MAKNA PANGGILAN ALLAH D. PANGGILAN ALLAH
Pendahuluan
Dalam berita ini kita sampai pada bagian yang paling indah dalam Kitab Kejadian — panggilan Allah (Kej. 11:10—50:26). Kitab Kejadian yang terdiri dari 50 pasal, dibagi menjadi tiga bagian besar. Bagian pertama (Kej. 1:1—2:25) mengatakan tentang ciptaan Allah; bagian ke-dua (Kej. 3:1—11:9) mengatakan tentang perusakan ular terhadap manusia. Bagian ketiga mengatakan tentang panggilan Yehova (TUHAN). Setiap bagian dimulai de-ngan suatu prakata yang khas. Bagian pertama dimulai dengan “Pada mulanya Allah”. Bagian kedua dimulai dengan “Adapun ular”. Bagian ketiga dimulai dengan “Yehova (TUHAN) berfirman” (Kej. 12:1). Dalam ketiga bagian ini kita nampak tiga sebutan — Allah, ular, dan Yehova. Ketiga sebutan ini bagi kita sangatlah berarti. Setelah Allah menciptakan, Iblis datang merusak, ke-mudian Yehova datang memanggil. Jelaslah, Kitab Keja-dian terutama menyinggung tentang tiga perkara besar ini.
Menurut wahyu Alkitab, “Allah” dalam Kejadian 1:1, dalam bahasa Ibrani disebut “Elohim”, sebutan ini ter-utama berkaitan dengan penciptaan Allah. Sebutan “Ye-hova”, terutama berkaitan dengan hubungan hayat an-tara Allah dengan manusia. Yehova adalah sebagian dari nama “Yesus” yang ajaib ini, juga unsur yang utama, ka-rena arti “Yesus” ialah “Yehova Juruselamat”. Karena dalam nama “Yesus” ini terkandung “Yehova”, maka boleh kita katakan bahwa Yesus adalah Yehova Perjanjian Baru dan Yehova adalah Yesus Perjanjian Lama.
Dalam tiga bagian besar dari Kitab Kejadian ini, kita nampak Allah menciptakan, ular (Iblis) merusak, dan Yehova memanggil. Demikian, dalam tiga bagian besar ini terdapat penciptaan, perusakan, dan pemanggilan. Anda paling suka bagian mana? Saya suka panggilan Allah. Kita bukan hanya orang yang tercipta, lebih-lebih adalah orang yang terpanggil.
a. Penciptaan Allah, Mewahyukan Tujuan dan Prosedur Allah
Ciptaan Allah telah mewahyukan tujuan kekal-Nya. Tujuan kekal Allah ialah agar manusia mempunyai gambar-Nya untuk mengekspresikan-Nya dan mempu-nyai kuasa pemerintahan-Nya untuk mewakili-Nya. Tak-dir manusia ialah mengekspresikan Allah dan mewakili Allah. Hal ini telah jelas diwahyukan dalam Kejadian 1. Dalam Kejadian 2 kita melihat prosedur Allah meng-genapkan tujuan-Nya. Prosedurnya adalah melalui hayat ilahi. Allah harus menggarapkan diri-Nya sendiri ke dalam kita, menjadi hayat kita, demikian barulah kita bisa menggenapkan tujuan kekal-Nya. Jadi, dalam pasal 1 kita nampak tujuan Allah, dalam pasal 2 kita nampak prosedur Allah menggenapkan tujuan-Nya.
b. Perusakan Ular, Menjatuhkan Manusia
Pada bagian kedua (Kej. 3:1—11:9) kita nampak ular (Iblis) menjalar masuk, membuat manusia jatuh. Ular merusak manusia, membuat manusia jatuh sampai titik terendah. Manusia jatuh ke bawah sekali demi sekali, hingga tidak dapat jatuh lagi. Pada saat itu Iblis sangat gembira, bisa merayakan keberhasilannya. Segenap umat manusia memberontak kepada Allah. Dipandang dari satu sudut, sepertinya Allah telah dihalau dari bumi.
c. Panggilan Yehova, dengan Prosedur Allah untuk Menggenapkan Tujuan Allah
Meskipun Iblis melalui manusia yang jatuh seperti-nya telah menghalau Allah dari muka bumi, namun Allah berdaulat atas segala sesuatu dan tidak dapat dikalah-kan atau dipersulit oleh serangan apa pun. Segala pe-kerjaan Iblis tidak lain hanya memberi kesempatan yang amat baik kepada Allah untuk memamerkan hikmat-Nya. Walaupun adakalanya saya sangat gundah karena saya adalah seorang yang jatuh, namun kebanyakan saya gi-rang, karena saya telah ditebus, dilahirkan kembali, dan didapatkan kembali. Oleh karena kejatuhan, hubungan kita dengan Allah Bapa lebih manis dan lebih bermakna daripada sebelum jatuh. Bila Anda menggunakan sedikit waktu untuk mengenang kembali kehidupan Anda, saya percaya, Anda bisa menangis, bukan karena sedih, me-lainkan karena begitu manis mengenang pekerjaan Allah yang penuh hikmat dan rahmat. Tatkala kita masuk ke-kekalan, kita akan menggunakan roh kita dan menge-nang kembali waktu di bumi, kenangan saat itu akan sangat manis, nikmat, dan bermakna. Allah sangat ber-hikmat. Dia mengizinkan ular masuk, Allah mengamat-amati ular, seolah-olah berkata, “Ular kecil, apa yang se-dang kaulakukan? Lakukanlah, kerjakanlah lebih banyak lagi. Makin banyak kau bekerja, makin banyak kesem-patan bagi-Ku untuk mengekspresikan hikmat-Ku. Ular kecil, lakukanlah sekuat tenagamu! Lakukanlah sampai kau puas, sampai tidak dapat bekerja lagi.” Akhirnya Iblis pasti berkata, “Aku sudah berbuat sekuat tenagaku. Aku telah berusaha sekuatnya untuk membuat manusia jatuh dan jatuh lagi. Sekarang aku sudah tidak berdaya menjatuhkan manusia lebih dalam lagi. Hanya sampai di sini yang bisa kulakukan, daya upayaku telah habis.” Pa-da saat ini, Allah masuk, bukan sebagai “Elohim” me-lainkan sebagai “Yehova”, yaitu keturunan yang dijan-jikan dalam Kejadian 3:15. Tidak ada satu pun yang dapat mempersulit Allah, mengalahkan Allah, atau me-maksa Allah melepaskan tujuan kekal-Nya. Apa pun yang Ia kehendaki untuk dilakukan, Ia akan merampung-kannya. Tidak ada yang dapat mengubah-Nya. Segala gangguan tidak lain hanya memberi Dia lebih banyak kesempatan untuk mengekspresikan hikmat tujuan-Nya.
Jika Allah tidak demikian berhikmat, Kitab Kejadian akan ditulis dengan singkat. Tetapi untuk memperlihatkan hikmat Allah, Kitab Kejadian memiliki lima puluh pasal, dan tiga puluh sembilan setengah pasal yang di belakang merupakan ringkasan seluruh Alkitab Perjan-jian Baru. Tahukah Anda bagaimana Alkitab Perjanjian Baru dimulai? Alkitab Perjanjian Baru dimulai dengan:
“Inilah silsilah (daftar nenek moyang) Yesus Kristus, anak Daud, anak Abraham” (Mat. 1:1). Menurut silsilah dalam Injil Matius, Injil dimulai dari Abraham. Perjanjian Baru dimulai dengan silsilah Abraham. Hal ini bertepatan dengan Kejadian 12. Hampir setiap perkara dalam Per-janjian Baru merupakan benih yang ditabur dalam Kitab Kejadian. Sebab itu, tiga puluh sembilan setengah pasal yang tersusun menjadi bagian ketiga dari Kitab Kejadian adalah ringkasan seluruh Alkitab Perjanjian Baru.
Kita pernah menunjukkan pada bagian lain bahwa Alkitab Perjanjian Baru dimulai dengan pemberitaan Injil Kerajaan Surga. Dalam Kejadian 12, ketika Allah datang memanggil Abraham, Allah memberinya janji dan janji itu adalah pemberitaan Injil. Galatia 3:8 membuktikan hal ini, “Dan Kitab Suci, yang sebelumnya mengetahui bah-wa Allah membenarkan orang-orang bukan Yahudi ber-dasarkan iman, telah terlebih dahulu memberitakan Injil kepada Abraham: ‘Olehmu segala bangsa akan diberkati.’” Pemberitaan Injil pertama kali bukan di Injil Matius, melainkan di Kejadian 12. Salah satu butir yang utama dari Injil yang diberitakan kepada Abraham ada-lah kerajaan. Dalam berita selanjutnya kita akan melihat bahwa Allah berjanji akan membuat Abraham menjadi bangsa yang besar. Bangsa yang besar itulah Kerajaan Allah, meliputi Israel sebagai Kerajaan Allah dalam Per-janjian Lama, gereja sebagai Kerajaan Allah dalam Perjanjian Baru, Kerajaan Seribu Tahun yang akan datang, dan langit baru, dan bumi baru. Inilah Kerajaan. Inilah Injil Kerajaan.
Galatia 3:14 membicarakan tentang berkat Abraham: “Yesus Kristus telah melakukan hal ini, supaya di dalam Dia berkat Abraham sampai kepada bangsa-bangsa lain, sehingga melalui iman kita menerima Roh yang telah dijanjikan itu.” Apakah berkat itu? Berkat itu ialah Roh. Lalu siapa Roh itu? Roh itu ialah Yesus Kristus (2 Kor. 3:17). Roh itu ialah Yesus, Yesus itu ialah Yehova, dan Yehova itu ialah Allah. Jadi, berkat ini ialah Allah sen-diri. Dalam pemberitaan Injil Allah kepada Abraham, Dia berjanji kepada orang yang terpanggil, akan memberikan diri-Nya sendiri sebagai berkat kepada mereka. Berkat ini adalah Yehova sendiri. Yehova itulah Yesus, Yesus ialah Roh, dan melalui iman kita di dalam Kristus kita telah menerima Roh ini. Inilah Injil. Ingatlah, Kitab Ke-jadian merupakan ringkasan seluruh Alkitab Perjanjian Baru. Betapa kita harus menyembah Allah, untuk hikmat kedaulatan-Nya atas segala sesuatu!
Bagian Kitab Kejadian yang panjang ini, hanya mem-bicarakan kehidupan ketiga orang — Abraham, Ishak, dan Yakub. Ketika Allah menampakkan diri kepada Mu-sa, firman-Nya, “Akulah Allah ayahmu, Allah Abraham, Allah Ishak, dan Allah Yakub” (Kel. 3:6). Nanti kita bisa melihat bahwa perkataan ini jelas sekali mengatakan tentang Allah Tritunggal. Boleh dikatakan Alkitab Per-janjian Baru merupakan otobiografi Allah Tritunggal — mengisahkan Bapa yang terlihat atas diri Abraham, Putra yang terlihat atas diri Ishak, dan Roh yang terlihat atas diri Yakub. Mungkin ada yang bertanya, bagaimana dengan Yusuf? Nanti kita akan nampak, Yusuf tidak ber-diri sendiri, dia adalah bagian dari Yakub. Seluruh kisah dari orang terpanggil dalam Kitab Kejadian merupakan kisah tiga orang ini, dan seluruh kitab Perjanjian Baru adalah catatan Trinitas ilahi, yaitu Bapa, Putra, dan Roh yang dialami oleh semua orang beriman Perjanjian Baru.
1. Makna Panggilan Allah
a. Permulaan Baru Allah
Sekarang kita perlu melihat makna panggilan Allah. Pertama, panggilan Allah adalah satu permulaan yang baru. Ketika Allah menciptakan manusia, itulah satu permulaan. Namun manusia telah dirusak dan dicemari. Manusia yang diciptakan Allah telah jatuh dan telah menolak Allah, karena itu Allah datang memanggil manusia, agar di antara umat yang telah jatuh itu ada satu permulaan yang baru. Bagi kita, panggilan Allah juga meru-pakan satu permulaan yang baru. Kita semua mempunyai satu permulaan yang baru. Saya bersyukur kepada Allah, pada umur 20 tahun saya telah menerima satu permulaan yang baru. Panggilan Allah adalah satu permulaan yang baru yang dibuat oleh Allah sendiri. Allah tidak mengesampingkan (membuang) manusia. Sebaliknya Dia datang memanggil manusia, agar Dia mempunyai satu permulaan yang baru.
Orang yang dipanggil oleh Allah itu bernama Abraham. Ketika Allah menciptakan manusia, Ia bukan menciptakan manusia yang individu, melainkan menciptakan satu manusia yang korporat. Ketika Allah memanggil Abraham, dalam satu pengertian, ini berarti Allah memanggil satu orang korporat, tetapi dalam pengertian yang lain, ini berarti Allah memanggil satu orang individu. Walaupun semua keturunan Adam diciptakan dalam Adam, namun kita tidak dapat berkata bahwa semua keturunan Abraham terpanggil di dalam Abraham. Secara lahiriah tampaknya demikian, sesungguhnya tidak demikian, karena Roma 9:7-8 mengatakan bahwa keturunan Abraham tidak semuanya anak-anak Allah. Seseorang yang terlahir sebagai orang Yahudi, tidak berarti bahwa dia di hadapan Allah mempunyai satu permulaan yang baru. Sekalipun orang terlahir sebagai orang Yahudi, ia masih memerlukan satu permulaan yang baru. Tidak peduli kita orang Yahudi atau orang kafir, asal kita bersandar kepada iman dalam Kristus, kita memiliki satu permulaan yang baru, inilah anak-anak (keturunan) Abraham (Gal. 3:7). Sebagian besar dari kita bukan orang Yahudi, namun karena kita percaya Kristus, kita menjadilah anak-anak Abraham. Karena kita telah memi-liki permulaan yang baru, maka kita adalah anak-anak Abraham. Ketika Allah memanggil Abraham, mulailah suatu permulaan yang baru. Sekarang, kita semua melalui iman telah memasuki permulaan yang baru ini. Setiap kali Anda membicarakan panggilan Allah, Anda harus tahu bahwa panggilan-Nya menyatakan satu per-mulaan yang baru. Saya selamanya tidak dapat melupakan, suatu sore di tahun 1925, saya mendapat panggilan Allah. Serta merta saya mempunyai satu permulaan yang baru, seluruh hidup saya, segenap diri saya, konsepsi saya, semua berubah. Inilah panggilan Allah.
b. Pergantian Ras
Dalam panggilan Allah, permulaan baru Allah atas diri manusia adalah suatu pergantian ras. Allah memang-gil Abraham, berarti Ia telah melepaskan ras Adam dan memilih Abraham beserta anak-anaknya menjadi ras yang baru, menjadi umat-Nya, untuk menggenapkan tu-juan kekal-Nya. Inilah pergantian ras, dari ras Adam yang tercipta ke ras Abraham yang terpanggil (Kej. 12:2-3; Gal. 3:7-9, 14; Rm. 4:16-17). Ketika kita mengatakan bahwa panggilan Allah adalah satu permulaan yang baru, kita harus paham bahwa permulaan yang baru ini adalah pergantian ras. Kita semua telah dipindahkan dari ras yang tercipta ke ras yang terpanggil. Walaupun kita terlahir sebagai suatu suku bangsa tertentu, namun pada saat kita terpanggil, kita sudah pindah menjadi ras yang lain, yaitu ras baru yang terpanggil.
c. Pergantian Hayat
Pergantian ras dalam panggilan Allah sesungguhnya adalah pergantian hayat. Anda boleh dengan berani mengumumkan: “Aku sudah mengalami pergantian ras”, namun dapatkah Anda mengatakan bahwa Anda sudah mengalami pergantian hayat? Meskipun kita telah meng-alami pergantian ras, tetapi kita masih dalam proses pergantian hayat. Saya tidak berani berkata bahwa saya sudah seluruhnya mengalami pergantian hayat. Saya pun tidak dapat berkata bahwa saya tidak ada pergantian hayat. Saya memiliki sedikit pergantian hayat, namun proses pergantian ini belum rampung. Kita semua di dalam proses pergantian hayat.
Kita perlu pergantian hayat yang di dalam. Meskipun kita telah memiliki pergantian ras, namun hayat di dalam kita juga harus diganti. Jika kita tidak memiliki pergantian hayat yang di dalam ini, kita akan tetap sama seper-ti ras yang jatuh. Jika kita hanya memiliki perubahan kedudukan, hidup kita akan tetap seperti dulu. Hanya perubahan kedudukan tidak dapat menggenapkan tujuan panggilan Allah terhadap kita. Sebab itu juga harus ada pergantian hayat.
Karena pergantian hayat adalah dari hayat Adam ke hayat Kristus, maka ini berarti dari hayat ciptaan lama ke hayat ciptaan baru. Karena kejatuhan manusia, maka semua ciptaan Allah yang semula telah menjadi usang (lama), tidak lagi dapat menggenapkan tujuan Allah. Karena itu Allah memerlukan ciptaan baru, suatu ciptaan dengan hayat yang lebih kuat dan lebih baik daripada hayat Adam tercipta itu. Hayat yang lebih kuat ini adalah hayat Allah yang bukan tercipta, yaitu hayat Kristus. Pergantian hayat dalam panggilan Allah adalah dari hayat ciptaan lama yang jatuh ganti ke hayat ciptaan baru yang lebih kuat dan lebih baik.
d. Yang Terlihat pada Diri Orang yang Terpanggil
Makna panggilan Allah dapat jelas terlihat pada diri orang yang terpanggil. Pada Abraham, Ishak, Yakub, dan kaum saleh Perjanjian Baru, kita dapat nampak permulaan baru Allah, pergantian ras, dan pergantian hayat. Kehidupan mereka dapat menjadi gambaran yang jelas akan makna panggilan Allah.
(1) Pada Diri Abraham
Gambaran yang dilukiskan pada diri Abraham sangat jelas. Dia mempunyai permulaan yang baru, mengalami pergantian ras dan pergantian hayat; pergantian hayat ini merupakan satu masalah yang sangat besar antara dia dan Allah. Meskipun permulaan baru dan pergantian ras sudah terjadi pada saat ia terpanggil, tetapi pergantian hayatnya membutuhkan waktu bertahun-tahun. Ia harus menempuh puluhan tahun untuk mengalami pergantian hayat, sekalipun demikian, masih belum sempurna seluruhnya.
(a) Mula-mula Bersandar Eliezer
Ketika Allah memanggil Abraham keluar dari tanah yang bobrok, Abraham tidak mempunyai anak, tidak pu-nya penerus. Namun Allah berdaulat atas segala sesuatu. Sebelum Abraham mengalami pergantian ras, Allah tidak membiarkannya mempunyai anak. Karena Abraham tidak mempunyai anak, dia bersandar kepada Eliezer pelayan rumah tangganya untuk menjadi pewaris rumahnya. Ia berkata kepada Allah, “Ya Tuhan Allah, apakah yang akan Engkau berikan kepadaku, karena aku akan meninggal dengan tidak mempunyai anak, dan yang akan mewarisi rumahku ialah Eliezer, orang Damsyik itu.” Lagi kata Abraham, “Engkau tidak memberikan kepadaku keturunan, sehingga seorang hambaku nanti menjadi ahli warisku” (Kej. 15:2-3). Abraham seperti keadaan kita hari ini, orang yang sangat alamiah. Sekalipun dia telah menerima janji, tetapi menerimanya dengan sangat alamiah. Namun Allah tidak mau Eliezer, Allah berkata kepada Abraham, “Orang ini tidak akan menjadi ahli warismu, melainkan anak kandungmu, dialah yang akan menjadi ahli warismu” (Kej. 15:4). Allah memberi tahu Abraham bahwa orang yang mewarisi janji yang Ia berikan bukanlah Eliezer. Anak kandung Abraham, yang dilahirkan dari Sara, barulah ahli warisnya.
(b) Dengan Kekuatan Daging Melahirkan Ismael
Setelah Allah menolak Eliezer sebagai ahli waris, Abraham mendengar usul Sara, agar dari Hagar ia bisa memperoleh seorang anak, ingin dengan kekuatan daging menggenapkan janji Allah. Demikianlah Abraham mem-peroleh Ismael. Yang mengusulkan hal ini adalah Sara, istrinya, tetapi akhirnya Sara sendiri yang mengalami penderitaan karenanya. Sara menderita ini, ada maksud kedaulatan Allah. Di satu aspek, Sara mengusulkan Abra-ham memperoleh anak dari Hagar; ini berasal dari da-ging. Di aspek lain, ia yang menyuruh pengusiran Ismael; ini menurut kedaulatan Allah. Ia memberi tahu Abraham untuk mengusir Ismael, anak yang dilahirkan oleh Hagar, hambanya (Kej. 21:9-10). Perintah ini sangat menyusah-kan hati Abraham; ia merasa sangat dipersulit. Pada saat itulah Allah datang dan berkata kepada Abraham, “Ja-nganlah sebal hatimu karena hal anak dan budakmu itu; dalam segala yang dikatakan Sara kepadamu, haruslah engkau mendengarkannya, sebab yang akan disebut ke-turunanmu ialah yang berasal dari Ishak” (Kej. 21:12). Ini berarti Allah memberi tahu Abraham untuk membiarkan Ismael pergi, karena Ismael bukanlah orang yang mewarisi janji Allah yang diberikan kepada Abraham. Ishak barulah ahli warisnya. Kita semua harus tahu, da-lam panggilan Allah, hayat alamiah kita tidak berguna. Hanya ada pergantian ras masih kurang, kita perlu pergantian hayat yang sempurna.
(c) Ganti Nama dan Mengerat Daging
Mula-mula Allah berjanji kepada Abraham bahwa ia akan mempunyai keturunan untuk mewarisi negeri yang dijanjikan (Kej. 12:7; 13:15-16). Kemudian Allah memberi tahu Abraham bahwa Eliezer bukan ahli warisnya, hanya yang dilahirkan dari Abraham sendiri barulah ahli wa-risnya. Allah menegaskan janji-Nya bahwa Abraham pasti mempunyai keturunan sendiri (Kej. 15:2-5). Setelah itu, Abraham berusaha dengan kekuatan dagingnya sendiri untuk menggenapkan janji Allah dengan melahirkan Is-mael. Akibatnya, Allah datang dan berfirman, “Akulah Allah yang Mahakuasa, hiduplah di hadapan-Ku dengan tidak bercela” (Kej. 17:1). Seolah-olah Allah berkata ke-pada Abraham, “Dalam hal engkau melahirkan Ismael, engkau tercela di hadapan-Ku. Sekarang Aku harus mengubahmu. Namamu bukan lagi ‘Abram’ (artinya, bapa yang agung), melainkan akan diganti menjadi ‘Abraham’ (artinya, bapa sejumlah besar bangsa) (Kej. 17:5). Untuk ini engkau harus disunat (Kej. 17:10-14), supaya kekuat-an dagingmu disingkirkan, sehingga Aku dapat mengge-napkan janji-Ku, agar keturunanmu sangat banyak.” Di sini Allah berjanji bahwa Abraham akan menjadi bapa agung, bapa sejumlah besar bangsa. Hal ini menunjukkan bahwa Abraham tidak hanya menjadi bapa keturunan jasmaninya, juga akan menjadi bapa kaum saleh Perjan-jian Baru karena iman (Rm. 4:16-17). Kita, orang-orang Kristen oleh karena iman di dalam Kristus, semua men-jadi keturunan Abraham. Meskipun kita dilahirkan seba-gai ras Adam, tetapi telah dilahirkan kembali sebagai ras Abraham.
(d) Akhirnya Bersandar Kekuatan Anugerah Allah
Melahirkan Ishak
Pada saat Allah mengganti nama Abram menjadi Abraham dan menyuruhnya disunat, dalam Kejadian 17:21 Allah berkata, “. . . Ishak, yang akan dilahirkan Sara bagimu tahun yang akan datang pada waktu seperti ini juga.” Di sini kita nampak Allah menjanjikan suatu janji, menetapkan saat kelahiran Ishak. Dikatakan pula dalam pasal 18:14, Allah berfirman, “Pada waktu yang telah ditetapkan itu, tahun depan, Aku akan kembali mendapatkan engkau, pada waktu hayat, Sara mempunyai seorang anak laki-laki” (Tl.). Saat yang ditetapkan itu, waktu kelahiran Ishak, adalah “waktu hayat”. Istilah “waktu hayat” ini sangat berarti. Dalam bahasa Ibrani, kata “hayat” di sini sama dengan kata yang digunakan dalam pohon “hayat” (pohon kehidupan) di Kejadian 2:9. Waktu kelahiran Ishak adalah “waktu hayat”, ini terjadi setelah Abraham disunat. Ini menunjukkan bahwa “waktu hayat” adalah waktu Kristus menjadi hayat kita, yang akan terjadi setelah kekuatan alamiah kita ditanggulangi.
1) Setelah Kekuatan Dagingnya Mati
Sebelum Ishak lahir, baik Abraham maupun Sara sudah tua, rahim Sara sudah tertutup, tubuh Abraham pun bagaikan telah mati (Rm. 4:18-19). Yang ia miliki — Eliezer, dan yang akan ia pelihara — Ismael, semuanya ditolak, sedangkan kekuatan alamiah telah tamat. Apa yang masih dapat mereka perbuat? Mungkin mereka ber-dua berbincang-bincang dengan tanpa bahagia; boleh jadi Abraham berkata kepada Sara, “Sayangku, lihatlah diri-mu, kemampuanmu melahirkan anak telah usai.” Dan Sara mungkin menjawab, “Sayangku, lihatlah dirimu, su-dah cukup tua!” Keduanya telah lanjut usianya. Sara mungkin berkata lagi, “Eliezer cukup baik, namun Allah tidak mau dia.” Abraham mungkin menjawab, “Ismael lebih baik, tetapi Allah juga tidak mau dia. Karena Eliezer dikesampingkan dan Ismael ditolak, hal ini mem-buat kamu dan aku begini kasihan. Apa yang harus kita lakukan?” Tetapi begitu “waktu hayat” tiba, Ishak ter-lahir dari kedua orang yang bagaikan telah mati ini, lahir bersandarkan kekuatan kebangkitan. Saat kelahiran ini adalah “waktu hayat”. Dengan perkataan rohani, kelahir-an Ishak itulah kelahiran hayat.
2) Melalui Kunjungan TUHAN
Kelahiran Ishak terjadi karena kunjungan Yehova, melalui kedatangan Tuhan (Kej. 18:14). Kelahiran Ishak bukan sekadar kelahiran seorang manusia. Dalam kela-hiran itu ada kedatangan Yehova, karena Tuhan pernah berkata, pada saat yang ditetapkan, Ia akan kembali dan Ishak akan lahir, waktu itu adalah “waktu hayat”. Saat kekuatan alamiah Abraham sudah tamat, datanglah Ye-hova, membawakan kelahiran Ishak pada “waktu hayat”. Inilah pergantian hayat. Setiap hal milik hayat alamiah harus tersingkir, bahkan kemampuan melahirkan pun harus tamat. Tidak satu pun yang berasal dari hayat ala-miah kita atau yang berasal dari diri kita sendiri bisa berbagian dalam ekonomi Allah. Semua yang alamiah harus tamat, sampai kita habis, mati, dan menjadi bukan apa-apa lagi. Begitu kita sampai pada akhir kita, Yehova akan datang. Kedatangan Yehova inilah hayat, inilah “Ishak”. Jadi, lahirnya Ishak adalah datangnya Yehova. Inilah hayat, inilah permulaan baru, dan inilah pergan-tian hayat. Inilah makna panggilan Allah.
Mengenal bahwa kita telah terpanggil, mempunyai permulaan baru, dan mempunyai pergantian ras, ini sa-ngat baik. Namun kita semua harus setuju bahwa kita masih dalam proses pergantian hayat. Mungkin ada orang masih melekat pada Eliezer, ada yang masih berpegang pada Ismael. Tetapi ada pula yang telah tiba pada “waktu hayat”; pada diri mereka Ishak sudah lahir. Di antara kita ada orang yang telah mengalami kedatangan Yehova, kunjungan Yehova, inilah pergantian hayat. Kita perlu pergantian ini.
Kita perlu melupakan ajaran yang dangkal dan alamiah, misalnya menyuruh kita mengubah diri sendiri, berusaha berbuat baik, dan lain-lain. Ini bukan masalah berbuat baik, melainkan masalah pergantian hayat. Kita tidak hanya perlu adanya pergantian ras, juga perlu pergantian hayat.
Ketika Abraham dipanggil keluar dari negeri yang bobrok, ia belum mempunyai anak. Ia sudah tua, namun masih belum mempunyai anak. Sebab itu ia bersandar pada Eliezer untuk menjadi pewaris rumahnya. Namun Allah menolak Eliezer. Kemudian Abraham dengan ke-kuatan dagingnya melahirkan Ismael. Abraham mencin-tai Ismael dan ingin memeliharanya, tetapi Allah tidak menerimanya. Anak yang dijanjikan harus lahir pada ke-datangan Yehova, berasal dari kekuatan karunia Allah dan pada waktu yang sudah ditetapkan. Begitu waktu yang ditetapkan tiba, Yehova mengunjungi Sara, Ishak pun terlahirkan. Boleh dikata, Yehova masuk ke dalam Sara, lalu Ishak keluar dari Sara. Itulah “waktu hayat”. Ini mutlak adalah pergantian hayat.
(2) Pada Diri Ishak
Dalam satu arti, pergantian hayat pada diri Ishak telah tergenap, namun belum sempurna seluruhnya. Karena Ishak masih melahirkan Esau yang dibenci Allah (Rm. 9:13). Ini berarti bahwa di dalam Ishak masih tertinggal hayat alamiah. Maka boleh kita katakan, pada diri Ishak pergantian hayat masih belum tergenap seluruhnya. Hal ini baru tergenap pada diri Yakub.
(3) Pada Diri Yakub
(a) Mula-mula Adalah Yakub si Pemegang
Mula-mula, Yakub adalah si pemegang. Arti nama Yakub ialah memegang. Memegang di sini berarti me-nyerobot milik orang lain atau dengan cara yang licik mendapatkan sesuatu. Yakub adalah orang yang pandai mencuri secara licik. Sebagai contoh, ia mencuri milik pamannya, Laban. Laban mengira Yakub membantu dia menggembalakan domba, tetapi sewaktu Yakub memban-tu Laban, dengan akalnya ia mendapatkan sejumlah be-sar domba bagi dirinya sendiri. Ini suatu contoh dari Yakub yang memegang. Pada mulanya, Yakub tentu saja tidak mengalami pergantian hayat.
(b) Akhirnya Menjadi Israel, Pangeran Allah
Allah memiliki cara untuk menanggulangi Yakub. Dia mengubah Yakub, si pemegang, menjadi pangeran Allah. Walaupun Allah telah menghabiskan waktu yang lama untuk menggenapkan hal ini, tetapi sampai waktu yang tepat, Allah memberi tahu Yakub, mengganti nama Ya-kub menjadi Israel (Kej. 32:27-28). Sejak itu, Yakub di sebut Israel. Allah melakukan hal yang sama pada diri Yakub seperti pada diri Abraham: Allah mengganti na-manya juga mengganti kekuatannya. Ketika Allah datang menanggulangi Yakub, Yakub sungguh seorang peme-gang. Dia bahkan bergumul dengan Allah. Aspek ala-miahnya begitu kuat, sehingga Allah pun sukar menun-dukkanya. Kita tidak seharusnya menertawai Yakub, kita sama dengan dia. Kita begitu kuat sehingga Allah sukar menundukkan kita. Ketika Allah datang untuk menang-gulangi kita, kita bergulat dengan Dia. Meskipun sukar bagi Allah untuk menundukkan kita, akhirnya kita ditun-dukkan-Nya. Yakub bergumul dengan Allah, memaksa Allah memukul sendi pangkal pahanya, yaitu memukul bagian tubuhnya yang paling kuat. Setelah kejadian itu, Yakub timpang. Sejak hari itu, penyerobotannya telah berlalu. Orang yang menyerobot telah menjadi pangeran Allah. Hari-hari sisa hidupnya, ia tidak mencuri lagi, ta-ngan yang menyerobot telah menjadi tangan yang mem-berkati. Dia tidak lagi memegang, hanya memberkati. Ia mengulurkan tangannya, memberkati setiap orang yang datang ke hadapannya. Ia bahkan memberkati Firaun, raja yang paling berkuasa di bumi saat itu (Kej. 47:7, 10). Orang yang menyerobot menjadi orang yang memberkati. Inilah pangeran Allah. Sampai saat ini, sudah terjadi pergantian hayat seluruhnya. Inilah panggilan Allah. Panggilan Allah dimulai dari Kejadian 12:1 dan diterus-kan sampai datangnya Yerusalem Baru. Semua orang yang memegang akan tamat, akan menjadi pangeran-pangeran Allah. Yerusalem Baru akan datang, tidak saja sebagai pergantian ras, tetapi juga sebagai pergantian hayat.
(4) Pada Diri Orang Beriman
(a) Dimulai dengan Kelahiran Kembali
Pada prinsipnya, pengalaman orang beriman hari ini juga sama. Pada diri orang beriman, pergantian hayat dimulai dengan kelahiran kembali (Yoh. 3:3, 5). Setelah dilahirkan kembali, kita berada dalam proses pergantian hayat.
(b) Tergenap melalui Pengalaman Sunat Rohani
Bagi orang beriman, pergantian hayat adalah melalui “mengalami sunat rohani”, yaitu tergenap dengan tersingkirnya daging (Kol. 2:11; Gal. 5:24). Hari ini Allah sedang melakukan sunat bagi kita dan sunat ini akan berlangsung sangat lama. Saya percaya di tengah-tengah kita ada banyak orang sedang dalam tangan penyunatan Allah. Anda mungkin masih tetap melekat pada kekuatan daging Anda, atau manusia alamiah Anda. Perlu Allah da-tang memotong bagian Anda itu. Kita semua dalam proses penyunatan. Dengan perkataan lain, kita sedang dalam proses pengubahan.
(c) Rampung pada Tertebusnya dan Terubahnya Tubuh
Pergantian hayat akan tergenap dengan sempurna pada waktu Tuhan datang kembali. Pada saat itu, tubuh kita akan seluruhnya tertebus dan tertransfigurasi (Rm. 8:23; Flp. 3:21). Kemudian kita akan menjadi orang yang terpanggil, tidak hanya dalam pergantian ras, tetapi juga dalam pergantian hayat yang sempurna. Saat itu kita akan menikmati semua berkat yang Allah janjikan ke-pada Abraham nenek moyang kita. Inilah panggilan Allah. Panggilan Allah bukan untuk keturunan alamiah Abraham. Panggilan Allah adalah untuk mereka yang mengikuti jejak Abraham, menerapkan iman yang mereka peroleh, hidup bersandar Allah, juga hidup di dalam Allah, dan bersandar pekerjaan Allah mengalami pergantian hayat. Setelah melalui proses ini, kita pun mutlak menjadi se-kelompok orang yang lain, menjadi orang yang dipanggil Allah. Kemudian kita akan menikmati segala berkat yang dijanjikan Allah. Apa pun yang Allah janjikan kepada Abraham, akan menjadi berkat Injil Perjanjian Baru yang di dalamnya kita berbagian melalui iman kita dalam Kristus.