← Daftar isi Imamat (2) · bab 11/23

PERMULAAN PELAYANAN IMAMAT HARUN DAN ANAK-ANAKNYA

Pembacaan Alkitab: Im. 9:1-21

Kitab Imamat memperlihatkan kepada kita permulaan yang baru, di sini, untuk kali pertama umat Allah mempersembahkan kurban-kurban persembahan kepada Allah menurut pengaturan Allah. Ini adalah kali pertama umat Allah mempersembahkan Kristus kepada Allah bukan hanya menurut keperluan mereka, tetapi juga menurut hukumhukum Allah, peraturan-peraturan-Nya. Sebelum itu, beberapa orang, seperti Habel, Nuh, dan Abraham, mempersembahkan kurban kepada Allah, tetapi pada saat orang Israel merayakan Paskah (Kel. 12:1-28) barulah kurban-kurban persembahan ini dipersembahkan kepada Allah menurut arahan-Nya. Tegasnya, walaupun domba Paskah adalah satu persembahan, namun tidak disebut kurban persembahan.

Dalam Kitab Imamat, setelah Kemah Pertemuan didirikan, Allah memiliki tempat tinggal di bumi, yang dari dalamnya Dia bisa berbicara kepada umat-Nya. Kategori pertama pembicaraan-Nya menyinggung tentang kurban persembahan (Im. 1—7). Kurban-kurban persembahan bukan saja diperlukan oleh manusia dan diminta oleh Allah, tetapi juga ditetapkan Allah dalam peraturan-peraturan yang mutlak menurut pikiran dan kedambaan Allah. Musa tentu menyadari makna dari kurban-kurban persembahan ini dalam hubungannya dengan perkara pendamaian (Im. 9:7), namun mengenai rincian kurban-kurban persembahan dia mungkin kurang memahami.

Dalam Kitab Imamat, orang Israel mulai melaksanakan persembahan kepada Allah dalam cara yang tidak pernah dilakukan sebelumnya. Kurban-kurban persembahan ini sekarang dipersembahkan kepada Allah bukan oleh perorangan, tetapi oleh umat, jemaat, dan bukan di tempat pilihan mereka. Allah menyuruh umat-Nya datang ke depan pintu Kemah Pertemuan untuk mengontak Dia dan mempersembahkan kurban-kurban persembahan mereka melalui imam-imam, bukan oleh diri mereka sendiri. (Ini berbeda dengan Habel, Nuh, dan Abraham, yang bukan saja sebagai orang yang mempersembahkan, tetapi juga sebagai imam-imam yang melayani.) Cara mempersembahkan kurbankurban persembahan menjadi liturgi, bentuk atau cara untuk dilaksanakan di hadapan Allah di depan pintu tempat tinggal-Nya menurut peraturan-peraturan, hukum-hukum, dan arahan-arahan-Nya. Semua ini memang sesuatu yang baru.

Walaupun Musa tidak melihat bahwa kurban-kurban persembahan ini adalah Kristus, tetapi Allah sebenarnya memberi perintah kepada umat-Nya tentang bagaimana menerapkan Kristus sebagai semua kurban persembahan menurut hukum-hukum Allah. Hari ini kita perlu belajar bagaimana menerapkan Kristus menurut tuntutan Allah. Pagi-pagi, kita perlu menerapkan Kristus sebagai kurban bakaran, kurban penghapus dosa, dan kurban sajian kita, supaya kita memiliki sesuatu untuk menempuh hidup sepanjang hari. Sekarang, mari kita perhatikan catatan dalam Imamat 9:1-21 berkenaan dengan permulaan pelayanan imamat Harun dan anak-anaknya.

I. PADA HARI KEDELAPAN

Permulaan pelayanan imamat Harun dan anak-anaknya terjadi pada hari kedelapan (ayat 1), yang melambangkan kebangkitan (Mrk. 16:9a). Ini menunjukkan bahwa pelayanan imamat harus ada di dalam kebangkitan (Lihat Why. 20:6). Hari kedelapan dalam Imamat 9:1 mengacu kepada hari setelah tujuh hari pentahbisan Harun dan anakanaknya. Selama tujuh hari ini, Harun dan anak-anaknya melewati prosedur yang sama. Pada hari kedelapan, hari setelah menjalani pentahbisan, mereka memiliki permulaan yang baru. Jadi, hari kedelapan menyiratkan permulaan yang baru dan mengakhiri yang usang.

Sebagai imam-imam Allah, jabatan imam kita, pelayanan imamat kita, seluruhnya harus berada dalam kebangkitan. Hayat alamiah, manusia lama, dan daging tidak ada kedudukan di sini. Namun sayangnya, dalam hidup gereja banyak hal yang alamiah, dan banyak keusangan. Hal-hal demikian bukan pada hari kedelapan; yaitu, tidak berada dalam ruang lingkup kebangkitan, tetapi dalam ruang lingkup hayat alamiah.

Kita mungkin menghakimi hal-hal yang jahat, tetapi mungkin kita tidak menghakimi hal-hal yang baik yang dilakukan dalam ciptaan lama. Sebagai contoh, kita menghakimi kebencian, tetapi kita tidak menghakimi kasih yang bersifat alamiah dan bukan dalam Roh. Sebaliknya, dalam Perjanjian Baru ada pembahasan tentang kasih alamiah, yang sebenarnya adalah sejenis “madu”. Menurut Imamat 2, ragi atau madu tidak boleh ditambahkan kepada kurban sajian. Ragi mengacu kepada apa yang jahat, dan madu mengacu kepada apa yang baik di dalam alamiah. Kebencian alamiah adalah ragi, kasih alamiah adalah madu. Kebencian alamiah adalah jahat, kasih alamiah adalah baik. Namun, baik atau jahat, keduanya berasal dari sumber yang sama, pohon pengetahuan yang baik dan yang jahat. Karena kebencian alamiah dan kasih alamiah bersifat alamiah, keduanya milik pohon pengetahuan baik dan jahat; dan karena keduanya milik pohon ini, keduanya harus dihakimi. Itulah sebabnya dalam Injil Yohanes, ketika Tuhan Yesus ditanyai soal yang baik dan jahat, benar dan salah, ya dan tidak, Dia selalu mengarahkan orang kepada hayat. Perhatian Tuhan tertuju pada hayat, bukan pada yang baik atau yang jahat.

Pelayanan imamat yang kita berikan kepada Allah harus dalam kebangkitan. Realitas kebangkitan adalah Kristus sebagai Roh pemberi-hayat (1Kor. 15:45b). Segala sesuatu yang kita kerjakan dalam Roh itu ada pada hari kedelapan, dalam kebangkitan. Segala sesuatu yang kita kerjakan di luar Roh itu, dalam hayat alamiah, pikiran, atau emosi kita, bukan berada pada hari kedelapan, bukan dalam kebangkitan.

Saya harap semua orang beriman, termasuk orang yang baru beroleh selamat, bisa menerima perkataan mengenai pelayanan imamat pada hari kedelapan. Ketika Anda bermaksud memperlihatkan kasih terhadap seseorang, Anda perlu memperhatikan apakah kasih ini timbul dari roh Anda atau dari emosi alamiah Anda. Apakah kasih ini berasal dari kesenangan alamiah Anda, menyukai seseorang dan tidak menyukai yang lain? Tidak hanya demikian, karena kasih alamiah Anda terhadap seseorang, mungkin Anda menyenangi orang itu secara khusus. Ini adalah madu, dan madu akhirnya meragi dan menjadi sama seperti ragi. Ini berarti dalam pandangan Allah, kasih alamiah sama jahatnya dengan kebencian alamiah.

Tuhan sering meminta kita untuk mengasihi orang yang tidak dapat kita kasihi dalam hayat alamiah kita dan dengan kasih alamiah kita. Satu-satunya cara kita agar dapat mengasihi orang itu adalah mengasihinya dengan kasih yang bukan alamiah, melainkan dalam kebangkitan. Semua pelayanan kita harus berada dalam roh, dalam kebangkitan.

II. HARUN MEMPERSIAPKAN KURBAN PENGHAPUS DOSANYA

DAN KURBAN BAKARANNYA,

MENGADAKAN PENDAMAIAN BAGI DIRINYA DAN BAGI BANGSA ITU

Imamat 9:7 mengatakan, “Kata Musa kepada Harun: ‘Datanglah mendekat kepada mezbah, olahlah kurban penghapus dosa dan kurban bakaranmu, dan adakanlah pendamaian bagimu sendiri dan bagi bangsa itu; sesudah itu olahlah persembahan bangsa itu dan adakanlah pendamaian bagi mereka, seperti yang diperintahkan TUHAN.’” Dalam ayat ini kita melihat bahwa Harun harus mengadakan pendamaian bagi dirinya dan bagi bangsa itu. Istilah “pendamaian” perlu dibedakan dengan istilah “penebusan”, karena kata-kata itu tidak memiliki arti yang sama; melainkan memiliki perbedaan yang besar. Penebusan dirampungkan oleh kematian Tuhan Yesus di atas salib dan istilah ini seharusnya dipakai hanya untuk Perjanjian Baru. Sebelum Dia mencurahkan darah-Nya di atas salib, tidak ada penebusan. Apa yang kita miliki dalam Perjanjian Lama adalah pendamaian. Kadang-kadang kata Ibrani yang diterjemahkan “pendamaian” diterjemahkan “penebusan” (atonement). Penebusan adalah perkara perujuk; mengacu kepada membereskan keadaan dua pihak supaya mereka akur, menjadikan mereka satu. Pendamaian mengacu kepada membereskan keadaan antara dua pihak melalui melakukan sesuatu untuk satu pihak agar dia dapat memuaskan permintaan pihak lain.

Sebagai orang dosa, kita bermasalah dengan Allah yang adil dan benar. Walaupun Dia mengasihi kita, sesuatu yang tidak benar masih ada antara kita dengan Dia. Setelah keadaan yang tidak benar ini dibereskan, barulah kita dapat menjadi satu dengan Allah. Karena itu, di atas salib Kristus merampungkan penebusan untuk kita. Kristus bukan hanya mencurahkan darah-Nya untuk merampungkan penebusan, bahkan dalam kenaikan-Nya, Dia masuk ke surga dan mempersembahkan darah-Nya di hadapan Allah. Melalui mempersembahkan darah-Nya ini, Dia memperoleh penebusan kekal untuk kita (Ibr. 9:12). Ketika kita percaya ke dalam Kristus, kita masuk ke dalam Dia dan menerima penebusan ini.

Apa yang dilakukan Allah untuk menanggulangi dosadosa kaum beriman Perjanjian Lama sebelum Kristus datang? Allah menutupi dosa-dosa mereka, tetapi tidak menyingkirkannya. Paulus memberi tahu kita dengan jelas bahwa “sebab tidak mungkin darah lembu jantan atau darah kambing jantan menghapuskan dosa” (Ibr. 10:4). Sebaliknya, dengan kurban ini pada hari raya pendamaian, “setiap tahun orang diperingatkan akan adanya dosa” (ayat 3). Dosa-dosa kaum beriman Perjanjian Lama tetap tinggal, tetapi dosa-dosa itu telah ditutupi. Penutupan ini terjadi pada tutup pendamaian (Rm. 3:25), yang menutupi tabut kesaksian. Di dalam tabut ada dua loh batu, dengan lima perintah dituliskan di setiap lohnya. Sepuluh Perintah menghakimi setiap orang yang mendekati Allah. Namun, darah kurban penghapus dosa yang ditumpahkan pada hari pendamaian dipercikkan ke atas penutup tabut untuk mengadakan pendamaian. Maka, penutup tabut dikenal sebagai tutup pendamaian.

Dalam Imamat 9:7, Harun disuruh mengadakan pendamaian bagi dirinya dan bagi bangsa itu. Dia bermasalah dengan Allah, dan dia perlu melakukan sesuatu untuk membereskan keadaan itu, supaya dia dapat berdamai dengan Allah.

A. Menandakan bahwa Harun sebagai Orang

yang Berdosa Perlu Mengambil Kristus sebagai

Kurban Penghapus Dosa dan Kurban Bakaran

agar Dia Bisa Menjadi Imam untuk Melayani Allah

Harun terlebih dulu menyiapkan kurban penghapus dosa dan kurban bakaran dan mengadakan pendamaian untuk dirinya, ini menandakan sebagai orang dosa, dia perlu mengambil Kristus sebagai kurban penghapus dosa dan kurban bakarannya agar dia dapat menjadi imam untuk melayani Allah. Sebelum dia dapat melayani sebagai imam, Harun harus membereskan keadaannya. Dia memerlukan kurban penghapus dosa dan juga kurban bakaran.

Hari ini kurban penghapus dosa mengingatkan kita: pada diri kita ada banyak hal negatif; kurban bakaran mengingatkan kita: kita harus mutlak hidup untuk Allah, namun kita belum mutlak. Kita perlu mengambil Kristus sebagai kurban penghapus dosa kita untuk menebus kita kembali ke keadaan yang penuh damai dengan Allah, dan kita perlu mengambil Kristus sebagai kurban bakaran, sebagai Dia yang hidup di dalam kita dan hidup untuk kita, menempuh hidup yang mutlak bagi Allah.

B. Menandakan Harun Melambangkan Kristus

Mempersembahkan Diri-Nya Sendiri

sebagai Kurban Penghapus Dosa untuk Menebus

Umat Allah, dan sebagai Kurban Bakaran

untuk Umat Allah Menjadi Kepuasan Allah

Harun mempersiapkan kurban penghapus dosa dan kurban bakaran juga menandakan bahwa Harun melambangkan Kristus mempersembahkan diri-Nya sendiri sebagai kurban penghapus dosa untuk menebus umat Allah dan sebagai kurban bakaran untuk umat Allah menjadi kepuasan Allah. Dalam kurban penghapus dosa, umat Allah adalah satu dengan Kristus; jadi, kita ditebus di dalam Kristus. Dia telah memperoleh, mendapatkan penebusan. Selama kita satu dengan Dia, kita memiliki penebusan. Dalam kurban bakaran Kristus bersatu dengan umat Allah; jadi, Dia hidup di dalam kita supaya kita dapat memperhidupkan Dia untuk kepuasan Allah. Kurban penghapus dosa adalah di dalam kematian, dan kurban bakaran adalah di dalam kebangkitan. Kita adalah satu dengan Kristus dalam kematian-Nya, dan Dia adalah satu dengan kita dalam kebangkitan-Nya.

C. Melambangkan Kristus Adalah Imam Besar Kita,

Apa pun yang Dia Lakukan Adalah untuk Kita,

supaya Kita Dapat Ditebus dari Dosa dan Memuaskan Allah

Akhirnya, persiapan Harun atas kurban penghapus dosa dan kurban bakaran melambangkan Kristus adalah Imam Besar kita, apa pun yang Dia lakukan, Dia lakukan untuk kita, supaya kita dapat ditebus dari dosa dan memuaskan Allah. Dalam Kristus yang hidup kita memuaskan Allah melalui hidup mutlak untuk Dia.

III. HARUN MEMPERSEMBAHKAN KURBAN PENGHAPUS DOSA,

KURBAN BAKARAN, DAN KURBAN SAJIAN UNTUK BANGSA ITU

“Sesudah itu dibawanya persembahan bangsa ke mezbah; diambilnyalah kambing jantan yang akan menjadi kurban penghapus dosa yang bagi bangsa itu, lalu disembelihnya dan dipersembahkannya sebagai kurban penghapus dosa seperti yang pertama. Kemudian dibawanyalah kurban bakaran ke mezbah, dan diolahnya sesuai dengan peraturan. Selanjutnya dibawanyalah kurban sajian dan diambilnya segenggam dari padanya, lalu dibakarnya di atas mezbah, di samping kurban bakaran pada waktu pagi” (ayat 15-17). Ini melambangkan Kristus mempersembahkan diri-Nya sendiri bagi kita sebagai kurban penghapus dosa kita untuk menanggulangi dosa kita, sebagai kurban bakaran kita untuk kepuasan Allah, dan sebagai kurban sajian untuk makanan Allah dan juga makanan kita. Setiap pagi kita harus mengambil Kristus sebagai kurban-kurban persembahan ini melalui berdoa, “Tuhan, untuk hari baru ini aku mengambil Engkau sebagai kurban penghapus dosa, kurban bakaran, dan kurban sajianku, supaya aku bisa hidup berdasarkan Engkau, dengan Engkau, dan di dalam Engkau, dan bahkan memperhidupkan Engkau untuk kepuasan Allah.”

IV. HARUN MEMPERSEMBAHKAN KURBAN PENDAMAIAN UNTUK BANGSA ITU

Dalam 9:18-21 kita melihat Harun mempersembahkan kurban pendamaian untuk bangsa itu. Ini melambangkan Kristus mempersembahkan diri-Nya sendiri sebagai kurban pendamaian kita supaya kita dan Allah menikmati Kristus sebagai damai sejahtera. Kita menikmati damai sejahtera ini seperti kita menikmati Kristus pada meja Tuhan. Kenikmatan atas Kristus sebagai kurban pendamaian dalam ayat 18-21 berdasar pada Kristus sebagai kurban penghapus dosa, kurban bakaran, dan kurban sajian kita, seperti dibahas dalam ayat 7-17. Mungkin Anda bertanya, mengapa dalam ayat ini tidak disebutkan kurban penebus salah. Di sini kurban penebus salah tercakup dalam kurban penghapus dosa.

Inilah kali pertamanya Kristus dalam sejarah manusia diterapkan dalam cara dan tingkat yang demikian. Dalam penerapan ini, Kristus adalah kurban penghapus dosa kita, kurban bakaran kita, dan kurban sajian kita untuk kehidupan kita setiap hari, dan hasilnya ialah kita masuk ke dalam damai sejahtera, yang adalah Kristus sendiri. Inilah makna dari kurban-kurban persembahan, yang mengacu kepada Kristus yang hidup, yang kita nikmati dan makan hari demi hari sebagai makanan kita setiap hari.