HUKUM TENTANG KURBAN PENGHAPUS DOSA
Pembacaan Alkitab: Im. 6:24-30
Dalam berita ini kita akan melihat hukum tentang kurban penghapus dosa. Tidaklah sulit bagi kita memandang Sepuluh Perintah yang diberikan melalui Musa sebagai hukum. Namun, mungkin kita sulit memandang sesuatu yang berkaitan dengan kenikmatan atas Kristus sebagai satu hukum. Kita mungkin beranggapan jika ada hukum mengenai kenikmatan atas Kristus, tidak akan ada kenikmatan. Namun, dalam kelima kurban persembahan masing-masing memiliki hukumnya sendiri. Karena itu, kurban penghapus dosa memiliki hukumnya, dan mengikuti hukum ini ada sejumlah pengaturan.
Sebagai keturunan Adam, kita memiliki hayat yang jatuh, hayat yang tidak patuh pada hukum, tidak mau diatur, diperintah, atau dikendalikan oleh orang lain. Hayat Adam kita adalah pemberontak, dan sifat Adam kita tidak patuh pada hukum. Namun, ketika kita beroleh selamat dan dilahirkan kembali, kita menerima hayat yang lain, hayat ilahi, hayat Allah dan hayat ini berlawanan dengan hayat kita yang jatuh, yang tidak patuh pada hukum. Ini berarti sebagai orang beriman sejati dalam Kristus, kita memiliki dua hayat, satu yang lama dan satu yang baru. Yang pertama adalah alamiah, hayat insani, dan yang kedua adalah hayat ilahi, hayat kekal. Tidaklah berlebihan jika kita mengatakan bahwa hayat ilahi adalah diri Allah sendiri, ini adalah Allah di dalam kita menjadi hayat kita. Hayat alamiah yang jatuh, tidak patuh pada hukum, sedangkan hayat ilahi di dalam kita mutlak menurut hukum dan pengaturan.
Setiap jenis hayat memiliki hukumnya sendiri. Sebagai contoh, burung terbang menurut hukum hayat burung, dan pohon persik menghasilkan buah persik menurut hukum hayat pohon persik. Hayat ilahi juga memiliki hukumnya sendiri.
Hukum tentang kurban penghapus dosa sesuai dengan hukum dari apa yang telah kita nikmati dari Kristus. Dalam kenikmatan kita atas Kristus sebagai kurban bakaran, kita perlu menyadari bahwa Kristus adalah hayat dan hayat ini memiliki hukum. Karena itu, hukum tentang kurban bakaran ditulis menurut hukum Kristus yang telah kita nikmati. Prinsipnya sama dengan kurban persembahan lainnya. Kurban pendamaian dan kurban sajian adalah persona yang hidup, Kristus. Sebagai persona yang hidup, Kristus memiliki hayat dengan hukum. Jadi, hukum kurban pendamaian dan hukum kurban sajian berhubungan dengan hukum hayat Kristus. Kelihatannya, hukum yang tertulis hanya memperhatikan kurban pendamaian dan kurban sajian. Sebenarnya, dalam pengalaman kita, hukum kurban pendamaian dan kurban sajian menjadi hukum yang hidup, hukum hayat Kristus yang kita nikmati.
Setiap hukum ditulis menurut hayat tertentu. Jika kita menulis hukum mengenai orang tua, hukum ini harus sesuai dengan hayat orang tua. Sama halnya dengan hukum yang ditulis mengenai orang muda. Prinsip ini berlaku bagi hukum yang diberikan kepada kita oleh Allah. Allah telah memberi kita hukum supaya kita menyembah Dia karena kita memiliki hayat yang menyembah. Allah tidak pernah memberi hukum semacam itu kepada binatang, karena mereka tidak memiliki hayat demikian.
Tiga bagian dalam Perjanjian Baru menunjukkan bahwa dalam menikmati Kristus pun kita perlu pengaturan. Dalam 1Korintus 9:26-27 Paulus mengatakan, “Sebab itu, aku tidak berlari tanpa tujuan dan aku bukan petinju yang sembarangan saja memukul. Tetapi aku melatih tubuhku dan menguasainya, supaya sesudah memberitakan Injil kepada orang lain, jangan aku sendiri ditolak.” Secara harfiah, kata Yunani yang diterjemahkan “meninju” berarti memukul muka di bawah mata sampai hitam dan biru. Ini bukan untuk menyakiti tubuh seperti dalam ajaran pertapaan, juga bukan menganggap tubuh jahat seperti dalam ajaran Gnostik. Ini adalah menaklukkan tubuh dan menguasainya untuk melayani kita sebagai budak untuk memenuhi tujuan kudus kita. Dalam ayat ini kita melihat bukan hanya ada tuntutan, juga ada perintah. Di sini kita memiliki permintaan yang paling kuat dari hukum yang paling kuat.
Galatia 6:15-16 mengatakan, “Sebab bersunat atau tidak bersunat tidak ada artinya, tetapi menjadi ciptaan baru, itulah yang ada artinya. Bagi semua orang yang memberi dirinya dipimpin oleh patokan ini, turunlah kiranya damai sejahtera dan rahmat atas mereka dan atas Israel milik Allah.” Dalam ayat 15, Paulus memberi tahu kita bahwa “sebab bersunat atau tidak bersunat tidak ada artinya, tetapi menjadi ciptaan baru, itulah yang ada artinya.” Ini adalah anugerah. Hari ini kita tidak perlu bersunat atau tidak bersunat, kita hanya perlu anugerah. Namun, dalam ayat 16, Paulus selanjutnya memberi tahu kita bahwa cara untuk menerima belas kasihan dan damai sejahtera adalah “dipimpin oleh patokan ini”, patokan ciptaan baru. Allah telah menyelamatkan kita kepada keadaan dan kondisi ciptaan baru dengan Kristus sebagai hayatnya. Sekarang kita perlu berjalan menurut patokan ciptaan baru ini.
Patokan ciptaan baru akan mengatur kapan kita tidur pada malam hari dan bangun di pagi hari. Khususnya pada hari Tuhan, patokan ciptaan baru akan mendesak kita bangun sedikit lebih awal, berdoa untuk sidang, dan datang ke sidang lebih awal untuk bertemu Tuhan dan menyembah Dia. Hadiah atas hidup menurut patokan ciptaan baru adalah belas kasihan dan damai sejahtera. Saya dapat bersaksi bahwa ketika saya hidup menurut patokan ini, saya memiliki belas kasihan dan damai sejahtera. Jika kita hidup menurut patokan ciptaan baru dalam hal mempersiapkan diri dan datang ke sidang Hari Tuhan, kita akan menerima belas kasihan dan damai sejahtera.
Hidup menurut patokan ciptaan baru adalah perkara hukum. Dalam ciptaan baru, ada hayat baru, dan di dalam hayat baru ini, ada hukum baru. Hukum baru ini sebenarnya Tuhan sendiri di dalam kita, mengatur kita setiap waktu. Kita adalah ciptaan baru Allah, dan kita memiliki hayat ciptaan baru ini. Pada hayat ini ada hukum yang mengatur. Dalam kehidupan kita setiap hari, kita perlu diatur oleh hukum ini.
Dalam Filipi 3:13-14, Paulus memberi tahu kita bahwa dia melupakan apa yang ada di belakang, mengarahkan diri kepada apa yang ada di depannya, dan “berlari-lari kepada tujuan untuk memperoleh hadiah, yaitu panggilan surgawi dari Allah dalam Kristus Yesus.” Kemudian dalam ayat 15-16 dia berkata, “Karena itu, marilah kita, yang sempurna, berpikir demikian. Dan jikalau lain pikiranmu tentang salah satu hal, hal itu akan dinyatakan Allah juga kepadamu. Tetapi baiklah tingkat pengertian yang telah kita capai kita lanjutkan menurut jalan yang telah kita tempuh.” Kata Yunani yang diterjemahkan “tempuh” di sini berarti berjalan dengan teratur; ini berasal dari kata yang berarti berbaris dalam garis yang diatur, berbaris seperti tentara, memperhatikan langkah, menyesuaikan kebajikan dan kesalehan. Jadi, Paulus di sini menyuruh kita berjalan dalam garis, teratur, dan mengikuti aturan. Tiga bagian Perjanjian Baru ini semua menunjukkan hal yang sama, dalam menikmati anugerah kita perlu diatur.
I. KURBAN PENGHAPUS DOSA DISEMBELIH DI HADAPAN TUHAN
DI TEMPAT KURBAN BAKARAN DISEMBELIH
“Katakanlah kepada Harun dan anak-anaknya: Inilah hukum tentang kurban penghapus dosa. Di tempat kurban bakaran disembelih, di situlah harus disembelih kurban penghapus dosa di hadapan TUHAN” (Im. 6:25a). Ini melambangkan dua hal. Pertama, melambangkan bahwa Kristus sebagai kurban penghapus dosa kita disembelih di hadapan Allah. Kedua, melambangkan bahwa Kristus dipersembahkan kepada Allah sebagai kurban penghapus dosa kita berdasarkan diri-Nya sebagai kurban bakaran untuk Allah.
Kita mungkin berpikir bahwa jika kita membawa kurban persembahan kepada Allah, kita boleh menyembelihnya di sembarang tempat. Namun, di sini Allah menyuruh umat-Nya menyembelih kurban penghapus dosa di hadapan Dia di tempat kurban bakaran disembelih. Kurban persembahan harus disajikan menurut pengaturan Allah. Dari sini kita melihat bahwa walaupun kita hari ini menikmati Kristus sebagai anugerah, masih ada pengaturan yang harus kita ikuti dalam menikmati Kristus.
II. KURBAN PENGHAPUS DOSA ADALAH MAHA KUDUS
Kurban penghapus dosa adalah maha kudus (Im. 6:25b). Ini melambangkan bahwa Kristus sebagai kurban penghapus dosa kita yang dipersembahkan kepada Allah adalah maha kudus, sebab Dia yang berhuni menanggulangi dosa dalam sifat kita, menanggulangi seluruh sifat dosa kita. Kurban penghapus dosa bukan hanya menanggulangi dosa dalam tingkah laku kita di lahir, tetapi juga menanggulangi dosa dalam sifat kita di batin. Kurban persembahan ini menanggulangi seluruh sifat dosa kita. Karena itu, kurban penghapus dosa adalah maha kudus.
III. IMAM MEMPERSEMBAHKAN KURBAN UNTUK DOSA,
MEMAKANNYA DI TEMPAT KUDUS, DI PELATARAN KEMAH PERTEMUAN
A. Melambangkan bahwa Orang yang Melayani
Orang Dosa dengan Kristus sebagai Kurban Penghapus Dosanya,
Berbagi Kenikmatan atas Kristus sebagai Kurban Penghapus Dosa
“Imam yang mempersembahkan kurban penghapus dosa itulah yang harus memakannya; haruslah itu dimakan di suatu tempat yang kudus, di pelataran Kemah Pertemuan” (Im. 6:26). Ini melambangkan bahwa orang yang melayani orang dosa dengan Kristus sebagai kurban penghapus dosanya, berbagi kenikmatan atas Kristus sebagai kurban penghapus dosa. Jika kita melayani orang dosa dengan Kristus, kita melayani sebagai imam. Ketika kita demikian melayankan Kristus kepada orang lain, kita dan orang yang kita layani akan menikmati Kristus sebagai kurban penghapus dosa.
B. Melambangkan bahwa Ia Menikmati Kristus sebagai Kurban Penghapus Dosa
dalam Lingkungan yang Disisihkan, Dikuduskan, dalam Ruang Lingkup Gereja
Imam makan kurban penghapus dosa di tempat kudus, di pelataran Kemah Pertemuan, juga melambangkan bahwa orang yang melayankan Kristus sebagai kurban penghapus dosa kepada orang dosa, menikmati Kristus sebagai kurban persembahan ini dalam lingkungan yang disisihkan, dikuduskan, dalam ruang lingkup gereja. Kita mungkin mengira bahwa selama kita melayani orang lain dengan Kristus, kita dapat melakukan hal ini di mana saja. Namun, menurut patokan rohani ini, kita harus melakukannya menurut pengaturan Allah.
IV. SETIAP ORANG YANG KENA KEPADA
DAGING KURBAN PENGHAPUS DOSA MENJADI KUDUS
Setiap orang yang kena kepada daging kurban itu menjadi kudus (Im. 6:27a). Ini melambangkan bahwa setiap orang yang menjamah Kristus sebagai kurban penghapus dosa, disisihkan dan dikuduskan, telah meninggalkan dosa, daging alamiahnya telah ditanggulangi, sebab Kristus sebagai kurban penghapus dosa telah menanggulangi dosa dan daging dosa di atas salib.
Kita perlu menyadari bahwa ketika kita membawa Kristus sebagai kurban penghapus dosa kepada orang dosa, Kristus ini adalah kudus. Ketika orang dosa menjamah Kristus yang kudus ini, dia dikuduskan dan dijadikan kudus. Dengan segera orang yang dikuduskan ini akan meninggalkan dosa dan daging alamiahnya ditanggulangi.
Kita perlu memiliki pengenalan dan iman sedemikian terhadap Kristus sebagai kurban penghapus dosa. Kemudian kita harus membawa Injil, yaitu diri Kristus sendiri, kepada orang lain dan mempersilakan mereka menjamah Dia. Kristus yang kita layankan kepada orang lain adalah kurban penghapus dosa. Di atas salib Dia menanggulangi dosa batiniah di dalam kita dan menanggulangi daging kita yang penuh dosa.
V. PAKAIAN YANG TERPERCIK DARAH KURBAN PENGHAPUS DOSA
DICUCI DI SUATU TEMPAT YANG KUDUS
“Dan bila darahnya ada yang terpercik kepada sesuatu pakaian, haruslah engkau mencuci pakaian itu di suatu tempat yang kudus” (Im. 6:27b). Ini melambangkan bahwa perilaku setiap hari orang yang telah menerima penebusan melalui darah Kristus sebagai kurban penghapus dosa harus ditanggulangi (lihat Ef. 4:22-24). Perilaku kita setiap hari, dilambangkan oleh pakaian, seharusnya ditanggulangi senantiasa.
Pakaian terpercik darah kurban penghapus dosa dicuci di suatu tempat yang kudus. Ini melambangkan bahwa kehidupan setiap orang yang menerima penebusan melalui darah Kristus sebagai kurban sajian, harus ditanggulangi dalam ruang lingkup yang disisihkan, dikuduskan. Dari sini kita melihat bahwa kita harus menghormati darah Kristus dan tidak pernah menganggapnya umum.
VI. BELANGA TANAH,
TEMPAT KURBAN PENGHAPUS DOSA DIMASAK, HARUSLAH DIPECAHKAN
“Belanga tanah, tempat kurban itu dimasak, haruslah dipecahkan” (Im. 6:28a). Ini melambangkan bahwa orang yang sebagai belanga tanah, setelah memiliki hubungan dengan Kristus sebagai kurban penghapus dosa harus dipecahkan. Untuk memberitakan Kristus kepada orang lain sebagai kurban penghapus dosa, kita sebagai belanga tanah perlu dipecahkan. Jika kita tidak dipecahkan dan memberitakan Injil dalam hayat alamiah kita, kita tidak akan melihat banyak hasil. Kita perlu menjadi belanga yang dipecahkan.
VII. BELANGA TEMBAGA, TEMPAT KURBAN PENGHAPUS DOSA DIMASAK,
HARUSLAH DIGOSOK DAN DIBASUH DENGAN AIR
“Dan jikalau dimasak di dalam belanga tembaga, haruslah belanga itu digosok dan dibasuh dengan air” (Im. 6:28b). Ini melambangkan bahwa orang yang diterangi dan dihakimi (diumpamakan seperti cermin tembaga) oleh Roh yang melahirkan kembali tidak perlu dipecahkan, tetapi ditanggulangi melalui digosok dan dibasuh. Jika kita mau memberitakan Kristus sebagai kurban penghapus dosa kepada orang lain, kita harus ditanggulangi, melalui dipecahkan atau melalui digosok dan dibasuh. Kita tidak dapat pergi secara alamiah.
VIII. SETIAP LAKI-LAKI DI ANTARA PARA IMAM
BOLEH MAKAN KURBAN PENGHAPUS DOSA,
YANG ADALAH MAHA KUDUS
“Setiap laki-laki di antara para imam haruslah memakannya; itulah persembahan maha kudus” (Im. 6:29). Ini melambangkan bahwa orang-orang yang kuat dapat menikmati Kristus sebagai persembahan maha kudus dalam melayankan Kristus sebagai kurban penghapus dosa kepada orang dosa. Jangan mengira memberitakan Injil adalah hal kecil. Ini memerlukan kita kuat dalam hayat Kristus.
IX. KURBAN PENGHAPUS DOSA, YANG DARAHNYA DIBAWA KE DALAM
KEMAH PERTEMUAN UNTUK MENGADAKAN
PENDAMAIAN DI DALAM TEMPAT KUDUS, DI DALAM TEMPAT MAHA KUDUS,
JANGANLAH DIMAKAN, MELAINKAN DIBAKAR SAMPAI HABIS DENGAN API
“Tetapi setiap kurban penghapus dosa, yang dari darahnya dibawa sebagian ke dalam Kemah Pertemuan untuk mengadakan pendamaian di dalam tempat kudus, janganlah dimakan, melainkan dibakar habis dengan api” (Im. 6:30). Pendamaian yang disebutkan di sini diadakan di tempat maha kudus (Im. 16:27). Ayat ini melambangkan bahwa Kristus sebagai kurban penghapus dosa menanggulangi dosa-dosa dan sifat dosa kita di atas salib, untuk merampungkan penebusan Allah, seluruhnya bagi kenikmatan Allah, dan kita tidak ada bagian. Namun, ketika kita melayankan Kristus sebagai kurban penghapus dosa, kita berbagian atas Dia.
Mengenai Kristus sebagai kurban penghapus dosa, ada bagian yang hanya untuk Allah, dan ada bagian untuk kita. Bagian terbaik adalah untuk kenikmatan Allah. Allah menjadikan Kristus pendamaian untuk orang dosa, dan kita tidak berbagian dalam hal ini. Ini mutlak untuk Allah. Namun, ketika kita memberitakan Kristus kepada orang lain, melayankan Dia sebagai kurban penghapus dosa, kita dapat berbagian dalam Dia. Jadi, Allah memiliki bagian-Nya, dan kita memiliki bagian kita.
Pengaturan mengenai kurban penghapus dosa ini disebut “hukum tentang kurban penghapus dosa”. Ini menunjukkan bahwa dalam kenikmatan atas Kristus, kita harus mengikuti semua peraturan dalam hayat. Kita tidak seharusnya memiliki pilihan kita sendiri dalam cara menikmati Kristus. Kita harus menikmati Kristus dalam cara yang dipilih oleh Allah.