KEKUATAN TEKANAN
“Sebab kami mau, Saudara-saudara, supaya kamu tahu tentang penderitaan yang kami alami di Asia Kecil. Beban yang ditanggungkan atas kami begitu besar dan begitu berat, sehingga kami telah putus asa juga mengenai hidup kami. Bahkan kami merasa, seolah-olah kami telah dijatuhi hukuman mati. Tetapi hal itu terjadi, supaya kami jangan menaruh kepercayaan pada diri kami sendiri, tetapi hanya kepada Allah yang membangkitkan orang-orang mati. Ia telah dan akan menyelamatkan kami dari kematian yang begitu ngeri: Kepada-Nya kami menaruh pengharapan kami bahwa Ia akan menyelamatkan kami lagi.”
2 Korintus 1:8-10
Apa yang Paulus kehendaki untuk diketahui oleh saudara-saudara? Ia menghendaki mereka mengetahui penderitaan yang dialaminya di Asia Kecil. Apakah ciri-ciri dari penderitaan ini? Penderitaan di bawah tekanan. Sampai pada taraf mana mereka ditekan dengan tekanan ini? Mereka ditekan begitu rupa beratnya sehingga mereka putus asa akan hidup mereka. Inilah kondisi di luar. Bagaimana perasaan di dalam? Juga sama. Ia berkata bahwa mereka merasa seolah-olah telah dijatuhi hukuman mati. Hasil akhirnya adalah: Kami tidak menaruh kepercayaan pada diri kami sendiri, tetapi hanya kepada Allah yang membangkitkan orang-orang mati ; yang telah menyelamatkan kami dari kematian yang begitu ngeri: Kepada-Nya kami menaruh pengharapan kami bahwa Ia akan menyelamatkan kami lagi (ayat 9-10).
Kita perlu menaruh perhatian khusus terhadap prinsip kehidupan rohani dalam berita-berita di hari Tuhan. Dalam berita ini kita akan membicarakan hubungan antara tekanan dan kekuatan, atau kita dapat mengatakan antara tindasan dan kekuatan. Saudara saudari, satu perkara yang sangat diperhatikan oleh orang-orang Kristen ialah perkara kekuatan. Orang-orang Kristen yang rohani lebihlebih banyak memperhatikan perkara kekuatan. Mereka sering bertanya apakah seseorang memiliki kekuatan atau tidak, apakah kekuatannya itu besar atau kecil. Di mana pun kita berada, kita sering mendengar perkataan sejenis ini.
Kita ingin melihat pengajaran Alkitab tentang hubungan antara tekanan atau tindasan dan kekuatan. Pertama-tama, saya ingin mengatakan bahwa tekanan dan kekuatan secara langsung saling melengkapi. Di mana ada tekanan, di situ ada kekuatan. Jika orang Kristen tidak mengenal tekanan, ia tidak mengenal kekuatan. Hanya mereka yang mengalami tindasan tekanan dapat memahami kekuatan. Seseorang yang semakin mengalami tekanan, ia semakin memiliki kekuatan yang besar, dan semakin memahami apa kekuatan itu.
Sebelum saya menjelaskan hubungan rohani antara tekanan dan kekuatan, saya ingin menggambarkan hubungan mereka di aspek fisik, sehingga kita dapat memahami prinsip rohani dari hal-hal fisik. Pernahkah Anda melihat bagaimana air mendidih di tungku? Anda pasti pernah melihat bagaimana air mendidih dalam suatu kedai yang menjual minuman air panas. Dari pagi sampai malam, sepanjang tahun, air dimasak dan kedai minum itu selalu penuh dengan uap, tetapi uap itu tidak berguna, karena tidak memiliki kekuatan yang besar. Di sisi lain, jika Anda melihat ketel uap pada mesin kereta api atau kapal, Anda dapat melihat api besar di bawah ketel uap, dan air dalam ketel uap itu juga mendidih, tetapi mereka tidak membiarkan uap itu dengan mudah menghilang. Ketel mesin uap itu dibuat dari baja yang sangat tebal. Uap disimpan di dalam ketel uap dan secara perlahan-lahan menumpuk. Karena tekanan di luar, tidak ada uap yang dibiarkan hilang, uap itu ditekan menjadi sumber kekuatan. Ketika kekuatan dari uap itu dilepaskan melalui lubang kecil, uap itu dapat menggerakkan kereta api atau kapal untuk maju dengan kecepatan yang tinggi. Dalam kedua perkara di atas, sama-sama ada uap. Tetapi mengapa ada perbedaan besar dalam kekuatan yang mereka hasilkan? Dalam kedai yang menjual minuman itu, uap itu tidak berguna, tetapi dalam kereta api dan kapal, uap itu berguna. Atas satu perkara, uap tidak ditekan, melainkan tersebar dan karena itu tidak berguna. Atas perkara yang lain, uap itu ditekan, tidak tersebar, dan ketika uap yang ditekan itu dilepaskan dari satu lubang, itu menjadi sumber kekuatan yang besar. Saudara-saudara, prinsip ini tidak hanya benar dalam hal fisik, tetapi juga benar dalam hal hukum rohani. Kapan kala tidak ada tekanan, tidak ada kekuatan. Hanya tekanan dapat menghasilkan kekuatan.
Jika orang Kristen ingin memahami apakah kekuatan itu, ia harus lebih dulu memahami apakah tekanan itu. Tekanan atau tindasan selalu dialami para rasul. Setiap hari mereka ditekan, setiap hari berada di bawah tindasan, setiap hari menanggung beban berat, setiap hari ada hal-hal yang mengganggu mereka sehingga mereka tidak dapat hidup tenang dan tanpa masalah. Namun, justru ini adalah sarana Allah untuk memberikan kekuatan kepada mereka. Para rasul ditekan begitu rupa sehingga kekuatan mereka bertambah, sampai menjadi kekuatan yang melampaui orang pada umumnya. Tekanan memaksa mereka untuk bersandar kepada Allah. Saudarasaudara, berapa besar tekanan di atas diri Anda? Anda hanya dapat mengukur kekuatan Anda dengan tekanan Anda. Tekanan ketel uap menentukan kekuatan uap. Tidak pernah ada orang Kristen yang kekuatannya lebih besar daripada tekanan yang ia alami. Jika orang Kristen ingin mengukur berapa besar kekuatannya di hadapan Allah, ia harus tahu bahwa kekuatannya hanya sebanding dengan tekanan yang ia alami. Hukum ini tidak pernah berubah.
Sering kali orang Kristen berdoa, “Ya Allah, berilah aku kekuatan.” Apakah ia tahu apa yang sedang ia doakan? Jika Allah menjawab doanya, Allah akan memberinya tekanan, karena Allah tahu bahwa kekuatan hayat hanya dapat dihasilkan dari tekanan hayat. Hayat yang ditekan adalah hayat yang memiliki kekuatan. Hayat yang tanpa tekanan adalah hayat yang tanpa kekuatan. Hayat dengan tekanan yang besar adalah hayat dengan kekuatan yang besar. Hayat dengan sedikit tekanan adalah hayat dengan sedikit kekuatan. Kekuatan yang saya katakan di sini adalah kekuatan hayat dan bukan kekuatan yang lain.
Sekarang kita akan melihat beberapa perkara rohani untuk membuktikan keakuratan prinsip yang menyatakan bahwa tekanan adalah kekuatan.
1. TEKANAN DOSA
Saya ingin bertanya kepada saudara-saudara yang ada di sini hari ini: Berapa banyak di antara kalian yang memiliki pengalaman yang jelas tentang menang atas dosa-dosa? Di antara kalian, siapa yang tahu jelas tentang hukum Roh hayat dalam Kristus Yesus memerdekakan kita dari hukum dosa dan hukum maut? Apakah di antara kalian ada yang pernah menanggulangi dosa dan dengan jelas dimerdekakan dari dosa? Mengapa hanya sedikit orang Kristen yang dibebaskan dari dosa dan menang atas dosadosa? Mungkin penyebabnya adalah banyak orang tidak tahu bagaimana menerapkan prinsip ini. Mereka tidak tahu bagaimana menggunakan tekanan dosa. Ketika dosadosa menekan mereka, mereka jatuh ke dalam keputusasaan karena tekanan itu, mereka tidak menggunakan tekanan itu untuk berseru kepada nama Allah dan memohon kelepasan dari Dia. Sering kali kita harus ditekan oleh dosa sedemikian rupa sehingga kita tidak dapat menolong atau menyelamatkan diri sendiri, dan batin kita tidak dapat lagi menanggung atau menahan tekanan itu. Pada saat itu, kita akan menemukan kekuatan untuk datang kepada Allah dan kekuatan untuk menerima kemenangan Kristus. Dengan demikian kita mendapatkan kelepasan.
Misalnya, seorang beriman sering dengan tidak sengaja berdusta. Sedikit kendur saja kata-kata dusta sudah meluncur dari mulutnya. Jika ia tidak merasakan betapa jahatnya berdusta itu, tidak merasakan betapa sakitnya kalau berdusta, dan tidak menyadari bahwa ia tidak ada kekuatan untuk bergumul melawan berdusta, berarti ia telah ditekan oleh berdusta sehingga tidak bisa bergerak, ia tidak bisa mendapatkan kemenangan. Hanya ketika ia merenungkan bahwa ia tidak seharusnya berbuat dosa ini lagi, baru ia makin merasa tertekan oleh dosa ini. Sekali demi sekali bergumul membuatnya terus-menerus tertekan oleh dosa ini. Tetapi ia tetap mengucapkan kata-kata yang tidak jujur dan membuat dia semakin merasa menderita. Sampai kapan ia bisa terlepas dari dosa ini? Sampai suatu hari, ketika ia merasakan bahwa bagaimanapun ia harus menang atas dosa ini! “Jika aku tidak dapat menang, aku tidak dapat hidup lagi.” Ia telah merasakan tekanan dari dosa ini, dan merasa tidak tahan lagi. Saat ini, tekanan telah menjadi begitu besar sehingga kekuatan untuk mengalahkannya juga menjadi besar. Sampai saat inilah ia seolah-olah memiliki kekuatan yang lebih besar untuk datang kepada Allah dan berseru kepada nama-Nya, seolah-olah ia memiliki kekuatan yang lebih besar untuk menerima pekerjaan Kristus. Saat ini di hadapan Allah ia bisa berkata kepada Allah, “Ya Allah! Jika Engkau tidak membuat aku menang atas dosa-dosaku bersandarkan apa yang telah Tuhan Yesus genapkan, aku tidak dapat hidup lagi.” Jika ia berpegang kepada Allah seperti ini, ia akan memiliki kemenangan. Nampakkah Anda? Tekanan dosa memberi kekuatan kepadanya, sehingga ia bisa datang ke hadapan Allah untuk mendapatkan kelepasan.
Baiklah saya memberi Anda contoh yang lain. Beberapa orang beriman sering mengeluh bahwa pikiran yang kotor sering melintasi pikiran mereka. Mereka sering kali tidak dapat menghentikan pikiran yang kotor itu. Mereka tahu bahwa ini tidak baik. Akan tetapi mereka tidak menentangnya dan tidak menemukan kekuatan untuk berdoa kepada Allah tentang hal ini. Mereka mungkin menolaknya dan sedikit berdoa, tetapi mereka menyelesaikannya setengah hati dan tidak ada kekuatan. Mengapa mereka bertindak seperti ini? Sebabnya adalah karena mereka tidak merasakan tekanan dosa. Hasilnya, mereka tidak memiliki kekuatan untuk menang atas dosa. Jika mereka memikirkan hal ini sekali, dua kali, ratusan kali, dan menolaknya sekali, dua kali, ratusan kali, dan menemukan diri mereka gagal dan gagal lagi, bertobat kepada Allah, dan merasa kecewa atas kegagalan ini, mereka akan menyadari bahwa tekanan dosa itu sangat besar, dan akhirnya, mereka tidak dapat bertoleransi terhadap dosa itu, bahkan untuk lima menit saja mereka tidak bisa menunggu lagi. Saat itu mereka akan mendapatkan iman dan kekuatan untuk menang atas dosa-dosa mereka. Pada waktu biasa, mereka merasakan bahwa iman mereka itu tidak kuat. Tetapi ketika mereka merasakan tekanan yang besar, mereka mendapatkan kekuatan dalam iman mereka. Pada waktu biasa, mereka menemukan mereka tidak memiliki kekuatan untuk menolaknya. Tetapi ketika tekanan menjadi besar, mereka menemukan bahwa mereka memiliki kekuatan untuk menolaknya. Ingatlah, tekanan menghasilkan kekuatan. Semoga kita memalingkan semua tekanan yang kita hadapi dalam hidup seharihari kita menjadi kekuatan, sehingga kita dapat maju ke depan. Ingatlah, seorang beriman yang memiliki kekuatan, bukan berarti mereka memiliki kekuatan dari luar yang lebih besar daripada yang mereka miliki; tetapi mereka tahu bagaimana menggunakan tekanan yang menimpa dirinya.
2. TEKANAN KEPERLUAN
Ada seorang saudara yang bertanya kepada saya mengapa doanya tidak dijawab. Saya berkata, itu disebabkan karena tidak ada tekanan. Ia bertanya, mengapa memerlukan tekanan? Harus ada tekanan barulah doa mendapatkan jawaban. Saya sering bertanya kepada saudara-saudara, apakah Allah mendengarkan doa mereka? Mereka sering menjawab: Setelah aku berdoa untuk sesuatu hal sebanyak tiga atau lima kali, lalu aku lupa tentang hal itu. Mengapa mereka lupa? Karena mereka tidak merasakan ada tekanan atas keperluan itu. Sangat mengherankan bahwa kebanyakan orang seperti ini. Jika Anda lupa, Anda tidak dapat menyalahkan Allah, bila Ia juga melupakannya. Jika Anda hanya berdoa beberapa kata dengan setengah hati, Allah tentu tidak akan menggenapkannya bagi Anda. Banyak doa seperti suatu karangan. Akan lebih baik jika Anda tidak mengucapkan doa-doa semacam itu. Banyak doa telah merusak prinsip pertama berdoa. Tidak heran doa-doa semacam itu tidak dijawab. Apakah prinsip pertama berdoa? Bukan iman, bukan janji, tetapi keperluan. Jika tidak ada keperluan, tidak ada doa. Karena itu, agar Allah menjawab doa Anda, hal pertama yang Ia lakukan adalah menaruh suatu keperluan di dalam Anda. Hal pertama yang Allah berikan kepada Anda adalah tekanan. Melalui hal ini Anda akan merasakan suatu keperluan dan menyadari bahwa Anda harus datang kepada Allah. Kemudian Anda akan menerima jawaban-Nya.
John Knox adalah seorang yang berdoa dengan penuh kekuatan. Ratu Mary dari Inggris pernah berkata, “Aku tidak takut terhadap seluruh pasukan dari Skotlandia, tetapi aku takut terhadap doa John Knox.” Bagaimana John Knox berdoa? Ia berkata, “Ya Allah! Berikan aku Skotlandia, atau aku mati!” Mengapa ia berdoa demikian? Ia berdoa demikian karena tekanan di dalamnya besar. Tekanannya begitu besar sehingga ia tidak dapat menanggungnya. Hatinya tertekan sehingga ia harus mengutarakan doa seperti itu. Hari ini gereja-gereja di Skotlandia tetap sebagai gereja-gereja yang terbaik di seluruh dunia.
Anda mungkin tidak mengerti mengapa pada waktu itu Musa berdoa, “Tetapi sekarang, kiranya Engkau mengampuni dosa mereka itu — dan jika tidak, hapuskanlah kiranya namaku dari dalam kitab yang telah Kautulis” (Kel. 32:32). Musa berdoa seperti itu karena ia memikul suatu keperluan. Ia ditekan oleh keperluan itu sedemikian rupa sehingga jika Allah tidak menyelamatkan Israel, ia rela untuk dibinasakan. Itulah sebabnya Allah mendengarkan doanya.
Begitu pula Paulus. Ia berkata, “Bahkan, aku mau terkutuk dan terpisah dari Kristus demi saudara-saudaraku, kaum sebangsaku secara jasmani” (Rm. 9:3). Jika Israel tidak diselamatkan, ia rela kehilangan keselamatannya sendiri. Ini bukan hanya perkataan yang keluar dari bibirnya atau luapan emosinya. Tekanan keperluan memberinya suatu perasaan. Sering kali orang meniru doa-doa orang lain, tetapi tidak ada kekuatan; doa-doa demikian tidak berguna. Ini dikarenakan tidak ada tekanan. Siapakah yang pernah berdoa, “Ya Allah, jika Engkau tidak menjawab aku, aku tidak akan bangun”? Jika Anda memiliki perasaan demikian dan mengutarakan perkataan demikian, Allah tentunya akan menjawab. Mungkin beberapa orang akan pulang ke rumah dan mengucapkan perkataan yang serupa, tetapi yang paling penting adalah merasakan adanya tekanan.
Ada seorang beriman yang sangat baik di Tsinan. Ia memiliki seorang kakak laki-laki (sama-sama pelajar) yang selalu menentang dan menertawakan dia. Tahun lalu ketika saya bekerja di kampusnya, saya pernah berbicara dengan saudaranya yang belum percaya itu, tetapi saudaranya itu tetap tidak mau percaya. Saudara kita ini biasa bersaksi tentang Tuhan di kampus dan membantu banyak orang. Tetapi suatu saat ia berhenti bersaksi dan kehilangan senyumnya. Ketika saya ada di sana, saudarasaudara yang lain memberi tahu saya tentang situasinya. Mereka khawatir kalau ia kecewa dan mundur, dan mereka berharap saya dapat membantunya. Walaupun saya bertemu dengannya beberapa kali, tetapi setiap kali setelah kami bercakap-cakap sebentar, ia cepat-cepat pergi. Saya heran, mengapa ia mencoba menghindari saya.
Ada seorang saudara memberi tahu saya, dia pernah berkata kepadanya bahwa dia tidak ada masalah apa-apa kecuali perihal saudaranya belum diselamatkan itu. Ia tidak mau bersaksi lagi kalau saudaranya belum beroleh selamat. Percakapan ini ditutup dengan komentar: Walaupun ia berkata demikian, aku merasa mungkin ada alasanalasan lain yang tersembunyi. Malam hari setelah usai sidang yang terakhir, saya berbicara lagi dengan saudara yang merasa kecewa itu. Saya bertanya kepadanya mengapa akhir-akhir ini ia berperilaku demikian. Ia menjawab, “Jika Allah tidak menyelamatkan saudaraku, aku tidak akan pernah bersaksi tentang Tuhan lagi.” Setelah mendengar kata-katanya, saya menjadi mantap. Saya tahu dia sangat tulus, saya tahu ia benar-benar untuk kakak laki-lakinya. Saya menyadari bahwa ia memiliki beban khusus untuk saudaranya sehingga sangat tertekan. Dalam hal ini hanya ada dua alasan untuk situasinya: entah musuh yang menipu dan mengecewakannya, sehingga tidak maju bekerja untuk Tuhan, atau Allah ingin menyelamatkan saudaranya. Jika Allah telah memberinya tekanan ini dan menyebabkan dia berdoa dengan sungguhsungguh, kakak laki-lakinya pasti segera beroleh selamat. Tetapi tekanan atas dirinya terlalu besar, ia tidak tahan lagi. Itulah sebabnya ia memiliki reaksi semacam itu. Setelah saya kembali ke rumah, saya menerima surat dari saudara lain di sekolah itu, memberi tahu saya bahwa kakak laki-laki saudara itu telah beroleh selamat. Ternyata tidak lama setelah saya pergi, kakak laki-laki saudara ini sakit, saat itulah ia memutuskan untuk menerima Tuhan, dan ia sembuh dari sakitnya.
Kita dapat mengenal satu prinsip dari pengalaman saudara ini. Sebelum Allah mendengarkan doa kita, Ia selalu menaruh tekanan yang besar pada diri kita sehingga kita harus berdoa. Mula-mula kita tidak memiliki kekuatan untuk berdoa. Tetapi setelah ada tekanan, kita dapat berdoa. Semakin kuat tekanan dari Allah itu, semakin besar kekuatan doa kita. Karena itu, baiklah kita belajar satu pelajaran bahwa tekanan menghasilkan kekuatan. Tujuan dari tekanan itu bukan semata untuk menekan kita, tetapi untuk memberi kita kesempatan mengubahnya menjadi kekuatan. Sekarang kita dapat memahami mengapa Allah mendengarkan beberapa doa, tetapi tidak mendengarkan doa yang lain. Kita dapat memahami mengapa Allah mendengarkan doa mengenai hal-hal yang besar, tetapi tidak mendengarkan doa-doa mengenai hal-hal yang kecil. Mengapa Allah mendengarkan doa Anda yang tertekan, yang Anda ucapkan bagi orang yang Anda kasihi, atau bagi seorang teman atau rekan sekerja yang jatuh sakit? Mengapa Allah tidak segera menjawab doa Anda ketika Anda sakit kepala, flu, atau luka lecet? Seperti telah saya katakan sebelumnya, setiap doa yang tidak bisa menjamah Anda, tidak bisa juga menjamah Allah. Ini sepenuhnya adalah masalah kekuatan, dan kekuatan selalu ditentukan oleh tekanan.
Mengapa Allah membiarkan hal-hal yang sulit, hal-hal yang tidak dapat diselesaikan, dan hal-hal yang tidak dapat dihindari terjadi pada kita? Satu-satunya penyebab Allah membiarkan hal-hal itu menimpa kita ialah agar kita dapat melalui tekanan itu memperoleh kekuatan untuk mencari Allah. Kegagalan kita disebabkan kita tidak tahu bagaimana mengubah tekanan menjadi kekuatan. Kini, kita tahu bahwa semua tekanan memiliki suatu tujuan. Namun, maksud saya, kita tidak perlu menunggu sampai kita ditekan melampaui batas baru mulai berdoa. Kita harus belajar berdoa baik sewaktu ada tekanan dan tidak ada tekanan. Akan tetapi, jika ada tekanan, kita harus mengubahnya menjadi kekuatan. Jika kita mengubah setiap tekanan menjadi kekuatan, kita akan melihat bahwa tekanan datang untuk menyatakan kekuatan kebangkitan Allah. Tidak ada kekuatan yang lebih besar daripada kekuatan kebangkitan. Jika kita ditekan dan tidak ada harapan dalam segala sudut, kita akan dengan jelas merasakan kekuatan kebangkitan timbul di dalam kita. Jika saya bertanya, berapa kali doa-doa Anda dijawab dalam seumur hidup Anda? sedikitnya kita dapat menyebut ada beberapa doa telah dijawab. Mengapa doa-doa itu dijawab? Bukankah karena tekanan itu sangat besar, sehingga kita tidak mampu melanjutkan lagi, lalu kita mencurahkan hati kita kepada Allah dan Ia mendengarkan? Mungkin kita tidak pernah berpuasa. Pada saat itu, kita mau tidak mau harus berpuasa. Kita merasakan bahwa kita dipaksa datang kepada Allah. Kita menemukan bahwa doa tidak lagi menjadi beban, tetapi melepaskan beban.
3. TEKANAN LINGKUNGAN
Selain tekanan dosa dan tekanan keperluan, juga ada tekanan lingkungan. Allah menghendaki kaum beriman di bumi melewati tekanan, agar mereka dapat memiliki kehidupan yang tepat. Banyak kejadian tidak lancar yang terjadi dari saat ke saat dalam lingkungan kaum beriman. Kadang kala kesulitan datang dari keluarga. Di saat lain kesulitan datang dari teman-teman di luar keluarga. Kadang kala usaha yang telah dilakukan bangkrut. Di saat lain seseorang menderita kerugian dalam pekerjaan, mengalami diskriminasi dari teman-teman sekantor, ditentang, dan disalahpahami orang lain, atau kesulitan keuangan. Mengapa hal-hal ini terjadi? Banyak orang tidak mengetahui kemustikaan hayat kelahiran kembali yang telah mereka terima. Walaupun mereka telah diselamatkan dan dilahirkan kembali, mereka tidak tahu kemustikaan hayat kelahiran kembali. Setelah mereka ditekan barulah mereka mengetahui bahwa hayat kelahiran kembali, hayat baru yang mereka terima dari Allah, mampu menang atas segala lingkungan. Setiap tekanan di luar bertujuan membuktikan realitas dan kekuatan hayat kelahiran kembali. Tuhan menaruh kita dalam lingkungan-lingkungan yang menekan untuk menunjukkan bahwa kita tidak dapat menghadapinya tanpa hayat-Nya. Kekuatan hayat-Nya dinyatakan melalui tekanan di luar. Jika kita menghadapi sesuatu yang menusuk hati kita, sehingga kita menangis tersedu-sedu secara tersembunyi, tidak dapat menghibur diri sendiri, tidak dapat terlepas dari masalah, saat itu kalau kita percaya kepada Allah, kita akan mengalami kemenangan yang penuh. Kita akan heran atas kekuatan besar yang kita miliki yang membuat kita menang. Ini disebabkan tekanan di luar menyebabkan kita bersandar kepada Allah, dan menghasilkan tertampilnya realitas kekuatan hayat-Nya. Tentu saja, orang yang belum percaya, yang tidak memiliki hayat kelahiran kembali, tidak akan mampu melewati lingkungan-lingkungan yang berlawanan; ia tentu akan jatuh oleh tekanan di luar. Tetapi orang Kristen adalah orang yang dilahirkan kembali, dan di dalamnya ada suatu hayat yang lebih kuat daripada tekanan di luar. Ia tahu bahwa ketika ia ditekan, itu adalah saatnya dia menang. Tekanan dalam lingkungan hanya menyatakan bahwa di dalamnya ada hayat kelahiran kembali.
Saya pernah membaca traktat bahasa Inggris yang berjudul, “Menjadi Mesin Penyuplai Gas.” Traktat itu mengisahkan tentang manusia yang unik di Kota Pittsburgh di Amerika Serikat. Di sana, setiap orang menggunakan lampu gas. Pemilik dari pabrik gas adalah orang Kristen. Suatu hari ia mengalami suatu kesulitan. Para pelanggannya sering menulis surat keluhan tentang hal-hal yang sepele. Relasi-relasinya menentangnya tidak memberikan kemudahan yang biasanya diberikan kepadanya. Ia berdoa kepada Allah mohon kekuatan untuk menang atas semuanya itu. Tetapi setelah ia berdoa situasinya menjadi semakin buruk. Suatu hari seorang pekerja pabrik datang dan mengatakan, “Hari ini setiap mesin di pabrik berhenti. Kita tidak menemukan penyebabnya, dan kita tidak tahu di mana kerusakannya. Sekarang harap Anda sendiri yang memeriksanya.” Setelah diperiksa, ia menemukan bahwa tidak ada kerusakan pada mesin kecuali klep ketel uap yang rusak. Tanpa tekanan, uap tidak dapat digunakan, dan setiap mesin berhenti. Pada saat itu ia mendengar suara kecil yang mengatakan kepadanya, “Kamu harus menjadi mesin penyuplai gas.” Setelah itu, ia memberi tahu orang, “Seperti keledai berbicara kepada Bileam, hari ini mesin penyuplai gas ini berbicara kepadaku. Aku berterima kasih dan memuji Allah.” Selanjutnya Ia berkata, “Jika klep itu rusak, tidak ada tekanan. Jika tidak ada tekanan, di kota ini tidak ada lampu gas yang dapat menyala. Tekanan bisa membuat setiap lampu gas bersinar. Saya tidak seharusnya menolak segala tekanan. Sebaliknya, saya harus menjadi mesin penyuplai gas.”
Saudara-saudara, kekuatan hayat dalam seseorang tidak akan pernah lebih besar daripada tekanan yang ia tanggung. Ada seorang saudara di antara kita yang pada saat upacara pernikahannya tidak mau membungkuk untuk menyembah gambar nenek moyangnya. Pamannya, sebelumnya telah mengusahakan baginya pekerjaan di suatu bank, tetapi karena ia menolak untuk menyembah nenek moyangnya, posisi itu tidak diberikan kepadanya. Kita merasa prihatin terhadapnya, tetapi kejadian ini justru menunjukkan betapa besar kekuatan yang ada di dalamnya. Misalnya, ada seseorang mendorong saya, tetapi setelah didorong saya masih dapat tetap bertahan berdiri, ini menunjukkan besarnya kekuatan yang ada di dalam saya. Dorongan dari luar hanyalah untuk menampilkan kekuatan yang ada di dalam. Seberapa besar tekanan dari luar, sebegitu besar juga kekuatan yang nyata dari dalam.
Alkitab tidak hanya memberi tahu kita fakta kebangkitan, tetapi juga memberi tahu kita prinsip kebangkitan. Tuhan Yesus bangkit dari antara orang mati; ini adalah satu fakta. Tetapi ada banyak ajaran tentang kebangkitan, misalnya mengenal kekuatan kebangkitan adalah prinsip kebangkitan. Karena itu, kebangkitan bukan hanya suatu fakta, tetapi juga suatu prinsip yang harus dibuktikan dalam kehidupan kita. Prinsip kebangkitan berdasar pada fakta kebangkitan. Tadinya, ada Seorang manusia yang tubuh-Nya hidup, kemudian Ia dipaku di atas salib. Secara fisik Ia mati dan dikubur, tetapi Ia bangkit dari antara orang mati. Belenggu maut tidak memiliki kekuatan atas Dia. Di dalam-Nya ada sesuatu yang lebih kuat daripada maut. Ia telah melewati maut dan tetap hidup; Ia tidak terjamah oleh maut. Prinsip kebangkitan adalah melewati maut dan tetap hidup.
Jika ada seorang saudara yang secara alamiah sangat sabar, ramah, dan baik, ia hanya memiliki kebajikan alamiah. Allah akan membiarkan teman-teman, sanak keluarga, dan rekan kerjanya menekan, menusuk, menipu, dan melukainya, sampai dirinya tidak tahan dan mulai marah. Kemudian ia nampak bahwa kebajikan alamiahnya tidak mampu bertahan melewati maut (ujian yang besar). Jika pada saat itu ia mau mengangkat kepalanya kepada Allah dan berkata kepada-Nya, “Ya Allah, kesabaranku telah habis; nyatakanlah kesabaran-Mu dari dalamku,” ia akan dengan takjub menemukan kesabaran di tengahtengah situasi maut. Inilah kebangkitan. Kebangkitan adalah hayat Allah melewati maut dan tetap hidup. Segala sesuatu yang alamiah, bagiku mengalami maut, tidak dapat bangkit lagi. Segala sesuatu yang dari Allah, setelah melewati maut, tetap hidup. Banyak orang tidak tahu apa yang berasal dari diri mereka dan apa yang berasal dari diri Allah; apa yang berasal dari daging dan apa yang berasal dari Kristus; apa yang usang dan apa yang baru; apa yang dari alamiah dan apa yang dari kebangkitan. Itulah sebabnya Allah membiarkan maut datang ke atas diri mereka, sehingga mereka tahu berapa banyak yang mereka miliki yang mampu melewati maut dan berapa banyak yang tidak mampu melewati maut. Saat itulah mereka mengenal kebangkitan. Mengapa Allah membiarkan tekanan datang menimpa Anda? Satu-satunya penyebab adalah untuk menunjukkan kepada Anda bahwa segala sesuatu yang Anda kira dapat Anda lakukan dan segala sesuatu yang Anda kira dapat Anda tahan atau dapat Anda lawan, semua bisa lenyap dan gagal. Anda akan ditekan sedemikian rupa sehingga Anda hanya dapat berkata, “Ya Allah, aku tidak tahan lagi. Kekuatanku telah habis. Nyatakanlah kekuatan-Mu atasku.” Allah menghendaki Anda ditekan sedemikian rupa sehingga tekanan menghasilkan kekuatan. Melalui ini tekanan tidak hanya menjadi kekuatan bagi Anda untuk berseru kepada Allah, tetapi juga menjadi faktor yang mendatangkan kekuatan pekerjaan Allah.
Tuhan Yesus juga memiliki pengalaman yang sama. Ia berkata, “Jika biji gandum tidak jatuh ke dalam tanah dan mati, ia tetap satu biji saja; tetapi jika ia mati, ia akan menghasilkan banyak buah” (Yoh. 12:24). Semoga kita hari demi hari lebih dalam mengenal Kristus dan kuasa kebangkitan-Nya. Tujuan seumur hidup Paulus juga demikian. Ia berkata bahwa ia tidak menganggap dirinya sudah mendapatkan atau sudah sempurna, tetapi ia mengejarnya, supaya ia tidak saja mengenal fakta kebangkitan Kristus, lebih-lebih mengenal (yaitu mengalami) kuasa kebangkitan-Nya (Flp. 3:12, 10). Dalam 2 Korintus 4:8-10 ia berkata bahwa para rasul ditekan dari segala aspek, namun tidak hancur terjepit (ini menunjukkan situasi yang di luar); habis akal, namun tidak putus asa; dianiaya, namun tidak ditinggalkan sendirian; dihempaskan, namun tidak binasa; selalu membawa kematian Yesus di dalam tubuhnya, supaya kehidupan Yesus juga menjadi nyata di dalam tubuhnya. Inilah lingkungan dan hayat Paulus. Ia mengalami banyak tekanan yang di luar. Pada saat yang bersamaan, di dalam ia mengalami kekuatan yang besar. Tekanan di luar hanya untuk menyatakan kekuatan yang ada di dalamnya.
Semua situasi lingkungan kita telah diatur Allah bagi kita. Ingatlah entah kita berada di rumah, di sekolah, bekerja di kantor, atau di tempat lain, Allahlah yang mengatur lingkungan bagi kita. Entah kita berada dalam lingkungan yang baik atau lingkungan yang tidak baik, kita harus ingat bahwa Allah menghendaki kita mengekspresikan hayat kebangkitan Kristus. Apakah kita bertumbuh atau tidak tergantung pada bagaimana kita menghadapi lingkungan kita. Segala sesuatu yang menekan kita bertujuan melatih kita agar kita memperoleh hayat kebangkitan. Siapa yang memiliki kekuatan? Tentunya orang Kristen yang lebih bertumbuh, lebih memiliki kekuatan. Tetapi apakah artinya memiliki kekuatan yang lebih besar dan hayat yang lebih dalam? Artinya adalah kita mengalami tekanan yang besar dan mampu menghadapi tekanan itu. Jika kita ingin mengenal berapa dalamnya hayat seorang Kristen, yang perlu kita perhatikan adalah cara ia menghadapi tekanan. Sayang, orang-orang Kristen selalu ingin mempertahankan kekuatan alamiah mereka. Sering kali kita tidak ingin mati, dan juga tidak ingin Tuhan kita mati. Tetapi jika Tuhan tidak mati, tidak akan ada kebangkitan. Banyak orang Kristen mengharapkan menghadapi sedikit mungkin masalah dan penderitaan. Kapan kala mereka menghadapi penderitaan, sakit, atau kesedihan, mereka meminta Allah untuk menyingkirkannya. Jika kita melakukan hal ini, kita hanya dapat hidup, tetapi kita tidak dapat mengalami kebangkitan. Jika kita hanya dapat bertahan terhadap teguran sepuluh orang, kita mungkin meminta Allah jangan memberi kita pencobaan lebih dari sepuluh orang. Tetapi Allah akan memberi kita tekanan sebelas orang. Kita mungkin berkata kepada Allah bahwa kita tidak tahan lagi dan bahwa kita tidak mampu melakukan apa yang harus kita lakukan. Tetapi Allah justru hendak membawa kita ke tahap ini; Ia ingin kita ditekan sehingga kekuatan kita, kesabaran kita, dan kebaikan daging kita tidak dapat menolong kita lagi. Sehingga kita hanya dapat berkata kepada-Nya, “Aku tidak tahan lagi. Berilah aku kekuatan untuk menang terhadap semuanya ini.” Saat ini kita akan nampak bahwa kita tidak hanya mampu menang atas tekanan dari sepuluh orang, tetapi juga menang atas tekanan dari dua puluh orang, dan kita akan menerima kekuatan yang lebih baru dan lebih besar. Karena itu, semakin besar tekanannya, semakin besar pula kekuatannya. Jika kita menemukan diri kita tidak memiliki kekuatan, itu disebabkan kita belum terlatih menerima tekanan. Tetapi kita tidak perlu menunggu sampai kita menemukan jalan buntu baru kita menengadah kepada Allah. Begitu kita menemukan situasi yang sulit untuk diatasi, kita harus menengadah kepada Allah. Dengan demikian, kita akan menerima kekuatan. Setiap kali kita menghadapi tekanan baru, kita harus memalingkan tekanan menjadi kekuatan. Jika kita melakukan ini saat demi saat, kekuatan kita akan bertumbuh besar.
Allah tidak pernah mempertahankan hal-hal yang alamiah; Ia hanya ingin kebangkitan. Ia ingin hal-hal yang alamiah melewati maut dan bangkit. Allah tidak pernah mengubah hal-hal yang alamiah. Ia adalah Allah yang memberikan hayat kepada orang mati dan Allah yang menjadikan ada dari yang tidak ada (Rm. 4:17). Menjadikan ada dari yang tidak ada adalah kuasa penciptaan Allah. Memberi hayat kepada orang mati adalah kuasa kebangkitan Allah. Allah yang Abraham percayai adalah Allah yang memberikan hayat kepada orang mati dan menjadikan ada dari yang tidak ada. Manusia ingin mempertahankan dan memelihara hayat jiwaninya, tetapi Allah tidak ingin hayat itu. Allah ingin membuangnya. Setelah hayat Anda dibuang oleh-Nya, Anda akan berkata kepada Allah, “Ya Allah! Aku tidak dapat melakukannya. Aku hanya bagaikan tubuh mati yang terbaring di hadapan-Mu.” Maka Allah akan memberi Anda kebangkitan. Inilah rahasia hayat dan kekuatan. Hari demi hari saat Anda menghadapi tekanan, ingatlah bahwa tekanan itu kekuatan. Anda tidak seharusnya meremehkan tekanan. Hasilnya, semakin besar tekanan yang Anda hadapi, semakin besar kekuatan yang Anda miliki, dan Anda akan menemukan bahwa diri Anda bisa menang atas segala sesuatu dan mendapatkan kekuatan yang lebih besar.
4. TEKANAN PEKERJAAN
Banyak pekerjaan Allah juga harus melewati tekanan agar dapat mendatangkan hasil yang baik. (Para sekerja harus menaruh perhatian yang khusus pada butir ini). Akan tetapi, tidak banyak sekerja memiliki pengalaman ini atau ingin mengalami hal ini. Jika Anda adalah orang yang setia, Anda mungkin sudah mengalami ini sebelumnya, dan mungkin akan mengalami lagi di masa yang akan datang. Jika Anda belum pernah memiliki pengalaman ini sebelumnya, Anda tentu akan mengalaminya di masa yang akan datang. Allah pasti akan membawa semua pekerjaan Anda melalui maut. Allah tidak suka maut, tetapi Ia harus membawa pekerjaan Anda melewati maut sebelum masuk ke dalam kebangkitan.
Beberapa orang melihat banyak jiwa telah diselamatkan pada permulaan pekerjaan mereka; mereka menemukan pekerjaan mereka semarak, dan segala sesuatu berjalan dengan lancar. Tetapi yang mengherankan mereka, kondisi itu tidak bertahan lama. Setelah sejangka waktu, pekerjaan itu berhenti. Orang yang telah beroleh selamat kelihatannya tidak bertumbuh lagi. Selanjutnya, tidak hanya pekerjaan yang berhenti, tetapi segala sesuatu kelihatannya menjadi dingin dan mati. Mereka masih ingin melanjutkan, tetapi kelihatannya tidak bisa. Seakan-akan mereka telah kehilangan semua kekuatan, dan mereka heran mengapa demikian. Mereka merasa semua harapan telah hilang. Allah kelihatannya tidak memberkati pekerjaan mereka lagi. Pada saat demikian, Allah akan memberi terang untuk menyelidiki hati mereka. Pada saat demikianlah mereka akan tahu apakah mereka benar-benar untuk Allah atau untuk diri mereka sendiri. Mereka akan tahu apakah mereka melakukan ini karena persaingan dengan yang lain atau melakukannya untuk kemuliaan Allah. Untuk siapa Anda bekerja? Ketika pekerjaan itu lancar dan semarak, Anda mengira segala sesuatu adalah untuk Allah. Tetapi ketika pekerjaan itu berada di bawah tekanan, Anda baru tahu apakah Anda bekerja untuk Allah atau apakah pekerjaan Anda tercampur dengan unsur diri Anda sendiri.
Siapa saja yang mengalami hal ini akan tahu bahwa ini adalah saat-saat yang paling pahit. Anda merasa bahwa segala sesuatu menekan dan melemahkan. Anda ditekan sedemikian rupa sehingga Anda memohon, “Ya Allah, mengapa semuanya begini? Mengapa tidak ada satu pun yang beroleh selamat? Mengapa semua orang beriman dalam suasana mati?” Anda sangat tertekan sehingga Anda tidak tahan selain bertanya apa yang harus Anda lakukan dan ke mana Anda harus pergi. Anda melihat bahwa kekuatan Anda yang lalu tidak cukup untuk menghadapi keadaan saat ini, dan pengalaman Anda yang lalu tidak cukup untuk memenuhi keperluan saat ini. Allah mungkin menunjukkan kepada Anda bahwa pada saat semarak, Anda percaya diri dan puas diri; Anda diam-diam menyimpan kesombongan rohani dan bergairah untuk kemuliaan diri sendiri. Anda senang bersaing dengan orang lain, dan banyak hal yang Anda lakukan adalah untuk manusia dan bukan untuk Allah. Jika pekerjaan Anda melewati maut, itu baru benar. Pada saat demikian Anda akan tahu bahwa tekanan dalam pekerjaan Anda akan sangat berguna bagi Anda.
Musa harus terlebih dulu memahami apakah sunat, sebelum ia dapat bekerja. Sebelum Musa menjadi pengantin darah, Allah ingin membunuhnya. Allah tidak dapat membiarkan daging dicampurkan ke dalam pekerjaan-Nya. Allah ingin Anda ditekan sedemikian rupa sehingga Anda tidak peduli jika pekerjaan terbengkalai, atau jika tidak ada orang yang beroleh selamat, atau jika semua saudara tercerai-berai. Ini disebabkan pekerjaan dan semua perkara adalah milik Allah, bukan milik Anda. Saat itu Anda akan berkata kepada Allah, “Asalkan Allah dipermuliakan, tidaklah masalah jika Ia membuang segala sesuatu atau membiarkan segala sesuatu tidak sukses.” Dengan demikian, Anda akan melewati maut. Ini adalah prinsip yang terpenting dalam penanggulangan Allah atas pekerja-Nya. Setelah itu Allah sekali lagi dengan jelas menaruh beban pekerjaan pada Anda. Tetapi kali ini berbeda sama sekali. Sebelumnya, pekerjaan milik Anda, dan Anda melakukan karena kepentingan Anda ada di dalamnya. Sekarang pekerjaan adalah milik Allah, dan kepentingan Anda bukanlah hal yang penting. Pekerjaan adalah milik Allah, dan Dialah yang mengambil untungnya; Anda tidak seharusnya mengambilnya. Dalam keadaan demikian, Anda akan memohon Allah memberi Anda kekuatan untuk menggenapkan pekerjaan-Nya dalam saat-saat yang gelap dan suram. Anda telah ditekan, tetapi Anda akan memohon Allah membangkitkan pekerjaan-Nya. Segera Anda akan menemukan perubahan yang baru dan situasi yang semarak akan kembali! Tetapi kemudian Anda akan melihat dengan jelas bahwa bukan Anda, tetapi Allah yang bekerja. Tekanan ini akan memberikan kekuatan yang baru untuk bekerja. Sebelumnya, Anda yang bekerja. Sekarang, Allah yang bekerja. Allah membawa pekerjaan-Nya melalui maut dan membawanya masuk ke dalam kebangkitan. Setelah Anda melewatinya, Anda akan melihat bahwa tidak ada apa pun yang dapat menghentikan pekerjaan Allah.
Tetapi sangat disayangkan, banyak pekerja Allah tidak rela menaruh diri mereka ke dalam tangan-Nya. Jika Anda setia dan taat, Anda tentu akan menderita tekanan yang besar. Tidak akan ada hari yang mudah bagi Anda. Ada seseorang bertanya kepada seorang saudara, “Bagaimana kehidupan di Shanghai? Nyaman atau banyak cobaan?” Ia tertawa dan bertanya, “Adakah orang yang dipakai Allah yang tidak menderita pencobaan dan yang memiliki kehidupan yang nyaman?” Orang yang pertama tidak bisa berkata apa-apa.
Kekuatan kita tidak pernah melampaui tekanan yang kita terima. Semakin besar tekanan yang Allah berikan kepada seseorang, semakin besar kekuatan di dalam orang itu. Allah bekerja melalui maut. Jika seseorang tidak pernah melewati maut, ia tidak dapat berbuat apa-apa. Saya takut kebanyakan orang tidak memanfaatkan tekanan mereka sebagaimana seharusnya. Tekanan bagi mereka seperti uap dalam teko yang mendidih, tidak dapat mendorong maju kereta walaupun hanya sejauh setengah mil saja. Selama dua tahun ini, saya sangat merasakan satu hal ini: tekanan mendatangkan kekuatan. Jika Anda memiliki pengalaman akan hal ini, Anda akan mengatakan, “Segala kekuatanku berasal dari tekanan. Kekuatan yang kumiliki dalam kontakku dengan orang lain berasal dari tekanan.” Pada hari itu, ketika kita berdiri di hadapan Allah, kita akan tahu betapa besar tekanan penderitaan Tuhan kita Yesus Kristus, betapa besar tekanan di atas para rasul, dan betapa besar tekanan di atas semua orang yang sangat dipakai oleh Allah.
5. TEKANAN MUSUH
Saat ini banyak orang Kristen yang tidak mengenal tekanan Iblis (Satan). Musuh dapat melakukan banyak pekerjaan dalam kehidupan kita, lingkungan kita, dan hayat kita. Sangat disayangkan, orang Kristen tidak mengenal hal ini. Orang Kristen sering tidak tahu mengapa ia memiliki banyak pikiran yang kacau dan mengapa banyak perkara yang tidak nyaman dalam lingkungannya. Sesungguhnya, beberapa dari hal-hal itu diizinkan oleh Allah, sedangkan yang lain adalah pekerjaan musuh. Ada seorang saudara yang pikirannya selalu mengembara dan sulit untuk berkonsentrasi. Ia pernah tergoda untuk menggorok lehernya sendiri, bunuh diri. Ketika ia memberi tahu saya tentang hal ini, saya bertanya kepadanya, “Dari mana datangnya pemikiran ini? Dari Anda? Dari Allah? Atau dari musuh? Tentu saja bukan dari Allah. Karena itu, pemikiran ini hanya dapat datang dari dua sumber. Jika bukan dari Anda, pasti dari musuh. Bagaimana Anda membedakan pikiran Anda dengan pikiran musuh? Jika itu adalah pikiran Anda, Anda pasti memikirkan hal ini sebelumnya.” Kemudian saya dengan suara lantang bertanya kepadanya, “Pernahkah Anda memikirkan hal ini sebelumnya? Apakah itu pikiran Anda? Atau adakah seseorang yang memikirkan hal ini untuk Anda dan menaruh pikiran ini ke dalam pikiran Anda? Ini adalah prinsip yang sangat penting. Apakah Anda memikirkan hal itu, ataukah orang lain memikirkannya untuk Anda dan menaruh pemikiran ini ke dalam pikiran Anda? Apa pun yang Anda pikirkan sendiri adalah pemikiran Anda. Kalau tidak, itu berasal dari musuh.” Ia berkata, “Aku belum pernah berpikir demikian.” Saya berkata, “Jadi, ini pasti dari Iblis.”
Kita tidak boleh sungkan ketika berkontak dengan musuh. Orang pertama di dunia yang sungkan terhadap musuh adalah Hawa, yang membawa masuk dosa ke dalam dunia. Ada orang Kristen berpikir bahwa ia harus beralasan terhadap musuh. Ketika Tuhan Yesus berada di bumi, musuh bahkan bersaksi untuk-Nya dan berkata, “Yesus, Anak Allah yang Mahatinggi.” Apa yang Tuhan lakukan? Ia menutup mulut si musuh. Orang Kristen pada umumnya berpikir bahwa satu atau dua pemikiran datang dari musuh tidak jadi soal. Namun, sungguh sayang, banyak orang Kristen yang semua pikirannya adalah musuh yang berpikir untuknya. Pikiran mereka adalah mesin pemikir Iblis; mereka telah digunakan oleh musuh yang membuat mereka berpikir sepanjang waktu. Ada orang Kristen yang tidak pernah belajar mengendalikan pikirannya sendiri. Begitu kita mulai mencoba belajar mengendalikan pikiran kita sendiri, kita baru tahu betapa sulitnya mengendalikan pikiran kita.
Mengenai penyakit, kita harus mengakui bahwa banyak penyakit yang terjadi karena kita melanggar hukum alam. Akan tetapi, ada banyak penyakit yang datang dari musuh. Bisul-bisul yang diderita oleh Ayub datang dari musuh, bukan karena Ayub melalaikan kebersihan atau karena ia terkena infeksi oleh barang yang kotor. Saya tidak mengatakan semua penyakit datang dari musuh. Saya mengatakan ada penyakit yang datang dari musuh.
Ada orang menganggap bahwa bencana (kecelakaan) yang menimpa manusia adalah perkara yang berkaitan dengan alam. Tetapi ketika rumah Ayub rubuh menimpa anak-anaknya dan mereka tergencet sampai mati, ketika lembu sapi dan hartanya dirampas oleh orang lain, dan ketika domba-dombanya terbakar oleh api dari langit, apakah itu kebetulan? Itu semua adalah pekerjaan musuh. Karena itu, banyak hal dalam kehidupan sehari-hari kita berasal dari tekanan musuh. Sangat disayangkan, banyak orang yang dengan ceroboh melewatkan hal-hal itu dan tidak pernah mempertanyakan hal-hal itu.
Suatu hari beberapa saudara membagikan traktat Injil di kereta api, dan mereka bertemu dengan seorang Kristen. Mereka mulai bercakap-cakap dengannya. Melihat wajahnya yang penuh dengan duka, mereka menanyainya mengapa ia begitu sedih. Ia berkata, “Aku adalah seorang pengusaha dan selama beberapa tahun ini mengalami banyak hal yang tidak menguntungkan. Kalau bukan sesuatu terjadi pada keluargaku, tentu ada yang terjadi pada pekerjaanku. Aku benar-benar dalam keadaan yang sangat buruk. Situasiku makin lama makin buruk. Aku tidak memiliki jalan keluar. Maka aku bersiap-siap untuk bunuh diri. Aku naik kereta api ke tempat lain untuk bunuh diri.” Saudara-saudara tahu bahwa ini adalah pekerjaan dari musuh, lalu mereka bertanya kepadanya, “Apakah Anda pikir semua yang menimpa Anda selama beberapa tahun ini terjadi secara kebetulan? Ataukah ada seseorang yang secara diam-diam mengatur hal-hal ini bagi Anda?” Ia berpikir dan kemudian berkata, “Kelihatannya ada seseorang yang telah mengatur semuanya ini di belakangku. Kelihatannya ada tangan di belakang papan catur yang menggerakkan buah catur langkah demi langkah.” Saudara-saudara tadi segera memberitahunya bahwa ini adalah pekerjaan musuh. Mereka memberitahunya untuk menentang musuh, dan mereka berdoa bersamanya. Demikianlah kemudian ia pulang ke rumah dengan baik. Tidak lama berselang, ia menulis surat kepada saudara-saudara tadi, katanya, “Setelah aku pulang ke rumah, setiap hari aku menentang musuh. Aku menolak dan menentang segala pekerjaan yang berasal dari musuh. Sekarang kondisi di sekitarku mulai pulih sedikit demi sedikit. Syukur kepada Allah, meskipun aku belum dipulihkan sepenuhnya, aku telah memperoleh kelepasan.”
Saya memperhatikan, banyak orang Kristen tidak menentang musuh. Mula-mula musuh memberi Anda satu atau dua pemikiran, akhirnya, seluruh diri, keluarga, dan lingkungan Anda akan dihancurkan oleh Iblis. Bila Anda ditekan dan Anda tidak menentang, Anda sudah salah. Anda harus memalingkan tekanan itu menjadi kekuatan untuk menentang. Ketika Anda menemukan bahwa Anda tidak dapat menanggungnya lagi, Anda harus menentangnya, dan segera akan ada jalan keluar. Sering kali kita tidak memiliki kekuatan untuk menentang; namun saat kita sangat tertekan sampai kita tidak dapat menanggungnya, di dalam kita timbul kekuatan untuk menentangnya. Karena itu, ketika kita ditekan, jangan menganggap tekanan ini tidak berguna. Sebaliknya, kita harus memanfaatkan tekanan, mengetahui bahwa tekanan menghasilkan kekuatan. Ingatlah jika kita tahu bagaimana memanfaatkan tekanan, tekanan itu tidak akan menjadi penghalang. Dalam faktanya, semakin kuat tekanan itu, semakin besar pula kekuatan kita untuk menentang.