MOTIVASI DAN KEKUATAN ORANG YANG TERPANGGIL
Dalam berita yang lalu kita melihat Allah Tritunggal memperlakukan Abraham, Ishak, dan Yakub sebagai satu manusia korporat yang sempurna. Jika kita ingin me-masuki bagian akhir Kitab Kejadian, yakni panggilan Allah, kita perlu ingat bahwa Abraham, Ishak, dan Yakub bukanlah satuan lengkap yang terpisah, melainkan di bawah ekonomi Allah, mereka adalah satu manusia kor-porat yang lengkap. Allah memperlakukan mereka ma-sing-masing sebagai salah satu bagian dari satuan yang lengkap itu. Pengalaman mereka bukan merupakan tiga pengalaman individu yang terpisah, melainkan tiga aspek dari satu pengalaman yang lengkap.
b. Aspek Pertama — Pengalaman Abraham
Dalam berita ini kita perlu melihat aspek pertama atas pengalaman yang lengkap dari orang-orang yang di-panggil Allah. Aspek ini ternyata sepenuhnya dalam kehidupan Abraham (Kej. 11:10—25:18). Ini adalah bagian yang sangat mendasar. Kehidupan Abraham adalah gambaran aspek pertama dari pengalaman yang lengkap atas orang yang dipanggil Allah. Pengalamannya bertolak dari saat dipanggil, melalui hidup berdasarkan iman di dalam persekutuan, sampai kepada pengenalan akan karunia.
(1). Terpanggil
Di dalam pengalaman Abraham, pertama-tama ia dipanggil oleh Allah. Seperti apa yang telah kita lihat, panggilan Allah bukan berasal atau diprakarsai oleh orang yang terpanggil, melainkan diprakarsai oleh Allah yang memanggil. Allah itulah Pemrakarsa panggilan-Nya.
(a) Motivasi dan Kekuatan
Sebagaimana panggilan Allah bukan berasal dari orang-orang yang terpanggil, tetapi berasal dari Allah yang memanggil, demikian juga motivasi dan kekuatan menerima panggilan Allah tidak berasal dari orang yang terpanggil, tetapi dari yang memberi panggilan. Motivasi dan kekuatan yang membuat Abraham sanggup menjawab panggilan Allah datangnya dari Allah sendiri. Apakah motivasi dan kekuatan panggilan itu? Jika kita meneliti keadaan Abraham dengan rinci, kita dapat melihat tiga hal yang mendorong Abraham menerima panggilan Allah: penampakan diri Allah, panggilan Allah, dan janji Allah. Sekarang marilah kita melihat satu per satu.
1) Penampakan Allah
Aspek pertama motivasi dan kekuatan menerima panggilan Allah adalah penampakan diri Allah. Jika saya yang datang kepada Anda, itu tidak akan berarti apa-apa, karena saya bukan apa-apa. Namun, jika Presiden Amerika yang mengadakan kunjungan pribadi kepada Anda, niscaya Anda akan gembira bukan main, bisa se-malam suntuk tidak dapat tidur. Lalu, siapakah yang mengunjungi Abraham? Allah yang Mahamulia! (Kis. 7:2). Hal ini diungkapkan oleh Stefanus dalam Kisah Para Rasul 7:2. Stefanus memberi tahu orang-orang yang menganiaya dia bahwa Allah yang Mahamulia menam-pakkan diri-Nya kepada Abraham, bapa leluhur mereka. Tidak ada ayat lain dalam Alkitab yang mengatakan bah-wa Allah yang Mahamulia menampakkan diri-Nya kepada Abraham. Ketika Stefanus berkata-kata, Yesus yang mu-lia menampakkan diri-Nya kepada Stefanus (Kis. 7:55-56). Langit terbuka dan ia melihat Yesus di dalam kemuliaan di sebelah kanan Allah. Stefanus berani mati bagi Tuhan Yesus, karena ketika orang-orang itu me-nentang dia, dia nampak Tuhan Yesus. Orang-orang me-lemparinya, tetapi Tuhan Yesus tersenyum terhadapnya. Tuhan menampakkan diri kepada Stefanus, karena itu dia merasa mudah sekali, bahkan sangat mudah men-derita penganiayaan. Penganiayaan itu tidak dapat diban-dingkan dengan penampakkan diri Tuhan Yesus di dalam kemuliaan. Berhubung Stefanus menghadapi situasi yang demikian, maka Yesus yang di dalam kemuliaan memper-lihatkan diri kepadanya.
Dalam prinsip yang sama, Allah yang Mahamulia menampakkan diri-Nya kepada Abraham, mengunjungi-nya dengan penampakan diri-Nya, karena saat itu, Abraham sedang berada di Kasdim di bawah pengaruh latar belakang yang amat kuat. Dalam berita berikutnya kita akan melihat bahwa “kasdim” dalam bahasa Ibrani berarti “milik setan” atau “setani”. Kasdim merupakan tempat milik setan, tempat yang penuh setan. Yosua 24:2 berkata, Abraham dan keluarganya beribadah kepada ilah lain. Mereka menyembah berhala, dan di belakang berhala itulah setan.
Kasdim berada di Tanah Mesopotamia. Arti kata “mesopotamia” adalah “di antara dua sungai”. Menurut ilmu bumi, wilayah Mesopotamia dibatasi oleh dua sungai besar, yaitu Sungai Efrat (bahasa Ibraninya Perath) dan Tigris (bahasa Ibraninya Hiddekel). Dataran luas di an-tara dua sungai ini disebut Mesopotamia. Kasdim adalah bagian dari Mesopotamia. Ini berarti tempat kediaman Abraham tidak saja merupakan tempat yang penuh setan, bahkan merupakan tempat yang dikelilingi oleh dua sungai besar. Sangat sulit baginya atau seseorang lain untuk meninggalkan tempat yang seperti ini, karena setan-setan menahannya, ditambah sungai besar menge-lilinginya. Waktu itu belum ada alat trasportasi yang mo-deren, orang harus berjalan kaki. Bagaimana Abraham mampu keluar dari Kasdim? Karena latar belakangnya demikian terlalu kuat, maka Allah menampakkan diri-Nya kepada Abraham, agar dia bisa meninggalkan tempat itu.
Ini adalah sebuah ilustrasi atau gambar mengenai keadaan kita sebelum beroleh selamat. Tadinya kita se-mua berada di Kasdim. Semua orang muda harus menge-nal bahwa setiap Sekolah Menengah Pertama itulah Kasdim, tempat yang penuh dengan setan. Banyak mu-rid sebagai setan-setan kecil, menjual obat bius kepada Anda, mereka mencoba menarik Anda dengan berkata, “Mana mungkin kamu berlainan dengan kami? Jika kamu tidak mau bersama kami, ke mana kamu akan pergi? Ada dua sungai besar yang mengepung kamu di sini. Kamu harus tinggal bersama kami!” Adakalanya suami itulah setan bagi istri dan istri itulah setan bagi suami. Menurut kata-kata dunia, begitu seorang pemuda meni-kah, ia segera masuk dalam ke kawasan setan. Demikian pula bagi seorang pemudi yang menikah. Bayangkan, mi-salkan seorang pemuda jatuh cinta kepada seorang pemudi, pemudi ini mempunyai latar belakang yang rumit; ia mempunyai famili dan teman yang sangat ba-nyak, dan mereka itu semua adalah milik setan. Jika pemuda ini menikah dengan pemudi ini, ia akan jatuh dalam kawasan setan. Jika pemuda ini datang kepada saya, saya akan berkata, “Jangan mengira pemudi ini sangat cantik, menyenangkan, dan baik. Anda harus memeriksa latar belakangnya. Anda tidak hanya menikah dengan dia, Anda pun menikah dengan seluruh latar be-lakangnya. Setelah Anda menikah dengan gadis ini ber-ikut latar belakangnya yang milik setan itu, Anda akan segera menemukan bahwa diri Anda berada di Kasdim. Setan-setan di sana akan menahan Anda.” Namun Allah sudah memilih anak muda ini. Jangan mengira dia mu-dah sekali percaya Tuhan dan beroleh selamat. Ini bukan perihal beroleh selamat sambil menunggu naik surga. Tidak! Di dalam Alkitab, beroleh selamat adalah dipang-gil keluar dari latar belakang, lingkungan, dan situasi keliling Anda. Anda perlu keluar.
Kita telah melihat, janji Allah kepada Abraham merupakan sebuah berita Injil (Gal. 3:8). Salah satu bagian dari Injil ini adalah Allah menyuruh Abraham me-ninggalkan negerinya. Apa yang akan Anda perbuat seandainya Anda sebagai Abraham? Mungkin di belakang Sara banyak setannya, setan-setan itu tidak menyetujui Abraham meninggalkan Kasdim. Inilah sebabnya Allah yang Mahamulia menampakkan diri-Nya kepada Abra-ham. Bukan malaikat atau orang terhormat yang menam-pakkan dirinya kepada Abraham, melainkan Allah yang Mahamulia sendiri yang menampakkan diri-Nya kepada Abraham. Penampakan diri ini merupakan satu tarikan yang besar, yang membuat Abraham menjawab panggilan Allah.
Dalam Matius kita melihat, ketika Yesus sedang berjalan menyusuri Danau Galilea, Dia memanggil Petrus, Andreas, Yakobus, dan Yohanes (Mat. 4:18-22). Tuhan Yesus hanya berkata kepada mereka “Mari, ikutlah Aku,” segera mereka mengikuti Yesus. Bertahun-tahun saya tidak paham perkara ini. Yesus, orang Nazaret yang kecil ini, berkata, “Mari, ikutlah Aku,” dan mereka meng-ikuti Dia. Saya tidak mengerti perkara ini sampai pada suatu hari saya menemukan bahwa Yesus yang berjalan menyusuri Danau Galilea itu adalah Terang yang besar (Mat. 4:16). Petrus, Andreas, Yakobus, dan Yohanes, se-muanya tertarik oleh Terang yang besar itu. Sewaktu Yesus melihat mereka dan memanggil mereka, mereka tertarik kepada-Nya. Kelihatannya yang memanggil mereka itu adalah orang Nazaret yang miskin, tetapi se-sungguhnya Dia itu justru Allah yang Mahamulia. Demikian juga Allah yang Mahamulia menampakkan diri-Nya kepada Abraham di tanah milik setan, tanah yang dikelilingi oleh air besar. Saya percaya bahwa pada prinsipnya kita semua pernah mengalami penampakan diri ini. Diselamatkan bukan hanya mendengarkan Injil, mengangguk-anggukan kepala, selanjutnya mengaku diri sebagai orang berdosa, lalu menerima Tuhan Yesus. Meskipun semuanya itu benar, tetapi saya harus berkata, seorang yang sungguh-sungguh beroleh selamat adalah orang yang telah melihat penampakan diri Tuhan Yesus.
Ketika kita bertobat dan percaya Tuhan, banyak yang seolah-olah telah melihat “kemuliaan Allah tampak pada wajah Kristus” (2 Kor. 4:6). Hal ini menjadi satu daya tarik yang besar di antara kita.
Kita, orang-orang yang telah beroleh selamat, semua pernah mempunyai penampakan diri Yesus. Hal ini bukan terjadi di lahir, melainkan terjadi di dalam roh dalam batin kita. Mungkin kita lupa akan tanggal dan tahun kita diselamatkan, namun kita tidak bisa melu-pakan ketika dalam batin kita nampak Yesus. Yesus me-nampakkan diri-Nya kepada kita dan kita bertemu dengan Dia. Inilah pengalaman beroleh selamat yang se-jati. Beroleh selamat adalah dipanggil. Sebelum Tuhan Yesus menampakkan diri-Nya kepada Anda, sangat sulit bagi Anda menjadi orang Kristen yang murni. Latar be-lakang dan situasi sekeliling Anda tidak mengizinkan Anda berbeda dengan yang lain. Pada suatu hari, Allah menampakkan diri-Nya kepada Anda. Oh, Yesus yang hidup, di dalam kemuliaan menampakkan diri-Nya ke-pada Anda. Itulah panggilan terhadap Anda, juga pe-misahan-Nya dan pertolongan-Nya. Melalui penampakan diri-Nya secara demikian, Dia memanggil Anda, menye-lamatkan Anda, dan memisahkan Anda. Abraham mem-punyai pengalaman yang sama dengan kita. Penampakan diri Allah dengan kuat menarik Abraham. Penampakan diri Allah inilah motivasi dan kekuatan Abraham me-nerima panggilan Allah. Jika Anda merenungkan latar belakang dan situasi Abraham, Anda akan mengerti, selain tarikan dan rangsangan semacam itu, dia tidak mungkin dapat menerima panggilan Allah.
2) Panggilan Allah
Faktor kedua dari motivasi dan kekuatan adalah panggilan Allah (Kis. 7:3-4; Kej. 12:1). Allah bukan hanya menampakkan diri-Nya kepada Abraham, juga berkata-kata kepada Abraham. Ketika Allah datang kepada Abra-ham, Dia memanggil Abraham, berbicara kepada Abra-ham. Memanggil berarti berbicara. Mendengar Allah ber-bicara bukanlah perkara yang kecil. Pada waktu kita diselamatkan, kita semua mengalami penampakan diri Tuhan Yesus. Sewaktu Ia menampakkan diri-Nya kepada kita, Dia berbicara kepada kita. Ini adalah pembicaraan ilahi, pembicaraan di dalam roh.
Banyak di antara kita dapat bersaksi bahwa ketika kita diselamatkan, dalam lubuk batin kita terasa Yesus berbicara kepada kita. Mungkin ketika Anda masih sebagai murid, Tuhan Yesus datang kepada Anda dan berkata, “Apa yang sedang kamu kerjakan di sini?” Anda menjawab, “Aku menuntut pelajaran untuk mendapatkan gelar.” Tuhan Yesus bertanya, “Untuk apa gelar itu?” Anda menjawab, “Untuk mencari nafkah yang lebih baik bagi masa depan.” Tuhan bertanya lagi, “Selanjutnya ba-gaimana? Bagiamana masa depanmu?” Kepada yang lain, Tuhan Yesus berkata dengan cara yang berbeda, kata-Nya: “Tengoklah, betapa berdosanya kamu, betapa rusak dan kasihannya dirimu!” Ada orang menjawab, “Jangan mengganggu aku!” Tuhan berkata, “Aku mengasihimu, Aku mau menyelamatkanmu. Apakah kamu tidak tahu bahwa Aku adalah Yesus. Aku akan melepaskanmu dari situasimu yang kasihan ini. Maukah menerima Aku?” Kepada yang lain lagi Tuhan Yesus berkata, “Apakah kamu tidak tahu bahwa Aku inilah Sang Hidup. Hanya Akulah yang dapat memberi kamu hidup yang kekal.” Banyak di antara kita mendengar kata-kata demikian. Kata-kata ini bukan keluar dari mulut pengkhotbah, melainkan dari mulut Yesus yang hidup. Apakah Anda masih ingat perkataan apa yang Anda dengar ketika Yesus yang hidup menampakkan diri-Nya pada saat Anda dipanggil dan diselamatkan? Orang-orang non-Kristen atau orang-orang Kristen sebutan, tidak mempunyai pengalaman ini, mereka menganggap hal ini takhayul. Namun ini bukan takhayul! Allah yang mulia telah datang kepada kita dan berbicara kepada kita. Abraham dapat berkata, “Janganlah mengatakan ini takhayul. Aku mendengar Dia berbicara. Dia bersabda, ‘Pergilah dari negerimu!’ Perkataan ini bukan berasal dari ayahku atau istriku. Perkataan ini diucapkan oleh Allah yang Maha-mulia.” Beri tahu saya dengan jujur, sudahkah Anda mendengar Dia berbicara? Saya tidak percaya bahwa orang yang telah beroleh selamat dapat binasa lagi. Ia dapat saja undur, tetapi ia selamanya tidak dapat melupakan penampakan diri dan pembicaraan Tuhan Yesus. Bahkan mungkin ketika ia berkata, “Aku tidak mau lagi percaya kepada Yesus!” Di dalam lubuk batin-nya Tuhan berkata, “Bagaimana mungkin kamu berkata tidak mau percaya Aku lagi?” Anda tidak dapat melu-pakan penampakan diri dan pembicaraan Yesus kepada Anda.
Banyak orang muda bertanya kepada saya, apakah perbedaan antara orang Kristen sejati dengan orang Kristen palsu. Mereka sama-sama menyatakan percaya kepada Yesus. Jawaban terbaik yang dapat saya berikan ialah: Orang Kristen sejati mempunyai Yesus yang ber-bicara kepadanya, dan orang Kristen palsu hanya mem-punyai khotbah-khotbah doktrin. Orang Kristen sejati sedikitnya pernah sekali di dalam batinnya langsung mendengar Yesus berbicara melalui Roh yang hidup. Pembicaraan itu merupakan kekuatan yang memam-pukan kita menerima panggilan Allah.
3) Janji Allah
Aspek ketiga dari motivasi dan kekuatan menerima panggilan Allah adalah janji Allah (Kej. 12:2-3). Sebagian besar perkataan Allah kepada kita adalah berupa janji-Nya. Jika Allah berkata, “Aku tidak menyusahkan kamu, Aku ingin melepaskan kamu,” inilah janji. Jika Ia ber-kata, “Aku mengasihimu,” ini juga janji. Kebanyakan apa yang Ia ucapkan kepada kita merupakan janji.
Apa yang dikatakan Allah yang mulia kepada Abra-ham? Pertama, Allah yang mulia berkata, “Pergilah dari negerimu dan dari sanak saudaramu” (Kej. 12:1). Boleh jadi Anda berpendapat, ini bukan janji. Tetapi sebenar-nya ini termasuk janji. Ketika Allah berkata kepada Abraham untuk meninggalkan negerinya, di dalam per-kataan itu terkandung janji Allah tentang tempat bagi Abraham. Kalau tidak, Abraham akan berkata, “Jika aku meninggalkan negeriku, ke mana aku harus pergi?” Allah mempunyai sebuah tempat bagi Abraham. Jadi, perintah untuk meninggalkan negeri itu mengandung sebuah janji, yakni janji tentang tanah permai. Abraham dapat berkata, “Karena Allah menyuruhku pergi dari negeriku, pasti berarti Ia mempunyai sebuah tempat bagiku.” Allah menyuruh Abraham pergi dari negerinya, dari sanak saudaranya, dan dari rumah ayahnya, ke negeri yang akan Allah tunjukkan kepadanya. Itu pasti sebuah janji. Janji Allah merupakan pendorong untuk meninggalkan negerinya.
a) Membuat Orang yang Terpanggil Menjadi Bangsa yang Besar
Dalam Kejadian 12:2 Allah berfirman kepada Abra-ham, “Aku akan membuat engkau menjadi bangsa yang besar.” Perkataan ini sangat berkebalikan dengan latar belakang Abraham. Di Babel, terdapat bangsa-bangsa yang terbentuk dari kaum keluarga. Abraham tinggal dalam suasana seperti itu. Ketika Allah datang kepada Abraham, memberitahunya agar meninggalkan negerinya, Abraham mungkin berkata di dalam dirinya sendiri, “Bagaimanakah halnya menjadi satu bangsa?” Kemudian Allah berjanji bahwa Ia akan membuatnya menjadi suatu bangsa yang besar. Allah juga berkata, “Dan memberkati engkau serta membuat namamu masyhur.” Ini juga berkebalikan dengan Babel. Ketika orang-orang men-dirikan Menara Babel, mereka berusaha mencari nama bagi diri mereka. Tetapi Allah di dalam janji-Nya, seolah-olah berkata kepada Abraham, “Engkau tidak perlu men-cari nama bagi dirimu, Aku akan membuat namamu masyhur. Engkau tidak perlu membentuk suatu bangsa. Aku akan menjadikan suatu bangsa darimu.”
Allah berjanji kepada Abraham bahwa Ia akan mem-buat dia menjadi “bangsa yang besar”. “Bangsa yang be-sar” ini adalah Kerajaan Allah, yang terdiri dari bangsa Israel di dalam Perjanjian Lama, gereja dari bangsa Is-rael di dalam Perjanjian Baru, Kerajaan Seribu Tahun pada zaman yang akan datang, dan langit baru dan bumi baru di dalam kekekalan abadi. (Dalam Kerajaan Seribu Tahun ada dua bagian — bagian surgawi dan bagian bumiah. Bagian surgawi adalah Kerajaan Surga; para pe-menang pada waktu yang lampau dan pada waktu yang akan datang akan meraja bersama Kristus di dalam ba-gian ini. Bagian bumiah adalah Kerajaan Mesias, yang terbentuk dari negara Yahudi yang akan datang). Bangsa Israel di dalam zaman Perjanjian Lama, gereja di dalam zaman Perjanjian Baru, Kerajaan Seribu Tahun yang akan datang, dan langit baru dan bumi baru di dalam ke-kekalan abadi, semuanya termasuk dalam “bangsa yang besar” ini, yang Allah janjikan kepada Abraham. Melalui hal ini nama Abraham menjadi masyhur. Selain nama Tuhan Yesus, di bumi ini tidak ada nama lain yang lebih besar daripada nama Abraham. Dia adalah bapa dari “bangsa yang besar”. Ia adalah bapa bangsa Israel, bapa gereja, bapa bangsa dari Kerajaan Seribu Tahun, dan bapa bagi orang-orang tertebus di dalam kekekalan abadi. Bangsa yang alangkah besar dan nama yang alangkah masyhur!
b) Memberkati Orang yang Terpanggil
Allah berjanji memberkati Abraham (Kej. 12:2). Berkat apakah ini? Yaitu berkat mengenai penciptaan dan penebusan Allah, termasuk semua yang ingin Allah berikan kepada manusia — diri Allah berikut semua yang dimiliki-Nya dalam zaman ini dan zaman yang akan datang. Galatia 3:14 menunjukkan kepada kita bahwa berkat ini akhirnya berupa Roh yang dijanjikan itu: “Supaya di dalam Dia berkat Abraham sampai kepada bangsa-bangsa lain, sehingga melalui iman kita mene-rima Roh yang telah dijanjikan itu.” Roh itu adalah diri Allah sendiri, jadi ini berarti Allah berjanji bahwa Ia akan memberikan diri-Nya sendiri kepada Abraham sebagai berkat.
c) Membuat Orang yang Terpanggil
Menjadi Berkat bagi Semua Bangsa di Bumi
Allah tidak hanya berjanji bahwa diri-Nya akan men-jadi berkat bagi Abraham, tetapi juga berjanji bahwa Abraham akan menjadi berkat bagi semua kaum, semua bangsa di bumi (Kej. 12:3). Dalam panggilan-Nya, Allah beralih dari Adam ke Abraham. Ini berarti Ia telah me-ninggalkan ras Adam. Tetapi dalam janji-Nya, Allah mem-buat peralihan lain, yakni dari Abraham kepada semua kaum ras Adam melalui Yesus Kristus, keturunan Abraham (Gal. 3:14). Ini sangat bermakna. Pertama-tama, Allah beralih dari Adam ke Abraham, dan akhirnya melalui Kristus Ia beralih dari Abraham kembali kepada ras yang tercipta. Melalui perpalingan yang baru ini, kita semua didapatkan oleh Tuhan. Kelihatannya Allah telah meninggalkan kita dan berbalik kepada Abraham. Ke-mudian Allah seolah-olah berkata kepada Abraham, “Aku tidak hanya memberikan diri-Ku kepadamu sebagai ber-kat, Aku juga akan menjadikan engkau sebagai berkat bagi semua orang yang kasihan dari ras Adam. Abraham, marilah kita berpaling kembali.” Boleh kita katakan bahwa Allah telah membuat perpalingan huruf U. Melalui perpalingan U ini, semua orang terpanggil dari bangsa-bangsa terkumpul menjadi satu.
Izinkan saya berkata sedikit mengenai sikap kita terhadap orang Yahudi: Jangan sekali-kali berkata salah kepada orang Yahudi. Allah berkata, “Aku akan mem-berkati orang-orang yang memberkati engkau, dan me-ngutuk orang-orang yang mengutuk engkau” Jika Anda membaca sejarah, Anda akan menemukan bahwa selama 25 abad yang lalu, sejak zaman Nebukadnezar meng-hancurkan Kota Yerusalem hingga sekarang, setiap ne-gara, orang, bangsa, atau pun individu yang mengutuki orang Yahudi, telah menerima kutukan. Sebaliknya, siapa saja yang memberkati orang Yahudi, menerima berkat. Tidak seorang pun pemimpin di dalam sejarah yang mengalami kematian lebih naas daripada Hitler. Hitler mati dalam keadaan yang demikian, disebabkan ia terkutuk atas kutukannya terhadap orang-orang Yahudi. Hari ini Amerika Serikat menolong bangsa Israel, maka Amerika Serikat pasti berada di bawah berkat Allah. Ini bukan pendapat saya, melainkan sesuai janji Allah di dalam Kejadian 12:3.
d) Janji Allah Adalah Injil yang Diberitakan kepada Abraham
Ketika saya masih muda, saya membaca Kejadian 12:2-3, saya sama sekali tidak mempunyai wahyu ter-hadap ayat ini. Ayat-ayat ini seolah tulang-tulang keras. Saya tidak mengerti apa yang Allah bicarakan ketika Dia memberi tahu Abraham bahwa Dia akan membuat Abra-ham menjadi bangsa yang besar, Dia akan memberkati Abraham dan membuat Abraham menjadi berkat bagi orang lain. Akhirnya, beberapa tahun kemudian, dengan bantuan Galatia 3, saya membaca kembali ayat-ayat ini, barulah mengerti bahwa janji Allah kepada Abraham dalam Kejadian 12:2-3 adalah pemberitaan Injil. Tiga bagian atas janji Allah — membuat Abraham menjadi bangsa yang besar, memberkati Abraham, dan membuat dia menjadi berkat bagi semua kaum di muka bumi — itulah Injil yang diberitakan kepada Abraham (Gal. 3:8). Isi janji Allah tepat sama dengan isi Injil Allah. Pertama-tama Injil diberitakan mulai dengan kata-kata, “Berto-batlah, sebab Kerajaan Surga sudah dekat!” (Mat. 3:2). Kita telah melihat, “bangsa yang besar” menunjukkan kerajaan. Kedua, berkat yang dijanjikan Allah kepada Abraham adalah Roh Kudus, yaitu Allah sendiri. Di dalam Injil, setelah kita bertobat demi Kerajaan Surga, kita perlu percaya agar kita memperoleh hayat yang kekal, hayat yang kekal ini ada di dalam Roh Kudus. Janji berkat yang diberikan kepada Abraham, menurut Galatia 3:14 adalah Roh yang dijanjikan itu, inilah justru berkat di dalam Injil. Berkat yang ketiga ditujukan ke-pada semua bangsa, sebab Allah berfirman, “Olehmu se-mua kaum di muka bumi akan mendapat berkat.”
e) Mengandung Tujuan Kekal Allah
Janji Allah kepada Abraham mengandung tujuan kekal Allah. Tujuan kekal Allah ialah menghendaki manu-sia mengekspresikan dan mewakili Dia. Allah berfirman bahwa Dia akan membuat Abraham menjadi “bangsa yang besar” dan akan memberkati dia. Bangsa menyangkut perihal pemerintahan untuk mewakili Allah, dan berkat menyangkut gambar di dalam Roh untuk mengekspresi-kan Allah. Oleh Tuhan Roh kita semua diubah menjadi serupa dengan gambar-Nya (2 Kor. 3:18). Ini memerlu-kan kita memiliki roh lahir baru. Mungkin ada yang bertanya, mengapa dalam Kejadian 1:26, 28 terlebih dulu menyebutkan gambar-Nya mengekspresikan Allah, selan-jutnya baru pemerintahan-Nya mewakili Allah. Ini dika-renakan di sana kita nampak tujuan Allah yang semula. Tetapi berhubung manusia telah jatuh, maka di dalam Injil manusia harus bertobat terlebih dulu, kemudian baru bisa kembali ke yang sebermula. Karena itu, di dalam Injil, pemerintahan didahulukan, kemudian gam-bar menyusul. Di dalam tujuan Allah yang semula, gam-bar dulu kemudian pemerintahan. Namun karena keja-tuhan manusia, maka di dalam Injil, urutannya berkebalikan.
f) Isi Tujuan Kekal Allah, Janji, Injil,
dan Penggenapannya, Semuanya Sama
Isi tujuan kekal Allah, janji, Injil, dan penggenapannya semuanya sama. Hal ini sangatlah menarik perhatian.
aa. Dalam Tujuan Kekal Allah — Terhadap Adam
Dalam tujuan kekal Allah, kita mempunyai dua butir: gambar mengekspresikan Allah dan pemerintahan mewakili Allah.
bb. Dalam Janji Allah — Terhadap Abraham
Seperti yang telah kita lihat, dalam janji Allah kepada Abraham, pertama-tama menyebut bangsa, yaitu untuk pemerintahan mewakili Allah; selanjutnya baru berkat, yaitu gambar untuk mengekspresikan Allah.
cc. Dalam Injil — Terhadap Kaum Beriman
Dalam Injil penyelamatan terhadap orang-orang yang percaya, pertama harus bertobat demi kerajaan (Mat. 3:2). Pertobatan ini adalah untuk pemerintahan mewakili Allah. Kedua, adalah hal menerima hayat kekal (Yoh. 3:16). Penerimaan hayat kekal ini adalah bagi gambar mengekspresikan Allah.
dd. Dalam penggenapan — Dalam Yerusalem Baru
Kita juga melihat isi yang sama dalam penggenapan di Yerusalem Baru. Segenap Yerusalem Baru akan me-wujudkan ekspresi Allah. Ekspresi Allah menyerupai yaspis. Wahyu 4:3 berkata, Allah yang duduk di takhta nampaknya bagaikan permata Yaspis. Dalam Wahyu 21:11, 18a, kita melihat segenap Yerusalem Baru dan temboknya sama dengan rupa Allah — yaspis. Artinya di dalam kekekalan, segenap Yerusalem Baru akan meng-ekspresikan Allah. Dan lagi, di dalam kekekalan, semua orang yang beroleh selamat akan meraja bersama dengan Allah dalam Yerusalem Baru (Why. 22:5). Inilah pe-merintahan yang mewakili Allah.
Meskipun ketika kita dipanggil dan diselamatkan, kita tidak memperhatikan pemerintahan Allah dan gambar Allah, tetapi dalam lubuk batin, kita tahu bahwa perkara-perkara ini terkandung dalam panggilan dan perkataan Allah. Setelah beroleh selamat, kita tahu bahwa kita perlu tunduk di bawah pemerintahan Allah. Inilah kerajaan, yaitu pemerintahan. Demikian juga di dalam lubuk batin kita mempunyai perasaan bahwa setelah diselamatkan kita harus memuliakan Allah. Inilah gambar untuk mengekspresikan Allah. Namun, ba-nyak di antara kita yang setelah beroleh selamat ber-temu dengan pemberita firman yang salah, yang memberi tahu kita banyak perkara, yang menyesatkan kita dari tujuan Allah. Puji Tuhan! Dalam pemulihan Allah, Dia telah memulihkan kita kepada tujuan-Nya yang semula dan membawa kita kembali ke sediakala. Kita, orang-orang terpanggil yang sejati, anak-anak Abraham yang menerima panggilan Allah, melalui pembicaraan-Nya dan janji-Nya, sekarang sedang di dalam Kerajaan-Nya untuk mewakili Dia serta mempunyai gambar-Nya untuk meng-ekspresikan Dia.