LANGKAH PERTAMA SETELAH KESELAMATAN— PENYUCIAN DARI RAGI KESELAMATAN SEBAGAI PERMULAAN
Sekali seseorang diselamatkan dan menjadi seorang Kristen, ia seharusnya tahu langkah-langkah apa yang perlu ia ambil untuk terus maju dalam kehidupan Kristianinya. Alkitab memberi tahu kita bahwa setelah seorang Kristen diselamatkan, ia memiliki hayat Kristus di dalamnya. Namun, menerima hayat Allah hanyalah sebuah permulaan, bukan akhirnya. Diselamatkan dan dibaptis serta memiliki hayat Allah adalah langkah pertama keselamatan. Meskipun seorang percaya yang baru diselamatkan memiliki hayat Allah di dalamnya, hayat yang di dalamnya ini masih sangat dangkal; ia masih belum memiliki kemajuan dalam hayat Allah. Banyak orang yang telah diselamatkan bertahun-tahun. Setelah sekian lama mereka seharusnya memiliki kemajuan yang jauh dan dalam di dalam penghidupan Kristiani mereka, namun, dikarenakan mereka belum menerima bimbingan yang memadai dan tidak memiliki penuntutan yang tepat, mereka tidak memiliki banyak pertumbuhan hayat. Mereka terus menerus berpijak pada tempat yang sama dan berjalan dalam lingkaran. Hal ini dapat disamakan seperti seseorang yang berjalan di kota Taipei dari pagi sampai malam setiap hari selama lima tahun, tetapi ia tidak pernah meninggalkan batas kota, karena seluruh waktunya ia hanya berjalan di dalam lingkaran kota itu. Ia banyak berjalan, tetapi tidak ada kemajuan; ia menghabiskan banyak energi, tetapi ia tidak pernah membuat suatu kemajuan. Mengapakah hal ini terjadi? Hal ini dikarenakan ia tidak mengambil jalan yang lurus tetapi jalan yang berputar-putar sepanjang waktu. Sebaliknya, hal itu hanya memakan beberapa jam perjalanan dengan menggunakan kereta api dari Taipei ke Kaohsiung karena jalannya langsung dan lurus terus sepanjang waktu.
Namun, banyak orang Kristen yang tidak berjalan lurus seperti itu. Meskipun mereka mendengarkan berita-berita, membaca Alkitab, dan menghadiri sidang-sidang setiap waktu, mereka tetap tidak membuat kemajuan apapun. Mereka seperti itu lima tahun yang lalu, dan hari ini mereka tetap sama saja. Tampaknya mereka memiliki sedikit pemahaman akan doktrin, tetapi mengenai hayat Allah, mereka masih tidak tahu. Mereka bahkan mengerti Kejadian 1, Matius 1, dan banyak pengajaran-pengajaran lainnya dalam Alkitab, mereka tidak mengerti jalan Tuhan. Meskipun mereka mempelajari Alkitab dan berbagian di dalam Kristus, mereka merupakan orang asing di jalan Tuhan. Mereka sama sekali tidak tahu artinya mengikuti Tuhan dan mengambil jalan-Nya.
Maju di dalam jalan Tuhan adalah sama seperti naik kereta api dari taipei ke Kaoshiung di sebelah selatan. Setelah stasiun yang pertama—Panchiao, dan stasiun yang kedua—Taoyuan, kita pada akhirnya kita akan tiba di Kaohsiung. Semua orang yang maju di dalam Tuhan tahu bahwa jalan Tuhan ya seperti ini. Jalan Tuhan merupakan “stasiun demi stasiun”, dengan tingakatan yang berbeda dan langkah yang berbeda.
MENGIJINKAN ALLAH UNTUK MELAKUKAN PEKERJAAN PEMBASUHAN
Hal pertama bagi seorang yang yang telah diselamatkan, yang ingin mengambil jalan Tuhan ialah ia harus memperhatikan untuk menjaga dirinya mutlak bersih dan bebas dari segala bentuk kecemaran. Kita dapat menggunakan sebuah ilustrasi. Ketika sebuah gelas jatuh ke dalam sebuah tong sampah, setelah diambil, dapatkah kita langsung menggunakannya lagi? Tentu saja tidak! Jika kita ingin menggunakannya, pertama-tama kita harus mencuci dan mensterilkannya dengan menyeluruh, kemudian kita baru dapat menggunakannya. Sebelum kita mencucinya dengan seksama, tentunya kita tak dapat menggunakannya. Jika gelasnya tidak dicuci, maka tidak ada fungsinya dan tidak dapat digunakan untuk apapun. Demikian pula, kita sama seperti gelas itu; jika kita tidak mengijinkan Tuhan untuk membersihkan kita, Tuhan tidak dapat melakukan apapun pada kita. Jika kita ingin Tuhan bekerja di dalam kita, pertama-tama kita perlu dibersihkan oleh-Nya dengan tuntas.
Kita berterima kasih pada Tuhan karena Ia menyelamatkan banyak dari kita. Sebelum kita diselamatkan, kita semua telah jatuh ke dalam tong sampah dunia. Sebenarnya, untuk membandingkan dunia dengan sebuah tong sampah adalah melebihi nilainya. Kita seharusnya berkata bahwa dunia adalah seperti setumpukan pupuk kandang. Dalam kenyataannya, dunia lebih bau busuk dari setumpuk pupuk kandang. Maka dari itu, sebelum kita diselamatkan, seluruh diri kita telah tercemar dan penuh dengan “bakteri.” Tidak ada satu pun dari kita yang bersih dalam pikiran atau emosi; kita semuanya kotor dan jahat baik di dalam maupun di luar. Namun, suatu hari Tuhan datang; injil-nya telah menjangkau kita, suara-Nya telah masuk ke dalam hati kita, Roh-Nya telah bersimpati dengan kita, dan kita telah diselamatkan. Tuhan telah menyelamatkan dan memisahkan kita dari dosa dan kejahatan. Sekalipun kita telah diselamatkan, semua kecemaran dan “bakteri” kita semuanya belum habis terbasmi. Kecemaran dari “bakter” itu masih hadir dalam daging dan tingkah laku kita. Maka dari itu, langkah pertama yang harus kita ambil setelah diselamatkan adalah mengijinkan Allah membersihkan kita. Jika kita tidak mengijinkan Allah membersihkan kita, kita tidak akan memiliki jalan untuk mulai berjalan di atas jalan Tuhan. Lebih jauh lagi, jika kita tidak mengijinkan Tuhan membasuh kita, Tuhan tidak akan ada jalan untuk bekerja di dalam kita.
Apakah kita baru diselamatkan atau kita telah diselamatkan berrtahun-tahun, kita harus mengambil perkataan ini. Meskipun kebanyakan dari kita telah “diambil dari tong sampah” oleh Tuhan bertahun-tahun yang lalu, sampai hari ini kita belum mengijinkan Tuhan melakukan pekerjaan pembasuhan-Nya dari semua “bakteri” dan kecemaran di dalam kita. Meskipun kita mengerti lebih banyak doktrin, lebih akrab dengan peraturan-peraturan orang Kristen, dan kenal lebih banyak orang Kristen dari pada yang kita lakukan di masa lalu, kita masih belum lagi berjalan selangkah lebih maju. Masalahnya adalah di sini: meskipun kita telah mengijinkan Tuhan untuk “mengambil kita keluar dari tong sampah,” kita tidak pernah mengijinkan Dia membuat kita bersih dan segar. Semua kecemaran dan “bakteri” masih tetap di dalam kita. Jadi, supaya Tuhan bekerja di dalam kita, Ia harus menunggu ijin dari kita. Ketika kita memberi Tuhan ijin, Ia akan menerjakan pembasuhan-Nya di dalam kita. Jika kita enggan dan tidak mau, maka Tuhan tidak ada jalan membimbing kita dan melakukan pekerjaan pembasuhan-Nya di dalam kita.
MENGADAKAN PERJAMUAN PASKAH
DAN PERJAMUAN ROTI YANG TIDAK BERAGI
Anak-anak Israel di dalam perjanjian Lama melambangkan kita, yang telah diselamatkan oleh kasih karunia. Mereka mengadakan Perjamuan Paskah melambangkan diri kita yang diselamatkan oleh kasih karunia. Mereka diselamatkan dengan menyembelih seekor anak domba dan mengoleskan darahnya pada ambang atas dan pada kedua tiang pintu. Hari ini, ketika kita menerima Tuhan dan “mengoleskan darah-Nya pada kita,” penghakiman dan murka Allah melewati kita, dan kita diselamatkan. Segera setelah perjamuan Paskah, anak-anak Israel mengadakan perjamuan yang lain lagi, yang disebut Perjamuan Roti yang Tidak Beragi. Tidak ada batasan waktu antara kedua perjamuan tersebut. Perjamuan Roti yang Tidak Beragi diadakan setelah Perjamuan Paskah. Anak-anak Israel melaksanakan Perjamuan Paskah di petang hari pada hari keempat belas, pada bulan yang pertama tahun itu. Di malam harinya mereka mulai mengadakan Perjamuan Paskah, dan malam berikutnya mereka segera mengadakan Perjamuan Roti yang Tidak Beragi. Permulaan Perjamuan Paskah dapat juga dikatakan sebagai permulaan Perjamuan Roti yang Tidak Beragi. Maka dari itu, sekali kita diselamatkan dan memegang Perjamuan Paskah, kita juga segera mengadakan Perjamuan Roti yang Tidak Beragi. Satu Korintus 5 mengatakan, ”Buanglah ragi yang lama itu, supaya kamu menjadi adonan yang baru, sebab kamu memang tidak beragi” (ay. 7a). Ini berarti, sekali kita diselamatkan, kita harus disucikan dari ragi yang lama. Apakah ragi yang lama itu? Dalam Alkitab, ragi mengacu kepada pengrusakan. Alasan mengapa roti itu mengembang adalah karena ada ragi di dalamnya. Ada elemen yang merusak dalam ragi yang memampukan ragi itu untuk mengkhamiri seluruh adonan itu dalam beberapa jam. Jadi ragi di dalam adonan itu mengacu kepada pengrusakan
Semua umat manusia yang telah jatuh hidup oleh hayat yang telah rusak. Beberapa orang mungkin bertanya, Apakah yang Anda maksud dengan oleh hayat yang telah rusak? Apakah ragi dalam penghidupan kita? Kita dapat menggunakan seorang muda sebagai ilustrasinya. Kita semua mengetahui situasi orang-orang muda. Pikiran seorang anak remaja mungkin sangat bersih dan jernih, tetapi sekali ia masuk ke SMU, ia mungkin mulai membaca novel romantika. Dan novel romantika ini mulai masuk ke dalam dia sebagai ragi, sampai suatu hari ragi yang di dalamnya ini menjadi kecut dan berbau, menyebabkan orang ini, yang pada awalnya begitu murni, perlahan-lahan rusak di dalamnya.
Beberapa orang mengatakan bahwa film itu baik dan bahwa mereka dapat sangat membantu jika digunakan untuk tujun pendidikan. Ini benar bahwa dalam beberapa aspek film dapat cukup berguna, tetapi sayangnya, hari-hari belakangan ini orang-orang telah menyalahgunakan film-film tersebut. Semua orang tua tahu bahwa pasar telah dipenuhi dengan film-film yang tidak menerangi pikiran orang-orang muda, sebaliknya merangsang kejahatan di dalam mereka. Seringkali meskipun film-film itu sendiri baik, tetapi dikarenakan lingkungan yang tidak tepat di mana film-film tersebut ditonton, maka banyak masalah yang timbul. Kita harus mengetahui bahwa bioskop lebih kotor dari pada kandang-kandang babi. Beberapa orang muda bertanya pada saya dengan sebal, “Apakah salah juga kalau menonton film mengenai ilmu pengetahuan atau sejarah?” Tidak ada salahnya dengan menonton film tentang ilmu pengetahuan atau sejarah jika diputar di sekolah, tetapi kita seharusnya tidak pergi ke bioskop, karena tempat seperti itu terlalu kotor.
Kita juga dapat mengilustrasikan poin ini dengan menggunakan sebuah kalender. Sebuah kalender adalah sesuatu yang baik dan sangat penting, tetapi beberapa orang suka mencetak gambar-gambar yang tidak tepat pada kalender tersebut. Apakah ini? Inilah ragi, yang dengan liciknya dibagikan kepada manusia, dan yang menyebabkan banyak orang muda berubah menjadi kecut dan berbau. Para dokter dan para ahli biologi memberi tahu kita bahwa seluruh dunia penuh dengan bakteri, yakni, penuh dengan ragi. Ini adalah dunia yang rusak. Pikiran dan perbuatan baik dari orang banyak memiliki pengaruh yang merusak. Hanya dengan berada dalam dunia yang telah rusak inilah, tidak perduli kita sadar atau tidak, kita terus menerus tercemar oleh bakteri-bakteri dan hal-hal yang mencemari kita. Ketika kita diselamatkan, murka Allah melewati kita. Namun demikian, kita masih penuh dengan bakteri dan kerusakan. Bagaimana Tuhan dapat bekerja di dalam orang seperti kita ini? Ia tidak dapat bekerja. Jika kita ingin Allah bekerja di dalam kita, pertama-tama kita harus mengijinkan Tuhan membasuh kita.
Setelah anak-anak Israel mengadakan Perjamuan Paskah, mereka segera mengadakan Perjamuan Roti yang Tidak Beragi. Hari ini banyak orang Kristen yang mengadakan perjamuan Paskah, tetapi hanya sedikit yang juga mengadakan Perjamuan Roti yang tidak Beragi. Suatu kali saya menghadiri sebuah perjamuan kasih. Ketika saya memasuki rumah itu, saya melihat sesuatu di sana yang membuat saya merasa sangat tidak nyaman. Jika Anda selalu hidup di lingkungan yang berudara segar, sekali Anda masuk ke dalam sebuah rumah yang udara bersihnya tidak cukup, segera Anda akan merasa sangat tidak nyaman. Perasaan Anda akan menjadi begitu sensitif. Namun, bagi mereka yang terbiasa hidup dalam lingkungan yang seperti itu, bukan hanya mereka tidak sadar akan kurangnya udara segar, tetapi bahkan mereka yang akan berkata bahwa Andalah yang aneh. Saya adalah tamunya pada hari itu, jadi saya tidak merasa tepat untuk mengatakan apapun. Kami semua duduk di sana berkidung dan memuji Tuhan, tetapi di sana ada sebuah kalender dengan sebuah gambar yang tidak pantas tergantung di dinding. Ini sama seperti makan dengan hidangan yang luar biasa tetapi di samping sebuah bukit kotoran; rasanya amat menjijikkan.
Hari ini banyak orang yang benar-benar telah diselamatkan, tetapi mereka tidak disucikan dari ragi yang ada di dalam mereka. Jika seorang budak Tuhan yang kecil dan rendah seperti saya merasa tidak nyaman ketika saya masuk ke dalam rumah itu, bagaimana mungkin Allah dapat merasa nyaman di sana? Sejumlah orang Kristen juga ada di sana, namun tidak ada seorang pun dari mereka yang memiliki perasaan apapun. sementara orang-orang di dalam rumah itu membaca Alkitab, ada sesuatu yang tidak bersih tergantung di dinding mereka. Hal ini menunjukkan bahwa keluarga ini tidak pernah disucikan dari ragi atau dengan serius berjalan di jalan Tuhan. Allah tidak memiliki jalan untuk bekerja lebih dalam di dalam orang-orang seperti ini.
CONTOH-CONTOH DISUCIKAN DARI RAGI
Kita semua yang telah diselamatkan seharusnya serius dalam mengambil jalan ini. Sebelum orang-orang muda diselamatkan, mereka suka membaca novel-novel romantika, tetapi setelah mereka diselamatkan, semua hal-hal ini harus dibuang atau dibakar habis. Mereka tidak seharusnya memberikannya kepada teman sekelas mereka. Jika mereka memberikannya kepada teman sekelas mereka, mereka tidak akan membantu teman sekelasnya itu, sebaliknya malah akan merugikan teman sekelasnya. Pada tahun 1944, saya pergi ke Weihaiwe untuk memberitakan injil. Sebagian besar kumpulan orang di sana bekerja sebagai pegawai bea cukai. Hampir semua istri-istri mereka telah diselamatkan, namun rumah-rumah mereka dipenuhi dengan permainan mah-jongg dan kartu-kartu domino Cina. Setelah mereka diselamatkan, di dalam mereka tidak memiliki kedamaian, jadi mereka datang kepada saya dan bertanya, “Kami memiliki meja tempat bermain Mah-jongg yang berkualitas tinggi, dan semuanya mahal. Apa yang harus kami lakukan?” Saya kemudian bertanya. “Mengapa kalian datang dan bertanya kepada saya?” Mereka menjawab, “Karena kami tidak merasa damai.” Kemudian saya memberi tahu mereka, “Jika kalian tidak merasa damai, lalu mengapa kalian masih perlu bertanya kepadaku? Jika kalian telah mencium bau busuk, apakah kalian masih bertanya kepada orang lain apakah kalian harus memakannya atau tidak? Jika kalian telah mencium bau busuknya mah-jongg itu, kalian tidak perlu bertanya kepada orang lain apakah kalian seharusnya memainkannya atau tidak.” Mereka menjawab, “Kalau begitu, lebih baik bila kami berikan kepada orang lain saja.” Memberikan meja mah-jongg kalian kepada orang lain adalah lebih buruk dari pada seorang bandit. Seorang bandit yang merampok uang seseorang hanya merugikan orang tersebut untuk sementara waktu, tetapi memberikan meja mah-jongg kalian mungkin dapat merusak hidup seseorang dan merugikan orang sampai dua atau tiga generasinya. Jadi akhirnya, mereka kembali, menyebarkan perkataan ini kepada satu dengan yang lainnya, dan mengumpulkan semua alat-alat permainan mah-jongg mereka. Kemudian saya berkata: “Kalian semua harus membakar meja mah-jongg kalian sebagai sebuah kesaksian bagi Tuhan.” Kemudian mereka mengumpulkan meja-meja mah-jongg, menumpuknya, dan sementara kami menyampaikan berita di dalam rumah, mereka membakar semua meja mah-jongg tadi, kartu-kartu domino Cina, dan dadu-dadu di halaman belakang. Ini adalah sebuah contoh mengenai penyucian dari ragi.
Pada tahun 1938, saya tinggal bersama seseorang di Peiping (Beijing) yang bekerja di Rumah Sakit Perserikatan. Suatu hari ia memberitahu saya bahwa ia ingin tahu apakah Tuhan senang dengan payung suteranya yang ia miliki di ruang tamunya. Waktu itu saya lebih muda darinya, jadi dengan hormat saya bertanya padanya, “Setelah Anda menghabiskan uang untuk membelinya, mengapa baru sekarang Anda berpikir bahwa payung itu tidak baik?” Ia menjawab, “Masalahnya bukan pada payung itu. Masalahnya adalah payung itu memiliki gambar naga. Apakah Anda berpikir bahwa sesuatu yang berhubungan dengan naga itu yang harus dijauhkan dari rumah seorang Kristen?” Kemudian saya memberitahukan padanya bahwa sejak hari pertama saya memasuki rumahnya, ketika saya melihat keempat naga itu, di dalam saya merasa sangat tidak damai. Perasaan saudara ini adalah hasil dari pembacaannya atas kitab Wahyu. Ketika ia membaca bahwa iblis itu adalah seekor naga, ia bertanya pada dirinya sendiri, “Jika aku adalah milik Allah, mengapa aku masih mengijinkan sesuatu yang berasal dari Satan tinggal di rumahku?” Satan sangat menipu kita. Inilah alasan mengapaorang-orang hari ini tidak hanya memiliki gambar-gambar naga, tetapi mereka juga mengenakan ornamen-ornamen berbentuk naga, mempertunjukkan tarian naga, dan bahkan mengenakan pakaian bergambar naga. Mereka benar-benar telah diduduki oleh naga-naga itu.
Pada tahun 1936, ketika saya berada di Tienstin, seorang saudari mengundang kami untuk makan malam. Suami dari saudari tersebut adalah seorang arsitek yang sangat terkenal, dan di langit-langit ruang makannya dipenuhi dengan gambar-gambar naga. Pada hari itu suaminya sedang tidak ada di rumah, dan kami pergi untuk makan malam di rumahnya. Ia berkata bahwa ketika ia makan di ruang makan itu, ia merasa sangat tidak nyaman. Saya bertanya kepadanya mengapa demikian, dan ia memberitahu kepada saya bahwa hal itu disebabkan ada naga-naga di langit-langit ruang makannya. Kemudian saya bertanya mengapa ia tidak menyukai naga-naga itu padahal ada orang lain yang menyukainya. Setiap orang memiliki gambar seekor naga pada sebuah poci teh atau di pakaian mereka. Ia berkata bahwa karena ia adalah anak Allah, ia seharusnya tidak mengijinkan hal-hal yang seperti itu tinggal di rumahnya, tetapi karena suaminya tidak mau menyingkirkannya, ia tak berdaya. Saya menasihati dia dengan mengatakan bahwa jika hal itu bukan terserah pada kita, maka hal itu bukan urusan kita.
Semenjak kita diselamatkan, kita seharusnya mengijinkan Tuhan menerangi kita agar kita dapat melihat jika ada seseorang yang terhadapnya kita telah berbuat salah atau kita telah memperlakukannya dengan tidak benar. Jika kita telah berbuat demikian, kita harus menanggulangi masalah tersebut dengan mereka sampai tuntas. Sebagai tambahan, jika kita telah mendapatkan sesuatu dengan cara yang tidak benar, apakah itu dari seseorang di dalam rumah tangga kita atau dari pekerjaan, kita mutlak harus membereskan masalah tersebut. Jika kita mau datang ke hadapan Tuhan dan memeriksakan diri kita sepenuhnya, kita akan menemukan bahwa seluruh diri kita penuh dengan ragi. Suatu kali, Dr. F. B. Meyer, seorang Amerika, pergi ke Inggris untuk menginjil. Ia berkata bahwa tidak ada jalan bagi seorang Kristen untuk diberkati jikalau ia hanya mendengarkan khotbah semata setiap hari namun tidak mau ditanggulangi dan tidak memiliki perasaan ketika ia mencuri uang manejernya atau menghabiskan uang perusahaanya. Setelah khotbah itu semua kertas berharga bank dan kantor pos di sekitarnya terjual habis dalam beberapa jam. Mengapa hal ini terjadi? Hal ini terjadi karena banyak orang yang setelah melihat ketidakbenaran mereka, mereka pergi ke bank untuk membeli kertas berharga bank agar mereka dapat mengembalikan uang yang telah mereka ambil. Dalam sidang itu Dr. Meyer menggunakan seorang anak muda sebagai contoh. Ia berkata, “Anak muda ini telah mencuri tiga poundsterling dan delapan belas shillings dari tuannya dan bahkan sampai sekarang ia belum mengembalikan uang tuannya itu. Kemudian ia bertanya kepada anak muda tadi, “Apakah kamu memiliki damai di dalam hatimu?” Kemudian ada seseorang yang mengundang Dr. Meyer untuk makan. Anak muda tadi menunggunya di sana dan berkata, “Beberapa tahun yang lalu aku sungguh-sungguh telah mencuri uang sebanyak tiga pounsterling dan delapan belas shillings dari tuanku, dan aku tidak memiliki damai di dalam hatiku. Aku telah membeli sebuah cek senilai tiga poundsterling dan delapan belas shillings dan aku telah memasukkannya ke dalam sebuah amplop untuk kukembalikan kepada tuanku. Tolong beri tahu padaku apakah tindakanku ini benar?”
Suatu kali Charles Spurgeon menggunakan sebuah ilustrasi dalam pemberitaannya, ia berkata, “Ada seorang anak muda di sini yang sedang mengenakan sepasang sarung tangan yang telah dicurinya, dan ia harus mengembalikannya.” Ketika ia berbicara demikian, ia berkata tanpa ada maksud tertentu, tetapi setelah ia berbicara, seorang anak muda naik ke mimbar, kepada Charles Spurgeon dan berkata, “Sarung tangan yang sedang kupakai ini benar-benar telah kucuri dari tuanku. Bagaimana Anda tahu?” Jawab Spurgeon, “Aku tidak mengetahui apapun. Ketika aku berbicara, aku hanya terinspirasi untuk mengatakan hal itu.” Banyak orang Kristen tidak memiliki masalah dengan keselamatan mereka, tetapi mereka tidak pernah menanggulangi barang-barang kepunyaan mereka yang tidak benar itu. Jika kita ingin mengikuti Tuhan dengan cara yang serius, kita seharusnya menanggulangi semua berhala, jimat-jimat nenek moyang, benda-benda curian dalam rumah kita.
Bertahun-tahun yang lalu di Kaifeng, provinsi Honan, ada seorang saudari yang memiliki patung Yesus di rumahnya. Ia menundukkan kepala untuk menyembah patung itu setiap hari dan setiap hendak makan ia mengambil makanan yang sama untuk disajikan ke patung tersebut. Kemudian, ia kerasukan setan. Seorang saudari yang mengetahui hal tersebut menulis surat kepada saya dan bertanya, “Dapatkah kita menyembah patung Yesus? Mengapa saudari ini kerasukan setan meskipun ia menyembah patung Yesus?” Saya menjawab, bahwa kita tidak seharusnya menyembah bahkan sebuah patung Yesus sekalipun. Kita harus menggunakan roh kita untuk menyembah Yesus sendiri. Injil Yohanes menunjukkan pada kita bahwa ketika kita menyembah Tuhan harus dalam roh dan kebenaran. Maka Ia akan menerima kita. Kita tidak seharusnya menyembah patung apapun, bahkan patung Yesus, karena di sana ada iblis di balik semua jenis patung-patung, bahkan di balik patung Yesus.
MENJADI BAHAN YANG BERSIH DI TANGAN TUHAN
Kita perlu banyak-banyak berdoa dan datang kepada Tuhan. kita perlu membiarkan Dia menerangi kita dan menunjukkan pada kita jika ada apapun di dalam rumah kita, dalam diri kita, atau di sekitar kita yang tidak menyenangkan Dia. Sebagai contoh, sebelum orang-orang diselamatkan, ibu mertua mereka merupakan suatu penderitaan bagi mereka, dan mereka tidak menyukainya. Namun, ketika mereka diselamatkan, perasaan tidak suka ini akan tersingkir. Perasaan tidak suka ibu mertua terhadap menatu perempuan mereka juga akan tersingkirkan. Pendek kata, jika kita tidak menyukai seseorang atau memiliki perasaan sakit hati atas seseorang—baik mereka itu keluarga, teman, atau rekan kerja—kita harus mengaku dosa dan menanggulangi masalah apapun itu dengan tuntas di antara kita. Dengan cara ini, bahkan jika kita tidak memberitakan injil kepada mereka, mereka akan diselamatkan melalui sikap kita.
Setelah seorang saudari yang percaya Tuhan, ia merasa sangat tidak damai ketika ia teringat setiap waktu akan perlakuannya yang keras terhadap menantu perempuannya. Ia mendambakan agar menantu perempuannya juga akan diselamatkan, tetapi ia cukup berani untuk memberitakan injil kepada menantunya. Ia datang menemui saya, dan saya berkata kepadanya, “Anda telah menganiaya menantu perempuan Anda sebelum Anda diselamatkan, apakah Anda pikir ia akan mendengarkan Anda sekarang? Anda harus mengaku dosa padanya.” Ia menjawab, “Saya adalah ibu mertuanya, bagaimana mungkin saya dapat mengaku dosa kepada menantu perempuan saya?” Saya bertanya padanya apakah ia menginginkan Tuhan atau menyelamatkan wajahnya, apakah ia ingin menantu perempuannya diselamatkan atau ia ingin menantunya pergi ke neraka? Ia berkata, “Dulu saya menganiaya dia; jika saya mengaku dosa padanya, dan kemudian ia menganiaya saya, apa yang harus saya lakukan?” Saya berkata kepadanya bahwa ia harus percaya kepada Tuhan yang telah memberinya kasih karunia dalam masalah ini. Beberapa hari kemudian, ia datang kembali kepada saya dan berkata, “Setelah saya mengakui kesalahan saya kepada menantu perempuan saya, ia menangis, dan saya juga menangis. Kemudian kami berdua berlutut untuk berdoa bersama, dan ia diselamatkan.” Apakah Anda melihat hal ini? Kadang-kadang kita dapat meyelamatkan orang bahkan tanpa memberitakan injil padanya. Kita mungkin bertindak sembarangan, tetapi Tuhan kita tidak pernah sembarangan. Kita seharusnya tidak sembrono atau membuat alasan bagi diri kita dalam masalah-masalah ini; sebaliknya kita harus dengan teliti menyucikan semua ragi. Dengan cara ini, suatu hari seluruh diri kita akan sepenuhnya dibersihkan dan di bebaskan dari semua pencemaran di dalam dan di luar kita. Seorang yang bebas dari semua kecemaran adalah bahan yang bersih di tangan Tuhan.