← Daftar isi Imamat (2) · bab 3/23

HUKUM TENTANG KURBAN BAKARAN

Pembacaan Alkitab: Im. 6:8-13

Mulai berita ini, kita akan membahas hukum tentang kurban persembahan. Hukum tentang kurban persembahan adalah ketetapan dan peraturan kurban persembahan. Untuk setiap kurban persembahan ada satu hukum, peraturan, ketetapan. Hukum tentang kurban persembahan kelihatannya sangat sederhana. Sebenarnya, seperti akan kita lihat, sesuatu yang memiliki makna rohani yang tinggi dan dalam tersembunyi dalam hukum ini.

I. KURBAN BAKARAN DI ATAS PERAPIAN

DI ATAS MEZBAH SEMALAM-MALAMAN SAMPAI PAGI

A. Menandakan bahwa Segala Sesuatu yang Dipersembahkan

sebagai Kurban Bakaran Harus Diletakkan di Atas Perapian untuk Dibakar

Imamat 6:9a mengatakan, “Perintahkanlah kepada Harun dan anak-anaknya: Inilah hukum tentang kurban bakaran. Kurban bakaran itu haruslah tinggal di atas perapian di atas mezbah semalam-malaman sampai pagi.” Ini menandakan bahwa segala sesuatu yang dipersembahkan sebagai kurban bakaran harus diletakkan di perapian untuk dibakar. Ini adalah sesuatu yang sulit dipahami orang duniawi, sebab mereka dibesarkan dan dididik untuk menjadi sesuatu di dunia. Orang tua duniawi jelas tidak mengajar anak-anak mereka untuk mempersembahkan dirinya kepada Allah untuk dibakar.

Oleh belas kasihan dan anugerah Tuhan, hati kita berbeda dengan hati orang yang tidak beriman. Kita tahu bahwa kurban bakaran menunjukkan bahwa kita memiliki hati yang mutlak untuk Allah di zaman ini. Kita bukan untuk segala sesuatu yang lain, dan kita tidak memiliki kedambaan yang lain. Sekalipun kita mendorong orang muda untuk mencapai pendidikan yang terbaik, pendidikan bukan hal yang kita kasihi. Orang muda mungkin mencapai pendidikan yang tinggi, tetapi mereka perlu menyadari bahwa di bumi ini kita, orang Kristen, akhirnya tidak akan menjadi apa-apa kecuali menjadi abu. Ini akan menjadi hasil dari persembahan diri kita kepada Allah sebagai kurban bakaran dan hasil dari terbakarnya diri kita.

Saya ingin menyampaikan perkataan kepada orang muda yang memiliki hati untuk melayani Tuhan sepenuh waktu. Saya harus memberi tahu kalian bahwa kesulitan menanti kalian dan tidak ada masa depan untuk kalian di bumi. Kalian tidak akan memiliki apa-apa di bumi yang dapat disandari untuk jaminan kalian dan untuk hidup kalian sebagai manusia. Kalian mungkin merasakan bahwa kalian sangat berguna bagi Allah, tetapi pada akhirnya kalian akan menjadi abu. Setiap orang ingin menjadi orang terkenal, tetapi jika kalian melayani Tuhan Yesus sepenuh waktu, kalian harus mempersiapkan diri kalian untuk tidak terkenal, bahkan menjadi abu. Maukah kalian dibakar? Dibakar menjadi abu bukanlah perkara kenikmatan, melainkan penderitaan. Nasib seorang sepenuh waktu adalah hidup menderita. Apa yang dipersembahkan kepada Allah sebagai kurban bakaran harus ditaruh di atas perapian, bukan di tempat yang mulia atau terhormat. Akhirnya, hasil dari kehidupan demikian, kehidupan yang menderita, kehidupan tanpa masa depan dan tanpa jaminan, akan menjadi setumpuk abu.

Walaupun kita tidak memiliki jaminan bumiah, tetapi saya dapat bersaksi bahwa kita memiliki Tuhan Yesus sebagai jaminan kita. Kristus adalah jaminan saya, walaupun Dia kadang-kadang menyembunyikan diri-Nya dari saya untuk menguji saya. Sebagai hasil dari pengalaman dan pelajaran saya, saya dapat memberi tahu kalian bahwa waktu yang terbaik untuk menikmati Tuhan Yesus adalah ketika Dia bersembunyi dari Anda. Setelah tidak terlihat untuk sementara, Dia akan dengan spontan terlihat lagi. Dia sering secara demikian memperlakukan kita. Kristus yang demikian adalah jaminan kita yang sejati.

B. Apa yang Dipersembahkan Haruslah Tinggal di Atas Perapian Semalam-malaman Sampai Pagi

Kurban bakaran yang ditaruh di atas perapian di atas mezbah semalam-malaman sampai pagi juga menandakan bahwa apa yang dipersembahkan haruslah tinggal di atas perapian semalam-malaman sampai pagi. “Semalam-malaman” artinya sepanjang zaman yang gelap ini. Zaman kita sekarang ini adalah malam yang gelap. Kurban bakaran seharusnya dibakar terus semalam-malaman sampai pagi.

Tidak peduli berapa lama malam itu, akhirnya akan ada pagi, matahari terbit. Matahari terbit yang sejati adalah kedatangan kembali Tuhan, dan kita menantikan hal ini. Namun, kita tidak seharusnya mengharapkan Tuhan Yesus cepat datang kembali untuk menghindarkan kita dari pencobaan malam yang gelap. Semakin kita memohon Dia cepat datang untuk alasan ini, Dia semakin menunda kedatangan-Nya untuk kepentingan kita dan agar kita melewati malam gelap yang lebih panjang.

Baru-baru ini saya menyampaikan perkataan kepada para pelayan sepenuh waktu di Taipei mengenai penderitaan dan kesulitan. Saya memberi tahu mereka untuk mempersiapkan diri menempuh hidup yang tidak akan mudah dan mengambil jalan yang tidak akan lancar bahkan sukar. Kita perlu tinggal di atas perapian dan dibakar semalam-malaman sampai pagi.

II. API DI ATAS MEZBAH DIJAGA SUPAYA

TERUS MENYALA DAN JANGAN DIBIARKAN PADAM

Api di atas mezbah harus dijaga supaya terus menyala dan jangan dibiarkan padam (Im. 6:9b, 12a, 13). Imamat 6:12a mengatakan, “Api yang di atas mezbah itu harus dijaga supaya terus menyala, jangan dibiarkan padam.”

A. Menandakan bahwa Allah sebagai Api yang

Menghanguskan di Alam Semesta Siap Menerima (Membakar)

Apa yang Dipersembahkan kepada Dia sebagai Makanan

Api yang terus-menerus menyala di atas mezbah pertama-tama menandakan bahwa Allah sebagai api kudus di alam semesta siap menerima (membakar) apa yang dipersembahkan kepada Dia sebagai makanan. Allah menerima kita dengan cara membakar kita. Ketika kita dibakar oleh Allah, kita harus senang karena pembakaran ini berarti Allah menerima kita.

B. Menandakan bahwa Kedambaan Allah untuk

Memperkenan Apa yang Dipersembahkan kepada

Dia Tidak Pernah Berhenti

Api yang terus-menerus menyala juga menandakan kedambaan Allah untuk memperkenan apa yang dipersembahkan kepada Dia tidak pernah berhenti. Allah damba untuk memperkenan kita, dan Dia memperkenan kita melalui membakar kita. Semakin Dia membakar kita, Dia semakin memperkenan kita.

III. IMAM MEMBAKAR KAYU DI ATAS MEZBAH SETIAP PAGI

Imam membakar kayu di atas mezbah setiap pagi (Im. 6:12b). Ini menandakan perlu adanya kerja sama antara orang yang melayani dengan kedambaan Allah. Kerja sama ini adalah menambahkan bahan bakar kepada api kudus untuk menguatkan pembakaran agar kurban bakaran diperkenan sebagai makanan Allah. Ketika dibakar, kita perlu menambahkan lebih banyak kayu untuk membakar diri kita dan juga membakar rekan-rekan kita yang melayani. Jangan memadamkan api, tetapi tambahkanlah kayu untuk menjaga api agar tetap menyala.

Jika hanya ada seorang yang melayani, bahan bakar akan cepat habis. Karena itu, kita perlu lebih banyak orang yang melayani, lebih banyak mitra yang dibakar. Semakin banyak orang yang melayani, semakin banyak bahan bakar untuk membakar diri kita dan orang lain. Imam harus membakar kayu di atas mezbah setiap pagi. Pagi menandakan memiliki permulaan yang baru untuk membakar.

IV. IMAM MENGENAKAN PAKAIAN LENANNYA DAN CELANA LENANNYA

UNTUK MENUTUPI DAGINGNYA SAAT MENGANGKAT ABU KURBAN BAKARAN

“Imam haruslah mengenakan pakaian lenannya, dan mengenakan celana lenan untuk menutup auratnya (dagingnya)” (Im. 6:10a). Lenan itu halus, murni, dan bersih. Imam mengenakan pakaian lenannya dan celana lenannya menandakan kelembutan, kemurnian, dan kebersihan diperlukan dalam mengangkat abu (hasil) kurban bakaran. Jangan menganggap abu sebagai sampah atau limbah yang boleh ditangani secara sembarangan. Sebaliknya, abu adalah hasil dari kurban bakaran, dan dalam menangani hasil ini sikap kita perlu tepat. Kita perlu bersikap halus, murni, dan bersih.

V. IMAM MENGENAKAN PAKAIAN LAIN

UNTUK MEMBAWA ABU KE LUAR PERKEMAHAN

“Kemudian haruslah ia menanggalkan pakaiannya dan mengenakan pakaian lain, lalu membawa abu itu ke luar perkemahan ke suatu tempat yang tahir” (Im. 6:11). Ini menandakan keagungan dalam menangani abu (hasil) kurban bakaran. Di mata Allah, hasil kurban bakaran kita dipandang sangat tinggi. Hasil ini halus, murni, dan bersih. Jadi saat membawa abu keluar perkemahan, imam mengenakan pakaian yang agung dan membawa abu dengan cara yang agung. Ini mengajar kita untuk memandang tinggi hasil kurban bakaran kita.

Menjadi pelayan sepenuh waktu berarti mempersembahkan diri kita kepada Allah sebagai kurban bakaran. Mengenai hal ini, harus ada dan pasti ada hasilnya. Kita harus menghargai hasil ini dan tidak meremehkannya atau menganggapnya tidak bermakna. Hasil dari kita menjadi kurban bakaran adalah sesuatu yang melaksanakan ekonomi Perjanjian Baru Allah. Apa yang kita kerjakan sebagai pelayan sepenuh waktu bukan hanya memberitakan Injil untuk menyelamatkan orang dosa, untuk mendirikan gereja-gereja lokal, mengajarkan Alkitab, atau membantu orang bertumbuh dalam hayat dan dalam kebenaran. Apa yang kita kerjakan harus menghasilkan pembangunan Tubuh Kristus, yang adalah miniatur Yerusalem Baru yang akan datang.

Apa yang kita kerjakan sebenarnya luar biasa, tetapi bagi orang duniawi hal ini bukan apa-apa. Bagi mereka, apa yang kita kerjakan adalah abu. Namun, Allah memandang tinggi abu ini. Akhirnya abu ini akan menjadi Yerusalem Baru. Pernahkah Anda menyadari bahwa abu ini, hasil dari kurban bakaran, akan menjadi Yerusalem Baru? Saya menyadari hal ini, dan saya mempercayainya. Saya percaya bahwa saya akan ada di sana dan bahwa apa yang saya lakukan akan menjadi bagian kota itu. Yerusalem Baru adalah nasib kita dan tempat tujuan kita.

Bagaimanakah abu kurban bakaran dapat menjadi Yerusalem Baru? Abu menunjukkan hasil kematian Kristus, yang mengakhiri kita yaitu, menjadi abu. Namun, kematian Kristus mendatangkan kebangkitan. Dalam kebangkitan, abu menjadi bahan mustika, emas, mutiara, dan batu permata untuk membangun Yerusalem Baru. Ketiga bahan mustika ini dihasilkan dari pengubahan abu. Ketika kita dijadikan abu, kita dibawa ke dalam pengubahan Allah Tritunggal.

VI. IMAM MENGATUR KURBAN BAKARAN DI ATAS MEZBAH

DAN MEMBAKAR SEGALA LEMAK KURBAN PENDAMAIAN DI ATASNYA

“Imam harus . . . mengatur kurban bakaran di atasnya dan membakar segala lemak kurban pendamaian (keselamatan, LAI-1993) di sana” (6:12b). Ini menunjukkan bahwa membakar kurban bakaran berarti meletakkan dasar untuk kemanisan kurban pendamaian. Karena itu, kurban bakaran adalah untuk menikmati kurban pendamaian. Dalam makna rohaninya, kurban pendamaian menyiratkan persekutuan dengan Allah Tritunggal dan mencakup kenikmatan atas Allah Tritunggal. Kurban bakaran dibakar, tetapi dibakar untuk kurban pendamaian.

A. Melambangkan Kita Harus Membakar Kurban Bakaran Kita

yang Diletakkan sebagai Dasar untuk Persekutuan yang Manis dengan Allah

Membakar segala lemak kurban pendamaian dalam Imamat 6:12 melambangkan kita harus membakar kurban bakaran kita sebagai dasar persekutuan yang manis dengan Allah. Tidak peduli berapa banyak kita merasa bahwa kita menikmati Kristus, jika kita tidak mempersembahkan kurban bakaran yang sejati, kenikmatan kita itu adalah menipu diri sendiri. Kenikmatan yang sejati atas Tuhan berdasar pada kita mempersembahkan diri kita kepada Allah sebagai kurban bakaran. Jika kita sungguh-sungguh terhadap Allah dan mempersembahkan diri kita kepada Dia dan menempuh hidup yang mutlak untuk Dia, maka kenikmatan kita atas Kristus akan menjadi sejati dan bukan khayalan.

Kita tidak seharusnya menipu diri sendiri, tetapi memperhatikan, apakah kita memiliki dasar yang diperlukan untuk menikmati Allah Tritunggal. Ini bukan perkara bagaimana kita merasakan; ini adalah perkara benar-benar memiliki dasar untuk menikmati Kristus. Kita meletakkan dasar ini melalui mempersembahkan diri kita kepada Tuhan sebagai kurban bakaran, dan karena itu kita mau mutlak untuk Tuhan, dan benar-benar mutlak untuk Dia. Jika kita memiliki dasar demikian, kemudian, entah kita merasa kita menikmati Tuhan atau tidak, kita menikmati Dia dalam realitas. Namun, jika kita menempuh hidup yang kendur hari demi hari tetapi merasa bahwa kita menikmati Tuhan, kita menipu diri sendiri, karena kenikmatan kita tidak memiliki dasar. Kita perlu memiliki dasar untuk menikmati Kristus seperti digambarkan di sini dengan jelas dalam lambang.

B. Melambangkan di Atas Dasar Kurban Bakaran,

Kurban Pendamaian Kita Harus Dibakar sebagai

Bau Harum bagi Allah

Imamat 6:12b juga menyatakan bahwa di atas dasar kurban bakaran, kurban pendamaian kita harus dibakar menjadi bau harum bagi Allah. Bukan dasarnya saja yang harus dibakar, bahkan damai sejahtera, persekutuan, yang kita nikmati juga harus dibakar. Kurban bakaran harus dibakar, dan kurban pendamaian kita juga harus dibakar. Ini berarti kemutlakan kita untuk Allah dan kenikmatan kita atas Allah Tritunggal harus menjadi perkara yang dibakar. Jadi, ada pembakaran di atas pembakaran.

Dalam berita ini kita telah melihat peraturan mengenai kurban bakaran. Jika kita mau mempersembahkan Kristus sebagai kurban bakaran kita, menerima Dia sebagai kurban bakaran kita dan menikmati Dia sebagai kemutlakan kita terhadap Allah, kita perlu mengikuti semua peraturan ini.