← Daftar isi Imamat (2) · bab 19/23

KENAJISAN YANG TIMBUL DARI DALAM MANUSIA (1)

Pembacaan Alkitab: Im. 13:2-28

Dalam Imamat 11, kita melihat bahwa kita perlu membedakan makanan, membedakan perihal makan; yaitu, kita harus berhati-hati terhadap apa yang kita kontak dan terima. Dalam pasal 12, kita melihat bahwa kelahiran manusia melibatkan kenajisan, sebab kita dilahirkan najis. Sekarang dalam pasal 13, kita sampai pada perkara kusta.

Membedakan makanan terkait dengan apa yang harus kita kontak secara luaran dan apa yang harus kita terima dari luar. Namun, kita lahir dalam kenajisan, tidak berhubungan dengan apa yang kita kontaki secara luaran, tetapi berhubungan dengan apa adanya kita di dalam. Kita adalah najis sejak lahir. Kenajisan ini adalah sesuatu yang di dalam kita. Kita terlahir sebagai orang dosa. Kita menjadi orang dosa bukan karena telah melakukan sesuatu yang dosa atau melalui menerima sesuatu dari luar kita yang menyebabkan kita berubah dalam watak kita atau susunan kita. Bukan. Kita adalah orang dosa sejak lahir. Entah kita mengontak sesuatu yang tahir atau yang najis, kita tetap orang dosa. Orang dosa tidak ada hubungannya dengan apa yang kita kontaki secara luaran; sebaliknya, menjadi orang dosa adalah masalah kelahiran kita.

Menganalisis kusta itu tidak mudah. Kita mungkin berkata bahwa kusta berasal dari luaran seseorang, yaitu dikarenakan masuknya kuman kusta ke dalam seseorang. Kita juga dapat mengatakan bahwa kusta datang dari dalam, karena seseorang tidak dapat terkena kusta tanpa unsur kusta yang masuk ke dalam dirinya untuk menimbulkan penyakit ini. Karena itu, kusta tersusun dari faktor luaran dan pengaruh di dalam. Penyebabnya dari luar, tetapi pengaruhnya di dalam.

Kita perlu memperhatikan tiga hal: membedakan makanan, kelahiran manusia dengan kenajisannya, dan kusta. Tiga hal ini mencakup semua masalah kita, dan penempuhan kehidupan kudus kita sangat erat kaitannya dengan ketiga hal ini. Kita perlu memperingatkan diri kita tentang apa yang kita kontaki, tentang kelahiran kita, dan kusta dengan faktor luaran dan pengaruh di dalamnya. Jika kita tidak dapat membereskan masalah kita yang terkait dengan hal-hal ini, tidak mungkin kita menempuh kehidupan yang kudus. Bagaimana kita dapat menempuh kehidupan yang kudus jika kita mengontak hal-hal yang salah, jika kita adalah orang-orang yang dilahirkan najis, dan jika kita memiliki faktor luaran dan pengaruh di dalam yang membuat kita menjadi kusta? Ini tidak mungkin. Dapatkah seorang kusta menempuh kehidupan yang kudus? Tentu saja tidak! Agar menempuh kehidupan yang kudus, kita harus menanggulangi kontak kita dengan perkara, menanggulangi kelahiran kita, dan menanggulangi keadaan kusta kita.

I. KUSTA MENANDAKAN DOSA SERIUS YANG TIMBUL DARI DALAM MANUSIA

Kusta (ayat 2b) menandakan dosa serius yang timbul dari dalam manusia, seperti dosa yang disengaja, dosa kesombongan, dan dosa menentang Allah dengan sengaja (lihat Miryam—Bil. 12:1-10; Gehazi—2Raj. 5:20-27; dan Uzia—2Taw. 26:16-21). Kusta sebenarnya bukan dimulai dari dalam seseorang; kusta dimulai dari luar, dengan beberapa jenis kuman atau bakteri yang masuk ke dalam diri seseorang. Kemudian kusta muncul dari dalam diri orang, seperti diilustrasikan oleh tiga kasus dalam Perjanjian Lama, kasus Miryam, Gehazi, dan Uzia. Kusta selalu datang dari pemberontakan. Miryam memberontak melawan Musa, yang adalah wakil otoritas Allah. Ia memberontak karena satu alasan, dan alasannya adalah pernikahan Musa dengan perempuan Kush (Bil. 12:1). Sebagai akibat pemberontakannya, Miryam terkena kusta (ayat 10). Kustanya berasal dari pemberontakannya.

Dalam 2Raja-raja 5:20-27, Gehazi, hamba Elisa, memberontak melawan perintah Elisa. Elisa tidak mau menerima segala sesuatu sebagai upah dari Naaman, orang kafir yang disembuhkan dari kusta. Setelah Gehazi menerima pemberian dari orang yang kustanya ditahirkan, kusta Naaman pindah kepada dia. Gehazi juga terkena kusta karena pemberontakan. Dalam 2Tawarikh 26:16-21, Raja Uzia memberontak melawan pengaturan Allah mengenai jabatan imam. Menurut pengaturan ini, raja tidak dapat berbagian dalam jabatan imam. Namun, Uzia memberontak melawan pengaturan ini, dan akibat pemberontakannya dia terkena kusta. Dari ketiga kasus ini, kusta mula-mula masuk ke dalam orang yang memberontak dan kemudian timbul dari dalam orang itu. Menurut Perjanjian Lama, kusta merupakan akibat dari penyebab tertentu, dan penyebab ini ialah memberontak melawan otoritas Allah, melawan wakil otoritas Allah, melawan pengaturan Allah, dan melawan ekonomi Allah. Kita semua harus mengakui bahwa kita telah memberontak melawan otoritas Allah dan melawan wakil otoritas-Nya. Selain itu, kita sering memberontak melawan pengaturan Allah. Akhirnya, kita juga memberontak melawan seluruh ekonomi Allah. Karena itu, di mata Allah kita semua telah menjadi kusta. Kusta masuk ke dalam dan kemudian timbul dari dalam kita. Kusta adalah dosa. Dalam Alkitab kasus pertama dosa adalah pemberontakan Iblis (Satan). Iblis memberontak melawan Allah, dan pemberontakan itu menjadi dosa yang sekarang ada di alam semesta. Sebelum pemberontakan Iblis, tidak ada hal demikian sebagai dosa. Dosa timbul, bukan diciptakan, melalui pemberontakan penghulu malaikat, Lucifer.

Dosa sebenarnya adalah kusta. Makna dosa dalam pengertian alkitabiah adalah pemberontakan. Karena itu, dosa adalah pemberontakan melawan Allah, melawan wakil otoritas Allah, melawan rencana, pengaturan, pemerintahan, dan administrasi Allah. Secara keseluruhan, dosa adalah pemberontakan melawan ekonomi Allah. Pemberontakan ini dihasilkan, ditimbulkan oleh Iblis sendiri. Akhirnya, dosa masuk ke dalam umat manusia. “Sebab itu, sama seperti dosa telah masuk ke dalam dunia melalui satu orang” (Rm. 5:12a). Setelah masuk ke dalam manusia, dosa ini, kusta ini, sekarang timbul dari dalam manusia. Akibatnya, kita adalah kusta. Setiap kali kita melakukan sesuatu menentang Allah, hal itu adalah kusta. Dari sini kita dapat melihat bahwa dosa adalah perkara kusta. Kusta menandakan dosa. Ketika Tuhan Yesus turun dari gunung di mana Dia memproklamirkan undang-undang Kerajaan Surga, hal pertama yang Dia lakukan adalah mentahirkan orang kusta (Mat. 8:1-4). Kusta ini mewakili keturunan Adam yang jatuh, semuanya adalah kusta. Dosa yang ditimbulkan oleh Iblis masuk ke dalam umat manusia melalui Adam dan membuat kita semua menjadi orang kusta. Pada hari ini, kusta menghasilkan berbagai jenis perbuatan dosa, yaitu, dalam banyak ekspresi, manifetasi pemberontakan.

II. BENGKAK (MUNCUL), BINTIL-BINTIL, ATAU PANAU PADA KULIT DAGING ORANG

Bengkak (muncul), bintil-bintil, atau panau pada kulit daging orang (Im. 13:2a) melambangkan ekspresi-ekspresi luaran manusia dalam kekacauan, percekcokan dengan orang lain, sombong, dan peninggian diri. Bengkak, bintil-bintil, dan panau pada kulit daging seseorang adalah tanda kusta. Secara rohani, ini menunjukkan kekacauan, tanpa hukum. Kekacauan adalah jenis percekcokan. Orang yang kacau adalah orang yang tidak berada di bawah perintah apa pun.

Cekcok dengan orang lain juga menunjukkan kusta. Kita tidak seharusnya berpikir bahwa cekcok di antara saudara-saudara adalah masalah kecil. Cekcok adalah bintil-bintil yang menunjukkan bahwa kusta timbul dari dalam orang. Sama halnya dengan sombong dan peninggian diri. Semua itu adalah gejala, tanda bahwa seseorang telah terkena kusta.

III. DIBAWA KEPADA IMAM, DIPERIKSA,

DAN DIKURUNG (DIISOLASI) SELAMA TUJUH HARI

Dibawa kepada imam, diperiksa, dan dikurung (diisolasi) selama tujuh hari (ayat 2c-28) di satu pihak, melambangkan dibawa kepada Tuhan, dan di pihak lain, dibawa kepada orang yang melayani Allah, diperiksa oleh mereka, dan tidak boleh mengontak orang lain sampai genap waktunya. Tuhan Yesus dan orang-orang yang melayani Allah, imam-imam yang melayani, bersyarat memeriksa apakah terkena kusta atau tidak.

IV. PENAMPILAN KUSTA

Sekarang mari kita melihat penampilan kusta. Penampilan kusta adalah hakiki kusta. Apa yang kita miliki dalam pasal ini mengenai penampilan kusta adalah diagnosis ilahi, pengobatan ilahi.

A. Bulu Berubah Menjadi Putih

Bulu berubah menjadi putih (ayat 3a) melambangkan bahwa kekuatan untuk bertindak, kekuatan untuk menempuh kehidupan yang normal, telah memburuk. Orang Israel memiliki bulu hitam. Bulu hitam orang Israel berubah menjadi putih adalah tanda bahwa orang ini lemah, menunjukkan adanya penyakit.

B. Penyakit yang Lebih Dalam dari Kulit Daging

Ayat 3b membicarakan penyakit yang lebih dalam dari kulit. Pertama, ada bintil-bintil, kemudian penyakit ini kelihatan lebih dalam dari kulit daging. Ini melambangkan bahwa perilaku yang salah dari seseorang ditutupi dan tidak diakui.

C. Panau di Kulit Daging Menjadi Putih,

Tidak Kelihatan Lebih Dalam dari Kulit, dan Bulu Tidak Berubah Jadi Putih

Ayat 4a membicarakan panau di kulit daging seseorang adalah putih dan tidak kelihatan lebih dalam dari kulit, dan bulunya tidak berubah menjadi putih. Ini adalah tanda yang baik, gejala yang baik, bukan tanda kusta, sebab ini melambangkan bahwa seseorang mengakui perilakunya yang salah, tidak menutupi, dan kekuatannya untuk bertindak tidak memburuk.

D. Penyakit Panau Pudar dan Penyakit Itu Tidak Meluas pada Kulit

Imamat 13:6 mengatakan, “Kemudian pada hari yang ketujuh haruslah imam memeriksa dia untuk kedua kalinya; bila penyakit itu menjadi pudar dan tidak meluas pada kulit, imam harus menyatakan dia tahir; itu hanya bintil-bintil.” Penyakit panau pudar dan penyakit itu tidak meluas pada kulit melambangkan bahwa kelemahan seseorang telah ditelan oleh hayat melalui pekerjaan pemulihan Kristus di dalam dia dengan anugerah. Orang itu telah sembuh, dipulihkan.

E. Jika Kulit Itu Bengkak Putih (Muncul)

dan Mengubah Bulunya Menjadi Putih,

dan Ada Daging Liar Timbul pada Bengkak Itu,

Ini Adalah Kusta Idapan yang Ada pada Kulit Daging

“Kalau menurut pemeriksaan imam pada kulitnya ada bengkak yang putih, yang mengubah bulunya menjadi putih, dan ada daging liar timbul pada bengkak itu, maka kusta idapanlah yang ada pada kulitnya. Imam harus menyatakan dia najis dengan tidak usah mengurung dia, karena orang itu memang sudah najis” (ayat 10-11). Ini melambangkan bahwa dosa lama telah kembali lagi melalui kelemahan kekuatan untuk berperilaku.

F. Jika Kusta Itu Timbul di Mana-mana pada Kulit

dan Menutupi Seluruh Kulit Orang Itu

dari Kepala Sampai Kakinya, dan Seluruh Kulitnya

Berubah Menjadi Putih, Orang dengan Kusta Ini Dinyatakan Tahir

“Jikalau kusta itu timbul di mana-mana pada kulit, sehingga menutupi seluruh kulit orang itu, dari kepala sampai kakinya, seberapa dapat dilihat oleh imam, dan kalau menurut pemeriksaannya kusta itu menutupi seluruh tubuh orang itu, maka ia harus dinyatakan tahir oleh imam; ia seluruhnya telah berubah menjadi putih, jadi ia

tahir” (ayat 12-13). Ini melambangkan bahwa orang yang penuh dosa dan yang mau mengakui semua dosanya di hadapan Allah adalah tahir. Ini berlawanan dengan opini kita. Menurut lambang di sini, jika seseorang penuh dosa, mutlak berdosa, namun tidak menutupi dosanya, sebaliknya mengakui seluruh dosanya di hadapan Allah, dia akan diampuni dan ditahirkan. Namun, orang yang tidak mau disingkapkan, orang yang menyembunyikan dirinya sendiri, akan tetap menjadi kusta. Menyembunyikan diri sendiri dan menutupi dosa adalah tanda kusta.

G. Pada Waktu Ada Tampak Daging Liar pada Kulit, Itu Adalah Kusta

“Tetapi pada waktu ada tampak daging liar padanya, najislah ia. Kalau daging liar itu dilihat oleh imam, ia harus menyatakan orang itu najis, karena daging liar itu najis, dan itu penyakit kusta” (ayat 14-15). Di sini kita melihat bahwa pada waktu ada tampak daging liar, itu adalah kusta. Ini melambangkan bahwa dosa lama telah kembali lagi.

H. Jika Daging Liar Berubah Menjadi Putih, Kusta Itu Tahir

“Atau apabila daging liar itu susut dan berubah menjadi putih, haruslah orang itu datang kepada imam. Kalau menurut pemeriksaannya penyakit itu telah berubah menjadi putih, haruslah imam menyatakan orang itu tahir; memang ia tahir” (ayat 16-17). Ini melambangkan bahwa jika dosa yang berulang diakui, dosa itu akan ditahirkan.

I. Pada Barah Muncul Bengkak yang Putih

atau Panau yang Putih Kemerah-merahan dalam Kulit Daging Adalah Kusta

“Apabila pada kulit seseorang ada barah yang telah sembuh, tetapi di tempat barah itu timbul bengkak yang putih atau panau yang putih kemerah-merahan, haruslah orang itu minta diperiksa oleh imam. Kalau menurut pemeriksaannya panau itu kelihatan lebih dalam dari pada kulit dan bulunya telah berubah menjadi putih, maka imam harus menyatakan orang itu najis, karena penyakit kustalah yang timbul di dalam barah itu” (ayat 18-20). Ini melambangkan bahwa orang menjadi lemah dalam kehidupan luarnya setelah beroleh selamat dan ada kelemahan baru yang dinyatakan dalam tindak tanduknya.

J. Ketika Kulit Dagingnya Lecur karena Api,

dan Daging Liar Timbul pada Lecur Itu Menjadi Panau yang Putih,

Kemerah-merahan atau Putih, Ini Adalah Kusta

“Atau apabila pada kulit seseorang ada lecur karena api dan daging liar yang timbul pada lecur itu menjadi panau yang putih kemerah-merahan atau putih, maka imam harus memeriksa panau itu; bila ternyata bulu pada panau itu berubah menjadi putih dan panau itu kelihatan lebih dalam dari kulit, maka yang timbul di dalam lecur itu adalah penyakit kusta, dan imam harus menyatakan orang itu najis; itu penyakit kusta” (ayat 24-25). Ini melambangkan bahwa orang yang beroleh selamat bertindak oleh daging, misalnya amarahnya, membenarkan diri sendiri, tidak mau mengampuni orang lain, adalah tanda sakit. Marah adalah dosa; adalah tanda kusta rohani. Sama halnya dengan pembenaran diri. Pembenaran diri sendiri, yaitu, memaafkan diri sendiri dan tidak mengakui kegagalan, kesalahan, dan kekeliruan kita, adalah gejala kusta rohani. Demikian juga, tidak mau mengampuni orang lain juga adalah gejala kusta rohani. Sebagai manusia yang jatuh kita sulit mengampuni orang lain, tetapi kita mudah mengingat mereka yang bersalah kepada kita. Kadangkadang kita kelihatannya mengampuni saudara dan saudari kita dalam Tuhan, tetapi kita mengampuni tanpa melupakan kesalahan mereka. Kita mengingat kesalahan itu dan bahkan membicarakannya kepada orang lain, namun kita mengaku bahwa kita mengampuni pihak yang bersalah. Ini adalah mengampuni tanpa melupakan, dan ini adalah tanda sakit rohani.

Dalam hidup gereja kita semua diuji mengenai bagaimana kemurnian kita dalam motivasi, tujuan, dan aktivitas kita. Hidup gereja akan membuktikan di mana kita berada, apakah kita, dan siapakah kita. Pribadi kita, hati kita, pikiran kita, emosi kita, maksud kita, motivasi kita, tujuan kita, semua ini akan diuji oleh hidup gereja. Mungkin motivasi kita murni pada satu tahap, tetapi mungkin tidak mutlak murni. Siapa di antara kita yang dapat berkata bahwa dirinya mutlak murni dalam motivasi, maksud, kehendak, dan tujuan? Tidak seorang pun dari kita dapat berkata demikian. Ingatlah, kita terlahir najis, dan kita adalah totalitas kenajisan. Tidak mungkin orang yang adalah totalitas kenajisan menjadi mutlak murni dalam motivasi.

Jika kita melihat bahwa kita adalah totalitas kenajisan dan tidak mungkin bagi kita mutlak murni dalam motivasi, maksud, dan tujuan kita, kita akan menyadari betapa besarnya keperluan kita akan keselamatan sempurna Allah. Kita perlu Kristus dengan kematian dan kebangkitan-Nya. Kita perlu Kristus menjadi kurban bakaran kita dan kurban penghapus dosa kita. Sebagai kurban bakaran kita, Kristus adalah kehidupan kita. Sebagai kurban penghapus dosa kita, Kristus menangani dosa kita, bukan dosa sebelum kita beroleh selamat, tetapi dosa setelah keselamatan kita. Kita memiliki Kristus dengan kematian dan kebangkitan-Nya, dan kita memiliki Kristus sebagai kurban bakaran dan kurban penghapus dosa. Ini adalah keselamatan sempurna Allah.

Sebelum kita tidur pada malam hari, kita harus memiliki satu waktu mengaku dosa di hadapan Tuhan, memohon Dia mengampuni dosa-dosa dan ketidakmurnian kita. Khususnya, kita perlu memohon Tuhan mengampuni setiap ketidakmurnian dalam motivasi kita. Kita harus menerima Dia sekali lagi sebagai kurban penghapus dosa dan kurban penebus salah kita dan menerapkan darah-Nya yang mustika, membersihkan keadaan kita. Kemudian dengan hati nurani yang dibersihkan oleh darah dan oleh Roh itu, kita akan dapat tidur dengan damai sejahtera.

Bagian kedua dari Kitab Imamat, yang menanggulangi kehidupan kudus kita, dimulai dengan tiga perkara membedakan makanan, kenajisan kelahiran kita, dan keadaan kusta kita. Kusta adalah dosa yang ditimbulkan oleh Iblis. Dosa masuk ke dalam kita melalui kejatuhan nenek moyang kita Adam. Ketika Adam jatuh, kusta yang ditimbulkan oleh Iblis masuk ke dalam kita. Kusta ini masih tinggal di dalam kita, Inilah alasan Paulus berkata, “jadi, jika aku melakukan apa yang tidak aku kehendaki, maka bukan lagi aku yang melakukannya, tetapi dosa yang tinggal di dalam aku” (Rm. 7:20). Paulus menyadari bahwa kuman kusta ada di dalam kita. Setelah masuk ke dalam kita, kusta sekarang ditampilkan dari dalam kita sebagai dosa-dosa, kesalahan-kesalahan, dan pelanggaran-pelanggaran. Untuk ini kita perlu Kristus menjadi kurban penghapus dosa dan kurban penebus salah kita.