← Daftar isi Hati yang Murni · bab 5/9

MENANGGULANGI HATI NURANI

Kisah Para Rasul 24:16 mengatakan, “Sebab aku senantiasa berusaha untuk hidup dengan hati nurani yang tanpa pelanggaran di hadapan Allah dan manusia.” Dua Timotius 1:3a juga menyebutkan, “Aku mengucap syukur kepada Allah yang kulayani dengan hati nurani yang murni.” Kisah Para Rasul berbicara mengenai “hati nurani yang tanpa pelanggaran,” sementara 2 Timotius berbicara mengenai “hati nurani yang murni.” Lebih jauh lagi 1 Timotius 1:18b-19 mengatakan,”dengan iman dan hati nurani yang murni, beberapa orang telah menolak hati nuraninya yang murni itu, dan karena itu kandaslah iman mereka.” Pasal 4:2 menyebutkan, “Oleh tipu daya pendusta-pendusta yang hati nuraninya memakai cap mereka.” Efesus 4:19 juga mengatakan, “Perasaan mereka telah tumpul, sehingga mereka menyerahkan diri kepada hawa nafsu dan dengan serakah mengerjakan segala macam perbuatan cemar.” Ayat-ayat ini menunjukkan kepada kita pentingnya hati nurani dalam penghidupan Kristiani kita.

Seorang Kristen yang ingin bertumbuh dalam hayat harus melakukan tiga hal: pertama, mengaku dosa dengan tuntas di hadapan Allah; kedua, dengan teliti menanggulangi dosa-dosanya dihadapan manusia; dan ketiga, mempersembahkan dirinya kepada Tuhan dengan mutlak kepada Allah. Jika kaum saleh mau mengambil ketiga hal ini di bagi Tuhan dan mempraktekkannya secara serius, pastilah mereka akan memiliki kemajuan dalam hayat. Namun, jika mereka hanya mengambil perkataan ini sebagai doktrin belaka, mereka tidak akan menerima banyak bantuan dari ketiga hal ini. Perkataan ini hanyalah garis penuntun; hanya jika kaum saleh berjalan dengan serius di jalan Allah barulah perkataan ini akan bermanfaat bagi mereka. Pengalaman dari ketiga hal ini—mengaku dosa di hadapan Allah, mengakui kesalahan-kesalahan kita di hadapan manusia, dan mempersembahkan diri dengan mutlak kepada Tuhan—urutannya dapat saja bervariasi. Ketiga hal ini sama seperti tiga lapis benang, dan tidak ada seorang pun yang mengambil jalan Tuhan dapat mengabaikannya.

Lebih jauh lagi, setelah seorang Kristen mengaku dosa dengan tuntas, dengan teliti menanggulanginya, dan mempersembahkan diri kepada Allah, ia juga harus menanggulangi hati nuraninya. Ini adalah sebuah jalan yang perlu ditempuh oleh seorang Kristen. Setelah kita mengaku dosa di hadapan Allah, menanggulangi dosa kita di hadapan manusia, serta mempersembahkan diri kepada Allah, dengan segera kita akan memiliki sebuah perasaan yang dalam di dalam kita. Perasaan ini bukan sebuah realisasi semata dalam pikiran kita, tetapi sebuah perasaan di dalam kedalaman diri kita bahwa kita harus menanggulangi hati nurani kita dan memperoleh damai sejahtera dalam hati nurani kita. Maka dari itu, sangatlah penting untuk mengetahui asal mulanya, letak, dan fungsi dari hati nurani.

ASAL MULA, LETAK DAN FUNGSI HATI NURANI

Dengan kata yang sederhana, hati nurani adalah berasal dari Allah. Orang yang mengenal Tuhan seharusnya mengetahui bahwa sebelum kejatuhan Adam, manusian hidup di hadapan Allah dan tidak memiliki memerlukan hati nurani. Sebagai contoh, ketika kita berada di bawah terang matahari pada siang hari, kita tidak memerlukan sebuah lampu atau jenis penerangan lainnya. Hanya mereka yang tidak menghadap matahari saja yang memerlukan matahari. Perlunya hati nurani muncul sebagai hasil dari kejatuhan, yakni ketika manusia meninggalkan wajah Allah. Pada, mulanya manusia hidup di hadapan Allah, yang dapat disamakan seperti matahari. Asal mulanya manusia menerima terang secara langsung dari wajah Allah. Meskipun terang lilin itu lemah, namun bukan berarti ia tidak memiliki fungsi; ketika matahari mulai tenggelam, lilin mulai berfungsi. Sama halnya dengan fungsi dari hati nurani. Ketika manusia hidup di depan Allah dan di hadapan tetang Allah, hati nurani tidak digunakan dan fungsinya tidak dinyatakan karena manusia tidak memerlukannya di hadapan Allah. Kita melihat dari sejarah manusia bahwa manusia jatuh tidak lama setelah ia diciptakan. Ia telah jatuh dari terang ke dalam kegelapan. Setelah kejatuhan ada sebuah jarak, sebuah penghalang antara Allah dengan mansuia. Pada titik itu, Alkitab menunjukkan pada kita bahwa Allah telah mengambil langkah yang tepat untuk mengaktifkan fungsi hati nurani manusia. Hal ini boleh kita samakan seperti menyalakan sebuah lampu ketika langit mulai gelap. Kita harus ingat bahwa fungsi hati nurani telah diaktifkan setelah kejatuhan manusia.

Letak hati nurani adalah untuk mewakili, atau kita dapat mengatakan, berada di tempat, Allah di dalam manusia. Maka dari itu, meskipun hidup menurut hati nurani merepakan sebuah hal yang baik, namun itu bukanlah keadaan yang tertinggi. Keadaan yang tertinggi adalah manusia hidup di hadapan Allah secara langsung. Mengapa kita memerlukan sebuah lampu? Kita memerlukan sebuah lampu karena langit mulai gelap. Mengapa kita memerlukan hati nurani? Kita memerlukan hati nurani karena manusia telah jatuh. Sejak manusia jatuh dan meninggalkan wajah Allah, Allah terpaksa menggunakan hati nurani sebagai wakil-Nya dalam penerangan manusia. Sejarah manusia dapat dibagi ke dalam beberapa dispensasi. dispensasi yang pertama disebut dispensasi tidak berdosa; ini adalah masa ketika manusia menerima pemerintahan lansung dari Allah. dispensasi yang kedua setelah kejatuhan, dimulailah dispensasi hati nurani. Pada masa itu manusia memiliki baik dosa maupun hati nurani di dalamnya. Meskipun manusia telah jatuh ke dalam kegelapan dosa, Allah masih menyediakan sebuah hati nurani, sebuah lampu, bagi manusia. Hati nurani manusia masih dapat menerangi manusia dan menyatakan fungsinya. Inilah caranya hati nurani manusia diaktifkan.

KEJATUHAN MANUSIA

Kejatuhan manusia bukan hanya kejatuhan sebagiannya saja melainkan seluruhnya, dan kejatuhan yang terus menerus. Manusia tidak tinggal di bawah pemerintahan hati nurani tetapi ia terus menerus jatuh. Bagaimana manusia menajdi jatuh lebih jauh lagi? Kita lihat dari sejarah manusia bahwa jatuhnya manusia ke dalam dosa adalah bersifat berkesinambungan. Pertama manusia jatuh ke dalam hati nurani, maka hati nuranilah yang menerangi dan memerintah manusia. Namun manusia tidak dapat berdiri teguh di bawah pemerintahan hati nurani, jadi dari situ manusia kembali jatuh. Setelah langkah pertama dari kejatuhan manusia, manusia memiliki hati nurani di dalam dirinya yang mewakili pemerintahan Allah atas manusia. Namun manusia mengabaikan hati nuraninya dalam segala perbuatannya dan ia kembali jatuh. Pada saat itu dimulailah masa hukum taurat, dan manusia mulai di hukum jika ia tidak menaati hukum taurat bangsa itu. Pada saat itulah puncak kejatuhan manusia.

Manusia menjadi sangat aneh: semakin ia diperintah oleh manusia, semakin jauh ia jatuh. Sebagai contoh, seseorang yang selalu diawasi oleh orang tuanya akan melakukan hal-hal yang tidak tepat bila sekali saja ia tidak sedang diawasi oleh orang tuanya. Seorang pelajar juga akan melakukan sesuatu yang melawan peraturan ketika ia tidak di bawah peraturan sekolah. Jika tidak ada polisi di sebuah negara atau sebuah masyarakat, seluruh negara akan penuh dengan tindak kejahatan. Inilah sebabnya mengapa para perampok dan para bandit tidak takut akan surga maupun bumi, tetapi mereka takut akan hukum negara. Jika mereka memiliki sebuah cara untuk melarikan diri dari hukum, mereka akan melakukan banyak hal-hal yang jahat. Hal ini membuktikan bahwa manusia mutlak telah jatuh.

Kita sesungguhnya tidak memiliki cara untuk mengkategorikan manusia. Jika kita melakukan hal itu, kita dapat dengan sederhana membagi manusia dalanm tiga kategori. Kategori yang pertama adalah yang tertinggi, tetapi sangat sedikit sekali orang yang berada di dalam kategori ini. Ini adalah kategori orang yang secara langsung hidup di hadapan Allah. Orang-orang ini penuh dengan terang dan bersinar seperti matahari. Namun, jumlah orang yang termasuk kategori ini sangatlah sedikit. Mereka yang berada dalam kategori ini adalah orang Kristen yang sangat rohani dan kudus.

Kategori orang yang kedua juga merupakan kumpulan orang Kristen yang jumlahnya juga sedikit. Kategori ini meliputi mereka yang hidup berdasarkan hati nurani mereka dan memiliki sebuah hati nurani yang sangat tajam. Anak-anak yang berada dalam kategori ini tidak memerlukan pengawasan dari orang tua mereka; pelajar juga tidak memerlukan peraturan sekolah; dan orang-orang biasa merupakan orang-orang yang tinggal dalam hukum, yang tidak memerlukan pengaturan dari polisi. Kelompok orang yang seperti ini hidup di bawah pemerintahan hati nurani. Mereka tidak memerlukan pemerintahan manusia karena hati nurani mereka menerangi dan mengatur mereka. Apapun yang mereka rasa tidak tepat, mereka tidak akan melakukannya. Tidak ada hukum yang dapat mengatur manusia sepenuhnya, tetapi pemerintahan yang berasal dari hati nurani jauh lebih unggul dari pemerintahan yang berasal dari hukum. Inilah kategori orang kedua—yakni mereka yang hidup di bawah pemerintahan hati nurani.

Kategori orang yang ketiga adalah orang yang tidak diperintah oleh Allah juga tidak diperintah oleh hati nuraninya. Orang-orang yang berada dalam kategori ini tidak takut akan hukum negara juga peraturan keluarga mereka. Mereka mampu melakukan semua jenis kejahatan.

Kategori orang yang lainnya, antara kategori yang pertama dengan kategori yang kedua, yakni terdiri dari mereka yang hidup menurut hati nurani mereka, namun pada saat yang bersamaan, mereka sedang belajar hidup di hadapan Allah. Mereka adalah orang-orang Kristen yang sedang maju. Seorang Kristen yang normal dan terus maju bukan hanya hidup oleh hati nuraninya, tetapi juga hidup di hadapan Allah.

Dalam kejatuhannya, manusia jatuh dari hadirat Allah kepada hati nurani dan dari hati nurani kepada hukum taurat. Sedikit banyak, kita semua, juga memiliki pengalaman yang demikian. Sewaktu kita masih muda, orang tua kita memerintahkan kita untuk tidak mencuri permen apapun. Jika kita melakukannya, jantung kita akan berdetak sangat kencang. Ketika kita telah mencuri permen untuk yang kedua kalinya, jantung kita tidak terlalu berdetak dengan kencang. Ketiga kalinya, jantung kita semakin berkurang detaknya. Kemudian, yang keempat kalinya kita mencuri permen itu, jantung kita tidak berdetak lebih kuat dari biasanya karena hati nurani kita tidak memiliki perasaan apapun lagi. Kelima kalinya kita mencuri, kita tidak akan takut apapun kecuali bila tertangkap oleh orang tua kita. Pada titik itu, tampaklah bahwa mencuri permen bukanlah apa-apa; hal satu-satunya yang ditakuti ialah tertangkap oleh orang tua. Sama halnya, pada saat pertama kali kita menyontek dalam ujian sekolah, jantung kita berdetak sangat keras; kemudian kedua kalinya jantung kita berdetak agak kencang; ketiga kalinya jantung kita mulai berdetak lebih normal. Selama kita tidak ketahuan oleh guru kita, segala seuatu baik-baik saja. Mengilustrasikan apakah hal ini? Hal ini mengilustrasikan bagaimana kita telah jatuh dari pemerintahan hati nurani kepada pemerintahan manusia.

Lebih jauh lagi, hubungan amoral antara pria dan wanita juga sama. Pertama kali orang melakukan sesuatu yang amoral, mereka pasti memiliki beberapa perasaan dalam hati nurani mereka; kedua kalinya, perasaan itu semakin berkurang; ketiga kalinya perasaan itu lebih berkurang lagi, keempat kalinya mereka sama sekali tidak memiliki perasaan apapun. Kelima kalinya, mereka merasa takut sedikit; mereka hanya takut terhadap hukum negara, atau mereka takut ketahuan oleh orang lain. Inilah kejatuhan manusia dari perasaan hati nurani kepada pemerintahan manusia. Perampok dan pencuri juga sama di seluruh dunia ini; jika tidak ada polisi atau pemerintah, kekacauan dunia tidak akan di luar bayangan kita.

Kebanyakan orang yang tidak taat pada hukum takut dijatuhi hukuman negara. Tuhan kita sedang menyelamatkan kita dari penghidupan yang dengan cara ini. Setelah kita beroleh selamat, jika kita masih melakukan hal-hal yang melawan peraturan keluarga kita, melawan peraturan sekolah, atau melawan hukum masyarakat, maka saya takut bahwa kita sebenarnya tidak sungguh-sungguh diselamatkan, atau jika kita memang sudah diselamatkan, kita tidak terlihat seperti orang Kristen. Allah menyelamatkan kita keluar dari titik terendah kejatuhan manusia. Seorang yang belum diselamatkan membuat kekacauan di dalam keluarganya, dalam masyarakat, dan di dalam negaranya; inilah kejatuhan manusia. Seorang yang telah diselamatkan tidak memerlukan pengawasan dari orang tuanya di rumah karena ia telah menjadi seorang anak yang taat; ia tidak memerlukan pengawasan dari sekolah karena ia telah menjadi murid yang teratur; ia juga tidak memerlukan pemerintahan dari masyarakat atau negara karena ia telah menjadi orang yang baik, seorang warga negara yang tinggal di bawah hukum. Ia tinggal oleh hukum bukan karena ia takut hukum, tetapi karena ia hidup oleh hati nuraninya. Di dalam kejatuhannya, manusia telah jatuh dari hadapan Allah kepada hati nurani dan dari hati nurani kepada pemerintahan manusia. Pemerintahan manusia adalah titik terendah dari kejatuhan manusia, tempat di mana keselamatan Allah mencapai manusia.

KESELAMATAN ALLAH

Titik terendah dari kejatuhan adalah bahwa manusia harus diatur oleh orang lain. Jika seorang istri diatur oleh suaminya, seorang suami juga harus diatur oleh istrinya, dan anak-anak harus diatur oleh orang tua mereka, maka hal ini membuktikan bahwa mereka telah jatuh sampai pada puncaknya. Beberapa orang bekerja pada sebuah organisasi atau sebuah perusahaan yang memerintahkan bahwa para pekerjanya harus hadir pukul delapan, tetapi setiap hari mereka mencoba mengetahui apakah manejernya juga akan tiba pukul delapan besok pagi. Jika ia akan datang pukul delapan, mereka juga akan hadir pukul delapan; namun, jika manejernya harus pergi ke suatu tempat dan tidak akan hadir sampai pukul delapan tiga puluh, mereka juga akan hadir pukul delapan tiga puluh. Apakah orang Kristen juga seharusnya melakukan hal yang demikian? Jika ada orang yang melakukan hal itu di antara kita, hal ini bukan berarti bahwa mereka belum diselamatkan, tetapi paling tidak saya katakan bahwa mereka tidak hidup di hadapan hati nurani mereka. Seorang yang telah diselamatkan pergi bekerja pada pukul delapan ketika manejernya juga hadir pada pukul delapan; tetapi ketika manejernya tidak hadir pada pukul delapan, ia tetap harus hadir bekerja pada pukul delapan. Ia hidup dengan cara ini karena Allah telah menyelamatkannya dari hidup berdasarkan peraturan manusia dan telah menyebabkan ia hidup berdasarkan hati nuraninya. Banyak orang yang sungguh-sungguh telah diselamatkan, namun sayangnya, banyak istri-istri orang Kristen masih menipu suami mereka dan berbohong di depan anak-anak mereka. Ini bukanlah sikap dan tingkah laku seorang Kristen yang tepat. Jika seorang Kristen telah diselamatkan seluruhnya, ia seharusnya telah diselamatkan dari keadaan yang seperti ini.

Sepuluh tahun yang lalu saya melayani di sebuah lokalitas. Suatu hari ada seorang saudara datang kepada saya dan berkata, “Aku memiliki masalah yang tidak dapat kupecahkan selama beberapa hari ini. Tolonglah aku.” Lalu saya bertanya kepadanya apakah masalahnya itu, dan ia menjawab, “Aku telah diselamatkan sejak lama, tetapi kemudian aku undur. Aku bukan hanya aku bermain kartu setiap waktu, tetapi aku juga telah mencuri listrik dari perusahaan listrik. Pada waktu itu banyak orang yang melakukannya, dan aku juga melakukannya hampir setiap hari. Tetapi sekarang oleh belas kasih Allah, aku dibangkitkan, dan ketika aku memikirkan kembali hari-hari waktu aku mencuri listrik itu, aku merasa sangat tidak damai. Aku tidak tahu apa yang harus kulakukan.” Coba perhatikan bahwa orang ini dulunya tidak takut akan siapapun; ia juga tidak takut surga atau bumi tetapi hanya takut pada orang yang mengukur meteran arus litrik dari perusahaan listrik. Ia takut terhadap orang bukan takut kepada hati nuraninya. Namun, suatu hari, ia dibangkitkan kembali sampai pada taraf di mana ia merasa bahwa hati nuraninya tidak damai sejahtera. Sebagai hasilnya, ia tidak dapat mencuri listrik lagi, dan ia merasa bahwa ia harus membayar semua listrik yang telah ia curi di masa lalu. Ketika ia datang menemui saya, ia berada dalam situasi yang sulit ini. Saya berkata padanya, “hal ini sangat mudah. Anda hanya perlu mengira-ngira secara kasar jumlah biaya dari semua listrik yang telah Anda curi di waktu itu dan kemudian membayarkannya ke perusahaan listrik.” Ia berkata, “Hal itu sangat sulit, pertama, sangat susah menghitung jumlahnya secara akurat, dan kedua, aku tidak memiliki muka dan keberanian untuk melakukannya.” Kemudian saya berkata kepadanya, “Itu tidaklah terlalu sulit. Pertama, hitung saja perkiraan jumlah yang paling mendekati dan kemudian tambahkan sedikit lagi; selama hati nurani Anda tidak menuduh Anda, hal ini cukup baik. Kedua, meskipun hal ini memalukan untuk dikerjakan, pada saat yang sama, hal ini adalah sesuatu yang mulia karena hal ini menyenangkan Allah ketika seseorang bertobat dan menyesali apa yang telah dilakukannya di masa lalu.”

Saudara itu memikirkan perkataan saya dan menemukan bahwa hal itu masuk akal. Kemudian ia kembali dan menghitung jumlahnya, menandatangani sebuah cek, dan mengatakan seluruh yang diperbuatnya. Ia menulis, “Dahulu saya telah mencuri listrik dari perusahaan Anda, tetapi sekarang saya telah menjadi seorang Kristen. Saya memiliki perasaan yang tidak damai dalam hati nurani saya yang mengatakan bahwa saya harus membayar Anda kembali, atau saya tetap merasa tidak damai.” Segera setelah itu, seorang saudara yang menjalankan sebuah toko elektronik pergi ke perusahaan listrik dan berbicara kepada seseorang mengenai beberapa hal. Kepala akuntannya melihat saudara itu dan berkata kepadanya, “Tolong bantu aku melihat apakah cek yang aku terima inni asli atau palsu. Apakah orang itu sakit mental?” Saudara itu menjawab, “Saya mengenal orang ini; ia tidak sakit mental.” Kemudian saudara itu bersaksi kepada akuntan akan apa yang telah terjadi, dan kepala akuntan itu sangat terjamah ketika ia mendengarnya.

Ada pula seorang saudari yang biasanya sangat sembrono. Pada tahun 1932, setelah ia dipulihkan oleh Tuhan, ia segera memulai penghidupan berdasarkan hati nuraninya. Melalui perasaan hati nuraninya, ia sadar bahwa beberapa tahun yang lalu ia telah melakukan tindakan yang memalukan. Pada waktu perjalanan dari Nanking ke Shanghai sangat nyaman; ada jurusan kereta yang langsung pulang pergi antar dua kota itu. Namun, untuk naik kereta ini, memerlukan sebuah tiket. Saudari itu telah belajar di Amerika dan merupakan seorang profesor di sebuah universitas. Ia juga adalah seorang yang bertanggung jawab di antara pelajar wanita lainnya. Banyak orang yang bekerja di administrasi kereta api mengenalnya, dan mereka membantunya mendapatkan sebuah surat bebas bagi karyawan yang membuat ia bisa bepergian naik kereta dengan gratis. Bahkan seorang yang telah lulus dari universitas, yang telah belajar di luar negeri, dan yang adalah seorang profesor di sebuah universitas dapat melakukan suatu hal yang kasihan dan dapat berbuat seperti seorang pencuri dan serakah terhadap suatu keuntungan yang kecil. Kebanyakkan orang yang memberontak dan tidak taat hukum, pertama-tama tidk menaati Allah, kemudian tidak menanggapi hati nurani mereka, dan yang yang ketiga, melawan hukum. Maka, ketika mereka melawan hukum, hal ini menunjukkan bahwa mereka telah tidak menaati Allah dan mengabaikan hati nurani mereka. Pada tahap ini, selama mereka tidak dijatuhi hukuman oleh hukum, mereka mampu melakukan apapun. Inilah keadaan dari manusia yang jatuh.

Namun, setelah saudari tadi beroleh selamat, hati nuraninya segera menerangi dia dan memberinya perasaan bahwa ia telah melakukan sesuatu yang tidak benar dan bahwa ia telah berhutang kepada pemerintah dengan menggunakan kartu bebas bagi karyawan. Ia merasa sangat tidak damai sejahtera, jadi ia pergi kepada kaum saleh untuk bersekutu. Kaum saleh memberitahu dia bahwa ia seharusnya menghitung jumlah hutangnya dan mengerjakannya dengan teliti. Ia mengatakan bahwa hal itu tidak masalah bila ia harus mengembalikan uang itu, tetapi ia tidak tahu berapa jumlahnya dan bagaimana caranya untuk mengembalikan uang tersebut. Pada waktu itu pendapatan perusahaan kereta api dari Nanking ke Shanghai telah dimasukkan ke dalam keuangan negara. Dengan adanya hal ini, setiap orang menyarankan saudari tersebut agar ia seharusnya menghitung hutangnya dan mengirimkan uangnya langsung ke Menteri Keuangan, karena jika uangnya harus dikirimkan dari orang yang berada pada kedudukan yang lebih rendah, maka uang tersebut akan mudah raib. Maka dari itu, ia menulis surat kepada Menteri Keuangan dan mengirimkan uangnya. Kemudian, koran di Nanking mencetak kejadian ini.

MENANGGULANGI HATI NURANI

Setiap orang yang telah beroleh selamat harus menanggulangi hati nuraninya. Jika ia tidak menanggulangi hati nuraninya, ia tidak akan memiliki damai sejahtera di dalam dirinya. Jika ia tidak menanggulangi hati nuraninya, ia tidak akan berdoa dengan tepat. Jika ia tidak menanggulangi hati nuraninya, pembacaan Alkitabnya akan menjadi hambar dan pemberitaan injilnya tidak akan memiliki kekuatan. Jika ia tidak menanggulangi hati nuraninya, ia tidak akan mampu berjalan pada jalan yang di hadapannya. Semua orang yang telah beroleh selamat harus melewati tahap ini, yakni menanggulangi hati nurani mereka, jika mereka mau terus maju. Hati nurani kita sama seperti sebuah jendela dan diri kita sama seperti sebuah ruangan; terang yang ruangan itu (diri kita) terima harus melalui jendela (hati nurani). Pada mulanya tidak ada terang di dalam kita, yang ada hanya kegelapan, tetapi hati nurani kita sama seperti sebuah jendela yang mengijinkan terang itu masuk.

Sebelum kita beroleh selamat, hati nurani kita sama seperti sebuah jendela yang sangat kotor dipenuhi dengan debu tebal sehingga tidak ada sinar terang yang dapat menembusinya. Hal ini mengakibatkan keadaan yang gelap sama sekali dalam diri kita. Namun, ketika kita beroleh selamat, Roh Kudus masuk ke dalam kita untuk menerangi kita, menyebabkan insan batiniah kita dipenuhi dengan terang. Pada saat itu, kita dengan segera merasa bahwa kita salah. Kemudian kita seharusnya bertobat dan mengakui dosa-dosa kita di hadapan Allah, dan kita seharusnya menanggulangi dosa-dosa kita di hadapan manusia. Setiap waktu kita mengaku dosa dan menanggulangi dosa, saat itulah kita mengelap jendela yang tertutup debu itu. Ajaibnya, sebelum kita mengelap jendela itu, kita tidak mengetahui seberapa kotornya jendela itu; jadi semakin kita mengelap jendela itu, maka tampaklah oleh kita bahwa jendela itu lebih kotor dari yang kita kira. Ketika kita mengelap jendela itu dengan sungguh-sungguh, semua kotoran yang menempel akan dibuang. Kemudian ketika sinar matahari menerobos melalui jendela itu, maka akan tampak bahwa jendela itu lebih kotor dari sebelumnya. Namun, pada akhirnya, jendela itu akan menjadi bersih.

Sama halnya dengan hati nurani kita. Ketika pertama kali kita beroleh selamat, kita mungkin berpikir bahwa kita telah melakukan hanya beberapa kesalahan kecil saja di hadapan Tuhan, tetapi setelah kita mulai mengakui kesalahan-kesalahan itu, kita segera akan melihat banyak dosa-dosa yang lebih besar. Pada akhirnya, semakin kita menanggulangi dosa-dosa kita, maka semakin sedikit dosa yang kita miliki. Ini adalah seperti mengelap sebuah jendela: semakin kita mengelapnya, semakin sedikit debu yang menempel pada jendela itu. sebagai hasil dari proses ini, kita memiliki damai sejahtera di dalam kita, dan dengan spontan kita dapat dengan mudah berdoa kepada Allah. Ketika hujan memercikkan lumpur atau pasir ke atas sebuah jendela yang kotor, kita akan sulit melihat apapun yang di dalam rumah itu, namun, setelah jendela dibersihkan, ketika sedikit saja pasir atau lumpur memerciki jendela itu maka kita akan segera memperhatikannya. Banyak orang telah melakukan suatu hal yang salah namun mereka tidak pernah merasa bahwa mereka salah. Hal ini membuktikan bahwa mereka tidak pernah menanggulangi hati nurani mereka.

HATI NURANI DAN IMAN MAJU BERSAMA-SAMA

Seseorang yang damba maju dalam jalan hayat Allah harus menanggulangi hati nuraninya, karena hati nurani dan iman maju bersama-sama. Ketika kita berdoa, kita perlu memiliki iman. Berdoa tanpa iman sama dengan tidak berdoa sama sekali. Tuhan hanya mendengarkan doa yang berasal dari iman, dan Ia tidak akan mendengarkan doa apapun yang tidak berasal dari iman. Namun, ketika kita memiliki masalah dengan hati nurani, iman akan hilang, dan ketika ada lubang di dalam hati nurani kita, iman kita akan bocor. Kita masih dapat berdoa dan memohon, namun jika kita tidak memiliki iman dan hati nurani kita tidak memiliki perasaan apapun, kita akan sama seperti sebuah ban yang berlubang—semakin banyak angin yang dipompakan ke dalamnya, semakin angin itu bocor dan ban itu akan menjadi lebih kempes. Satu Timotius 1:18b-19 mengatakan,”dengan iman dan hati nurani yang murni, beberapa orang telah menolak hati nuraninya yang murni itu, dan karena itu kandaslah iman mereka.” Tren di masyarakat terhadap korupsi adalah bukan sesuatu yang sudah ada pada mulanya. Hal itu tidak ada di masa lampau. Hari ini, bahkan dalam kisaran akademika penuh dengan kebohongan. Para guru menipu murid-muridnya, dan para murid menipu orang tua mereka. Setiap tempat penuh dengan kebohongan. Inilah kasus yang terjadi di antara orang muda pada umumnya. Bahkan orang muda Kristiani mengatakan kebohongan baik di rumah maupun di sekolah. Mereka berpikir bahwa sangat sulit untuk tidak berbohong. Inilah alasan mengapa mereka tidak ada kemajuan dalam iman mereka.

Jika kita memiliki suatu perasaan ketika kita mengatakan sebuah kebohongan untuk pertama kalinya, kita seharusnya dengan teliti menanggulanginya dan tidak mengijinkannya lewat begitu saja. Jika kita berbohong kepada seseorang dan tidak memiliki damai di dalam hati nurani kita, kita harus mendatangi orang tersebut dan segera menanggulanginya, dengan berkata, “Saya minta maaf. Apa yang tadi saya katakan kepada Anda adalah dusta; hal itu tidak benar.” Dengan cara inilah insan batiniah kita akan penuh dengan terang. Mungkin kita akan penuh dengan terang selama tiga hari. Kemudian kita dapat menemukan kejadian yang lain dan berkata bohong lagi. Segera setelah hal itu terjadi, kita seharusnya menanggulangi perasaan yang kita terima dari hati nurani kita dengan segera. Jika kita tidak melakukannya, maka setelah tiga atau empat kali mengalami hal yang seperti itu, perasaan di dalam hati nurani kita secara perlahan akan hilang. Ketika perasaan hati nurani kita hilang, bukan hanya kita akan lebih banyak mengatakan kebohongan lagi, tetapi kita juga akan melakukan hal-hal yang lebih buruk dan menjadi kandaslah iman kita.

Maka dari itu, saya takut bahwa banyak hati nurani orang Kristen tidak dapat menghadapi ujian ini. Seorang pengkhotbah pernah berkata kepada saya mengenai sesuatu yang ia lihat suatu kali ketika ia pergi mengunjungi seorang pendeta. Ketika mereka duduk, anak pendeta itu datang dan memberitahu ayahnya bahwa ada seseorang yang mencarinya. Kemudian pendeta itu berkata kepada anaknya di depan pengkhotbah itu, “Katakan padanya, bahwa ayah tidak ada di rumah.’ Hal ini menunjukkan pada kita betapa mudahnya untuk mengatakan kebohongan karena kebohongan menyelesaikan segalanya. Namun, sekali kita berbohong, di batin, hati nurani kita menandai, seperti sebuah cap besi panas. Jika kita terus menerus melakukan hal ini, kita tidak akan lagi memiliki perasaan dalam hati nurani kita; hati nurani kita akan dimatikan. Banyak hati nurani orang yang bukan hati nurani yang hidup tetapi hati nurani yang mati karena mengatakan kebohongan telah menjadi kebiasaan mereka. Seorang Kristen tidak dapat berdoa dengan sungguh-sungguh setelah ia berbohong, ia juga tidak akan mampu berdoa dengan sungguh-sungguh setelah ia marah. Beberapa orang mengatakan bahwa mereka telah melihat banyak orang Kristen yang telah marah-marah mampu berdoa segera setelah kejadian itu. memang ada orang yang seperti itu, tetapi Tuhan tidak pernah mendengar doa dari orang yang hati nuraninya membeku. Jika seseorang tidak mendengarkan suara hati nuraninya, Tuhan juga tidak akan mendengar suara orang itu. Mereka yang tidak memiliki perasaan apapun dalam hati nuraninya pasti tidak memiliki iman dalam doa-doanya. Tuhan tidak akan mendengarkan doa seorang pembohong. Sekali hati nuraninya rusak, bocor, dan membeku, ia tidak akan mampu mengerti perasaan hati nuraninya, dan Allah tidak akan mendengarkan doa dari orang yang seperti itu.

SENANTIASA MEMILIKI HATI YANG TANPA PELANGGARAN DI HADAPAN ALLAH DAN MANUSIA

Dalam Kisah Para Rasul 24:16 Paulus berkata, “Sebab itu aku senantiasa berusaha hidup dengan hati nurani yang murni di hadapan Allah dan manusia.” Sebuah hati nurani yang tanpa pelanggaran adalah hati nurani yang tanpa lubang atau tanpa kebocoran. Jika kita mengaku dosa-dosa kita di hadapan Allah dan menanggulangi dosa-dosa kita di hadapan manusia, maka insan batiniah kita akan tanpa dosa dan hati nurani kita akan menjadi murni. Kita dapat melayani Allah dengan hati nurani yang murni. Jika kita ingin pelayanan kita menjamah Allah, kita harus melayani dengan sebuah hati nurani yang murni. Jika hati nurani kita tidak murni, bukan hanya doa kita yang tidak dijawab, tetapi doa kita juga tidak akan menjamah Allah. Hati beberapa orang seperti kapal yang kandas. Meskipun beberapa orang telah menolak hati nurani mereka, mereka yang beroleh selamat seharusnya tidak menagabaikan kesalahan yang kecil sekalipun; melainkan, kita harus menanggulanginya dengan tuntas. Kita tidak perlu mendorong orang untuk bersikap antusias, karena kegairahan dalam kebutaan tidak ada manfaatnya. Jika kita ingin mengikuti Allah dalam hayat untuk berjalan pada jalan di depan kita, kita harus mengikuti Dia dan menggenapkan prnsip-prinsip-Nya. Jika kita ingin melayani dan menjamah Allah, kita harus senantiasa memiliki hadirat Allah di dalam kita, dan kita harus penuh dengan terang dan memiliki iman setiap waktu. Dengan cara ini, terang, wahyu, hayat, dan kuasa akan menjadi pengalaman kita yang tetap. Selama kita menanggulangi hati nurani kita dengan tuntas, kita akan mampu berjalan di jalan yang lurus dan tepat ini.