buruk juga tidak akan muncul. Namun, sekali kita mengasihi Allah, maka kekuatan kita muncul. Ia menginjinkan situasi terjadi atas kita. Makanya, banyak orang yang menjadi bingung, namun Allah kita tidak pernah bingung. Ketika Allah bekerja di dalam kita, Ia selalu memberi kita perasaan yang batini melalui Ia memerintahkan kita untuk menyenangkan diri-Nya. Namun, meskipun Allah memberi kita perasaan dan perintah yang demikian untuk menyenangkan diri-Nya, Ia tidak ingin kita menyenangkan diri-Nya dengan diri kita sendiri. Ia ingin Tuhan Yesus menjadi kekuatan kita untuk menyenangkan diri-Nya. Maka dari itu, Allah memperburuk situasi kita untuk meremukkan kita agar kita tidak dapat bersandar pada diri kita sendiri.
Seorang saudari Kristen, yang terbiasa tidak tunduk kepada suaminya, suatu hari membaca Alkitab bahwa istri harus menghormati dan tunduk kepada suaminya. Sebagai responnya, ia memiliki sebuah hati yang menghormati dan tunduk kepada suaminya, jadi ia membuat sebuah keputusan di hadapan Allah, dengan mengatakan, “Oh Tuhan, mulai saat ini berikan aku kekuatan agar aku dapat menghormati suamiku dan tunduk padanya.” Di satu pihak, doanya menunjukkan bahwa ia bermaksud utnuk menggunakan usahanya sendiri dalam mematuhi suaminya dan oleh karena itu ia menyenangkan Allah, jadi ia berdoa dan meminta pertolongan Allah. Apakah yang dilakukan Allah? Delapan dari sepuluh kali, Allah membuat amarah suaminya lebih besar dan lebih buruk dari sebelumnya. Setiap hari ia berdoa, “Oh Tuhan, beri aku kekuatan untuk mematuhi suamiku.” Allah bukan hanya memberinya kekuatan, tetapi Allah juga mengijinkan amarah suaminya menjadi lebih buruk. Hal ini menyebabkan dia menjadi kecewa, jadi ia berdoa lagi di hadapan Tuhan, “Oh Tuhan, dulu ketika aku tidak menuruti Firman-Mu, suamiku seperti seekor domba. Sekarang ketika aku ingin menyenangkan Engkau, ia malah jadi lebih buruk. Aku heran mengapa bisa demikian.” Akhirnya, ia tidak sanggup lagi berdoa. Apakah yang sedang terjadi? Kita harus ingat bahwa seorang istri, untuk dapat btunduk kepada suaminya adalah tergantung pada Allah. Sebagai tambahan, ini juga merupakan pekerjaan Allah ketika para suami kehilangan kesabarannya. Allah melakukan hal-hal tersebut hanya karena Ia ingin agar kekuatan kita diremukkan.
Saya telah betemu dengan seorang saudari yang setelah beroleh selamat, ia menjaga suaminya dengan baik di rumah. Meskipun secara luaran ia tidak menunjukkan kebanggaan di wajahnya, ia telah menyatakan sebuah cita rasa bangga diri dalam pembicaraannya. Suatu hari ia menemui sebuah masalah. Ia ingin mengasihi Tuhan, jadi ia berdoa, “Oh Tuhan, mulai saat ini aku ingin menyenangkan Engkau melalui menangani suami dan anak-anakku.” Setelah ia berdoa demikian, situasi rumah tangganya menjadi kacau, amarah suaminya bahkan menjadi buruk, dan anak-anaknya menjadi nakal. Ia berdoa bahwa ia akan menjadi seorang istri yang tunduk kepada suaminya dan seorang ibu yang baik bagi anak-anaknya supaya menyenangkan Allah, tetapi situasi rumah tangganya menjadi lebih sulit. Ia hampir-hampir saja tidak sanggup menanggungnya, dan ia merasa bahwa ia sama sekali tidak terlihat baik di rumah. Jadi ia datang menemui saya dan berkata, “Saudara, apakah yang sedang terjadi? Dulunya ketika saya adalah seorang saudari yang biasa-biasa saja, situasi rumah tangga saya tidaklah begitu buruk; sedikitnya saya tampak seperti seorang istri yang baik di hadapan suami saya dan seorang ibu yang baik di hadapan anak-anak saya. Tetapi sejak hari itu saya memutuskan untuk mengasihi Tuhan dan menyenangkan Tuhan melalui menangani suami dan anak-anak saya, mereka menjadi lebih sulit untuk ditangani. Mereka tidak dapat menerimanya, dan demikian pula aku.” Hal ini bukan masalah saudari itu semata tetapi masalah kebanyakan dari kita.
Jika kita mengasihi Allah, itu adalah perbuatan-Nya, dan jika kita memiliki situasi yang kacau di dalam keluarga kita, itu juga adalah perbuatan-Nya. Semua hal itu muncul bersamaan dengan satu tujuan, yakni membawa kekuatan kita untuk diakhiri. Entahkah kita rendah hati atau baik, kerendahan hati kita dan kebaikan kita, keduanya berasal dari kekuatan kita. Jika kita tidak diremukkan, meskipun jika kita baik, apapun yang kita kerjakan tidak akan menghasilkan apa-apa, kecuali pekerjaan kita sendiri, bukan Tuhan yang melakukannya di dalam kita dan melalui kita, atau tindakan kita melalui Allah. Hal-hal yang kita lakukan mungkin benar, tetapi jika orangnya kita salah, maka kekuatan kita juga salah. Maka dari itu, Allah membangkitkan situasi untuk meremukkan kita dan menghancurkan kekuatan kita. Jika kita mencoba untuk menyenangkan Allah tidak menurut cara-Nya, Ia akan membangkitkan situasi untuk menghancurkan kekuatan kita dan merusak jalan kita, sehingga yang tersisa hanyalah sebuah hati untuk menyenangkan Dia, bukan usaha atau cara kita sendiri. Ketika kita dibawa sampai kepada titik ini, yang dapat kita lakukan hanyalah bersujud di hadapan Allah dan berkata, “Oh Tuhan, mustahillah aku dapat menyenangkan Engkau dengan kekuatanku sendiri dan menurut caraku sendiri. Oh Tuhan, satu-satunya yang kumiliki hanyalah sebuah hati yang mengasihi-Mu dan mendambakan-Mu.”
DILEPASKAN DARI DIRI DAN HIDUP DI DALAM KRISTUS
Pada saat itu, kita akan hidup di hadapan Tuhan, dan pada saat itu, Allah akan menunjukkan kepada kita betapa mulianya fakta bahwa di luar Kristus kita tidak dapat berbuat apa-apa. Di luar Tuhan, apapun yang kita lakukan tidak dapat menyenangkan Allah. Hanya ketika Tuhan menjadi kekuatan kitalah baru kita dapat menyenangkan Allah. Dalam Yohanes 15:5 Tuhan berkata, “Sebab di luar Aku kamu tidak dapat berbuat apa-apa.” Di satu pihak, Alkitab menunjukkan kepada kita bahwa kita dapat menanggung segala sesuatu di dalam Dia yang memberi kekuatan kepada kita (Flp. 4:13), di pihak lain, dikatakan bahwa di luar Kristus kita tidak dapat berbuat apa-apa. Ini berarti bahwa bukan hanya kita perlu dilepaskan dari diri kita, tetapi kita juga perlu berada di dalam Kristus. Dengan kata lain, Allah meremukkan kita agar kita tidak dapat bersandar pada diri kita dan agar kita dilepaskan dari diri; ia juga menunjukkan pada kita bahwa Kristus adalah kekuatan dan tenaga kita.
Melalui proses inilah kekuatan kita dihancurkan, dan juga melalui pengalaman yang demikianlah Allah menunjukkan kepada kita bahwa Kristuslah kekuatan kita dan Ia hidup dan berkuasa di dalam kita. Untuk alasan inilah kita dapat bersaksi bahwa “bukan lagi aku yang hidup…melainkan…Kristus” (Gal. 2:20). Pada saat itu, kita akan memuji dan berterima kasih kepada Tuhan dari dalam hati kita, dan kita akan memberitahu Tuhan, “Tuhan, Engkaulah hayatku, dan Engkaulah kekuatanku.” Kita akan mengenyampingkan diri kita dan berkata, “Tuhan, kami memiliki hayat-Mu dan kekuatan-Mu di dalam kami. Kami tidak mau menggunakan kekuatan atau metode kami sendiri lagi.” Inilah penghidupan seorang Kristen yang kudus, dan inilah penghidupan seorang Kristen yang menang. Kita tidak perlu memutuskan untuk tunduk, karena ada suatu kekuatan yang memampukan kita untuk tunduk. Tidak perlu membuat sebuah keputusan, karena kekuatan itu, yang adalah diri Tuhan sendiri, muncul dari dalam diri kita. Pada titik ini, kita akan menyadari bahwa segala sesuatu yang kita lakukan bukan saja baik tetapi adalah diri Tuhan sendiri.
DILUAR KRISTUS KITA TIDAK DAPAT BERBUAT APA-APA
Kekuatan Allah ialah Kristus, tetapi dalam pengalaman kita, diperlukan beberapa langkah bagi Kristus untuk mengekspresikan kekuatan-Nya dari dalam diri kita. Langkah pertama adalah Ia menarik hati kita untuk mengasihi Dia. Langkah kedua ialah kita mencoba mengasihi-Nya bersandarkan diri sendiri, tetapi kita gagal dan kecewa. Lalu pada saat itulah Allah menunjukkan kepada kita bahwa bukan dengan kekuatan kita sendiri melainkan dengan kekuatan Kristus; bukan kita lagi melainkan Kristus; bukan cara kita lagi melainkan dengan cara Kristus; bukan dengan hikmat kita lagi melainkan dengan hikmat Kristus. Allah menunjukkan kepada kita bahwa kita harus mengenyampingkan usaha dan metode kita. Kemudian, meskipun kita tidak melakukannya dengan sengaja, kita mengenyampingkan diri kita, karena kita memiliki begitu banyak kegagalan yang telah menyebabkan kita kehilangan rasa percaya diri. Sementara orang lain mampu menjadi pemenang, tetapi kita tidak mampu; kita terus menerus gagal. Kita menyadari bahwa orang seperti kita tidak akan sanggup menyenangkan Allah. Pada titik inilah kita diremukkan; kita diremukkan seluruhnya. Kita melihat bahwa bukan lagi kita melainkan Kristus. Hanya ketika kita berada di dalam Kristus kita mampu melakukan segala sesuatu. Dengan cara ini Tuhan Yesus secara spontan menjadi kekuatan di dalam kita. Semua kekudusan dan kemenangan yang akan kita miliki muncul melalui proses peremukkan ini.
Ketika seseorang menjadi bergairah bagi Tuhan dan ingin melakukan banyak hal bagi Tuhan, saya selalu memilki dua perasaan yang berbeda. Di satu pihak, saya merasa bahwa hal itu selalu baik bagi seseorang bila ia memiliki kemauan untuk melayani Tuhan; di pihak lain, saya memiliki perasaan bahwa kegairahannya tidaklah terlalu berguna dan bahwa ia ditakdirkan untuk gagal. Bukan hanya demikian, kegagalan demi kegagalan adalah baik bagi seorang Kristen.
Ada seorang kaum saleh yang situasi dan doanya baik sebelum ia menikah. Tetapi setelah ia menikah, ia tidak mampu membaca Alkitab atau bersekutu dengan Tuhan dengan tepat karena ia memiliki masalah di hadapan Tuhan. Ia tidak mengerti mengapa ada masalah seperti ini. Sebelum ia menikah, ia tidak memiliki masalah apapun dengan Tuhan; sekali ia menikah, bukan hanya ia tidak dapat berdoa, tetapi di dalam hatinya ia juga merasa tertekan. Jika ia tidak pergi ke sidang-sidang, batinnya akan merasa tertekan. Ia tahu bahwa ia harus mengasihi Tuhan, tetapi ia tidak mampu melakukannya. Ia benar-benar tertekan sampai pada puncaknya. Ketika saya melihat situasi itu, saya sangat senang. Ia bertanya kepada saya apa yang seharusnya ia lakukan, dan saya memberitahu dia bahwa ia tidak perlu melakukan apapun atau kuatir mengenai apapun. Hal itu tidak lain adalah Allah sedang meremukkan dia.
Kita seringkali berpikir bahwa kita mampu menyenangkan Tuhan dengan kekuatan diri kita sendiri. Namun, usaha manusia ditambah metode manusia semata-mata mengekspresikan diri. Ketika kita mencoba untuk menyenangkan Allah dengan cara ini, itu adalah kekuatan diri kita, bukan dengan hayat Allah. Itu adalah cara kita sendiri, bukan terang yang berasal dari Kristus. Kitalah yang terekspresi bukan Kristus. Kitalah yang berusaha untuk menyenangkan Allah, bukan Kristus yang menyenangkan Allah. Dengan cara ini, Kristus sendiri tidak terekspresikan, dan tidak ada jalan bagi Kristus untuk diekspresikan sebagai hayat dan kekuatan kita. Kita harus mengetahui bahwa penghidupan orang Kristen bukan melakukan kebaikan tetapi mengekspresikan Kristus. Tujuan Allah adalah menggarapkan Kristus ke dalam kita agar ia dapat diekspresikan dari dalam kita.
Setiap kali kita membuat keputusan untuk menyenangkan Allah, kita harus menyadari bahwa yang selalu mengikutinya adalah pendisiplinan, kegagalan dan kehancuran. Kehancuran ini bukan mengacu kepada fisik kita tetapi sesuatu yang bersifat etika. Kita tidak akan sanggu menahan kesulitan itu. Situasi akan dibangkitkan oleh Allah untuk menekan kita, meremukkan kita, membuat kita kecewa terhadap diri sendiri dan menilai diri sendiri tidak ada apa-apanya. Pada saat itulah, kita akan melihat bahwa kita tidak dapat menyenangkan Allah dengan kekuatan diri kita sendiri. Apa yang menyenangkan Allah adalah apa yang Kristus kerjakan melalui kita; apa yang menyenangkan Allah adalah ketika Kristus mendapatkan tempat di dalam kita. Namun, agar Kristus mendapatkan tempat di dalam kita dan diekspresikan melalui kita, kita harus mengijinkan kekuatan, metode, dan hikmat kita untuk diremukkan oelh Allah.
BUKAN LAGI AKU MELAINKAN KRISTUS
Sebagian besar orang berpikir bahwa masalah manusia adalah dosa dan bahwa dosa adalah musuh Allah. Dalam kenyataannya, masalah Allah bukanlah dosa tetapi kekuatannya sendiri dan caranya sendiri. Hal itu dikarenakan manusia memiliki terlalu banyak kekuatan, terlalu banyak cara, dan terlalu banyak hikmat sehingga Kristus tidak memiliki dasar apapun di dalam dia. Supaya Kristus mendapatkan dasar di dalam manusia, Allah harus melakukan satu hal. Apakah satu hal itu? Ia harus meremukkan kekuatan, metode, hikmat manusia dan ketetapan hatinya harus dihancurkan oleh Allah.
Pengalaman kita memberitahu kita bahwa semakin kita bergumul, semakin ada peremukkan di sana. Semakin kita berdoa meminta Allah untuk memenuhi keinginan kita untuk menyenangkan Dia, semakin Allah akan meremukkan kita. Allah akan secara khusus menciptakan situasi agar kita tidak mampu lagi berdiri; pada akhirnya, seluruh kekuatan dan metode kita akan menjadi hancur karena kita tidak dapat menanggung situasi itu. baik kekuatan maupun metode kita akan hancur. Kemudian kita akan berkata, “Oh Tuhan, aku tidak mampu melakukannya. Aku tidak memiliki apapun selain hati yang mengasihi-Mu.” Pada saat itulah Allah akan menunjukkan kepada kita bahwa Tuhan Yesus sedang hidup di dalam kita menjadi hayat dan kekuatan kita. Lalu kita akan bersujud di hadapan-Nya dan berkata, “Oh Tuhan, bukan lagi aku melainkan Kristus; bukan lagi metodeku melainkan pimpinan-Mu; bukan lagi ketetapan hatiku tetapi sorotan terang-Mu.” Sebagai hasilnya kita akan mampu menyenangkan Allah, dan Kristus akan mampu mengisi kita di dalam dan terekspresi di luar. Siapapun yang mencapai taraf ini harus melalui banyak penderitaan dan peremukkan. Diberkatilah orang yang dapat melewati semua penderitaan dan peremukkan ini. Dalam cara ini kita akan tahu bagaimana Kristus dapat menjadi kekuatan di dalam kita. Di luar Kristus kita tidak dapat berbuat apa-apa, tetapi kita mampu melakukan segala sesuatu di dalam Dia.