KURBAN PENEBUS SALAH— KRISTUS UNTUK DOSA UMAT ALLAH (1)
Pembacaan Alkitab: Im. 5:1-10; 7:2
Dalam berita ini kita akan mulai membahas kurban penebus salah. Kita mungkin berpikir bahwa sebagai yang terakhir dari lima kurban persembahan dasar, kurban penebus salah tidak penting dan agak mudah dipahami. Sebenarnya, kurban penebus salah sangat penting dan sulit dipahami secara memadai. Karena itu, dalam mengkaji Kitab Imamat, kita perlu membaca Imamat 5:1-10 secara teliti dan penuh perhatian.
Dalam membicarakan tentang dosa, banyak orang tidak menyadari bahwa ada perbedaan yang besar antara dosa dengan dosa-dosa. Dosa (tunggal) adalah dosa yang berhuni sebagai sifat Iblis (Satan) di dalam kita. Dosa-dosa (jamak) adalah perbuatan dosa di luar. Kurban penghapus dosa menanggulangi dosa, dan kurban penebus salah menanggulangi dosa-dosa, pelanggaran-pelanggaran, dan kesalahan-kesalahan, termasuk dusta, kekeliruan, dan segala jenis perbuatan salah. Kesalahan adalah pelanggaran, dan pelanggaran adalah jenis dosa lainnya lagi.
I. MAKNA KURBAN PENEBUS SALAH
Mula-mula kita perlu melihat makna kurban penebus salah.
A. Perbedaan Antara Kurban Penghapus Dosa dengan Kurban Penebus Salah
Ada perbedaan penting antara kurban penghapus dosa dan kurban penebus salah. Kurban penghapus dosa menandakan Kristus sebagai kurban persembahan yang membereskan dosa yang ada di dalam sifat kejatuhan kita (Rm. 8:3; 2Kor. 5:21). Kurban penebus salah menandakan Kristus sebagai kurban persembahan kita yang membereskan masalah dosa-dosa dalam tingkah laku kita (1Ptr. 2:24; Yes. 53:5-6, 10-11).
Roma 8:3 mengatakan, “Dengan mengutus Anak-Nya sendiri sebagai manusia yang serupa dengan daging yang dikuasai dosa dan untuk menghapuskan dosa, Ia telah menjatuhkan hukuman atas dosa di dalam daging.” Allah telah menjatuhkan hukuman atas dosa. Bagaimana Dia melakukan hal itu? Melalui mengutus Anak-Nya sendiri dalam rupa daging dosa.
Frase “yang serupa dengan daging yang dikuasai dosa” (dalam rupa daging dosa. Tl.) menggabungkan dosa dan daging. Daging kita hari ini adalah daging dosa. Seperti telah kita tunjukkan, dosa dan daging berhubungan dengan Iblis, dunia, dan penguasa dunia. Daging kita adalah daging dosa, sedangkan Kristus datang hanya dalam rupa daging dosa. Dalam Dia tidak ada dosa; Dia tidak memiliki dosa dalam sifat insani-Nya. Walaupun demikian, dalam penampilan, Dia membawakan rupa daging dosa.
Daging umat manusia yang jatuh adalah daging dosa. Dengan kata lain, daging dari ras manusia yang jatuh adalah satu dengan dosa. Di mana ada daging, di situ ada dosa. Istilah “daging” melambangkan orang yang jatuh, dan setiap orang yang jatuh adalah dosa. Entah kita mengasihi orang lain atau membenci mereka, kita adalah dosa. Kejadian 6:3 mengatakan bahwa manusia yang jatuh telah menjadi daging. Sejak manusia menjadi daging dan daging adalah dosa, daging dan dosa adalah satu. Sebagai manusia yang jatuh, kita adalah daging, dan daging adalah dosa.
Allah menghukum dosa melalui mengutus Anak-Nya dalam rupa daging dosa. Ketika Tuhan Yesus di atas salib, Dia adalah dosa di mata Allah. Kristus disalibkan di dalam daging-Nya. Ini berarti daging-Nya disalibkan. Begitu daging-Nya disalibkan, dosa pun dihakimi, karena dosa dan daging adalah satu. Allah menghakimi daging, dan menghakimi dosa; Dia melakukan ini melalui menghakimi Yesus di atas salib. Ketika Allah menghakimi Yesus, Dia menghakimi daging dan dosa. Selain itu, pada waktu itu Allah telah menghancurkan Iblis dalam daging, menghakimi dunia yang bergantung pada Iblis, dan menghukum penguasa dunia dan perebutan kekuasaan. Yang disalibkan satu orang, tetapi ada lima hal yang ditanggulangi: dosa, daging, Iblis, dunia, dan perebutan kekuasaan. Lima hal ini adalah satu.
Dua Korintus 5:21 mengatakan, “Dia yang tidak mengenal dosa telah dibuat-Nya menjadi dosa karena kita, supaya dalam Dia kita dibenarkan oleh Allah.” Tuhan Yesus tidak mengenal dosa, tetapi Allah membuat-Nya menjadi dosa di atas salib untuk kita. Ketika Tuhan Yesus di atas salib, Dia bukan hanya dalam rupa orang dosa, sebagai ular tembaga yang memakai rupa ular (Yoh. 3:14), tetapi juga dibuat menjadi dosa oleh Allah. Jika Yesus tidak dibuat menjadi dosa, dosa tidak dapat dihakimi ketika Dia disalibkan. Dosa telah dihukum, karena ketika Kristus ada di atas salib, Dia dijadikan dosa karena kita oleh Allah.
Kurban penghapus dosa menanggulangi dosa dalam sifat batiniah kita, kurban penebus salah menanggulangi dosa-dosa di dalam tingkah laku lahiriah kita (1Ptr. 2:24). Seperti yang ditunjukkan oleh catatan pinggir dalam American Standard Version, Yesaya 53:10 meletakkan kurban penebus salah bersama-sama dengan kurban penghapus dosa. Hal yang sama ada dalam Imamat 5.
B. Kurban Penebus Salah Akhirnya
Menjadi Kurban Penghapus Dosa
Kurban penebus salah akhirnya menjadi kurban penghapus dosa (Im. 5:6-8, 11-12). Ini melambangkan penebusan Kristus untuk dosa kita membereskan dosa dalam dua aspeknya,dosa di dalam sifat batiniah kita dan dosa-dosa dalam tingkah laku lahiriah kita. Dua aspek dosa ini menjadi totalitas dosa. Yohanes 1:29 membicarakan totalitas ini: “Lihatlah Anak Domba Allah, yang menghapus dosa dunia.” Walaupun kata dosa berbentuk tunggal, ini bukan hanya mengacu kepada dosa dalam sifat kita; ini mengacu kepada totalitas dosa, terdiri atas dosa batiniah dan dosa-dosa lahiriah.
II. SEEKOR YANG BETINA DARI KAWANAN
TERNAK, DOMBA ATAU KAMBING,
DUA EKOR BURUNG TEKUKUR ATAU DUA ANAK BURUNG MERPATI,
ATAU SEPERSEPULUH EFA TEPUNG HALUS UNTUK KURBAN PENEBUS SALAH
Imamat 5:5-7 dan 11 memberi tahu kita bahwa kurban penebus salah mungkin seekor yang betina dari kawanan ternak, domba atau kambing, dua ekor burung tekukur atau dua anak burung merpati, atau sepersepuluh efa tepung halus. Ini melambangkan kurban penebus salah untuk dosadosa lahiriah kita, sedikit tepung halus saja sudah cukup, lebih ringan daripada kurban penghapus dosa, yang memerlukan seekor lembu, atau paling sedikit seekor domba (Im. 4:4, 32).
III. DUA EKOR BURUNG TEKUKUR
ATAU DUA EKOR ANAK BURUNG MERPATI,
SEEKOR UNTUK KURBAN PENGHAPUS
DOSA DAN SEEKOR LAGI UNTUK KURBAN BAKARAN,
MEMBENTUK KURBAN PENEBUS SALAH
Imamat 5:7 mengatakan, “Tetapi jikalau ia tidak mampu untuk menyediakan kambing atau domba, maka sebagai tebusan salah karena dosa yang telah diperbuatnya itu, haruslah ia mempersembahkan kepada TUHAN dua ekor burung tekukur atau dua ekor anak burung merpati, yang seekor menjadi kurban penghapus dosa dan yang seekor lagi menjadi kurban bakaran.” Di sini kita melihat bahwa dua ekor burung tekukur atau dua ekor anak burung merpati, seekor untuk kurban penghapus dosa dan seekor lagi untuk kurban bakaran, membentuk kurban penebus salah. Ini melambangkan bahwa kesalahan berasal dari dosa batiniah dan dari tidak hidup untuk Allah. Dosa batiniah memerlukan kurban penghapus dosa. Tidak hidup untuk Allah memerlukan kurban bakaran. Keduanya adalah lambang yang lengkap dari Kristus sebagai kurban penebus salah yang membereskan dosa-dosa kita.
Dalam Imamat 5:7 kita dapat melihat sumber kesalahan dan juga penyebab kesalahan. Dari mana kesalahan itu datang? Apa sumbernya? Sumber setiap kesalahan adalah dosa yang ada di dalam daging. Apa penyebab kesalahan? Penyebabnya adalah tidak hidup untuk Allah. Karena itu, mengenai kesalahan, kita memiliki sumber dengan penyebabnya.
Dapat kita katakan bahwa dosa batiniah seperti seorang laki-laki, seorang suami, dan tidak hidup untuk Allah seperti seorang perempuan, seorang istri. Pernikahan kedua orang ini menghasilkan anak, dan nama anak ini adalah kesalahan. Kita juga dapat memakai pohon buah untuk mengilustrasikan dosa batiniah, tidak hidup untuk Allah, dan kesalahan. Pohon buah perlu atmosfer dan lingkungan yang tepat untuk bertumbuh. Ketika pohon buah bertumbuh dalam atmosfer dan lingkungan yang demikian, buah dihasilkan. Dalam ilustrasi ini dosa batiniah adalah pohon buah, tidak mengasihi Allah dan tidak hidup untuk Dia merupakan atmosfer dan lingkungan yang di dalamnya pohon bertumbuh, dan kesalahan dan pelanggaran adalah buahnya. Mengapa kita membuat kesalahan dan melakukan kekeliruan? Kita secara spontan dan tanpa sengaja melakukan hal-hal demikian karena kita memiliki dosa di dalam daging kita dan karena kita tidak untuk Allah, tidak mengasihi Dia, dan tidak hidup untuk Dia.
Jika kita untuk Allah, kita akan tulus hati, setia, dan hati-hati. Ini dapat dibuktikan melalui pengalaman kita. Kapan kala kita tidak untuk Allah, kita menjadi kendur, dan kita berbantah-bantahan, bersungut-sungut, dan mengkritik orang lain. Dalam Filipi 2:12-14 Paulus menyuruh kita mengerjakan keselamatan kita dengan takut dan gentar, melakukan segala hal tanpa bersungut-sungut dan berbantah-bantahan. Ketika kita untuk Allah, kita tidak akan bersungut-sungut, berbantahan, mengkritik, bergosip, atau berdebat. Ketika kita tidak untuk Allah, kita ceroboh dalam membicarakan orang lain. Namun, ketika kita untuk Allah, kita sangat hati-hati dalam berkata-kata.
Penyebab kesalahan dan pelanggaran kita adalah tidak hidup untuk Allah. Karena kita jatuh, kita tidak mutlak untuk Allah. Karena kita diciptakan oleh Allah, kita seharusnya mutlak untuk Allah, tetapi kita tidak. Kita mungkin untuk Allah sampai tingkat tertentu, tetapi kita tidak mutlak untuk Dia. Sikap kita yang tidak mutlak untuk Allah menunjukkan bahwa kita masih ada dalam keadaan yang jatuh. Kita sudah jatuh, seorang yang jatuh adalah daging, dan daging ini adalah dosa, yang menghasilkan kesalahan sebagai anak-anak, sebagai buah.
Menurut Imamat 5:7, kita perlu kurban penghapus dosa dan kurban penebus salah. Kurban penghapus dosa menangani sumbernya; kurban penebus salah menangani “anak-anak”, atau “buah-buah”, yang dihasilkan dari sumber ini. Dari sini kita melihat bahwa Allah memperhatikan sumber ini, dosa di dalam kita, dan juga buah yang dihasilkan dari sumber ini, kesalahan lahiriah. Karena itu, kita perlu kurban penghapus dosa dan kurban penebus salah.
Kedua kurban persembahan ini sebenarnya menanggulangi satu hal,dosa. Dosa mencakup dosa batiniah dan dosa-dosa lahiriah. Dengan kata lain, ini adalah perkara dosa dalam totalitasnya. Seperti kita tunjukkan, inilah makna kata “dosa” dalam Yohanes 1:29. Tuhan Yesus, Anak Domba Allah, telah menanggulangi dosa dalam totalitasnya. Di atas salib, Dia adalah kurban penghapus dosa dan juga kurban penebus salah.
Imamat 5:1-3 menyebutkan beberapa pelanggaran khusus. Ayat 1 mengatakan, “Apabila seseorang berbuat dosa, yakni jika ia mendengar seorang mengutuki, dan ia dapat naik saksi karena ia melihat atau mengetahuinya, tetapi ia tidak mau memberi keterangan, maka ia harus menanggung kesalahannya sendiri.” Ungkapan bahasa Ibrani yang diterjemahkan “mendengar seorang mengutuki” secara harfiah berarti “suara dari seorang yang bersumpah”. “Menanggung kesalahannya” berarti memikul tanggung jawab atas dosa atau kesalahan. Ayat ini mengacu kepada seseorang yang mendengar suara menyumpah tetapi tidak mempersaksikan apa yang dia tahu, karena itu dia harus menanggung kesalahannya.
Kita mungkin mengira bahwa yang dibicarakan di sini tidak bermakna dan tidak ada hubungan dengan kita hari ini. Namun, hal yang kelihatannya tidak penting ini menyingkapkan keberadaan kita; ini memperlihatkan bahwa kita tidak mutlak untuk Allah. Jika kita sungguh-sungguh untuk Allah dan hidup untuk Dia, khususnya dalam hidup gereja, kita akan setia, jujur, dan tulus hati untuk bersaksi tentang apa yang kita ketahui. Kita akan mempersaksikan kebenaran. Gagal dalam hal ini berarti tidak jujur dan tidak setia; ini tidak seperti Allah kita, yang setia dan jujur.
Imamat 5:2 selanjutnya mengatakan, “Atau bila seseorang kena kepada sesuatu yang najis, baik bangkai binatang liar yang najis, atau bangkai hewan yang najis, atau bangkai binatang yang mengeriap yang najis, tanpa menyadari hal itu, maka ia menjadi najis dan bersalah.” Di sini kita melihat bahwa sekalipun seseorang tidak melakukan apa-apa, tetapi ia menjamah bangkai, ia menjadi najis, sebab ia menjamah kenajisan kematian. Ini adalah lambang, kita boleh menerapkannya pada perkara rohani. Ada banyak kematian di antara anak-anak Allah hari ini, dan kematian ini menyebar. Selain itu, ada berbagai jenis kematian, dilambangkan oleh bangkai binatang liar, hewan, dan yang mengeriap. Perkataan “tanpa menyadari hal itu” menunjukkan bahwa kita tidak berjaga-jaga sehingga kita menjamah kenajisan kematian rohani. Namun, jika kita diterangi oleh Tuhan, kita akan menyadari berapa banyak kita telah menjamah kenajisan kematian rohani dan telah tercemar olehnya.
Imamat 5:3 melanjutkan, “Atau apabila ia kena kepada kenajisan berasal dari manusia, dengan kenajisan apa pun juga ia menjadi najis, tanpa menyadari hal itu, tetapi kemudian ia mengetahuinya, maka ia bersalah.” Kenajisan yang berasal dari manusia di sini melambangkan manusia alamiah, hayat alamiah. Pada manusia alamiah ada kenajisan. Segala sesuatu yang keluar dari manusia alamiah dan hayat alamiah adalah najis.
Dalam mengontak orang lain sebagai anggota Tubuh, mungkin ada kenajisan, kenajisan kematian rohani dan kenajisan alamiah. Ketika kita bersekutu dengan satu sama lain, kita perlu berjaga-jaga terhadap kedua jenis kenajisan ini. Sebagai contoh, seorang saudara mungkin mengucapkan perkataan kasih kepada Anda, atau dia mengucapkan perkataan apresiasi dan hormat, tetapi perkataannya sepenuhnya alamiah. Jika Anda menerima perkataan ini, Anda akan dicemari, sebab Anda telah menjamah kenajisan manusia, kenajisan alamiah.
Suatu hari, saya bersekutu dengan Saudara Watchman Nee, Dia memberi tahu saya bahwa sopan santun adalah sejenis kusta. Sopan santun berbeda dengan menyenangkan. Untuk kehidupan insani yang tepat, kita harus menyenangkan terhadap orang lain. Bersopan santun sebenarnya adalah mengenakan topeng. Ini berarti, bersopan santun adalah perihal berpura-pura. Sebagai contoh, saudara A mungkin bersikap sopan terhadap saudara B, tetapi kemudian bergosip dengan orang lain tentang saudara B, mengkritik saudara B. Ini adalah kusta, sesuatu yang lebih buruk dari sifat alamiah.
Perkataan dalam Imamat 5 dibicarakan bukan untuk individual, tetapi untuk kumpulan umat Allah. Dalam perlambangan, perkataan ini ditujukan kepada gereja. Di antara kaum beriman dalam gereja, mungkin ada berbagai jenis kematian. Kematian sering menyebar di antara kaum beriman. Kita mungkin tidak menyadari berapa banyak kita telah menjamah kenajisan kematian rohani. Menyebarkan gosip dan kritik adalah menyebarkan kematian rohani. Kita mungkin menjamah kematian rohani hari demi hari tanpa kita menyadarinya. Begitu pula, kaum beriman mungkin memiliki “teman-teman baik” akrab dan mengasihi orang lain secara alamiah, bukan dalam roh. Kasih semacam ini bersifat alamiah, daging, dan najis.
Jika kita diterangi oleh Tuhan melalui bagian firman ini, kita akan menyadari bahwa kita benar-benar perlu kurban penebus salah. Semakin kita bersama Tuhan dan semakin kita menerima Dia sebagai kurban bakaran, kita akan makin jelas bahwa kita perlu Dia sebagai kurban penebus salah dan sebagai kurban penghapus dosa. Kita perlu kurban penghapus dosa untuk menanggulangi dosa di batin sebagai sumber dan kurban penebus salah untuk menanggulangi “anak-anak”, kesalahan yang dihasilkan dari sumber ini.
IV. DARAH KURBAN PENEBUS SALAH
A. Sedikit Darah dari Kurban Penebus Salah Itu
Dipercikkan ke Dinding Mezbah
Sedikit darah dari kurban penebus salah itu dipercikkan ke dinding mezbah (Im. 5:9a; 7:2). Ini melambangkan pemercikan kuasa darah Kristus ke atas orang dosa (1Ptr. 1:2).
B. Darah Selebihnya Ditekan Keluar (Dialirkan) pada Bagian Bawah Mezbah
Darah selebihnya ditekan keluar (dialirkan) pada bagian bawah mezbah (Im. 5:9b). Ini melambangkan darah Kristus sebagai dasar pengampunan Allah kepada orang dosa (Ef. 1:7).
V. MINYAK ATAU KEMENYAN TIDAK BOLEH DITARUH KE ATAS TEPUNG HALUS
SEBAGAI KURBAN PENGHAPUS DOSA UNTUK KURBAN PENEBUS SALAH
Imamat 5:11 memberi tahu kita bahwa orang yang membawa “sepersepuluh efa tepung yang terbaik menjadi kurban penghapus dosa” tidak boleh “ditaruhnya minyak dan dibubuhnya kemenyan di atasnya, karena itulah kurban penghapus dosa.” Ini melambangkan bahwa Roh Kudus dan bau harum kebangkitan Kristus tidak terlibat dengan dosa.