KURBAN PENEBUS SALAH— KRISTUS UNTUK DOSA UMAT ALLAH (2)
Pembacaan Alkitab: Im. 5:1—6:7; 7:2
Perkataan dalam Imamat 5 dikatakan bukan untuk orang beriman individual tetapi untuk jemaat Allah, umat Allah sebagai satu jemaat. Perkataan ini tidak diberikan untuk membantu dan mengajar orang beriman individual, melainkan untuk memelihara umat pilihan Allah yang korporat, tepat, kudus, dan dipisahkan untuk Allah. Tidak hanya demikian, apa yang dibicarakan di sini tidak seharusnya diterapkan kepada umum, masyarakat. Allah tidak bermaksud membuat seluruh masyarakat menjadi satu perkumpulan seperti bani Israel di masa lampau. Maksud Allah dalam Kitab Imamat adalah menjaga umat pilihan-Nya bersih dan kudus, supaya Dia dapat tinggal di antara mereka. Kemah Pertemuan ada di tengah-tengah umat itu, dan Allah menginginkan umat itu, yang ada di sekitar Kemah Pertemuan, menjadi kudus. Inilah alasan ditulisnya perkataan dalam Imamat 5.
Sekarang mari kita perhatikan Imamat 5 ayat per ayat.
Dalam perlambangan, setiap aspek dari Imamat 5 memiliki makna rohani. Ayat 1 mengatakan, “Apabila seseorang berbuat dosa, yakni jika ia mendengar seorang mengutuki, dan ia dapat naik saksi karena ia melihat atau mengetahuinya, tetapi ia tidak mau memberi keterangan, maka ia harus menanggung kesalahannya sendiri.” Ayat ini sebenarnya menanggulangi dusta. Dusta melibatkan Iblis, sebab dia adalah bapa segala dusta (Yoh. 8:44).
Imamat 5:2 mengatakan, “Atau bila seseorang kena kepada sesuatu yang najis, baik bangkai binatang liar yang najis, atau bangkai hewan yang najis, atau bangkai binatang yang mengeriap yang najis, tanpa menyadari hal itu, maka ia menjadi najis dan bersalah.” Binatang liar adalah binatang buas, dan hewan adalah binatang ternak. Menurut Imamat 7, binatang-binatang dalam ayat ini melambangkan berbagai macam orang. Beberapa orang seperti binatang buas, yang lain seperti hewan, dan sisanya seperti binatang yang mengeriap. Kata “bangkai” dalam 5:2 menandakan kematian. Bangkai dari tiga jenis binatang ini, bangkai binatang liar, bangkai hewan, dan bangkai binatang yang mengeriap, menandakan tiga macam kematian. Satu macam kematian adalah liar seperti binatang liar. Macam kematian yang kedua adalah halus seperti binatang yang lembut, binatang ternak. Macam kematian ketiga adalah licik seperti binatang yang mengeriap. Dalam perlambangan ini menunjukkan bahwa di antara umat Allah ada tiga macam kematian: kematian yang liar, kematian yang halus, dan kematian yang licik.
Di antara umat Allah, yaitu dalam hidup gereja, tidak hanya berkemungkinan ada kematian, bahkan mungkin ada berbagai macam kematian. Kematian bisa menyebar di antara kita secara liar, secara halus, atau secara licik. Dalam hidup gereja, saya telah melihat tiga macam kematian ini. Saya telah melihat macam kematian liar dan macam kematian yang halus dan lembut. Saya juga telah melihat macam kematian yang mengeriap dalam kelicikan, cara yang cerdik. Tidak pernahkah Anda mengalami beberapa macam kematian dalam hidup gereja? Mungkin Anda telah mengalami macam kematian yang dilambangkan oleh bangkai binatang yang mengeriap, kematian yang masuk untuk menyebarkan racunnya secara tersembunyi dan licik.
Apa pun macamnya, kematian adalah kematian, dan najis. Setiap macam kematian liar, halus, dan licik, adalah kotor dan cemar. Dalam hidup gereja, tidaklah mudah menjauhi kenajisan berbagai macam kematian ini.
Menurut perlambangan dalam Perjanjian Lama, dosa tidak sekotor kematian. Jika seseorang berdosa, dia dapat diampuni dan dibersihkan dengan segera oleh kurban penebus salah (Im. 5:10). Namun, jika seseorang menjamah kematian, dia harus menunggu beberapa hari baru bisa tahir. Dari sini kita melihat bahwa kematian lebih kotor daripada dosa. Namun, dalam hidup gereja mungkin kita berpikir bahwa dosa itu serius, sedangkan menjamah kematian adalah umum dan tidak serius. Tetapi di mata Allah, menjamah kematian adalah perkara yang paling serius.
Racun kematian dapat merusak dan menghancurkan kaum beriman. Dalam Roma 14, Paulus berkata bahwa kita seharusnya tidak merusak pekerjaan Allah melalui bekerja dengan ceroboh (ayat 15, 20). Kristus telah menebus dan menyelamatkan kaum beriman, dan kita seharusnya tidak merusak mereka dengan tindakan yang ceroboh. Tuhan melakukan banyak hal yang murah hati, dan menebus kaum beriman dalam pemulihan Tuhan, dan selama bertahuntahun kita telah bekerja untuk membangun kaum beriman. Seorang pun tidak boleh merusak pekerjaan murah hati Kristus pada kaum beriman. Seorang pun tidak boleh merusak mereka yang telah kita layani untuk membangun mereka. Bukankah hati kita sakit melihat kaum beriman dirusak oleh racun kematian? Kita perlu tenang, adil, kalem, dan ramah untuk memperhatikan apakah kita sungguh-sungguh membangun Tubuh Kristus atau tanpa disadari melakukan sesuatu untuk merusak pekerjaan Allah melalui menyebarkan racun kematian.
Imamat 5:3 mengatakan, “Atau apabila ia kena kepada kenajisan berasal dari manusia, dengan kenajisan apa pun juga ia menjadi najis, tanpa menyadari hal itu, tetapi kemudian ia mengetahuinya, maka ia bersalah.” “Kenajisan berasal dari manusia” di sini melambangkan kenajisan hayat alamiah manusia. Tuhan Yesus berkata bahwa tidak ada sesuatu yang masuk ke dalam manusia yang menajiskan manusia; sebaliknya, apa yang keluar dari kita itulah yang menajiskan (Mat. 15:17-20). Hayat alamiah, seperti kematian, mendatangkan kenajisan. Dalam hidup gereja, dalam himpunan kudus, kematian dan hayat alamiah mungkin sangat umum.
Hayat alamiah mencakup perkara emosi alamiah. Kita, kalau tidak mengabaikan orang lain, mungkin mengasihi orang lain secara alamiah, dalam emosi alamiah. Seseorang mungkin memiliki perasaan terhadap Anda di masa lampau, tetapi hari ini dia tidak memperhatikan Anda sama sekali. Ini berarti mengasihi, membantu, dan memperhatikan orang lain tidak menurut sifat kristiani kita, melainkan sepenuhnya di dalam ruang lingkup alamiah. Kita mungkin mengasihi orang lain, atau gila hormat, cemburu kepada orang lain, iri kepada mereka. Kasih ini dan iri ini berasal dari hayat alamiah.
Imamat 5:4 melanjutkan, “Atau apabila seseorang bersumpah teledor dengan bibirnya hendak berbuat yang buruk atau yang baik, sumpah apa pun juga yang diucapkan orang dengan teledor, tanpa menyadari hal itu, tetapi kemudian ia mengetahuinya, maka ia bersalah dalam salah satu perkara itu.” Di sini kita memiliki perkara berbicara teledor, mengatakan sesuatu di hadapan Allah secara teledor, ceroboh, dan sembrono. Kita mungkin mendengar tentang sesuatu dan dengan segera berkata bahwa kita menyukainya atau tidak menyukainya, dan akan melakukan ini atau melakukan itu. Berbicara secara demikian menunjukkan bahwa kita bukan hanya tidak hidup untuk Allah, tetapi juga tidak takut akan Allah. Siapakah kita sampai sembarangan berkata bahwa kita tidak suka hal-hal tertentu? Allah mungkin menyukainya. Kita bukan Allah, kita perlu berhati-hati tentang berbicara teledor. Kita tidak seharusnya mengekspresikan opini kita tentang satu perkara, kita seharusnya tidak mengatakan apa-apa, dan jika perlu, membawa perkara itu kepada Tuhan, berdoa dan memohon kepada Dia untuk memperlihatkan kepada kita apakah kita harus melibatkan diri atau menjauhinya. Ini adalah perilaku yang tepat dari orang yang takut akan Allah.
Dalam Imamat 5:1-4 kita memiliki empat butir sebagai illustrasi hal-hal yang memerlukan kurban penebus salah. Jika kita membuat daftar hal-hal tersebut, mungkin kita tidak akan mencantumkan empat butir yang disebutkan di sini: tidak mempersaksikan apa yang kita ketahui (ayat 1), menjamah bangkai binatang (ayat 2), menjamah kenajisan manusia (ayat 3), dan berbicara teledor (ayat 4). Allah membicarakan butir-butir ini, sebab Dia tahu keadaan yang sesungguhnya dan keperluan umat-Nya. Butir pertama, tidak mempersaksikan apa yang kita ketahui, sebenarnya adalah perkara berdusta. Seperti kita telah tunjukkan, ini melibatkan Iblis, bapa segala dusta. Karena itu, Iblis disinggung di sini. Butir kedua adalah kematian dalam tiga bentuk yaitu liar, halus, dan licik. Kematian adalah hal yang sangat membencikan di mata Allah. Kematian menyebar secara liar, secara lembut, dan secara licik. Ini adalah keadaan sesungguhnya di antara jemaat Allah di zaman ini.
Butir ketiga adalah hayat alamiah dengan kenajisannya. Pada umumnya orang Kristen hidup dan bertindak dalam hayat alamiah. Bukankah hayat alamiah sangat umum dalam hidup gereja hari ini? Mereka yang bersosialisasi secara alamiah sering diterima dengan baik, tetapi mereka yang hidup dalam roh sering disalahpahami. Banyak hayat alamiah yang dapat dilihat di antara orang Kristen dan dalam jemaat Allah hari ini. Butir keempat adalah berbicara teledor. Mereka yang berbicara teledor cepat mengatakan apakah mereka menyukai hal tertentu atau tidak. Keempat hal ini dicantumkan oleh Allah sebagai dosa-dosa, dan karena itu, mereka perlu kurban penebus salah.
Imamat 5:5-6 mengatakan, “Jadi apabila ia bersalah dalam salah satu perkara itu, haruslah ia mengakui dosa yang telah diperbuatnya itu, dan haruslah ia mempersembahkan kepada TUHAN sebagai tebusan salah karena dosa itu seekor betina dari domba atau kambing, menjadi kurban penghapus dosa. Dengan demikian imam mengadakan pendamaian bagi orang itu karena dosanya.” Kurban penebus salah terbesar adalah domba atau kambing. Kurban penebus salah ini memperingatkan kepada kita terutama pada satu hal: yaitu perbuatan dosa kita berasal dari sifat dosa yang tinggal di dalam kita. Kelihatannya kita menanggulangi perbuatan dosa; sebenarnya kita menanggulangi sifat dosa yang menjadi sumber dari perbuatan dosa kita. Karena itu, kurban penebus salah adalah kurban penghapus dosa. Kita menyadari bahwa kita telah berbuat dosa, tetapi di mata Allah, dosa-dosa ini bersumber dari sifat dosa. Karena itu, apa yang kita persembahkan kepada Allah untuk menanggulangi perbuatan dosa kita akhirnya bukan hanya kurban penebus salah, lebih-lebih kurban penghapus dosa.
Kita mungkin heran bagaimana kurban penebus salah dapat menjadi kurban penghapus dosa. Apa yang kita bawa kepada Allah untuk menanggulangi dosa-dosa kita adalah kurban penebus salah. Namun, setelah kita bawa kurban persembahan ini kepada Allah, kurban persembahan ini menjadi kurban penghapus dosa. Alasannya adalah Allah tidak akan mendamaikan kita hanya karena perbuatan dosa kita; Dia akan mendamaikan kita juga karena sifat dosa kita. Cara-Nya bukan hanya menyingkirkan buah dari pohonnya, tetapi juga mencabut pohon itu. Jika pohonnya dicabut, buahnya akan seluruhnya ditanggulangi. Masalah kita bukan hanya dosa yang telah kita lakukan; masalah kita juga adalah dosa yang berhuni. Apa yang kita persembahkan kepada Allah seharusnya menanggulangi sifat dosa juga menanggulangi perbuatan dosa. Karena itu, Allah menyebut kurban penebus salah ini kurban penghapus dosa.
Ayat 7 selanjutnya mengatakan, “Tetapi jikalau ia tidak mampu untuk menyediakan kambing atau domba, maka sebagai tebusan salah karena dosa yang telah diperbuatnya itu, haruslah ia mempersembahkan kepada TUHAN dua ekor burung tekukur atau dua ekor anak burung merpati, yang seekor menjadi kurban penghapus dosa dan yang seekor lagi menjadi kurban bakaran.” Ayat ini mewahyukan bahwa kurban penebus salah berhubungan bukan hanya dengan kurban penghapus dosa, tetapi juga dengan kurban bakaran. Menurut ayat ini, kurban penebus salah terdiri atas kurban penghapus dosa dan kurban bakaran. Dengan kata lain, dua kurban persembahan ini menyusun kurban penebus salah.
Kita mungkin mengira bahwa satu-satunya masalah kita adalah dosa-dosa yang telah kita perbuat. Sebenarnya masalah kita yang sesungguhnya adalah dosa yang berhuni dan kita yang tidak hidup untuk Allah. Akar, sumber, dari perbuatan dosa kita adalah sifat dosa kita, dan penyebab perbuatan dosa kita adalah kita tidak mutlak untuk Allah. Karena itu, kita bukan hanya perlu kurban penebus salah untuk menanggulangi perbuatan dosa kita; juga perlu kurban penghapus dosa untuk menanggulangi akar perbuatan dosa kita, sifat dosa yang di dalam, serta kurban bakaran untuk menanggulangi penyebab perbuatan dosa kita, hidup kita yang tidak mutlak untuk Allah. Jika kita menanggulangi sumber dosa kita dan diri kita yang tidak mutlak untuk Allah, kita juga menanggulangi kesalahan (pelanggaran) kita.
Ayat 8-9 melanjutkan, “Haruslah ia membawanya kepada imam, dan imam itu haruslah lebih dahulu mempersembahkan burung untuk kurban penghapus dosa itu. Dan haruslah ia memulas kepalanya pada pangkal tengkuknya, tetapi tidak sampai terpisah. Sedikit dari darah kurban penghapus dosa itu haruslah dipercikkannya ke dinding mezbah, tetapi darah selebihnya haruslah ditekan ke luar pada bagian bawah mezbah; itulah kurban penghapus dosa.” Ayat ini bukan membicarakan kurban penebus salah, tetapi kurban penghapus dosa dan darah kurban penghapus dosa. Sedikit darah dipercikkan ke dinding mezbah, menandakan kekuatan pemercikan darah Kristus ke atas orang berdosa (1Ptr. 1:2). Darah selebihnya ditekan ke luar pada bagian bawah mezbah melambangkan bahwa darah Kristus adalah dasar pengampunan Allah untuk mengampuni orang berdosa (Ef. 1:7).
Ayat 10 membicarakan burung kedua. “Yang kedua haruslah diolahnya menjadi kurban bakaran, sesuai dengan peraturan. Dengan demikian imam mengadakan pendamaian bagi orang itu karena dosa yang telah diperbuatnya, sehingga ia menerima pengampunan.” Menurut peraturan, kita seharusnya mutlak untuk Allah. Karena kita tidak mutlak untuk Allah, maka kita memerlukan kurban bakaran selain kurban penghapus dosa.
VI. SEGENGGAM TEPUNG HALUS DIBAKAR DI MEZBAH,
SEBAGAI KURBAN API-APIAN BAGI TUHAN
Ayat 11 memberi tahu kita, “Tetapi jikalau ia tidak mampu menyediakan dua ekor burung tekukur atau dua ekor anak burung merpati, maka haruslah ia membawa sebagai persembahannya karena dosanya itu sepersepuluh efa tepung yang terbaik menjadi kurban penghapus dosa. Tidak boleh ditaruhnya minyak dan dibubuhnya kemenyan di atasnya, karena itulah kurban penghapus dosa.” Segenggam tepung halus dibakar di mezbah sebagai kurban apiapian bagi TUHAN, menunjukkan bahwa tepung halus untuk kurban penebus salah agar Allah mengampuni dosadosa kita berdasar pada pencurahan darah di mezbah (Ibr. 9:22), dan ini menyatakan Kristus yang sempurna adalah kurban penebus salah kita berdasarkan pencurahan darah-Nya di atas salib (Kol. 1:20).
Untuk pendamaian perlu ada pencurahan darah, tetapi dalam Imamat 5:11 tepung halus dipakai untuk kurban penghapus dosa. Tepung halus ini menandakan keinsanian Yesus. Jadi, kurban penebus salah bukan hanya mencakup kurban penghapus dosa dan kurban bakaran, bahkan berkaitan dengan keinsanian Yesus.
Kita melakukan banyak dosa bukan hanya karena kita memiliki dosa di dalam kita, bukan hanya karena kita tidak mutlak untuk Allah, tetapi juga karena kita tidak memiliki keinsanian Yesus. Yesus tidak pernah berbuat dosa. Dia tidak memiliki dosa di dalam-Nya, dan Dia mutlak untuk Allah. Keinsanian-Nya bukan bagian dari bapa segala pendusta. Keinsanian-Nya tidak pernah menjamah sesuatu yang mati atau hayat alamiah. Selain itu, keinsanian-Nya tidak pernah berbicara teledor, ceroboh, dan sembrono. Sebaliknya, seperti digambarkan dalam Yohanes 7:3-8, ketika Dia ada di bumi, Dia selalu berbicara dan bertindak dengan hati-hati.
Mengapa kita memiliki dosa di dalam kita? Mengapa kita tidak mutlak untuk Allah? Penyebabnya ialah karena kita kekurangan keinsanian Yesus. Sepersepuluh efa tepung halus yang dipersembahkan untuk kurban penghapus dosa melambangkan bahwa hanya sebagian kecil dari keinsanian Yesus yang diperlukan. Ini menunjukkan betapa sedikitnya kita menerapkan keinsanian Tuhan. Kita masih tetap adalah apa adanya kita, karena kita kekurangan keinsanian Tuhan. Karena kekurangan ini, kita penuh dusta, kematian, hayat alamiah, dan teledor. Namun, keinsanian Yesus adalah dosis almuhit untuk membunuh kuman-kuman kita, menyembuhkan penyakit kita, dan menyuplai keperluan kita. Saya percaya bahwa akan ada perubahan besar dalam kehidupan pernikahan kita dan dalam hubungan kita dengan saudara saudari dalam hidup gereja, jika kita memiliki keinsanian Yesus lebih banyak.
VII. SISA TEPUNG HALUS UNTUK KURBAN PENEBUS SALAH
ADALAH BAGIAN IMAM, SEPERTI KURBAN SAJIAN
Imamat 5:13 mengatakan, “Dengan demikian imam mengadakan pendamaian bagi orang itu karena dosanya dalam salah satu perkara itu, sehingga ia menerima
pengampunan. Selebihnya adalah bagian imam, sama seperti kurban sajian.” Sisa tepung halus untuk kurban penebus salah adalah bagian imam, melambangkan bahwa Kristus yang menebus adalah makanan orang-orang yang melayani.
VIII. ORANG YANG BERDOSA TERHADAP HAL-HAL KUDUS TUHAN,
TERHADAP TUHAN, DAN BERDUSTA, MEMERAS,
ATAU BERSUMPAH PALSU KEPADA SESAMANYA MANUSIA
Imamat 5:15, 17-18; 6:2-3, 6 membicarakan orang yang berdosa terhadap hal-hal kudus TUHAN, atau berdosa, membuat kesalahan, terhadap TUHAN, atau orang yang berdosa dan bertindak tidak setia terhadap TUHAN, dan berdusta kepada sesamanya manusia dalam hal titipan atau mempercayakan sesuatu, atau merampas, atau memeras sesamanya manusia, atau menemukan barang hilang dan memungkirinya, dan bersumpah palsu. Orang demikian perlu domba jantan yang tidak bercela, yang sudah dinilai menurut syikal kudus, untuk kurban penebus salah. Ini menyatakan bahwa Kristus yang tanpa dosa dan ditimbang oleh ukuran ilahi bersyarat menjadi kurban penebus salah untuk dosa-dosa kita terhadap hal-hal kudus Allah, atau terhadap Allah, atau terhadap manusia dalam kesalahan yang disebutkan di atas.
IX. ORANG YANG BERDOSA TERHADAP HAL-HAL KUDUS ALLAH,
DAN YANG BERDOSA TERHADAP MANUSIA,
PERLU MENGGANTI RUGI
Seorang yang berdosa terhadap hal-hal kudus Allah perlu mengganti rugi dan menambahkan seperlima lagi, lalu memberikannya kepada imam (Im. 5:15-16). Demikian juga, orang yang berdosa terhadap manusia dalam menggelapkan uang perlu mengganti rugi sepenuhnya, menambahkan seperlima lagi, dan memberikannya kepada pemiliknya pada hari dia kedapatan bersalah (Im. 6:2-6). Ini menyatakan orang yang mempersembahkan kurban penebus salah harus benar dalam hal-hal materi menurut timbangan, standar, dan ukuran ilahi.
X. KURBAN PENEBUS SALAH DISEMBELIH
DI TEMPAT KURBAN BAKARAN DISEMBELIH
“Di tempat orang menyembelih kurban bakaran, di situlah harus disembelih kurban penebus salah” (Im. 7:2a). Kurban penebus salah disembelih di tempat kurban bakaran disembelih menunjukkan bahwa kurban penebus salah berdasar pada kurban bakaran, dan ini menandakan Kristus sebagai kurban penebus salah untuk kita berdasarkan diri-Nya sebagai kurban bakaran.
Kurban penebus salah tidaklah sederhana. Kurban ini menanggulangi dosa yang berhuni, menanggulangi hidup yang tidak mutlak untuk Allah; juga termasuk menanggulangi Iblis pendusta, kematian di antara jemaat Allah, hayat alamiah dengan kenajisannya, melakukan hal-hal yang teledor di hadapan Allah tanpa rasa takut dan pertimbangan. Selain itu, kurban penebus salah menanggulangi perampasan dan pemerasan sesama kita manusia.
Bagaimana kita dapat mengalami kurban penebus salah? Mengalami kurban penebus salah adalah hasil dari menikmati Kristus sebagai kurban bakaran, kurban sajian, kurban pendamaian, dan kurban penghapus dosa dalam persekutuan dengan Allah dan dalam terang ilahi. Karena itu mengalami kurban penebus salah adalah hasil dari menikmati Allah Tritunggal. Pengalaman kita atas kurban penebus salah menyatakan bahwa kita mutlak untuk Allah dan mengenal bahwa kita memiliki dosa di dalam kita sebagai sumber dari segala jenis kesalahan kita terhadap Allah dan manusia.