HUKUM TENTANG KURBAN SAJIAN
Pembacaan Alkitab: Im. 6:14-23
Kurban sajian bukan makanan umum untuk orang awam. Kurban sajian adalah makanan hanya untuk imam-imam. Semua orang beriman Perjanjian Baru adalah imam-imam. Jadi, kurban sajian adalah untuk mereka yang hari ini dalam hidup gereja benar-benar, secara riil menjadi imam-imam Allah.
I. KURBAN SAJIAN HARUS DIPERSEMBAHKAN
DI HADAPAN TUHAN DI DEPAN MEZBAH
Imamat 6:14 mengatakan, “Inilah hukum tentang kurban sajian. Anak-anak Harun haruslah membawanya ke hadapan TUHAN ke depan mezbah.” Kurban sajian dipersembahkan di hadapan TUHAN, menandakan bahwa kurban sajian dipersembahkan kepada Allah di hadirat-Nya. Kurban sajian dipersembahkan di depan mezbah, menandakan bahwa kurban sajian dipersembahkan terkait dengan penebusan Kristus di kayu salib. Mezbah adalah lambang salib. Dalam Perjanjian Lama ada mezbah, dalam Perjanjian Baru ada salib. Karena itu, “di depan mezbah” berarti terkait dengan penebusan Kristus di kayu salib. Kurban sajian dipersembahkan di hadirat-Nya, tetapi harus dipersembahkan terkait dengan penebusan Kristus di kayu salib.
II. BAGIAN KURBAN SAJIAN UNTUK HARUN DAN ANAK-ANAKNYA
HARUS DIMAKAN DI TEMPAT YANG KUDUS, DI PELATARAN KEMAH PERTEMUAN
Imamat 6:16 mengatakan, “Selebihnya haruslah dimakan oleh Harun dan anak-anaknya; haruslah itu dimakan sebagai roti yang tidak beragi di suatu tempat yang kudus, haruslah mereka memakannya di pelataran Kemah Pertemuan.” Ayat ini membicarakan bagian kurban sajian yang untuk Harun dan anak-anaknya, yaitu, bagian yang untuk imam-imam dalam pelayanan imamat.
A. Melambangkan Kita Menikmati Kristus sebagai Kurban Sajian yang Tanpa Dosa (Suplai Hayat untuk Pelayanan Kita)
Makan kurban sajian bagian imam di tempat yang kudus melambangkan bahwa kita menikmati Kristus sebagai kurban sajian kita yang tanpa dosa (suplai hayat untuk pelayanan kita). Kata “kudus” di sini menunjukkan bahwa menikmati kurban sajian harus tanpa dosa.
B. Melambangkan Kita Menikmati Kristus dalam Lingkungan yang Disisihkan, Dikuduskan
Makan kurban sajian di tempat yang kudus juga melambangkan bahwa kita menikmati Kristus dalam lingkungan yang disisihkan, dikuduskan. Kita dapat menerima Kristus sebagai kurban sajian kita, sebagai suplai hayat kita setiap hari hanya di tempat yang kudus. Tempat yang kudus adalah lingkungan yang dikuduskan.
C. Melambangkan Kita Menikmati Kristus dalam Ruang Lingkup Gereja
Kurban sajian bagian imam dimakan di pelataran Kemah Pertemuan. Kemah Pertemuan melambangkan gereja. Karena itu, makan kurban sajian di pelataran Kemah Pertemuan melambangkan menikmati Kristus di ruang lingkup gereja. Di luar ruang lingkup gereja, tidak ada kurban sajian untuk kita. Kurban sajian dapat diterapkan hanya di ruang lingkup hidup gereja. Kita dapat menikmati Kristus sebagai kurban sajian kita untuk pelayanan imamat kita hanya di dalam ruang lingkup hidup gereja. Kenikmatan kita atas Kristus sebagai kurban sajian harus kudus, harus di lingkungan yang dikuduskan, dan harus di lingkungan hidup gereja.
Kristus adalah kurban sajian kita supaya kita dapat melayani Allah sebagai imam. Namun, banyak orang beriman sejati hari ini hanya memiliki sebutan imam-imam Allah, tetapi sebenarnya tidak demikian. Dalam kehidupan mereka setiap hari, mereka bukan imam Allah.
Menjadi imam tidak perlu menjadi pelayan sepenuh waktu. Kita menjadi imam oleh kelahiran kembali kita. Setelah dilahirkan kembali, kita harus menempuh kehidupan sebagai imam Allah, melayani Allah. Anda dapat melayani Allah sebagai imam bahkan ketika Anda bekerja (berprofesi). Kita dapat melakukan berbagai jenis pekerjaan yang tepat, tetapi kita masih dapat bekerja dalam pengertian menjadi imam-imam Allah. Sebagai contoh, seorang saudara yang berprofesi sebagai dokter dapat berpraktek sebagai pelayan imamat, memberitakan Injil kepada yang belum percaya untuk membawa mereka kepada Kristus dan melayankan hayat kepada kaum beriman. Jika kita semua berperilaku sebagai imam secara demikian, melayani Allah dalam Injil-Nya, dalam belas kasihan-Nya, dalam anugerah-Nya, dan dalam hayat-Nya, ini akan menjadi jalan terbaik untuk memberitakan Injil.
Namun, keadaan sebenarnya di antara kaum beriman adalah berkebalikan. Lebih dari setengah penduduk Amerika Serikat mungkin adalah orang Kristen, tetapi jarang terdengar ada orang memberitakan Injil di tempat kerjanya. Banyak orang beriman hidup seperti milik dunia, seperti orang awam, bukan seperti imam. Betapa memalukan! Karena kita adalah imam, kita perlu bertanya kepada diri kita sendiri tentang pemberitaan Injil kita.
Menurut penelitian saya atas Perjanjian Baru, hal pertama yang harus kita lakukan sebagai imam Allah adalah memberitakan Injil dan membawa orang dosa kepada Allah sebagai kurban-kurban persembahan. Ini adalah apa yang Paulus lakukan; pemberitaan Injilnya adalah pelayanan imamat (Rm. 15:16). Dalam pelayanan imamatnya, dia mempersembahkan orang kafir kepada Allah. Berapa orang dosa yang kita selamatkan yang dapat dipersembahkan kepada Allah?
Kitab Imamat sepenuhnya menceritakan imam-imam. Hampir setiap pasal membahas kehidupan, keperluan, dan suplai imam-imam dan semua hal lain yang berhubungan dengan mereka. Jika kita bukan benar-benar imam, kita tidak bersyarat untuk masuk ke dalam kitab ini. Karena itu, saya secara mendalam berbeban meminta Anda kembali kepada panggilan surgawi Anda sebagai imam Allah. Amanat pertama pelayanan imamat kita adalah membawa orang dosa untuk dipersembahkan kepada Allah sebagai kurban-kurban persembahan.
Paulus berkata bahwa dia diselamatkan menjadi contoh untuk semua orang beriman (1Tim. 1:16). Dia adalah teladan orang beriman, dan amanat pertamanya adalah mendapatkan orang dosa dan mempersembahkan mereka kepada Allah sebagai kurban-kurban persembahan. Pekerjaan pemberitaannya adalah pelayanan imamat sejati Perjanjian Baru. Sebenarnya Paulus tahu bahwa ini berarti memiliki Kristus sebagai kurban sajiannya untuk pelayanan imamatnya. Tetapi kurban sajian ini mungkin sejati bagi Paulus dan tidak untuk kita, karena hanya sedikit penempuhan kehidupan kita yang benar-benar mencerminkan kehidupan imam. Betapa menyedihkannya jika kita hanya berbicara tentang pelayanan imamat tetapi tidak benarbenar melakukannya!
Pada hari-hari ini ketika saya memperhatikan Kitab Imamat, hati saya menangis. Semakin saya membaca dan mempelajari kitab ini, hati saya makin sedih. Di antara kita hanya sedikit yang dapat membuat kita bersukacita. Kita membicarakan tentang makanan imamat, tetapi siapakah imam, di mana mereka? Dalam berita ini saya berbeban menekankan butir ini, Kitab Imamat adalah untuk imam.
Mengenai pelayanan imamat, kita perlu memperhatikan keadaan kita dan bertanya kepada diri kita sendiri di manakah kita berada. Nabi Hagai menegur bangsa Israel untuk mempertimbangkan jalan mereka (Hag. 1:5-11). Kita semua perlu mempertimbangkan kembali jalan kita. Macam kaum beriman apakah kita? Apakah kita kaum beriman imamat atau kaum beriman awam?
III. JANGAN MEMBAKAR KURBAN SAJIAN DENGAN RAGI
Membicarakan kurban sajian, Imamat 6:17a mengatakan, “janganlah itu dibakar beragi.” Jangan membakar kurban sajian dengan ragi melambangkan bahwa pekerjaan kita atas Kristus sebagai suplai hayat kita harus tanpa dosa.
IV. MENGANGGAP KURBAN SAJIAN BAGIAN MAHA KUDUS,
SAMA SEPERTI KURBAN PENGHAPUS DOSA DAN KURBAN PENEBUS SALAH
Kurban sajian “adalah bagian maha kudus, sama seperti kurban penghapus dosa dan kurban penebus salah” (ayat 17b Tl.). Di sini kurban sajian disebutkan dalam kaitannya dengan kurban penghapus dosa dan kurban penebus salah. Kita harus menganggap semua kurban persembahan ini bagian maha kudus.
A. Melambangkan Untuk Menikmati Kristus sebagai Suplai Hayat Kita, Perlu Menanggulangi Dosa dalam Sifat Kita yang Jatuh
Kurban penghapus dosa menanggulangi dosa dalam sifat kita yang jatuh. Jika kita mau menikmati Kristus sebagai suplai hayat kita, kita perlu menanggulangi dosa di dalam kita.
B. Melambangkan untuk Menikmati Kristus sebagai Suplai Hayat Kita,
Juga Perlu Menanggulangi Perbuatan Dosa dalam Tingkah Laku Kita
Kurban penebus salah menanggulangi dosa-dosa dalam tingkah laku kita. Jika kita mau menikmati Kristus sebagai suplai hayat, kita perlu menanggulangi bukan hanya sifat dosa kita, tetapi juga perbuatan dosa kita. Ketika kita menikmati Kristus sebagai suplai kita setiap hari untuk pelayanan imamat kita, kita perlu menyadari bahwa kenikmatan ini meliputi menanggulangi dosa dalam sifat kita yang jatuh, juga menanggulangi dosa-dosa dalam tingkah laku kita. Jika kita mencoba menikmati kurban sajian tanpa penanggulangan demikian, kita melakukan dosa. Kita tidak dapat menerima Kristus sebagai kurban sajian tanpa kita menanggulangi dosa kita yang batiniah dan dosa-dosa kita yang lahiriah. Ini adalah alasan kurban sajian mengarahkan kita kepada kurban penghapus dosa dan kepada kurban penebus salah.
V. SETIAP LAKI-LAKI DI ANTARA
ANAK-ANAK HARUN MAKAN KURBAN SAJIAN
A. Melambangkan Orang yang Berbagian atas
Kristus sebagai Suplai Hayat, Haruslah Kuat dalam Hayat
“Setiap laki-laki di antara anak-anak Harun haruslah memakannya; itulah suatu ketetapan untuk selamanya bagi kamu turun-temurun; itulah bagianmu dari segala kurban api-apian TUHAN” (Im. 6:18a). Di sini kita melihat bahwa setiap laki-laki di antara anak-anak Harun dapat makan kurban sajian. Ini melambangkan orang yang berbagian atas Kristus sebagai suplai hayat, haruslah kuat dalam hayat.
Ketika kita mendengar bahwa kita perlu kuat dalam hayat untuk berbagian atas kurban sajian, kita mungkin kecewa, merasa bahwa kita tidak bersyarat. Inilah alasannya hampir setiap hari saya memohon dengan tekun kepada Tuhan, “Tuhan, belas kasihanilah kami semua.” Keadaan kita mungkin hanya pantas untuk belas kasihan Tuhan. Menurut peraturan khusus ini dalam hukum tentang kurban sajian, kita tidak bersyarat untuk berbagian atas kurban sajian. Kita bukan laki-laki di antara anakanak Harun; yaitu, kita bukan orang-orang kuat dalam hayat di antara kaum beriman. Hanya orang yang kuat dalam hayat yang bersyarat menikmati Kristus sebagai kurban sajian.
Tidak peduli berapa banyak kita setiap hari menikmati Kristus, sebenarnya kita tidak menikmati Dia sebanyak itu. Kenikmatan kita kurang karena kita memiliki masalah dalam hayat. Kita masih begitu muda dan lemah dalam hayat. Kita bukan laki-laki yang tepat. Apakah kita, Allah tahu, dan kita juga tahu. Kita tidak dapat berkata bahwa kita cukup kuat dalam hayat ilahi. Karena alasan ini kita perlu mohon Tuhan membelaskasihani kita semua. Kita perlu belas kasihan Tuhan.
B. Melambangkan Orang yang Berbagian atas
Kristus, Haruslah Orang yang Melayani Allah— Imam
Laki-laki di antara anak-anak Harun makan kurban sajian, ini juga melambangkan orang yang berbagian atas Kristus haruslah orang yang melayani Allah, imam. Jika kita melakukan pekerjaan setiap hari tanpa melayani Allah sebagai imam, kita tidak dapat berbagian dalam kenikmatan sejati atas Kristus. Dalam kasus demikian, kita mungkin berpikir bahwa kita memiliki kenikmatan ini, tetapi pikiran kita tidak mencerminkan keadaan sebenarnya.
VI. KURBAN SAJIAN HARUN
DAN ANAK-ANAKNYA PADA HARI HARUN DIURAPI
“Inilah persembahan Harun dan anak-anaknya, yang harus dipersembahkan oleh mereka kepada TUHAN pada hari ia diurapi” (Im. 6:20a). Ini melambangkan bahwa menikmati Kristus sebagai suplai hayat berhubungan dengan pelayanan imamat. Sekali dan sekali lagi saya mau menekankan fakta bahwa menikmati Kristus sebagai kurban sajian berhubungan dengan pelayanan imamat kita.
A. Sepersepuluh Efa Tepung Halus sebagai Kurban Sajian yang Tetap
Imamat 6:20b mengatakan “sepersepuluh efa tepung yang terbaik sebagai kurban sajian yang tetap, setengahnya pada waktu pagi dan setengahnya pada waktu petang.” Ini melambangkan bahwa bagian terbaik, sepersepuluh, dari kenikmatan atas Kristus harus untuk Allah. Ini juga melambangkan kenikmatan atas Kristus semacam ini harus terus berlangsung dalam pelayanan imamat kita.
B. Setengah Kurban Sajian pada Waktu Pagi
dan Setengahnya pada Waktu Petang sebagai Kurban Sajian yang Tetap
Setengah kurban sajian dipersembahkan pada waktu pagi dan setengahnya pada waktu petang sebagai kurban sajian yang tetap (Im. 6:20c). Ini melambangkan kenikmatan atas Kristus yang terus-menerus dalam pelayanan imamat.
Kurban sajian hanya untuk para imam, dan berkhasiat hanya dalam pelayanan imamat. Kita mungkin adalah imam-imam, tetapi pelayanan imamat kita mungkin tidak berkhasiat. Jika keadaan kita seperti ini, maka makanan imamat tidak akan berkhasiat. Makanan rohani ini dapat berkhasiat hanya dalam pelayanan imamat yang kuat. Kita harus menjadi pelayan imamat yang sebenarnya. Lalu makanan imamat akan benar-benar menjadi bagian kita.
C. Kurban Sajian Seluruhnya Dibakar dan Tidak Dimakan oleh Imam
“Itulah suatu ketetapan untuk selamanya. Seluruhnya haruslah dibakar bagi TUHAN. Tiap-tiap kurban sajian dari seorang imam itu haruslah menjadi kurban yang terbakar seluruhnya, janganlah dimakan” (Im. 6:22b-23). Ini melambangkan bahwa kenikmatan atas Kristus untuk kepuasan Allah harus mutlak.
Kenikmatan kita atas Kristus diukur oleh tingkat pelayanan kita yang sesungguhnya sebagai imam, melayani Allah. Perasaan kita bukan ukurannya. Kita adalah imamimam, tetapi jika ada masalah dengan pelayanan imamat kita, kenikmatan kita atas Kristus sebagai kurban sajian juga akan bermasalah.
Dalam melakukan segala sesuatu, kita perlu berada pada posisi yang tepat. Jika kita tidak berada pada posisi yang tepat, kita tidak dapat menjamah apa pun dalam perkara itu. Walaupun kita adalah imam, secara praktis kita mungkin salah posisi dan karena itu tidak dapat memiliki kenikmatan yang sejati atas Kristus sebagai kurban sajian.
Maksud saya dalam menyampaikan perkataan ini adalah untuk mendorong Anda memeriksa kembali perilaku Anda. Jangan berpikir bahwa Anda benar. Saya dapat bersaksi kepada Anda bahwa setiap hari saya perlu memeriksa kembali perilaku saya dan keadaan saya. Ini adalah perkara serius karena tidak seorang pun dari kita yang tahu kapan Tuhan akan mengambil dirinya. Kita bisa saja diambil sewaktu-waktu. Begitu Tuhan mengambil kita, kita sudah terlambat untuk membereskan keadaan kita. Kita telah dengan jelas diberi tahu bahwa pada kedatangan-Nya, Tuhan akan mendirikan takhta penghakiman (Rm. 14:10; 2Kor. 5:10). Kita semua akan berdiri di sana dan memberikan perhitungan kepada-Nya. Khususnya, kita harus mengakui semua perkataan yang keluar dari mulut kita ketika kita ada di bumi (Mat. 12:36-37). Karena itu, kita perlu berhati-hati dalam tutur kata kita.
Kedambaan saya bukan menjadi penafsir Alkitab. Beban saya adalah melayankan firman Tuhan dengan cara yang hidup dan menerangi. Saya menginginkan semua orang beriman diterangi dan melihat terang mengenai diri mereka, mengenai gereja, dan mengenai ekonomi Perjanjian Baru Allah. Kita perlu dibawa ke dalam terang, membiarkan terang memancar di atas kita, di sekeliling kita, dan di dalam kita. Kita perlu mengingat bahwa tiga kurban persembahan yang pertama, kurban bakaran, kurban sajian, dan kurban pendamaian, membawa kita ke dalam terang. Dalam terang kita diterangi untuk melihat sifat dosa dan perbuatan dosa kita. Inilah yang kita perlukan.
Entah kita tua atau muda, entah kita telah beroleh selamat bertahun-tahun atau baru beberapa bulan, kita perlu diterangi. Kita semua perlu dibawa ke dalam terang ilahi. Kita bersyukur kepada Tuhan bahwa kita adalah anak-anak terang (Ef. 5:8). Karena kita adalah anak-anak terang, kita harus ada di dalam terang supaya jelas, pertama terhadap diri kita sendiri dan kemudian terhadap ekonomi Allah. Inilah yang ingin saya lihat.