← Daftar isi Imamat (2) · bab 13/23

PELAJARAN DAN PERATURAN UNTUK IMAM (1)

Pembacaan Alkitab: Im. 10:1-11

Dalam Imamat 1 sampai 9, kita telah melihat kurbankurban persembahan dan hukum-hukumnya, persembahan diri Harun dan anak-anaknya, permulaan pelayanan imamat, dan hasil pelayanan imamat. Hasil pelayanan imamat termasuk penampakan diri Allah, penampakan kemuliaan Allah, memberkati bangsa itu, dan api keluar dari hadapan Allah dan menghanguskan kurban bakaran (9:24). Api yang menghanguskan ini, yang mewakili kekudusan Allah, dipakai Allah dalam dua jenis keadaan yang berbeda, yang satu positif dan yang lainnya negatif. Dalam keadaan positif, ketika kita memiliki sesuatu untuk Allah dan mempersembahkannya untuk Allah, Dia memperkenannya melalui menghanguskannya dengan api. Penghangusan ini bersifat positif; ini adalah perkenan ilahi dari apa adanya kita, apa yang kita kerjakan, dan apa yang kita miliki untuk Allah. Dalam keadaan negatif, api kudus datang dari Allah sebagai penghakiman. Kasus negatif demikian, kasus Nadab dan Abihu, terdapat dalam Imamat 10:1-11, bagian yang akan kita bahas dalam berita ini.

Kasus Nadab dan Abihu dalam 10:1-11 berjalan seiring dengan kejadian dari pasal sebelumnya. Kelihatannya kasus yang menyedihkan ini terjadi pada hari yang sama, “Dan keluarlah api dari hadapan Tuhan, lalu menghanguskan kurban bakaran dan segala lemak di atas mezbah. Tatkala seluruh bangsa itu melihatnya, bersorak-sorailah mereka, lalu sujud menyembah” (9:24).

Nadab dan Abihu, anak-anak Harun, melakukan sesuatu yang kelihatannya baik: mereka mempersembahkan sesuatu kepada Allah. Namun, mereka mempersembahkan “api asing” (10:1), api umum, bukan api dari surga. Allah menghakimi persembahan dari api asing ini dengan menghanguskan kedua imam yang mempersembahkannya. Ini memperlihatkan kepada kita, di satu pihak, Allah penuh belas kasihan dan baik hati, dan di pihak lain, Dia cukup keras dan tegas. Setelah berkat-berkat pada hari yang terbaik dan mulia dalam pasal 9, hari permulaan Allah menerapkan Kristus atas umat-Nya untuk kenikmatan mereka, kita mungkin mentoleransi kesalahan yang tercatat dalam pasal 10. Namun, pada Allah tidak ada toleransi. Segera setelah Allah memberkati, Dia menghakimi.

Menghanguskan kurban-kurban persembahan dengan api surgawi sepenuhnya positif. Penghangusan ini adalah penegasan yang kuat bahwa Allah adalah Allah yang sejati dan hidup dan Dia menyertai umat-Nya, bani Israel. Selain itu, penghangusan oleh api ini adalah penegasan dari apa yang telah Musa lakukan dan apa yang telah diberitahukan kepada bangsa itu tentang Allah. Sebelum itu, orang Israel mungkin heran, Allah macam apa yang mereka miliki, sebab mereka telah mendengar tentang Dia melalui Musa, tetapi mereka belum pernah melihat Dia. Sekarang ada hari khusus dengan segala macam hukum, peraturan, dan kurban persembahan, satu hari yang formal dan resmi. Pada hari ini kemuliaan Allah tertampak, dan berkat turun ke atas umat-Nya. Selain itu, pada hari ini ada perkenan ilahi atas kurban-kurban persembahan. Perkenan ini datang dalam bentuk api yang menghanguskan. Api ini turun dari surga; bukan dari bumi, dan bukan berasal dari bani Israel. Ketika api datang dari surga ke tempat itu, mezbah di mana kurban-kurban persembahan berada dan menghanguskan kurban-kurban persembahan, bangsa itu melihatnya, bersorak-sorai, dan sujud menyembah (9:24b).

Tidak lama setelah itu, api yang menghanguskan terlihat lagi, tetapi secara negatif. Bukannya memperkenan, api kudus itu malah menghakimi. Dalam Imamat 9, api kudus menghanguskan dalam arti memperkenan; dalam Imamat 10, api kudus menghanguskan dalam arti menghakimi. Mengenai Nadab dan Abihu, Imamat 10:2 mengatakan, “Maka keluarlah api dari hadapan TUHAN, lalu menghanguskan keduanya, sehingga mati di hadapan TUHAN.” Hal serupa terjadi dalam Kitab Kisah Para Rasul. Pada hari Pentakosta kemuliaan Allah turun dari surga (Kis. 2:1-4), tetapi tidak lama setelah itu sepasang suami istri menipu Roh Kudus dan akibatnya mati (Kis. 5:1-11). Kasus dalam Imamat 10, mempersembahkan api yang tidak dikuduskan, yang asing, yang duniawi, mendatangkan penghakiman. Api kudus, yang surgawi menghanguskan Nadab dan Abihu, dan mereka mati.

Semakin kita memperhatikan kasus Nadab dan Abihu, semakin kita menyadari bahwa Allah bukan hanya penuh belas kasihan, tetapi juga kudus, bukan hanya baik hati, tetapi juga keras. Karena itu, kita tidak boleh ceroboh dalam melayani Dia atau menjamah hal-hal ilahi.

Imamat 10:9-10 mengatakan, “Janganlah engkau minum anggur atau minuman keras, engkau serta anak-anakmu, bila kamu masuk ke dalam Kemah Pertemuan, supaya jangan kamu mati. Itulah suatu ketetapan untuk selamanya bagi kamu turun-temurun. Haruslah kamu dapat membedakan antara yang kudus dengan yang tidak kudus, antara yang najis dengan yang tidak najis.” Perintah ini menunjukkan bahwa alasan Nadab dan Abihu mempersembahkan api asing mungkin karena mereka mabuk anggur. Hal ini membuat mereka kendur dan ceroboh dan membuat mereka bertindak tanpa rasa takut. Sebagai akibatnya, mereka mengalami penghakiman kudus Allah.

Dalam Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru, prinsipnya sama mengenai akibat kecerobohan dalam melayani Allah dan dalam menjamah hal-hal ilahi. Dalam kasus Nadab dan Abihu serta Ananias dan Safira berakibat mati. Ini memperlihatkan bahwa menjamah hal-hal ilahi secara ceroboh adalah serius dan dapat mengakibatkan kematian. Menurut Perjanjian Baru, kematian ini mungkin bukan kematian jasmani, tetapi kematian rohani.

Sekarang mari kita memperhatikan beberapa rincian kasus Nadab dan Abihu.

I. PELAJARAN DARI NADAB DAN ABIHU

Dalam 10:1-11 kita memiliki pelajaran dari Nadab dan Abihu. Penghangusan Nadab dan Abihu kemungkinan terjadi menjelang akhir hari kemuliaan dan berkat yang digambarkan dalam Imamat 9. Apa yang terjadi pada kedua anak Harun ini sebenarnya adalah satu pelajaran untuk kita hari ini.

A. Nadab dan Abihu Mempersembahkan Api Asing di Hadapan TUHAN

“Kemudian anak-anak Harun, Nadab dan Abihu, masing-masing mengambil perbaraannya, membubuh api ke dalamnya serta menaruh ukupan di atas api itu. Dengan demikian mereka mempersembahkan ke hadapan TUHAN api yang asing yang tidak diperintahkan-Nya kepada mereka” (ayat 1). Ini melambangkan antusias alamiah, perasaan alamiah, kekuatan alamiah, dan kemampuan alamiah manusia yang dipersembahkan kepada Allah. Nadab dan Abihu dihakimi bukan karena mereka melakukan sesuatu yang bukan untuk Allah. Mereka dihakimi karena mereka bertindak menurut hayat alamiah. Mereka melakukan sesuatu untuk Allah, tetapi mereka melakukannya secara alamiah. Mereka mungkin mengasihi Allah, tetapi mereka mengasihi Allah secara alamiah.

Kita seharusnya membara dan panas untuk Tuhan; namun, panasnya kita seharusnya bukan dari alamiah, tetapi rohani. Kita maju dari alamiah ke rohani melalui menempuh jalan salib. Apa adanya kita dalam hayat alamiah harus disalibkan. Manusia alamiah sudah disalibkan bersama Kristus. Sekarang dalam kehidupan kristiani kita dan tindakan kita, kita perlu menjaga sikap kita bahwa manusia alamiah kita telah disalibkan dan harus dikesampingkan. Karena hayat alamiah sudah dihukum, kita harus menghukumnya hari ini. Kita perlu menyadari bahwa manusia alamiah kita telah dihakimi Allah di atas salib, dan untuk alasan ini manusia alamiah tidak seharusnya dihargai atau dihormati.

Pelayanan kita dalam gereja dan kesaksian kita dalam sidang-sidang dapat dengan mudah bersifat alamiah. Jika kita berbicara dalam sidang secara alamiah, kita akan mempersembahkan api asing, atau api umum, dan ini akan mendatangkan kematian rohani. Bila kita bersaksi secara alamiah, kita dimatikan, dan suasana sidang juga mati. Kita semua perlu belajar tidak menjamah hal-hal kudus Allah dengan hayat alamiah. Bukan saja urusannya harus benar, caranya juga harus benar. Hanya melakukan hal yang benar tidaklah cukup. Kita harus melakukan hal yang benar dengan cara yang benar. Mempersembahkan api asing kepada Allah adalah melakukan hal yang benar dengan cara yang salah, dan ini mendatangkan penghakiman kematian. Tidaklah mudah dimurnikan dari sifat alamiah. Kita mungkin sering memakai antusiasme alamiah, perasaan alamiah, kekuatan alamiah, atau kemampuan alamiah kita. Segala sesuatu yang alamiah di dalam kita perlu ditanggulangi.

Seumur hidup Musa adalah satu gambaran dari penanggulangan manusia alamiah. Musa berkata bahwa “Masa hidup kami tujuh puluh tahun dan jika kami kuat, delapan puluh tahun” (Mzm. 90:10). Menurut pemahamannya, usia 80 tahun adalah akhir kehidupan manusia. Karena itu, sungguh bermakna bahwa Musa dipanggil oleh Allah ketika dia berusia 80 tahun. Ini menunjukkan bahwa hayat alamiah Musa telah berakhir dan apa yang dia kerjakan untuk Allah ada di dalam kebangkitan. Pada usia 80, Musa memiliki permulaan yang baru, dan mulai saat itu dia tidak bertindak menurut hayat alamiahnya, tetapi menurut roh kebangkitan.

Berapa pun usia kita, kita semua perlu belajar tidak melakukan dan mengatakan sesuatu dengan kekuatan alamiah, kemampuan alamiah, atau perasaan alamiah. Kita harus memandang segala sesuatu yang alamiah seperti ular, racun. Api yang dipersembahkan Nadab dan Abihu adalah api asing; bukan api dari mezbah. Api dari mezbah, telah berkontak dengan kurban-kurban persembahan, bersifat kudus dan juga dikuduskan. Namun, Nadab dan Abihu tidak mepersembahkan api yang menguduskan dan dikuduskan demikian, melainkan api asing. Api ini bukan dari TUHAN, tetapi dari manusia; bukan dari surga, tetapi dari bumi, dan bukan berdasarkan pendamaian. Tanpa pendamaian, manusia dengan Allah tidak dapat rukun. Sebaliknya, masalah-masalah antara manusia dengan Allah tetap tinggal. Karena pengaruh pengajaran agama Kristen, banyak orang Kristen hari ini kendur dan ceroboh dalam menyembah dan melayani Allah. Mereka tidak memandang penyembahan dan pelayanan ini secara serius, dan akibatnya mereka memakai hayat alamiah yang menghasilkan kematian rohani.

B. Api Keluar dari Hadapan TUHAN

dan Menghanguskan Mereka sehingga Mati di Hadapan TUHAN

Imamat 10:2 mengatakan bahwa “Maka keluarlah api dari hadapan TUHAN,” lalu menghanguskan Nadab dan Abihu, “sehingga mati di hadapan TUHAN.” Api ini bukan api asing. Api ini dari Allah, bukan dari manusia; dari surga, bukan dari bumi; dan untuk menghakimi, bukan untuk memperkenan.

Api dalam ayat 2 juga api untuk pengudusan Allah melalui pelayan-pelayan-Nya yang menghampiri Dia (ayat 3a). Kematian Nadab dan Abihu menyatakan kekudusan Allah. Kematian mereka memberi tahu kita bahwa Allah tidak umum, melainkan kudus, dan kita tidak seharusnya mempersembahkan segala sesuatu yang umum untuk Allah yang kudus ini. Dari kematian Nadab dan Abihu kita belajar bahwa Allah harus dihormati sebagai Allah yang kudus. Jika kita tidak serius dengan Dia, kita akan dihakimi, dan penghakiman-Nya atas kita akan menjadi pengudusan-Nya.

Api dalam ayat 2 juga untuk kemuliaan Allah di hadapan umat-Nya (ayat 3b). Harun dan bangsa itu mungkin merasa bahwa api yang menghanguskan ini hanya merupakan penghukuman dan penghakiman, tetapi bagi Allah api ini adalah perkara kemuliaan-Nya.

C. Mayat Nadab dan Abihu Disingkirkan

dari Depan Tempat Kudus Ke Luar Perkemahan

“Kemudian Musa memanggil Misael dan Elsafan, anakanak Uziel, paman Harun, lalu berkatalah ia kepada mereka: ‘Datang ke mari, angkatlah saudara-saudaramu ini dari depan tempat kudus ke luar perkemahan.’ Mereka datang, dan mengangkat mayat keduanya, masih berpakaian kemeja, ke luar perkemahan, seperti yang dikatakan Musa” (ayat 4-5). Ini menandakan kematian yang tidak kudus harus disingkirkan dari lingkungan kekudusan Allah dan juga dari perhimpunan, persekutuan umat Allah.

D. Imam-imam Tidak Boleh Membiarkan Rambutnya Terurai

dan Mengoyakkan Pakaian karena Kerabat Mereka Dihukum Mati oleh Allah,

supaya Mereka Jangan Mati dan supaya Allah Tidak Murka kepada Segenap Jemaat

“Kemudian berkatalah Musa kepada Harun dan kepada Eleazar dan Itamar, anak-anak Harun: ‘Janganlah kamu berkabung dan janganlah kamu berdukacita, supaya jangan kamu mati dan jangan TUHAN memurkai segenap umat ini, tetapi saudara-saudaramu, yaitu seluruh bangsa Israel, merekalah yang harus menangis karena api yang dinyalakan TUHAN itu’” (ayat 6). Ini menandakan bahwa hukuman mati Allah atas kerabat imam tidak seharusnya menjadi alasan pelayan-pelayan-Nya melanggar aturan dalam ketaatan mereka kepada kekepalaan Kristus dan merusak kesempurnaan perilaku mereka, supaya mereka tidak menderita kematian dalam hayat rohani dan menyebabkan Allah tidak berkenan kepada umat-Nya.

Tuntutan dalam ayat 6 menunjukkan bahwa kita harus sungguh-sungguh terhadap Allah. Ketika datang kepada Dia dan menjamah pelayanan dan pekerjaan-Nya, kita harus serius. Sekalipun kerabat kita mati karena dihukum oleh Allah, kita harus memperhatikan kepentingan Allah dan bukan kepentingan kita. Berperilaku dalam keadaan demikian seolah-olah kita tidak menderita memperlihatkan bahwa kita berada di bawah kekepalaan Kristus

E. Seluruh Kaum Israel Menangis karena Api yang Dinyalakan TUHAN Telah Berkobar

Imamat 10:6c mengatakan, “Tetapi saudara-saudaramu, yaitu seluruh bangsa Israel, merekalah yang harus menangis karena api yang dinyalakan TUHAN itu.” Ini menandakan seluruh umat Allah harus berdukacita karena penghakiman Allah atas ketidakkudusan pelayan-pelayan-Nya.

F. Imam-imam Tidak Boleh Pergi dari Depan Pintu Kemah Pertemuan

supaya Mereka Jangan Mati, karena Minyak Urapan TUHAN Ada di Atas Mereka

“Janganlah kamu pergi dari depan pintu Kemah Pertemuan, supaya jangan kamu mati, karena minyak urapan TUHAN ada di atasmu” (ayat 7a). Imam-imam tidak boleh meninggalkan pintu Kemah Pertemuan bahkan untuk menghadiri pemakaman, karena minyak urapan kudus, yang melambangkan Allah Tritunggal yang telah melalui proses, ada di atas mereka. Ini melambangkan bahwa pelayan-pelayan Allah, yang mengemban Roh Kudus Allah, seharusnya tidak meninggalkan pintu hidup gereja, supaya mereka jangan menderita kematian rohani.

G. Imam-imam Tidak Boleh Minum Anggur Ketika

Masuk ke Dalam Kemah Pertemuan,

supaya Mereka Jangan Mati, supaya Mereka Dapat

Membedakan Antara yang Kudus dan yang Umum,

Antara yang Najis dan yang Tidak Najis,

dan supaya Mereka Dapat Mengajarkan

kepada Bangsa Itu Semua Ketetapan TUHAN

“Tuhan berfirman kepada Harun: ‘Janganlah engkau minum anggur atau minuman keras, engkau serta anak-anakmu, bila kamu masuk ke dalam Kemah Pertemuan, supaya jangan kamu mati. Itulah suatu ketetapan untuk selamanya bagi kamu turun-temurun. Haruslah kamu dapat membedakan antara yang kudus dengan yang tidak kudus, antara yang najis dengan yang tidak najis, dan haruslah kamu dapat mengajarkan kepada orang Israel segala ketetapan yang telah difirmankan TUHAN kepada mereka dengan perantaraan Musa’” (ayat 8-11). Ini melambangkan bahwa pelayan-pelayan Allah yang datang ke dalam hidup gereja seharusnya tidak meminum sesuatu dari kenikmatan duniawi, kesenangan daging, dan kegembiraan alamiah, supaya mereka tidak menderita kematian rohani tetapi dapat membedakan antara yang kudus dengan yang umum dan antara yang tidak najis dengan yang najis, dan mengajarkan peraturan-peraturan Allah kepada umat-Nya. Jika kita mencurahkan perhatian kepada pelajaran dari kasus Nadab dan Abihu, kita akan mendapat banyak pelajaran. Sebenarnya pelajaran ini akan memimpin kita bagaimana menjamah hal-hal mengenai Allah.