MEMBEDAKAN MAKANAN
Pembacaan Alkitab:
Im. 11:1-24a, 26-27a, 29-31a, 41-44; Kis. 10:9b-14, 27-29
Kitab Imamat dapat dibagi menjadi dua bagian utama. Bagian pertama, dari pasal 1 sampai 10, membahas kurban-kurban persembahan dan jabatan imam. Bagian kedua, dari pasal 11 sampai 27, membahas kehidupan kudus umat kudus Allah. Setelah Allah berbicara di bagian pertama mengenai kurban-kurban persembahan dan jabatan imam, Dia berbicara di bagian kedua mengenai umat-Nya secara keseluruhan. Bukan hanya imam-imam yang harus memiliki kehidupan kudus. Umat Allah, yang di antaranya imam-imam melayani, juga harus kudus.
Kitab Imamat adalah kitab lambang, kitab perlambangan. Dalam tujuh pasal pertama kita memiliki berbagai jenis kurban persembahan, semuanya adalah lambang. Jabatan imam dalam pasal 8 sampai 10 juga harus dianggap lambang. Selain itu, semua perkara dalam pasal 11 sampai 27 mengenai kehidupan kudus umat kudus Allah juga harus dianggap lambang. Pasal-pasal ini membahas kehidupan orang Israel, umat Allah dalam Perjanjian Lama. Namun, jika kita memiliki pemahaman yang tepat atas lambang ini, kita akan melihat bahwa lambanglambang dalam pasal-pasal ini adalah lambang-lambang kehidupan kaum beriman Perjanjian Baru.
Karena Kitab Imamat adalah kitab lambang, perlu ada penjelasannya. Tanpa penjelasan yang tepat, orang akan sulit mengenal kitab ini. Akan tetapi, ada orang menyatakan bahwa tidak perlu menjelaskan Alkitab. Menurut konsepsi mereka, jika kita tidak mengerti bagian firman tertentu ketika membacanya, kita harus membacanya lagi dan lagi sampai memahaminya. Namun, ini tidak berlaku bagi kitab seperti Kitab Imamat. Saya jamin, bahkan jika Anda membaca Kitab Imamat ratusan kali, Anda masih tidak dapat memahaminya. Jika kita mau mengenal kitab ini, kitab ini harus terbuka kepada kita melalui penjelasan yang tepat.
Kitab Imamat telah dibukakan oleh umat Allah secara kolektif. Kitab ini telah dibukakan oleh umat Allah untuk umat Allah. Pembukaan ini diawali oleh Rasul Paulus, yang menjelaskan Kitab Imamat dalam Surat Kiriman kepada orang Ibrani. Petrus juga menerima beberapa pemahaman tentang Kitab Imamat melalui penglihatan yang diberikan kepada dia dalam Kisah Para Rasul 10. Visi “sesuatu seperti kain lebar” (ayat 11) yang di dalamnya ada segala jenis binatang adalah penggenapan Imamat 11. Karena itu, Kisah Para Rasul 10 adalah penjelasan Imamat 11. Dari sini kita melihat bahwa penjelasan Kitab Imamat dimulai dengan rasul-rasul. Penjelasan ini dilanjutkan sepanjang abad, dan sekarang kita berada di atas bahu para pengurai itu yang telah mendahului kita. Khususnya, kita berterima kasih kepada Kaum Saudara, yang dibangkitkan oleh Tuhan di Inggris pada abad 18 yang lalu. Setelah saya beroleh selamat, saya bersama Kaum Saudara selama tujuh setengah tahun. Selama tahun-tahun itu, saya belajar banyak dari mereka mengenai perlambangan dan nubuat. Guru-guru Kaum Saudara memiliki banyak pembahasan mengenai binatang dalam Imamat 11. Tanpa bantuan yang saya terima dari Kaum Saudara, saya tidak dapat memahami apa yang dibahas dalam pasal ini. Sebagaimana saya berdiri di atas bahu Kaum Saudara, kalian berdiri di atas bahu saya. Saya harap bahwa di tahun-tahun yang akan datang, kalian yang berdiri di atas bahu saya dan melihat lebih banyak daripada apa yang telah saya lihat.
Karena Kitab Imamat ditulis sepenuhnya dalam lambang, maka ada butir-butir tertentu sangat sulit dipahami. Satu butir yang sangat sulit terdapat dalam 11:3a, yang membicarakan setiap “binatang yang berkuku belah, yaitu yang kukunya bersela panjang.” Di sini kita memiliki dua hal: binatang yang berkuku belah dan kukunya bersela panjang. Dalam ayat 7 dikatakan bahwa babi berkuku belah dan kukunya bersela panjang. Apakah perbedaan antara dua hal ini? Saya tidak tahu. Alkitab versi bahasa Mandarin menyamakan berkuku belah dengan kukunya bersela panjang. Dengan kata lain, para penerjemah Alkitab itu mengira bahwa yang berkuku belah adalah yang kukunya bersela panjang. Perbedaan antara berkuku belah dengan kukunya bersela panjang memerlukan pengkajian lebih lanjut.
Judul berita ini adalah “Membedakan Makanan”. Membedakan makanan adalah hal membedakan bahanbahan makanan, membedakan apa yang kita makan. Makan bukan hal yang besar. Lalu, mengapa kita harus memperhatikan makanan kita jika mau menempuh kehidupan yang kudus? Untuk menjawab pertanyaan ini, kita perlu mengingat bahwa Kitab Imamat adalah kitab lambang, dan dalam lambang ada figur (tanda) yang mengandung makna khusus. Ini juga berlaku bagi binatang yang disebutkan dalam Imamat 11. Semua binatang ini memiliki makna yang besar, sebab mereka melambangkan berbagai jenis orang. Ini dibuktikan oleh Kisah Para Rasul 10:9b-14, 27-29. Petrus “Melihat langit terbuka dan turunlah sesuatu seperti kain lebar yang bergantung pada keempat sudutnya, yang diturunkan ke tanah. Di dalamnya terdapat berbagai jenis binatang berkaki empat, binatang melata dan burung” (ayat 11-12). Mula-mula, Petrus tidak memahami bahwa binatang-binatang ini, yang melata, dan burung adalah melambangkan manusia. Akhirnya dia memahaminya, sebab yang ada di dalam rumah Kornelius ialah manusia, bukan binatang (ayat 27-28).
I. MAKNA MAKAN
Hal pertama yang kita perlu perhatikan terkait dengan membedakan makanan adalah makna makan. Mengenal makna makanan adalah mengenal arti sejati dari makan dalam Imamat 11.
A. Mengontak Hal-hal di Luar Kita yang Mempengaruhi Batiniah Kita
Makan adalah mengontak hal-hal di luar kita yang dapat mempengaruhi batiniah kita. Ini khususnya mengacu kepada kita mengontak orang. Ketika kita makan, kita mengontak sesuatu yang tadinya di luar kita, sesuatu yang tidak ada hubungan dengan kita. Namun, jika kita makan hal itu, batin kita akan terpengaruh. Dalam Imamat 11, hal-hal yang kita makan melambangkan orang, dan makan melambangkan kita mengontak orang.
B. Menerima Hal-hal dari Luar yang Dapat Dicerna
di Dalam Kita Menjadi Susunan Kita yang Diekspresikan dalam Kehidupan Kita
Makan bukan hanya mengontak sesuatu (makanan), tetapi juga menerima sesuatu ke dalam kita. Begitu sesuatu itu diterima ke dalam kita, hal itu dapat dicerna menjadi unsur susunan kita, yaitu apa adanya kita, penyusun diri kita. Kita semua disusun dari makanan yang kita makan dan cerna. Akhirnya, apa yang kita cerna menjadi kita; hal ini menjadi susunan kita. Ini menunjukkan bahwa mengontak orang adalah perkara penting. Jika kita mau menempuh kehidupan kudus seperti yang diminta oleh Allah yang kudus, kita perlu berhati-hati dalam kontak kita dengan orang. Kontak kita dengan jenis orang tertentu dapat menyebabkan kita disusun ulang dan menjadikan kita orang jenis lain. Apa pun yang kita kontaki akan kita terima, dan apa pun yang kita terima akan menyusun ulang kita, menjadikan kita orang yang berbeda dari apa adanya kita sekarang.
II. GOLONGAN MAKHLUK HIDUP YANG TIDAK NAJIS YANG BOLEH DIMAKAN
Dalam Imamat 11 ada lima golongan binatang yang dibahas: pertama, binatang-binatang, mencakup ternak; kedua, binatang air, binatang di dalam air; ketiga, burungburung, binatang di udara; keempat, serangga; dan terakhir binatang melata. Semua binatang melata adalah najis, tetapi dalam empat golongan lain, beberapa binatang tidak najis dan yang lain najis. Sekarang mari kita perhatikan empat golongan makhluk hidup yang tidak najis yang boleh dimakan.
A. Binatang yang Berkuku Belah dan Memamah Biak
Binatang yang berkuku belah dan memamah biak (ayat 2-3) melambangkan orang-orang yang memiliki perbedaan dalam aktivitas mereka dan yang menerima firman Allah dengan banyak pertimbangan. Berkuku belah melambangkan memiliki perbedaan. Kuda memiliki kuku, tetapi tidak berkuku belah. Jadi, kuda melambangkan orang yang tidak memiliki tenaga, kekuatan untuk membedakan perkara. Orang demikian tidak dapat membedakan hal-hal dari Allah dengan hal-hal dari Satan (Iblis), hal-hal yang surgawi dengan hal-hal yang bumiah, hal-hal yang rohani dengan hal-hal yang bersifat daging. Kita perlu membedakan bukan hanya apa yang baik dengan yang jahat, tetapi juga apa yang dari roh kita dengan apa yang dari daging kita, demikian juga hal-hal dari manusia baru dengan hal-hal dari manusia lama.
Mari kita memakai satu ilustrasi membedakan antara pergi ke bioskop dengan pergi ke sidang gereja. Pergi ke bioskop adalah melakukan sesuatu yang bumiah, tetapi pergi ke sidang gereja adalah melakukan sesuatu yang surgawi. Namun, bagi seseorang, bahkan orang Kristen, yang tidak berkuku belah, pergi ke bioskop tidak jauh berbeda dengan pergi ke sidang gereja. Orang demikian kekurangan daya pembeda dalam aktivitasnya. Dalam aktivitasnya dia tidak memiliki daya pembeda. Kita harus berhati-hati dalam mengontak orang jenis ini, sebab mengontak dia dapat mencemarkan kita. Kita perlu berkuku belah, memiliki kemampuan dan kekuatan untuk membedakan apa yang dari Allah dengan apa yang bukan dari Allah, apa yang harus kita perbuat dan apa yang seharusnya tidak kita perbuat.
Memamah biak melambangkan menerima firman Allah dengan banyak pertimbangan dan perenungan kembali. Seperti sapi yang memamah biak, kita harus mempertimbangkan dan merenungkan kembali firman Allah. Kita mungkin melakukan ini ketika kita berdoa-baca di pagi hari. Ketika kita berdoa-baca, kita dapat mempertimbangkan dan merenungkan kembali firman. Ini adalah memamah biak untuk menerima rawatan melalui merenungkan apa yang kita terima dari firman Allah.
Dalam ayat 2 dan 3 kita melihat hikmat Allah. Dua frase “berkuku belah” dan “memamah biak” sangat bermakna. Di satu pihak, kita perlu memamah biak, makan firman Allah melalui mengunyahnya lagi dan lagi. Di pihak lain, kita harus bertindak dengan penuh pembedaan. Namun, banyak orang hari ini tidak berkuku belah, dan tidak memamah biak. Mereka bahkan tidak pernah menjamah firman Allah. Kita seharusnya tidak mengontak mereka yang tidak berkuku belah atau tidak memamah biak. Kita perlu menghindari orang demikian, kalau tidak, mereka akan mempengaruhi kita.
B. Binatang Air yang Bersirip dan Bersisik
Binatang air yang memiliki sirip dan sisik (ayat 9) menandakan orang-orang yang bisa bergerak dan bertindak dengan bebas dalam dunia dan pada saat yang sama bisa melawan pengaruhnya. Sirip membantu ikan bergerak, berenang di dalam air menurut kehendaknya. Karena ikan bersirip, ikan dapat berenang melawan arus.
Sisik menjaga ikan dan memelihara ikan yang hidup di laut dari pengaruh garam. Ikan dapat hidup di air asin bertahun-tahun tanpa menjadi asin, karena mereka memiliki sisik yang menjaganya dari pengaruh garam. Karena itu, sirip menguatkan ikan bergerak, dan sisik menjaga mereka dari pengaruh garam.
Dalam Alkitab, laut melambangkan dunia yang jatuh dan rusak. Seluruh dunia hari ini adalah laut yang luas, dan banyak makhluk hidup di dalamnya yang tidak memiliki sirip dan sisik. Mereka tidak dapat bergerak dengan bebas dalam dunia dan pada waktu yang sama melawan pengaruhnya. Sebagai kaum beriman dalam Kristus, kita harus memiliki sirip dan sisik dan karena itu dapat bergerak dengan bebas di dalam laut dunia tanpa menjadi asin.
Di satu pihak, kita harus memiliki sirip dan sisik. Di pihak lain, kita harus berhati-hati dalam mengontak mereka yang tidak memiliki sirip dan sisik. Berhati-hatilah terhadap teman-teman, tetangga, dan bahkan kerabat yang tidak memiliki sirip dan sisik. Ketika mendengar ini, mereka mungkin berkata, “Bagaimana memberitakan Injil kepada orang melalui mengunjungi rumah mereka? Haruskah kita hanya mengetuk pintu rumah orang-orang yang bersisik?” Saya akan menjawab bahwa “ketuk pintu” itu sendiri adalah sisik besar yang akan melindungi kita. Walaupun demikian, bahkan ketika memberitakan Injil kita perlu berhati-hati dalam mengontak orang. Kita tidak boleh menjadi asin karena garam duniawi.
C. Burung-burung yang Memiliki Sayap
untuk Terbang dan yang Makan Biji-bijian Hayat
sebagai Suplai Makanannya
Burung yang memiliki sayap untuk terbang dan makan biji-bijian hayat sebagai suplai makanan mereka (lihat ayat 13-19) melambangkan orang-orang yang dapat hidup dan bergerak dalam hayat, yaitu hayat yang dapat menghindari dan melampaui dunia dan yang mengambil hal-hal dari hayat sebagai suplai hayat mereka. Karena burung yang tidak najis memiliki sayap untuk terbang, mereka dapat terlepas dan melampaui dunia. Juga, burung yang tidak najis makan biji-bijian hayat sebagai suplai makanannya. Sebaliknya, burung-burung najis yang disebutkan dalam Imamat 11:13-19 tidak makan biji-bijian. Karena biji-bijian hayat tidak memuaskan mereka, burung-burung najis ini makan bangkai.
Kita orang Kristen harus seperti burung-burung yang memiliki sayap dan makan biji-bijian hayat. Ini berarti kita harus hidup dan bergerak dalam hayat, supaya terlepas dan melampaui dunia, dan harus mengambil hal-hal hayat sebagai suplai hayat kita. Tidak hanya demikian, ketika kita berkontak dengan orang lain, bahkan kaum beriman lainnya, kita perlu membedakan apakah mereka burung yang tidak najis, seperti burung pipit, yang makan biji-bijian, atau burung-burung najis, seperti elang, yang suka hidup dari hal-hal kematian. Jika kita berkontak dengan burungburung yang najis, kita akan terpengaruh oleh cita rasanya dan akhirnya mereka akan memalingkan kita menjadi burung najis. Untuk alasan ini, kita harus berhati-hati dalam mengontaki mereka yang makan hal-hal kematian.
D. Serangga yang Memiliki Sayap dan Memiliki Paha
di Sebelah Atas Kakinya untuk Melompat di Atas Tanah
Serangga yang memiliki sayap dan memiliki paha di atas kakinya untuk melompat di atas tanah (ayat 21-22) melambangkan orang-orang yang dapat hidup dan bergerak dalam hayat yang melampaui dunia dan yang dapat menjaga diri mereka dari dunia. Jika kita adalah jenis orang yang dilambangkan dengan serangga ini, kita akan memiliki sayap untuk terlepas dari segala sesuatu yang duniawi, dosa, atau daging. Kita akan dapat membubung tinggi melampaui dunia. Kita juga memiliki paha yang dapat melompat dari dunia. Ini berarti kita dapat meninggalkan dunia setiap saat, melalui terbang atau melompat. Kita orang Kristen adalah orang-orang yang dapat melompat dan terbang. Namun, mereka yang tanpa sayap dan paha tidak dapat meninggalkan dunia sama sekali. Mereka hanya dapat berdiri di bumi dan tetap tinggal di dunia.
Jika kita mau menempuh kehidupan yang kudus, kita perlu memperhatikan jenis orang yang kita kontaki. Apakah mereka berkuku belah, dan memamah biak? Apakah mereka bersirip dan bersisik? Apakah mereka memiliki sayap untuk terbang? Apakah mereka makan biji-bijian hayat dan tidak makan hal-hal kematian? Apakah mereka memiliki sayap dan paha? Betapa baiknya memiliki kontak dengan orang demikian!
III. GOLONGAN MAKHLUK HIDUP YANG NAJIS YANG TIDAK BOLEH DIMAKAN
Dalam Imamat 11 ada lima golongan makhluk hidup yang najis yang tidak boleh dimakan.
A. Binatang yang Tidak Berkuku Belah
dan Binatang yang Berjalan dengan Telapak Kakinya
Binatang yang tidak berkuku belah dan binatang yang berjalan dengan telapak kakinya (ayat 4-8a, 26a, 27a) melambangkan orang yang tidak memiliki pembeda dalam aktivitas-aktivitasnya dan orang yang berjalan dan bergerak tanpa pembeda.
B. Binatang Air yang Tidak Bersirip dan Bersisik
Binatang air yang tidak bersirip dan bersisik (ayat 10-12) melambangkan orang-orang yang tidak dapat bergerak dan bertindak bebas di dunia dan pada waktu yang sama tidak bisa melawan pengaruhnya. Orang demikian tidak memiliki kekuatan untuk melawan pengaruh dunia yang penuh dosa.
C. Burung yang Makan Daging dan Bangkai sebagai Suplai Makanannya
Burung yang makan daging dan bangkai sebagai suplai makanannya (ayat 13-19) melambangkan orang yang hidup dalam mengontak kematian. Saat makan, mereka mengontak kematian. Semakin kita mengontak mereka, yang secara rohani dipenuhi kematian, kita akan semakin dicemari kematian. Jika kita mengontak orang yang demikian, kita akan dipenuhi dengan kematian rohani.
D. Serangga yang Memiliki Empat Kaki untuk Merayap
Serangga yang memiliki empat kaki untuk merayap di bumi (ayat 20, 23-24a) melambangkan orang-orang yang hidup di bumi dan yang tidak dapat menjaga diri mereka sendiri dari dunia. Mereka hanya dapat merayap di bumi, sebab mereka tidak dapat terbang melampaui dunia.
E. Makhluk yang Berkeriapan di Bumi atau Merayap dengan Perut atau
dengan Empat Kakinya, atau Memiliki Banyak Kaki Semuanya Merayap di Bumi
Makhluk yang berkeriapan di bumi atau merayap dengan perut atau dengan empat kakinya, atau memiliki banyak kaki semuanya merayap di bumi (ayat 29-31a, 41-44) melambangkan Iblis dengan semua roh-roh jahat dan setansetan, orang-orang yang dipenuhi Iblis, yang berkontak dengan roh-roh jahat dan setan-setan, dan orang-orang yang hidup di dunia dan memegang erat dunia, tidak dapat memutuskan diri mereka dari dunia. Alkitab menggambarkan Iblis seperti ular (Why. 12:9). Roh-roh jahat adalah malaikat-malaikat yang jatuh, dan setan-setan adalah roh-roh dari mahkluk-mahkluk yang tidak bertubuh yang dihakimi Tuhan dari zaman sebelum Adam. Banyak orang mengontak roh-roh jahat dan dirasuk oleh setan-setan. Selain itu, banyak orang memegang erat dunia, tidak berdaya melepaskan diri sendiri dari dunia. Kita seharusnya tidak mengontak Iblis, roh-roh jahat, atau setan-setan. Demikian juga, kita seharusnya tidak mengontak orang-orang yang dirasuk setan-setan atau orang-orang yang memegang erat dunia, agar kita tidak berada di bawah pengaruhnya.
Jika kita mau menempuh kehidupan yang kudus, kita perlu memperhatikan kontak kita dengan orang. Mengontak orang adalah perkara yang sangat penting, khususnya untuk orang Kristen. Kita seharusnya tidak mengontak orang lain dengan sembarangan dan kita seharusnya tidak berteman secara ceroboh. Persahabatan yang ceroboh, menurut Alkitab, akan merusak kita.
Kita semua harus belajar berhati-hati dan tidak sembarangan dalam mengontak orang. Kita perlu mengenal empat golongan makhluk hidup yang tidak najis dan lima golongan makhluk hidup yang najis. Ketika kita akan mengontak orang, kita perlu mempertimbangkan apakah dia tidak najis atau najis. Pertimbangan kita akan melindungi dan menjaga kita dari pencemaran dan perusakan.