← Daftar isi Imamat (2) · bab 18/23

KENAJISAN DALAM KELAHIRAN MANUSIA

Pembacaan Alkitab: Im. 12; Kol. 2:11-12; Ibr. 10:5-7

Dalam berita yang membahas Imamat 12 ini kita sampai pada perkara kenajisan dalam kelahiran manusia. Imamat 12 mewahyukan bahwa sumber diri kita adalah najis. Pasal 11 memberi tahu kita untuk berhati-hati dalam mengontak jenis orang tertentu agar kita tidak dicemari, tetapi pasal 12 menunjukkan bahwa kita benar-benar najis dari lahir. Kenajisan adalah sumber kita dilahirkan.

I. HUBUNGAN PEREMPUAN DENGAN KELAHIRAN MANUSIA

Hal pertama yang perlu kita perhatikan adalah hubungan perempuan dengan kelahiran manusia.

A. Dalam Lambang, Perempuan Mewakili

Seluruh Umat Manusia

1. Dalam Ekonomi Allah, Seluruh Umat Manusia Adalah Perempuan

Dalam lambang, perempuan mewakili seluruh umat manusia. Dalam ekonomi Allah, dalam penyaluran ilahi dan pengaturan ilahi-Nya, seluruh umat manusia adalah perempuan. Dalam Alkitab perempuan mewakili umat manusia, laki-laki mewakili Allah dan Kristus. Kristus adalah lakilaki yang unik, dan semua yang dinikahkan kepada Dia adalah perempuan.

2. Kenajisan di Dalam Perempuan Melambangkan Kenajisan

di Dalam Seluruh Umat Manusia

Kenajisan di dalam perempuan melambangkan kenajisan di dalam seluruh umat manusia. Kita semua, laki-laki dan perempuan, adalah najis.

B. Manusia yang Dilahirkan Perempuan Adalah Najis,

Melambangkan bahwa:

1. Sumber Semua Manusia Adalah Najis

Fakta bahwa manusia yang dilahirkan perempuan adalah najis melambangkan bahwa sumber manusia adalah najis. Karena sumbernya najis, apa pun yang lahir dari sumber ini tentu juga najis. Kita najis melalui kelahiran, dan sekarang kita masih najis dalam kehidupan kita. Kita menjadi najis tidak hanya karena mengontak sesuatu yang najis; kita sudah najis sejak lahir. Kita najis bahkan ketika kita ada di dalam rahim ibu kita. Jadi, kita dilahirkan dalam kenajisan dan hidup dalam kenajisan. Tidak peduli bagaimana hatihatinya kita, hanya karena kita adalah bagian dari umat manusia, kita najis. Kita bukan hanya najis, bahkan adalah kenajisan itu sendiri. Manusia sepenuhnya najis. Jika kita di bawah sorotan terang Tuhan, di bawah terang ilahi, kita akan melihat bahwa dari kepala sampai jari kaki, kita adalah kenajisan semata.

Bagian kedua Kitab Imamat memperlihatkan kepada kita bukan hanya siapa kita, tetapi juga apakah kita. Kita adalah kenajisan. Walaupun demikian, Kitab Imamat menuntut kita untuk menempuh kehidupan yang kudus. Dapatkah orang yang najis menempuh kehidupan yang kudus? Secara logika, ini tidak mungkin. Orang yang najis sama sekali tidak mungkin menempuh kehidupan yang kudus. Namun, seperti yang akan kita lihat, dalam keselamatan Allah ada penyuplaian yang memampukan kita menempuh kehidupan yang kudus.

2. Kenajisan Umat Manusia Adalah dari Dalam

Kebalikan dengan kenajisan dalam makanan yang dibahas dalam pasal 11, yang adalah dari luar, kenajisan manusia ini adalah dari dalam. Pasal 11 membahas kenajisan lahiriah, tetapi pasal 12 membahas kenajisan batiniah, yaitu kenajisan diri kita dari kelahiran. Karena itu, Imamat 12 melanjutkan dengan sumber kenajisan dan menjamah akar kenajisan. Pasal 11 hanya menyuruh kita menempuh kehidupan yang kudus dengan mengontak apa yang tahir dan melalui menghindari apa yang najis. Ketahiran semacam ini adalah yang luaran, adalah perkara sikap luaran. Namun, pasal 12 menjamah kelahiran kita, bukan hanya sikap luaran kita setelah kelahiran kita. Imamat 12 menanggulangi sumber kita berasal.

II. KENAJISAN MELAHIRKAN

ANAK LAKI-LAKI SELAMA TUJUH HARI,

MELAHIRKAN ANAK PEREMPUAN SELAMA EMPAT BELAS HARI

Kenajisan melahirkan anak laki-laki selama tujuh hari, melahirkan anak perempuan selama empat belas hari (ayat 2, 5a). Ini melambangkan bahwa laki-laki (mewakili orang-orang yang kuat) sepenuhnya (dilambangkan oleh tujuh hari) najis di luar kekuatannya; dan yang perempuan (mewakili orang-orang lemah) dua kali lipat (dilambangkan oleh empat belas hari) najis dalam kelemahannya. Ini memperlihatkan kepada kita bahwa perempuan dua kali lebih najis dibandingkan laki-laki. Angka tujuh dan empat belas menunjukkan hal ini. Tujuh adalah angka kepenuhan, dan empat belas adalah dua dikali tujuh. “Tujuh hari” dalam ayat 2 melambangkan sepenuhnya najis, kenajisan yang penuh, dan “dua minggu” (empat belas hari) dalam ayat 5a melambangkan dua kali kenajisan ini.

III. SETELAH MELAHIRKAN ANAK LAKI-LAKI,

PEREMPUAN TETAP NAJIS KARENA DARAH NIFAS SELAMA TIGA PULUH TIGA HARI,

DAN SETELAH MELAHIRKAN ANAK PEREMPUAN,

SELAMA ENAM PULUH ENAM HARI

Setelah melahirkan anak laki-laki, perempuan tetap najis karena darah nifas selama tiga puluh tiga hari, dan setelah melahirkan anak perempuan, najis selama enam puluh enam hari (ayat 4a, 5b). Ini melambangkan kenajisan melahirkan anak laki-laki harus diuji (dilambangkan oleh empat puluh hari, tujuh hari ditambah tiga puluh tiga hari) untuk pentahiran, dan kenajisan melahirkan anak perempuan harus diuji dua kali lipat (dilambangkan oleh delapan puluh hari, empat belas hari ditambah enam puluh enam hari) untuk pentahiran. Dalam Alkitab angka empat puluh menunjukkan masa pengujian. Bani Israel mengembara di padang gurun selama empat puluh tahun, dan Tuhan Yesus dicobai, yaitu diuji selama empat puluh hari. Karena melahirkan manusia najis sama sekali, maka diperlukan ujian untuk pentahiran. Kelahiran anak laki-laki diuji selama empat puluh hari, dan kelahiran anak perempuan diuji dua kali lipat, selama delapan puluh hari.

IV. SELAMA UJIAN KENAJISAN,

PEREMPUAN TIDAK BOLEH MENJAMAH

APA PUN YANG KUDUS ATAU MASUK KE TEMPAT KUDUS

Selama ujian kenajisan, perempuan tidak boleh menjamah sesuatu apa pun yang kudus atau masuk ke tempat kudus (ayat 4). Ini melambangkan bahwa manusia tidak diizinkan menjamah hal-hal kudus mengenai Allah atau masuk ke hadirat Allah sampai kenajisan ditanggulangi. Bagaimana kenajisan kita ditanggulangi? Dua butir berikut ini sangat penting dalam menjawab pertanyaan ini.

V. PADA HARI KEDELAPAN SETELAH DILAHIRKAN,

ANAK LAKI-LAKI DISUNAT

Pada hari kedelapan setelah dilahirkan, anak laki-laki disunat (ayat 3). Ini melambangkan bahwa daging orang yang najis harus dikesampingkan melalui kematian Kristus agar dia dapat dibawa ke dalam kebangkitan Kristus, bukan hanya untuk dibasuh, tetapi juga memiliki permulaan hayat baru (Kol. 2:11-12). Setelah satu minggu atau tujuh hari, ada hari kedelapan. Hari kedelapan adalah permulaan baru, permulaan minggu yang baru. Dalam Alkitab, hari kedelapan mengacu kepada kebangkitan Kristus. Tentu saja, kebangkitan adalah permulaan yang baru. Kematian mengakhiri lembaran yang lama, dan kebangkitan memulai lembaran yang baru dan karena itu adalah permulaan baru. Sebagai orang Kristen, kita memiliki dua permulaan. Kita memiliki permulaan pertama ketika kita dilahirkan dalam kenajisan dan ke dalam kenajisan. Kita terlahir najis. Secara kebangsaan kita mungkin berbeda-beda, tetapi apa adanya diri kita semua sama. Setiap orang, tanpa memandang rasnya, terlahir najis. Ini adalah pemulaan pertama kita.

Berdasarkan rencana-Nya, ekonomi-Nya, Allah membuka satu jalan agar kita bisa memiliki permulaan kedua, permulaan baru. Allah menghitung secara mingguan. Akhir minggu adalah akhir lembaran, yang diikuti oleh lembaran baru. Lembaran baru kita bukan dalam ciptaan semula, tetapi dalam kebangkitan. Kita dilahirkan dalam ciptaan lama, tetapi kita dilahirkan kembali menjadi ciptaan baru. Dalam permulaan pertama, kita berada dalam kategori ciptaan lama, yang dilambangkan oleh tujuh hari. Dalam ekonomi Allah, masa seumur hidup manusia adalah tujuh hari. Setelah dilahirkan ke dalam ciptaan lama, kita tinggal di sana selama tujuh hari. Kemudian pada hari kedelapan, hari kebangkitan Kristus, kita memiliki permulaan baru.

Kita harus penuh sukacita setiap kali kita membaca frase “hari kedelapan” atau “hari pertama minggu itu” (Yoh. 20:1, 19, 26) dalam pembacaan Alkitab kita. Hari ini, sebagai kaum beriman dalam Kristus, kita bukan dalam tujuh hari pertama, kita berada dalam hari kedelapan. Kita berada dalam masa kedua. Masa ini kekal, sebab dalam Kristus, kita akan hidup selamanya. Tuhan Yesus berkata, “Dan setiap orang yang hidup dan yang percaya kepada-Ku, tidak akan mati selama-lamanya” (Yoh. 11:26). Masa baru kita adalah kekal, tetapi masa pertama kita sangat pendek, hanya tujuh hari. Entah kita beroleh selamat di awal kehidupan atau pada usia lanjut, di mata Allah, masa kita yang pertama hanya seminggu panjangnya. Allah dalam ekonomi-Nya memperpendek masa kita yang pertama, tetapi Dia memperpanjang masa kita yang kedua, bahkan membuatnya kekal seperti Dia sendiri adalah kekal.

Imamat 12:3 mengatakan, “Dan pada hari yang kedelapan haruslah dikerat daging kulit khatan anak itu.” Disunat adalah dipotong; bagian dari diri kita yang dihukum di mata Allah dipotong. Sebenarnya, seluruh diri kita harus disunat, dipotong. Seluruh diri kita disunat berarti diletakkan pada kematian.

Kita terlahir najis, yang hanya layak untuk mati. Dalam masa kita yang pertama, kita tidak layak untuk apa pun selain mati. Inilah alasan Yohanes Pembaptis menyuruh orang bertobat (Mat. 3:1-2). Yohanes kemudian membaptis, meletakkan ke dalam kematian, orang-orang yang bertobat (ayat 5-6). Dibaptis adalah dikuburkan. Ketika kita bertobat, seluruh diri kita dipotong, diletakkan kepada kematian, dan kemudian dikuburkan. Menurut Kolose 2:11-12, baptisan kita adalah penyunatan. Karena itu, disunat berarti diletakkan kepada kematian dan dikubur.

Diri kita dalam masa pertama telah diakhiri melalui dipotong dan dikubur. Ini terjadi pada hari kedelapan, hari kebangkitan. Manusia lama, manusia dalam masa pertama diakhiri melalui kematian. Dalam perlambangan, dalam gambaran, kematian ini dilambangkan oleh sunat. Inilah sebabnya, dalam Perjanjian Lama, menurut ekonomi Allah, setiap laki-laki harus disunat pada hari kedelapan. Ini adalah lambang yang menandakan bahwa setiap orang harus diakhiri, dipotong, dan pengakhiran ini harus terjadi dalam kebangkitan Kristus. Ini menurut ekonomi Allah.

Dalam Adam kita dilahirkan ke dalam masa pertama, tetapi dalam Kristus kita dilahirkan kembali ke dalam masa kedua. Masa kita yang pertama dimulai ketika kita dilahirkan, dan masa kita yang kedua dimulai ketika Kristus dibangkitkan. Ketika Kristus dibangkitkan, kita dibangkitkan bersama Kristus dan di dalam Kristus (Ef. 2:5; 1Ptr. 1:3). Ini berarti pada pihak kita masa kedua dimulai sebelum masa yang pertama. Kita dibangkitkan di dalam Kristus sebelum kita dilahirkan dalam Adam. Ini adalah fakta ajaib bahwa sebelum kita dilahirkan kita telah dibangkitkan.

Keselamatan kita adalah mukjizat terbesar di alam semesta. Sebelum dunia dijadikan, kita dipilih dan ditentukan di dalam Kristus (Ef. 1:4-5). Dalam kekekalan kita ditentukan berada di dalam Kristus. Kemudian, dalam waktu, kita dilahirkan, dan akhirnya kita menjadi kaum beriman. Sekarang kita ada di dalam Kristus.

Dalam ekonomi-Nya, Allah menentukan kita memiliki permulaan yang baru melalui kematian Kristus dan karena kebangkitan-Nya. Kematian Kristus adalah pisau yang memotong seluruh diri kita. Setelah diletakkan ke dalam kematian melalui kematian Kristus, kita dilahirkan kembali dalam kebangkitan-Nya. Jadi, kita memiliki hari kedelapan sebagai permulaan yang baru, dan kita sekarang dalam minggu kedua.

Kita telah menunjukkan bahwa sunat melambangkan daging dari seorang yang najis disingkirkan melalui kematian Kristus supaya dia dibawa ke dalam kebangkitan Kristus, bukan hanya ditahirkan, tetapi juga memiliki permulaan kehidupan yang baru. Daging adalah seluruh diri kita. Alkitab menganggap manusia yang jatuh sebagai daging (Rm. 3:20 Tl.). Daging kita telah disingkirkan melalui kematian Kristus, yaitu, melalui salib. Sebagai akibatnya, kita telah dibawa ke dalam kebangkitan Kristus, bukan hanya untuk dibasuh, tetapi juga memiliki permulaan kehidupan yang baru.

Dalam pembacaan Anda atas Imamat 12, pernahkah Anda melihat bahwa pasal ini menunjukkan kita telah diletakkan pada kematian dan kemudian diletakkan di dalam kebangkitan Kristus? Diri kita diletakkan pada kematian ditunjukkan oleh kata “sunat”, dan diri kita diletakkan di dalam kebangkitan Kristus ditunjukkan oleh frase “hari kedelapan”. Sunat melambangkan salib Kristus, dan hari kedelapan melambangkan kebangkitan Kristus. Dalam masa kita yang pertama, kita dilahirkan dalam kenajisan dan hidup ke dalam kenajisan; kita bahkan terlahir najis.

Namun, dalam keselamatan Allah, kita mengalami hari kedelapan, yang membawa kita ke dalam masa yang baru. Ini adalah permulaan baru yang kita miliki dalam Kristus.

Kita perlu diterangi, juga perlu daya lihat rohani untuk melihat Kristus dalam Imamat 12. Dengan terang dan daya lihat, kita akan memiliki pandangan yang jelas atas Kristus dalam pasal ini. Kata “Kristus” tidak terdapat dalam Imamat 12, tetapi ada petunjuk bahwa Kristus ada di sana. Kristus mati bagi kita untuk mengakhiri masa pertama kita dan, pada hari kedelapan, untuk memulai lembaran baru kita dalam kebangkitan-Nya.

VI. SETELAH SELESAI UJIAN KENAJISAN,

PERLU MEMPERSEMBAHKAN KURBAN BAKARAN

DAN KURBAN PENGHAPUS DOSA

Setelah selesai ujian kenajisan, kurban bakaran dan kurban penghapus dosa perlu dipersembahkan (ayat 6-8). Ini melambangkan bahwa setelah kenajisan kita karena kelahiran sepenuhnya ditanggulangi, kita perlu Kristus menjadi kurban bakaran kita, karena kita tidak untuk Allah; juga perlu Kristus menjadi kurban penghapus dosa kita, karena kita berdosa (Ibr. 10:5-7).

Kristus diwahyukan dalam pasal ini bukan hanya oleh hari kedelapan dan oleh sunat, tetapi juga oleh dua jenis kurban persembahan, kurban bakaran dan kurban penghapus dosa. Kurban bakaran dan kurban penghapus dosa adalah Kristus. Kristus memenuhi semua keperluan kita. Kematian-Nya adalah sunat kita, dan kebangkitan-Nya adalah hari kedelapan kita. Setelah kita ditanggulangi melalui kematian dan kebangkitan-Nya, kita masih perlu Dia menjadi kurban bakaran kita dan kurban penghapus dosa kita.

Kita perlu Kristus sebagai kurban bakaran, karena kita tidak mutlak untuk Allah. Namun, Kristus adalah mutlak untuk Allah. Karena itu, sebagai kurban bakaran, Dia mengambil tempat kita; Dia menggantikan kita. Sekarang kita mengambil Dia sebagai kurban bakaran kita. Di dalam Dia kita bersatu dengan-Nya sebagai kurban bakaran yang dipersembahkan kepada Allah. Karena itu, Dia adalah kurban bakaran kita, dan kita adalah kurban bakaran Allah di dalam Dia.

Bukan saja kita tidak mutlak untuk Allah, kita pun berdosa di mata Allah. Maka, kita perlu Kristus bukan saja sebagai kurban bakaran kita, tetapi juga sebagai kurban penghapus dosa kita. Dalam Imamat 12, Kristus ditunjukkan oleh empat hal: hari kedelapan, sunat, kurban bakaran, dan kurban penghapus dosa. Semua hal ini menunjukkan bahwa Kristus memenuhi keperluan kita. Kematian-Nya mengakhiri masa lama kita, dan kebangkitan-Nya memulai masa baru kita. Sekarang kita perlu Kristus supaya kita bisa menempuh kehidupan yang mutlak untuk Allah dan tanpa dosa. Untuk memenuhi keperluan ini, Dia adalah kurban bakaran kita dan kurban penghapus dosa kita.

Pasal 12 mewahyukan bahwa kita terlahir najis dan keseluruhan diri kita perlu ditanggulangi dengan dipotong melalui kematian Kristus. Ketika Kristus disalibkan, kita juga disalibkan. Kita ditanggulangi, dipotong, disunat. Kemudian dalam Dia kita masuk ke dalam kebangkitan-Nya, yang adalah permulaan baru kita, permulaan masa baru. Sekarang dalam masa baru ini Dia adalah hayat kita dan kehidupan kita, sebab Dia adalah kurban bakaran kita, adalah hayat yang mutlak untuk Allah. Dia juga adalah kurban penghapus dosa kita, memperhatikan hal-hal dosa yang masih ada di dalam daging kita ketika kita hidup di bumi. Dia sungguh-sungguh memenuhi keperluan kita!

Melalui sedemikian mengkaji Imamat 12, kita sekali lagi melihat betapa ajaibnya Alkitab. Dalam delapan ayat dari pasal ini, kita melihat sangat banyak mengenai diri kita dan sumber kita, juga mengenai Kristus sendiri, kematian-Nya dan kebangkitan-Nya untuk kita.