← Daftar isi Orang yang Paling Lembut · bab 1/5

HATI NURANI ORANG BERIMAN

“Bilamana hati kita menuduh kita. Sebab Allah lebih besar daripada hati kita serta mengetahui segala sesuatu. Saudara-saudaraku yang terkasih, jikalau hati kita tidak menuduh kita, maka kita mempunyai keberanian percaya untuk mendekati Allah.”

1 Yohanes 3:20-21

Setelah roh orang beriman dilahirkan kembali, hati nuraninya menjadi hidup. Darah adi Tuhan Yesus telah mencuci bersih hati nurani, supaya hati nurani bersih, mempunyai perasaan yang paling peka, bisa bekerja menurut kehendak Roh Kudus. Pekerjaan pengudusan dan pembaruan Roh Kudus di dalam manusia berkaitan dan berhubungan dengan pekerjaan hati nurani. Kalau orang beriman ingin dipenuhi oleh Roh Kudus, ingin dikuduskan, ingin hidup sesuai dengan kehendak Allah, ingin sepenuhnya berperilaku menurut Roh, ia tidak bisa tidak mendengarkan suara hati nurani. Kalau kita tidak memberi hati nurani kedudukan yang seharusnya didapatkan olehnya, kita pasti terjerumus ke dalam kedudukan berperilaku menurut daging. Setia menanggulangi hati nurani adalah langkah pertama usaha menjadi kudus. Berperilaku menurut hati nurani adalah tanda kerohanian yang sejati. Kalau orang beriman yang karnal (bersifat daging) tidak membiarkan hati nurani bekerja dengan tuntas, dia tidak dapat memasuki dunia kerohanian. Meskipun orang lain dan dirinya sendiri mengira sudah rohani, tetapi kerohaniannya tidak mempunyai dasar. Dosa dan segala yang tidak sesuai dengan kehendak Allah, dan yang tidak sesuai dengan tata krama kaum saleh, kalau tidak ditindak menurut suara hati nurani, berarti dasar kerohanian belum tersusun dengan baik, meskipun di atasnya terbangun banyak cita-cita rohani, semuanya akan runtuh.

Pekerjaan hati nurani adalah bersaksi terhadap kita mengenai sudahkah kita tepat terhadap manusia atau Allah? Sesuaikah semua yang kita kerjakan, pikirkan, dan ucapkan, dengan kehendak Allah, dan apakah kita tidak mengkhianati Kristus? Ketika kehidupan seorang Kristen maju, yang dipersaksikan hati nurani hampir sama dengan yang dipersaksikan Roh Kudus. Karena ketika hati nurani sepenuhnya dikuasai oleh Roh Kudus, ketajaman hati nurani lebih maju dari hari ke hari, sehingga bisa lebih padu dengan suara yang diberikan Roh Kudus. Lagi pula Roh Kudus berbicara kepada orang beriman melalui hati nurani. Perkataan rasul dalam Roma 9:1, “Suara hatiku (hati nuraniku) turut bersaksi dalam Roh Kudus” menunjukkan hal itu.

Kalau hati nurani kita berkata kita salah, bagaimanapun juga kita pasti salah. Kalau hati nurani kita sudah menghakimi kita, kita harus segera bertobat, kita tidak bisa menutupinya atau menyuapnya dengan apa pun. Karena “Bilamana hati kita menuduh kita . . . Allah lebih besar daripada hati kita” (1 Yoh. 3:20), bukankah akan lebih menegur kita? Teguran hati nurani adalah pembicaraannya kepada kita, kalau kita bersalah, apa yang ditegur hati nurani pasti akan lebih dihakimi oleh Allah. Tingkatan kekudusan Allah pasti lebih tinggi daripada hati nurani kita. Sebab itu, kalau hati nurani berkata kepada kita bahwa kita salah, kita pasti benar-benar salah.

Kalau kita salah, lalu harus bagaimana? Kalau perkaranya belum kita lakukan, lekaslah berhenti; kalau perkaranya sudah dilakukan, harus bertobat, mengakui dosa, mohon darah adi mencuci bersih. Yang paling disayangkan, orang beriman hari ini tidak berbuat demikian. Begitu hati nurani menegur, dia berusaha menyuap hati nurani, berkompromi dengan hati nurani, supaya hati nurani tidak mengeluarkan teguran lagi. Dalam keadaan yang demikian, orang beriman sering mempunyai dua macam cara. Yang satu adalah memberi alasan kepada hati nurani, dengan alasan menjelaskan penyebab perilakunya. Maksudnya, kalau alasannya bisa diterima, ini pasti sesuai dengan kehendak Allah, hati nurani juga bisa tenang. Akan tetapi, hati nurani sama dengan intuisi, tidak beralasan; hati nurani melalui intuisi mengetahui kehendak Allah, apa saja yang bukan dari kehendak Allah akan dihakimi. Dia hanya berbicara mewakili Allah, dia tidak mempedulikan alasan apa pun. Karena yang harus diikuti oleh orang beriman itu bukan alasan, juga bukan berarti semua perkara yang masuk akal boleh dilakukan; tetapi kehendak Allah yang diwahyukan dalam intuisi baru boleh dilakukan. Kapan orang beriman melanggar perasaan intuisi, saat itu juga hati nurani bersuara menghakimi. Penjelasan dari alasan meskipun bisa memuaskan pikiran, tetapi tidak bisa memuaskan hati nurani. Kalau apa yang dihakimi oleh hati nurani belum disingkirkan, hati nurani pasti tidak mau menerima alasan apa pun untuk menghentikan penghakimannya. Pada mulanya hati nurani hanya melakukan kesaksian benar atau salah; ketika hayat rohani orang beriman bertumbuh besar, hati nurani tidak saja melakukan kesaksian benar atau salah, juga mempersaksikan apa yang berasal dari Allah, dan apa yang bukan berasal dari Allah. Sebab itu, meskipun banyak perkara menurut pandangan orang baik, tetapi kalau bukan Allah yang mewahyukan demikian, itu hanya orang beriman saja yang aktif, akan dihakimi oleh hati nurani juga.

Masih ada satu lagi, yaitu orang beriman melakukan banyak perkara untuk menghibur hati nurani. Di satu pihak, orang beriman tidak mau menaati suara hati nurani, tidak mau menuruti petunjuknya untuk mendapatkan perkenan Allah, namun di pihak lain, dia takut penghakiman hati nurani, karena ini akan membuat dia tidak tenang, menyebabkan dia merasa tidak nyaman; sebab itu dia berusaha melakukan sesuatu untuk menutupinya. Dia akan melakukan perkara baik untuk menggantikan kehendak Allah. Dia tidak mau menaati Allah, tetapi dia berkata apa yang dia lakukan sekarang, sama baiknya dengan yang ditunjukkan oleh Allah, mungkin lebih baik, lebih indah, lingkupannya lebih luas, keuntungannya lebih banyak, kegunaannya lebih besar, pengaruhnya lebih besar daripada yang ditunjukkan oleh Allah. Dia pikir, bukankah pekerjaan yang demikian itu sangat baik? Tetapi kalau dia teruskan, tidak peduli bagaimana penilaian orang lain, dari sudut pandang Allah, sedikit pun tidak berfaedah dalam kerohanian. Tidak tergantung berapa banyak lemaknya, tidak tergantung berapa banyak kurban bakarannya, tetapi tergantung berapa banyak ketaatannya kepada Allah. Kalau Allah dalam roh mewahyukan barangbarang itu harus dimusnahkan, tidak peduli seberapa baik motivasi Anda, tidak peduli seberapa gemuk lembu dan domba, tidak peduli seberapa berat emas dan perak, semuanya tidak bisa menggerakkan hati Allah. Suara hati nurani harus didengar, kalau tidak, tidak peduli pekerjaan Anda bagaimana, Allah selalu tidak senang. Meskipun ada persembahan yang lebih banyak beberapa kali lipat daripada permintaan Allah, juga tidak bisa menghentikan suara hati nurani. Hati nurani hanya menghendaki kita taat, dia tidak menghendaki kita dengan luar biasa melayani Allah.

Sebab itu janganlah kita menipu diri sendiri. Kalau Kita ingin berperilaku menurut roh, kita tidak bisa tidak merendahkan diri bersujud mendengarkan koreksi dari hati nurani. Orang beriman tidak seharusnya melakukan pengakuan dosa yang berskala besar, mengira dosa saya begitu banyak sampai tak terhitung. Pengakuan dosa yang campur baur, tidak bisa memberi hati nurani kesempatan untuk bekerja. Orang beriman harus membiarkan Roh Kudus melalui hati nurani memberitahukan dosanya kepadanya satu per satu. Orang beriman harus dengan rendah hati, tenang, dan taat, membiarkan hati nurani menegur dan menghakimi dosanya satu per satu. Orang beriman harus menerima teguran dari hati nurani, mau menuruti maksud Roh Kudus, menyingkirkan segala sesuatu yang berlawanan dengan Allah. Beranikah Anda membiarkan hati nurani memeriksa hidup Anda? Beranikah Anda membiarkan hati nurani memberi tahu Anda keadaan hidup Anda yang sesungguhnya dalam seumur hidup Anda? Maukah Anda membiarkan hati nurani menurut maksud hati Allah meletakkan semua kehidupan dan perbuatan Anda ke hadapan Anda satu per satu? Apakah Anda membiarkan hati nurani membedah segala dosa Anda? Kalau Anda tidak berani, tidak mau, dan merasa takut, ini menyatakan dalam hidup Anda masih ada banyak hal yang perlu dihakimi, diserahkan kepada salib, tetapi belum Anda turuti; ini menyatakan dalam banyak hal, Anda belum sepenuhnya taat kepada Allah, belum sepenuhnya hidup menurut Roh; ini menyatakan antara Anda dengan Allah belum ada persekutuan yang sempurna, masih banyak hal yang menghalangi, dengan demikian, Anda tidak bisa berkata kepada Allah, “Antara Engkau dengan aku tidak ada sekatan apa-apa.”

Dengan tanpa syarat menerima teguran hati nurani dan mau sepenuhnya bertindak menurut wahyunya, menyatakan bahwa kita sepenuhnya mempersembahkan diri kepada Allah, kita benar-benar membenci dosa, kita dengan tulus mau melakukan kehendak Allah. Sering kali, kita mau sepenuhnya taat kepada Tuhan, mau bertindak menurut Roh, mau menjadi orang yang diperkenan Allah; saat inilah kita perlu menguji apakah maksud hati kita benar atau palsu, sempurna atau kurang. Kalau kita masih kompromi terhadap dosa, belum bisa sepenuhnya memutuskannya, mungkin separuh dari kerohanian kita adalah palsu. Kalau orang beriman tidak bisa berperilaku mutlak menurut hati nurani, berarti dia tidak bisa berperilaku mutlak menurut roh. Karena kalau permintaan hati nurani belum bisa tercapai, selain “roh mengkhayal” yang memimpin dia, roh yang sesungguhnya juga masih tetap terus-menerus menuntut dia mendengarkan perkataan hati nurani. Kalau orang beriman merasa salah dalam hatinya, tetapi tidak dihakimi di dalam terang lalu bertobat dan dibereskan dengan tuntas, hayat rohaninya pasti tidak mempunyai kemajuan yang sesungguhnya. Persembahan diri orang beriman dan pekerjaannya tergantung pada apakah dia mau sepenuhnya taat kepada Tuhan — taat kepada perintah dan teguran Tuhan — untuk mengetahui kesejatian atau kepalsuannya.

Ketika orang beriman membiarkan hati nurani bekerja, selanjutnya dia tidak seharusnya berhenti di sana; kalau satu dosa sudah ditanggulangi, dosa yang lain seharusnya juga ditanggulangi; satu langkah demi satu langkah terus maju, menanggulangi sampai tuntas semua dosa. Kalau orang beriman setia menanggulangi dosanya, dengan setia bertindak menurut hati nurani, terang surgawi akan bersinar lebih terang di dalamnya, dia akan menemukan dosa yang dulu belum pernah diperhatikan, sehingga hukum Taurat yang ditulis oleh Roh Kudus di dalam hatinya sehari demi sehari lebih jelas lagi, supaya dia bisa membaca, juga bisa mengetahui. Dengan demikian, orang beriman akan mengetahui apa yang disebut kekudusan, apa yang disebut keadilan, kebenaran, apa yang disebut bersih, apa yang disebut tulus. Dulu, terhadap hal-hal ini ia sangat ceroboh, sekarang hal-hal itu terukir di dalam hati. Demikian akan sangat membantu intuisi, akan menambah ketajamannya untuk mengetahui maksud Roh Kudus. Sebab itu, ketika orang beriman ditegur oleh hati nurani, seharusnya ia berkata kepada Allah, “Aku mau taat;” seharusnya ia sekali lagi membiarkan Kristus menjadi Tuhan di dalam hidupnya! Seharusnya ia menerima pengajaran, seharusnya ia bersandar Roh Kudus memberi pengajaran kepada diri sendiri. Kalau orang beriman dengan tulus menuruti hati nurani, Roh Kudus pasti datang membantu.

Hati nurani sebenarnya adalah jendela roh orang beriman, terang surgawi menyorot masuk dari sini, supaya roh orang beriman dan seluruh dirinya penuh dengan terang; seluruh diri dan roh orang beriman juga melihat terang surgawi dari sini. Setiap kali jika apa yang kita pikirkan, ucapkan, dan lakukan tidak baik, tidak sesuai dengan tata krama kaum saleh, terang surgawi akan menyorot masuk dari hati nurani, menyatakan kesalahan kita, menghakimi kegagalan kita. Kalau kita membiarkan hati nurani bekerja, lalu menaatinya, menyingkirkan apa yang dihakiminya, terang surgawi selanjutnya akan lebih besar. Kalau kita tidak mengakui salah, juga tidak mau menyingkirkan dosa, maka bekas dosa masih tetap tertinggal, hati nurani masih tercemar (Tit. 1:15), karena tidak bertindak menurut pengajaran terang Allah. Dengan demikian, satu dosa ditambah satu dosa, satu bekas ditambah satu bekas, akan menyebabkan jendela itu makin buram dari hari ke hari, terang juga sulit tembus masuk ke dalam, bahkan meskipun orang beriman berbuat dosa semaunya, hati nuraninya sama sekali tidak merasa tidak nyaman, karena hati nuraninya telah tertekan, intuisinya telah menjadi tumpul karena dosa. Orang beriman yang makin rohani, makin peka hati nuraninya. Tidak ada satu orang beriman yang menjadi rohani sedemikian rupa sehingga dia tidak perlu mengaku dosa lagi. Kalau hati nurani tumpul, mungkin perasaan akan tidak ada, lalu orangnya pasti mengalami kemerosotan rohani. Pengetahuan yang besar, jerih lelah dalam pekerjaan, kegairahan emosi, keteguhan tekad, semuanya tidak cukup untuk menggantikan kepekaan hati nurani. Kalau orang beriman tidak memperhatikan hati nuraninya, tetapi menuntut kemajuan pikiran dan emosi, dalam perjalanan rohani dia sudah mengalami kemunduran.

Ketajaman perasaan hati nurani bisa bertambah, juga bisa berkurang. Kalau orang beriman memberi tempat bagi hati nurani untuk bekerja, jendelanya pasti makin lama makin terang. Kalau dia tidak mempedulikan suara hati nurani, atau dengan alasan menggantikan tuntutan hati nurani, maka hati nurani akan berulang-ulang berbicara, atau setelah berbicara belasan kali, lalu hati nurani tidak akan berbicara lagi. Suara hati nurani makin lama akan makin kecil, sampai akhirnya tidak bersuara lagi. Satu kali orang beriman tidak mendengarkan suara hati nurani, hayat rohaninya akan terluka sekali. Kalau setiap kali hayat rohaninya terluka, tak lama lagi ia akan mutlak terjerumus ke dalam kedudukan milik daging. Hati yang dulu membenci dosa dan mendambakan kemenangan, sekarang sudah hilang. Kalau kita tidak mengarahkan diri kepada teguran hati nurani, kita tidak bisa mengetahui betapa pentingnya mendengarkan suara hati nurani dalam hidup menurut roh.