KENAJISAN YANG TIMBUL DARI DALAM MANUSIA (3)
Pembacaan Alkitab: Im. 13:47-49, 53-59
Dalam mempelajari Imamat 13, pasal yang penuh lambang dan gambar, kita perlu pengenalan dan pemahaman Alkitab yang tepat secara menyeluruh. Kalau tidak, kita tidak akan memahami pasal ini atau memahaminya dengan salah atau berat sebelah. Imamat 13, mula-mula menanggulangi kusta pada tubuh manusia, kemudian kusta pada pakaian. Selanjutnya, pasal 14 menanggulangi kusta di dalam rumah. Inilah tiga kategori dasar dari kusta.
VII. KUSTA PADA PAKAIAN
Dalam Alkitab pakaian melambangkan perilaku luaran kita, kehidupan kita setiap hari. Kusta pada pakaian (ayat 47-59) melambangkan kenajisan dalam kehidupan perilaku luaran, kontak seseorang dengan orang lain, dan lain-lain.
A. Tiga Jenis Pakaian
Dalam Imamat 13 disebutkan tiga jenis pakaian.
1. Pakaian Bulu Domba
Ayat 47 membicarakan penyakit kusta pada pakaian bulu domba. Pakaian bulu domba melambangkan perilaku, kontak seseorang dengan orang lain dalam kelembutan. Karena bulu domba adalah halus, ini melambangkan perilaku yang lembut.
2. Pakaian Lenan
Pakaian lenan (ayat 47c) melambangkan perilaku, kontak seseorang dengan orang lain dalam kepolosan. Lenan itu murni, polos, dan sederhana. Seperti dilambangkan oleh lenan, perilaku kita harus murni, polos, dan sederhana.
3. Pakaian Kulit
Pakaian yang dibuat dari kulit adalah hangat. Sebab itu, pakaian kulit (ayat 48b) melambangkan perilaku, kontak seseorang dengan orang lain dalam kehangatan. Seperti dilambangkan oleh tiga jenis pakaian ini, perilaku kita harus dalam kelembutan, dalam kepolosan, dan dalam kehangatan. Tidak boleh ada kusta, ekspresi dosa dan pemberontakan, dalam setiap jenis perilaku ini.
B. Benang Lungsin dan Pakan pada Pakaian
Memperhatikan benang lungsin dan pakan pada pakaian adalah memperhatikan bahan tekstil yang dipakai untuk membuat pakaian. Benang lungsin dari bawah sampai atas, dan benang pakan melanjutkan dari kiri ke kanan.
1. Benang Lungsin pada Pakaian Melambangkan Perilaku Luaran Orang terhadap Allah
Benang lungsin terbentang dari bawah sampai atas dan dari atas sampai bawah. Jadi benang lungsin pada pakaian melambangkan perilaku luaran kita terhadap Allah, hubungan kita dengan Allah. Dalam perilaku kita terhadap Allah seharusnya tidak ada kusta, tidak ada pemberontakan.
2. Benang Pakan pada Pakaian Melambangkan Perilaku Luaran Manusia terhadap Manusia
Dalam bahan tekstil benang pakan terbentang dari kiri ke kanan dan dari kanan ke kiri. Jadi benang pakan melambangkan perilaku kita terhadap orang lain. Aspek perilaku kita ini harus murni, bersih, dari segala kusta, dari segala pemberontakan.
Perilaku kita dalam hidup kita setiap hari sebenarnya adalah perkara menjalin, yaitu, keadaan yang melibatkan Allah dan manusia. Kita belum lengkap jika hanya benar terhadap Allah atau hanya benar terhadap manusia. Kita perlu tepat terhadap Allah dan manusia. Ini berarti pada pakaian kita, dalam perilaku kita, tidak boleh ada kusta pada benang lungsin dan pakan.
C. Kehijau-hijauan atau Kemerah-merahan Tampak pada Pakaian
Kehijau-hijauan atau kemerah-merahan tampak pada pakaian (ayat 49) melambangkan perubahan yang abnormal dan aneh pada kehidupan dan perilaku seseorang. Andaikata pakaian yang dipakai orang Israel tertentu tiba-tiba menjadi kehijau-hijauan atau kemerah-merahan, ini akan menjadi perubahan yang tidak normal dalam penampilan pakaian itu. Perubahan demikian melambangkan perubahan yang tidak normal dalam perilaku. Kehidupan dan perilaku sehari-hari kita harus normal. Namun, jika ada perubahan yang tidak normal dan ganjil, ini adalah gejala penyakit, tanda kusta.
D. Penyakit Kehijau-hijauan atau Kemerah-merahan Meluas pada Pakaian, Kusta yang Jahat (Menular)
Penyakit kehijau-hijauan atau kemerah-merahan meluas pada pakaian, menjadi kusta yang jahat (menular) (ayat 51), melambangkan meluasnya dosa yang menjadi lebih buruk saat menular. Kata “menular” menunjukkan penyakit yang meluas melalui memakan daging. Penularan kusta yang demikian melambangkan dosa yang meluas di dalam seseorang melalui memakan dirinya. Pada mulanya, dosa mungkin sangat kecil skalanya dan sangat rendah tingkatannya. Namun, sekarang dosa meluas melalui menggerogoti orang itu, menjadi semakin buruk dalam penularannya.
E. Membakar Pakaian dalam Api
“Ia harus membakar barang-barang yang mempunyai tanda itu, karena itu kusta yang jahat sekali; barang-barang itu harus dibakar habis” (ayat 52). Membakar pakaian dalam api melambangkan menyingkirkan kehidupan dan perilaku yang dosa dan najis. Ketika kita menemukan sesuatu yang berdosa dalam kita menjadi makin buruk, kita harus menyingkirkan hal itu melalui “membakar” nya, yaitu, melalui menanggulanginya dengan salib Kristus.
F. Mencuci Pakaian, Penyakit yang Tidak Meluas
Membakar pakaian melambangkan penanggulangan yang keras. Kadang-kadang kita tidak perlu penanggulangan keras yang demikian, melainkan penanggulangan jenis lain, penanggulangan yang ditunjukkan dengan mencuci pakaian. Mengenai ini, ayat 53 dan 54 mengatakan, “Tetapi jikalau menurut pemeriksaan imam tanda itu tidak meluas pada barang-barang itu, maka imam harus memerintahkan orang mencuci barang yang mempunyai tanda itu, lalu ia harus mengasingkannya tujuh hari lagi untuk kedua kalinya.” Mencuci pakaian, penyakit yang tidak meluas melambangkan menanggulangi apa yang diduga merupakan kelemahan dalam kehidupan dan perilaku seseorang. Boleh jadi kita tidak jelas apakah suatu hal itu dosa atau diduga adalah dosa. Dalam kasus demikian, sudahlah cukup mencuci pakaian. Ini adalah menanggulangi suatu perkara melalui pembasuhan Roh Allah; di sini Roh Allah diibaratkan dengan air yang mencuci.
G. Membusuk, Penularan Kusta yang Lebih Dalam
“Kemudian sesudah barang itu dicuci, imam harus memeriksa tanda itu lagi; bila ternyata rupa tanda itu tidak berubah, biarpun itu tidak meluas, maka barang itu najis, dan engkau harus membakarnya habis, karena tanda itu semakin mendalam (membusuk) pada sebelah belakang atau sebelah muka” (ayat 55). Kusta yang membusuk adalah hal yang sangat serius; melambangkan dosa yang merusak yang menjadi lebih buruk dan lebih dalam, tidak berubah dalam penampilan melalui bertobat dan mengaku dosa. Ini adalah jenis dosa yang menduduki seseorang, menggerogoti dia, dan menelan dia.
Dalam kehidupan kristiani, kita perlu dua hal, pertobatan dan pengakuan dosa. Hari yang tanpa pertobatan dan pengakuan dosa bukanlah hari yang baik. Sama seperti kita perlu mencuci tangan berulang-ulang, kita perlu bertobat dan mengaku dosa berulang-ulang. Setiap hari ada saja yang membuat kita perlu bertobat dan mengaku dosa. Jika kita mau menempuh hidup yang kudus, kita perlu pencucian setiap hari, dan pencucian ini datang melalui pertobatan dan pengakuan dosa kita.
Kita perlu bertobat dan mengaku dosa dalam kehidupan pernikahan kita dan kehidupan keluarga kita. Dalam kehidupan pernikahan kita, kita harus mau berkata kepada pasangan kita bahwa kita minta maaf. Jika tidak mau minta maaf, akan timbul masalah dengan suami atau istri. Dalam kehidupan keluarga, orang tua harus mau, ketika mereka menyalahi anak-anaknya, memberi tahu mereka bahwa mereka minta maaf. Frase “minta maaf” menyatakan pertobatan dan pengakuan dosa. Pengampunan Allah atas anak-anak-Nya memiliki beberapa syarat. Syarat yang utama adalah pengakuan dosa (1Yoh. 1:9), dan pengakuan dosa berasal dari pertobatan kita. Kita tidak dapat mengaku dosa tanpa bertobat.
Untuk menempuh hidup yang kudus, kita perlu tahu hal-hal mengenai membedakan makanan, kelahiran kita, dan keadaan kita. Setelah mengetahui hal-hal ini, kita harus menyadari keperluan kita untuk bertobat setiap hari. Kita perlu bertobat karena kita sangat mudah membuat kesalahan. Selain itu, kita perlu bertobat atas apa yang timbul dari dalam kita. Kita dapat memakai pembasuhan tubuh jasmani kita sebagai ilustrasi. Sepanjang hari tangan kita mungkin tidak menjamah sesuatu yang najis. Walaupun demikian, kita bisa najis melalui apa yang timbul dari dalam kita. Itulah sebabnya, kita perlu mandi setiap hari. Prinsipnya sama dalam kehidupan kristiani kita. Bahkan jika kita tidak mengontak sesuatu yang najis, kita masih perlu bertobat atas apa yang timbul dari dalam diri kita. Ini berarti kita perlu bertobat bukan saja atas apa yang kita lakukan, tetapi juga atas apa adanya kita. Ingatlah, kita adalah totalitas kenajisan. Karena itu, kita perlu bertobat dan mengaku dosa setiap hari.
H. Tanda Penyakit Itu Memudar Sesudah Pakaian Itu Dicuci, Pakaian Itu Harus Dikoyakkan
“Dan jikalau menurut pemeriksaan imam tanda itu menjadi pudar sesudah dicuci, maka ia harus mengoyakkannya dari barang-barang itu” (Im. 13:56). Ini melambangkan menyingkirkan apa yang diduga merupakan kelemahan dalam kehidupan dan perilaku seseorang. Tanda penyakit memudar dalam pakaian sesudah dicuci adalah tanda yang baik, tanda kesembuhan, pemulihan. Namun demikian, tanda memudar ini harus dikoyakkan dari pakaian itu. Ini berarti tanda memudar harus dibuang. Ini menunjukkan bahwa kita perlu membuang, menanggulangi seluruhnya, apa yang diduga merupakan kelemahan kita.
I. Sesudah Tanda Penyakit Pakaian Dikoyakkan,
Penyakit Timbul Lagi pada Pakaian
Ayat 57 membicarakan penyakit timbul lagi pada pakaian sesudah tanda penyakit dikoyakkan. “Tetapi jikalau tanda itu tampak pula pada barang-barang itu, maka itu kusta yang sedang timbul; barang yang mempunyai tanda itu, haruslah kaubakar habis.” Timbulnya penyakit itu adalah tanda buruk. Ini melambangkan bahwa kelemahan seseorang, sesudah ditanggulangi dan disingkirkan, muncul kembali.
J. Sesudah Penyakit Lenyap Melalui Dicuci,
Pakaian Itu Harus Dicuci untuk Kedua Kalinya
“Tetapi barang-barang yang telah kaucuci, sehingga tanda itu lenyap dari padanya, haruslah dicuci untuk kedua kalinya, barulah menjadi tahir” (ayat 58). Mencuci pakaian untuk kedua kalinya sesudah penyakit lenyap melalui dicuci melambangkan kelemahan sesorang, setelah ditanggulangi, harus ditanggulangi lebih lanjut, untuk kedua kalinya. Butir-butir yang telah kita bahas dalam berita ini memperlihatkan kepada kita bahwa kita perlu melakukan empat hal: bertobat, mengaku dosa, menanggulangi perkara tertentu, dan menyingkirkan perkara tertentu. Jika kita mau menempuh kehidupan orang Kristen yang normal, tepat, kudus, setiap hari kita perlu bertobat, mengaku dosa, menanggulangi kelemahan kita yang sebenarnya atau yang baru berupa dugaan, dan menyingkirkan kelemahan ini dari perilaku kita. Dari sini kita dapat melihat banyak rincian yang mencakup penanggulangan dosa, kusta, dan pemberontakan.
Imamat 13 dan 14 membahas perkara dosa lebih rinci dibandingkan pasal-pasal lain dalam Alkitab. Pasal-pasal ini menanggulangi dosa bukan hanya dalam diri kita dan perilaku kita, tetapi juga dalam rumah kita, tempat tinggal kita. Ada tiga ganda penanggulangan dosa, kusta pada tubuh seseorang, pada pakaian seseorang, dan pada rumah seseorang. Orang mungkin najis dalam tubuhnya, lalu dalam pakaiannya, dan dalam rumahnya. Kita perlu dibersihkan dari dosa, kusta, secara tiga ganda.
Jika kita ingin menanggulangi ketiga jenis kusta ini, kita perlu bertobat lagi dan lagi, bahkan setiap jam. Tidak peduli bagaimana hati-hatinya kita, dalam perilaku kita dan kontak kita dengan orang lain, kita tidak sempurna. Satu-satunya orang yang sempurna adalah Tuhan Yesus. Dalam setiap hal, perilaku-Nya adalah sempurna. Namun, kita benar-benar tidak sempurna. Kita dilahirkan najis, dan diri kita memang najis. Lalu, bagaimana kita dapat menjadi sempurna? Bagaimana kita dapat menjadi murni? Bagi kita, ini tidak mungkin. Karena itu, kita perlu bertobat atas kegagalan kita, mengakui kesalahan kita, dan menanggulangi kegagalan dan kesalahan kita, berusaha menyingkirkan kegagalan dan kesalahan kita.
Dalam Imamat 13, beberapa istilah dipakai untuk menggambarkan dan mendiagnosa kusta: bengkak, bintilbintil, panau, putih, daging timbul, kronis, panau kemerahmerahan, kudis, rambut kuning, kehijau-hijauan, menular. Jika dalam pengkajian kita atas pasal ini kita mencurahkan perhatian kepada semua ekspresi ini, kita akan diterangi mengenai keburukan kusta. Kita akan melihat betapa buruknya dan menularnya kusta. Khususnya, kita akan diterangi mengenai keadaan kusta diri kita sendiri, sebab dalam semua rincian ini, kita melihat gambaran diri kita sendiri.
Jika kita diterangi sehubungan diri kita sendiri, kita tidak akan lagi bergengsi. Bagaimana seorang kusta, orang yang najis bergengsi? Ini tidak mungkin. Tidak ada gengsi (martabat) atau kehormatan dalam kusta. Tidak seorang pun dari kita yang harus dihormati, disanjung, dan dimuliakan. Lalu, siapa yang harus dihormati? Hanya Tuhan Yesus yang patut menerima kemuliaan dan hormat. Hanya Dia sendiri yang harus dihormati dan dimuliakan.
Karena pasal ini memberi kita gambaran yang jelas tentang keadaan negatif kita, pasal ini benar-benar membantu kita mengenal diri kita sendiri. Saya dapat bersaksi bahwa bertahun-tahun saya sangat terbantu melalui mempelajari pasal ini. Saya tidak bisa begitu saja melupakan siapa diri saya, sebab saya telah diterangi dengan dalam dan terperinci melalui Imamat 13. Saya telah melihat siapakah saya di dalam diri saya sendiri. Sering pasal ini mengingatkan saya bahwa saya tidak memiliki apa-apa untuk dibanggakan. Terlepas dari belas kasihan Tuhan, kusta ini akan meluas dan menelan seluruh diri saya.
Imamat 13 membuat kita merendahkan diri. Pasal ini memperlihatkan kepada kita bahwa kita benar-benar kusta, kita adalah totalitas pemberontakan. Ada pemberontakan di setiap bagian diri kita. Pada diri kita tidak ada ketundukan, kepatuhan, ketaatan. Karena itu, kita perlu menempuh kehidupan yang bertobat dan mengaku dosa, kehidupan yang menanggulangi kekurangan kita dan menyingkirkan kekurangan itu dengan salib Kristus. Kemudian kita mungkin dapat menempuh hidup yang kudus.
Saya memakai kata “mungkin” karena dari pengalaman saya tahu bahwa kita tidak dapat menjadi sempurna bahkan untuk sepanjang hari saja. Kita mungkin memiliki permulaan yang baik di pagi hari, tetapi tidak akan bertahan untuk sehari itu. Pernahkah Anda dengan sempurna, menempuh hidup yang kudus sepanjang hari? Saya tidak ingat apakah saya pernah memiliki hari yang demikian. Bagaimana dengan Anda?
Imamat 13 mewahyukan bahwa kita adalah totalitas kusta. Setiap aspek kenajisan yang di dalamnya kita dilahirkan adalah perkara kusta, pemberontakan. Pemberontakan, kenajisan, kusta, dosa, ini adalah sama. Mengatakan bahwa kita terlahir najis berarti kita terlahir pemberontak. Kita adalah totalitas pemberontakan. Karena keadaan kita demikian, jika kita mau menempuh hidup yang kudus, kita perlu bertobat dan mengaku dosa sepanjang hari.
Perhatikan reaksi Yesaya ketika dia melihat kemuliaan Kristus (Yes. 6:1; Yoh. 12:41). Dia berkata, “Celakalah aku, aku binasa! Sebab aku ini seorang yang najis bibir, dan aku tinggal di tengah-tengah bangsa yang najis bibir” (Yes. 6:5). Mengenai lidah kita, Yakobus berkata, “tetapi tidak seorang pun yang berkuasa menjinakkan lidah” (Yak. 3:8a). Dia juga berkata, “Siapa tidak bersalah dalam perkataannya, ia orang yang sempurna” (ayat 2). Berapa banyak masalah yang disebabkan oleh mulut kita dan lidah kita! Ketika berbicara, sangat mudah kita mengucapkan sesuatu yang penuh dosa, sesuatu yang memerlukan pertobatan dan pengakuan dosa.
Dalam Imamat 12 kita melihat bahwa kita adalah totalitas kenajisan, dan dalam Imamat 13 kita adalah totalitas kusta. Kusta ini adalah dosa, dan dosa adalah pemberontakan. Karena itu, kita perlu senantiasa bertobat dan mengaku dosa.