← Daftar isi Hati yang Murni · bab 1/9

MENYINGKIRKAN SEMUA YANG MENUTUPI TERANG

Matius 5:8 mengatakan, “Berbahagialah orang yang murni hatinya, karena mereka akan melihat Allah.” Dua Korintus 3:16 selanjutnya berkata, “Tetapi apabila hati seseorang berbalik kepada Tuhan, maka selubung itu diambil dari padanya.” Kedua ayat ini mewahyukan bahwa agar seseorang dapat melihat Allah dan menerima sorotan-Nya, hal yang terpenting adalah ia harus menjadi seorang yang tidak ditutupi apapun, atau ia harus tidak lagi berselubung. Hati yang murni dapat melihat Allah karena mereka tidak ditutupi oleh apapun. Ketika sebuah selubung diletakkan pada wajah seseorang, selubung itu menutupi matanya, tetapi ketika selubung itu diambil, maka ia dapat melihat terang.

MENYINGKIRKAN SELUBUNG UNTUK MELIHAT TERANG

Seseorang akan melihat terang bila segala yang menyelubunginya diambil dari padanya. Hal ini berdasarkan 2 Korintus 3:16 yang mewahyukan bahwa ketika orang-orang Korintus mau memalingkan hati mereka kepada Tuhan, selubung mereka akan diambil. Ketika hati orang-orang Korintus dipalingkan dari Tuhan, selubung itu masih ada pada hati mereka; hati yang dipalingkan dari Tuhan itulah selubung mereka. Ketika selubung itu diambil dan hati mereka dipalingkan kepada Tuhan, maka orang-orang Korintus menerima sorotan Allah. Maka dari itu, alasan bahwa manusia tidak menerima sorotan Allah bukanlah karena Allah tidak menyoroti mereka, tetapi karena ada sebuah selubung dan sesuatu yang menutupi manusia di dalamnya. Jika seseorang dapat memecahkan masalah yang membuatnya diselubungi ini, maka ia akan melihat terang. Matius 5:8 mengatakan bahwa hati yang murni akan melihat Allah, dan dalam 1 Yohanes 1:5 mengatakan, “Allah adalah terang.” Maka, tidak ada yang dapat melihat Allah tanpa melihat terang. Allah adalah terang, dan semua orang yang melihat terang berada di dalam Allah dan harus hanya berada di dalam Allah saja. Namun, syarat Allah adalah orang itu harus memiliki hati yang murni. Murni dalam hatinya berarti bahwa segala yang menyelubungi hati haruslah disingkirkan. Sekali hati seseorang tidak murni dan bercampur aduk, campur aduk itu menjadi sebuah selubung. Hanya hati yang murni yang tidak memiliki selubung apapun; hanya mereka yang tidak memiliki selubung apapun yang dapat melihat terang.

Mazmur 73:1 mengatakan, “Sesungguhnya Allah itu baik bagi mereka yang bersih hatinya.” Inilah pujian pemazmur. Dalam ayat 16 ia berkata, “Tetapi ketika aku bermaksud untuk mengetahuinya, hal itu menjadi kesulitan di mataku.” Namun, ketika ia masuk ke dalam tempat kudus Allah, ia telah memahami segalanya (ay. 17). Demikian pula dalam ayat 25, pemazmur menyatakan, “Siapa gerangan ada padaku di sorga selain Engkau? Selain Engkau tidak ada yang kuingini di bumi.” Inilah hati yang murni. Seseorang yang murni hatinya hanya mengejar Tuhan di surga dan hanya mendambakan Tuhan di bumi. Hati yang murni adalah hidup di bumi ini dengan hanya mendambakan Allah dan tidak memiliki kedambaan lainnya selain Allah. Ketika hati kita tidak mendua dan murni di hadapan Allah, kitalah orang-orang yang tanpa selubung apapun itu. Maka, Alkitab menunjukkan pada kita bahwa untuk melihat terang, kita perlu menyingkirkan selubung.

MENYINGKIRKAN SEMUA YANG MENUTUPI TERANG

Semua yang ada dalam alam semesta ini, selain diri Allah, dapat menjadi selubung bagi kita. Satu Yohanes mengatakan bahwa Allah adalah terang. Maka, apapun yang bukan diri Allah sendiri dapat menutupi terang Allah di dalam kita. Selain diri Allah sendiri, tidak ada satu pun yang tidak menutupi terang. Untuk itulah, kita semua harus mengetahui bahwa selain Allah, segala sesuatu dapat menjadi sebuah selubung bagi kita. Hanya Allah-lah terang itu, dan hanya terang itu sendiri yang yang tidak dapat menutupi terang. Kita harus ingat bahwa semua orang, perkara, dan benda yang di luar Allah dapat menutupi terang itu. Sebenarnya, apa yang menghalangi banyak orang dari melihat terang bukanlah hal-hal yang jahat saja tetapi juga hal-hal yang baik.

Sebagai contoh, penuntutan kerohanian adalah sesuatu yang sangat tinggi. Namun, bahkan penuntutan kerohanian dapat menggantikan Allah dan menjadi sebuah selubung dari terang itu, yang menyebabkan batin seseorang tidak memiliki terang. Jika kita mau menenangkan dan menentramkan hati kita di hadapan Allah, kita akan dengan segera menyadari bahwa ada setumpukkan hal yang menyelubungi kita, menutupi terang, dan mencegah kita dari melihat apa yang sebenarnya/riil. Ketika seseorang tidak murni, hal ini sering menjadi masalah bahwa meskipun ia mengasihi Tuhan, kasihnya terhadap Allah hanyalah di permukaannya saja. Ia memang mengasihi Tuhan, tetapi pada saat yang sama ia juga mengasihi wajahnya. Ia tidak menyadari bahwa kasih akan wajahnya, daripada kasihnya terhadap Tuhan, menjadi sebuah selubung, menghalangi ia menerima terang. Ada sebuah perkataan yang mengatakan, “pelajar melihat yang di luar; tetapi ahlinya melihat kedalamannya.” Seorang penjual kain yang berpengalaman dapat membedakan manakah kain buatan Amerika atau manakah kain buatan Jepang hanya dengan menyentuh kain itu dengan tangannya, bahkan tanpa melihat kain tersebut. Demikian pula dengan seorang yang melayani Tuhan; ia adalah seorang ahli dalam “menjamah” orang. Ketika seseorang datang kepadanya, tanpa orang lain mengatakan apapun, ia tahu latar belakang orang tersebut hanya dengan “menjamah”nya.

Perasaan batini seorang pelayan Tuhan adalah bagian yang paling sensitif untuk “menjamah” orang lain. Alat yang paling berguna adalah perasaan di dalam roh kita. Ketika berkontak dengan seorang saudara, kita dapat merasakan orang jenis apakah ia tanpa banyak melakukan percakapan dengannya. Ketika kita ingin membicarakan sesuatu padanya, di dalam kita harus menimbang, mengukur, apakah ia dapat menerima perkataan kita atau tidak. Jika setelah kita “menimbang-nimbang” dia, kita merasa bahwa ia tidak akan dapat menerima perkataan kita, kemudian adalah lebih baik untuk tidak mengatakan apapun.

Kadangkala orang datang kepada saya dan meminta saya memberi tahu mereka apa masalah mereka, tetapi oleh karena harga diri mereka, saya tak dapat memberi tahu mereka. Kita harus berpendapat bahwa orang-orang yang bertanggung jawab atas sidang-sidang rumahan atau kelompok-kelompok kecil sangatlah maju dan mereka rela meninggalkan apapun bagi Tuhan. Sebenarnya, sekali kita menjamah harga diri mereka, mereka mungkin tak dapat melaluinya. Pernah ada seorang saudara yang datang kepada saya dan meminta saya untuk mengenali masalahnya. Saya merasa bahwa maslah saudara tersebut adalah ia terlalu mengasihi wajahnya, tetapi saya tidak dapat mengatakan hal ini padanya. Ia mendesak saya terus, jadi saya mengujinya untuk melihat jika ia dapat menerima perkataan saya mengenai hal itu. Saya katakan padanya, “Masalahmu adalah kamu tak dapat menerima kegagalanmu.” Ia berkata, “Bagaimana Anda tahu?” Saya katakan padanya bahwa meskipun saya telah mengenalnya sekian lama, saya tidak pernah mendengarnya berkata, “Saya salah.” Jika seseorang telah diremukkan dan ditanggulangi oleh Tuhan, ia seharusnya dengan rela mengatakan, “saya salah, maafkanlah saya.” Tetapi Saudara tersebut menjawab, “Saya tidak berpikir demikian.” Ia tidak mau kehilangan wajahnya. Ini adalah sebuah contoh diselubungi dari terang.

Agar dapat menolongnya, saya telah menunjukkan kepadanya sebuah contoh dengan mengatakan, “Suatu hari Anda mulai melakukan sesuatu dengan istri Anda; tapi tampaknya Anda tak dapat menyelesaikannya, namun Anda bersikeras untuk melakukannya agar saya, istri Anda dan orang lain dapat melihat.” Ia berkata, “Anda melihat situasi yang berlawanan dengan yang sebenarnya. Situasinya bukanlah seperti itu. “ saya mengakui padanya bahwa mungkin saya tidak melihat situasi sebagaimana mestinya. Maka dari itu, dua bulan kemudian ketika saudara itu datang kembali kepada saya dan meminta saya mengenali maslahnya, saya tak dapat mengatakan apapun kepadanya. Beberapa orang dapat mengesampingkan seluruh dunia kecuali harga diri mereka.

Masalah yang terbesar di antara orang muda adalah masalah perbandingan. Jika ada dua orang yang berkerja di tempat yang sama dan yang satu dipuji, yang satunya lagi akan merasa terganggu di dalam hatinya. Perasaan ini menutupi terang. Ketika orang lain menerima pujian, kita memiliki sebuah perasaan tertentu; ketika kita yang menerima pujian itu, kita akan memiliki perasaan yang lain lagi. Perasaan-perasaan ini merupakan sebuah selubung—yang menyelubungi terang dan menyebabkan hati kita menjadi tidak murni. Apakah sebuah hati yang murni itu? Jika saya memiliki sebuah hati yang murni, ketika ada orang mengatakan bahwa saya salah, saya tidak memiliki perasaan tertentu. Ketika orang memuji, saya tidak memiliki perasaan tertentu. Ketika orang tidak memuji pun saya tidak memiliki perasaan tertentu. Saya tidak mendambakan pujian orang lain; tetapi saya hanya mendambakan diri Allah sendiri. Jika kita menginginkan banyak hal dan kedambaan kita itu menjadi begitu rumit, dari apapun, bahkan penuntutan kerohanian kita, maka dapat menjadi sesuatu yang menutupi terang itu. Sebagai contoh, beberapa orang senang menyombongkan dirinya, jadi kesombongan itu menjadi sebuah masalah yang besar bagi mereka. Tidak diragukan lagi, mereka sangat baik dan terpelajar, tetapi karena mereka tidak memiliki terang, mereka begitu senang membanggakan diri. Apapun yang mereka kerjakan, mereka sombong sedikit. Ini adalah sebuah selubung bagi mereka. Jika kita ingin melihat teramh, kita harus menyingkirkan segala yang menyelubungi kita.

MEMALINGKAN HATI KITA KEPADA TUHAN

Dua Korintus 3:12-18 adalah sebuah bagian Firman yang luar biasa dari Perjanjian Baru. Di satu pihak mengatakan bahwa anak-anak Israel diselubungi, dan di pihak lain, dikatakan bahwa ketika hati mereka berpaling kepada Tuhan, maka selubung itu diambil. Penyingkiran selubung itu tidak tergantung pada apapun kecuali memalingkan hati kita kepada Tuhan. Ketika selubung itu tidak diambil, maka tidak ada terang, tetapi sekali hati kita berpaling kepada Tuhan, selubung itu diambil. Selubung mengacu kepada semua hal yang kita tuntut selain Tuhan. Ketika hati kita bepaling kepada Tuhan, selubung itu diambil dari kita. Semua selubung dikarenakan hati kita tidak berfokus kepada Tuhan. Maka dari itu, ayat 16 mengatakan bahwa ketika hati kita berpaling kepada Tuhan, selubung itu diambil dari kita. Sekali hati kita berpaling kepada Tuhan dan mendambakan Tuhan dengan cara yang murni dan tidak mendua, maka kita akan menjadi seorang yang murni hatinya. Seorang yang murni hatinya tidak mengetahui apa-apa; ia hanya mendambakan Tuhan. Seorang yang murni hatinya tidak tamak akan apapun dalam dunia ini; juga tidak tamak akan apapun dalam alam rohani. Ia mampu berkata, “Oh Tuhan, siapa gerangan ada padaku di sorga? Selain Engkau tiada yang kuingini di bumi.” Hatinya begitu murni dan tidak ditutupi oleh selubung apapun. Lebih jauh lagi, sekali selubungnya diambil, terang itu datang, dan ia akan melihat dengan segera. Kita semua harus menyadari apa masalah kita. Masalah kita adalah bahwa insan batiniah kita tidak murni dan kita masih memiliki sejumlah besar campuran di dalam kita. Maka dari itu, hati kita perlu berpaling kepada Tuhan.

Beberapa orang mungkin bertanya, bagaimana kita tahu bahwa kita sedang berfokus pada sesuatu yang selain Tuhan? bagaimana kita mengetahui hal-hal itu? Dan bagaimana kita tahu jika kita sedang berfokus pada Tuhan sama seperti kita sedang berfokus pada hal-hal yang lain? Sebenarnya, setiap orang sudah mengetahuinya. Semua masalah bergantung pada apakah kita mau diremukkan dan menerima penanggulangan salib? Di dalam contoh yang sudah diberikan tadi, saudara itu membantah saya dan mencoba untuk membenarkan dirinya. Saya tidak percaya bahwa ia tidak memiliki perasaan negatif apapun dalam hatinya ketika ia sedang membantah saya. Saya juga tidak percaya bahwa seseorang yang suka sekali berlaku sombong tidak memiliki perasaan yang serupa. Mereka semua memiliki perasaan seperti itu, tetapi pertanyaann adalah apakah mereka mau menerimanya atau tidak.

Dua Korintus 3:16 mengatakan, “Ketika hati seseorang berpaling kepada Tuhan, maka selubung itu diambil dari padanya.” Ayat 17 mengatakan, “Sebab Tuhan adalah Roh, dan di mana ada Roh Tuhan di situ ada kemerdekaan.” Ketika kita menggabungkan kedua ayat ini bersama-sama, maka ayat ini menjadi, “Ketika hati mereka berpaling kepada Tuhan…dan Tuhan adalah Roh.” Apakah maksudnya? Rasul menulis kedua ayat itu sangat berdekatan karena ia tahu bahwa orang akan bertanya kepadanya, “Anda ingin aku berpaling kepada Tuhan, tetapi di manakah Tuhan?” Rasul telah menjawab pertanyaan ini secara tidak langsung dengan mengatakan bahwa Tuhan adalah Roh. Ketika orang bertanya pada kita bagaimana mungkin kita dapat tahu jika mereka telah memalingkan hati mereka kepada Tuhan, kita seharusnya mengembalikan pertanyaan ini kepada mereka dan bertanya kepada mereka apakah mereka memiliki kemerdekaan di dalam mereka atau tidak. Apakah Anda berpikir bahwa saudara yang membantah, yang saya telah sebutkan tadi memiliki kemerdekaan? Saya percaya bahwa semakin ia membantah saya, semakin sedikit kemerdekaan yang ia miliki di dalam hatinya. Semakin ia mengabaikan perasaan batininya dan menolak kata-kata saya, semakin terikatlah roh yang di dalamnya. Pada akhirnya, ia tidak akan memiliki terang apapun. Sekali seorang yang suka sombong mulai menyombongkan dirinya, insan batiniahnya tidak memiliki kebebasan karena Tuhan sang Roh itu terikat di dalamnya. Kita harus bertanya kepada diri kita, apakah kita lebih suka berpaling kepada kesombongan kita atau kepada Tuhan, yang tidak memiliki kemerdekaan di dalam kita?

Tentunya orang yang cinta uang atau anak-anak mereka melebihi Tuhan memiliki beberapa perasaan di dalamnya. Kita semua dapat bersaksi bahwa kita memiliki sebuah perasaan tertentu di dalam kita ketika kita mengasihi uang; kita merasa terikat dan tertekan di dalam. Kemudian ketika kita membuka mulut untuk berdoa, orang lain akan tahu bahwa ada sesuatu yang salah di dalam kita—Tuhan di dalam kita tidak terbebaskan; Ia terikat di dalam kita. Jika kita tetap mengasihi uang, atau jika kita mengasihi anak-anak kita lebih dari pada Tuhan, bagaimana mungkin kita tidak memiliki suatu perasaan yang tidak nyaman? Namun, jika kita mau berpaling kepada Tuhan, yang telah terikat di dalam kita itu, kita akan segera menerima kebebasan dan penuh dengan terang. Apakah halangan-halangan kita, dan apakah hal-hal yang sedang kita tuntut lebih dari pada Tuhan? Tidak diragukan lagi hal-hal tersebutlah yang membuat kita merasa tidak nyaman. Ketika kita merasa tidak nyaman dan tidak tentram berkenaan dengan masalah tertentu, masalah itu merupakan sebuah halangan; ini merupakan sesuatu yang sedang kita tuntut lebih dari pada Tuhan. kita seharusnya mengijinkan Tuhan meremukkannya.

Ketika kita melihat kegairahan beberapa orang muda, kita tidak dapat menyangkal bahwa mereka mengasihi Tuhan dan menuntut Tuhan. Meskipun demikian, mereka masih memiliki masalah di dalam mereka. Meskipun setiap orang berbeda, beberapa masalah mereka ada yang serupa satu dengan yang lain. Tahun lalu ketika mereka tidak mau menuntut Tuhan dan tidak bergairah bagi Tuhan, mereka memiliki suatu masalah tertentu; tahun ini ketika mereka mau menuntut Tuhan dan bergairah bagi Tuhan, mereka tetap memiliki masalah. Ketika mereka ditanggulangi di satu aspek, mereka memiliki masalah yang mendasar ini; ketika mereka ditanggulangi di aspek yang lain lagi, masalahnya masih tetap ada. Masalah mereka adalah ketika ada orang lain yang menemukan kesalahan atas apa yang sedang mereka kerjakan, mereka selalu memiliki alasan. Bahkan jika kesalahan mereka tampak begitu jelas, mereka tetap saja tidak mau mengakuinya. Mereka tidak seharusnya menunggu sampai Tuhan datang sebelum mereka mengatakan, “Maaf, saya yang salah.” Namun dalam kenyataannya, sangatlah jarang kita mendengar seorang muda yang mengatakan, “Maaf, saya salah.” Ketika orang menunjukkan kesalahan mereka, mereka bukan hanya tidak mau mengakuinya, tetapi juga menyediakan berbagai alasan. Ini adalah sebuah contoh dari seseorang yang diselubungi, karena mereka menolak menerima terang yang dari dalam.

Jika kita tidak menerima terang dalam jangka waktu yang panjang, kita akan kehilangan perasaan batini kita dan jatuh dalam kegelapan. Ketika orang lain menunjukkan kesalahan-kesalahan kita, kita seharusnya mampu untuk mengatakan, “Maaf, ini kesalahan saya. Mohon maafkan saya.” Jika kita dapat melakukan hal ini, kita memiliki sebuah pemahaman yang jelas akan terang itu. Namun, ketika orang lain menemukan kesalahan kita, kita mungkin memberikan alasan pada diri kita sendiri, beralasan bahwa kesalahan kita dapat dihindari. Lebih jauh lagi, ketika mereka datang kembali kepada kita, kita masih akan terus membela diri kita. Ini menunjukkan bahwa insan batiniah kita sepenuhnya diselubungi dan berada dalam kegelapan. Ketika beberapa orang bertengkar dengan pasangan mereka di rumah, mereka memiliki suatu perasaan yang tidak nyaman di dalam mereka. Sebenarnya setiap orang seharusnya memiliki perasaan semacam ini di dalam mereka, tetapi pada akhirnya, karena mereka terus menerus membantah, mereka kehilangan perasaan batininya. Maka dari itu, kita seharusnya tidak menyatakan bahwa tindakan kita masuk akal. Bahkan ketika kita melakukan sesuatu yang masuk akal, kita harus melawannya, karena bahkan “tindakan yang masuk akal” memiliki sedikit hal yang berasal dari diri kita. Selama kita memiliki terang dan perasaan di dalam kita, kita harus menerima peremukkan dan penanggulangan yang datang dari terang ini. Dengan cara inilah kita tidak akan berada dalam kegelapan.

Kita perlu bertobat kepada Tuhan karena ketidakmampuan kita untuk melihat terang. Dalam penghidupan gereja kita membaca Alkitab setiap hari, namun kita mungkin tidak memiliki terang. Kita memiliki Alkitab dalam pikiran kita, namun tidak ada terang di dalam kita. Kita juga melayani Tuhan dengan rajin, tetapi tidak ada terang atau realitas dalam pelayanan kita, dan kita tidak mengetahui mengapa kita melayani. Tidak hanya demikian, ketika kita bekerja, insan batiniah kita penuh dengan kebingungan dan tanpa terang. Kita memperhidupkan apa yang disebut “kehidupan rohani” hari demi hari tanpa adanya visi rohani yang segar dan insan batiniah yang tampaknya kekurangan sesuatu. Setiap hari kita bangun lebih awal dan membaca Alkitab. Setiap hari kita mengunjungi orang dan merawat mereka, namun kita tidak memiliki penglihatan yang segar atau perasaan yang segar di dalam.

Namun, seseorang yang hidup di dalam Tuhan seharusnya bersinar dan segar setiap hari. Ketika ia datang ke hadapan Tuhan, ia akan menerima terang. Ini bukanlah terang yang ia lihat kemarin tetapi terang yang baru yang ia lihat hari ini. Insan batiniahnya selalu jelas dan pasti akan arah pelayanannya dan pergerakan Roh Kudus. Bukan hanya ia mengetahui arah dan pergerakkan gereja, tetapi ia juga mengetahui tujuan Allah bagi gereja di muka bumi. Perasaan baitininya selalu segar dan terang. Orang yang seperti inilah yang selalu belajar sesuatu yang baru dan menerima sorotan yang baru setiap hari. Ketika orang berkontak dengannya, meskipun di luaran tampaknya ia tidak begitu menarik, insan batiniahnya lembut dan segar, sejernih kristal, dan transparan. Beberapa orang yang diselamatkan dan yang bahkan telah menerima kasih karunia dari Tuhan, dapat saja bertindak dengan kasar; masalahnya adalah hati mereka yang kurang murni bagi Tuhan. mereka terlalu rumit di dalamnya, jadi ketika ada sebuah perasaan yang muncul, mereka tidak mau menerimanya. Kita semua memiliki perasaan di dalam kita, namun kita seringkali tidak mau menerima peremukkan yang muncul dengan perasaan itu. Ketidakmauan ini adalah penolakkan terhadap terang.

“DI MANA ADA ROH TUHAN, DI SITU ADA KEMERDEKAAN”

Manusia tidak masuk ke dalam kegelapan dengan tiba-tiba, tetapi secara perlahan-lahan. Urutan terbitnya matahari selalu dari pagi hari ke siang hari, dari siang hari ke sore hari, dan dari sore hari ke petang hari, namun masih belum memasuki waktu yang paling gelap. Semua orang yang masuk ke dalam kegelapan melakukannya secara bertahap, tanpa adanya perasaan bahwa ia sedang masuk ke dalam kegelapan itu. Hal tersebut terjadi dengan tidak disadarinya bahwa secara bertahap ia terseret kepada sesuatu yang bukan Tuhan. Ini merupakan sebuah hasil dari kurangnya terang yang di dalam. Maka dari itu, jika kita merasa tidak nyaman atau kebingungan pada suatu area tertentu, di sinilah kita perlu menerima terang dan peremukkan dari Tuhan. Jika kita menerima peremukkan yang terus menerus di hadapan Tuhan dengan cara ini, terang yang ada di dalam kita akan bersinar lebih terang dan lebih lagi, karena selubung di dalam kita secara perlahan diambil dari kita.

Sebagai contoh, misalkan saya adalah seorang yang suka membenarkan diri sendiri. Ketika Anda datang kepada saya dan memberi tahu saya tentang sesuatu hal dan saya ingin menjelaskan situasinya kepada Anda, insan batiniah saya akan merasa tidak nyaman. Pada saat itu, saya seharusnya menerima perasaan ini, menundukkan kepala saya, dan memberi tahu Tuhan, “Oh Tuhan, aku tidak akan mengatakan apapun; bahkan jika mereka menyalahpahami aku, aku tetap tidak akan mengatakan apapun.” Kita tidak seharusnya tidak menaati perasaan batin kita dan sorotannya, tidak pula tidak menaati visi yang batini. Sekali kita memiliki sebuah perasaan dari Tuhan, kita harus menaatinya. Banyak dari kita yang dapat bersaksi bahwa ketika kita berhenti, maka segera akan ada kemerdekaan dalam roh kita. Di mana ada Roh Tuhan, di situ ada kemerdekaan. Beberapa orang selalu bertanya, bagaimana kita tahu kalau hati kita berpaling kepada Tuhan? Kita tahu kalau hati kita berpaling kepada Tuhan adalah ketika roh kita bebas. Ketika kita bertengkar dengan suami atau istri kita dan kita merasa bahwa insan batiniah kita tidak bebas, kita harus dengan segera menundukkan kepala kita dan berkata pada Tuhan, “Oh Tuhan, aku tidak mau bertengkar lagi.” Sekali Anda berhenti, insan batiniah Anda akan bebas, roh Anda akan dileluasakan, dan Anda akan dapat memuji Tuhan. jika kita seperti itu setiap pagi, maka penghidupan hari-hari kita akan segar. Sebaliknya, jika kita terus menerus bertengkar dan tidak menaati perasaan yang di dalam, saya takut kalau-kalau sepanjang hari, dari pagi sampai malam, insan batiniah kita akan berada dalam kebingungan dan kegelapan, dan roh kita tidak akan bebas. Ketika hati kita berpaling kepada Tuhan, maka selubung itu akan diambil dari pada kita.