← Daftar isi Hati yang Murni · bab 6/9

HIDUP MENURUT HATI NURANI DAN HIDUP DI HADAPAN ALLAH MANUSIA YANG JATUH TIDAK DIPERINTAH OLEH HATI NURANINYA

Satu Timotius 1:5 mengatakan, “Tujuan nasihat itu ialah kasih yang timbul dari hati yang suci, dari hati nurani yang murni dan dari iman yan tulus ikhlas.” Ayat 18b-19 selanjutnya mengatakan, “Dengan iman dan hati nurani yang murni, beberapa orang telah menolak hati nuraninya yang murni itu, dan karena itu kandaslah iman mereka.” Dua Timotius 1:3a juga mengatakan, “Aku mengucap syukur kepada Allah yang kulayani dengan hati nurani yang murni.” Efesus 4:19-20 mengatakan, “Perasaan mereka telah tumpul, sehingga mereka menyerahkan diri kepada hawa nafsu dan dengan serakah mengerjakan segala macam perbuatan cemar. Tetapi bukan dengan demikian kamu belajar mengenal Kristus.” Semua ayat ini menunjukkan kepada kita pentingnya hati nurani. Setelah kejatuhan manusia, Allah telah menetapkan bahwa manusia harus diperintah oleh hati nuraninya. Maka, jika seorang manusia berada dalam keadaan yang normal, ia akan memelihara perasaan dalam hati nuraninya. Namun, manusia yang jatuh tidak memperhatikan perasaan hati nuraninya, juga tidak diatur oleh hati nuraninya; melainkan, ia memberikan dirinya kepada keserakahan.

ANUGERAH ALLAH MENGUATKAN MANUSIA

Setelah seseorang beroleh selamat, ia memiliki hayat Allah si dalamnya. Namun, Jika ia ingin lebih maju di dalam hayat Kristus, ia harus menanggulangi hati nuraninya dengan tuntas. Jika hati nurani seorang Kristen memiliki beberapa pelanggaran, ia tidak akan dapat maju dalam hal apapun. Pembicaraan yang seperti ini terlalu berat bagi beberapa orang. Mereka dapat memikirkan keempat hal berikut—pengakuan dosa yang tuntas di hadapan Allah, penanggulangan dosa yang teliti di hadapan manusia, penanggulangan hati nurani yang lengkap, dan persembahan diri yang mutlak kepada Allah—sebagai sesuatu yang sangat sulit dan tampaknya bertentangan dengan perkataan anugerah. Di satu pihak, kita diberitahu bahwa segala sesuatu tergantung pada anugerah Allah dan tindakan Allah, dan bahwa kita tidak diminta untuk melakukan apapun; di pihak lain, kita diberitahu bahwa kita harus mengaku dosa dengan tuntas, menanggulangi dosa-dosa, dan mempersembahkan diri kepada Tuhan. Tampaknya bahwa kedua aspek ini bertentangan satu dengan yang lain, yang menyebabkan manusia tidak mengetahui apa yang harus ia lakukan. Perkataan anugerah menyenangkan telinga kita, penuh dengan suplaian, dan menyejukkan, sedangkan perkataan yang menanggulangi tampaknya terlalu berat, hampir-hampir kejam, terlalu berat bagi manusia untuk menerimanya, dan berada di luar kemampuan manusia untuk melakukannya. Maka, manusia menghadapi sebuah dilema yang demikian.

Dalam kenyataannya, anugerah Allah tidak melemahkan manusia tetapi menguatkannya. Fakta bahwa seorang Kristen yang tidak mengaku dosanya dengan tuntas di hadapan Allah atau tidak menanggulangi dosa-dosanya dengan sempurna di hadapan manusia membuktikan bahwa ia kekurangan anugerah. Sebuah mobil tidak dapat distarter mungkin dikarenakan rusak atau kekurangan bensin. Ketika mobil berada dalam keadaan yang baik dan memiliki bensin yang cukup, tentu mobil tersebut dapat berjalan dengan baik. Sama pula halnya, jika seorang Kristen tidak memiliki pengakuan dosa yang tuntas di hadapan Allah, atau tidak menanggulangi dosanya di hadapan manusia, hal ini membuktikan bahwa ia kekurangan anugerah. Jika seorang Kristen tidak menanggulangi hati nuraninya dengan tepat atau tidak mempersembahkan dirinya kepada Allah dengan mutlak, ini juga membuktikan bahwa ia kekurangan anugerah Allah. Tuntutan Allah dan anugerah Allah bukanlah bertentangan antara satu dengan yang lainnya; melainkan, bersifat saling melengkapi satu dengan yang lainnya.

MENERIMA ANUGERAH ALLAH DAN

MEMENUHI TUNTUTAN ALLAH

Ada banyak hukum di dalam alam dunia yang memiliki dua sisi, yang tampaknya bertentangan. Mereka yang telah mempelajari ilmu fisika seharusnya mengetahui bahwa di dalam alam semesta ini ada dua kekuatan yang berbeda: kekuatan sentripetal dan kekuatan sentrifugal. Alasan mengapa banyak benda tidak jtuh ke tanah adalah karena kekuatan sentripetal dan kekuatan sentrifugal berfungsi secara bersama-samacontoh lainnya adalah sebuah lampu. Sebuah lampu memerlukan dua kabel listrik agar ia dapat memancarkan sinar; bila hanya ada satu kabel saja tidak akan bekerja. Contoh lain ialah bahwa di dalam alam semesta ini bukan hanya ada air hujan tetapi juga ada sinar matahari. Air hujan menyuplai, sedangkan sinar matahari menghabiskannya. Hanya ketika air hujan dan sinar matahari bekerja sama maka semua hal akan bertumbuh. Jika tanaman hanya menerima sinar matahari dari awal hingga akhir tahun, namun ia tidak menerima siraman hujan, maka tidak ada jalan bagi tanaman itu untuk bertumbuh. Di pihak lain, jika hanya ada air hujan tanpa adanya sinar matahari, tanaman juga tidak akan dapat bertumbuh. Lebih jauh lagi, kita juga mengetahui bahwa ada siang ada pula malam, agar segala sesuatu dapat bekerja dan beristirahat dengan urutan yang sempurna. Sama halnya, pertumbuhan seseorang tergantung pada suplai juga pembakarannya. Semua dokter menganjuri orang untuk makan dan berolah raga. Makan adalah untuk memperoleh suplai, sedangkan olah raga adalah untuk pembakarannya. Penghidupan yang rohani juga mengikuti prinsip yang sama.

Jika seorang Kristen hanya menerima anugerah dan kasih Allah tanpa memenuhi tuntutan Allah, pasti ia tidak akan bertumbuh dengan baik. Semakin seorang Kristen menerima anugerah Allah dan memenuhi tuntutan Allah, maka ia akan bertumbuh lebih cepat dan lebih baik. Seorang Kristen yang tepat seharusnya adalah seseorang yang pada satu pihak menerima anugerah dan kasih Allah, dan di pihak lain, dengan ketat dan dengan mutlak memenuhi tuntutan Allah. Ketika Allah memintanya untuk menanggulangi dosa-dosanya, seorang Kristen yang tepat akan dengan tuntas menanggulangi dosa-dosanya. Ketika Allah memintanya untuk mengaku dosa-dosanya, ia akan mangaku dosanya tanpa alasan apapun. Ketika Allah memintanya untuk mempersembahkan dirinya, ia akan mempersembahkan diri seluruhnya kepada Allah. Ketika Allah memintanya untuk menanggulangi hati nuraninya, ia akan dengan tuntas menanggulangi hati nuraninya. Seorang Kristen yang tepat tidak akan sembrono juga tidak akan melakukan hal-hal dengan cara yang setengah-setengah; melainkan, ia akan dengan tuntas menanggulangi hati nuraninya. Semua orang yang telah berpengalaman dapat bersaksi bahwa ketika seseorang telah menerima anugerah di hadapan Allah, ia pasti akan mengaku dan menanggulangi dosa-dosanya, mempersembahkan diri kepada Allah, dan menanggulangi hati nuraninya.

Seseorang yang mengaku dan menanggulangi dosa-dosanya, mempersembahkan diri kepada Allah, serta menanggulangi hati nuraninya pasti akan menerima anugerah yang lebih banyak lagi. Jika latihan kita cukup atas perkara ini, kita tentu akan suka makan dan akan makan dengan baik. Sama halnya, semakin kita dengan ketat memenuhi tuntutan Allah, semakin kuat anugerah-Nya di dalam kita. Tampaknya ada dua pertentangan antara yang satu dengan yang lain, tetapi dalam faktanya mereka saling melengkapi. Tanpa Anugerah Allah kita tidak ada jalan untuk memenuhi semua tuntutan ini, dan jika kita tidak memenuhi tuntutan itu, kita tidak akan menerima anugerah yang lebih banyak lagi. Saya harap kita semua tidak salah paham atau salah mengartikan perkataan ini dan berpikir bahwa tidak ada jalan bagi kita untuk memenuhinya. Oleh anugerah Allah, kita dapat memenuhi tuntutan Allah; oleh anugerah Allah pula kita dapat menanggulangi semua dosa.

MENGALAMI ANUGERAH KHUSUS DARI ALLAH DALAM MENANGGULANGI DOSA

Di dalam penghidupan Kristiani saya, pernah satu kali saya mengalami penanggulangan dosa yang tidak dapat saya lupakan. Pengalaman ini mempersaksikan betapa besarnya anugerah Allah, karena anugerah Allah yang dari dalamlah yang menopang seluruh diri saya. Hanya ketika saya menanggulangi dosa-dosa saya, saya benar-benar melihat betapa besarnya anugerah Allah itu. sepanjang hidup saya, saya tidak akan melupakan pengalaman ini. Pengalaman itu terjadi enam atau tujuh tahun setelah saya beroleh selamat, dan waktu itu pertama kalinya saya dengan sungguh-sungguh menanggulangi dosa-dosa saya. Pada waktu itu Tuhan bekerja di dalam saya dan membangkitkan saya, membuat saya berdoa setiap waktu, melayani dengan penuh gairah, dan memiliki sebuah perasaan untuk menanggulangi dosa-dosa saya dengan tuntas. Suatu hari Tuhan menerangi dan mengingatkan saya akan sebuah kejadian yang terjadi sewaktu saya masih muda, ketika saya sedang bekerja di sebuah organisasi. Gedung organisasi tersebut mengalami kebakaran, dan setiap orang berusaha sekuatnya untuk mencuri benda-benda dari perusahaan tersebut. Saya juga mengambil beberapa benda kecil. Benda yang pertama adalah sebuah tempat tinta yang sangat indah, yang terbuat dari porselen, yang digunakan untuk menulis kaligrafi Cina. Saya menyimpannya di dalam saku ketika saya membantu mengepak barang-barang perusahaan itu. Benda yang kedua adalah sebuah sikat pakaian, sebuah produk dari Barat yang terlihat sangat indah. Saya simpan tempat tinta itu ketika saya belajar, dan semua teman-teman saya mengaguminya ketika mereka melihatnya. Selanjutnya, karena saya dapat menggunakan sikat pakaian dari Barat itu, maka saya merasa sangat nyaman ketika saya menyikat pakaian saya. Setelah saya beroleh selamat, saya tidak langsung memperhatikan masalah itu; saya hanya memiliki sedikit perasaan mengenai kedua benda yang asal muasalnya dipertanyakan. Sekitar enam atau tujuh tahun kemudian anugerah Allah mencapai saya, dan saya menyadari bahwa saya harus menanggulangi dosa mencuri tempat tinta dan sikat pakaian ini dengan tuntas. Saya tidak dapat membaca Alkitab ketika saya melihat tempat tinta yang saya curi itu. Kemudian, bulu-bulu sikat pada sikat kecil itu rontok setelah digunakan selama enam atau tujuh tahun.

Perlunya menanggulangi pencurian kedua benda itu memberi saya dua masalah pula. Masalah yang pertama adalah anak bos saya yang dulu adalah teman sekelas saya, dan saya sangat mengenal dia. Bagaimanakah saya dapat mendatanginya dan mengaku dosa saya padanya? Saya mendapati bahwa hal itu sangat sulit dikerjakan. Masalah lainnya adalah bulu-bulu pada sikat itu telah rontok, jadi bagaimana saya dapat mengembalikannya? Selama beberapa hari dan beberapa malam saya sangat sukar untuk tidur karena saya merasa bahwa saya tidak dapat melakukan hal itu. saya bergumul selama satu atau dua minggu, dan semakin saya bergumul, semakin sulit jadinya. Kemudian saya meminta Tuhan memberi saya keberanian. Pada waktu itu bos saya yang dulu telah meninggal, jadi saya berpikir bahwa saya harus membayar dua benda itu dari pada mengembalikannya. Setelah saya merencanakan segala sesuatunya, saya pergi mendatangi rumah teman sekelas saya di hari minggu sore. Saya telah mempersiapkan segalanya. Pada waktu itu adalah akhir tahun, dan ia ternyata sedang ada di rumah. Ketika ia melihat saya, ia berkata, “Aku telah lama tidak melihatmu.” Pada saat itu wajah saya langsung memerah, dan saya berkata kepadanya, “Aku datang untuk meminta maaf. Pada tahun dimana perusahaannu kebakaran, aku telah mengambil keuntungan dari situasi itu dan telah mencuri tempat tinta ini dari kantor.” Ia berkata, “Itu bukanlah apa-apa! Benda kecil itu tidak ada artinya.” Selanjutnya saya berkata, “Dan sebuah sikat kecil juga! Tetapi sudah terpakai, jadi aku ingin menggantinya dengan membayar sejumlah uang.” Ia menjawab, “Jangan kuatirkan hal itu! itu hanya barang-barang yang kecil.” Saya memintanya untuk mengerti saya. Ketika ia melihat betapa tulusnya saya, ia tidak jalan untuk menolak saya. Kemudian ia bertanya kepada saya, “Apakah itu yang ada di tanganmu?” Pada waktu itu pemerintah tidak mengijinkan masyarakat umum mencetak kalender apapun termasuk tahun-tahun berdasarkan astronomi, tetapi ada sebuah organisasi Katolik yang menerbitkan banyak kalender seperti itu. organisasi itu didirikan oleh orang-orang Barat, dan pemerintah tidak turut campur tangan dengan kegiatan mereka. Setiap tahun organisasi itu mengirim beberapa kalender ke perusahaan di mana saya berkerja dulunya. Semua karyawan di perusahaan itu yang tingkat jabatannya lebih tinggi akan diberi satu buah kalender tersebut. Ketika anak bos saya itu bertanya apa yang ada di tangan saya itu, saya berkata bahwa saya memiliki sebuah kalender yang memiliki penanggalan astronomi di dalamnya. Kemudian ia berkata, “Bagus sekali! Berikan saja aku kalender itu dan simpan saja uangmu. Kalender itu menjadi pengganti benda-benda yang telah kau curi.” Tentu saja, di satu pihak, saya sangat gembira, tetapi di pihak lain, saya merasa sedih.

Meskipun saya telah menanggulangi dosa, ia tidak mau menerima uangnya, dan hal ini mengganggu saya. Dalam perjalanan pulang ke rumah saya berdoa, “Oh Tuhan, apakah yang harus saya lakukan dengan uang ini?” Kemudian di dalam batin saya muncul satu ide: “Aku harus memberi uang ini kepada pengemis, bukan kepada pengemis yang biasa tetapi pengemis yang istimewa—seseorang yang tidak terpengaruh oleh perang yang sedang berlangsung di daerah.” Ketika saya sampai di rumah, hari sudah malam. Lalu ada seseorang yang mengetuk pintu, dan saya pergi untuk menemuinya. Orang yang di pintu itu berkata, “Tuan, belaskasihani aku!” Saya memandangnya dan melihat bahwa ia adalah seorang pengemis. Selanjutnya ia berkata, “Aku belum makan apapun sepanjang hari ini.” Saya segera memintanya masuk dan memberinya roti Cina, air minum, dan beberapa makanan kecil. Setelah ia selesai makan, saya memberinya beberapa potong roti lagi. Ia berkata dengan malu-malu, “Anda adalah seorang yang sangat baik hati.” Saya berkata kepadanya, “Tidak, saya bukan orang yang baik. Yesus telah menyediakan uang untukmu. Ambillah.” Kemudian saya mengantarnya pergi, dan ketika kami sampai di persimpangan jalan, ia membungkukkan badannya pada saya dengan tulus lalu pergi. Dalam perjalanan pulang, saya berjumpa dengan seorang saudara tua. Ia bersikeras untuk memberi saya sebuah kalender. Ketika saya sampai di rumah dan melihat kalender itu, saya menemukan bahwa di kalender itu juga terdapat penanggalan berdasarkan astronomi. Saya berkata kepada Tuhan, “Oh Tuhan, betapa mengerikan dan betapa luar biasanya Engkau! Engkau telah menyediakan baik pengemis itu maupun kalender itu bagiku. Aku pasti telah menerima anugerah dari-Mu.”

Ketika kita sedang menanggulangi dosa-dosa kita, kita memiliki hadirat Allah, dan setelah kita menanggulangi dosa-dosa kita, maka kita lebih mengenal Allah. Menanggulangi dosa dan menanggulangi hati nurani dengan cara yang demikian bukanlah berasal dari hukum melainkan berasal dari anugerah. Semakin kita mengenal dan mengalami anugerah, semakin kita akan menanggulangi dosa-dosa kita, dan semakin kita menerima anugerah, semakin kita akan bertumbuh. Saya berharap kita semua akan menjadi orang Kristen yang matang, bukan orang yang “setengah matang.” Ini bukanlah sesuatu yang dilakukan di bawah hukum taurat tetapi dengan suplai dari anugerah. Semakin banyak penanggulangan yang kita miliki, semakin kita dikuduskan.

DISELAMATKAN UNTUK

HIDUP MENURUT HATI NURANI

Pada mulanya, manusia jatuh dari hadpan Allah kepada hati nurani, dan kemudian dari hati nurani kepada pemerintahan manusia. Maka, ada tiga hal yang mengatur manusia: pertama, Allah; kedua, hati nurani; dan ketiga, manusia sendiri. Mereka yang hidup di hadapan Allah merupakan orang yang dikategorikan paling tinggi. Mereka yang hidup menuruti hati nurani tidak berada dalam kategori yang paling tinggi, tetapi dpat disejajarkan dengan orang baik. Mereka yang hidup di bawah pemerintahan manusia adalah orang yang berada dalam kategori yang paling rendah—mereka tidak menaati hati nuraninya dan tidak pula hidup di hadapan Allah, tetapi berani melakukan hal apapun. Hanya ada sedikit orang yang hidup di hadapan Allah; sebagian besar orang hidup di hadapan manusia. Para suami takut tertangkap basah oleh istri mereka, sementara para istri takut tertangkap basah oleh suami mereka. Anak-anak juga takut tertangkap basah oleh orang tua mereka, sementara orang tua takut tertangkap basah oleh anak-anak mereka. Para dokter takut tertangkap basah oleh para perawat, sedangkan para perawat takut tertangkap basah oleh para dokter. Setiap orang takut tertangkap basah oleh satu dengan yang lainnya. Ketika tidak ada orang yang mengatur kita, kita dapat melakukan semua hal yang bersifat amoral. Mereka yang hanya takut kepada manusia—polisi, hakim, atau polisi militer—adalah orang yang terendah dan orang yang jatuhnya paling dalam. Ketakutan mereka hanya di depan mata manusia, bukan terhadap Allah sendiri. Hari ini lebih banyak orang Kristen yang hidup di hadapan manusia dari pada yang hidup menuruti hati nurani mereka. Mereka yang hidup di hadapan Allah diperintah oleh Allah, mereka yang hidup menuruti hati nuraninya diperintah oleh hati nuraninya, mereka yang hidup di hadapan manusia diperintah oleh manusia. Ketiga cara hidup ini—hidup di hadapan Allah, hidup menurut hati nurani, dan hidup di hadapan manusia—pemerintahan Allah, pemerintahan diri sendiri, dan pemerintahan manusia.

Saat kita telah diselamatkan, Allah telah menyelamatkan kita dari penghidupan yang berada di bawah pemerintahan manusia. Sebelum kita diselamatkan, selama orang lain—suami kita, istri kita, guru kita, atau pengawas kita—tidak dapat melihat kita, kita akan melakukan semua hal yang kotor demi kepentingan diri sendiri. Tetapi suatu hari Tuhan menyelamatkan kita dari dosa dan kejahatan. Sebagai tambahan, Ia juga meneyelamatkan kita dan membawa kita keluar kita dari hidup yang semata-mata berada di bawah pemerintahan manusia. Sekarang, jika kita adalah anak-anak, kita tidak melawan aturan dalam keluarga kita, dan sebagai orang yang pada umumnya, kita pasti adalah orang yang taat hukum. Mengapa demikian? Karena kita telah diselamatkan, dan apapun yang tidak diijinkan oleh hati nurani kita untuk kita lakukan, kita juga tidak akan melakukannya. Jika ini bukan pengalaman kita, bagaimana kita dapat mengatakan bahwa kita adalah orang-orang yang yang telah beroleh selamat? Meskipun mungkin kita sudah beroleh selamat, kadangkala kita masih seperti orang-orang yang belum diselamatkan—beberapa orang dari kita adalah pelajar yang masih melakukan tindakan yang melawan hukum di belakang guru kita, dan beberapa dari kita yang adalah para istri masih juga berbohong kepada anak-anak dan suami kita. Seorang Kristen yang ingin hidup di hadapan Allah seharusnya mengalami keselamatan Allah sedikitnya sampai taraf dimana ia hidup menurut hati nuraninya.

Jalan ini adalah yang paling mendasar. Kejatuhan manusia ke dalam pemerintahan hati nurani merupakan sebuah pos yang kecil. Selanjutnya, manusia telah jatuh lebih jauh ke dalam pemerintahan manusia. Apapun yang dilarang oleh hati nurani adalah dilarang oleh Allah, dan apapun yang tidak menyenangkan hati nurani adalah tidak menyenangkan bagi Allah. Apapun yang dihakimi oleh hati nurani adalah dihakimi oleh Allah, dan apapun yang dianggap salah oleh hati nurani, dalam kenyataannya, di anggap salah pula oleh Allah. Setelah seorang Kristen beroleh selamat, jika ia tidak mendengarkan hati nuraninya dan tidak memenuhi tuntutan hati nuraninya, ia tidak akan menaati Allah, berbohong terhadap Allah, dan tidak ada jalan untuk menerima anugerah Allah. Demi kaum beriman baru, saya harus mengatakan bahwa hal ini bukan berarti bahwa ia belum diselamatkan. Ia sudah pasti beroleh selamat, tetapi karena ia tidak mendengarkan perkataan Allah, ia bukanlah pemenang. Maka dari itu, kita harus dengan seksama mematuhi hati nurani kita, menanggulangi semua hal yang dihakiminya, dianggap salah olehnya, atau pun yang dilarang olehnya.

Saya takut bahwa banyak anak Allah di antara kita memiliki hati nurani yang penuh dengan pelanggaran dan kebocoran. Bagi beberapa orang, hati nurani mereka seperti sebuah ember yang berlubang dan membocorkan semua air yang dimasukkan ke dalamnya. Meskipun kita telah mendengar begitu banyak berita-berita, ketika berita-berita itu melewati kita, berita-berita itu bocor keluar dari kita. Kita tampaknya terjamah dan diterangi saat kita membaca Alkitab, tetapi semuanya bocor, dan kita sama seperti sebuah mobil yang berjalan tapi kehabisan bensin. Satu Timotius 1:19 mengatakan bahwa jika kita menolak hati nurani kita, kita menjadi kapal yang kandas. Hari ini banyak orang Kristen yang tidak memiliki kemajuan dalam hayat karena mereka tidak dengan tuntas menanggulangi hati nurani mereka. Jika mereka tidak memperhatikan poin ini, mereka tidak akan ada jalan untuk maju. Namun, ajaibnya adalah ketika kita dengan tuntas menanggulangi hati nurani kita, kita datang kepada Allah. Ketika kita berada di bawah pemerintahan hati nurani kita, kita segera dipindahkan dari hidup yang berada di bawah pemerintahan manusia, dan kita hidup di hadapan Allah.

PENGHIDUPAN DI HADAPAN ALLAH

Beberapa orang mungkin bertanya, apakah yang dimaksud dengan hidup di hadapan Allah? Hidup di hadapan Allah artinya bahwa kita menerima pimpinan dan pengaturan langsung dari Allah. Suatu kali saya berjumpa dengan seorang saudari yang sangat matang di dalam Tuhan. Ia telah tinggal di Nanking hampir selama tiga puluh tahun. Pada akhir tahun kabisat ia ingin membeli sesuatu, bukan karena ia mengikuti adat istiadat dunia, tetapi karena ia memiliki sebuah keperluan. Ia telah menghitung bahwa ia memerlukan uang totalnya sebanyak seratus dua puluh Yuan Cina. Karena ia melayani Tuhan sepenuh waktu tanpa menerima gaji apapun, ia tidak selalu memiliki uang di tangannya. Kemudian ia berdoa di hadapan Tuhan, “Oh Tuhan, aku adalah pelayan-Mu, dan sekarang aku mau memberitahukan masalahku pada-mu. Aku tidak ingin bantuan dari manusia, tetapi jika Engkau tidak memberiku seratus dua puluh yuan itu, maka hal itu akan mempermalukan diri-Mu.” Tidak lama setelah itu, seorang sekerja yang tinggal beberapa provinsi jauhnya tiba-tiba memiliki perasaan bahwa saudari tua yang tinggal di Nanking ini sedang memerlukan uang. Jumlah uang yang muncul di benaknya sama persis yakni seratu dua puluh yuan Cina. Ini adalah cerita nyata. Ia menyadari bahwa tahun kabisat hampir tiba dan jika ia mengirimkan uangnya kepada saudari itu, maka akan terlambat. Jadi ia mengirimkannya melalui telegram. Ketika saudari tersebut menerima telegram, jumlahnya persis sama dengan yang ia telah minta kepada Tuhan. Ini bukan masalah hati nurani melainkan masalah hidup di hadapan Tuhan.

Hati nurani berkenaan dengan benar dan salah. Hati nurani bukan semata-mata Tuhan berbicara langsung kepada kita, tetapi itu adalah pembicaraan-Nya melalui hati nurani kita. Ketika saudari itu berdoa, bagaimana mungkin seorang sekerja yang tinggalnya beberapa provinsi jauhnya mengetahui bahwa saudari itu memerlukan uang sebanyak seratus dua puluh yuan?itu merupakan hasil dari hidup di hadapan Tuhan dan bersekutu dengan Tuhan. Sekerja ini juga adalah seorang yang menanggulangi hati nuraninya dengan tuntas dan hidup di hadapan Allah. Ketika ia sedang bersekutu dengan Tuhan, Allah berbicara secara langsung kepadanya dan memberinya pimpinan. Kita harus melihat satu hal: Seorang yang telah dipindahkan dari pemerintahan manusia, kemudian hidup menurut hati nuraninya, memiliki persekutuan dengan Tuhan, dan hidup secara langsung di hadapan Tuhan mengalahkan benar atau salah. Jika ada orang yang datng kepadanya dan menyajikan sebuah kasus, ia tidak akan menanganinya semata-mata berdasarkan pada prinsip benar atau salah; melainkan, ia akan menentukannya di hadapan diri Allah sendiri. Kita harus mengetahui bahwa banyak orang mungkin benar menurut prinsip benar atau salah, namun demikian, mereka juga mungkin salah di hadapan Tuhan. Untuk mengetahui hal itu diperlukan perasaan yang berasal dari roh kita.

Sebagai contoh, suatu hari ada dua orang saudara yang sedang bertengkar datang menemui saya. Jika saya adalah seorang yang diselamatkan semata-mata sampai pada hidup menurut hati nurani saja, saya akan berbicara kepada mereka menurut perasaan benar atau salah dalam hati nurani saya, dengan mengatakan, “Anda yang salah, saudara Huang,” atau, “Anda yang salah, saudara Sun.” Tetapi jika saya adalah seorang yang sedang belajar hidup di hadapan Allah dan sedang belajar mengetahui dan menanggulangi hati nurani saya, saya akan lebih jauh dari sekedar perasaan berdasarkan hati nurani saya dan menghakimi menurut roh saya, mutlak hidup di hadapan Allah. Dalam istilah benar atau salah, mungkin saudara Huang yang salah dan saudara Sun yang benar; namun, dalam istilah mengenai memiliki roh yang tepat, mungkin pula saudara Huang yang benar karena rohnya di hadapan Allah benar. Seseorang mungkin salah dalam istilah benar atau salah, tetapi rohnya benar di hadapan Allah. Sebaliknya, seseorang mungkin benar dalam istilah benar atau salah, tetapi rohnya salah di hadapan Tuhan.

Anda dapat mengatakan bahwa hal ini sangat rumit dan herannya bagaimana seseorang dapat salah bila dihubungkan dengan benar atau salah, namun ia benar bila dihubungkan dengan roh. Sebagai contoh, kita selalu menemui situasi dimana suami dan istri bertengkar satu sama lainnya. Suatu hari seorang saudari menemui saya dan berkata, “Saudara, ketika suami saya, saudara Anda, sedang gembira, ia bangun jam tiga pagi untuk berdoa dan membaca Alkitab. Setelah ia dipenuhi dengan Roh Kudus, ia pergi keluar untuk menginjil. Aku memasak untuknya, tetapi ia tidak memakannya karena ia berkata bahwa ia harus berpuasa dan dan berdoa. Anda lihat, inilah saudara Anda. Ia terlalu berlebihan. Anda harus menanggulanginya.” Semua alasan di alam semesta ini tampaknya berpihak pada saudari itu; saudari selalu benar. Memang benar bahwa saudara itu salah, tetapi saudari itu tidak baik. Dalam istilah benar atau salah, saudari itu benar, tetapi di hadapan Tuhan ia salah. Meskipun ia benar, karena orangnya salah, maka ia juga mutlak salah.

Suatu kali ada seorang saudari datang dengan anaknya untuk menentang suaminya. Mereka datang kepada saya dan berkata, “Saudara Lee, ketika anak saya harus membeli buku, suamiku tidak memberi aku uang, dan ketika aku harus membeli makanan, ia tidak memberi aku uang juga. Yang ia kerjakan hanyalah memberitakan injil dan tidak memperdulikan hal lainnya. Entahkah ia bangun cepat atau lambat, yang ia lakukan ialah berdoa.” Saudari ini datang untuk menuntut penjelasan dari saya, dan anaknya juga bertanya, “Apakah ayahku benar bila ia berbuat seperti itu? Kami benar-benar tidak dapat menerimanya.” Saya tidak ada perkataan apapun bagi saudari tersebut. Pada saat itu, saudaranya datang. Kemudian saudari tadi berkata kepada saya, “Saudara Lee, sekarang Anda dapat bertanya kepadanya sendiri apakah benar situasi yang sesungguhnya seperti itu.” Saudara itu hanya berdiri tanpa bicara. Ia telah ditanyai sperti seorang penjahat. Istrinya bersikap bahkan seolah ia lebih tinggi dari pada seorang hakim, dan anaknya berdiri sambil memperhatikan mereka. Semua yang dapat saya lakukan hanyalah menangis bersama saudara itu. dalam istilah benar atau salah, istrinya mungkin benar; namun, dalam istilah orangnya mereka, saudara itu adalah seorang yang tetap benar. Meskipun istrinya telah diselamatkan, dagingnya masih sangat kuat. Apa yang ia katakan memang benar, tetapi orangnya salah.

Jika kita ingin hidup di hadapan Tuhan kita harus menanggulangi dosa kita dengan seksama. Ada seorang istri yang sangat lembut. Suatu kali ia datang menemui saya, tanpa menunjukkan bahwa ia sedang marah. Ia berkata bahwa ia ingin bersekutu dengan saya. Ia memberitahu saya bahwa suaminya berdoa setiap waktu dan tidak akan pulang ke rumah sampai tengah malam. Ketika ia sedang memberitahu saya hal itu, ia sangat lembut dan tidak menunjukkan amarahnya sama sekali. Jika kita belum belajar mengenai masalah hati nurani, kita akan dengan mudah hanyut dalam apa yang telah katakan. Melihat sikapnya yang baik dan perangainya yang lembut, kita akan dengan mudah berpikir bahwa ia adalah seorang yang banyak belajar di dalam Tuhan; padahal sebenarnya, ia sedang menuduh suaminya. Mereka yang telah belajar di hadapan Tuhan akan mengetahui bahwa apa yang telah mereka dengar hanyalah yang dipermukaannya saja. Seringkali ketika kita di hadapan hati nurani kita dan di hadapan Allah, kita memiliki sebuah perasaan yang lebih dalam dari pada benar atau salah. Ketika terang menyoroti, ada Allah yang sedang meraja, dan juga ada hayat Allah. Jika manusia tidak menerima sorotan Allah untuk hidup berdasarkan hati nuraninya, maka akan sulit baginya untuk belajar mengenal hayat. Terlebih lagi, suatu hari kita semua harus maju melampaui hidup berdasarkan hati nurani kita dan berkata kepada Tuhan, “Oh Tuhan, aku tidak ingin hidup hanya berdasarkan hati nuraniku semata, aku ingin hidup di hadapan-Mu.”