MEMPERSEMBAHKAN DIRI KITA KEPADA TUHAN
MENGAKUI DOSA-DOSA, MENANGGULANGI DOSA, DAN MEMPERSEMBAHKAN DIRI KITA SENDIRI KEPADA TUHAN
Jika seorang Kristen ingin bertumbuh dalam hayat, ada dua hal yang sangat penting: ia harus mengakui dosa-dosanya dengan tuntas kepada Tuhan dan menanggulangi dosa-dosanya. Hal ketiga yang sama pentingnya adalah konsikrasi; ia harus mempersembahkan dirinya dengan mutlak kepada Tuhan. sebagai syarat yang mendasar, setiap orang Kristen seharusnya mempersembahkan dirinya kepada Tuhan. Setelah seseorang diselamatkan, jika ia damba untuk bertumbuh dalam hayat, ia harus mengakui dan menanggulangi dosa-dosanya. Pengakusan dosanya berfokus pada apa yang berada di dalamnya sedangkan penanggulangan dosanya berfokus pada perbuatan yang di luar. Mengaku dosa adalah memberitahu Tuhan keadaan hati seseorang dan mengaku kepada Tuhan atas semua dosa-dosanya yang ia rasakan di dalam batinnya. Menanggulangi dosa adalah sesuatu yang berhubungan dengan tingkah laku yang di luar; hal itu meliputi penanggulangan yang tuntas atas semua yang ada dalam penghidupannya, sekitarnya, dan rumahnya yang tidak menyenangkan Allah. Hal ini bukan penanggulangan yang hanya dilakukan di depan Allah tetapi juga di hadapan manusia. Pengakuan atas dosa-dosa yang di batin ditambah dengan penanggulangan dosa-dosa yang di luar—keduanya digabungkan bersama—merupakan sebuah pengalaman yang lengkap.
Namun, setelah seseorang diselamatkan, jika ia hanya mengaku dosa-dosanya semata di hadapan Tuhan dan menanggulangi dosa-dosanya di hadapan manusia tetapi ia tidak mempersembahkan dirinya kepada Tuhan, ia belumlah memulai berjalan di jalan hayat. Kita harus mengetahui bahwa setelah keselamatan seseorang, langkah pertamanya selalu meliputi pengakuan dosa, penanggulangan dosa, dan mempersembahkan diri kepadaTuhan. Dalan pengalaman kita, ketiga hal ini mungkin saja dapat berbeda dalam urutannya. Beberapa orang pertama-tama mengakui dosanya kemudian mempersembahkan dirinya kepada Tuhan; beberapa orang lagi pertama-tama mempersembahkan dirinya kepada Tuhan baru kemudian menanggulangi dosa-dosa mereka. Urutannya tidaklah menjadi masalah. Setelah seseorang diselamatkan, langkah pertamanya selalu meliputi ketiga hal ini: sebuah pengakuan dosa yang tuntas di hadapan Tuhan, penanggulangan yang teliti atas dosa-dosanya di hadapan manusia, dan mempersembahkan dirinya kepada Tuhan. Ketika ketiga hal ini digabungkan bersama merupakan sebuah pengalaman yang lengkap.
Hal ini dapat diserupakan dengan sarapan kita. Suatu sarapan Cina yang lengkap terdiri dari roti, bubur, dan beberapa makanan kecil. Tidaklah masalah bila kita makan buburnya, rotinya, atau makanan kecilnya terlebih dahulu. Sama halnya, setelah keselamatan seseorang, pengalaman pertamanya seharusnya meliputi pengakuan dosa dari dalam hatinya, penanggulangan yang tuntas di hadapan manusia, dan persembahan diri yang mutlak kepada Allah. Ketiga hal ini adalah sama pentingnya, tetapi urutannya tidaklah begitu penting. Tidak masalah ada atau tidaknya orang yang mendorong Anda untuk melakukan ketiga hal ini, semua orang yang telah diselamatkan dan damba untuk mengambil jalan Tuhan tidak dapat menghindari ketiga hal tersebut. Seseorang yang belum mengalami beberapa hal ini tidak pernah mengambil suatu langkah di hadapan Tuhan. bahkan jika beberapa orang hanya mengalami hal yang pertama, atau hal yang kedua, atau keduanya, tetapi mereka belum mengalami hal yang ketiga, mereka masih belum mengambil langkah yang lengkap di hadapan Tuhan.
Kita harus meminta Tuhan untuk menunjukkan kepada kita di mana diri kita sesungguhnya. Tidak peduli apakah kita memiliki hati yang berketetapan untuk mengambil jalan Tuhan atau kita hanya memiliki sedikit keputusan, kita harus menyadari bahwa tidak ada jalan pintas dalam jalan kerohanian ini. Ketika kita meninggalkan rumah, pertama-tama kita harus melewati pintu depan sebelum kita keluar gerbang. Sama halnya, ada beberapa bagian dari jalan Tuhan ini yang harus kita lewati, dan kita tidak dapat meloncati langkah manapun. Kita dapat saja membaca Alkitab, mendengarkan berita-berita, tetapi jika kita tidak memiliki sebuah hati utnuk mengambil jalan Tuhan, berita-berita itu tidak akan dapat membantu kita, dan pembacaan Alkitab tidak akan begitu menguntungkan kita. Seharusnya berita-berita banyak memberikan bantuan kepada orang, dan pembacaan Alkitab seharusnya menyuplai mereka dengan hayat, tetapi jika mereka hanya mengerti jalan Tuhan semata dan tidak memiliki hati, maka tidak akan ada untungnya bagi kita. Kita tidak seharusnya hanya menjadi orang yang mengerti jalan Tuhan semata; kita seharusnya menjadi orang yang juga memiliki hati untuk itu. Tidak hanya demikian, kita tidak seharusnya hanya memiliki sebuah hati untuk itu, kita tuga harus mulai berjalan di jalan itu. Jika hal itu terjadi, setiap berita yang kita dengar akan menguntungkan kita, dan setiap ayat Alkitab yang kita baca akan menyuplai kita. Saya berharap bahwa setiap dari kita akan menjadi seorang yang memiliki hati dan berjalan di jalan ini.
PERMINTAAN ALLAH ADALAH AGAR MANUSIA PERCAYA DAN MENGASIHI DIA
Maka dari itu, kita dapat melihat bahwa selain mengaku dosa dan menanggulangi dosa-dosa kita, mempersembahkan diri kita juga merupakan hal yang sangat penting. Ada dua poin penting yang terdapat di dalam Alkitab. Pertama, Allah meminta manusia untuk percaya pada-Nya, dan kedua, Allah meminta manusia untuk mengasihi-Nya. Tidak ada seorang pun dari para pemimpin dunia ini yang meminta orang untuk percaya ataupun mengasihi mereka. Baik Muhamad maupun Confucius tidak pernah meminta seorang pun untuk percaya atau mengasihi mereka. Hanya Yesus Kristus yang meminta manusia utnuk percaya kepada-Nya dan mengasihi diri-Nya.
Sejak kejatuhan manusia, yang pertama Allah tuntut atas manusia adalah iman, dan yang kedua adalah kasih. Apakah Anda tahu artinya diselamatkan? Diselamatkan berarti berpaling kepada Tuhan, yakni, percaya kepada Allah dan memiliki sebuah hubungan dengan Allah. Ketika seseorang tidak memiliki Allah, ia bermusuhan dengan Allah; tidak peduli apakah permusuhan ini besar atau kecil, ia adalah musuh dan terpisah dari Allah. Bagaimana kita dapat disatukan dan diikatkan bersama-sama dengan Allah? Hal ini terjadi melalui iman. Semakin kita percaya, semakin kita diikatkan dengan Tuhan; semakin kita percaya, semakin kita disatukan dengan Tuhan dan kontak kita dengan Tuhan akan semakin erat. Banyak orang yang mengatakan bahwa tidak ada Allah. Sebagai contoh, jika kita menggunakan telinga kita untuk mendengarkan warna, tentulah kita tidak dapat mendengar apapun; jika kita menggunakan mata kita untuk mencium bau-bauan, tentulah kita tidak dapat melihat apapun. semakin kita percaya kepada Tuhan, semakin nyatalah keberadaan-Nya; semakin kita percaya kepada-Nya, semakin kita akan merasakan kehadiran-Nya. Hubungan yang dimiliki manusia dengan Allah adalah apa yang disebut iman.
Kedua, hubungan yang dimiliki manusia dengan Allah adlah ditandai dengan kasih. Adalah hal yang luar biasa bahwa setelah seseorang percaya kepada-Nya, apa yang diminta oleh Allah dari manusia adalah kasih. Setiap orang yang telah beroleh selamat, setiap orang yang percaya kepada Tuhan, memiliki perasaan di dalamnya bahwa Allah begitu indah. Jika kita meminta seseorang utnuk menyembah Budha, baik budha itu indah atau tidak, ia akan berkata bahwa ia tidak pernah memikirkan hal itu. Jika kita meminta seseorang yang percaya Tuhan, tidak peduli bagaimanapun kasih yang dimilikinya, sedikitnya ia akan merasakan bahwa ia mengasihi Tuhan; ia sedikitnya memiliki hati utnuk melakukan sesuatu bagi Tuhan. maka, selama seseorang telah beroleh selamat, meskipun tidak ada orang yang mengajarinya, secara spontan ia akan memiliki perasaan di dalamnya bahwa Tuhan indah dan bahwa ia ingin mengasihi Tuhan.
SEMUA ORANG YANG TELAH BEROLEH SELAMAT MERASAKAN BAHWA TUHAN ITU INDAH
Meskipun beberapa orang yang beroleh selamat tidak terlalu merasa bahwa Tuhan itu indah atau mereka ingin mengasihi Tuhan, namun di dalam hati mereka, mereka masih memiliki sedikit kasih bagi Tuhan. Suatu kali saya mengunjungi seorang saudara yang suka sekali bermain kartu. Saya bertanya kepadanya, “Manakah menurut Anda yang lebih indah—Tuhan atau kartu-kartu itu?” Jawabnya, “di luaran aku merasa bahwa kartu-kartu itu lebih indah, tetapi di batinku aku masih merasa bahwa Tuhan lebih indah.” Dalam kenyataannya, ia mengetahui bahwa mengasihi Tuhan adalah sesuatu yang baik, namun ia masih menikmati permainan kartu itu. Kedua hal ini bersaing di atas orang itu—Tuhan bersaing dari dalam sementara kartu-kartu itu bersaing dari luar. Namun, suatu hari, kartu dapat kalah, dan Tuhan akan mendapatkan kemenangan. Cepat atau lambat kekuatan dari dalam dirinya akan mengalahkan kekuatan yang ada di luar dirinya. Seseorang yang membenci perbuatan-perbuatan dosa tidak akan melakukan hal yang demikian karena ia takut akan dosa. Orang Kristen membenci dosa karena Tuhan itu indah dan mereka memiliki kasih Allah di dalam mereka.
Setiap orang yang beroleh selamat di batinnya merasa bahwa Tuhan itu indah. Ini bukan masalah “pengetahuan,” karena mengetahui hanyalah masalah dari pikiran kita; sebaliknya, ini adalah masalah “perasaan.” Perasaan adalah sebuah masalah kepekaan di batin. Seorang yang beroleh selamat bukan hanya mengetahui bahwa Tuhan itu indah, tetapi ia juga merasakan bahwa Tuhan itu indah. Seorang Kristen dapat saja melakukan sebuah dosa yang besar. Ketika ia sedang melakukan dosa itu, ia mungkin saja, di satu pihak, menikmati kenikmatan dosa itu untuk sementara waktu, tetapi di pihak lain ia masih merasakan bahwa Tuhan itu indah. Maka dari itu, seorang Kristen hampir selalu merupakan suatu pertentangan. Hampir setiap orang Kristen berbeda di dalamnya dengan di luarnya. Jarang sekali kita menemukan seorang Kristen yang serasi di lahir dan di batinnya. Apakah yang dimaksud dengan serasi di lahir dan di batin? Ini adalah mengasihi Tuhan dan di dalam dan di luar. Sebagian besar orang Kristen mengasihi diri mereka secara lahiriah, tetapi secara batiniah mereka tetap mengasihi Tuhan. beberepa orang suka berdandan secara luaran, tetapi di batin mereka tetap mengasihi Tuhan. beberapa orang lainnya mengasihi istri mereka di luaran, tetapi di batinnya mereka masih tetap mengasihi Tuhan. Setiap orang Kristen sedikit atau banyak pasti mengasihi Tuhan. Di satu pihak, kita menyukai hal-hal yang penuh hawa nafsu, mode, dan pakaian, tetapi di pihak lain, kita merasa bahwa Tuhan benar-benar indah.
Meskipun ada tingkatan perasaan yang berbeda-beda, stiap orang Kristen sungguh merasa bahwa Tuhan itu indah. Inilah motivasi dari persembahan diri seorang Kristen. Setelah kita beroleh selamat, Tuhan menarik hati kita kepada diri-Nya sendiri terus menerus dengan berbagai cara dan melalui berbagai jenis lingkungan dan metode yang berbeda, agar kita mau berkata pada-Nya, “Oh Tuhan, Engkau bukan hanya bersungguh-sungguh mengasihi aku tetapi Engkau juga indah. Aku sepenuhnya mempersembahkan diriku pada-Mu.” Semua orang Kristen harus mengambil langkah awal ini, dan tidak ada seorang pun yang dapat lari dari hal ini. Siapapun yang tidak pernah memberikan dirinya bagi Tuhan tidak akan ada jalan untuk mengambil jalan Tuhan.
PERSEMBAHAN DIRI MERUPAKAN PERMULAAN DARI SEMUA PENGALAMAN
Setelah seseorang beroleh selamat, jika ia ingin memiliki sebuah pengalaman yang kaya akan Tuhan, langkah pertamanya adalah mempersembahkan diri. Jika seseorang tidak pernah memberikan dirinya kepada Tuhan setelah keselamatannya itu, ia tidak akan ada jalan untuk mengambil jalan Tuhan. Agar doa-doa kita dijawab, iman merupakan kepentingan yang vital, namun, seseorang yang tidak pernah memberikan dirinya kepada Tuhan tidak akan banyak memiliki iman. Hanya mereka yang benar-benar mempersembahkan diri mereka kepada Tuhan yang memiliki iman yang cukup. Setelah kita mempersembahkan diri dengan mutlak kepada Tuhan, maka iman akan muncul. Iman muncul dari persembahan diri. Lebih jauh lagi, jika seseorang damba menjadi milik Tuhan seutuhnya, ia juga harus mempersembahkan diri seutuhnya bagi Tuhan. Tidak ada seorang pun dapat menjadi kudus tanpa mempersembahkan dirinya kepada Tuhan. Seseorang tidak akan memiliki jalan untuk mengatasi sesuatu jika ia tidak mempersembahkan dirinya kepada Tuhan. Selanjutnya, tidak ada seorang pun yang dapat melihat terang kecuali ia mempersembahkan dirinya kepada Tuhan. seberapa baik kita berjalan di hadapan Tuhan semuanya tergantung pada persembahan diri kita. Hati manusia selalu berpaling kepada dunia, tetapi hanya ketika manusia berpaling kepada Allah maka Allah akan menyoroti dia dengan terang-Nya.
Misalkan ada cahaya terang di belakang saya. Jika saya tidak berbalik, saya tidak akan mendapatkan sinar terangnya, karena terang itu bersinar pada arah tertentu. Ketika hati manusia berpaling pada hal-hal selain Allah, tidaklah mungkin bagi Allah untuk menyoroti dia. Beberapa orang berdoa agar Allaah menyoroti mereka, tetapi mereka tetap tidak menerima sorotan terang apapun. Beberapa orang justru heran mengapa orang lain selalu menerima terang, tetapi mereka tidak pernah mendapatkan terang apapun. Hal ini semata-mata dikarenakan mereka telah berpaling dari Allah. Ketika mereka berbalik, terang Allah akan ada jalan untuk menerangi mereka. “Jika hati seseorang berbalik kepada Tuhan, maka selubung itu diambil dari padanya” (2 Kor. 3:16). Jika seorang Kristen tidak memiliki terang di dalam dirinya, hal ini menunjukkan bahwa di batin ia agaknya berpaling dari Tuhan. Manakala ia berpaling dari Tuhan, ia perlu berbalik kepada Tuhan. apakah persembahan diri itu? Persembahan diri adalah memalingkan seluruh diri kita. Ketika hati kita ada dalam dunia, secara spontan kita kita sedang berhadapan dengan dunia; maka, kita perlu berpaling. Ketika hati kita menghadap kepada Tuhan, dengan segera insan batiniah kita akan diterangi, dan kita akan mengetahui yang mana kehendak Allah dan mana yang bukan.
Lebih jauh lagi, agar seorang Kristen menjadi rohani, ia juga harus mempersembahkan dirinya kepada Tuhan. kita dapat menggunakan sebuah ilustrasi: Sebuah gelas dapat diletakkan di luar selama setengah hari ketika hujan deras turun, tetapi gelas itu tidak akan terisi bahkan dengan setengah tetes air. Mengapa tidak? Alasannya mengapa gelas itu tidak terisi penuh karena gelasnya terbalik. Meskipun curah hujan begitu hebat, gelas itu tidak memiliki setetes air pun. Semua anak Allah seharusnya diisi dengan Roh Kudus, dan seharusnya mudah bagi mereka untuk menerima kepenuhan Roh Kudus. Bahkan, beberapa orang selalu meminta kepenuhan Roh Kudus namun tidak pernah menerimanya. Apakah alasannya? Jika kita membalikkan gelasnya ke posisi yang benar, maka ia akan segera dipenuhi dengan air. Jika kita tidak mau memalingkan hati kita menghadap kepada Tuhan tetapi malahan mengahadap ke “bawah” memandang ke dunia, maka tidaklah mungkin bagi kita untuk dipenuhi dengan Roh Kudus dan menerima anugerah Allah. Namun, segera setelah ia memalingkan hatinya kepada Tuhan, ia akan segera dipenuhi dengan Roh Kudus. Semua orang yang telah mengalaminya dapat mempersaksikan hal ini. Lebih jauh lagi, seseorang juga harus mempersembahkan diri jika ia ingin bersekutu dengan Tuhan dan memiliki hadiratnya sepanjang waktu. Siapapun yang tidak mempersembahkan dirinya tidak dapat bersekutu dengan Tuhan; juga tidak dapat memiliki hadirat Allah. Kita dapat menggunakan sebuah ilustrasi dari sebuah lampu listrik. Jika sebuah lampu listrik memiliki kabel yang putus, maka arus listrik akan terputus pula. Dalam hal ini, memiliki satu kabel yang putus bearti sama saja memiliki dua kabel yang terputus. Maka dari itu, untuk menikmati persekutuan dengan Tuhan dan memiliki hadirat Allah, kita harus menjadi orang yang mempersembahkan diri.
ANUGERAH DAN BERKAT ALLAH TURUN KE ATAS ORANG YANG MEMPERSEMBAHKAN DIRI
Mengasihi Tuhan dan percaya kepadanya adalah sama pentingnya. Kita harus percaya Dia dan mengasihi-Nya; baru anugerah-Nya, berkat-Nya, dan hadirat-Nya turun ke atas kita. Agar anugerah, berkat dan hadirat Allah turun ke atas kita, kita harus mengasihi Dia. Tentu saja, mereka yang tidak percaya kepada Allah tidak akan mengasihi Allah; untuk mengasihi Allah, pertama-tama ia harus percaya. Jika kita mengasihi Dia, kita akan berpaling kepada-Nya. Kita selalu mendengar ada orang yang mengatakan bahwa kita harus menunggu Allah, tetapi sebenarnya Allah-lah yang menunggu kita. Allah sedang menunggu kita agar berpaling kepada-Nya, agar Ia dapat menjawab doa-doa kita dan memberi kita kekuatan. Bukannya kita yang menunggu Allah, tetapi Allahlah yang sedang menunggu kita. Seperti yang sudah diilustrasikan di atas, di luar mungkin hujannya sangat deras, tetapi jika gelasnya terbalik, bagaimana kita dapat mengharapkan air hujan masuk ke dalam gelas itu? Jika seseorang tidak mau berpaling kepada Tuhan, bagaimana kasih karunia Allah dapat turun ke atas orang itu? Allah selalu menunggu kita untuk berbalik dari bumi ke surga. Maka, bukan manusia yang menunggu anugerah Allah, tetapi Allahlah yang sedang menunggu manusia untuk menerima Dia sebagai anugerahnya hari demi hari.
Berikut ini ada masalah: Tidaklah mudah bagi hati manusia untuk berbalik kepada Tuhan. Hanya mereka yang pernah dijamah oleh kasih Allah yang dapat dengan mudah mendapatkan iman setelah mereka mempersembahkan dirinya kepada Tuhan. Mereka yang tidak memiliki kekudusan akan dengan mudah mendapatkan kekudusan setelah mereka mempersembahkan diri. Mereka yang tidak memiliki terang akan dengan mudah mendapatkan terang itu kembali setelah mempersembahkan diri. Mereka yang tidak memiliki hadirat Allah akan memilikinya setelah mereka mempersembahkan diri. Mereka yang tidak memiliki kekuatan akan memiliki kekuatan di dalam penghidupan mereka sehari-hari setelah mereka mempersembahkan diri. Semuanya tergantung pada berpaling atau tidaknya hati kita kepada Allah. Jika hati kita berpaling kepada Allah, maka Allah sendiri, anugerah Allah, terang rohani, dan kekayaan rohani akan dicurahkan ke dalam kita. Tetapi jika hati kita tidak berbalik kepada Tuhan, bahkan jika Allah mengaruniakan kita anugerah-Nya, tidak ada jalan bagi anugerah itu untuk masuk ke dalam kita, sama seperti air hujan tadi tidak dapat masuk ke dalam gelas itu.
Apakah persembahan diri itu? Persembahan diri ialah berpaling kepada Tuhan. Dulunya, kita menginginkan sesuatu yang selain Allah, tetapi sekarang kita terdorong oleh kasih Allah dari dalam hati kita , kita berpaling kepada Allah, dan kita hanya mau diri Allah sendiri. Barangsiapa berpaling kepada Tuhan dengan cara ini, ia akan dengan mudah menjamah Allah dan menerima anugerah-Nya. Jika kita mau memberikan diri kita kepada Allah seperti ini, ketika kita berdoa, doa kita akan menjadi sangat istimewa; ketika kita membaca Alkitab, Alkitab akan penuh dengan terang bagi kita; ketika kita memberitakan injil, pemberitaan injil kita akan menjadi sangat kuat. Seorang Kristen seharusnya mempersembahkan diri dengan mutlak kepada Allah sedikitnya satu kali, bahkan berkali-kali. Kemudian, jika setelah sejangka waktu ia merasa bahwa persembahan dirinya yang dahulu kurang menyeluruh, ia harus mempersembahkan diri mutalk seluruhnya untuk yang kedua kalinya. Setelah beberapa lama kemudian ia bahkan mungkin merasa bahwa persembahan dirinya yang kedua masih kurang mutlak. Maka ia harus sekali lagi mempersembahkan dirinya. Bahkan setelah sejangka waktu yang sangat panjang, ia boleh segera mempersembahkan dirinya dengan mutlak kepada Tuhan sekali lagi. Semakin ia mempersembahkan diri kepada Tuhan seperti ini, semakin ia akan menjamah Tuhan dan semakin ia akan didapatkan oleh Tuhan. Seorang yang seperti itu akan berjalan di jalan Tuhan dan akan bertumbuh dalam hayat setiap harinya.
SETELAH MEMPERSEMBAHKAN DIRI HARUS MUTLAK PATUH PADA PERASAAN YANG BATINI
Setelah kita mempersembahkan diri kepada Tuhan, kita harus mengikuti perasaan Tuhan dengan mutlak. Setelah kita mempersembahkan diri kepada Tuhan, insan batiniah kita akan diterangi. Sebagai hasilnya, kita akan tahu apa yang menyenangkan Tuhan dan kita akan mengikuti perasaan batiniah kita. Roma 12:1 berkata bahwa kita seharusnya mempersembahkan tubuh kita sebagai persembahan yang hidup kepada Tuhan. jika kita mempersembahkan diri kita kepada Allah dengan cara ini, hasilnya adalah kita akan mengetahui apa yang akan menyenangkan dan menggenapi kehendak Allah. Allah akan memberi tahu kita apa yang menyenangkan diri-Nya, dan ia juga akan memberi tahu kita apa yang tidak menyenangkan bagi-Nya. Ketika Ia melakukan hal ini, kita harus menaati setiap perasaan di dalam kita dengan mutlak. Jika seorang Kristen semata-mata mendengarkan doktrin dan nasihat-nasihat tanpa mempraktekkan mengikuti pimpinan Tuhan di batin dan tidak berjalan di jalan Tuhan, pendengarannya tidaklah ada artinya. Hal yang paling mustika akan seorang Krsiten adalah bahwa setelah ia mempersembahkan dirinya kepada Tuhan, ia dapat merasakan apa yang menyenangkan bagi Tuhan, apa yang tidak menyenangkan bagi-Nya, dan mampu hidup menurut perasaan itu. Inilah perkara yang bernilai dalam pengalaman orang Kristen.
Ada seorang saudari yang sangat modis. Suatu hari ia memberikan dirinya kepada Tuhan dan berkata, “Oh Tuhan, mulai saat ini, aku mempersembahkan diriku pada-Mu. Aku tidak ingin apapun yang selain Engkau; apakah aku dapat hidup dengan cara ini atau tidak, aku tidak peduli. Aku hanya mempersembahkan diriku pada-Mu.” Dua atau tiga hari setelah ia berdoa demikian, ia mengenakan sebuah pakaian yang sangat modis ke sidang. Tidak ada yang memberi tahu dia bahwa ia tidak seharusnya mengenakan baju yang demikian, dan ia tidak pernah membaca di dalam Alkitab bahwa ia tidak seharusnya memakai baju yang demikian itu. Maka dari itu, setelah persembahan dirinya, ketika ia mengambil baju itu dari lemarinya, di dalamnya ia merasa bahwa ia tidak seharusnya berpakaian demikian. Ia tidak mengerti, ia berdiri sebentar sambil mengamat-amati apakah berdosa atau tidak bila ia mengenakan baju itu. Kemudian ia mengambil baju itu dari lemarinya, dan perasaan yang tidak nyaman tetapi ada di dalam dirinya. Setelah ia mengenakan baju itu, ia bahkan lebih merasa tidak nyaman. Kemudian ia memberi alasan pada dirinya sendiri bahwa dulu ketika ia menghadiri sidang Pemecahan roti, pemberitanya tidak pernah memberitahukan padanya bahwa ia tidak diijinkan untuk mengenakan pakaian itu. Pada akhirnya, ia meninggalkan rumah dengan memakai baju tersebut.
Setelah ia meninggalkan rumah, ia memiliki perasaan bahwa ia harus segera kembali ke dalam rumahnya, tetapi masih belum mengerti mengapa ia harus kembali. Ketika ia sedang berjalan, insan batiniahnya berbantahan dengannya, “dulu kamu dapat mengenakan pakaian ini, tetapi tidak hari ini. Orang lain boleh mengenakan pakaian ini tetapi kamu tidak boleh.” Ia benar-benar menyadari bahwa tidak ada damai di dalamnya. Ketika ia tiba di pintu masuk ruang sidang, desakan di dalamnya untuk pulang kembali ke rumah telah membuatnya sangat tidak nyaman. Ia tidak ada cara untuk mengatasi perasaan yang menekan itu, maka saat itu juga ketika ia sedang menyeberang palang pintu balai sidang itu, ia berbalik dan segera pulang ke rumahnya. Ketika ia pulang ke rumah, ia benar-benar terbebaskan karena insan batiniahnya selaras dengan insan lahiriahnya. Setelah ia kembali lagi ke balai sidang dengan mengenakan baju yang lain, sidang hari itu menjadi kenikmatan yang tidak pernah ia rasakan sebelumya. Hari itu ia telah belajar satu pelajaran bahwa manusia dapat dengan sungguh-sungguh memperhidupkan Allah dan berada dalam persekutuan dengan Dia.
Seberapa jauh seseorang berjalan dalam jalan Tuhan seluruhnya tergantung pada seberapa banyak ia hidup di hadapan Tuhan. Ketika hati kita berpaling kepada Tuhan, kita akan memiliki perasaan Allah dengan segera dan mengetahui apa yang berasal dari Allah dan apa yang bukan. Pengalaman yang seperti ini hanya diberikan kepada mereka yang sedang berjalan pada jalan Allah. Penghidupan yang seperti itu bukan menuruti hayat manusia alamiah kita, tetapi menurut hayat yang di dalam kita.
Ada seorang saudari yang pernah membeli beberapa kain. Di toko kain itu ia melihat ada sepotong kain wool. Ia ingin membelinya, tetapi perasaan di batinnya memberi tahu dia utnuk tidak membelinya melainkan mengirimkan uangnya ke suatu tempat tertentu untuk membantu pekerjaan Tuhan di sana. Setelah ia mempertimbangkan sejenak, ia membeli kain itu. Setelah ia pulang ke rumahnya, ia merasa sangat tidak damai selama tiga hari. Setelah tiga hari ia memberitahukan kepada seorang saudara mengenai masalah itu. Ia berkata padanya, “saya telah membeli sepotong kain, tetapi sebenarnya saya telah membeli sebuah dosa.” Saudara tersebut tanpa di duga memang sedang memerlukan beberapa potong kain, jadi ia meminta saudari tersebut untuk menjual kain kembali itu padanya. Kemudian saudari itu mengikuti perasaan batinnya dan mengirimkan uang yang telah ia terima dari pembelian kain itu untuk pekerjaan Tuhan.
Kita harus menaati perasaan batiniah ini. Kalau tidak, cepat atau lambat kita harus mengakui dosa ketidaktaatan ini, sama seperti yang dilakukan saudari tadi. Hal ini menunjukkan bahwa seseorang yang berjalan di jalan Allah, harus, sedikitnya, memperhatikan beberapa masalah ini: mengakui semua dosanya dengan tuntas di hadapan Allah, dengan jelas menanggulangi semua dosanya di hadapan dunia, dan mempersembahkan diri seluruhnya kepada Tuhan. dengan melakukan hal ini, ia akan memiliki hadirat Allah di dalamnya, dan ia akan mampu bersekutu dengan Tuhan dan memiliki perasaan Tuhan. Ketika ia memiliki perasaan Tuhan, ia harus menaati setiap perasaan yang ia terima dari Tuhan. Semakin ia menaati perasaan-perasaan ini, maka insan batiniahnya akan menjadi semakin peka. Semoga Tuhan membelaskasihani kita. Kiranya Ia menyelamatkan kita semua dari menjadi orang yang hanya mendengarkan doktrin semata dan menjadikan kita orang yang berjalan di jalannya dengan sebuah hati yang berpaling.