← Daftar isi Kejadian (3) · bab 10/15

LATAR BELAKANG DAN ASAL USUL PANGGILAN ALLAH SERTA PENGALAMAN ORANG TERPANGGIL

Meskipun Kitab Kejadian merupakan satu kitab yang panjang, namun hanya mempunyai tiga bagian: pencip-taan Allah (Kej. 1:1—2:25), perusakan ular (Kej. 3:1— 11:9), dan panggilan Yehova (Kej. 11:10—50:26). Dalam berita yang lalu kita telah melihat makna panggilan Allah. Panggilan Allah mengacu kepada permulaan baru Allah, pergantian ras, dan pergantian hayat. Di pihak kita, panggilan Allah adalah pergantian ras dan hayat; di pihak Allah, panggilan Allah adalah satu permulaan yang baru. Allah menciptakan manusia merupakan satu per-mulaan yang baru, namun manusia yang diciptakan itu telah rusak. Karena itu Allah memanggil Abraham untuk memulai permulaan baru yang lain. Permulaan baru ini sebenarnya adalah pergantian dari ras Adam ke ras Abraham, dari ras tercipta ke ras terpanggil. Panggilan Allah mengacu kepada terpanggilnya kita keluar dari ras tercipta semula ke ras terpanggil hari ini. Pergantian ras ini tidak hanya pada kedudukannya, tetapi juga pada sifatnya, karena sesungguhnya ini adalah suatu pergantian hayat.

Abraham mengalami pergantian baik kedudukan maupun sifat. Ia dipindahkan dari Tanah Ur-Kasdim yang usang ke tanah permai Kanaan. Itulah pergantian kedudukan. Bagaimanapun, Allah bekerja di dalam dan di luarnya. Sampai pada waktu tertentu, Allah datang dan berkata kepadanya bahwa namanya harus diganti (Kej. 17:5). Menurut Alkitab, pergantian nama sering kali me-nunjukkan pergantian hayat. Ketika nama Abram digan-ti, menunjukkan bahwa sifat dan hayatnya juga diganti. Allah seakan-akan berkata kepada Abraham, “Kamu ma-sih berada dalam manusia lamamu, kamu terlalu banyak dalam hayat alamiahmu. Sekalipun kamu telah dipanggil keluar dari ras yang lama, tetapi sifat dan hayat ras yang lama tetap tinggal di dalammu, dan kamu masih hidup bersandarkan hayat itu. Aku harus menanggulangi-mu dengan memotong hayat itu.” Pemotongan hayat yang lama ini dilambangkan dengan penyunatan. Abraham disunat pada waktu Allah mengganti namanya. Secara lahir, namanya telah diganti; secara batin, sifat, alamiah, dan hayatnya juga ditanggulangi. Setelah kekuatan hayat alamiah Abraham disingkirkan, lahirlah Ishak pada “wak-tu hayat”. Ini berarti, Ishak bukan dilahirkan dari ke-kuatan alamiah Abraham; ia dilahirkan oleh kedatangan Allah, karena Allah pernah berkata, “Pada waktu yang telah ditetapkan itu, tahun depan, Aku akan kembali mendapatkan engkau, pada waktu hayat, Sara mempu-nyai seorang anak laki-laki” (Kej. 18:14 Tl.). Kedatangan Tuhan itulah lahirnya Ishak. Ini berarti, Ishak tidak dilahirkan dari kekuatan alamiah Abraham, melainkan dilahirkan dari hayat yang telah ditanggulangi Allah. Melalui ini kita nampak, Abraham tidak saja digantikan pada kedudukan, tetapi juga pada sifatnya.

Dilihat secara luaran, Ishak tidak memerlukan per-gantian hayat, namun Esau anak sulung dari bayi kembar Ishak dan Ribka, sangatlah alamiah, Allah tidak akan menerima sesuatu yang alamiah. Oleh karena anak su-lung Ishak begitu alamiah, maka Allah memilih anak kedua. Anak sulung mewakili hayat alamiah. Karena itu, pada malam paskah Allah membunuh semua anak sulung orang Mesir. Sebaliknya anak kedua mewakili pergantian hayat. Karena Yakub anak kedua, maka Allah memilih dia.

Meskipun Yakub sudah terpilih, namun sifat ala-miahnya masih belum digantikan. Pada saat yang tepat, Allah datang menjamah kekuatan alamiah Yakub. Ketika itu, namanya diganti dari Yakub (pemegang) menjadi Is-rael (pangeran Allah). Sejak itu, Yakub menjadi pincang. Pincangnya itu merupakan suatu tanda bahwa ia pernah dijamah oleh Allah. Kekuatan alamiahnya pernah ditang-gulangi dan ia sudah menjadi pangeran Allah. Inilah makna sesungguhnya dari panggilan Allah.

Sudahkah Anda terpanggil? Kalau Anda berkata bahwa Anda sudah terpanggil, tentu Anda harus keluar dari Ur-Kasdim, Babel, ras lama, dan hayat alamiah Anda. Anda harus keluar dari hayat alamiah Anda dan menyingkirkan hayat alamiah dari dalam Anda. Dalam panggilan Allah perlu permulaan baru, pergantian ras, dan pergantian hayat. Kita perlu pergantian. Bertahuntahun ini, saya bersama-sama dengan kaum saleh di sini melihat proses pergantian ini. Saya sangat girang me-lihat begitu banyak orang saleh dalam proses pergantian hayat. Walau kadang kala proses pergantian ini tidak menyenangkan, namun berselang beberapa saat, di dalam kaum saleh Anda dapat melihat pergantian hayat yang riil. Inilah makna panggilan Allah.

2. Latar Belakang Panggilan Allah — Babel

a. Meninggalkan Allah

Sekarang kita akan melihat pengalaman ras terpanggil. Sebelumnya kita bicarakan dulu sedikit tentang latar belakang dan asal usul panggilan Allah.

Ketika Allah menampakkan diri kepada Abraham, ia berada dalam latar belakang yang paling gelap. Latar belakangnya sangat kuat. Aspek pertama latar belakang itu adalah manusia meninggalkan Allah. Manusia mening-galkan Allah dinyatakan dengan pembangunan sebuah kota. Kita lihat ini dalam kisah Kain pada Kejadian 4. Karena manusia kehilangan Allah sebagai pelindungnya, maka manusia mendirikan sebuah kota. Karena manusia tidak lagi memiliki Allah sebagai perlindungannya, maka manusia mendirikan sebuah kota untuk melindungi diri sendiri. Jadi pembangunan kota adalah tanda manusia meninggalkan Allah. Seakan-akan manusia berkata, “Biarkan Allah! Aku mau mendirikan sebuah kota untuk melindungi diri sendiri.” Membangun kota berarti meng-umumkan manusia meninggalkan Allah.

b. Meninggikan Manusia

Manusia tidak hanya meninggalkan Allah, tetapi juga mendirikan sebuah menara untuk meninggikan diri sen-diri. Menara adalah tanda manusia meninggikan diri sen-diri. Ketika manusia meninggalkan Allah, secara oto-matis meninggikan diri sendiri. Kapan kala manusia mendirikan kota, ia pun membangun menara untuk me-masyhurkan namanya sendiri.

c. Menyangkal Hak Allah

Lebih lanjut, manusia di Babel juga menyangkal hak Allah atas ciptaan-Nya. Manusia dan bumi adalah ciptaan Allah, namun manusia tidak mengakui hak Allah, se-baliknya mendirikan bangsa-bangsa. Mendirikan bangsa-bangsa itu menunjukkan manusia telah menyangkal hak dan kuasa Allah. Sebagaimana kita lihat, setelah air bah, Allah memberikan kuasa kepada manusia untuk meme-rintah, tetapi Iblis menyebabkan manusia menyalah-gunakan kuasa yang Allah berikan itu untuk mendirikan bangsa-bangsa, agar manusia mempunyai pemerintahan sendiri, menyangkal hak dan kuasa Allah pada diri manusia.

d. Melayani Berhala

Akhirnya, Yosua 24:2 memberi tahu kita, di Babel manusia berpaling dari Allah kepada berhala, berpaling pada ilah lain. Di balik semua berhala adalah Iblis. Kapan kala manusia menyembah berhala, itu berarti menyem-bah Iblis. Kelihatannya dia sedang menyembah berhala, namun sebenarnya dia sedang menyembah Iblis.

Dari latar belakang panggilan Allah kita nampak ada kota, menara, bangsa-bangsa, dan Iblis. Manusia telah meninggalkan Allah, telah meninggikan diri sendiri, telah menyangkal hak dan kuasa Allah, dan sudah berpaling dari Allah untuk melayani berhala. Percayakah Anda bah-wa situasi hari ini sedikit lebih baik? Saya tidak percaya. Hari ini sama rusaknya dengan yang lalu, keadaannya mutlak sama.

3. Asal Usul Panggilan Allah — Allah

Siapakah yang menggerakkan panggilan ini? Abra-ham bukan pemrakarsa panggilan ini. Walaupun ia bapa ras terpanggil, namun panggilan ini bukanlah inisiatifnya. Saya percaya, Abraham sama dengan Anda dan saya hari ini, ia tidak pernah memimpikan dipanggil Allah. Tiba-tiba, ketika dia dengan sanak keluarganya sedang me-nyembah Allah lain di Ur-Kasdim, Allah menampakkan diri kepadanya (Yos. 24:2). Allah itulah asal usul pang-gilan ini.

a. Penampakan Allah

Walau panggilan Allah ternyatakan dalam waktu, namun sebelum memanggil, di dalam kekekalan yang lampau, Allah telah melakukan suatu hal, yaitu memilih. Allah telah memilih Abraham. Setelah itu, masih dalam masa kekekalan yang lampau, Allah pun menetapkan dan menentukan Abraham. Sebelum Abraham lahir, sebelum dunia diciptakan, ketika hanya Allah sendiri yang ada, Allah telah memilih Abraham, dan menetapkan dia. Dalam waktu, pada suatu hari, ketika Abraham sedang menyembah Allah lain, sedikit pun tidak terlintas dalam pikirannya bahwa Allah bisa memanggilnya. Namun Allah tidak saja memanggilnya bahkan mengunjunginya. Allah yang mulia datang kepadanya. Abraham sangat terkejut. Allah yang mulia tidak saja datang kepadanya, bahkan menampakkan diri kepadanya.

Karena latar belakang Abraham sedemikian gelap, maka Allah harus dengan hebat menampakkan diri ke-padanya. Banyak orang di antara kita yang pernah meng-alami panggilan Allah yang sedemikian. Saya dapat bersaksi, pada suatu hari, ketika saya masih seorang muda yang sangat berambisi, Allah dengan sangat kuat menyatakan kepada saya. Itulah kunjungan Allah pada saya. Saya tidak dapat menolak. Banyak di antara kita yang mempunyai pengalaman yang sama. Kita jatuh ter-amat dalam, khotbah yang ringan tidak akan berfungsi apa-apa pada diri kita. Kita perlu Allah yang hidup ini, Allah yang mulia mengunjungi kita. Saya sering men-dengar banyak kesaksian demikian.

Allah pernah dua kali menampakkan diri kepada Abraham. Pertama kali di Ur-Kasdim (Kis. 7:2; Kej. 11:31). Jika kita membaca Alkitab dengan cermat, kita dapat nampak bahwa di Ur-Kasdim, Allah tidak menya-takan kepada ayah Abraham, melainkan kepada Abra-ham. Tetapi Abraham tidak dengan segera menjawab panggilan Allah. Karenanya Allah yang Mahakuasa lalu menyuruh ayahnya, Terah, membawa keluarganya me-ninggalkan Ur-Kasdim dan pergi ke Haran. Mereka ting-gal di sana sampai Terah wafat. Keragu-raguan Abraham dalam menjawab panggilan Allah ini menyebabkan kematian ayahnya. Allah mengambil ayahnya. Kemudian di Haran, Allah menampakkan diri kepada Abraham un-tuk kedua kalinya (Kej. 12:1). Melalui hal ini kita nam-pak dalam menanggulangi orang, Allah memiliki tujuan-Nya yang tertentu. Saya tidak yakin bahwa orang yang membaca berita ini, dapat segera menjawab panggilan Allah jika Allah mengunjunginya. Kita adalah anak-anak Abraham, dan anak selalu seperti ayahnya. Karena Abra-ham ragu-ragu untuk mengikuti Allah, maka Allah harus menampakkan diri kepadanya untuk kedua kalinya.

b. Panggilan Allah

Tidak saja Allah dua kali menampakkan diri kepada Abraham, bahkan dua kali pula Allah memanggil Abra-ham. Panggilan Allah pertama kali adalah ketika Abraham di Ur-Kasdim (Kis. 7:2-4). Menurut Kisah Para Rasul 7, Allah memanggil Abraham untuk meninggalkan negeri dan sanak saudaranya. Namun pada panggilan kedua di Haran, Allah menyuruh Abraham meninggalkan negeri, sanak saudara, dan rumah bapanya (Kej. 12:1). Allah pernah dua kali menampakkan diri kepada Abraham dan dua kali memanggilnya. Pada saat pertama kali Allah memanggil Abraham untuk meninggalkan negeri dan sanak saudaranya, Allah tidak menyebutkan rumah bapa. Karena itu rumah bapanya juga ikut keluar dari Ur-Kas-dim. Pada waktu Allah memanggil untuk kedua kalinya, Allah menghendaki dia tidak hanya meninggalkan negeri dan sanak saudaranya, tetapi juga meninggalkan rumah bapanya. Abraham mengalami dua kali penampakan Allah dan dua kali panggilan Allah. Penampakan dan panggilan ini memperlihatkan kepada kita, Allah itulah asal usul panggilan-Nya.

4. Pengalaman Orang Terpanggil

a. Tiga Adalah Satu

Tatkala Anda membaca Kitab Kejadian, Anda pasti paham betapa jelas perbedaan antara catatan tentang Adam, Habel, Henokh, dan Nuh. Namun catatan tentang Abraham, Ishak, dan Yakub saling bertumpukan. Ketika Kitab Kejadian membicarakan mereka, mereka dipan-dang sebagai satu orang korporat. Riwayat hidup Ishak dimulai dari pasal 21, dan riwayat hidup Abraham berakhir pada pasal 25. Riwayat hidup Yakub dimulai dari pasal 25, sedangkan riwayat hidup Ishak berakhir pada pasal 35. Riwayat hidup Yakub, diselingi tambahan riwayat hidup Yusuf, berakhir pada pasal 50. Arti bertumpukan ini ialah demikian: menurut pengalaman hayat, ketiga orang ini adalah satu orang, seorang yang korporat. Ketika Allah menciptakan manusia, Dia menciptakan manusia secara korporat, karena Adam se-orang korporat (Kej. 5:2). Nampak hal ini bukanlah satu perkara yang kecil. Janganlah mengira Anda terpanggil sebagai seorang individu yang sempurna. Tidak seorang pun dari kita adalah unit individu yang sempurna. Kita semua saling memerlukan, saya memerlukan Anda dan Anda juga memerlukan saya. Demikian juga, Abraham memerlukan Ishak dan Yakub, Ishak memerlukan Abra-ham dan Yakub, dan Yakub memerlukan Abraham, Ishak, dan Yusuf. Mereka semua memerlukan orang lain untuk bersama-sama menggenapkan panggilan Allah.

Membaca sampai di sini mungkin ada orang akan bertanya, “Tidakkah Anda percaya bahwa Abraham ada-lah seorang individu?” Tentu saja saya percaya, seperti halnya saya percaya bahwa Anda adalah seorang individu. Tetapi Alkitab mengatakan, kita adalah anggota-anggota Tubuh (Rm. 12:5; 1 Kor. 12:27). Satu anggota selamanya tidak dapat terpisah menjadi suatu unit individu yang sempurna. Jika satu anggota itu menjadi sempurna secara individu, itu berarti mati. Misalnya ibu jari saya adalah salah satu anggota tubuh saya, ia bukan satu individu sempurna yang terpisah sendiri. Jika demikian itu berarti mati.

(1) Allah Abraham, Allah Ishak,

dan Allah Yakub Adalah Allah yang Esa

Allah yang datang memanggil orang korporat ini, Allah yang menanggulangi orang korporat ini, adalah Allah Tritunggal — Bapa, Putra, dan Roh. Ketika Allah berbicara kepada Musa dari semak duri yang menyala, Dia mengatakan, “Akulah Allah ayahmu, Allah Abra-ham, Allah Ishak, dan Allah Yakub” (Kel. 3:6). Dalam Keluaran 3 kita nampak Musa dipanggil oleh Malaikat TUHAN (Yehova), dan Malaikat TUHAN itu adalah TUHAN sendiri, dan TUHAN adalah Allah Abraham, Allah Ishak, dan Allah Yakub (Kel. 3:2, 4, 6). Allah tidak berkata, “Akulah Allah Abraham, Ishak, Yakub, Yusuf, dan Musa.” Tidak. Ia berkata: Allah Abraham, Allah Ishak, dan Allah Yakub. Allah ini, Dialah Tuhan, Dia pun Malaikat TUHAN. Dapatkah Anda mengerti? Jika Anda membaca Keluaran 3, Anda akan nampak ayat 2 mem-bicarakan Malaikat TUHAN, sedang ayat 4 membicara-kan TUHAN. Kemudian ayat 6, Malaikat TUHAN ini, yaitu TUHAN sendiri berfirman kepada Musa, “Akulah Allah Abraham, Allah Ishak, dan Allah Yakub.” Per-cayakah Anda bahwa ini adalah tiga Allah? Di sini ada tiga persona ditambah dua — Malaikat TUHAN dan TUHAN. Apakah kelima individu ini lima Allah? Malaikat TUHAN dan TUHAN pastilah dua persona. Lalu dapat-kah kita katakan Malaikat TUHAN itulah TUHAN sen-diri? Dapat, karena Alkitab mengatakan demikian. Tidak seorang pun yang sepenuhnya dapat memahami Keluaran 3. Akhirnya, pada Keluaran 3:14 TUHAN berkata kepada Musa, “Aku adalah yang Aku ada” (Tl.). TUHAN seolah-olah berkata, “Akulah Malaikat TUHAN, Akulah TUHAN. Akulah Allah Abraham, Akulah Allah Ishak, Akulah Allah Yakub. Aku adalah Aku ada. Aku tidak peduli kamu mengerti atau tidak — Aku adalah Aku ada. Aku tidak peduli kamu setuju atau tidak — Aku adalah Aku ada.” Inilah Allah kita, Allah yang bekerja pada diri orang korporat. Allah ini ialah Malaikat TUHAN, TUHAN sen-diri, Allah Abraham, Ishak, dan Yakub, juga adalah “Aku adalah Aku ada” yang Mahaagung itu.

(a) Allah Abraham — Bapa

Panggilan Allah terhadap Abraham adalah pekerjaan Allah Bapa. Nama asli Abraham adalah Abram, artinya “bapa yang agung”. Lalu diganti menjadi Abraham, arti-nya “bapa banyak bangsa”. Kedua nama ini mengandung arti dasar yaitu bapa. Persona pertama dalam Allah Tritunggal ialah Bapa, dan Abraham adalah orang per-tama yang terpanggil. Abraham adalah bapa dari ras terpanggil; persona pertama Allah Tritunggal juga Bapa. Bapa itulah sumber hayat, juga sumber rencana dan ke-hendak. Allah Bapa mempunyai satu rencana, satu ke-hendak. Karena Ia mempunyai satu kehendak, maka dalam kekekalan yang lampau Dia memilih dan menen-tukan. Akhirnya di dalam waktu, Bapa datang memang-gil, membenarkan, menerima, dan menjaga orang-orang yang terpanggil. Pekerjaan Allah Bapa ialah memilih, menentukan, memanggil, membenarkan, menerima, dan menjaga orang-orang yang terpanggil. Memilih dan me-nentukan adalah sebelum memanggil. Kalau Anda mem-baca Roma 9:11, dapat nampak bahwa kedua perkara ini ada pada diri Yakub. Tetapi pada diri Abraham kita lihat hampir semua pengalaman menyangkut hal Allah Bapa. Ini sangatlah berarti.

(b) Allah Ishak — Putra (Anak)

Ishak adalah anak. Sangatlah berarti bila kita melihat bahwa persona kedua dari Allah Tritunggal juga adalah Putra. Apakah anak itu? Anak adalah yang keluar dari Bapa, mewarisi segala apa yang ada pada bapa, juga menggenapkan semua kehendak bapa. Jika Anda melihat sejarah Ishak, Anda dapat mengetahui bahwa ia justru orang yang demikian. Ia berasal dari bapa, mewarisi segala milik bapa, juga bekerja menggenapkan kehendak bapa. Inilah pengalaman Ishak, ini tepat sesuai dengan pengalaman persona kedua dari Allah Tritunggal, Putra Allah. Tuhan Yesus adalah Putra Allah, berasal dari Bapa (Yoh. 16:28), mewarisi segala sesuatu yang Bapa punya (Yoh. 16:15), juga menggenapkan semua kehendak Bapa (Yoh. 6:38). Riwayat hidup Ishak sesuai dengan riwayat hidup Tuhan.

(c) Allah Yakub — Roh

Sekarang kita lihat Yakub. Yakub seorang pemegang yang licik, dia membutuhkan lebih dari sekadar penga-laman terpanggil dan mewarisi. Dia terutama membutuh-kan semacam penanggulangan yang bisa mengubahnya (mentransformasi) dari seorang dalam tubuh daging ke seorang dalam Roh. Sebab itu sangat berarti bahwa per-sona ketiga Allah Tritunggal adalah Roh yang bekerja pada diri Yakub yang licik, si pemegang, untuk menang-gulangi dan mentransformasinya menjadi pangeran Allah. Pada diri Yakub kita nampak kelahiran kembali, penang-gulangan, pengubahan, pertumbuhan, dan kematangan hayat. Semuanya ini adalah pekerjaan Roh. Sebab itu Allah Yakub seharusnya adalah Allah Roh.

(2) Pengalaman Individu Abraham, Ishak, dan Yakub

Merupakan Tiga Aspek dari Satu

Pengalaman yang Lengkap

Pergantian ras dimulai dari Abraham, melalui Ishak, dan tergenapi oleh Yakub, karena itu pengalaman me-reka harus dipandang sebagai satu pengalaman yang leng-kap. Hal ini menyiratkan tiga adalah satu. Allah Tri-tunggal memandang mereka sebagai anggota dari satu manusia korporat, dan seturut hal inilah Allah menang-gulangi mereka, dan menjadi Allah mereka. Tiga puluh sembilan setengah pasal bagian akhir Kitab Kejadian merupakan biografi terjadinya manusia korporat yang tersusun tiga ditambah satu. Bila kita menggabungkan pengalaman Abraham, Ishak, Yakub (termasuk Yusuf), yang berbeda-beda itu, dapatlah kita nampak satu gam-baran yang jelas tentang pengalaman lengkap orang terpanggil.

(a) Pengalaman Abraham

Abraham mempunyai suatu permulaan yang baik ketika ia dipanggil, namun tidak ada catatan tentang terpilihnya atau tercapainya kematangan dan kedewasa-an pada dirinya. Untuk kesempurnaan dirinya, Abraham memerlukan terpilihnya Yakub dan akhir kematangan Yakub. Menurut catatan Kitab Kejadian, percayakah Anda bahwa Abraham telah mencapai puncak kematangan hayat? Kita tidak dapat menemukan catatan semacam itu: Abraham mempersembahkan Ishak di atas mezbah itulah puncak hayat rohaninya (pasal 22), tetapi ia belum mencapai kematangan. Pada pasal 24 kita nampak ia melakukan suatu perkara yang indah, mengambil se-orang istri untuk Ishak anaknya. Namun setelah hal itu, ia sendiri mengambil seorang istri juga (Kej. 25:1). Ini menunjukkan Abraham masih belum matang. Lalu, di manakah sebenarnya kematangannya? Kematangannya ada dalam kematangan Yakub.

Marilah kita mengambil contoh perkara-perkara Abraham dan Yakub turun ke Mesir. Abraham turun ke Mesir adalah suatu perkara yang memalukan, oleh karena masalah istrinya ia berbohong (Kej. 12:10-20). Tetapi Yakub turun ke Mesir adalah mulia (Kej. 47:7). Ia pergi ke Mesir bukan untuk mendapatkan keuntungan dari orang lain, ia pergi dengan membawa tangan berkat, bahkan ia memberkati Firaun, raja yang teragung di bumi pada zaman itu (Kej. 47:10). Hal ini menyatakan bahwa kematangan hayat ada pada diri Yakub, bukan pada diri Abraham. Menurut Alkitab, yang besar selalu memberkati yang kecil (Ibr. 7:7). Yang muda tidak dapat memberkati yang tua. Hendak memberkati orang lain, perlu kematangan hayat. Pernahkah Alkitab menying-gung bahwa Abraham memberkati seseorang? Tidak. Sebaliknya, hayat Yakub telah matang sampai sedemi-kian rupa sehingga ia dapat memberkati orang lain. Ketika ia memberkati cucu-cucunya, begitu jelas, tidak seperti Ishak yang ceroboh. Ketika Yusuf hendak me-mindahkan letak tangannya, Yakub tidak mau, dan ber-kata, “Aku tahu, anakku, aku tahu” (Kej. 48:19). Yakub telah matang sempurna. Walau kehidupan iman Abraham sangat tinggi, namun tidak kita jumpai adanya kema-tangan hayat seperti halnya Yakub. Dalam hal kema-tangan hayat, Abraham harus bersandar kepada Yakub. Sekalipun Abraham adalah kakek, ia masih perlu cucunya untuk menjadi kelengkapannya. Melalui ini kita nampak, menurut pengalaman, Abraham, Ishak, dan Yakub bukanlah berdiri sendiri-sendiri, mereka adalah tiga anggota pada keseluruhan Tubuh. Sama halnya dengan kita, kita juga saling beranggota (Rm. 12:5), dan pada suatu aspek hayat, kita saling bersandar.

(b) Pengalaman Ishak

Ishak adalah bukti lain dari hal ini. Pengalamannya tidak ada awalnya dan tidak ada akhirnya. Ia tidak per-nah dipanggil, dan tidak pernah matang. Walaupun ia telah memberkati anaknya, namun sangat ceroboh (Kej. 27:18-29). Tidak seperti Yakub memberkati cucu-cucunya begitu jelas. Ishak memerlukan permulaan pengalaman Abraham dan Yakub, juga pengalaman akhir Yakub, de-ngan demikian barulah ia mempunyai pengalaman yang lengkap. Ishak berada di tengah, ia tidak pernah mene-rima penanggulangan. Bapa dan anaknya pernah meneri-ma penanggulangan, namun ia tidak menerima penang-gulangan apa pun. Dalam hal menerima penanggulangan Allah ini, ia tertutup sepenuhnya oleh kedua ujung. Sering kali kita bisa berada di tengah-tengah anggota Tubuh lain adalah hal yang baik, karena yang di depan kita dan yang di belakang kita menjadi penudung dan pelengkap kita. Inilah koordinasi antara anggota Tubuh Kristus.

(c) Pengalaman Yakub

Dalam pengalaman Yakub ada akhir yang paling baik, paling tinggi, dan paling matang. Sekalipun pada mulanya ia adalah seorang pemegang, perampas yang licik, tetapi setelah mengalami penanggulangan Allah, ia menjadi benar-benar matang. Kitab Kejadian terdapat banyak orang yang baik, seperti Habel, Henokh, Nuh, dan Abraham, namun tidak seorang pun yang sematang Yakub. Setelah ia matang, tangan pemegangnya menjadi tangan pemberkat. Setiap kali orang menghampiri tangannya, di sana tidak ada kutukan, yang ada hanya berkat. Ia tidak saja memberkati keturunan iman, bah-kan memberkati orang dunia. Ia begitu tinggi dan begitu matang.

Meskipun hayat Yakub telah matang, tetapi ia tidak memiliki pengalaman terpanggil, juga tidak memiliki pengalaman hidup beriman, lebih-lebih tidak memiliki pengalaman mewarisi karunia. Untuk kesempurnaannya, Yakub perlu pengalaman terpanggil dan hidup beriman-nya Abraham, juga perlu pengalaman mewarisi karunia-nya Ishak. Yakub miskin dalam iman, ia tidak tahu bagaimana percaya, hanya tahu bagaimana memegang. Ketika Abraham mengalahkan raja-raja, menerima berkat Melkisedek, ia bertemu dengan Raja Sodom. Raja Sodom menganjuri Abraham yang menang perang untuk meng-ambil barang jarahan bagi diri sendiri. Tetapi seutas benang pun Abraham tidak mau, ia percaya kepada Allah yang Mahatinggi, Pencipta langit dan bumi (Kej. 14:19-23). Abraham telah menerima berkat Melkisedek dan ia tidak butuh bantuan Raja Sodom. Inilah penga-laman iman Abraham. Tetapi pengalaman Yakub sama sekali berbeda. Ke mana pun ia pergi, selalu memegang dulu. Dalam seumur hidupnya, ia memegang, bahkan ia bergumul dengan Allah. Ketika Allah dalam mimpi me-nyatakan kepadanya di Betel, Yakub bangun dari tidur-nya, berkata, “Jika Allah akan menyertai dan akan melindungi aku di jalan yang kutempuh ini, memberikan kepadaku roti untuk dimakan dan pakaian untuk dipakai . . . maka Tuhan akan menjadi Allahku . . . Dari segala sesuatu yang Engkau berikan kepadaku akan selalu kupersembahkan sepersepuluh kepada-Mu” (Kej. 28:20-22). Yakub membicarakan suatu transaksi dengan Allah. Kalau Allah mencukupi keperluannya, ia akan memberi sepersepuluh sebagai imbalannya. Seakan-akan Yakub berkata, “Ya Allah, jika Engkau memelihara sandang panganku dan segala kebutuhanku, aku akan memberi-Mu upah sepersepuluh.” Menurut perjanjian ini, Yakub mendapat sembilan puluh persen, sedang Allah hanya mendapat sepuluh persen. Di sini kita nampak, Yakub tidak seperti Abraham yang begitu beriman.

Namun, akhirnya Yakub mutlak matang. Kematang-annya sampai sedemikian tinggi hingga Yusuf (yaitu sebagian dari Yakub) dapat memerintah seluruh dunia. Pada waktu itu, seluruh dunia berada di bawah tangan Firaun, tetapi Firaun memberikan seluruh kuasanya kepada Yusuf. Dalam arti sesungguhnya, Yusuf bukan memerintah bagi Firaun, melainkan memerintah bagi Yakub. Di sini kita nampak kerajaan, Perjanjian Baru berakhir pada kerajaan. Setelah orang terpanggil meng-genapkan pengalamannya terhadap Allah Tritunggal, tiba-lah saat kerajaan, itulah Kerajaan Seribu Tahun. Yusuf hanya memerintah beberapa puluh tahun, namun pada masa kerajaan, kita akan memerintah selama seribu tahun.

Bila kita menggabungkan pengalaman Abraham, Ishak, dan Yakub, kita dapat nampak suatu gambar yang jelas tentang pengalaman sempurna orang terpanggil. Untuk membantu kita supaya mengerti, kita boleh melihat gambar di bagian belakang tulisan ini. Sebagai orang yang dipanggil Tuhan, Abraham, Ishak, dan Yakub sudah terpilih pada masa kekekalan yang lampau. Ke-mudian dalam waktu, setelah mereka lahir, mereka dipanggil. Setelah bertahun-tahun Abraham dipanggil, ia disunat dan berganti nama. Pengalaman sebagian ini di-tunjukkan dengan garis melengkung. Inilah garis dari pengalaman orang terpanggil. Kita lihat dalam gambar, pengalaman Ishak seperti secangkir air putih yang tawar. Sampai pada pengalaman Yakub dinyatakan lagi dengan garis lengkung. Setelah orang yang memegang itu me-nerima penanggulangan, ia menjadi pangeran Allah. Akhirnya ketiga orang yang terpanggil itu menjadi satu garis lurus. Mereka semua akan berada dalam kekekalan yang abadi. Dari gambar ini kita nampak bahwa Yakub atau Israel mencakup Yusuf. Alasannya sudah kita katakan, Yusuf adalah bagian dari Yakub yang berkuasa. Yakub pangeran Allah, Yusuf yang berkuasa memerintah seluruh dunia, ia berkuasa atas seluruh bumi bagi Yakub. Yusuf adalah anak yang memerintah, Yakub adalah ayah yang memerintah.

Pengalaman Abraham, Ishak, dan Yakub merupakan pengalaman sempurna orang terpanggil korporat. Jika kita nampak ini, kita akan sujud menyembah dan ber-kata, “Ya, Allah Bapa, kami memerlukan Engkau. Kami memerlukan rencana-Mu, tujuan, pilihan, penetapan, panggilan, pembenaran, penerimaan, dan pemeliharaan. Ya, Allah Putra, kami memerlukan Engkau. Kami me-merlukan Engkau sebagai Penebus, supaya kami mene-rima warisan. Kami memerlukan Engkau yang meng-genapkan segala rencana Bapa dan semua yang akan dilakukan Bapa. Ya, Allah Roh, kami memerlukan Engkau. Kami memerlukan Engkau untuk melahirkan kami kembali, mendisiplin, mengubah, dan menumbuh-kan kami agar kami matang dalam hayat. Kami me-merlukan Engkau untuk menjadikan kami Israel-israel sejati. Kami memerlukan Engkau untuk menjadikan riil semua rencana Bapa dan semua yang Putra genapkan bagi kami. Ya Allah Tritunggal kami, betapa kami sujud menyembah-Mu, memuji-Mu, dan berterima kasih atas semua yang Engkau lakukan bagi kami dan di dalam kami!”

Setelah melihat hal ini, kita akan rendah hati dan mengenal bahwa seluruh pengalaman orang terpanggil adalah terlalu limpah untuk kita alami secara individu. Saya tidak dapat sebagai Abraham, Ishak, dan Yakub dengan Yusuf. Karena saya hanya dapat sebagai salah satu di antara ketiganya, saya harus belajar bersandar pada saudara-saudara saya untuk mendapatkan penga-laman yang lainnya. Bahkan jika saya telah sematang Israel, saya tetap memerlukan orang lain sebagai Abra-ham saya dan Ishak saya. Kita semua harus menyadari bahwa paling jauh kita ini hanya merupakan satu anggota dari Tubuh. Kita memerlukan semua anggota lain. Menurut latar belakang tradisi kita, semua menem-patkan kedudukan Abraham paling tinggi, menganggap ia melebihi yang lain. Tetapi ia tidak melebihi yang lain. Sekalipun dalam hal iman ia melebihi yang lain, tetapi ia tidak melebihi mereka dalam hal kematangan. Sebagai-mana kita lihat, Yakublah yang paling matang.

Hari ini kita semua dalam proses pengalaman orang yang dipanggil Allah. Beberapa di antara kita adalah Abraham, beberapa lainnya adalah Ishak, dan yang lainnya adalah Yakub. Sekarang kita menikmati Allah Tritunggal dalam pengalaman kita, bukan dalam teologi. Kita memperoleh Dia bukan sebagai konsepsi doktrin tetapi sebagai kenikmatan dalam pengalaman. Kita menikmati Allah Bapa, Allah Putra, dan Allah Roh. Alangkah ajaib dan indah menikmati panggilan Bapa, pembenaran, penerimaan, dan pemeliharaan bagi kita. Betapa indahnya merealisasikan penebusan Putra, penye-lamatan, pewarisan, dan pencapaian kehendak Allah yang kekal. Betapa unggulnya mengalami kelahiran kem-bali oleh Roh, pendisiplin, pengubahan, dan penggarapan yang menyebabkan kita bertumbuh matang. Kita tidak hanya membicarakan Allah Tritunggal, tetapi kita meng-alami-Nya, kita berbagian dalam Bapa, Putra, dan Roh. Allah Tritunggal beserta kita dalam pengalaman. Dalam hidup gereja, kita adalah Abraham-abraham, Ishak-ishak, dan Yakub-yakub termasuk Yusuf-yusuf, yang mengalami Allah Tritunggal. Kita menikmati pemilihan, penetapan, pemanggilan, pembenaran, penerimaan, pemeliharaan, penebusan, pewarisan, penggenapan kehendak Allah, ke-lahiran kembali, pendisiplinan, pengubahan, pertumbuh-an, pematangan, dan yang terakhir pemerintahan. Puji Tuhan! Inilah Allah Tritunggal beserta orang terpanggil yang korporat.