PELAJARAN DAN PERATURAN UNTUK IMAM (2)
Pembacaan Alkitab: Im. 10:12-20
Dalam berita yang lalu kita telah membahas pelajaran untuk imam. Dalam berita ini kita akan membahas peraturan untuk imam.
II. PERATURAN UNTUK IMAM
Meskipun pada hari yang mulia, hari yang penuh berkat dan kenikmatan, sesuatu yang hebat terjadi pada Harun (Im. 10:1-11), dalam Imamat 10:12 kita memiliki ekspresi belas kasihan dan anugerah Allah yang lebih lanjut. “Kemudian berkatalah Musa kepada Harun dan kepada Eleazar dan Itamar, anak-anak Harun yang tinggal itu: ‘Ambillah kurban sajian yang tinggal dari segala kurban api-apian TUHAN, dan makanlah itu sebagai roti yang tidak beragi di samping mezbah, karena itulah bagian maha kudus.” Ayat ini tidak membicarakan kurban bakaran, kurban penghapus dosa, atau kurban penebus salah, tetapi kurban sajian. Kurban sajian di sini adalah perkara belas kasihan dan anugerah Allah. Mungkin kita mengira, segera setelah koreksi dalam Imamat 10:1-11, Harun dan anak-anaknya perlu kurban penghapus dosa. Namun, Musa memberi tahu mereka untuk makan kurban sajian. Sesuatu disajikan kepada Harun dan anak-anaknya untuk mereka makan. Memberi orang lain sesuatu untuk dimakan pada saat diperlukan adalah menunjukkan belas kasihan kepada mereka.
Api kudus yang menghanguskan Nadab dan Abihu adalah untuk penghakiman. Penghakiman ini dilaksanakan bukan atas orang yang tidak beriman, tetapi atas umat Allah. Menurut 1Korintus 11:27-32, penghakiman ini adalah semacam penghukuman pendisiplinan, koreksi yang penuh belas kasihan, bukan penghakiman untuk penghukuman kekal. Penghakiman Allah atas kedua anak Harun tidak mengakhiri belas kasihan Allah kepada umat-Nya. Seperti ditunjukkan dalam Imamat 10:12, belas kasihan Allah di sini seiring dengan penghukuman dan koreksi-Nya.
A. Harun dan Anak-anaknya Makan (Kurban Sajian) yang Tinggal
dari Segala Kurban Api-apian TUHAN, Tanpa Ragi di Samping Mezbah, sebagai Bagiannya
Harun dan anak-anaknya makan yang tinggal (tersisa) dari segala kurban api-apian TUHAN, yang tanpa ragi di samping mezbah, sebagai bagian mereka (ayat 12-13). Ini menandakan bahwa sisa bagian Kristus dalam keinsanian-Nya sebagai kurban sajian kita adalah bagian kita, imam-imam Perjanjian Baru, untuk kita nikmati sebagai bagian kita. Menurut Imamat 2, bagian terbaik dari kurban sajian, dengan kemenyan, dipersembahkan untuk Allah dengan api. Sisa kurban sajian adalah untuk imam-imam. Sebagai kurban sajian, Kristus mula-mula untuk kepuasan Allah, dan kemudian untuk kenikmatan dan kepuasan kita.
Sekali lagi saya tekankan fakta bahwa kurban sajian dalam ayat 12 dan 13 datang segera setelah penghakiman pendisiplinan atas Nadab dan Abihu, ini menunjukkan bahwa Allah penuh belas kasihan. Setelah penghakiman mati ini, Musa tidak mengatakan, “Harun, engkau telah berbuat salah, dan sekarang waktunya untuk kamu mempersembahkan kurban penghapus dosa kepada Allah.” Sebaliknya, Musa tidak menyuruh Harun dan anak-anaknya mempersembahkan kurban penghapus dosa atau kurban bakaran, Musa menyuruh mereka makan sisa kurban sajian. Ini menunjukkan bahwa Allah yang menghakimi dan mengoreksi tetap memiliki belas kasihan.
Kurban sajian, yang maha kudus, harus dimakan di tempat yang kudus, yaitu di tempat Allah berada. Ini berarti kurban sajian harus dimakan di hadapan Allah. Tidak hanya demikian, kurban sajian harus dimakan di samping salib (mezbah). Tanpa salib kita tidak memiliki kedudukan untuk menikmati segala sesuatu dari diri Kristus. Kurban sajian juga harus dimakan tanpa dosa (ragi) sebagai persembahan yang dapat diperkenan Allah dalam api kekudusan-Nya.
B. Dada Kurban Pendamaian Bangsa Itu sebagai Kurban Timangan
dan Paha sebagai Kurban Unjukan Dipersembahkan kepada TUHAN
dengan Kurban Api-apian yang dari Lemak Dimakan oleh Imam-imam di Tempat yang Tahir
Dada kurban pendamaian (Tl.) bangsa itu sebagai kurban timangan (Tl.) dan paha kurban unjukan (Tl.) dipersembahkan kepada TUHAN dengan kurban api-apian yang dari lemak oleh imam-imam di tempat yang tahir (Im. 10:14-15). Ini menandakan bahwa kita, imam-imam Perjanjian Baru, bersama Allah menikmati beberapa aspek Kristus sebagai kurban pendamaian kaum beriman. Dada kurban timangan melambangkan kemampuan kasih Kristus dalam kebangkitan-Nya. Kristus memiliki kemampuan khusus untuk mengasihi dengan kasih Allah. Kemampuan kasih-Nya bukan dalam hayat alamiah tetapi dalam kebangkitan.
Paha kurban unjukan melambangkan kekuatan Kristus yang menguatkan dalam kenaikan-Nya. Bagian terkuat dari tubuh jasmani kita adalah paha. Paha bukan saja kekuatan untuk berdiri, tetapi juga kekuatan yang menguatkan. Hari ini Kristus menguatkan kita dalam kenaikan-Nya. Dada dan paha harus dimakan di tempat yang tahir, menandakan keadaan yang tahir terpisah dari dosa atau segala hal negatif. Selain itu, mereka makan kurban persembahan itu supaya diperkenan Allah dalam api kekudusan-Nya.
C. Kurban Penghapus Dosa yang Maha Kudus
dan yang Darahnya Tidak Dibawa ke Dalam
Tempat Maha Kudus, Dimakan oleh Imam-imam
di Tempat yang Kudus, supaya Mereka Mengangkut
Kesalahan Umat Itu dan Mengadakan Pendamaian
bagi Mereka di Hadapan TUHAN
Kurban penghapus dosa yang maha kudus dan yang darahnya tidak dibawa ke dalam tempat maha kudus, dimakan oleh imam-imam di tempat yang kudus, supaya mereka mengangkut kesalahan umat itu untuk mengadakan pendamaian bagi mereka di hadapan TUHAN (ayat 17b-18). Ini menandakan bahwa kita, imam-imam Perjanjian Baru, berbagian atas Kristus sebagai kurban penghapus dosa kaum beriman. Berbagian ini berarti berbagian dalam hayat Kristus, hayat yang memikul dosa, sebagai suplai hayat kita, supaya kita dapat memikul masalah-masalah umat Allah. Kita berbagian dalam kurban persembahan ini dalam hidup gereja untuk menyuplaikan hayat Kristus yang menanggulangi dosa kepada kaum beriman, supaya mereka dapat menanggulangi dosa. Sasaran penanggulangan demikian adalah membereskan keadaan antara kaum beriman dengan Allah dan memulihkan persekutuan mereka yang terputus dengan Allah. Ayat 17 membicarakan pengadaan pendamaian untuk bangsa itu. Kata pendamaian dalam Perjanjian Lama tidak mengacu kepada penebusan yang dirampungkan dan digenapkan oleh Kristus. Pendamaian dalam Perjanjian Lama adalah suatu lambang yang mengacu kepada penebusan Kristus.
Kata Ibrani yang diterjemahkan “mengadakan pendamaian” di sini adalah kaphar, yang berarti “menutupi/ menudungi”. Bentuk kata benda dari kata ini diterjemahkan “tutup pendamaian” dalam 16:2, 13-15, dan mengacu kepada penutup tabut kesaksian. Ketika seseorang mengontaki Allah, dengan segera Sepuluh Perintah di dalam tabut dalam tempat maha kudus menyingkapkan keadaannya yang penuh dosa, menunjukkan bahwa ada masalah antara orang dosa ini dengan Allah yang benar. Jadi, tidak ada damai di antara dua pihak. Namun, darah kurban penghapus dosa dipercikkan ke atas tutup pendamaian yang menutupi tabut, menandakan bahwa dosa orang yang datang untuk mengontak Allah ini telah ditutupi.
Pada masa Perjanjian Lama, Kristus belum datang, tetapi ada satu lambang yang mengacu kepada Kristus. Lambang ini adalah binatang kurban persembahan yang dipersembahkan kepada Allah sebagai kurban penghapus dosa. Pada hari pendamaian, binatang kurban disembelih, dan darahnya yang tercurah dibawa ke dalam tempat maha kudus dan dipercikkan ke penutup tabut. Dengan demikian, masalah antara Allah dengan manusia ditutupi, tetapi belum dibereskan. Penudungan ini untuk sementara memuaskan tuntutan Allah. Ini adalah untuk mendamaikan, membereskan, melakukan sesuatu bagi pihak yang berhutang agar memuaskan pihak yang menuntut, menghasilkan damai di antara kedua pihak. Ibrani 9:12 dengan jelas membicarakan penebusan Kristus, mengatakan bahwa “melalui darah-Nya sendiri” Kristus telah “masuk satu kali untuk selamanya ke dalam ruang maha kudus, telah mendapat penebusan yang kekal”
(Tl.). Penebusan Kristus yang rampung dan lengkap itu didapat ketika Dia membawa darah-Nya ke surga dan memercikkannya di sana. Dengan demikianlah Kristus memperoleh, mendapatkan, menghasilkan penebusan. Penebusan dirampungkan oleh Kristus di atas salib, dan didapatkan oleh Kristus Sang Penebus dari tangan Allah penebus. Apa yang kita terima hari ini bukan saja penudungan atau semacam pemberesan tetapi penebusan yang rampung dan lengkap. Sekarang kita sedang menikmati penebusan yang demikian.
Imamat 10:17-18 menunjukkan bahwa kita, imam-imam Perjanjian Baru, mengambil bagian atas Kristus sebagai kurban penghapus dosa kaum beriman dalam pengertian berbagian dalam hayat Kristus yang memikul dosa, sebagai suplai hayat kita, supaya kita dapat memikul masalah umat Allah. Jika kita mau menerapkan Kristus sebagai kurban penghapus dosa, kita perlu menyadari bahwa setelah makan Kristus yang demikian, kita harus memikul masalah umat Allah.
Makan bukan saja untuk kepuasan, juga untuk pekerjaan (2Tes. 3:10). Jika kita makan Kristus sebagai kurban penghapus dosa kita, kurban persembahan yang telah merampungkan penebusan untuk kita dan membereskan masalah kita dengan Allah, kita harus memikul tanggung jawab membereskan masalah umat Allah.
Jika Anda sadar bahwa saudara tertentu memiliki masalah dosa, mula-mula Anda harus memikul beban untuk mendoakan dia. Kemudian menurut pimpinan Roh, Anda bisa menjenguk dia, bukan untuk menghukum dia atau menunjukkan kegagalannya, tetapi bersekutu dengan dia untuk membawa dia ke hadirat Tuhan dan ke dalam perasaan belas kasihan dan anugerah Tuhan. Jika Anda dapat membawa dia ke dalam terang Allah, terang akan memancar atas dia dan di dalam dia, dan dia akan melihat kedosaan, kesalahan, dan kekurangannya.
Jangan mencoba membantu orang dosa dengan menyingkapkan dia atau secara langsung menunjukkan kekurangannya. Jika Anda melakukan hal ini, Anda akan menghina dia. Setiap orang dosa menjaga gengsinya. Jika Anda menunjukkan dosa seorang saudara, dia tidak akan mengakuinya, tetapi akan memegang gengsinya. Alhasil, Anda tidak hanya tidak dapat membawa saudara ini ke dalam terang, Anda bahkan akan menggusarkan dia dan menyebabkan masalah.
Jalan terbaik untuk membantu seorang saudara yang berbuat dosa adalah diri sendiri menjadi seorang yang hidup dalam persekutuan dengan Tuhan. Kemudian ketika Anda mengunjunginya, Anda akan mendatangkan suasana persekutuan, dan Anda akan membawa saudara tersebut ke dalam persekutuan dengan Allah yang menerangi. Dalam persekutuan ini, dia akan diterangi dan akan menjamah belas kasihan dan anugerah Allah. Belas kasihan dan anugerah hayat ilahi akan melembutkan hatinya yang keras dan menghangatkan hatinya yang dingin. (Karena dosa menyebabkan hati orang menjadi keras dan dingin, hati saudara ini perlu dilunakkan dan dihangatkan). Dalam terang Allah yang melembutkan dan menghangatkan, saudara ini akan melihat dosanya dan mengakuinya. Tidak perlu Anda menyebutkannya. Cara membantu saudara yang berbuat dosa sedemikian ini adalah cara kasih dalam hikmat.
Jika kita mau memikul masalah umat Allah, kita perlu memiliki kenikmatan yang kaya atas Kristus sebagai kurban penghapus dosa kita. Kemudian dengan banyak doa dan pertimbangan kita mengontak orang lain dalam kasih dan dengan hikmat, menyuplaikan hayat Kristus yang menanggulangi dosa kepada mereka, supaya mereka bisa menanggulangi dosa mereka. Jika kita mengontak orang lain secara demikian, kita tidak akan melukai mereka atau gereja, tetapi sebaliknya akan memikul masalah umat Allah.
D. Karena Kelemahan mengenai
Penghukuman Mati Allah atas Nadab dan Abihu,
Harun dan Anak-anaknya Tidak Tepat
Makan Kurban Penghapus Dosa
Karena kelemahannya mengenai penghukuman mati Allah atas Nadab dan Abihu, Harun dan anak-anaknya tidak tepat makan kurban penghapus dosa (Im. 10:16-17a, 19-20). Ini menandakan jika kita lemah dalam menerima penghakiman Allah atas pelayan-pelayan yang dekat dengan kita, kita tidak akan dapat berbagian dengan Kristus sebagai kurban penghapus dosa kita dalam pengertian mengambil hayat-Nya yang menanggulangi dosa sebagai suplai hayat kita untuk menyuplaikan Dia kepada kaum beriman sebagai hayat yang menanggulangi dosa.
“Kemudian Musa mencari dengan teliti kambing jantan kurban penghapus dosa itu, tetapi ternyata kambing itu sudah habis dibakar. Sebab itu dimarahinyalah Eleazar dan Itamar, anak-anak Harun yang tinggal itu, katanya: ‘Mengapa tidak kamu makan kurban penghapus dosa itu di tempat yang kudus?’” (Im. 10:16-17a). Karena darah kurban
penghapus dosa ini tidak dibawa ke dalam tempat kudus, maka mereka seharusnya memakan kurban tersebut seperti yang Musa perintahkan (Im. 10:18). Musa menegur mereka karena mereka tidak berbuat demikian. Kemudian Harun berkata kepada Musa, “Memang benar, pada hari ini mereka telah mempersembahkan kurban penghapus dosa dan kurban bakaran mereka ke hadapan TUHAN, tetapi hal-hal seperti tadilah yang kualami. Jikalau pada hari ini aku memakan juga kurban penghapus dosa, mungkinkah hal itu disetujui (dipandang baik) oleh TUHAN?” (Im. 10:19). Di satu pihak, Harun dan anak-anaknya lemah mengenai penghukuman mati Allah; di pihak lain, Harun memiliki pertimbangan yang tepat, sebab dia dan anak-anaknya sedang berdukacita dan tidak gembira. Makan kurban penghapus dosa di bawah suasana demikian tidak dapat menyenangkan Tuhan. Harun memberi tahu Musa bahwa karena kesedihan mereka, mereka tidak dapat makan kurban penghapus dosa. “Ketika Musa mendengar itu, ia menyetujuinya” (Im. 10:20). Respons Harun disetujui oleh Musa, yang mewakili Allah, dan dengan demikian Allah tentu setuju juga.
Kejadian ini menunjukkan bahwa mengenai memelihara peraturan-peraturan yang dibuat oleh Allah, dalam belas kasihan Allah, selalu ada “ruang yang tersisa” untuk berprihatin terhadap situasi kita. Harun dan anak-anaknya tidak melaksanakan peraturan-peraturan Allah secara legal. Mereka tidak mengikuti peraturan ilahi, bukan karena tidak taat, melainkan karena pertimbangan yang positif atas lingkungan mereka.
Ayat-ayat ini juga memperlihatkan kepada kita bahwa kita tidak seharusnya memperhatikan peraturan-peraturan Allah secara tergesa-gesa. Bukannya mengikuti peraturan ilahi secara tergesa-gesa, Harun dan anak-anaknya mempertimbangkan keadaan dan situasi mereka. Apa yang Harun dan anak-anaknya lakukan kelihatannya berlawanan dengan peraturan Allah, tetapi sebenarnya ini adalah sesuatu yang dikerjakan dalam hikmat.