← Daftar isi Hati yang Murni · bab 3/9

PENGAKUAN ATAS DOSA-DOSA KITA DAN MEMINTA SOROTAN TERANG MENANGGULANGI DOSA-DOSA YANG DI LUAR DAN YANG DI DALAM

Setelah seseorang diselamatkan, jika ia ingin maju dalam hayat, ia harus dengan teliti disucikan dari segala ragi. Ini artinya ia harus menanggulangi setiap situasi yang tidak tepat di mata Tuhan dan setiap perkara yang dihakimi oleh Tuhan. namun, ia tidak seharusnya hanya menanggulangi hal-hal yang di luaran saja, tetapi ia juga harus mengaku dosa kepada Tuhan, dari dalam hatinya atas semua perbuatan dosa yang di dalam.

Manusia selalu memiliki lebih banyak masalah yang di batin dari pada di lahiriahnya. Ia mungkin saja memiliki banyak masalah lahiriah yang patut dicela, tetapi masalah yang batinnya dan kejahatan yang di dalamnya jauh lebih banyak dari masalah yang di luarnya. Masalahnya yang dilahiriahnya semata-mata berhubungan dengan tingkah lakunya, tetapi masalahnya yang di batinnya berhubungan dengan pikirannya, opini, dan bahkan lebih jauh lagi berhubungan dengan “diri”nya. Sangatlah mungkin bagi seseorang untuk berbuat salah dalam hatinya dari pada berbuat salah secara lahiriahnya. Ini artinya bahwa seorang itu dapat saja penuh dosa di batinnya, namun di lahirnya ia tidak bertingkah laku dalam cara yang berdosa. Di dalam manusia terdapat dosa, kejahatan, dan kegelapan, tetapi secara luaran hal-hal ini tampaknya tidak diekspresikan sama sekali. Maka dari itu, jika ada seorang yang ingin bertumbuh dalam hayat setelah ia diselamatkan, ia seharusnya menanggulangi dosa yang dilakukan di luaran dan hal-hal yang tidak tepat, tetapi ia seharusnya terus menerus datang kepada Tuhan untuk menanggulangi kondisi di batin yang sesungguhnya. Ketika Tuhan menanggulangi kita dan membasuh kita, fokus-Nya adalah pada insan batiniah kita.

Seseorang mungkin di luar tampaknya benar tetapi secara bersamaan ia salah dan tidak benar dalam batinnya. Dalam kitab-kitab Injil Tuhan menghardik orang-orang Farisi dengan mengatakan, “Celakalah kamu, hai ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi, hai kamu orang-orang munafik, sebab kamu sama seperti kuburan yang dilabur putih, yang sebelah luarnya memang bersih tampaknya, tetapi yang sebelah dalamnya penuh tulang belulang dan pelbagai jenis kotoran” (Mat.23:27). Ini berarti bahwa ada beberapa orang yang tampaknya seperi kuburan yang dilabur putih: di luaran mereka tampak bersih, tetapi mereka tidak ingin orang lain tahu kondisi di dalam mereka, dan mereka tidak mengijinkan orang lain melihat kotornya insan batiniah mereka. Kebanyakan tingkah laku lahiriah seseoranglah yang patut dicela, tetapi kejahatan di batinnya yang seringkali lebih patut dicela. Keperluan batin manusia jauh lebih besar dari keperluan lahiriahnya. Seringkali setelah seseorang diselamatkan, sebut saja secara luaran, ia sangat baik dan hampir-hampir tanpa cela, tetapi dua atau tiga tahun kemudian, ia masih saja tidak memiliki banyak kemajuan dalam hayat. Ini karena masalahnya bukan yang di lahirnya tetapi yang di batinnya. Tingkah laku lahiriahnya memang baik, namin insan batiniahnya ada kesalahan. Kebanyakan tingkah laku kita yang di lahir dilakukan di hadapan orang, namun tindakan insan batiniah kita di hadapan Allah. seseorang seharusnya tidak hanya mengakui perbuatan dosa yang di lahirnya saja di hadapan Allah, bahkan terlebih lagi, ia seharusnya mengakui perbuatan dosa yang ada di batinnya. Ketika Tuhan menyoroti kita, Ia bukan hanya menyoroti tindakan lahiriah kita, tetapi juga insan batiniah kita.

MENGAKU DOSA MELALUI DITERANGI OLEH ALLAH

Ada beberapa orang yang telah lama diselamatkan, namun mereka tidak pernah ada waktu untuk mengaku dosa di hadapan Allah. Kita semua mengakui bahwa Tuhan Yesus adalah Juruselamat Kita, tetapi sampai pada hari ini kita masih belum mengakui semua dosa di batin kita di hadapan Allah. Beberapa orang mungkin mengatakan bahwa mereka tidak pernah merasa bahwa mereka berdosa. Tentu saja, perkataan ini salah; seseorang dapat saja penuh dosa tetapi ia tidak merasakan bahwa ia berdosa. Menurut faktanya, ia penuh dosa, tetapi menurut perasaannya, ia tidak merasa bahwa ia berdosa. Di hadapan Allah ia berdosa, tetapi di dalam perasaannya sendiri ia tidak memiliki perasaan apapun bahwa ia berdosa.

Suatu hari di Shanghai, ketika saya masuk ke dalam sebuah kantor urusan gereja, setiap orang menertawakan saya ketika mereka melihat saya. Saya bertanya kepada mereka apakah ada yang salah. Kemudian seorang saudara membawakan sebuah kaca, dan saya melihat bahwa saya telah mengotori diri saya tanpa mengetahui kapan saya telah melakukannya dan tanpa adanya perasaan apapun mengenai kotoran itu. Dalam realitasnya, saya telah mengotori diri saya, namun menurut perasaan saya, saya masih bersih. Banyak sekali orang yang seperti itu di hadapan Allah. Dalam kenyataannya, mereka benar-benar penuh dengan kotoran, namun mereka masih merasa bahwa mereka baik-baik saja. Perasaan yang subyektif ini jauh dari kenyataannya. Ada banyak contoh yang seperti itu di dalam Alkitab. Sebelum seseorang berjumpa dengan Allah, ia berpikir bahwa ia orang yang baik, tetapi ketila ia menjamah Allah, ia menyadari dengan segera bahwa ia salah. Mengapa hal ini terjadi? Karena Allah adalah terang, dan Allah adalah seperti sebuah kaca. Setiap orang yang melihat terang menemukan dirinya berdosa di hadapan Allah. Alasan seseorang dapat melihat apapun, termasuk wajahnya sendiri, adalah karena berhubungan dengan terang. Sebagai contoh, jika ada sebuah rumah yang gelap dan tidak ada terang di sana, bahkan mungkin rumah itu penuh dengan sampah, tidak ada orang yang akan merasa bahwa rumah itu kotor. Namun, sekali ada sorotan terang yang bersinar masuk ke dalam rumah itu, kita akan dapat melihat dengan jelas. Jika terangnya cukup kuat, kita bahkan akan dapat melihat debunya dengan jelas. Bakteri dapat dilihat dengan jelas di bawah sebuah mikroskop; mereka tidak dapat melarikan diri hingga tak dapat dilihat. Banyak dokter yang mengatakan bahwa di bawah sinar terang yang cukup kuat dan sebuah mikroskop yang baik, apapun yang seseorang lihat akan terlihat kotor.

Setiap orang adalah berdosa di hadapan Allah, tetapi tidak semua orang yang dapat melihat bahwa orang itu berdosa. Di dalam Perjanjian Baru, ketika seseorang datang kepada Allah, ia akan dengan segera merasakan bahwa ia berdosa. Ketika nabi Yesaya diterangi, dengan segera ia menemukan bahwa ia najis. Ketika serafim dari surga berkata, “Kudus, kudus, kudus,” Yesaya berkata, “Celakalah aku! Aku binasa! Sebab aku ini seorang yang najis bibir, dan aku tinggal di tengah-tengah bangsa yang najis bibir” (Yes. 6:3, 5). Sedikitnya ada empat hal yang najis di dalam kita: bibir atas kita, bibir bawah kita, lidah kita dan kerongkongan kita. Beberapa orang mengatakan, “Itu tidak benar; bibirku, lidahku, dan kerongkonganku semuanya sangat bersih.” Namun, suatu hari ketika kita benar-benar diterangi oleh Allah, kita akan melihat bahwa tidak ada bagian dari tubuh kita yang lebih berdosa dari pada bibir kita.

Tidak peduli siapa orangnya, ketika Allah datang kepadanya, ia akan mengakui dosa-dosanya. Bahkan dua jam tidak akan cukup baginya untuk mengakui semua dosanya. Bahkan kita tidak tahu berapa banyak dosa lidah dan bibir yang telah kita lakukan, kita tidak tahu bahwa kita telah mengatakan hal-hal yang tidak seharusnya kita katakan, dan bahwa pembicaraan kita seringkali tercampur dengan sedikit kejahatan dan kelicikkan. Selama bibir seseorang bersih, ia adalah seorang yang bersih. Bahkan hari ini, bibir siapakah yang tidak berdosa dari pagi sampai pada saat ini? Beberapa orang mungkin berkata bahwa mereka benar dan mereka tidak memiliki dosa. Namun ketika seseorang benar-benar menjamah Allah, ia akan segera melihat bahwa ia bukan hanya memiliki beberapa dosa pribadi tetapi setumpukan dosa di atas dosa yang lain. Setelah ia mengakui beberapa dosanya ini, ia masih memiliki beberapa dosa lain yang harus diakuinya. Sebenarnya, masih ada banyak lagi yang harus diakui.

Salah seorang teman injil memberitahu saya bahwa sebelum ia diselamatkan, ia mengira bahwa ia adalah seorang laki-laki yang bersahaja. Saya juga mengakui bahwa temperamennya memang seorang laki-laki yang bersahaja dan benar. Namun, suatu hari ia sakit dan mulai menderita beberapa jenis penyakit; tekanan darah tinggi, sakit jantung, sakit paru-paru, dan sebagainya. Setelah ia menginap di rumah sakit untuk waktu yang lama, ia masih belum juga pulih. Suatu hari ia benar-benar menjadi sangat putus asa dan mulai merenungkan, sambil berbaring di atas tempat tidurnya, orang macam apakah dia itu. Semakin ia memikirkan tentang dirinya, semakin ia menemukan bahwa dirinya baik; semakin ia menilai dirinya lebih jauh lagi, semakin ia masih saja menemukan bahwa ia orang yang baik. Namun, pada saat itu, ketika ia melihat sebuah Alkitab di sampingnya. Pada saat itu ia belum percaya kepada Yesus, dan ia tidak tahu arti keselamatan. Ia membuka Alkitab, membacanya sedikit, dan tiba-tiba, ia menemukan bahwa ada sesuatu yang salah di dalam dirinya—sesuatu yang belum pernah ia temukan sebelumnya. Ia menyadari bahwa ada sesuatu di dalam pikirannya yang tidak benar, jadi ia mengaku dosa itu di hadapan Allah. Segera setalah ia mengaku dosa itu, perasaan yang kedua muncul, menyebabkan ia mengaku dosa keduanya itu. Kemudia perasaan yang ketiga muncul juga dan ia mengaku dosa untuk dosa yang ketiga itu, kemudian dosa yang keempat, dan dosa yang kelima.ia mengakui dosa-dosanya dengan cara ini, sampai pada akhirnya ia kehilangan jejak akan berapa banyak dosa yang telah diakuinya. Setelah beberapa saat ia merasa bahwa karena ia memiliki begitu banyak dosa, ia seharusnya tidak melanjutkan mengaku dosa sambil berbaringdi atas ranjangnya, jadi ia kemudian bangkit dan membungkukkan dirinya di depan ranjangnya. Setelah ia mengaku dosa-dosanya yang lain lagi, ia melepaskan pegangan tangannya dari tempat tidurnya dan sepenuhnya bersujud di lantai, menangis dan mengaku dosa secara bersamaan. Sedikitnya selama tiga jam ia merasa bahwa semakin ia mengakui dosanya, semakin banyak dosa yang harus diakuinya. Dahulu ia tidak merasa bahwa ia bersalah, tetapi pada hari itu perasaannya sama sekali berbeda. Pada awalnya ia hanya merasa bahwa ia hanya bersalah sedikit. Tetapi sekali ia mengaku dosa, dosa yang lain muncul; ia mengaku dosa lagi, dosa yang ketiga muncul. Hal ini berlanjut terus sampai ia lupa waktu—di satu sisi mengaku dosa dan di sisi lain ia menangis. Meskipun ia adalah seorang pria yang cukup kuat dan telah merampungkan karirnya, ia telah diselamatkan! Keselamatannya bukan keselamatan yang biasa, tetapi keselamatan melalui ia mengakui semua dosan-dosanya.

Lukas 5 mencatat sejarah Petrus. Awalnya Petrus tidak menyadari bahwa ia berdosa, tetpi ketika Tuhan menyoroti dia, ia segera berkata, “Tuhan, pergilah dari padaku, karena aku ini seorang berdosa” (ay. 8). Dalam Perjanjian Lama Ayub juga merupakan seorang yang tidak menyadari dosa-dosanya sampai Allah menyoroti dia. Ketiga temannya memberi tahu dia bahwa ia telah berdosa di hadapan Allah, tetapi Ayub tidak setuju dan ingin beradu pendapat dengan Alah untuk melihat di manakah dosa-dosanya (Ayub 5—6). Hal ini menunjukkan bahwa Ayub berada di dalam kegelapan; ia tidak pernah menjamah Allah atau melihat terang. Namun, di akhir kitab Ayub, ia berjumpa dengan Allah dan berkata kepada-Nya, “Hanya dari kata orang saja aku mendengar tentang Engkau, tetapi sekarang mataku sendiri memandang Engkau. Oleh sebab itu aku mencabut perkataanku dan dengan menyesal aku duduk dalam debu dan abu” (42:5-6). Mengapa ia bertobat? Ia bertobat karena ia melihat kenajisan. Kita semua kotor dan najis di hadapan Tuhan. Seseorang yang telah menjamah Allah melihat kekotorannya, dan seseorang yang diterangi oleh Allah merasakan kenajisannya. Tetapi seseorang yang tidak pernah menjamah Allah atau melihat terang, meskipun ia najis dan kotor, ia tidak memiliki perasaan apapun akan kekotorannya itu. Setiap saat seseorang menjamah Allah, ia akan melihat bahwa ia penuh dosa dan ia tersusun dari dosa.

Lebih dari seribu lima ratus tahun yang lalu ada seorang pria yang bernama Agustin. Ketika ia masih muda, ia menjalani kehidupan yang suka mabuk-mabukan dan bertindak amoral. Ibunya sangat mengasihi Tuhan dengan taat dan selalu berdoa bagi anak lelakinya itu. Suatu hari Agustin tiba-tiba memiliki suatu perasaan dan bertanya pada dirinya sendiri mengapa ia hidup dalam kemabukan dan tidak berpaling kepada Allah. Saat itu juga ia bertobat. Ia sangat heran, pada hari itu ia menemukan bahwa semkain ia mengaku dosa, semakin banyak dosa yang ia miliki. Tampaknya sebelum ia mengaku dosa ia tidak begitu banyak memiliki dosa, tetapi semakin ia mengaku, semakin hebat dan banyaknya doa yang ia miliki. Kemudian, ia menulis sebuah buku yang diberi judul Confession, yang mana di dalamnya ia menggambarkan pengalaman pengakuan dosanya. Ia mengakui dosanya sampai pada taraf dimana ia berkata sesuatu yang seperti ini, “Bahkan penyesalan di dalam pengakuan dosaku perlu diampuni oleh Allah; bahkan air mata yang aku teteskan karena kesedihan akibat dosaku perlu dibasuh dengan darah yang adi.” Dapatkah Anda bayangkan sampai sejauh mana pengakuan dosa orang ini? Meskipun ia telah mengakui semua dosanya, ia masih merasa bahwa bahkan penyesalan dalam pengakuan dosanya perlu diampuni oleh Allah.

Seseorang yang di hadapan Allah dan yang menjamah Allah seharusnya melihat bahwa ia berdosa. Semakin ia mengakui dosa-dosanya, semakin ia merasa kekotorannya; semakin ia merasa kekotorannya, semakin ia datang kepada Allah; dan semakin ia datang kepada Allah, semakin ia menemukan bahwa dirinya berdosa. Setiap orang yang telah diselamatkan, dari semenjak Allah memimpinnya berjalan di jalan ini, ia harus melewati pengalaman ini. Dari saat kita diselamatkan sampai pada hari ini, pernahkah kita memiliki pengakuan dosa yang tuntas menyeluruh di hadapan Allah? Ini adalah pertanyaan yang sangat serius. Banyak orang tidak memiliki masalah apapun dengan keselamatan mereka, tetapi hal ini dapat dipertanyakan apakah mereka pernah memiliki pengakuan dosa yang tuntas atau tidak.

Pertama kali saya mengaku dosa dengan tuntas setelah keselamatan saya bukan hanya satu atau dua jam saja, tetapi dalam waktu yang sangat lama. Saya telah diterangi oleh Tuhan sampai pada taraf dimana bahkan sikap saya yang duduk saat itu telah membuat saya merasa bersalah. Sepertinya kalau saya berkata ya, saya telah berdosa, dan jika saya berkata tidak, saya juga telah berdosa. Kita semua terlahir najis. Setiap pikiran dan maksud kita adalah najis. Ketika seorang bayi dilahirkan dan pertama kali ia bersuara, mulutnya begitu murni. Tetapi lambat laun ketika ia mulai belajar berbicara, mulutnya tidak lagi murni. Setelah ia mulai sekolah di SD, ketika Anda bertanya sesuatu kepadanya, ia akan membelalakkan matanya. Kemudian ketika ia berbicara Anda tahu bahwa pembicarannya adalah dengan sebuah maksud tertentu. Kata apapun yang diucapkan dengan sebuah maksud tertentu adalah najis.

Dari tahun 1931 sampai saat sekarang ini, saya etlah mengakui dosa-dosa saya hampir setiap hari. Suatu kali saya sangat terganggu dengan sebuah masalah tertentu dan saya datang ke hadapan Allah dan mengaku dosa. Pada saat-saat terakhir pengakuan dosa saya itu, muncul dua kalimat yang belum pernah saya dengar sebelumnya. Saya menjawab di dalam doa, “Oh Tuhan, di hadapan-Mu aku bukan hanya kotor, pada dasarnya aku adalah setumpuk kotoran. Aku bukannya hanya seorang yang bersih namun telah tercemar dan menjadi najis; aku bukan hanya itu Tuhan, aku adalah insan yang tersusun dengan kenajisan. Oh Tuhan, aku bukan hanya salah, tetapi aku sedang terususun dengan kesalahan.” Saya diterangi oleh Allah sampai taraf dimana saya menyadari bahwa saya adalah susunan dari kenajisan, dan saya adalah susunan dari kesalahan. Kedua kalimat inilah yang telah menerangi saya. Kita bukan hanya berdosa tetapi kita juga merupakan susunan dosa. Ketika Tuhan menerangi kita, kita dengan segera melihat kekotoran dan kejahatan kita. Jika kita tidak pernah mengijinkan Allah menerangi kita, kita tida berjalan, atau maju, bahkan selangkah ke hadapan Allah. Ketika Tuhan menginginkan kita untuk melanglah lebih jauh, pertama-tama Ia harus menerangi kita dan membasuh kita. Setiap orang yang belum pernah diterangi dengan tuntas, tidak peduli sudah berapa lama ia diselamatkan, seberapa banyak doktrin yang dipahaminya, atau seberapa dalam ia mengenal Alkitab, meskipun ia telah selamat, ia tidak pernah berjalan selangkah pun di jalan Tuhan. Langkah pertama Allah dalam menyoroti kita adalah selalu membasuh kita dengan tuntas.

SYARAT-SYARAT BAGI SESEORANG UNTUK DITERANGI

Orang-orang mungkin berada pada kondisi yang beragam ketika mereka diterangi oleh Allah. Sebagai hasilnya, ketika mereka gembira, mereka datang bersidang; dan ketika mereka gembira, mereka berdoa; tetapi ketika mereka tertekan, mereka tidak bersidang ataupun berdoa. Namun, seringkali ketika orang-orang seperti ini berjalan di jalanan atau belajar, mereka tiba-tiba memiliki sebuah perasaan di dalam mereka bahwa mereka harus datang kepada Tuhan dan berdoa. Sekali mereka berdoa, mereka dengan segera akan merasakan bahwa mereka berdosa, dan semakin mereka mengaku dosa, semakin mereka menemukan diri mereka penuh dosa. Dengan cara ini mereka dipulihkan oleh Tuhan, dan banyak orang mungkin akan heran akan apa yang telah terjadi pada mereka. Ketika mereka diterangi di dalam mereka dan digairahkan oleh Tuhan, mereka langsung melangkahkan langkah mereka yang pertama—mereka bertobat, mengakui dosa-dosa mereka, membasuh diri mereka, dan mulai membaca Alkitab. Semakin mereka membaca Alkitab, semakin mereka dipenuhi dengan terang. Sebagai hasilnya, mereka suka memberitakan injil. Pada mulanya mereka tidak memiliki hati bagi Allah, tetapi mereka telah dipilih dan diterangi oleh Allah.

Ada jenis orang yang lain lagi, yang kondisi batinnya diekspos ketika ia sedang mendengarkan sebuah berita. Pada saat itulah ia mengaku dosanya dengan tuntas dan penuh dengan kesegaran. Seseorang yang lain mungkin tertarik dengan mendengarkan kesaksian-kesaksian dari orang lain. Sebagai hasilnya, ia datang kepada Tuhan dan memohon sorotan terang-Nya. Pada akhirnya, ia juga diterangi oleh Allah dan mengaku dosanya dengan tuntas. Orang yang lain lagi, setelah bersekutu dengan kaum saleh, ia merasa bahwa ia harus datang kepada Tuhan dan diterangi oleh-Nya. Sebagai hasilnya, ia juga menerima sorotan Tuhan, maka dari itu ia mengakui dosanya dengan tuntas. Masih ada lagi jenis orang yang lain, yang menerima perasaan bahwa ia berdosa ketika ia sedang berada di sebuah sidang doa baik dengan sejumlah kecil atau besar kumpulan kaum saleh yang sedang berdoa. Ketika ia menerima perasaan ini, ia mengaku dosa dengan tuntas dan menerima sorotan terang. Orang yang lain mungkin mendengar nasihat dari orang lain dan menyadari bahwa bagi seorang Kristen, untuk maju dalam hayat harus mengaku dosanya dengan tuntas. Sebagai hasilnya ia berdoa, “Oh Tuhan, aku berdoa agar Engkau menyoroti aku dan mengampuni semua dosaku.” Ia berdoa dengan cara ini selama satu atau dua hari, dan pada hari yang ketiga, Allah benar-benar menyorotinya. Akhirnya, ada pula seorang yang lain yang berdoa dan Tuhan secara perlahan menunjukkan padanya bahwa ia berdosa.

Sebuah keputusan merupakan sebuah ekspresi dari pencarian kita di hadapan Allah. Maka dari itu kita semua perlu datang kembali kepada Allah dan memberitahu kepada-Nya, “Oh Tuhan, aku perlu sorotan-Mu. Jadi aku mohon Engkau menyorotiku dan menunjukkan dosa-dosaku. Aku tahu bahwa ada sebuah prinsip di sini: jika aku tidak diterangi dan dosa-dosaku tidak diekspos, tidak ada jalan bagiku untuk bertumbuh dalam hayat.” Doa yang semacam ini adalah salah satu doa yang Tuhan mau untuk menjawabnya dan Ia akan segera menjawabnya.

Seorang yang lain lagi mungkin ia telah diterangi ketika ia meminta sesuatu dari Allah. Allah tidak memberikannya kepadanya, melainkan menunjukkan bahwa ia salah. Situasi yang seperti ini sangat umum di antara anak-anak. Seorang anak mungkin mau datang kepada ayahnya untuk mendapatkan sebuah permen dan mengulurkan tangannya yang kecil dan berkata dengan cara yang manja, “Ayah, berikanlah aku sebuah permen.” Kemudian ayahnya akan berkata, “Lihatlah tanganmu, tanganmu kotor. Cucilah dahulu.” Kemudian anak itu mungkin mencuci tangannya dan meminta lagi permen tersebut. Kemudian ayahnya mungkin akan mengambil sebuah cermin dan meminta anaknya itu melihat wajahnya yang kotor, dan anak itu akan membasuh wajahnya. Setelah ia membasuh wajahnya, ia mungkin akan meminta permen itu lagi. Lalu ayahnya akan menunjukkan lehernya yang kotor serta pakaiannya yang kotor pula. Jadi pada akhirnya, setelah ia membasuh leher dan mengganti pakaiannya, seluruh dirinya menjadi bersih. Hal ini sama halnya dengan orang-orang yang ketika mereka datang berdoa kepada Tuhan; mereka meminta Allah untuk hal ini dan itu. Allah bukan hanya menjawab mereka, tetapi Ia juga menunjukkan kepada mereka betapa najisnya mereka itu. Tak lama kemudian mereka tahu apa itu mengikuti Tuhan, mengabaikan dunia, dan menolak dosa. Dan hal itu terjadi pada saat mereka akan memulai penghidupan rohani mereka.

Jika seseorang tidak memiliki pengalaman akan diterangi ini, maka ia paling banyak hanya akan mengerti doktrin-doktrin semata dan tidak akan pernah memulai jalan penghidupan rohaninya. Ia tidak akan memiliki kebencian terhadap dosa; juga tidak akan memiliki perasaan apapun terhadap kekotoran. Ia akan tetap berada di jalan ini sampai pada harinya Allah menyoroti dia dan menunjukkan keadaannya yang berdosa itu, dan ia akan mulai mengakui dosa-dosanya. Perasaan yang seperti ini terhadap keadaannya yang berdosa selalu berlangsung selama beberapa tahun, bukan beberapa hari. Sebagai tambahan, perasaan akan kebobrokkan, kejahatan, kesalahan akan menjaganya tetap datang kepada Tuhan untuk mendapatkan sorotan dan pembasuhannya.

PENGAKUAN DOSA YANG SPESIFIK

Setelah periode, termasuk tahun 1931 sampai tahun 1935, ketika saya datng ke hadapan Tuhan untuk meminta sesuatu, doa seperti ini hanya memakan waktu dua menit. Sebagai contoh, ketika saya hendak berdoa, “Oh Tuhan, selesaikanlah masalah ini bagiku,” doa itu hanya memakan waktu setengah menit, namun, saya memakan waktu dua puluh sampai tiga puluh menit untuk mengakui dosa-dosa saya. Ketika saya melihat betapa berdosanya saya, sebelum saya meminta Allah menyelesaikan masalah saya, saya harus mengakui dosa-dosa saya. Setelah mengaku dosa selama dua puluh atau tiga puluh menit, saya telah mengaku seluruh dosa yang ada di dalam saya dengan tuntas. Sebagai hasilnya, saya memiliki damai sejahtera di dalam hati nurani saya, dan tidak ada lagi sekatan antara roh saya dengan Allah. Pada saat itu saya sepertinya dapat berhadapan wajah dengan Tuhan, memberi tahu Tuhan dengan berani dan dengan mudah berkata, “Oh Tuhan, aku telah dibasuh dengan darah Putra-Mu. Oh Tuhan, aku memiliki sebuah masalah, aku meminta Engkau untuk menyelesaikan masalahku ini.” Kemudian, Tuhan akan dengan segera menjawab doa ini.

Kita seringkali tidak jelas pada saat kita berdoa, dan tidak mengenal kehendak Allah. Namun, kunci untuk mengenal kehendak Allah ialah dengan membuat sebuah pengakuan dosa yang tuntas. Setelah melakukan hal ini kita akan menjadi jelas. Setiap orang yang tidak peka terhadap Allah juga tidak peka terhadap dosa. Kita harus mencoba mendoakan doa yang sederhana seperti ini: ketika kita sedang berjalan di jalanan atau di rumah kita, kita harus memberitahu Tuhan, “Oh Tuhan, kiranya Engkau menerangi aku dan mengekspos semua dosa-dosaku.” Kemudian suatu hari, terang itu mencapai Anda, dan Anda akan emrasa bahwa Anda salah. Tidak ada orang yang dapat memberitahu Anda bahwa Anda salah di luaran, tetapi di batin Anda akan merasa bahwa Anda salah. Lalu Anda akan datang kepada Tuhan dan mengakui kesalahan-kesalahan Anda. Jika Anda menyadari bahwa Anda telah menyinggung orang tua Anda, Anda akan datang kepada Tuhan dan berkata, “Oh Tuhan, di masa yang lalu, aku telah menyinggung orang tuaku akan masalah tertentu, ampunilah aku.” Kita harus mengakui kesalahan-kesalahan kita secara spesifik.

Jika seorang istri telah melakukan banyak kesalahan dan telah menyinggung suaminya, ia harus mengakuinya dengan spesifik di hadapan Tuhan, memberitahukan pada-Nya masalah-masalah spesifik itu dimana ia telah bersalah terhadap suami atau anak-anaknya. Demikian pula dengan seorang suami. Ia harus mengaku dengan tuntas semua masalah secara spesifik dimana ia telah berbuat salah terhadap istri ataupun perusahaanya. Sebagai tambahan pula, semua niat batin kita dan pikiran batin kita harus diakui satu demi satu. Ada seorang saudari orang Barat yang selalu menasihati orang untuk mengakui dosa-dosa mereka. Suatu hari ia mendengar seseorang berdoa, “Oh Tuhan, aku memiliki banyak dosa, ampunilah aku.” Kemudian saudari tersebut berkata, “Jangan membuang sekantong dosa demikian kepada Tuhan Yesus. Anda harus membukanya dan menghitung isinya satu persatu.” Kantong ini mencakup segala sesuatu, Anda tidak dapat hanya mengatakannya dalam satu kalimat, “Oh Tuhan, aku adalah seorang pendosa besar.” Anda perlu menghitung isinya satu per satu, dengan mengatakan, “Oh Tuhan, aku telah berlaku salah kepada saudaraku dan sebuah masalah tertentu. Oh Tuhan, aku telah menyalahkan suamiku pada sebuah kesempatan tertentu, dan aku telah menyalahkan anak-anakku pada suatu waktu tertentu.” Dengan cara ini, kita akan melihat bahwa dosa-dosa kita sangatlah banyak, dan kita akan berada di bawah sorotan terang. Hari ini orang-orang hidup di dalam kegelapan dan tidak memiliki perasaan apapun akan dosa; meskipun mereka telah mengaku dosa setiap hari, mereka masih tidak memiliki perasaan akan adanya dosa.

JALAN HAYAT DIMULAI DENGAN PENGAKUAN DOSA

Berikut ini adalah masalah dari kebanyakan orang: memiliki sedikit sekali terang, tetapi mereka tidak memiliki perasaan apapun. banyak orang tiba di tempat kerja jam sembilan atau sembilan tiga puluh di pagi hari, meskipun perusahaan mereka menyatakan dengan jelas bahwa mereka harus tiba pada pukul delapan, namun saat mereka mengisi kartu kehadiran, mereka menunjukkan bahwa mereka hadir tepat waktu. Seorang kaum saleh bertanya kepada saya, “Apakah yang seharusnya aku lakukan dan keadaan seperti ini?” saya berkata kepadanya, “Jika perusahaan Anda meminta Anda bekerja pukul delapan, maka Anda harus hadir pukul delapan; jika Anda hadir pukul sembilan, Anda harus mencatatnya.” Inilah orang Kristen yang sejati. Hari ini situasinya sangat kasihan bahwa banyak orang Kristen yang tidak memiliki perasaan yang demikian. Alasan mengapa mereka tidak memiliki perasaan apapun adalah karena mereka kekurangan terang. Apakah kita tidak tahu bahwa jalan hayat dimulai dengan pengakuan dosa? Bahkan jika kita telah memutuskan untuk mengerjakan sebuah hal tertentu dan Tuhan menyoroti kita, kita seharusnya tidak melakukan hal tersebut; malahan kita harus mengaku dosa. Setelah mengaku dosa, kita akan tahu apakah dosa itu.

Ada seorang pekerja di sebuah sekolah dasar yang sering menggunakan cetakan huruf dan amplop sekolahan itu. Ini tidak tepat. Namun, jika sekolah itu memiliki seuah peraturan yang mengatakan bahwa semua alat cetakan huruf dan amplop bagi kegunaan pribadi, maka mereka boleh menggunakannya, tetapi jika tidak ada peraturan yang seperti itu, tidaklah benar baginya untuk menggunakan barang-barang tersebut. Beberapa guru sekolah dasar membawa pulang kapur tulis untuk mainan anak-anak mereka, tanpa memiliki perasaan akan dosa. Kita tidak dapat mengatakan bahwa orang yang seperti itu tidak diselamatkan, tetapi kita dapat katakan bahwa ia tidak memiliki perasaan berdosa. Seseorang yang telah mengakui dosanya di hadapan Tuhan tidak akan sembarangan dalam hal apapun. sebelum seseorang mengaku dosa, ia mungkin pergi ke rumah orang dan membaca koran mereka atau membuka surat-surat mereka. Tetapi setelah pengakuan dosanya, ia akan memiliki perasaan tidak benar ketika ia melakukan hal yang sama. Ini bukanlah masalah peraturan semata tetapi masalah kebenaran. Ketika kita memiliki perasaan seperti ini, kita akan tahu apakah jalan Kristus itu. Jika kita ingin bertumbuh dalam hayat, kita harus mengakui dosa-dosa kita. Jalan hayat dimulai dengan pengakuan dosa. Banyak orang telah mendengar banyak doktrin, tetapi mereka tidak pernah mengambil sebuah langkah di atas jalan hayat: maka, mereka tidak memiliki pendisiplinan Roh Kudus atau pembatasan Roh Kudus. Meskipun mereka tidak telah melakukan kesalahan-kesalahan yang besar, mereka telah melakukan banyak kesalahan-kesalahan kecil. Kita harus mencari belas kasih Tuhan, mencari sorotan-Nya, dan mengaku dosa kepada-Nya agar dosa-dosa kita dapat diampuni.