← Daftar isi Imamat (2) · bab 10/23

PENTAHBISAN HARUN DAN ANAK-ANAKNYA (3)

Pembacaan Alkitab: Im. 8:30-36

Sebelum kita membahas beberapa perkara lebih lanjut yang berhubungan dengan pentahbisan Harun dan anakanaknya, saya ingin memberikan perkataan tambahan mengenai pembubuhan darah pada cuping telinga kanan, ibu jari tangan kanan, dan ibu jari kaki kanan, serta perkataan tentang meletakkan kurban persembahan di telapak tangan imam-imam. Sedikit darah domba jantan pentahbisan dibubuhkan pada cuping telinga kanan, ibu jari tangan kanan, dan ibu jari kaki kanan Harun dan anak-anaknya. Ini melambangkan bahwa darah penebusan Kristus membersihkan telinga kita untuk mendengar, tangan kita untuk bekerja, dan kaki kita untuk bertindak (bergerak). Ini adalah untuk memikul jabatan imam Perjanjian Baru.

Pendengaran kita disebut lebih dulu, karena pendengaran mempengaruhi pekerjaan kita dan tindakan kita. Darah Kristus menanggulangi telinga kita untuk mendengarkan firman Allah, pembicaraan Allah. Untuk melayani Allah sebagai imam-imam, kita harus menjadi budak atau pelayan yang setia, bagi Allah. Seperti ditunjukkan dalam Yesaya 50:4-5, seorang pelayan harus memiliki telinga yang mendengar. Seorang pelayan yang tidak mau mendengarkan perkataan tuannya, tidak dapat melayani tuannya menurut kehendak, hati, dan kedambaan tuannya.

Ketika kita masih sebagai orang yang berdosa, kita tidak memiliki telinga untuk mendengarkan firman Allah, pembicaraan Allah. Setiap hari kita mendengar banyak hal yang lain, tetapi kita tidak mendengarkan firman Allah. Sekarang, karena kita telah beroleh selamat dan ditetapkan sebagai imam-imam Allah, pelayan-pelayan-Nya, yang utama adalah mendengarkan pembicaraan Allah. Dalam perlambangan, ketika seorang budak ingin tetap tinggal bersama tuannya, tuannya akan membawa dia ke tiang pintu dan menindik telinganya (Kel. 21:2-6), menunjukkan bahwa budak itu harus memperhatikan perkataan tuannya. Sebagai imam-imam Allah hari ini, kita harus belajar mendengarkan firman-Nya.

Hal pertama yang harus kita tanggulangi sebagai imam-imam Allah adalah pendengaran kita. Mendengarkan yang positif akan menolong kita dari mendengarkan hal-hal yang negatif. Jika kita mendengarkan firman Allah dari pagi sampai petang, telinga kita tidak akan bisa mendengarkan pembicaraan yang negatif. Pembicaraan yang negatif sangat banyak dan menyebar dalam hidup gereja, karena orang-orang tertentu memalingkan telinga mereka dari Allah kepada sesuatu yang lain. Orang-orang ini tidak membicarakan Kristus, firman Allah, anugerah, atau Injil. Sebaliknya, mereka mendengarkan hal-hal negatif, dan mereka bekerja dan bergerak menurut hal-hal negatif yang mereka dengar. Akibatnya maut menyebar. Jika kita memalingkan telinga kita dari hal-hal lain dan kembali kepada Allah sendiri, tidak akan ada masalah-masalah, dan hanya ada hayat yang menyebar, bukan maut.

Prinsipnya sama dalam kehidupan pernikahan kita. Jika seorang saudari ingin memiliki suami yang baik, ia seharusnya tidak berbicara secara negatif kepada suaminya, tetapi harus berbicara tentang Allah, Kristus, anugerah, Injil, dan terang ilahi. Pembicaraan macam ini akan membangun suaminya dan menyebabkan dia mencari Tuhan. Namun, jika ia berbicara secara negatif kepada suaminya, ia akan mematikan suaminya. Hal yang sama berlaku atas cara seorang saudara berbicara kepada istrinya. Kita semua perlu berhati-hati dalam hal mendengar. Kita perlu membubuhkan darah penebusan Kristus pada telinga kita, ibu jari tangan kita, dan ibu jari kaki kita.

Pentahiran cuping telinga kanan, ibu jari tangan kanan, dan ibu jari kaki kanan diperlukan pada dua kesempatan: pada saat penetapan imam-imam dan pada saat pentahiran orang kusta (Im. 14:14). Orang kusta dan imam-imam perlu ditahirkan dengan darah penebusan pada telinga, ibu jari tangan, dan ibu jari kakinya. Ini menunjukkan bahwa di mata Allah, kita orang dosa yang ditetapkan sebagai imam-imam Allah adalah orang kusta. Sebagai imam-imam Allah, pelayan-pelayan-Nya, kita perlu memiliki telinga yang ditebus dari mendengar segala sesuatu selain Allah dan kembali memakainya untuk mendengar firman Allah. Pekerjaan tangan kita juga perlu ditebus agar tidak melakukan segala sesuatu selain pekerjaan Allah. Selain itu, ibu jari kaki untuk bertindak juga perlu ditebus.

Dalam Imamat 8:26-28 kita melihat bahwa satu roti bundar yang tidak beragi, satu roti bundar yang diolah dengan minyak, dan satu roti tipis (termasuk kurban sajian) diletakkan di atas bagian lemak dan paha kanan (kurban persembahan yang lain). Kedua kategori kurban persembahan ini seluruhnya diletakkan di telapak tangan Harun dan anak-anaknya. Pada saat ini, tangan Harun dan anakanaknya tidak lagi kosong. Kurban-kurban persembahan ini kemudian ditimang-timang di hadapan TUHAN (Im. 27), mungkin oleh mereka yang tangannya telah dipenuhi dengan kurban-kurban persembahan itu. Timangan ini melambangkan pergerakan Kristus dalam kebangkitan-Nya. Kurban-kurban persembahan ini mula-mula “dibunuh”, dan kemudian ditimang, yaitu, dibangkitkan, oleh karena itu menjadi kurban-kurban persembahan di hadapan TUHAN dalam kebangkitan Kristus.

Dua roti bundar, roti tipis, lemak, dan paha kanan kemudian dipersembahkan di dalam asap (menunjukkan dibakar pelan-pelan untuk mengeluarkan bau harum), di atas kurban bakaran untuk kurban pentahbisan untuk menjadi bau yang menyenangkan; itulah suatu kurban apiapian bagi TUHAN (Im. 8:28). Bau yang menyenangkan ini hanya untuk Allah sendiri; ini adalah bagian-Nya untuk kenikmatan-Nya. Bagian yang lembut, yang terbaik (lemak), yang kuat (paha kanan), dan dua roti bundar dan satu roti tipis, melambangkan berbagai aspek dari Kristus yang tanpa dosa dan keinsanian yang dibaurkan dengan Roh, adalah makanan, bukan untuk imam-imam, tetapi untuk Allah. Bagian Allah dipersembahkan di atas mezbah, yang menandakan salib. Ini menunjukkan bahwa kita mempersembahkan makanan Allah dalam persekutuan penderitaan Kristus sampai mati di atas salib. Walaupun ini adalah untuk kepuasan Allah, ini juga untuk memikul jabatan imam Perjanjian Baru kita.

Kita dapat menyatakan fakta bahwa kita adalah imam-imam Allah, tetapi mungkin tidak seorang pun di antara kita menyadari betapa banyak perkara yang tercakup dalam diri seorang imam. Tahun 1935, saya tidak tahu bahwa saya memerlukan kurban penghapus dosa untuk mengingatkan saya bahwa saya bukan apa-apa selain daging, manusia lama dalam ciptaan lama yang berkaitan dengan Satan (Iblis), dunia, dan perebutan kekuasaan. Saya mengaku sebagai seorang imam Allah, namun saya melaksanakan jabatan imam saya dalam ketidaktahuan. Saya tidak tahu bahwa untuk menjadi seorang imam dalam jabatan imam Perjanjian Baru saya memerlukan keinsanian Kristus, kuasa-Nya yang menguatkan, dan kemampuan kasih-Nya (dilambangkan oleh dada yang ditimang sebagai kurban timangan Im. 8:29 Tl.). Jika kita semua memeriksa masa lalu kita, terang anugerah Allah akan menyingkapkan di mana kita sebagai imam-imam Allah, dalam ciptaan lama, dalam daging, dan dalam hayat alamiah dengan kasih alamiah, perasaan alamiah. Mengenai hal ini, kita semua perlu disingkapkan dan ditahirkan. Kita memerlukan darah yang mentahirkan dibubuhkan pada cuping telinga kanan kita, pada ibu jari tangan kanan kita, dan ibu jari kaki kanan kita.

E. Musa Memerciki Harun dan Anak-anaknya

dan Pakaian Mereka dengan Minyak Urapan

dan Sedikit Darah untuk Menguduskan Mereka

“Dan lagi Musa mengambil sedikit dari minyak urapan dan dari darah yang di atas mezbah itu, lalu dipercikkannya kepada Harun, ke pakaiannya, dan juga kepada anak-anaknya dan ke pakaian anak-anaknya. Dengan demikian ditahbiskannyalah Harun, pakaiannya, dan juga anak-anaknya dan pakaian anak-anaknya” (Im. 8:30). Ini melambangkan bahwa Allah memerciki kita, imam-imam Perjanjian Baru, dan perilaku kita (pakaian), dengan Roh yang majemuk dan darah penebusan salib Kristus untuk memisahkan kita, menjadikan kita kudus untuk Dia.

Tidak peduli berapa banyak Allah telah menggarap kita, menanggulangi dosa kita, hayat alamiah kita, dan manusia lama kita, kita masih memerlukan lebih banyak “olesan” dari minyak urapan. Minyak urapan mengacu kepada Allah Tritunggal yang telah melalui proses dengan segala apa adanya Dia, apa yang telah Dia kerjakan, dan apa yang telah Dia alami. Allah Tritunggal yang demikian, yang telah melalui proses dan diramu dengan “rempahrempah” inkarnasi, kehidupan insani, kematian yang almuhit, kebangkitan yang ajaib, dan kenaikan yang unggul, telah menjadi minyak urapan, mengurapi, “mengecat” kita (Kel. 30:23-30). Kita perlu dicat lagi dan lagi dengan Allah Tritunggal yang telah melalui proses sebagai minyak urapan.

Untuk memiliki pengenalan yang tepat atas jabatan imam Perjanjian Baru, kita perlu mempelajari Kitab Imamat. Kitab Imamat tidak hanya untuk kaum beriman Perjanjian Lama. Jika kita memahami perlambangan kitab ini, kita akan melihat bahwa butir demi butir diterapkan kepada kita.

F. Daging dengan Roti Pentahbisan Dimakan

oleh Imam-imam di Depan Pintu Kemah Pertemuan

“Berkatalah Musa kepada Harun dan kepada anak-anaknya: ‘Masaklah daging itu di depan pintu Kemah Pertemuan; di sanalah harus kamu memakannya dengan roti yang ada di dalam bakul untuk persembahan pentahbisan, seperti yang telah kuperintahkan dengan berkata: Harun dan anak-anaknya haruslah memakannya’” (Im. 8:31). Ini melambangkan bahwa Kristus sebagai Sang penebus dengan keinsanian-Nya adalah makanan kita (Yoh. 6:51), imam-imam Perjanjian Baru, pada saat memasuki hidup gereja. Dalam Imamat 8:28 kita memiliki bagian Allah, dan dalam ayat 31 kita memiliki bagian kita. Daging di sini mengacu kepada Kristus sebagai Sang penebus, dan roti mengacu kepada keinsanian-Nya. Kristus sebagai Sang penebus dengan keinsanian-Nya adalah makanan kita.

G. Apa yang Tinggal dari Daging dan Roti Itu Dibakar Habis dengan Api

“Dan apa yang tinggal dari daging dan roti itu haruslah kamu bakar habis dengan api” (Im. 8:32). Ini melambangkan bahwa kelimpahan Kristus yang tidak habis terpakai itu harus dijaga oleh kekudusan Allah. Ayat 32 menunjukkan bahwa Kristus yang kita persembahkan kepada Allah untuk kenikmatan-Nya dan yang juga kita nikmati tidak habis terpakai. Setelah bagian Allah dipersembahkan kepada Dia dan kita menikmati bagian kita, sesuatu masih tertinggal. Dalam Imamat 8, yang tersisa itu dibakar habis dengan api, yang menandakan kekudusan Allah. Dari sini kita melihat bahwa kelimpahan Kristus yang tidak habis terpakai itu harus dijaga oleh kekudusan Allah.

X. IMAM-IMAM YANG DITAHBISKAN

TETAP TINGGAL DI DEPAN PINTU KEMAH

PERTEMUAN SELAMA TUJUH HARI UNTUK PENDAMAIAN MEREKA

Imam-imam yang ditahbiskan tetap tinggal di depan pintu Kemah Pertemuan selama tujuh hari untuk pendamaian mereka (Im. 8:33-36). Ini melambangkan bahwa kita harus memikul jabatan imam Perjanjian Baru secara menyeluruh dan lengkap untuk pendamaian kita pada saat memasuki hidup gereja. Ayat 33-35 mengatakan, “Janganlah kamu pergi dari depan pintu Kemah Pertemuan selama tujuh hari, sampai kepada genapnya perayaan pentahbisan, karena perayaan pentahbisan akan berlangsung tujuh hari lamanya. Seperti yang diperbuat pada hari ini, demikian juga diperintahkan TUHAN kamu perbuat kelak untuk mengadakan pendamaian bagimu. Di depan pintu Kemah Pertemuan haruslah kamu tinggal siang malam tujuh hari lamanya, dan kamu harus lakukan kewajibanmu terhadap TUHAN dengan setia, supaya janganlah kamu mati, karena demikianlah diperintahkan kepadaku.” Prosedur yang sama diulang selama tujuh hari. Setiap hari acara itu dilaksanakan secara khidmat, sebab setiap aspek acara itu adalah khidmat. Kekhidmatan ini ditunjukkan oleh kalimat “supaya janganlah kamu mati”. Karena itu, tidak seorang pun berani ceroboh atau sembarangan. Setiap orang sadar akan keseriusan apa yang terjadi dan apa yang akan terjadi jika seseorang bertindak ceroboh.

Ayat-ayat ini seharusnya menjadi peringatan untuk kita agar tidak masuk ke dalam kenikmatan atas Kristus secara ceroboh. Kita khususnya memerlukan peringatan ini berkenaan dengan “meja Tuhan”. Roti melambangkan tubuh Kristus, dan anggur melambangkan darah-Nya. Jika kita makan roti dan minum anggur tanpa sikap yang tepat, makan dan minum kita akan menjadi penghakiman terhadap kita sendiri (1Kor. 11:27-29). Kita perlu diingatkan tentang keseriusan dari berbagian dalam persekutuan atas kenikmatan akan Kristus dalam cara yang remeh atau sembarangan.

Pentahbisan jabatan imam berlangsung selama tujuh hari, dengan hal yang sama diulangi setiap hari. Melalui pengulangan ini, Harun dan anak-anaknya tentu secara mendalam terkesan dengan setiap perkara. Sebagai imam-imam Allah hari ini, kita juga perlu mengingat semua hal yang tercakup dalam pentahbisan dan penetapan kita sebagai imam-imam. Khususnya, kita perlu diingatkan bahwa dalam diri kita sendiri, kita adalah orang dosa, bahkan daging dosa.

Persembahan diri Harun dan anak-anaknya sangat khidmat, bukan saja dalam perlambangannya, tetapi juga dalam penerapannya untuk kita hari ini. Jika kita menyadari keseriusan perkara ini, kita juga akan menyadari betapa kita memerlukan belas kasihan Tuhan dan pembasuhan darah-Nya. Kita akan memohon Tuhan membelaskasihani kita, dan kita akan bersembunyi di bawah penudungan darah-Nya.