PENTAHIRAN ORANG KUSTA (2)
Pembacaan Alkitab: Im. 14:10-32
Sebagai kaum beriman Perjanjian Baru, kita menikmati pentahiran Tuhan. Namun, jika kita sekadar membaca dan memahami Perjanjian Baru, kita tidak akan memiliki gambaran yang jelas dan rinci tentang apa yang tercakup dalam pentahiran ini. Untuk itu kita perlu melihat lambang dalam Imamat 14. Dari lambang-lambang ini kita melihat bahwa untuk mentahirkan kita dari kusta, Tuhan harus berinkarnasi, menjadi seorang manusia. Seperti yang dilambangkan oleh kayu aras, keinsanian-Nya tinggi dan terhormat; juga seperti yang dilambangkan oleh hisop, Dia rela merendah dan menjadi serupa dengan manusia. Di satu pihak, standar-Nya tinggi; di pihak lain, status-Nya sangat rendah. Keduanya untuk menghasilkan benang kirmizi. Selain itu, dua burung melambangkan Kristus dalam dua aspek lain. Burung yang disembelih melambangkan Kristus dalam penyaliban-Nya dan burung yang hidup melambangkan Kristus dalam kebangkitanNya. Tanpa Kristus dalam semua aspek ini, kita tidak dapat ditahirkan dari kusta kita, dosa kita.
Saya tidak percaya bahwa orang Israel pada masa itu memahami makna dua burung, kayu aras, hisop, seekor burung yang disembelih di atas belanga tanah yang penuh air yang mengalir, burung yang hidup diikat bersama, kayu aras, hisop, dan benang kirmizi dan mencelupkan berkas ini ke dalam darah burung yang disembelih supaya darahnya dapat dipercikkan tujuh kali pada orang yang akan ditahirkan. Walaupun orang Israel melihat perkara ini dan mengalaminya, mereka belum tentu memahaminya. Namun, hari ini kita memahami lambang-lambang ini. Sekarang kita melihat bahwa untuk pentahiran kita, kita perlu Kristus dari banyak aspek, Kristus yang melalui sejumlah proses. Darah yang dicurahkan oleh Dia telah dipercikkan ke atas kita, dan pemercikan ini menyambungkan kita, orang dosa, dengan Kristus, Sang Penebus. Walaupun Tuhan telah memperlihatkan banyak hal kepada kita mengenai lambang-lambang ini, kita berharap bahwa di tahun-tahun mendatang Dia akan memperlihatkan kepada kita lebih banyak lagi. Berita yang lalu membahas hanya bagian pertama prosedur, atau proses pentahiran orang kusta. Dalam berita ini kita akan membahas bagian kedua dari proses ini.
Dalam pentahiran orang kusta, Kristus diwahyukan bukan hanya sebagai dua burung, kayu aras, hisop, dan benang kirmizi, tetapi juga sebagai empat jenis kurban persembahan: kurban penebus salah, kurban penghapus dosa, kurban bakaran, dan kurban sajian. Kurban penghapus dosa menanggulangi sifat dosa kita, dengan dosa sebagai sifat dari diri kita yang jatuh. Sifat diri kita yang jatuh adalah dosa, dan sifat dosa ini adalah esens, substansi, unsur, dari Iblis. Sifat dosa kita, dosa dalam diri kita, adalah setani. Kita bahkan dapat mengatakan bahwa ini adalah Iblis sendiri. Dosa, yang adalah pemberontakan, adalah Iblis. Dosa ini telah diinjeksikan ke dalam kita, menyebabkan kita disusun menjadi orang dosa (Rm. 5:19), yaitu, orang yang tersusun dari dosa. Karena itu, diri manusia adalah susunan dosa. Kita perlu melihat bahwa diri kita sepenuhnya disusun dengan dosa, dengan musuh Allah.
Kurban penghapus dosa menanggulangi sifat dosa kita. Dosa adalah sifat kita; bahkan diri kita sendiri. Ketika Kristus mati di atas salib, Dia tidak hanya mati karena dosa kita, tetapi juga dijadikan dosa karena kita (2Kor. 5:21). Kristus disalibkan sebagai dosa. Ketika Dia disalibkan, dosa juga disalibkan, dan kita ikut disalibkan. Ketika Kristus disalibkan sebagai dosa, dosa, Iblis, dan kita sendiri disalibkan bersama Dia. Ini adalah makna kurban penghapus dosa. Kurban penebus salah menanggulangi perbuatan dosa kita, yang adalah hasil dari dosa di dalam kita, dosa yang adalah sifat kita, diri kita, susunan kita. Perbuatan dosa, yaitu berbagai buah dosa, juga disebut sebagai kejahatan, kesalahan, dan pelanggaran. Karena itu, kita perlu kurban penghapus dosa dan kurban penebus salah. Kita perlu kurban penghapus dosa untuk menanggulangi sifat dosa, yaitu sumber dosa kita. Kita perlu kurban penebus salah untuk menanggulangi semua hasil dari sifat dosa.
Kurban penghapus dosa dan kurban penebus salah sebenarnya termasuk satu kategori, untuk menanggulangi dosa secara keseluruhan, termasuk dosa kita dan perbuatan dosa kita. “Lihatlah Anak Domba Allah, yang menghapus dosa dunia!” (Yoh. 1:29). “Dosa” di sini adalah totalitas dosa yang meliputi sifat dosa dan perbuatan dosa kita. Kristus adalah kurban persembahan yang menanggulangi dosa kita dan perbuatan dosa kita. Dalam menanggulangi sifat dosa kita, Dia adalah kurban penghapus dosa. Dalam menanggulangi perbuatan dosa kita, Dia adalah kurban penebus salah. Karena kurban-kurban persembahan ini keduanya memperhatikan hal yang sama, menanggulangi totalitas dosa, dalam Imamat 5 dan 6, mereka kadangkadang diterapkan secara saling ditukarkan; kurban penebus salah menjadi kurban penghapus dosa dan kurban penghapus dosa menjadi kurban penebus salah.
Terkait dengan kurban penghapus dosa dan kurban penebus salah, saya ingin menyampaikan sedikit perkataan mengenai pendamaian. Imamat 14:18 membicarakan imam mengadakan pendamaian untuk orang kusta di hadapan TUHAN. Tidaklah mudah menerjemahkan kata Ibrani untuk “pendamaian”. Versi King James menerjemahkan kata Ibrani ini sebagai “perujukan”. Perujukan adalah perkara menyatukan. Dua pihak memiliki masalah, mungkin cekcok, yang perlu dibereskan. Karena masalah itu, pihakpihak ini tidak bersatu. Mereka perlu sesuatu yang dapat menyelesaikan keadaan mereka, membereskan masalah mereka, dan menjadikan mereka satu.
Pendamaian adalah perkara menyelesaikan masalah atau keadaan yang di dalamnya satu pihak menyalahi pihak lain atau berhutang sesuatu kepada pihak lain. Kalau masalah ini tidak dibereskan, tidak mungkin ada damai di antara kedua pihak. Pihak ketiga datang mewakili pihak pertama untuk menyingkirkan pelanggaran, supaya pihak kedua dapat bersatu dengan pihak pertama. Ini adalah penyelesaian, pendamaian.
Dalam Imamat 14, orang kusta adalah pihak pertama, pihak yang bersalah, dan Allah adalah pihak yang lain, pihak yang disalahi. Masalahnya, tentu, adalah kusta. Kita telah menunjukkan bahwa kusta melambangkan dosa; dosa adalah pemberontakan, dan pemberontakan adalah Iblis (Satan). Empat hal ini, kusta, dosa, pemberontakan, dan Iblis, adalah sinonim. Ini berarti mereka adalah satu. Karena di antara Allah dengan manusia ada masalah kusta, maka perlu ada pemberesan untuk menyingkirkan kusta, yang adalah dosa, pemberontakan, dan Iblis sendiri. Untuk pemberesan ini, dua burung tidak memadai. Dua burung dapat merampungkan pentahiran, tetapi tidak mendamaikan. Pendamaian memerlukan kurban penghapus dosa, kurban penebus salah, kurban bakaran, dan kurban sajian. Bila kita memiliki empat kurban persembahan ini, barulah kita dapat memiliki pendamaian dan juga pentahiran.
Seorang kusta, orang dosa yang ada di bawah penghukuman Allah dan yang bermasalah dengan Allah, memerlukan tiga hal: penyembuhan, pentahiran, dan pendamaian. Karena orang kusta perlu pendamaian berarti dia perlu dibawa kembali ke dalam persekutuan dengan Allah. Pendamaian menyingkirkan halangan antara orang kusta dengan Allah. Kristus telah datang bukan hanya mentahirkan kita, tetapi juga mengadakan pendamaian untuk kita. Untuk mengadakan pendamaian, Dia harus menjadi kurban penghapus dosa, kurban penebus salah, kurban bakaran, dan kurban sajian kita.
Kita telah melihat makna kurban penghapus dosa dan kurban penebus salah. Sekarang kita perlu melihat makna kurban bakaran dan kurban sajian.
Kristus adalah kurban bakaran untuk menjadikan kita mutlak untuk Allah. Untuk tujuan ini, Dia juga adalah kurban sajian guna merawat kita, menyuplai kita dengan makanan. Untuk melakukan sesuatu kita perlu makan, yang memberi kita kekuatan untuk hidup. Jika kita mau mutlak untuk Allah, kita perlu sesuatu untuk menyuplai kita, sesuatu yang menunjang, menopang, dan merawat kita. Apa yang kita perlukan adalah Kristus sebagai kurban sajian, sebagai makanan kita. Kristus adalah kurban sajian untuk kita makan. Semakin kita menikmati Kristus sebagai kurban sajian, kita akan semakin menempuh kehidupan yang adalah kurban bakaran yang mutlak untuk Allah.
Setelah masalah sifat dosa dan perbuatan dosa kita dibereskan, kita perlu menikmati Kristus sebagai kurban sajian. Kurban sajian dibuat dari tepung halus dan minyak. Tepung halus melambangkan kelembutan Kristus dalam keinsanian-Nya, dan minyak melambangkan Roh itu. Kedua hal ini, tepung halus dan minyak, dicampur dan dibaurkan, menjadi makanan kita. Khususnya, di pagi hari, kita dapat menikmati Kristus sebagai tepung halus yang dibaurkan dengan minyak, Roh itu. Ini adalah Kristus sebagai kurban sajian kita untuk menunjang dan menopang kita, supaya kita dapat menempuh kehidupan yang mutlak untuk Allah sebagai kurban bakaran.
Melalui empat jenis kurban bakaran ini, masalah antara kita dengan Allah sepenuhnya dibereskan, dan keadaan antara kita dengan Allah didamaikan. Sekarang kita bukan saja disembuhkan dan ditahirkan, tetapi pendamaian juga telah diadakan untuk kita.
Dalam perkara pentahiran orang kusta dalam Imamat 14, kita dapat melihat Kristus dalam banyak aspek. Kita melihat Kristus sebagai kayu aras dan sebagai hisop dalam inkarnasi-Nya. Kita melihat Kristus mencurahkan darah-Nya untuk menghasilkan benang kirmizi. Kita melihat Kristus sebagai dua burung: satu burung disembelih di atas belanga tanah (keinsanian-Nya) dipenuhi dengan air yang mengalir (Roh yang kekal), dan burung lainnya dilepaskan untuk terbang di padang terbuka. Sekarang kita juga melihat Kristus sebagai kurban penghapus dosa, kurban penebus salah, kurban bakaran, dan kurban sajian. Betapa ajaibnya gambaran Kristus ini!
IV. ORANG KUSTA YANG AKAN
DITAHIRKAN PERLU MEMBERESKAN
MASALAH SIFAT DOSA DAN PERBUATAN
DOSANYA DI HADAPAN ALLAH
Dalam 14:10-32 kita melihat bahwa orang kusta yang akan ditahirkan perlu membereskan masalah sifat dosa dan perbuatan dosanya di hadapan Allah. Ini melambangkan bahwa orang dosa yang akan ditahirkan, bahkan walaupun dia telah ditahirkan, masih perlu membereskan masalah sifat dosa dan perbuatan dosanya di hadapan Allah. Ini berarti orang dosa perlu pendamaian.
A. Kurban-kurban Persembahan Disajikan
di Hadapan Allah pada Hari Kedelapan
Kurban-kurban persembahan disajikan di hadapan Allah pada hari kedelapan (ayat 10-11) melambangkan bahwa manusia di dalam Kristus dalam kebangkitan dibebaskan dari daging ciptaan lama.
1. Mempersembahkan Seekor Domba Jantan
untuk Kurban Penebus Salah, dengan Satu Log Minyak,
Keduanya Ditimang di Hadapan Allah
sebagai Kurban Timangan
“Dan ia harus mengambil domba jantan yang seekor dan mempersembahkannya sebagai tebusan salah bersama-sama dengan minyak yang satu log itu, dan ia harus mempersembahkannya sebagai kurban timangan di hadapan TUHAN” (ayat 12 Tl.). “Log” di sini, satu istilah Ibrani, menunjukkan takaran tertentu (0.568 liter) minyak, yang melambangkan Roh Kudus. “Timangan” di sini melambangkan kebangkitan. Kurban timangan adalah kurban kebangkitan dan dalam kebangkitan. Karena itu, mempersembahkan seekor domba jantan untuk kurban penebus salah, dengan satu log minyak, keduanya ditimang di hadapan TUHAN, melambangkan bahwa kematian Tuhan Yesus sebagai kurban penebus salah menanggulangi dosa kita, dan kebangkitan-Nya dalam Roh Kudus membebaskan kita dari kesalahan-kesalahan kita, supaya kita, yang telah mati terhadap dosa, dapat hidup terhadap kebenaran.
2. Domba Jantan sebagai Kurban Penebus Salah Disembelih di Tempat Kudus,
Tempat Kurban Penghapus Dosa dan Kurban Bakaran Disembelih
“Domba jantan itu harus disembelihnya di tempat orang menyembelih kurban penghapus dosa dan kurban bakaran, di tempat kudus” (ayat 13a). Tempat yang kudus di sini bukan tempat kudus dalam Kemah Suci, melainkan daerah pintu masuk Kemah Pertemuan di mana binatang-binatang disembelih, yang dianggap kudus. Kurban penebus salah disembelih di tempat ini melambangkan bahwa Tuhan Yesus dapat menanggulangi dosa kita berdasarkan Dia memikul dosa kita sebagai kurban penghapus dosa kita, dan berdasarkan kehidupan-Nya yang mutlak untuk Allah sebagai kurban bakaran kita. Kristus sebagai kurban penghapus dosa dan kurban bakaran adalah dasar Dia menjadi kurban penebus salah.
3. Kurban Penebus Salah Adalah Bagian Imam, Bagian Maha Kudus
“Karena kurban penebus salah, begitu juga kurban penghapus dosa, adalah bagian imam; itulah bagian maha kudus” (ayat 13b). Ini melambangkan bahwa orang yang melayani, yang memimpin orang lain menanggulangi dosa, juga menikmati Kristus sebagai bagian kudusnya. Sebagai contoh, ketika kita mengunjungi orang di rumah mereka dan melayankan Kristus kepada mereka, supaya mereka beroleh selamat, kita sendiri menikmati Kristus. Kristus yang menjadi Juruselamat mereka juga menjadi bagian kita untuk kenikmatan kita. Ini berarti ketika kita melayankan Kristus kepada orang lain, kita makan Dia, menikmati Dia sebagai bagian kita.
4. Darah Kurban Penebus Salah Dibubuhkan Imam pada Cuping Telinga Kanan,
pada Ibu Jari Tangan Kanan, dan Ibu Jari Kaki Kanan Orang yang Akan Ditahirkan
“Imam harus mengambil sedikit dari darah tebusan salah itu dan harus membubuhnya pada cuping telinga kanan dari orang yang akan ditahirkan dan pada ibu jari tangan kanan dan pada ibu jari kaki kanannya” (ayat 14). Ini melambangkan bahwa manusia memiliki pelanggaran karena, pertama, telinganya salah dalam hal tidak mendengarkan firman Allah; kedua, tangannya salah karena tidak melakukan hal-hal dari Allah; dan ketiga, kakinya salah karena tidak menempuh jalan Allah. Karena itu, dia perlu ditahirkan dengan darah Tuhan Yesus sebagai kurban penebus salahnya.
5. Sedikit Minyak Dituangkan ke Telapak Tangan Kiri
Imam dan Dipercikkan dengan Jari Kanannya Tujuh Kali di Hadapan TUHAN
“Imam harus mengambil sedikit dari minyak yang satu log itu dan menuangnya ke telapak tangan kiri imam sendiri; ia harus mencelupkan jari kanannya ke dalam minyak yang di telapak tangan kirinya itu dan sedikit dari minyak itu haruslah dipercikkannya dengan jarinya tujuh kali di hadapan TUHAN” (ayat 15-16). Ini melambangkan Roh dari kebangkitan Tuhan telah meletakkan dasar yang sempurna di hadapan Allah.
6. Sisa Minyak Dibubuhkan Imam pada Cuping Telinga Kanan,
pada Ibu Jari Tangan Kanan, dan pada Ibu Jari Kaki Kanan Orang yang Akan Ditahirkan,
ke Atas Darah Kurban Penebus Salah
“Dari minyak selebihnya imam harus membubuh sedikit pada cuping telinga kanan orang itu, pada ibu jari tangan kanannya dan pada ibu jari kaki kanannya, di tempat mana darah tebusan salah dibubuhkan” (ayat 17). Ini melambangkan bahwa manusia dapat membereskan masalah pelanggarannya hanya melalui mendengarkan firman Allah, melakukan perkara-perkara Allah, dan menempuh jalan Allah dalam Roh kebangkitan, berdasarkan penebusan darah Tuhan Yesus sebagai kurban penebus salah kita.
Di sini kita memiliki dua lapisan: lapisan darah dan lapisan minyak. Darah melambangkan darah penebusan Kristus, dan minyak melambangkan Roh kebangkitan. Mula-mula darah dibubuhkan pada cuping telinga kanan, pada ibu jari tangan kanan, dan pada ibu jari kaki kanan. Ini adalah untuk membasuh pelanggaran dan kesalahan kita. Setelah pembubuhan darah ada pembubuhan minyak ke tempat darah dibubuhkan. Ini menunjukkan bahwa berdasarkan penebusan Kristus, Roh datang membantu kita melakukan hal-hal benar, mendengar firman Allah, melakukan perkara-perkara Allah, dan menempuh jalan Allah. Ini akan menjaga kita dari segala jenis pelanggaran.
7. Yang Tinggal dari Minyak Dibubuhkan Imam
pada Kepala Orang yang Akan Ditahirkan
“Dan apa yang tinggal dari minyak itu haruslah dibubuhnya pada kepala orang yang akan ditahirkan. Dengan demikian imam mengadakan pendamaian bagi orang itu di hadapan TUHAN” (ayat 18). Membubuhkan minyak pada kepala melambangkan otoritas kekepalaan, buah pikiran, dan kendali seluruh orang dosa yang akan ditahirkan ditanggulangi dengan pentahiran Roh kebangkitan.
Hanya sejumlah kecil minyak yang dibubuhkan pada cuping telinga, ibu jari tangan, dan ibu jari kaki. Semua sisa minyak dibubuhkan pada kepala. Karena kepala adalah sumber banyak masalah, lebih banyak minyak, lebih banyak Roh itu, dibubuhkan padanya. Masalah-masalah yang berhubungan dengan kepala ada tiga kategori. Pertama, kepala tidak taat pada otoritas Allah. Kedua, kepala penuh dengan buah pikiran. Ketiga, kepala mengatur seluruh diri kita. Karena itu, kepala adalah bagian dari diri kita yang paling bermasalah. Untuk alasan ini, kepala memerlukan semua sisa minyak, Roh itu. Membiarkan kepala kita dituangi Roh akan membantu kita taat kepada otoritas Allah, menerima Dia sebagai kepala kita, juga akan membenahi pikiran kita dan membantu kita mengatur, mengendalikan seluruh diri kita dengan tepat.
8. Kurban Penghapus Dosa Dipersembahkan
untuk Mengadakan Pendamaian bagi Orang yang Akan Ditahirkan dari Kenajisannya
“Imam harus mempersembahkan kurban penghapus dosa dan dengan demikian mengadakan pendamaian bagi orang yang akan ditahirkan dari kenajisannya” (ayat 19a). Ini melambangkan bahwa Tuhan Yesus dipersembahkan sebagai kurban penghapus dosa kita untuk menanggulangi akar kenajisan kita (sifat dosa) dari dosa-dosa kita, yang ditanggulangi Tuhan Yesus sebagai kurban penebus salah.
9. Kurban Bakaran Dipersembahkan dengan Kurban Sajian
“Dan sesudah itu ia harus menyembelih kurban bakaran. Kemudian imam harus mempersembahkan kurban bakaran dan kurban sajian di atas mezbah. Dengan demikian imam mengadakan pendamaian bagi orang itu, maka ia menjadi tahir” (ayat 19b-20). Ini melambangkan bahwa orang dosa yang akan ditahirkan, setelah ditahirkan dari kenajisan dosa dan dosa-dosa melalui Kristus sebagai kurban penghapus dosa dan kurban penebus salahnya, mempersembahkan dirinya dalam Kristus sebagai kurban bakaran kepada Allah serta hidup dan berjalan mutlak untuk Allah oleh hayat Kristus sebagai kurban sajian. Jadi, orang dosa yang akan ditahirkan sepenuhnya tahir dari kenajisannya. Orang kusta itu sekarang telah disembuhkan, ditahirkan, dan didamaikan.
10. Orang Miskin yang Tidak Mampu Mempersembahkan Sebanyak Itu
Harus Mempersembahkan Seekor Domba
Jantan untuk Kurban Penebus Salah Ditimang-timang dan Sepersepuluh Efa Tepung Halus
Dibaurkan dengan Minyak untuk Kurban Sajian, dan Satu Log Minyak
Orang miskin yang tidak mampu memberikan sebanyak itu harus mempersembahkan seekor domba jantan untuk kurban penebus salah ditimang-timang dan sepersepuluh efa tepung halus dibaurkan dengan minyak untuk kurban sajian, dan satu log minyak (ayat 21-32). Ini melambangkan bahwa orang dosa yang akan ditahirkan harus mengambil bagian atas Kristus sedikitnya pada tingkat minimum, yaitu, semampu dia. Namun, pada prinsipnya dia harus mengambil Kristus sebagai kurban penghapus dosa, kurban penebus salah, kurban bakaran, dan kurban sajiannya, dan dia harus mengambil Roh-Nya yang membaurkan dan mentahirkan.
B. Kristus sebagai Makanan Kita dan sebagai Kurban Penghapus Dosa,
Kurban Penebus Salah, Kurban Bakaran, dan Kurban Sajian Kita
Saya ingin menutup berita ini dengan perkataan mengenai aspek tertentu Kristus yang disingkapkan dalam Imamat 11 sampai 14. Pasal 11 menyingkapkan bahwa Kristus adalah makanan hayat kita, menyuplai kita dalam bentuk makanan untuk menanggulangi kenajisan kontak luaran kita dengan orang lain. Pasal 12 menyingkapkan bahwa asal usul kita adalah najis. Maka, Kristus telah menjadi kurban penghapus dosa kita untuk menanggulangi sifat dosa kita. Pasal 13 dan 14 menyingkapkan bahwa apa yang keluar dari dalam kita adalah najis. Karena itu, Kristus telah menjadi kurban penebus salah kita untuk menanggulangi perbuatan dosa kita. Selain itu, Kristus adalah kurban bakaran kita dan kurban sajian kita, supaya kita dapat memiliki suplai hayat untuk menempuh hidup yang mutlak untuk Allah. Dengan Kristus sebagai kurbankurban persembahan, kita dibawa kembali kepada Allah untuk menempuh suatu kehidupan yang sepenuhnya diperkenan oleh Dia.
?