← Daftar isi Imamat (2) · bab 9/23

PENTAHBISAN HARUN DAN ANAK-ANAKNYA (2)

Pembacaan Alkitab: Im. 8:14-29

Dalam berita ini kita akan memperhatikan lebih lanjut pentahbisan Harun dan anak-anaknya. Dalam pentahbisan jabatan imam, hal pertama yang dilaksanakan adalah mengurapi imam-imam. Ini menunjukkan secara kuat bahwa pentahbisan atau pengurapan jabatan imam adalah menjadikan Allah satu dengan kita, sebab minyak urapan melambangkan apa adanya Allah, apa yang telah Dia kerjakan, dan apa yang akan Dia kerjakan adalah milik kita. Apa yang Allah telah kerjakan, apa yang sedang Dia kerjakan, dan apa yang akan Dia kerjakan mencakup banyak hal, seperti inkarnasi, kehidupan insani, kematian, kebangkitan, kenaikan, dan kedatangan kembali Kristus. Semua hal ini diurapkan ke atas kita, yaitu, menjadi satu dengan kita. Ini adalah sisi positif dari penetapan jabatan imam.

Dalam pentahbisan Harun dan anak-anaknya, kurbankurban persembahan dengan segera mengikuti pengurapan. Kurban-kurban persembahan mengingatkan kita tentang siapa dan apakah kita, dan seharusnya kita menjadi apa.

Kurban penghapus dosa adalah yang pertama mengingatkan kita. Harun telah diurapi dengan minyak urapan, yang melambangkan bahwa Allah Tritunggal dengan semua apa adanya Dia, apa yang telah Dia kerjakan, dan apa yang akan Dia kerjakan sekarang adalah milik Harun. Pengurapan ini juga menunjukkan bahwa Harun adalah satu dengan Allah Tritunggal. Namun, orang yang diurapi ini masih perlu pengingat yang kuat bahwa berdasarkan dirinya sendiri dan di dalam dirinya sendiri, dia adalah dosa, orang dosa yang tersusun dari dosa, dan daging yang tidak memiliki yang baik di dalamnya; mengingatkan bahwa dia adalah manusia alamiah, bagian dari ciptaan lama, yang mutlak dijenuhi, dimiliki, dikuasai, dan dihuni oleh si jahat; dan dia dipenuhi dengan dunia dan perebutan kekuasaan.

Allah Tritunggal telah menetapkan Harun menjadi pelayan-Nya dan mengurapi dia dengan diri-Nya sendiri. Namun, Harun masih perlu menyadari apa adanya dirinya. Maka, Allah memakai kurban penghapus dosa untuk mengingatkan dia kepada apa adanya dirinya. Pada hari pertama jabatan imam Harun dan setiap hari berikutnya, dia harus mempersembahkan kurban penghapus dosa kepada Allah supaya dia dapat mengingat apa adanya dirinya.

Hari ini, kita adalah imam-imam Allah. Dia telah memilih, menunjuk, dan menetapkan kita, menjadi imam-imam kudus-Nya. Apa pun yang Allah Tritunggal telah kerjakan, sedang kerjakan, dan akan kerjakan adalah milik kita. Dia adalah satu dengan kita, dan kita adalah satu dengan Dia. Namun, kita masih perlu mengingat bahwa di dalam diri kita, kita adalah dosa, daging, dan manusia lama; bahwa kita adalah ciptaan lama, yang dijenuhi dengan Satan (Iblis), si jahat; dan bahwa kita dipenuhi dengan dunia dan perebutan kekuasaan. Jika setiap hari dan sepanjang hari saudara-saudara, rekan sekerja, dan para penatua mau mengingat hal ini, mengingat apa adanya mereka, keadaan di antara kita akan berbeda.

Mengenai kehidupan dan pekerjaan kita, kita perlu bertanya kepada diri sendiri, apakah yang bergerak, bertindak, dan bekerja adalah manusia lama atau imam Allah. Apakah Anda memiliki jaminan untuk mengatakan bahwa apa pun yang Anda lakukan dalam hidup gereja, dalam pekerjaan Tuhan, dan dalam pemulihan berasal dari imamat ilahi, bukan dari daging? Siapa yang dapat berkata bahwa tangannya bersih dan dia mutlak bebas dari daging? Karena kita tidak dapat berkata demikian, kita perlu kurban penghapus dosa seperti yang dilambangkan dalam Kitab Imamat. Kita perlu kurban persembahan ini bukan saja untuk diampuni oleh Allah, tetapi juga untuk mengingatkan apa adanya kita. Bahkan dalam mengasihi orang lain, kita perlu ingat bahwa kita adalah dosa, daging, manusia lama, dan ciptaan lama, dan kita dipenuhi dengan keduniawian. Jika kita mengasihi orang lain menurut daging, selera, pilihan kita, kasih kita adalah dosa di mata Allah, karena kasih yang demikian berhubungan dengan si jahat. Selain itu, ketika kita berdoa dan “membagi nikmat” dalam sidang-sidang, kita mungkin memiliki pikiran yang berasal dari daging, di mana dosa tersembunyi dan di mana Iblis bergerak secara tersembunyi. Ini adalah keadaan kita. Jadi, kita perlu kurban penghapus dosa bukan saja pada saat kita ditetapkan sebagai imam-imam, tetapi juga setiap waktu kita melaksanakan jabatan imam kita. Dalam penetapan imam domba jantan dipakai untuk kurban bakaran. Kurban bakaran mengingatkan kita bahwa kita harus mutlak untuk Allah, namun kita tidak mutlak. Sebagai imam-imam yang ditetapkan Allah, kita harus menerima belas kasihan dan anugerah-Nya untuk mutlak bagi Allah dalam Kristus, dengan Kristus, dan melalui Kristus.

Harun sudah diurapi Allah, lalu mengapa dia masih memerlukan kurban bakaran? Harun memerlukan kurban persembahan ini karena Allah menginginkan Harun ingat bahwa dia harus mutlak untuk Allah, namun dia belum. Ini seharusnya mengingatkan kita bahwa hari ini kita juga tidak mutlak untuk Allah. Ini seharusnya juga memperingatkan kita bahwa setiap hari kita perlu mempersembahkan kurban bakaran. Setiap hari kita perlu mempersembahkan kurban bakaran untuk jabatan imam kita, pelayanan imamat kita. Para penatua dan rekan sekerja khususnya harus mempersembahkan kurban bakaran ini setiap pagi. Kita harus memberi tahu Tuhan, “Tuhan, sepanjang hari ini ingatkan aku bahwa aku harus mutlak untuk-Mu. Namun, aku menyadari bahwa aku belum dan tidak dapat mutlak untuk-Mu. Tuhan, aku bersandar kepada-Mu dan menerima-Mu sebagai hayatku, pribadiku, dan kemutlakanku. Kemutlakanku untuk Allah adalah Engkau, Tuhan.” Inilah memperhidupkan Kristus.

Kita mungkin hafal dengan frase “memperhidupkan Kristus”, tetapi kita mungkin tidak memahami makna sejati dari memperhidupkan Kristus. Apakah kita memperhidupkan Kristus di rumah dan dalam hidup gereja? Dalam kehidupan keluarga kita dan dalam hubungan kita dengan kaum beriman, apakah mutlak untuk Allah? Ketika perasaan kita atau kesukaan kita dijamah orang lain, kita mungkin tersinggung. Bukankah ini menunjukkan bahwa kita tidak mutlak untuk Allah? Kita benar-benar perlu mengingat bahwa dalam diri kita sendiri, kita tidak mutlak untuk Allah.

Menurut Kitab Imamat, kurban bakaran harus dipersembahkan setiap pagi (Im. 6:12-13). Kurban bakaran tidak boleh berhenti. “Kurban bakaran itu haruslah tinggal di atas perapian di atas mezbah semalam-malaman sampai pagi, dan api mezbah haruslah dipelihara menyala di atasnya” (Im. 6:9). Ini menunjukkan kurban bakaran harus melalui malam gelap zaman ini sampai pagi, sampai Tuhan Yesus datang lagi.

IX. DOMBA JANTAN KEDUA SEBAGAI KURBAN PENTAHBISAN UNTUK

PENTAHBISAN JABATAN IMAM

Domba jantan kedua dipakai sebagai kurban pentahbisan (Im. 7:37) untuk pentahbisan jabatan imam (Im. 8:22-32). Domba jantan ini melambangkan Kristus yang kuat untuk memikul jabatan imam Perjanjian Baru kita. Kita perlu Kristus yang kuat untuk pentahbisan kita.

A. Sedikit Darah Dibubuhkan pada

Cuping Telinga Kanan, Ibu Jari Tangan Kanan,

dan Ibu Jari Kaki Kanan Harun

“Domba jantan itu disembelih, lalu Musa mengambil sedikit dari darahnya dan membubuhnya pada cuping telinga kanan Harun, pada ibu jari tangan kanan dan pada ibu jari kaki kanannya. Musa menyuruh anak-anak Harun mendekat, lalu membubuh sedikit dari darah itu pada cuping telinga kanan mereka, pada ibu jari tangan kanan dan pada ibu jari kaki kanan mereka” (Im. 8:23-24a). Ini melambangkan bahwa darah penebusan Kristus membersihkan telinga kita, tangan kita, dan kaki kita, supaya kita bisa memikul jabatan imam Perjanjian Baru. Pelayanan jabatan imam Perjanjian Baru termasuk berfungsi dalam sidang, memberitakan Injil, dan mengunjungi kaum beriman di rumah-rumah mereka. Untuk semua pelayanan ini, kita perlu pembersihan darah Kristus.

Pergerakan (kaki) dan pekerjaan (tangan) kita selalu berada di bawah arahan pendengaran kita. Kita bertindak menurut apa yang kita dengar. Karena itu, dalam hidup gereja, mendengar itu sangat penting. Melalui mendengar kita beroleh selamat, dan melalui mendengar kita dirawat dan dididik. Namun, melalui mendengar juga kita bisa rusak dan terbunuh, dan kita mungkin melakukan hal yang jahat kepada orang lain karena apa yang kita dengar. Pendengaran kita adalah satu masalah. Dalam 2Timotius 4:3, Paulus membicarakan mereka yang “mengumpulkan guru-guru menurut kehendaknya untuk memuaskan keinginan telinganya.” Karena itu, penanggulangan Allah pertama-tama harus menjamah sumbernya, pendengaran kita.

Jika setiap gereja mau berhenti mendengar hal-hal negatif, gereja akan sehat dan hidup. Gereja yang paling lemah dan penuh kematian adalah gereja yang penuh kritik, gosip, dan gerutu. Prinsipnya sama dalam kehidupan pernikahan. Seorang saudara mungkin sangat hidup. Namun, jika istrinya berbicara kepadanya secara negatif, dia akan keracunan dan lembam, dan akan sulit berdoa dalam sidang gereja. Demikian juga, jika seorang saudara mengucapkan perkataan negatif kepada istrinya, istrinya akan lembam olehnya. Ilustrasi-ilustrasi dari hidup gereja dan dari kehidupan pernikahan ini memperlihatkan pentingnya hal mendengar.

Karena kita adalah imam-imam Allah, kita perlu bertanya kepada diri sendiri, hal-hal apa yang akan kita dengar. Apakah kita bermaksud mendengarkan hal-hal yang positif atau hal-hal yang negatif? Karena kita sering mendengarkan hal-hal yang najis, hal-hal yang tidak sehat dan mencemarkan, kita perlu membasuh telinga kita dengan darah Kristus. Menurut Alkitab, di tempat darah membasuh, di sanalah Roh mengurapi. Setelah pembasuhan darah, kita akan menikmati pengurapan Roh itu. Kemudian kita akan melupakan hal-hal negatif yang kita dengar itu, atau setidaknya kita tidak akan mengulangi hal-hal yang negatif itu. Kita juga akan sehat dan hidup, dan gereja akan tumbuh dengan sehat.

Ke mana saja kita pergi, kita perlu memperhatikan pendengaran kita. Jika demikian, apa pun yang kita dengar akan benar dan positif. Kemudian kita akan menempuh jalan yang benar dan melakukan pekerjaan yang benar. Namun, jika kita tidak memperhatikan pendengaran kita, melainkan membiarkan telinga kita mendengarkan hal-hal negatif, perilaku kita dan pekerjaan kita akan terpengaruh secara negatif.

Tujuan kurban pentahbisan (Im. 8:23) bukan menanggulangi dosa dan kesalahan kita, melainkan khusus menanggulangi telinga kita, ibu jari tangan kita, dan ibu jari kaki kita, yaitu pendengaran kita, pekerjaan kita, dan pergerakan kita. Jika kita tidak hati-hati terhadap telinga kita, kita akan menjadi penggosip dan yang menyebarkan gerutuan dan perbantahan. Kemudian bukannya melayankan Kristus, kita malah menyebarkan maut. Hari ini beberapa orang mencurahkan dirinya untuk menyebarkan maut dan tidak menyebarkan Kristus, kebenaran, dan Injil. Pendengaran telinga kita, pekerjaan tangan kita, dan pergerakan ibu jari kaki kita harus ditebus oleh darah Kristus. Kita harus membiarkan darah Kristus melepaskan kita dari semua hal negatif. Kemudian semua hal positif Kristus akan memenuhi tangan kita.

B. Musa Menyiramkan Darah Selebihnya pada Mezbah Sekelilingnya

Imamat 8:24b mengatakan, “lalu Musa menyiramkan darah selebihnya pada mezbah sekelilingnya.” Ini melambangkan bahwa darah penebusan Kristus adalah untuk menebus kita dari dosa.

C. Satu Roti yang Tidak Beragi,

Satu Roti yang Diolah dengan Minyak

dan Satu Roti Tipis, Diletakkannya di Atas Segala

Lemak dan di Atas Paha Kanan, Ditaruhnya

Seluruhnya di Telapak Tangan Harun

dan Anak-anaknya, Dipersembahkannya Semuanya

sebagai Persembahan Timangan di Hadapan

TUHAN. Kemudian Musa Mengambil Semuanya

dari Telapak Tangan Mereka,

Dibakarnya di Atas Mezbah, di Atas

Kurban Bakaran. Itulah Persembahan Pentahbisan

untuk Menjadi Bau yang Menyenangkan,

Suatu Kurban api-apian bagi TUHAN.

Dalam Imamat 8:26-28 kita melihat bahwa satu roti bundar yang tidak beragi, satu roti bundar yang diolah dengan minyak, dan satu roti tipis, diletakkan di atas segala lemak dan di atas paha kanan itu. Kemudian seluruhnya ditaruh di telapak tangan Harun dan di telapak tangan anak-anaknya, dan dipersembahkannya semuanya sebagai persembahan timangan di hadapan Tuhan. Kemudian Musa mengambil semuanya dari telapak tangan mereka, dibakarnya di atas mezbah, yaitu di atas kurban bakaran. Itulah persembahan pentahbisan untuk menjadi bau yang menyenangkan; suatu kurban api-apian bagi TUHAN. Ini melambangkan bahwa bagian Kristus yang lembut, unggul, dan kuat, bersama dengan tiga jenis roti bundar, yaitu keinsanian-Nya yang tanpa dosa tetapi berbaur dengan Roh itu, dalam berbagai aspek sebagai makanan; dipersembahkan kepada Allah dalam kebangkitan Kristus sebagai kurban yang memuaskan dan bau harum dalam persekutuan penderitaan-Nya sampai mati di atas salib untuk memikul jabatan imam Perjanjian Baru.

Imamat 8:26 mengatakan “satu roti bundar yang tidak beragi, satu roti bundar yang diolah dengan minyak dan satu roti tipis.” Ayat ini juga membicarakan lemak dan paha kanan. Roti bundar yang tidak beragi, roti bundar yang diolah dengan minyak, dan roti tipis masing-masing menunjukkan bahwa kita memiliki Kristus sebagai makanan kita setiap hari yang tanpa dosa, kita memiliki Kristus sebagai makanan kita setiap hari yang dibaurkan dengan Roh itu, dan kita memiliki Kristus sebagai makanan yang tersedia dan mudah diambil dan baik untuk memberi makan orang-orang muda. Kita merawat diri sendiri dengan roti bundar, kita memberi makan orang lain dengan roti tipis. Lemak melambangkan bagian Kristus yang untuk Allah, dan paha kanan melambangkan Kristus sebagai kekuatan kita untuk berdiri.

Imamat 8:27 mengatakan, “Dan ditaruhnya seluruhnya di telapak tangan Harun dan di telapak tangan anak-anaknya, dan dipersembahkannya semuanya sebagai persembahan timangan (unjukan, LAI-1993) di hadapan TUHAN.” Melalui pemenuhan tangan ini, mereka menjadi imam yang ditahbiskan, ditetapkan. Hari ini tangan kita juga dapat dipenuhi dengan Kristus yang almuhit, dengan Kristus yang adalah roti bundar yang tidak beragi, roti bundar yang diolah dengan minyak, roti tipis, lemak, dan paha kanan. Kita memiliki Kristus yang adalah bagian Allah (lemak) dan Kristus yang adalah kekuatan berdiri kita (paha kanan). Kita juga memiliki Kristus sebagai roti bundar untuk menjadi makanan kita dan roti tipis untuk memberi makan orang lain, khususnya orang-orang muda.

Semua hal ini ditimang di hadapan TUHAN. Ini berarti kurban itu adalah kurban timangan, yang menandakan Kristus dalam kebangkitan. Tidak ada yang alamiah di sini; sebaliknya, segala sesuatu ada di dalam kebangkitan Kristus. Dalam kebangkitan, Kristus adalah makanan untuk kita dan untuk orang-orang muda. Dalam kebangkitan, Kristus juga adalah bagian Allah dan kekuatan berdiri kita.

“Kemudian Musa mengambil semuanya dari telapak tangan mereka, lalu dibakarnya di atas mezbah, yaitu di atas kurban bakaran. Itulah persembahan pentahbisan untuk menjadi bau yang menyenangkan; itulah suatu kurban api-apian bagi TUHAN” (Im. 8:28). Di sini kita melihat bahwa persembahan pentahbisan bukan hanya seekor domba jantan, tetapi telah diperluas mencakup hal lain. Kurban yang almuhit ini dipersembahkan dalam kebangkitan Kristus kepada Allah untuk kepuasan-Nya.

Jika kita ingin menjadi imam-imam Perjanjian Baru, kita perlu memperhatikan semua perkara yang ditunjukkan dalam ayat-ayat ini. Untuk berfungsi sebagai imam-imam Perjanjian Baru, memberitakan Injil, berfungsi dalam gereja, mengunjungi orang di rumah mereka, dan merawat kaum beriman, kita perlu mencurahkan perhatian pada semua hal yang dibahas dalam Imamat 8:24-28. Khususnya, kita perlu menyadari bahwa jabatan imam adalah pelayanan bakaran. Dalam pelayanan ini kita membakar diri sendiri dan menyebabkan orang lain terbakar. Pembakaran ini ada pada pembakaran Kristus. Ketika kita dibakar di atas pembakaran Kristus, kita memiliki persekutuan dengan penderitaan Kristus sampai mati di atas salib untuk melaksanakan jabatan imam Perjanjian Baru.

D. Dada Domba yang Ditimang

sebagai Kurban Timangan di Hadapan TUHAN, Adalah Bagian Musa

“Musa mengambil dada domba itu, dan mempersembahkannya sebagai persembahan timangan (unjukan, LAI1993) di hadapan TUHAN. Itulah yang didapat Musa sebagai bagiannya dari domba jantan persembahan pentahbisan itu, seperti yang diperintahkan TUHAN kepada Musa” (Im. 8:29). Ini melambangkan bahwa kapasitas mengasihi dari Kristus dalam kebangkitan-Nya adalah untuk orang yang melayankan Kristus kepada kita dalam pentahbisan kita untuk jabatan imam.

Ayat ini menunjukkan bahwa orang-orang yang melayani berhak mendapat bagian khusus dari Kristus. Ketika Anda memberitakan Kristus, Anda berhak mendapatkan Kristus. Ketika Anda memberitakan Injil, Anda berhak mendapatkan kenikmatan yang kaya dari Injil. Kapan saja kita, orang-orang yang melayani, melayankan Kristus kepada orang lain, kita berhak menikmati Kristus yang kita layankan kepada mereka.