← Daftar isi Imamat (2) · bab 12/23

HASIL PELAYANAN IMAMAT

Pembacaan Alkitab: Im. 9:4, 6, 22-24

Dalam berita ini kita akan mencurahkan perhatian kita kepada hasil, akibat, pelayanan imamat kita. Hasil jabatan imam kita sulit dibicarakan, karena hasil ini bukan sesuatu yang material, tetapi sesuatu yang rohani, rahasia, surgawi, dan ilahi. Hasil pelayanan imamat Perjanjian Baru adalah Allah menampakkan diri kepada kita (ayat 4), kemuliaan Allah tertampak kepada kita (ayat 6, 23b), berkat ilahi (ayat 22-23), dan api yang menghanguskan (ayat 24). Sekarang, mari kita perhatikan setiap perkara ini.

I. ALLAH MENAMPAKKAN DIRI KEPADA KITA

Perihal Allah menampakkan diri kepada kita berhubungan dengan kita mengambil Kristus sebagai kurbankurban persembahan. Ketika kita mengakui kesalahan, kegagalan, dan pelanggaran kita, dengan spontan kita mengambil Kristus sebagai kurban penghapus dosa dan kurban penebus salah kita. Ini memimpin kita mengambil Dia sebagai kurban bakaran kita. Kita boleh memberi tahu Dia, “Tuhan Yesus, Engkau adalah kurban bakaranku. Aku tidak dapat mutlak untuk Allah, tetapi Engkau dapat. Sekarang aku mengambil Engkau, Tuhan, sebagai kemutlakanku untuk Allah.” Doa semacam ini menunjukkan bahwa kita damba memperhidupkan Kristus bagi kepuasan Allah. Kurban penghapus dosa dan kurban bakaran kemudian akan memimpin kita mengambil Kristus sebagai kurban sajian. Kita akan mempersembahkan bagian terbaik kepada Allah sebagai makanan-Nya, dan kita akan makan Kristus setiap hari, sebagai suplai hayat kita setiap hari. Selain itu, kita akan dibawa ke dalam perasaan damai sejahtera, ke dalam keadaan yang tenang, dan menikmati Kristus sebagai damai sejahtera, perhentian, kepuasan, dan penghiburan kita. Sebagai hasil dari mengambil Kristus sebagai semua kurban persembahan ini, hadirat Allah akan menyertai kita. Ini adalah Allah menampakkan diri kepada kita. Kita tidak dapat melihat Dia atau menjamah Dia secara jasmani, tetapi kita memiliki perasaan bahwa Dia menampakkan diri kepada kita. Karena tidak dapat menyangkal perasaan bahwa Allah telah menampakkan diri kepada kita, kita akan menyembah Dia, mempersembahkan kepada Dia pujian dan ucapan syukur kita. Ini adalah pengalaman Allah menampakkan diri kepada kita sebagai hasil dari pelayanan imamat kita. Kita harus memiliki pengalaman demikian bukan hanya di pagi hari, tetapi juga sepanjang hari.

Kita dapat mengalami Allah menampakkan diri kepada kita dalam berbagai keadaan. Sebagai contoh, kita dapat menikmati Allah menampakkan diri ketika kita sedang memberitakan Injil. Dalam pemberitaan Injil kita, kita dapat menerapkan Kristus sebagai kurban-kurban persembahan, dan sebagai hasilnya kita menikmati Allah menampakkan diri kepada kita. Sering kali kita menikmati hal ini dalam sidang-sidang gereja. Mungkin saja Allah menampakkan diri kepada kita bahkan ketika kita sedang berjalan.

Jabatan imam Perjanjian Baru kita menghasilkan kenikmatan atas Allah dalam penampakan-Nya. Biasanya penampakan diri Allah itu tenang dan menyebabkan kita diam tenang. Kadang-kadang Allah secara berdaulat mengatur lingkungan kita agar serasi dengan ketenangan penampakan diri-Nya. Pada saat itu, sepertinya segenap alam semesta tenang, hanya ada kita dan Allah. Penampakan diri Allah yang tenang ini adalah hasil pertama dari pelayanan imamat Perjanjian Baru kita.

II. KEMULIAAN ALLAH TERTAMPAK KEPADA KITA

Hasil kedua dari pelayanan imamat adalah kemuliaan Allah tertampak kepada kita. Ketika kita melayani Allah dalam roh kita melalui menikmati Kristus menurut peraturan-peraturan Allah, kita akan menikmati penampakan Allah, yang sering diikuti dengan penampakan kemuliaan Allah. Kemuliaan Allah adalah Allah terekspresi. Ketika Allah diekspresikan, itulah kemuliaan. Ketika kita melayani Allah dengan Kristus sebagai kurban-kurban persembahan menurut peraturan-peraturan Allah dan bukan menurut pilihan kita sendiri, kita akan menikmati penampakan kemuliaan Allah. Kita akan melihat Allah terekspresi dalam berbagai cara. Sebagai contoh, ketika kita masuk ke rumah orang yang tidak percaya untuk memberitakan Injil, kita dapat merasakan kemuliaan Allah ternyata dalam pembicaraan kita atau dalam ekspresi dan tingkah lakunya terhadap kita. Selain itu, kita sering menikmati kemuliaan Allah, ekspresi-Nya, dalam sidangsidang gereja. Mungkin suatu sidang khusus tidak begitu hidup, tetapi kemudian seseorang mempersembahkan satu doa yang hidup, demikian sidang dibangkitkan dan dibangunkan. Pada saat itu kita dapat merasakan Allah diekspresikan dalam kemuliaan.

Dalam 2Korintus 3, Paulus menulis mengenai kemuliaan ministri Perjanjian Lama dan kemuliaan ministri Perjanjian Baru. “Pelayanan yang memimpin kepada kematian terukir dengan huruf pada loh-loh batu. Namun, sewaktu diberikan, kemuliaan Allah menyertainya. Sebab sekalipun pudar juga, cahaya muka Musa begitu cemerlang, sehingga mata orang-orang Israel tidak tahan menatapnya. Jika pelayanan itu datang dengan kemuliaan yang demikian betapa lebih besar lagi kemuliaan yang menyertai pelayanan Roh! Sebab, jika pelayanan yang memimpin kepada penghukuman itu mulia, betapa lebih mulianya lagi pelayanan yang memimpin kepada pembenaran” (ayat 7-9). Pada Musa, yang mengemban ministri kematian dan penghukuman Perjanjian Lama, pada wajahnya terpancar kemuliaan, kemuliaan jasmani. Kita yang mengemban ministri Perjanjian Baru, dari Roh dan kebenaran, memiliki kemuliaan dalam hayat dan dalam roh.

Perhimpunan (sidang) orang Kristen itu ajaib dan misterius karena berhubungan dengan Allah. Tuhan Yesus berkata, “Sebab di mana dua atau tiga orang berkumpul dalam Nama-Ku, di situ Aku ada di tengah-tengah mereka” (Mat. 18:20). Kita percaya bahwa Tuhan menyertai kita dalam setiap perhimpunan, tetapi Dia hadir dalam berbagai cara, dan tergantung pada keadaan kita dalam perhimpunan, Dia membuat kita memiliki berbagai perasaan mengenai perhimpunan itu. Sebagai contoh, pada satu kesempatan Dia membuat kita memiliki perasaan maut untuk menunjukkan bahwa keadaan kita salah. Pada kesempatan lain Dia mungkin membarakan setiap orang dalam perhimpunan itu, dan semua yang hadir merasa bahwa Allah sedang membarakan mereka. Jenis penggerakan ini benar-benar ilahi, dan dalam kesempatan ini Allah menampakkan diri kepada kita dalam kemuliaan-Nya, dalam ekspresi-Nya.

Perihal kemuliaan Allah tertampak dalam perhimpunan gereja berhubungan dengan kenikmatan kita atas Kristus sebagai kurban-kurban persembahan. Jika dalam gereja ada dua ratus orang beriman, dan enam puluh orang mau menikmati Kristus sebagai kurban-kurban persembahan sepanjang hari, pada malam hari ketika mereka berkumpul, penampakan Allah dan ekspresi Allah akan ada di antara mereka. Berkumpulnya mereka ke dalam nama Kristus adalah ekspresi Allah. Namun, keadaan sebaliknya akan terjadi jika tidak ada seorang pun dari kaum beriman yang menikmati Kristus sebagai kurban-kurban persembahan. Berkumpulnya mereka tidak akan mengekspresikan Allah.

Atmosfer perhimpunan menunjukkan bagaimana kita terhadap Allah. Tidak ada seorang pun dapat berpura-pura. Perhimpunan adalah pameran sejati atas kehidupan kristiani kita, khususnya, sampai tingkat mana kita menikmati Kristus dalam kehidupan pribadi kita setiap hari dan dalam kehidupan keluarga kita setiap hari. Perhimpunan kita adalah pameran dari kenikmatan kita atas Kristus yang sebenarnya. Jika kita menikmati Kristus, perhimpunan akan menjadi pameran kekayaan Kristus. Jika kita tidak menikmati Kristus, tidak akan ada pameran kekayaan Kristus dalam perhimpunan. Dalam perkara ini teriakan dan pujian tidak membantu, sebab perhimpunan bukan di bawah kendali kita. Yang penting di sini adalah pengalaman kita atas Kristus mempengaruhi perhimpunan kita, khususnya mempengaruhi, bahkan menentukan, atmosfer perhimpunan gereja.

Atmosfer perhimpunan adalah petunjuk penampakan kemuliaan Allah, dan penampakan ini tergantung pada melayankan Kristus sebagai kurban-kurban persembahan. Ketika kita melayankan Kristus sebagai berbagai kurban persembahan, kita menikmati Dia, dan mereka yang kita layani juga menikmati Dia. Ini akan mempengaruhi atmosfer perhimpunan kita, karena ini akan menghasilkan kemuliaan Allah tertampak kepada kita.

III. HARUN MEMBERKATI BANGSA ITU

Imamat 9:22 mengatakan, “Harun mengangkat kedua tangannya atas bangsa itu, lalu memberkati mereka, kemudian turunlah ia, setelah mempersembahkan kurban penghapus dosa, kurban bakaran dan kurban pendamaian” (Tl.). Ini melambangkan Kristus sebagai Imam Besar kita setelah penyaliban-Nya memberkati kita dalam kebangkitan-Nya (Luk. 24:50).

Dalam kebangkitan-Nya, Tuhan menyertai kita hari demi hari sampai akhir zaman (Mat. 28:20). Penyertaan Tuhan bagi kita adalah berkat-Nya. Asal kita memiliki penyertaan-Nya, kita ada di bawah berkat-Nya. Ketika berkat-Nya menyertai kita, kesalahan-kesalahan kita pun akan menjadi berkat. Namun, tanpa penyertaan-Nya, walaupun kita benar dalam segala sesuatu, tidak berarti apaapa selain kesia-siaan. Walaupun Imam Besar kita telah pergi ke surga, Dia masih tetap menyertai kita; penyertaan-Nya adalah berkat bukan saja dalam hidup gereja, tetapi juga dalam kehidupan keluarga kita dan dalam realitas kehidupan kita setiap hari.

Penyertaan Tuhan adalah berkat kita, berkat ini mencapai kita melalui kita menerapkan Dia sebagai semua kurban persembahan. Setiap hari kita perlu menerapkan Kristus sebagai kurban penghapus dosa, kurban bakaran, kurban sajian, dan kurban pendamaian kita. Jika kita menerapkan Dia sebagai kurban-kurban persembahan ini, kita akan memiliki berkat-Nya, yang adalah penyertaan-Nya.

Yohanes 3:16 mengatakan bahwa Allah begitu mengasihi dunia ini, sehingga Ia mengaruniakan Anak Tunggal-Nya. Dalam cara apakah Allah mengaruniakan Anak-Nya kepada kita? Allah mengaruniakan Dia kepada kita sebagai semua kurban persembahan. Ketika kita menerapkan kurban penghapus dosa, kita menerapkan satu aspek dari Kristus. Ketika kita menerapkan kurban bakaran, kita menerapkan aspek yang lain dari Kristus. Ketika kita menerapkan kurban sajian dan kurban pendamaian, kita menerapkan aspek yang lainnya lagi dari Kristus.

Juruselamat kita adalah kurban penghapus dosa satusatunya. Ketika kita bertobat dan percaya kepada Tuhan Yesus, kita menerapkan Dia sebagai kurban penghapus dosa tanpa menyadarinya. Selanjutnya, kita mungkin terinspirasi hidup mutlak untuk Allah. Walaupun kita belum mendengar tentang kurban bakaran, kita berdoa dan mempersembahkan diri kita kepada Allah. Pada saat itu, Roh itu mungkin memperlihatkan kepada kita bahwa kita adalah dosa, bahkan kusta, dan kita tidak dapat hidup mutlak untuk Allah. Kemudian kita mungkin berdoa, “Tuhan Yesus, aku tidak dapat mutlak untuk Allah, tetapi Engkau mutlak, dan Engkau dapat menjadi kemutlakanku.” Ini adalah menerapkan Kristus, Anak yang dikaruniakan kepada kita oleh Allah, sebagai kurban bakaran.

Banyak orang Kristen memahami Yohanes 3:16 secara umum. Bagaimana kita dapat menerima Kristus sebagai karunia yang besar dari Allah jika kita tidak menerapkan Kristus sebagai kurban-kurban persembahan? Jika kita mau menikmati persona almuhit ini, kita perlu setiap hari menerapkan Dia sebagai kurban penghapus dosa, kurban bakaran, kurban sajian, dan kurban pendamaian kita. Demikian, kita bisa dalam setiap aspek menikmati penyertaan-Nya sebagai berkat kita.

IV. MUSA DAN HARUN MASUK KE DALAM KEMAH PERTEMUAN DAN KELUAR

UNTUK MEMBERKATI BANGSA ITU

“Masuklah Musa dan Harun ke dalam Kemah Pertemuan. Setelah keluar, mereka memberkati bangsa itu” (Im. 9:23a). Ini melambangkan Kristus sebagai Raja dan Imam Besar kita masuk ke surga menjadi Imam rajani kita (Kis. 5:31; Ibr. 4:14; 7:1) dan akan keluar dari surga untuk memberkati kita. Musa dan Harun melambangkan Kristus. Musa adalah pemimpin, raja, dan Harun adalah imam besar. Hari ini Kristus adalah Raja kita dan Imam Besar kita. Ketika Dia datang kepada kita, Dia datang dengan berkat-berkat, dan penyertaan-Nya adalah berkat almuhit yang kita perlukan. Kita dapat menikmati berkat ini hanya melalui menerapkan Kristus sebagai kurban-kurban persembahan. Jika kita menerapkan Dia sebagai kurban penghapus dosa, kurban bakaran, kurban sajian, dan kurban pendamaian kita, kita akan memiliki berkat yang kita perlukan.

Berkat Harun dan Musa atas orang Yahudi masih berkhasiat. Berkat ini akan berlanjut sampai seluruh bangsa Israel bertobat dan kembali ke Juruselamat pada kedatangan-Nya kali kedua. Prinsipnya sama dengan berkat rohani yang kita nikmati hari ini. Berkat rohani lebih tahan lama daripada yang kita bayangkan. Saya masih menikmati berkat-berkat tertentu yang saya terima bertahun-tahun yang lalu. Karena itu, berkat rohani adalah perkara yang besar. Perjanjian Baru menyuruh kita memberkati orang lain dan bukan mengutuk mereka (Luk. 6:28; Rm. 12:14). Bahkan jika kita dibenci, dianiaya, dan difitnah, kita harus memberkati orang-orang yang menganiaya kita dan berdoa supaya Tuhan mengampuni mereka. Dalam perasaan kita, tidak seorang pun harus berada di bawah kutuk.

V. API KELUAR DARI HADAPAN ALLAH

LALU MENGHANGUSKAN KURBAN BAKARAN

“Dan keluarlah api dari hadapan TUHAN, lalu menghanguskan kurban bakaran dan segala lemak di atas mezbah. Tatkala seluruh bangsa itu melihatnya, bersorak-sorailah mereka, lalu sujud menyembah” (Im. 9:24). Api ini melambangkan bahwa kekudusan Allah sebagai api yang menghanguskan memperkenan kurban-kurban persembahan kita melalui membakar. Setiap hal yang sesuai dengan sifat kudus Allah diperkenan melalui dibakar. Namun, setiap hal yang tidak sesuai dengan tuntutan kekudusan Allah akan dihakimi oleh kekudusan Allah melalui dibakar. Dalam kasus demikian, api mewakili Allah yang adalah api yang menghanguskan (Ibr. 12:29).

Setelah kita menikmati penyertaan Allah, kemuliaan-Nya, dan berkat Tuhan, kita harus bersiap untuk menerima api yang menghanguskan. Hukum rohani menetapkan bahwa berkat Allah diikuti oleh api yang menghanguskan berupa penderitaan. Api ini adalah tanda bahwa Allah memperkenan apa yang kita persembahkan kepada Dia dalam Kristus dan dengan Kristus.

Api yang sama, yang adalah perwakilan kekudusan Allah, dapat menjadi api yang menghanguskan untuk perkenan Allah atau api penghakiman. Api yang menghanguskan memperkenan persembahan Stefanus (Kis. 7:55-59), sedangkan pada kedatangan Titus pada tahun 70 M, api yang menghanguskan ini menghakimi campur aduk di Yerusalem.

Bagi kita hari ini, api yang menghanguskan dapat menjadi perkenan ilahi dari persembahan kita untuk Allah, atau mungkin menjadi penghakiman Allah dikarenakan kesalahan-kesalahan kita. Bagaimana kita tahu api yang menghanguskan itu perkenan Allah atau penghakiman Allah? Ini dapat dibedakan oleh keadaan kita. Jika kita menikmati Kristus dan mempersembahkan Dia kepada Allah, api yang menghanguskan akan menjadi perkenan Allah. Namun, jika kita menyalahi pemerintahan Allah dan pembakaran datang kepada kita, pembakaran ini adalah penghakiman Allah atas kita karena menjamah pemerintahan-Nya. Ini adalah perkara serius.