PEPERANGAN ANTARA YANG BARU DAN YANG LAMA
Setelah seorang beriman dilahirkan kembali, ia harus tahu dua hal yang sangat penting: berapa banyak yang ia dapatkan melalui kelahiran kembali dan berapa banyak kemampuan bawaan sejak lahirnya yang tetap tinggal. Pengetahuan ini akan menjaga dia terus maju dalam perjalanan rohaninya. Sekarang kita perlu menjelaskan apa yang tercakup dalam daging manusia dan bagaimana Tuhan Yesus menanggulangi unsur-unsur yang tercakup dalam daging dalam penebusan-Nya. Dengan kata lain, kita ingin melihat apa yang diterima seorang beriman pada saat kelahiran kembali.
Roma 7:14 mengatakan, “Aku bersifat daging, terjual di bawah kuasa dosa.” Ayat 17-18 mengatakan, “Dosa . . . diam di dalam aku . . . yaitu, di dalam dagingku.” (Tl) Dari dua ayat ini kita nampak bahwa unsur daging terdiri atas “dosa” dan “aku”. “Dosa” adalah kekuatan (kuasa) dosa, sedangkan “aku” adalah yang biasanya kita sebut dengan ego. Jika orang beriman ingin memahami apakah hayat rohani, ia harus dengan jelas mengenal perbedaan antara kedua unsur dari daging ini.
Kita tahu bahwa di atas salib Tuhan Yesus telah menanggulangi dosa daging kita. Karena itu, Alkitab memberi tahu kita bahwa manusia lama kita telah turut disalibkan (Rm. 6:6). Mengenai masalah dosa, Alkitab tidak pernah mengatakan kita harus disalibkan, karena hal ini sepenuhnya digenapkan oleh Kristus, manusia tidak perlu melakukan apa-apa lagi. Karena itu, Alkitab menyuruh kita menghitung diri kita mati terhadap dosa (Rm. 6:11). Dengan demikian kita dapat menerima khasiat kematian Kristus dan dapat sepenuhnya terlepas dari kuasa dosa (Rm. 6:14).
Meskipun Alkitab tidak pernah mengatakan bahwa kita harus disalibkan karena dosa-dosa kita, tetapi Alkitab menyuruh kita memikul salib untuk menanggulangi diri (ego) kita. Tuhan sering berkata bahwa kita harus menyangkal ego kita dan memikul salib mengikuti-Nya. Alasannya ialah ada perbedaan antara penanggulangan Tuhan terhadap dosa kita di atas salib dan penanggulangan-Nya atas ego kita. Kita tahu, ketika Tuhan disalibkan, Ia baru menanggung dosa-dosa kita. Ia tidak menanggungnya sebelum itu. Akan tetapi, Ia tidak hanya menyangkal diri-Nya sendiri saat Ia disalibkan; sebaliknya, Ia menyangkal diri-Nya setiap hari ketika Ia hidup di bumi. Sebab itu orang beriman dapat menang atas dosa dalam satu menit, tetapi ia harus menyangkal dirinya sepanjang hidupnya.
Kitab Galatia memberi tahu kita dengan jelas dua aspek hubungan daging dengan orang beriman. Pada satu sisi, dikatakan bahwa “mereka yang menjadi milik Kristus Yesus telah menyalibkan daging dengan segala hawa nafsu dan keinginannya” (5:24). Ini berarti pada hari seseorang menjadi milik Kristus, dagingnya telah disalibkan. Jika manusia tidak pernah diajar oleh Roh Kudus, ia mungkin berpikir bahwa tidak ada lagi daging karena dosa sudah tersalib. Tetapi di sisi lain Alkitab memberi tahu kita untuk “hidup oleh Roh dan kamu tidak akan menuruti keinginan daging. Sebab keinginan daging berlawanan dengan keinginan Roh dan keinginan Roh berlawanan dengan keinginan daging” (ayat 16-17). Ayat-ayat ini dengan jelas menunjukkan kepada kita bahwa seseorang milik Kristus, yang telah memiliki Roh Kudus berhuni di dalamnya, tetap memiliki daging. Tidak hanya daging tetap ada, bahkan memiliki kekuatan. Mengapa demikian? Apakah dua kalimat itu saling berlawanan? Tidak, ayat-ayat itu tidak berlawanan. Ayat 24 terutama menanggulangi aspek dosa dalam daging, sedangkan ayat 17 terutama menanggulangi aspek ego dalam daging. Salib Kristus menanggulangi dosa, sedangkan Roh Kudus menanggulangi ego melalui salib. Melalui salib, Kristus telah mutlak melepaskan orang beriman dari kuasa dosa sehingga dosa tidak lagi berkuasa atasnya. Melalui Roh Kudus, Kristus berhuni di dalam orang beriman sehingga ia dapat mengalahkan ego hari demi hari dan sepenuhnya taat kepada-Nya. Kemenangan atas dosa adalah fakta yang telah digenapkan, sedangkan menang atas ego adalah pekerjaan yang sedang digenapkan hari demi hari.
Jika orang beriman memahami keselamatan penuh dari salib, pada saat kelahiran kembali, dengan perkataan lain, pada saat ia menerima Yesus sebagai Juruselamatnya, di satu sisi ia akan sepenuhnya dibebaskan dari dosa, di sisi lain menerima hayat baru. Sangat disayangkan, banyak pekerja yang tidak menyajikan keselamatan penuh Allah kepada orang dosa. Hasilnya, ia hanya percaya “setengah” keselamatan, yakni hanya menerima “setengah” keselamatan. Dosa-dosanya telah diampuni, tetapi tidak memiliki kekuatan untuk tidak lagi berbuat dosa. Kadang kala jalan keselamatan sepenuhnya diberitakan, tetapi fakta bahwa orang beriman hanya ingin anugerah pengampunan tanpa dengan tulus menginginkan kekuatan untuk mengalahkan dosa, akibatnya ia hanya menerima setengah keselamatan.
Jika seseorang percaya dan menerima keselamatan penuh pada saat dilahirkan kembali, ia akan memiliki lebih sedikit pengalaman dikalahkan oleh dosa ketika berperang dengan dosa, dan lebih banyak mengalami peperangan melawan ego. Tetapi tidak banyak orang beriman yang seperti ini. Walaupun kita tidak berani mengatakan berapa banyak yang seperti ini, tetapi kita dapat mengatakan bahwa jumlahnya sangat kecil. Kebanyakan orang beriman hanya menerima setengah keselamatan; karena itu, kebanyakan perang mereka adalah melawan dosa. Beberapa bahkan tidak tahu apa itu ego pada saat mereka dilahirkan kembali.
Ini bersangkut paut dengan pengalaman seseorang sebelum dilahirkan kembali. Sebelum dilahirkan kembali, banyak orang memiliki kecenderungan untuk melakukan yang baik. (Tentu saja, mereka tidak memiliki kekuatan yang membuat mereka melakukan yang baik.) Walaupun hati nurani mereka agak jelas, namun kekuatan untuk melakukan yang baik itu sangat lemah, sehingga peperangan menjadi tidak dapat dihindarkan. Inilah apa yang disebut oleh orang dunia peperangan antara rasio dan nafsu. Setelah orang-orang ini mendengar tentang keselamatan penuh atau keselamatan yang sempurna, mereka dengan hati yang tulus menerima anugerah menang atas dosa, seperti menerima anugerah pengampunan dari dosa. Tetapi orang yang lain, sebelum ia percaya, hati nuraninya gelap, sangat berdosa, tidak pernah mencoba melakukan yang baik. Ketika ia mendengar tentang keselamatan yang sempurna, ia secara alamiah berpegang pada anugerah pengampunan namun mengabaikan (bukan menolak) anugerah menang atas dosa. Orang semacam ini setelah dilahirkan kembali lebih banyak mengalami pertentangan dengan dosa dalam daging.
Mengapa demikian? Karena begitu seseorang dilahirkan kembali, begitu dia mendapatkan hayat yang baru, hayat ini akan memalingkan dia dari penguasaan daging untuk taat kepada hayat baru. Hayat Allah itu mutlak, dan tidak akan berhenti sampai mendapatkan otoritas yang mutlak atas diri seseorang. Sekali masuk ke dalam roh seseorang, hayat Allah ini akan melepaskan dia dari tuannya yang semula — dosa — dan membawanya ke dalam ketaatan penuh kepada Roh Kudus. Akan tetapi, dosa secara mendalam telah berakar di dalam manusia. Walaupun tekad manusia di satu aspek telah diperbarui melalui hayat kelahiran kembali, tetapi karena tekad ini tadinya bersatu dengan dosa dan ego, maka sering kali tetap condong kepada dosa. Sebab itu terjadilah peperangan besar antara hayat baru dengan daging. Karena banyak orang mengalami peperangan ini, maka di sini saya ingin menaruh perhatian khusus pada pengalaman ini. Tetapi saya perlu mengingatkan para pembaca bahwa peperangan dan kekalahan terhadap dosa (bukan ego) yang berkepanjangan itu tidak seharusnya terjadi.
Daging ingin sepenuhnya berkuasa. Hayat rohani juga ingin sepenuhnya berkuasa. Daging menuntut manusia selama-lamanya menjadi miliknya; sedangkan hayat rohani menuntut manusia sepenuhnya tunduk kepada Roh Kudus. Daging dan hayat rohani berbeda dalam segala hal. Sifat daging adalah milik Adam yang pertama, sedangkan sifat hayat rohani adalah milik Adam yang akhir. Motivasi daging bersifat duniawi, sedangkan keinginankeinginan hayat rohani bersifat surgawi. Daging dalam segala sesuatu dengan dirinya sebagai pusat, sedangkan hayat rohani dalam segala sesuatu mengambil Kristus sebagai pusat. Karena mereka sangat berbeda, maka mau tak mau manusia sering kali berperang dengan daging. Daging menyebabkan manusia berbuat dosa, sedangkan hayat rohani menyebabkan manusia berbuat kebenaran. Setelah seorang beriman dilahirkan kembali, karena ia tidak mengerti tentang keselamatan sempurna Kristus, dalam dirinya selalu ada pengalaman peperangan ini.
Orang beriman muda sering dibingungkan oleh pertentangan semacam ini di dalam dirinya. Akibatnya, beberapa menjadi kecewa. Mereka menganggap diri mereka sendiri begitu jahat dan merasa tidak mungkin ada kemajuan lagi. Beberapa bahkan mulai meragukan kesungguhan kelahiran kembali mereka. Sedikit sekali yang menyadari bahwa mereka mengalami peperangan itu justru karena mereka telah dilahirkan kembali. Pada mulanya daging memerintah, tidak ada halangan sama sekali, dan karena roh mereka mati, maka mereka tidak merasa berdosa sekalipun mereka telah berbuat banyak dosa. Sekarang hayat baru telah masuk, membawakan sifat surgawi dengan keinginan baru, terang baru, dan tekad baru. Begitu terang baru masuk ke dalam manusia, terang itu menyingkapkan keburukan yang sebenarnya dan kebobrokan dalam manusia. Keinginan yang baru tentunya tidak ingin tetap selama-lamanya dalam kerusakan dan keburukan; tetapi ingin bertindak menurut kehendak Allah. Daging dengan sendirinya berperang dengan hayat rohani. Peperangan ini menyebabkan orang beriman merasakan ada dua persona di dalamnya, masing-masing memiliki opini dan kekuatan dan saling bersaing atau berusaha mengalahkan yang lain. Jika ia memihak kepada hayat rohani dan mendapatkan kemenangan, ia akan merasa lebih sukacita. Jika dagingnya yang menang, ia akan menghakimi diri sendiri. Pengalaman semacam ini membuktikan bahwa seseorang telah dilahirkan kembali.
Tujuan Allah bukanlah memperbaiki daging, tetapi menyingkirkannya. Pada saat manusia dilahirkan kembali, Allah memberikan hayat-Nya kepada manusia, dan melalui hayat-Nya ini menyingkirkan ego dalam daging. Walaupun hayat yang Allah berikan kepada manusia penuh kekuatan, namun orang yang dilahirkan kembali ini sama seperti bayi yang baru lahir; ia tetap masih lemah. Karena daging telah memerintah begitu lama, maka daging menjadi sangat kuat. Sebagai tambahan, orang itu belum dengan iman berpegang pada keselamatan penuh Allah. Pada saat tertentu, meskipun manusia telah dilahirkan kembali, ia tetap bersifat daging. Arti bersifat daging adalah dikendalikan oleh daging. Dan yang paling kasihan ialah orang beriman yang telah dilahirkan kembali, diterangi dengan terang surgawi, tahu bahwa dagingnya patut dibenci, dan sepenuhnya berkeinginan untuk mengalahkan dagingnya, tetapi karena lemah, ia tidak mampu melakukannya. Inilah saatnya ia paling banyak mengucurkan air mata dan mengalami penderitaan. Lagi pula setiap orang yang dilahirkan kembali pasti memiliki keinginan dan harapan baru yaitu ingin menyingkirkan dosa-dosa untuk menyenangkan Allah. Tetapi tekad tidak terlalu kuat dan sering kali dikalahkan oleh daging. Hasilnya, lebih banyak kegagalan daripada kemenangan. Saat ini bagaimana dia bisa tidak merasa sedikit?
Pengalaman Paulus dalam Roma 7 adalah suatu cerita tentang peperangan dalam tahap ini. “Sebab apa yang aku lakukan, aku tidak tahu. Karena bukan apa yang aku kehendaki yang aku lakukan, tetapi apa yang aku benci, itulah yang aku lakukan . . . Sebab aku tahu bahwa di dalam aku, yaitu di dalam dagingku, tidak ada sesuatu yang baik. Sebab menghendaki yang baik memang ada padaku, tetapi melakukan apa yang baik, tidak. Sebab bukan apa yang aku kehendaki, yaitu yang baik, yang aku lakukan, melainkan apa yang tidak aku kehendaki, yaitu yang jahat, yang aku lakukan . . . Demikianlah aku dapati hukum ini: Jika aku ingin melakukan apa yang baik, yang jahat itu ada padaku. Sebab di dalam batinku aku suka akan hukum Allah, tetapi di dalam anggota-anggota tubuhku aku melihat hukum lain yang berjuang melawan hukum akal budiku dan membuat aku menjadi tawanan hukum dosa yang ada di dalam anggota-anggota tubuhku” (ayat 15, 18-19, 21-23). Keluhan terakhirnya bergema juga dalam hati banyak orang yang memiliki pengalaman yang sama: “Aku, manusia celaka! Siapa yang akan melepaskan aku dari tubuh maut ini?” (ayat 24).
Apakah artinya peperangan ini? Peperangan ini adalah satu macam pendisiplinan Roh Kudus. Allah memiliki keselamatan penuh yang dipersiapkan untuk manusia. Tetapi manusia tidak memperolehnya karena ketidaktahuannya atau ketidakmauannya untuk memperolehnya. Allah hanya dapat memberi manusia apa yang ia percayai, apa yang ia terima, dan apa yang ia minta secara khusus. Karena itu, ketika manusia meminta pengampunan dan kelahiran kembali, Allah mengampuni dan melahirkan dia kembali. Dengan peperangan ini, Allah membuat orang beriman menuntut dan berpegang pada kemenangan penuh dalam Kristus. Jika orang beriman tidak memiliki kemenangan yang penuh karena ia tidak mengetahuinya, setelah melalui peperangan itu, ia akan menuntut untuk mengetahuinya. Dengan demikian, Roh Kudus akan memiliki kesempatan untuk mewahyukan kepadanya bagaimana Kristus menanggulangi manusia lamanya di atas salib, sehingga ia percaya dan menerima. Jika seorang beriman tidak menerima kemenangan penuh karena ia tidak menginginkannya, maka semua kebenaran yang ia miliki hanyalah di dalam otaknya. Melalui peperangan ini, ia mengetahui bahwa memiliki pengetahuan saja tidaklah berguna; melalui kegagalan yang terus-menerus, ia akan berhasrat mengalami kebenaran yang telah ia ketahui.
Peperangan semacam ini terus bertambah sejalan dengan waktu. Jika orang beriman tidak tawar hati, tetapi dengan setia maju terus, maka di depan mereka akan ada lebih banyak peperangan yang hebat. Peperangan ini tidak akan berhenti sampai orang beriman sepenuhnya diselamatkan.