← Daftar isi Imamat (2) · bab 22/23

PENTAHIRAN ORANG KUSTA (1)

Pembacaan Alkitab: Im. 14:1-9

Dalam berita ini kita sampai kepada hal yang sangat menakjubkan, pentahiran orang kusta. Dalam berita-berita yang lalu kita melihat gambaran apa adanya kita secara negatif. Gambaran ini menyingkapkan kita sepenuhnya, menyingkapkan apa adanya kita di dalam diri kita sendiri. Sekarang kita sampai kepada perkara pentahiran, yang adalah keselamatan almuhit yang telah Allah persiapkan dan rampungkan untuk kita. Di sini kita melihat Kristus yang almuhit. Dia memiliki darah, Roh, dan segala sesuatu yang kita perlukan untuk pentahiran. Dalam Dia, kita memiliki persediaan keselamatan Allah yang kaya, lengkap, dan luas tak terbatas. Kita semua perlu tahu pentahiran ini, keselamatan ini dan mengalaminya secara penuh.

I. ORANG KUSTA DIBAWA KEPADA IMAM

“Inilah yang harus menjadi hukum tentang orang yang sakit kusta pada hari pentahirannya: ia harus dibawa kepada imam” (Im. 14:2). Orang kusta dibawa kepada imam melambangkan orang yang najis dibawa kepada Tuhan. Dalam pemberitaan Injil kita sebenarnya membawa orang najis, orang dosa, kepada Tuhan.

II. IMAM PERGI KE LUAR PERKEMAHAN

UNTUK MEMERIKSA ORANG KUSTA ITU

Imam pergi ke luar perkemahan untuk memeriksa orang kusta itu (ayat 3a) melambangkan Tuhan Yesus meninggalkan tempat asal-Nya dan merendahkan diri-Nya untuk mendekati orang dosa. Tuhan datang dari surga ke bumi untuk mendekati kita, orang dosa. Ini digambarkan dalam Matius 8. “Setelah Yesus turun dari bukit, orang banyak berbondong-bondong mengikuti Dia. Seorang yang sakit kusta datang kepada-Nya, lalu sujud menyembah Dia dan berkata, ‘Tuan, jika Tuan mau, Tuan dapat mentahirkan aku.’ Lalu Yesus mengulurkan tangan-Nya, menyentuh orang itu dan berkata, ‘Aku mau, jadilah tahir.’ Seketika itu juga tahirlah orang itu dari kustanya” (ayat 1-3). Orang kusta ini harus diisolasi, dikucilkan, dari umat Allah. Dia tidak boleh dijamah orang lain, supaya tidak menularkan penyakitnya kepada orang lain. Walaupun demikian, karena bersimpati dalam kasih kepada orang kusta itu, Tuhan Yesus mendekati dia dan menjamah dia.

III. ORANG KUSTA YANG DISEMBUHKAN

PERLU MENCARI PENTAHIRAN DI HADAPAN ALLAH

Dalam Imamat 14:4-9, kita melihat bahwa orang kusta yang ditahirkan perlu mencari pentahiran di hadapan Allah. Ini melambangkan bahwa orang yang sakit dosa kusta, walaupun dia telah disembuhkan oleh hayat yang di dalam, masih memiliki kekurangan dan kecemaran yang perlu ditanggulangi di hadapan Allah, supaya dia dapat ditahirkan. Pentahiran dari kusta memerlukan bukan hanya tindakan dari pihak Allah tetapi juga kerjasama dari pihak kita. Sebagai penderita kusta, orang dosa, kita perlu mencari pentahiran. Pencarian kita adalah kerja sama kita dengan anugerah dan kasih Allah.

Orang yang telah disembuhkan dari kusta masih perlu ditahirkan. Disembuhkan adalah satu hal, dan ditahirkan adalah hal lainnya. Proses, prosedur pentahiran meliputi banyak butir yang akan kita lihat sekarang.

A. Dengan Dua Ekor Burung Hidup yang Tahir

“Maka imam harus memerintahkan, supaya bagi orang yang akan ditahirkan itu diambil dua ekor burung yang hidup dan yang tidak haram” (ayat 4a). Dua ekor burung ini yang tidak haram (tahir) dan penuh hayat ini adalah lambang Kristus. Kristus di sini dilambangkan oleh hayat burung, hayat yang dapat terbang di angkasa melampaui bumi.

1. Burung

Burung dapat melampaui bumi. Burung dalam ayat 4a melambangkan Kristus yang datang dari surga, Dia milik surga dan melampaui bumi.

2. Burung Hidup

Burung hidup melambangkan Kristus yang penuh hayat. Dia hidup karena Dia penuh hayat.

3. Burung yang Tidak Haram

Burung yang tidak haram melambangkan hanya Kristus yang tidak haram dan tanpa kecemaran apa pun. Dalam hal ini, Kristus dan kita berkebalikan. Pada diri kita segala sesuatu adalah najis; pada diri-Nya segala sesuatu adalah tahir. Kita najis, tetapi Dia tahir.

4. Dua Burung

Dua burung, di satu pihak melambangkan bahwa Kristus mati agar kenajisan kita disingkirkan, dan di pihak lain, Dia bangkit untuk kita, supaya kita dapat dilepaskan dari kelemahan kita. Kristus mati di atas salib untuk menyingkirkan dosa-dosa kita. Ini dilambangkan oleh burung pertama. Kristus bangkit dari antara orang mati untuk kita, supaya kita dilepaskan dari kelemahan kita oleh kuasa, kekuatan, dan energi hayat. Hayat ini adalah hayat kebangkitan, hayat di dalam kebangkitan. Hayat ini juga hayat ilahi, hayat Allah yang kekal dan bukan ciptaan. Kita menerima hayat ini dari Kristus yang bangkit, yang dilambangkan oleh burung kedua. Jadi kedua burung ini melambangkan dua aspek Kristus, Kristus dalam penyaliban dan Kristus dalam kebangkitan.

B. Dengan Kayu Aras

Kayu aras (ayat 4b; lihat 1Raj. 4:33) melambangkan keinsanian Tuhan yang tinggi dan terhormat, yang memampukan Dia menjadi Juruselamat kita. Dalam Perjanjian Lama, tanaman sering melambangkan keinsanian Tuhan, khususnya kayu. Kayu aras melambangkan keinsanian Tuhan yang dipertinggi.

C. Dengan Hisop

Dalam 1Raja-raja 4:33, Salomo “bersajak tentang pohon-pohonan, dari pohon aras yang di gunung Libanon sampai kepada hisop yang tumbuh pada dinding batu.” Hisop adalah tanaman yang terkecil di antara tumbuhtumbuhan. Hisop dalam Imamat 14:4b melambangkan bahwa Tuhan mau merendah menjadi serupa dengan manusia, supaya Dia dapat mendekati manusia dan menjadi Juruselamat manusia. Di satu pihak, seperti dilambangkan oleh kayu aras, Tuhan memiliki standar keinsanian tertinggi. Di pihak lain, seperti dilambangkan oleh hisop, Dia mau merendah supaya Dia dapat terjangkau oleh kita.

D. Dengan Kain Kirmizi

Kain kirmizi (ayat 4b), warna merah tua, memiliki banyak makna dalam perlambangan. Kain kirmizi di sini melambangkan bahwa Tuhan merendahkan diri-Nya menjadi manusia, supaya Dia dapat melakukan kehendak Allah dan mencucurkan darah-Nya di atas salib untuk penebusan kita, kemudian menjadi Raja yang dihormati dan Raja tertinggi. Warna kain kirmizi melambangkan pencurahan darah. Jadi, kain kirmizi melambangkan penebusan Kristus yang dirampungkan melalui pencurahan darah-Nya di atas salib. Kain kirmizi juga menyiratkan jabatan raja. Kristus disembelih, disalibkan, untuk penebusan dan melalui penebusan ini Dia menjadi Raja. Juruselamat menjadi Raja bukan melalui berperang, tetapi melalui mati, melalui disalibkan.

E. Dengan Belanga Tanah Dipenuhi dengan

Air Mengalir, yang di Atasnya

Seekor Burung Disembelih

Ayat 5 mengatakan, “Imam harus memerintahkan supaya burung yang seekor disembelih di atas belanga tanah berisi air mengalir.” Kata Ibrani yang diterjemahkan “mengalir” di sini secara harfiah berarti “hidup”. Belanga tanah dipenuhi dengan air mengalir yang di atasnya seekor burung disembelih melambangkan bahwa melalui kematian dalam daging, Tuhan mempersembahkan diri-Nya kepada Allah melalui Roh yang kekal dan hidup (lihat Ibr. 9:13-14).

Belanga tanah melambangkan keinsanian Tuhan, dan air mengalir melambangkan Roh Allah yang hidup dan kekal. Di atas belanga tanah yang dipenuhi air mengalir seekor burung disembelih. Ini melambangkan bahwa Kristus dibunuh dalam keinsanian-Nya yang dipenuhi Roh yang hidup dan kekal. Dalam Ibrani 9:14, kita memiliki penggenapan lambang ini. Ayat ini memberi tahu kita bahwa Kristus melalui Roh yang kekal mempersembahkan diri-Nya sendiri kepada Allah. Ketika Dia mati di atas salib, Dia mempersembahkan diri-Nya sendiri kepada Allah melalui air mengalir, Roh Allah yang kekal dan hidup yang memenuhi Dia. Kristus tidak sendirian ketika Dia di atas salib, karena Roh kekal ada di dalam Dia dan menyertai Dia.

Tanpa perkataan Paulus dalam Ibrani 9:14, kita tidak dapat memahami lambang dalam Imamat 14:5. Dalam perlambangan sejumlah rincian dibahas secara sederhana. Di sini kita memiliki belanga tanah, air mengalir, dan seekor burung yang disembelih. Bila kita menjajarkan lambang ini bersama Ibrani 9:14, kita melihat bahwa ketika Kristus (burung yang disembelih) disalibkan, Dia ada dalam keinsanian-Nya (belanga tanah), namun di dalam Dia ada Roh Allah yang kekal dan hidup (air hidup). Melalui Roh yang memenuhi Dia, Kristus mempersembahkan diri-Nya sendiri kepada Allah.

F. Burung yang Lain, Kayu Aras, Kain Kirmizi,

dan Hisop Dicelupkan dalam Darah dari Burung

yang Disembelih supaya Dapat Dipercikkan

Tujuh Kali kepada Orang Kusta

yang Akan Ditahirkan

“Tetapi burung yang masih hidup haruslah diambilnya bersama-sama dengan kayu aras, kain kirmizi dan hisop, lalu bersama-sama dengan burung itu semuanya harus dicelupkannya ke dalam darah burung yang sudah disembelih di atas air mengalir itu. Kemudian ia harus memercik tujuh kali kepada orang yang akan ditahirkan dari kusta itu dan dengan demikian mentahirkan dia” (Im. 14:6-7a). Ini melambangkan bahwa penebusan sempurna Tuhan bukan hanya menyebabkan manusia ditahirkan secara obyektif dalam posisinya, tetapi juga menyebabkan manusia mengalami secara subyektif dalam Roh Kudus, penderitaan Tuhan dalam mencucurkan darah-Nya dalam keinsanian-Nya yang luhur, tinggi, dan merendah, dan mengalami kematian, kebangkitan, kenaikan, dan pemuliaan-Nya. Semua hal ini dinyatakan dalam lambang.

Dalam Imamat 14:6 empat hal, burung yang lain, kayu aras, kain kirmizi, dan hisop, dicelupkan dalam darah burung yang disembelih. Saya percaya bahwa keempat hal ini diikat bersama-sama, bahwa kain kirmizi adalah benang yang mengikat burung, kayu aras, dan hisop dan menjadikan mereka satu berkas. Berkas ini kemudian dicelupkan dalam darah burung yang disembelih, supaya darah ini dapat dipercikkan tujuh kali kepada orang kusta yang akan ditahirkan.

Penebusan Tuhan, keinsanian-Nya yang luhur, tinggi, dan merendah, serta kebangkitan, kenaikan, dan pemuliaan-Nya, semua tersirat dalam lambang ini. Kita telah melihat bahwa kayu aras melambangkan keinsanian Kristus yang luhur, tinggi, dan hisop melambangkan keinsanian-Nya yang merendah. Burung yang disembelih, tentu melambangkan penebusan-Nya. Lalu apa yang melambangkan kebangkitan, kenaikan, dan pemuliaan-Nya? Kebangkitan-Nya dilambangkan oleh burung yang lain, burung yang hidup. Kedua burung itu melambangkan Kristus dalam dua aspek, dalam kematian dan kebangkitan-Nya. Di satu pihak, seperti dilambangkan oleh burung yang disembelih, Dia dibunuh. Di pihak lain, seperti dilambangkan oleh burung yang hidup, Dia dibangkitkan. Kristus yang mati menjadi Kristus yang hidup melalui kebangkitan. Kenaikan Kristus dilambangkan oleh burung hidup yang terbang, membubung tinggi di udara. Pemuliaan Tuhan dilambangkan oleh kain kirmizi, yang menyatakan jabatan raja. Kristus dimuliakan dalam jabatan raja-Nya. Kristus merendah dalam inkarnasi-Nya, dipermalukan di salib, dan dimuliakan dalam jabatan raja-Nya. Karena itu, di dalam satu lambang ini kita melihat Kristus yang almuhit, sebab di sini kita memiliki keinsanian-Nya, yang tinggi pun merendah, penebusan-Nya, serta kebangkitan, kenaikan, dan kemuliaan-Nya.

G. Membiarkan Burung yang Hidup Itu

Terbang Bebas di Padang

“Lalu burung yang hidup itu haruslah dilepaskannya ke padang” (ayat 7b). Ini melambangkan bahwa Kristus yang hidup menyebabkan orang dosa yang ditahirkan bukan saja mati dan dibangkitkan, tetapi juga mengalami kenaikan-Nya. Semua ini telah dirampungkan untuk kita oleh Kristus, dan kita hanya perlu mengalami dan menikmatinya. Dalam Kristus yang disalibkan, burung yang disembelih, kita mati. Sekarang dalam Kristus yang bangkit, burung yang hidup, kita membubung tinggi dalam kenaikan. Kita telah bebas, dan tidak ada kegagalan.

Saya berkata sekali lagi bahwa untuk menjelaskan lambang ini kita perlu mengetahui seluruh Alkitab. Ini adalah teologi yang tepat, teologi alkitabiah. Teologi alkitabiah erat kaitannya dengan kusta dalam Imamat 13 dan 14. Jika teologi ini tidak mencakup kusta kita, kita benarbenar terpisah dari Allah. Dia akan menjadi Allah yang tidak ada hubungan dengan kita, dan kita menjadi orang kusta yang tidak ada hubungan dengan Dia. Namun, teologi alkitabiah mencakup kusta kita, dan Allah dapat dilihat dalam perlambangan dalam Imamat 14:4-7. Dalam lambang ini kita melihat penebusan Tuhan dan kuasa penyelamatan dalam kebangkitan-Nya. Kita telah ditebus oleh Kristus yang disalibkan, dan sekarang kita ada di dalam Kristus yang bangkit, membubung tinggi di angkasa dengan Dia.

H. Orang Kusta yang Akan Ditahirkan Haruslah Mencuci Pakaiannya,

Mencukur Seluruh Rambutnya, dan Membasuh Tubuhnya dengan Air

“Orang yang akan ditahirkan itu haruslah mencuci pakaiannya, mencukur seluruh rambutnya dan membasuh tubuhnya dengan air, maka ia menjadi tahir” (ayat 8a). Ini melambangkan, di satu pihak orang dosa yang akan ditahirkan perlu mengalami kematian, kebangkitan, dan kenaikan Kristus; di pihak lain, dia sendiri perlu bertanggung jawab untuk menanggulangi dan memotong semua kehidupan lamanya dan hayat alamiahnya.

1. Rambut Kepala

Orang kusta yang akan ditahirkan harus mencukur semua rambutnya. Rambut kepala melambangkan kemuliaan laki-laki. Hampir semua orang dapat menemukan sesuatu untuk dibanggakan, untuk memuliakan diri sendiri, untuk dipamerkan di hadapan orang lain. Ini dilambangkan oleh rambut kepala.

2. Janggut

Janggut, juga harus dicukur melambangkan kehormatan orang, orang sering menganggap dirinya patut dihormati atau memiliki perasaan yang mengungguli orang lain. Ini adalah perkara kehormatan manusia yang dilambangkan oleh janggut.

3. Alis Mata

Kecantikan wajah orang terutama pada alis mata. Maka, alis mata melambangkan keunggulan, kebaikan, dan kebajikan manusia. Ini adalah butir-butir kebaikan dan kekuatan alamiah manusia, yang tidak dihasilkan dari pengalaman atas keselamatan Allah, tetapi dari kelahiran alamiah seseorang.

4. Semua Bulu Tubuh

Semua bulu tubuh melambangkan kekuatan dan kemampuan manusia. Sebagai manusia, kita memiliki kekuatan dan kemampuan alamiah. Ini berarti kita memiliki bulu di seluruh tubuh kita, dan bulu ini harus dicukur.

5. Membasuh Tubuh dengan Air

Membasuh tubuh dengan air melambangkan menanggulangi seluruh diri seseorang. Ini berarti mengubur seluruh diri kita di dalam air.

Menggabungkan kelima butir ini, sama dengan membersihkan diri dari kemuliaan, kehormatan, keunggulan, kebaikan, kebajikan, kekuatan, dan kemampuannya. Jika kita membersihkan diri secara demikian, kita akan benarbenar tahir. Tidak akan ada kusta. Namun, selama diri (ego) masih ada, kita akan mengidap kusta pada beberapa aspek, di rambut kepala, di janggut, di alis mata, di bulu tubuh, di ego kita. Karena itu, seluruh diri kita harus dibasuh, dikuburkan, diakhiri, di dalam air yang dalam. Kemudian karena kita tidak memiliki apa-apa dan bukan apa-apa, kita akan tahir.

I. Orang Kusta yang Akan Ditahirkan Tetap Tinggal di Luar Perkemahan-Nya Selama Tujuh hari

“Sesudah itu ia boleh masuk ke dalam perkemahan, tetapi harus tinggal di luar kemahnya sendiri tujuh hari lamanya” (ayat 8b). Ini melambangkan orang dosa yang akan ditahirkan masih belum dapat memulihkan persekutuan dengan saudara-saudara; dia perlu berjaga-jaga, menanti, dan ditanggulangi lebih lanjut. Bahkan setelah orang kusta itu mencukur semua bulunya dan membasuh tubuhnya dalam air, dia masih perlu menunggu, mengawasi dirinya, dan ditanggulangi lebih lanjut. Ini menunjukkan bahwa menanggulangi dosa, kusta, pemberontakan yang datang dari Iblis, adalah perkara yang serius bagi Allah. Karena dosa begitu serius, kita seharusnya tidak menanggulanginya dengan kendur, ringan, atau ceroboh.

J. Pada Hari yang Ketujuh Orang Kusta yang Akan Ditahirkan

Harus Mencukur Seluruh Rambutnya dari Kepalanya, Janggutnya, dan Alis Matanya—

bahkan Segala Bulunya—Mencuci Pakaiannya, dan Membasuh Tubuhnya dengan Air

Imamat 14:9 mengatakan, “Maka pada hari yang ketujuh ia harus mencukur seluruh rambutnya: rambut kepala, janggut, alis, bahkan segala bulunya harus dicukur, pakaiannya dicuci, dan tubuhnya dibasuh dengan air; maka ia menjadi tahir.” Setelah berjaga-jaga dan menunggu selama tujuh hari, dia harus mencukur seluruh bulu tubuhnya sekali lagi, mencuci pakaiannya, dan membasuh tubuhnya. Ini melambangkan bahwa orang dosa yang akan ditahirkan perlu memikul tanggung jawab untuk menanggulangi setiap bagian dari hayat alamiah dan kehidupannya setiap hari. Ini adalah cara ditahirkan yang diperlihatkan kepada kita dalam wahyu ilahi. Di sini kita melihat bahwa Allah ingin kita menanggulangi dosa kita dan diri kita yang penuh dosa secara serius. Jika kita menanggulangi diri kita dengan tegas, tuntas, dan mutlak, kita akan ditahirkan.