← Daftar isi Imamat (2) · bab 17/23

MENJAUHKAN DIRI DARI KEMATIAN

Pembacaan Alkitab:

Im. 11:24-25, 27b-28a, 31-35, 39-40, 36a, 37, 3, 9, 21, 44-45

Kita telah melihat bahwa Imamat 11 membicarakan hal makanan, yaitu hal yang berhubungan dengan makan. Sekarang kita perlu melihat bahwa pasal ini juga sangat berhubungan dengan kematian. Dalam Imamat 11 kata “bangkai” dipakai sedikitnya tiga belas kali, dan kata “mati” dipakai dua kali. Tanpa kematian, tidak akan ada bangkai. Bangkai sebenarnya menyatakan kematian. Selama ada bangkai, tentu ada kematian.

Fakta bahwa pasal ini membicarakan kematian dalam hubungannya dengan makanan menunjukkan bahwa makanan kita, aktivitas makan kita, adalah perkara hidup atau mati. Jika kita mengontak hal-hal yang tahir, kita mendapatkan hayat. Namun, jika kita mengontak hal-hal yang najis, kita mendapatkan kematian.

Dalam pasal ini kata “kekejian” dan “menjijikkan” juga mengacu kepada kenajisan. Kita harus membenci kenajisan, membencinya sama sekali, karena kenajisan mendatangkan kematian. Kapan kala kita menjamah sesuatu yang najis, kita menjamah kematian. Dalam Imamat 11, kenajisan sama dengan kematian. Di mana ada kenajisan, di sana ada kematian. Terlebih lagi, kematian tampil dalam rupa bangkai. Bahkan bangkai makhluk hidup yang tahir pun adalah najis (ayat 39-40).

Kematian adalah hal yang buruk dan keji. Karena itu, kita perlu menjauhkan diri dari kematian. Kelihatannya Imamat 11 membicarakan menjauhkan diri dari kenajisan; sebenarnya pasal ini menyuruh kita menjauhkan diri dari kematian. Kematian yang harus kita jauhi terutama bukan kematian jasmani, tetapi kematian rohani. Kematian rohani lebih hebat daripada kematian jasmani di bumi. Kematian rohani ada di segala tempat. Bukan saja di tempat yang penuh dosa dan duniawi, bahkan tempat yang sangat bermoral, beretika, penuh dengan kematian rohani. Imamat 11 memperingatkan kita untuk menjauhkan diri dari kematian rohani. Sebagai penolong untuk memahami apa itu kematian rohani, mari kita perhatikan makna dua pohon di Taman Eden, pohon hayat dan pohon pengetahuan yang baik dan yang jahat. Setelah Allah menciptakan manusia, Dia menempatkannya di hadapan dua pohon ini (Kej. 2:8-9). Pohon hayat melulu, murni dan mutlak adalah hayat. Pada pohon ini tidak ada keruwetan. Sebaliknya, hanya ada satu hal, hayat. Manusia yang diciptakan Allah berada dalam situasi di mana dia berhadapan dengan pohon hayat.

Dalam Alkitab, Allah dilambangkan atau diilustrasikan dengan pohon (lihat Hosea 14:9). Ketika Allah berinkarnasi dan hidup di bumi, Dia berkata, “Akulah pokok (pohon) anggur” (Yoh. 15:5a). Pohon anggur bertumbuh dengan menjalar dan ini menyebabkan pohon ini terjangkau oleh kita. Sebaliknya, pohon cemara bertumbuh ke atas. Kita sangat sulit mencapai puncak atau ujung pohon cemara, tetapi kita mudah mendatangi pohon anggur. Saya senang karena Tuhan tidak berkata bahwa Dia adalah pohon cemara, tetapi Dia adalah pohon anggur. Allah kita tinggi, namun Dia merendahkan diri-Nya sendiri menjadi pohon anggur, menyebarkan diri-Nya untuk mencapai empat penjuru bumi.

Pohon anggur ini adalah pohon hayat. Kita dapat membuktikan hal ini melalui menjajarkan Yohanes 15:5a bersama Yohanes 14:6a, di mana Tuhan berkata, “Akulah hayat.” Di satu pihak, Dia adalah pohon anggur, sebatang pohon; di pihak lain, Dia adalah hayat. Karena itu, Dia adalah pohon hayat. Kristus, perwujudan Allah Tritunggal, adalah pohon hayat.

Alkitab tidak hanya dimulai dengan pohon hayat dalam Kitab Kejadian, tetapi juga rampung dengan pohon hayat dalam Kitab Wahyu. Wahyu 22:2a mengatakan, “Di seberang menyeberang sungai, ada pohon hayat” (Tl.). Ayat 14 dari pasal ini selanjutnya mengatakan, “Berbahagialah mereka yang membasuh jubahnya. Mereka akan memperoleh hak atas pohon hayat dan masuk melalui pintu-pintu gerbang ke dalam kota itu” (Tl.). Ayat-ayat ini membicarakan pohon hayat dalam Yerusalem Baru. Bagaimana dengan hari ini? Dalam hidup gereja hari ini kita dapat menikmati Kristus sebagai pohon hayat. Menurut Wahyu 2:7, Tuhan berjanji memberikan diri-Nya sendiri kepada kita sebagai pohon hayat untuk kenikmatan kita. “Siapa yang menang, dia akan Kuberi makan dari pohon kehidupan (hayat) yang ada di Taman Firdaus Allah.” Hidup gereja hari ini adalah gambaran, miniatur Yerusalem Baru, yang adalah Taman Firdaus Allah. Karena itu, dalam pengertian yang sesungguhnya, dalam hidup gereja kita ada di dalam Taman Firdaus Allah menikmati Kristus sebagai pohon hayat kita.

Dalam Hosea 14:9 Tuhan mengumpamakan diri-Nya dengan pohon sanobar yang selalu hijau. Dia bukan saja pohon hayat, Dia juga pohon sanobar yang selalu hijau. Sebagai pohon hayat, Dia selalu hijau. Di Taman Eden bukan hanya ada pohon hayat, tetapi juga ada pohon pengetahuan yang baik dan yang jahat. Pohon hayat melambangkan diri Allah sendiri sebagai totalitas dan sumber hayat. Ketika Allah menempatkan Adam di Taman Eden, Dia tahu bahwa di alam semesta ini juga ada sumber yang lain, musuh Allah, Satan (Iblis). Bukan saja ada satu sumber, Allah sebagai sumber hayat, juga ada sumber kedua, Satan (Iblis) sebagai sumber kematian. Sebagaimana Allah adalah totalitas dan sumber hayat, Iblis adalah totalitas dan sumber kematian. Karena itu, pohon pengetahuan yang baik dan yang jahat menandakan kematian.

Hayat itu murni, tulus; sedangkan kematian itu rumit. Pohon yang melambangkan kematian adalah pohon pengetahuan yang baik dan yang jahat. Pada pohon ini terdapat tiga hal yang membuat kematian menjadi rumit: pengetahuan, baik, dan jahat. Karena pengetahuan berhubungan dengan kematian, semakin banyak pengetahuan kita, semakin matilah kita. Demikian juga, yang baik tidak terlibat dengan hayat, tetapi terlibat dengan kematian. Tentu saja, yang jahat adalah satu unsur kematian. Menurut konsepsi alamiah, kita semua menganggap yang jahat itu kematian, menganggap pengetahuan dan yang baik itu hayat. Namun, dalam Alkitab, hayat berdiri sendiri; pengetahuan dan yang baik beriringan dengan kematian. Akhirnya, pengetahuan, yang baik, dan yang jahat, semua berkesimpulan pada kematian.

Untuk menempuh kehidupan yang kudus, kita perlu menjauh dari segala sesuatu milik kematian. Khususnya, kita perlu menjauh dari praktek umum seperti bergosip. Mereka yang memiliki kebiasaan bergosip mungkin terlihat seperti memperhatikan orang lain dan keadaan mereka. Sebenarnya, karena kebiasan mereka bergosip, maka mereka hanya mencari pengetahuan yang lebih banyak untuk tujuan bergosip. Sumber kebiasaan bergosip adalah pohon pengetahuan yang baik dan yang jahat.

Karena kejatuhan Adam, pohon ini telah ditanamkan ke dalam kita. Walaupun kita sudah beroleh selamat dan memperoleh Allah sebagai pohon hayat yang ditanamkan ke dalam kita, kita masih memiliki pohon pengetahuan yang baik dan yang jahat di dalam kita. Ini berarti setiap kita adalah miniatur Taman Eden. Kita memiliki Allah di dalam kita sebagai pohon hayat dan juga Iblis sebagai pohon pengetahuan yang baik dan yang jahat.

Bergosip tidak ada hubungannya dengan pohon hayat, sebab bergosip tidak pernah menyalurkan hayat kepada pendengarnya. Bergosip berarti melibatkan diri dengan kematian; menyebarkan kematian, yang berasal dari musuh Allah, kepada orang lain. Menjauhkan diri dari gosip berarti menjauhkan diri dari kematian. Jika kita mau menempuh kehidupan yang kudus, kehidupan yang menjauhkan diri dari segala sesuatu yang berhubungan dengan kematian, kita harus meninggalkan sumber kematian, yaitu pohon pengetahuan yang baik dan yang jahat.

I. SEMUA HAL YANG MATI ADALAH NAJIS,

DAN KEMATIAN LEBIH MENCEMARI DAN MENJIJIKKAN DIBANDINGKAN DOSA

Semua hal yang mati adalah najis. Karena itu, kenajisan sama dengan kematian. Kematian lebih mencemari dan menjijikkan dibandingkan dosa. Namun, menurut konsepsi kita, dosa lebih serius dibandingkan kematian. Jika kita tidak memiliki konsepsi yang benar mengenai kematian, kita akan sulit menyadari bahwa kematian lebih mencemari dan menjijikkan dibandingkan dosa. Karena konsepsi etika dan moral kita, kita tahu bahwa berdusta adalah dosa. Jika seseorang mendustai kita, kita akan menghakimi dusta itu sebagai dosa. Namun, mungkin kita tidak menyadari bahwa pembicaraan yang etis bisa penuh dengan kematian. Sebagai contoh, kita mungkin tidak menyadari bahwa berbicara dengan seorang saudara tentang benar atau salah dalam keluarganya bisa mengandung kematian. Pembicaraan itu mungkin etis, tetapi penuh dengan kematian.

Memakai ilustrasi lain, saya mau menekankan bahwa bahkan memberikan buku kepada seorang saudara bisa mengandung kematian. Andaikata seorang saudara memberikan buku kepada saudara lain dengan maksud menyenangkan dia. Bahkan hal yang baik semacam itu pun mungkin penuh dengan kematian. Kita harus memberi sesuatu kepada seorang saudara tidak dengan tujuan menyenangkan dia, tetapi hanya karena kita mengikuti pimpinan Tuhan. Memiliki tujuan tertentu ketika kita memberikan sesuatu kepada seorang saudara adalah berpolitik.

Andaikata maksud seseorang dalam memberikan buku kepada seorang saudara adalah untuk menyenangkan saudara itu, supaya kemudian dia mau memihak orang yang memberinya buku. Maksud seperti ini penuh dengan kematian, dan mereka yang memiliki pemahaman rohani, daya pembeda rohani, akan mengakuinya. Hasil memberi buku dengan maksud ini adalah membentuk golongan, dan bergolong-golongan demikian akan menyebarkan kematian. Mula-mula, orang yang menerima buku itu akan dicemari oleh kematian. Kemudian di antara kedua saudara ini, yang membentuk satu golongan, tidak akan ada apa-apa kecuali kematian. Memberi buku kelihatannya baik, tetapi mungkin berisi kematian.

Dari ilustrasi ini kita dapat melihat bahwa kematian lebih tersembunyi dibandingkan dosa. Kita tidak mudah melihat apa yang terdapat di balik suatu hal dan mengenali bahwa hal itu penuh dengan kematian. Perbuatan seperti memberi buku kelihatannya mungkin sangat baik, tetapi sebenarnya mungkin penuh dengan kenajisan kematian. Kematian benar-benar lebih mencemari dan menjijikan dibandingkan dosa.

A. Melalui Kurban Penebus Salah, Setiap Dosa Akan Diampuni dengan Segera

Imamat 5 mewahyukan bahwa melalui kurban penebus salah setiap dosa akan diampuni dengan segera (ayat 2, 17-18). Dari sini kita melihat bahwa menanggulangi dosa, dosa diampuni, adalah mudah. Kita hanya mempersembahkan kurban penebus salah, segera kita diampuni.

B. Orang yang Menjamah Bangkai Binatang Apa pun

Akan Najis Sampai Petang; Orang yang Menjamah

Mayat Manusia Akan Najis Tujuh Hari

Menurut Imamat 11, orang yang menjamah bangkai binatang apa pun akan najis sampai petang (ayat 24-25, 27b-28a, 31b, 39-40). “Sampai petang” berarti sampai akhir kehidupan dalam sehari. Ini menunjukkan bahwa ditahirkan dari pencemaran kematian membutuhkan waktu. Pengalaman kita membuktikan hal ini. Jika kita melakukan kesalahan dan mengakuinya kepada Tuhan, kita akan diampuni dengan segera, dan perkara itu beres. Namun, jika kita dicemari oleh kematian, kita baru dapat ditahirkan “sampai petang”. Ini berarti sejangka waktu tertentu harus dilewati sebelum kita dapat ditahirkan dari pencemaran kematian.

Waktu bukan faktor dalam pengampunan dosa kita, tetapi waktu adalah faktor dalam ditahirkan dari pencemaran kematian. Kita orang Kristen menanggulangi dosa hanya dengan mengakuinya dan menerapkan darah adi Tuhan kepada kasus kita. Segera setelah kita melakukan hal ini, kita diampuni dan dibasuh bersih. Namun, jika kita menjamah “bangkai” dan karenanya dicemari oleh kematian, pencemaran ini akan tetap tinggal pada kita untuk sejangka waktu. Walaupun untuk dibasuh dari dosa tidak diperlukan waktu, tetapi untuk dibasuh dari pencemaran kematian perlu waktu. Ini membuktikan bahwa kematian mencemarkan kita lebih banyak, lebih lama daripada dosa.

Kalau seseorang menjamah bangkai binatang, ia akan najis sampai petang, sedangkan orang yang menjamah mayat manusia akan najis selama tujuh hari (Bil. 19:11, 13). Ini tidak hanya menunjukkan bahwa kematian lebih serius daripada dosa, juga menunjukkan bahwa mayat manusia lebih mencemarkan daripada bangkai binatang. Di mata Allah, manusia adalah unsur yang paling mencemarkan.

II. ORANG YANG DICEMARI

OLEH BANGKAI BINATANG HARUS MENCUCI PAKAIANNYA

Orang yang dicemari oleh bangkai binatang harus mencuci pakaiannya (Im. 11:25, 28a,40). Ini melambangkan bahwa pencemaran kematian harus dibersihkan dari perilaku kita dalam kehidupan setiap hari. Pakaian melambangkan perilaku kita setiap hari, kehidupan kita setiap hari. Kehidupan kita setiap hari harus dicuci dari pencemaran kematian.

III. SEGALA SESUATU YANG KEJATUHAN

BANGKAI BINATANG APA PUN MENJADI NAJIS,

DAN SEGALA SESUATU YANG NAJIS HARUS DIBASUH DALAM AIR

Segala sesuatu yang kejatuhan bangkai binatang apa pun menjadi najis, dan segala sesuatu yang najis harus dibasuh dalam air (ayat 32). Ini melambangkan bahwa kenajisan kematian harus ditahirkan melalui pembasuhan Roh hayat. Air dalam 11:32 melambangkan Roh hayat. Ketika kita dicemari karena menjamah kematian, kita perlu mengaku dosa-dosa kita dan kemudian berdoa sampai masuk ke dalam Roh itu. Di dalam Roh itu, kehidupan kita setiap hari, tindakan kita setiap hari, yang telah dicemarkan oleh kematian, akan ditahirkan.

IV. BANGKAI SEGALA BINATANG YANG JATUH KE DALAM BELANGA TANAH

ATAU KE ATAS PEMBAKARAN ROTI

ATAU ANGLO MENJADIKAN PERABOTAN ITU NAJIS,

DAN PERABOTAN ITU HARUS DIREMUKKAN

Bangkai segala binatang yang jatuh ke dalam belanga tanah atau ke atas pembakaran roti atau anglo menjadikan perabotan itu najis, dan perabotan itu harus diremukkan (ayat 33, 35). Ini melambangkan bahwa seperti bejana, manusia alamiah kita, karena dicemari oleh kematian dalam kehidupan kita setiap hari, harus diremukkan. Belanga dalam ayat 33 melambangkan manusia alamiah kita, apa adanya kita, diri (ego) kita. Manusia alamiah kita adalah bejana. Begitu manusia alamiah kita dicemari oleh kematian dalam kehidupan kita setiap hari, bejana ini harus dipecahkan. Manusia alamiah kita, apa adanya kita, ego kita, yang telah dicemarkan oleh kematian, perlu diremukkan oleh salib Kristus.

V. SEGALA MAKANAN YANG KENA AIR

DARI BELANGA DAN AIR YANG DIMINUM

DARI DALAM BELANGA ITU MENJADI NAJIS KARENA KEJATUHAN BANGKAI

Segala makanan yang kena air dari belanga dan air yang diminum dari dalam belanga itu menjadi najis karena kejatuhan bangkai (ayat 34). Ini melambangkan bahwa orang yang dijamah oleh arus bumiah, yang bercampur dengannya dalam kehidupan setiap hari mudah terpengaruh oleh pencemaran kematian. Jika kita duniawi, kita mudah dicemari oleh segala sesuatu yang mati.

VI. MATA AIR ATAU SUMUR YANG MEMUAT AIR TETAP TAHIR

Mata air atau sumur tetap tahir (ayat 36a). Ini melambangkan bahwa segala sesuatu yang memiliki aliran air hidup, yang membasuh pencemaran kematian setiap waktu, tetap tahir. Mata air hidup melambangkan Roh itu, dan sumur air hidup menandakan Kristus, yang memuat air hidup. Selama mata air dan sumur, Roh itu dan Kristus, ada dalam kehidupan kita setiap hari, kita akan tetap tahir.

VII. JIKA ADA BAGIAN BANGKAI BINATANG JATUH KE ATAS BENIH

YANG AKAN DITABUR, BENIH ITU TETAP TAHIR

Jika ada bagian bangkai binatang jatuh ke atas benih yang akan ditabur, benih itu tetap tahir (ayat 37). Ini melambangkan bahwa segala yang hidup, yang memiliki hayat dan bisa melawan pencemaran, akan tetap tahir. Benih yang memiliki hayat dan bisa melawan pencemaran adalah lambang Kristus.

VIII. KATA PENUTUP

Sekarang saya mau menambahkan kata penutup untuk apa yang telah kita bahas dalam dua berita mengenai Imamat 11.

A. Kristus Adalah Realitas Ketahiran

Perkara makan mencakup ketahiran. Ketahiran ini melambangkan Kristus yang adalah isi kita, suplai hayat, dan makanan rohani. Kristus adalah ketahiran sejati. Dia adalah realitas ketahiran.

B. Hanya Kristus dan Segala yang Berasal dari

Kristus yang Tahir, untuk Suplai Makanan Kita

Hanya Kristus dan apa yang berasal dari Kristus yang tahir untuk suplai makanan kita. Hanya ini yang harus kita kontak, makan, dan terima.

C. Dalam Istilah Perlambangan:

1. Kristus Berkuku Belah dan Memamah Biak

Kristus berkuku belah dan memamah biak (ayat 3). Ketika Kristus berjalan di bumi, kuku-Nya sepenuhnya terbelah, dan Dia memamah biak. Dia penuh daya pembeda, dan Dia menerima firman Allah dengan banyak merenungkannya.

2. Kristus Memiliki Sirip dan Sisik

Kristus memiliki sirip (ayat 9). Ketika Dia di bumi, Dia bergerak dengan bebas tanpa terkait hal-hal dunia. Kristus juga memiliki sisik (ayat 9). Karena sisik ini, Dia dapat menahan pengaruh dunia yang rusak.

3. Kristus Memiliki Paha dan Melompat di Atas Tanah

Kristus memiliki paha dan melompat di atas tanah (ayat 21). Karena itu, ketika Dia ada di bumi, Dia dapat hidup dan bergerak dalam hayat yang melampaui dunia, dan Dia dapat menjaga diri-Nya dari dunia.

4. Kristus Adalah Mata Air atau Sumur yang Memuat Air Hidup

Kristus adalah mata air dan sumur yang memuat air hidup (ayat 36). Dia adalah mata air hidup Roh Allah, dan Dia juga memuat Roh hayat ini.

5. Kristus Adalah Benih untuk Ditabur

Kristus adalah benih untuk ditabur (ayat 37). Ini dengan jelas diwahyukan dalam Perjanjian Baru.

D. Kristus Adalah Suplai atas Segala Aspek dalam Kehidupan Sehari-hari Kita

Bahkan pasal seperti Imamat 11 demikian penuh dengan Kristus. Dia adalah suplai atas segala aspek dalam kehidupan sehari-hari kita. Sebagai realitas dari semua hal positif di alam semesta (Kol. 2:17), Dia adalah semua makhluk hidup yang tahir. Makhluk hidup yang berjalan di tanah, hidup di air, dan terbang di udara, semua melambangkan Kristus. Kristus adalah Dia yang dapat membubung di udara dan hidup dalam air asin. Selain itu, semua kurban persembahan dalam Imamat 1—7 juga melambangkan Kristus. Di mata Allah, Dia adalah semua kurban persembahan. Selama kita memiliki Kristus, kita memiliki hal yang tepat untuk dikontak, dimakan, dan dicerna. Dalam segala hal, Dia adalah suplai hayat kita. Bahkan Dia adalah ketahiran kita.

E. Hanya Kristus yang Dapat Menjaga Kita

Kudus, seperti Allah yang Adalah Kudus

“Sebab Akulah TUHAN, Allahmu, maka haruslah kamu menguduskan dirimu dan haruslah kamu kudus, sebab Aku ini kudus . . . Sebab Akulah TUHAN yang telah menuntun kamu keluar dari tanah Mesir, supaya menjadi Allahmu; jadilah kudus, sebab Aku ini kudus” (ayat 44-45). Hanya Kristus yang dapat menjaga kita kudus, seperti Allah yang adalah kudus.