PENEMPUHAN DALAM MENJAWAB PANGGILAN ALLAH
Seperti telah kita tunjukkan beberapa kali, hampir setiap butir dalam Kitab Kejadian merupakan benih. Dalam berita ini sampailah kita pada benih menyeberang sungai, yakni pengalaman penyeberangan sungai yang pertama. Apakah menyeberang sungai itu? Menyeberang sungai berarti mengikuti Tuhan dengan sungguh-sungguh. Mengikuti Tuhan itulah menyeberang sungai. Memang mudah sekali membicarakan tentang menyeberang sungai, namun tidaklah mudah mempunyai realitas menyeberang sungai seperti pengalaman Abraham. Dalam berita ini kita perlu melihat bagaimana Abraham menyeberang sungai. Pengalamannya merupakan suatu teladan bagi kita semua, adalah benih yang lain yang ditabur di dalam Kitab Kejadian. Benih ini sekarang sedang bertumbuh dalam sebagian besar orang di antara kita. Betapa kita perlu membiarkan benih ini bertumbuh besar!
(b) Penempuhan
1) Panggilan Pertama di Ur-Kasdim Mesopotamia
Jalan yang terbaik untuk mempelajari firman Allah adalah membandingkan bagian yang satu dengan bagian lainnya. Kita boleh melakukan ini atas terpanggilnya Abraham, karena terpanggilnya Abraham tertulis dalam Kejadian 12 dan Kisah Para Rasul 7. Dengan pertolongan Tuhan, kita akan mudah melihat perbandingan dalam 2 bagian ini. Dari 2 bagian firman ini kita dapat melihat Allah yang Mahamulia menampakkan diri-Nya kepada Abraham sebanyak 2 kali. Allah bukan hanya mendatangi-nya satu kali saja. Ini bukan terkaan saya, ini terbukti pada Kisah Para Rasul 7:2 yang berbunyi bahwa Allah yang Mahamulia menampakkan diri-Nya kepada Abraham sebelum ia tinggal di Haran, yaitu ketika ia masih di Me-sopotamia. Kemudian Kejadian 12:1 menunjukkan bahwa setelah Abraham tinggal di Haran beberapa waktu, Allah datang sekali lagi kepadanya. Melalui dua ayat ini kita tahu bahwa Allah menampakkan diri-Nya kepada Abra-ham pada dua tempat yang berbeda: di Ur-Kasdim dan di Haran. Sudah tentu kedua panggilan itu tidak terjadi pada saat yang sama. Panggilan pertama datang ketika ayah Abraham masih hidup, dan yang kedua ketika ayahnya sudah mati. Inilah bukti yang kuat bahwa Allah dua kali menampakkan diri-Nya kepada Abraham.
Dua panggilan Allah itu memiliki perbedaan yang penting sekali. Pada panggilan pertama, Allah menyuruh Abraham meninggalkan negeri dan sanak saudaranya (Kis. 7:3). Pada panggilan kedua, Allah berfirman kepadanya agar meninggalkan negerinya, sanak sau-daranya, dan rumah bapanya (Kej. 12:1). Ketika Allah memanggil Abraham untuk kedua kalinya, Allah tidak hanya menyebut sanak saudara Abraham secara umum, malahan rumah bapanya secara khusus. Tidak cukup ha-nya meninggalkan sanak saudaranya, harus pula mening-galkan rumah bapanya. Nanti kita akan melihat mengapa demikian. Namun sekarang kita bisa melihat dua tempat yang berbeda. Pada panggilan yang pertama Allah mem-beri tahu dia untuk meninggalkan negerinya dan sanak saudaranya. Pada panggilan kedua, dia disuruh mening-galkan negerinya, sanak saudaranya, dan rumah bapanya.
Dua pemanggilan ini kita bentangkan bersama, segala sesuatunya menjadi jelas. Sewaktu saya masih muda, saya diberi tahu oleh guru-guru tertentu bahwa Kisah Para Rasul 7 merupakan kutipan dari Kejadian 12. Guru-guru ini tidak pernah menunjukkan dengan jelas bahwa dua kali Allah memanggil Abraham. Mungkin di antara kalian yang membaca berita ini masih ada yang memegang konsepsi yang mengira Kisah Para Rasul 7 merupakan kutipan dari Kejadian 12. Padahal panggilan dalam Kisah Para Rasul 7 terjadi sebelum Abraham di-bawa ke Haran, dan panggilan dalam Kejadian 12 terjadi setelah ia tinggal di sana sejangka waktu lamanya. Pang-gilan dalam Kisah Para Rasul 7 mendahului panggilan dalam Kejadian 12.
2) Tidak Segera Mematuhi Panggilan Allah
Mengapa Allah perlu dua kali menampakkan diri-Nya kepada Abraham dan dua kali memanggilnya?
Mengapa Allah perlu mengulangi panggilan-Nya? Bagi Allah sendiri, tidak perlu mengulangi panggilan-Nya. Abraham yang memerlukan panggilan ulangan itu. Ham-pir tidak ada seorang pun yang mengalami panggilan Tuhan hanya sekali saja lalu segera menyeberang sungai. Tidak seorang pun di antara kita yang pernah menjawab panggilan Tuhan tanpa menyeret kakinya melewati lum-pur dan air. Hampir tidak ada seorang pun pernah mem-berikan jawaban yang singkat dan tegas terhadap pang-gilan Allah. Mungkin Anda akan bertanya, “Bagaimana dengan Petrus dan Yohanes ketika mereka dipanggil oleh Tuhan di tepi laut Galilea? Tuhan memanggil mereka, dan mereka segera mengikuti-Nya.” Jika Anda membaca bagian lain dari firman Allah, Anda akan melihat murid-murid ini pun menyeret-nyeret kaki mereka. Memberi jawaban yang tegas dan singkat terhadap panggilan Tuhan memang sulit. Kita selalu menyeret-nyeret kaki melewati lumpur dan air. Sanak famili kita mungkin men-jadi lumpur dan diri kita sendiri menjadi air. Mungkin Anda sudah menjawab panggilan Tuhan, namun Anda masih mengizinkan sanak famili Anda menjadi lumpur yang membuat Anda menyeret-nyeret kaki Anda. Dan diri Anda seolah-olah air yang kotor dan hitam. Anda menyeret-nyeret kaki Anda melewati lumpur dan air ini.
Ketika Abraham tinggal di Ur, Allah yang mulia tiba-tiba menampakkan diri-Nya kepadanya. Penampakan ini membawa terang (ur berarti terang). Di tanah milik se-tan, tanah yang penuh dengan setan (kasdim berarti mi-lik setan), mulia Allah muncul dan membawa terang. Ini sangat bermakna. Kapan saja Allah datang memanggil manusia, selalu disertai dengan terang. Ketika Saulus pergi ke Tarsus di tengah perjalanan menuju ke Damsyik untuk menganiaya orang-orang Kristen yang ada di sana, maka terang surga datang menyinari dia (Kis. 9:1-3). Saat itulah Saulus berada di Ur. Ia berada di bawah terang. Kapan Anda dipanggil, Anda pun berada di bawah terang. Anda akan nampak bahwa tempat, lingkungan, dan ke-adaan sekeliling Anda, bukanlah kawasan yang tepat bagi Anda untuk tinggal lebih lama lagi. Anda dipanggil di Ur, tempat yang terang.
3) Dibawa ke Haran oleh Ayahnya, Setelah Saudaranya Mati
Saya percaya bahwa Abraham telah menerima pang-gilan Allah ketika ia masih muda. Mungkin pula ia telah menceritakan kepada ayahnya, Terah, dan sanak fami-linya tentang Allah menampakkan diri kepadanya dan berfirman kepadanya agar meninggalkan negeri serta keluarganya. Agaknya Abraham tidak mempunyai ke-beranian untuk melakukan hal ini sendirian. Kejadian 11:28 memberi tahu kita bahwa “Ketika Terah, ayahnya, masih hidup, matilah Haran di negeri kelahirannya, di Ur-Kasdim.” Mungkin Haran adalah kakak Abraham dan mungkin ia menentang panggilan Allah terhadap Abra-ham. Itulah sebabnya Allah harus menunggu sejangka waktu lagi. Ketika Abraham masih belum mengambil tindakan apa-apa, Allah mengambil Haran, si penentang itu. Boleh jadi Haran adalah anak sulung Terah. Ke-matian putra sulungnya ini mungkin menjadi peringatan bagi ayahnya agar tidak menunda-nunda lebih lama lagi. Nama Terah berarti berlambat-lambatan, menunda, atau orang yang terlambat. Terah membawa seluruh keluarga-nya, keluar bersama-sama dari Ur-Kasdim dan menetap di Haran (Kej. 11:31; Kis. 7:4a). Inisiatif meninggalkan Ur-Kasdim bukan berasal dari Abraham, melainkan dari ayahnya.
Terah dan keluarganya berjalan ke Utara menyusuri tepi Sungai Efrat. Akhirnya, setelah menempuh perjalanan kurang lebih 500 mil, sampailah mereka di Haran. Menurut cara perjalanan kuno, perjalanan dari Ur-Kas-dim ke Haran memerlukan waktu setengah bulan. Tetapi walaupun mereka sudah menempuh sejauh itu, belum juga menyeberang sungai seperti diinginkan Tuhan. Te-lah berapa tahunkah Anda menyeret kaki Anda sepan-jang tepi sungai tanpa menyeberanginya? Mungkin Anda berkata, “Puji Tuhan aku tidak berdiam di Ur terlalu lama.” Memang Anda tidak berada di Ur, tetapi Anda masih berada di sisi sungai yang sama. Dalam kehidupan gereja, meskipun Anda telah menyusuri tepi sungai, tetapi Anda belum menyeberang sungai itu. Banyak di antara kalian yang telah menjelajah ke Utara, namun masih berada di sisi sungai yang sama. Akan tetapi, bagaimanapun, perjalanan ke Utara ini diakibatkan oleh pekerjaan Allah.
Di Ur ada orang yang bernama Haran dan sekarang kita lihat ada sebuah kota juga bernama Haran. Ini ber-arti mereka meninggalkan Haran yang satu dan menuju Haran yang lain. Dalam pandangan Allah, keduanya ini sama. Tidak peduli apakah Haran itu menunjukkan orang atau tempat, keduanya tetap sebagai Haran. Nama Haran berarti “kering”. Ketika saudara laki-lakinya menentang panggilan Allah, ia pasti kering. Sanak famili yang mencoba mencegah Anda menerima panggilan Allah, ia adalah orang yang kering, begitu pula setiap tempat yang merintangi Anda menjawab panggilan Allah itulah tempat yang kering. Anda tidak akan pernah merasa berair di sana. Di tempat semacam itu Anda merasakan kekeringan. Di antara kita banyak yang mempunyai pengalaman demikian.
4) Dipanggil untuk Kedua Kalinya di Haran,
Setelah Ayahnya Mati
Orang-orang Kristen biasa mengagungkan Abraham. Ia dianggap sebagai orang yang sangat tinggi. Tetapi se-benarnya Abraham tidaklah setinggi itu; ia rendah se-perti kita. Ketika Allah mendatangi Abraham, ia tidak berani bertindak. Akhirnya, ayahnyalah yang bertindak, membawa keluarganya ke Haran, dan di sana mereka tinggal hingga ayahnya meninggal (Kej. 11:32). Kemudian Allah menampakkan diri lagi kepada Abraham dan me-manggilnya (Kej. 11:32—12:3; Kis. 7:4b). Keterlambatan Abraham menjawab panggilan Allah menyebabkan dua kematian, yaitu kematian saudaranya di Ur dan kemati-an ayahnya di Haran. Abraham mengambil dua langkah dan tiap langkah itu disebabkan oleh kematian dari sa-naknya yang terdekat.
Atas panggilan-Nya yang kedua, Allah menambahkan satu hal lainnya, yaitu selain harus meninggalkan negeri dan sanak familinya, juga harus keluar dari rumah bapanya (Kej. 12:1). Ini berarti, ia hanya diizinkan membawa serta istrinya, tanpa anggota keluarga rumah bapanya yang lain. Panggilan Allah yang kedua lebih be-rat daripada yang pertama. Jika Anda memeriksa makna semua nama itu, Anda akan melihat bahwa kecuali nama Abraham, yang berarti “bapa agung”, satu-satunya nama lain yang mempunyai arti positif adalah Sarai, artinya “putri rajaku”. Bapa agung adalah suami dan putri raja sebagai istri. Di Haran Allah hanya memanggil dua orang ini. Tetapi sekali lagi Abraham menyeret kakinya melalui lumpur, yaitu membawa serta Lot, kemenakannya.
Dalam panggilan-Nya yang kedua, Allah bukan saja lebih tegas, juga memberikan janji Injil kepada Abraham sebagai perangsang yang mendorong dia menjawab pang-gilan-Nya (Kej. 12:2-3). Abraham menerima panggilan yang lebih berat namun dengan perangsang yang sangat besar.
5) Mematuhi Panggilan Allah dengan Menyeret-nyeret Kaki
Sekarang Abraham mematuhi panggilan Allah, tetapi ia tidak melakukannya dengan cepat dan tegas. Ia tetap menyeret-nyeret kakinya. Kita mengetahui hal ini karena selain membawa istrinya Sarai, ia membawa juga Lot ke-menakannya (Kej. 12:4). Lot adalah anggota keluarga bapanya. Tidakkah Abraham sudah mendengar, ketika Allah mengatakan kepadanya, agar ia meninggalkan ru-mah ayahnya? Saya yakin saya dapat menjelaskan alas-annya. Ketika itu Abraham sudah cukup tua. Ia telah berusia 75 tahun, namun ia tidak mempunyai anak. Un-tuk menempuh perjalanan yang jauh semacam itu, ia memerlukan orang muda untuk membantunya. Itulah alasannya. Boleh jadi Abraham berkata, “Allah memang-gil aku, tetapi haruskah aku meninggalkan kemenakan-ku? Bukankah aku mengasihi dia?” Secara manusiawi, setiap orang akan mengatakan Abraham membawa serta Lot tidaklah salah.
Apakah arti Lot? Lot berarti “selubung”, “pembung-kus”. Sanak saudara Anda yang terkasih, yang sangat Anda sayangi dan yang akan Anda bawa bersama Anda di dalam menjawab panggilan Allah, selalu akan menjadi selubung Anda. Pandanglah keadaan Anda. Banyak orang menjawab panggilan Allah dengan membawa serta se-lubung. Lot sama sekali tidak membantu Abraham; ia malah mendatangkan kesulitan saja. Membaca sampai Kejadian 13, kita akan menemukan bahwa Lot menye-babkan banyak kesulitan kepada Abraham, dan akhirnya ia harus meninggalkan Abraham. Jika Anda memeriksa keadaan Anda sendiri, Anda mungkin menemukan bahwa keadaan Anda sama dengan keadaan Abraham.
Di dalam penginjilan hari ini, kebanyakan orang mengatakan kalau mereka percaya Tuhan Yesus, mereka akan diselamatkan dari neraka dan pada suatu hari akan masuk ke surga. Ini benar, tetapi terlalu dangkal. Dari aspek Allah, diselamatkan berarti dipanggil. Allah tidak mengkhawatirkan tentang neraka, melainkan tentang negeri, sanak-saudara, dan rumah bapa Anda. Allah kha-watir akan lingkungan Anda, segala sesuatu yang ada di sekeliling Anda, dan latar belakang Anda. Diselamatkan berarti dipanggil untuk keluar dari latar belakang Anda, dipanggil untuk keluar dari segala sesuatu yang ada di sekitar Anda, lingkungan, dan keadaan Anda hari ini. Diselamatkan bukan hanya perkara dosa Anda diampuni, lepas dari neraka dan memenuhi syarat masuk surga. Diselamatkan berarti dipanggil keluar dari latar belakang dan lingkungan Anda.
Diselamatkan juga berarti menempuh perjalanan, berjalan, berlari dalam perlombaan. Pilgrim’s Progress (Perjalanan musafir), buku tulisan John Bunyan yang sangat terkenal, menekankan bahwa keselamatan adalah suatu perjalanan. Diselamatkan adalah dipanggil untuk menempuh perjalanan. Orang-orang mengatakan banyak tentang pembenaran oleh iman, Abraham digunakan sebagai contoh. Namun sebelum Abraham dibenarkan, ia sudah menempuh suatu perjalanan. Pembenarannya terjadi di Kejadian 15:6. Sebelum Kejadian 15, sekurang-kurangnya ada 3 pasal yang mengatakan kepada kita bahwa orang yang dibenarkan ini berada dalam per-jalanan.
Saya harap setiap orang muda bisa nampak hal ini. Tempat orang muda berada hari ini lebih buruk daripada Kasdim. Tetapi puji Tuhan, Ur Anda lebih cemerlang dan lebih bercahaya. Hari ini panggilan Allah kepada orang-orang muda lebih terang dan tegas daripada zaman Abraham. Para pemuda, kalian harus keluar dari negeri-mu, keluar dari kaum dan sanak familimu. Diselamatkan berarti menempuh perjalanan agar mencapai tujuan Allah. Allah datang memanggil Abraham dengan satu tu-juan. Jika Anda dipanggil Allah sesuai dengan tujuan-Nya, keselamatan Anda pasti dijamin oleh panggilan itu. Anda tidak perlu khawatir dengan keselamatan Anda. Asal Anda memperhatikan tujuan Allah, Allah pasti memperhatikan keselamatan Anda.
Diselamatkan adalah dipanggil untuk menggenapkan tujuan Allah. Ketika Allah memanggil Abraham, sudah tentu bukan agar Abraham diselamatkan dari neraka atau dipenuhi dengan sukacita, melainkan untuk mengge-napkan rencana Allah. Allah memanggil Abraham bagi penggenapan tujuan-Nya. Kita semua harus mendengar panggilan ini.
Allah mempunyai rencana dan tujuan. Ia memiliki tanah permai yang boleh kita masuki. Abraham masuk ke Kanaan, tanah permai (Kej. 12:4-5). Hari ini tanah per-mai kita ialah Kristus, gereja, dan kerajaan. Perhatikan perihal Saulus dari Tarsus yang menganiaya gereja de-ngan berani. Dalam pandangan Allah, ketika Saulus menganiaya gereja, ia berada di “Kasdim”. Dalam per-jalanan ke Damsyik, Tuhan menampakkan diri kepada-nya, menyinarinya, dan memanggilnya, sehingga “Kas-dim” Saulus menjadi “Ur”, tempat yang terang. Tuhan bukan memanggil dia agar ia diselamatkan dari neraka ke surga atau untuk membenarkannya. Meskipun semua itu termasuk dalam panggilan Tuhan, namun Tuhan me-manggilnya supaya ia keluar dari Kasdim Yudaisme. Tuhan memanggil Saulus untuk keluar dari agama dan masuk ke dalam Kristus, ke dalam ekonomi Perjanjian Baru Allah, ke dalam gereja dan kerajaan. Paulus sung-guh-sungguh telah masuk ke dalam Kristus, ke dalam ekonomi Perjanjian Baru, ke dalam gereja, dan ke dalam Kerajaan Allah.
Jika kita menjawab panggilan Allah, memperhatikan tujuan-Nya — supaya kita masuk ke dalam Kristus, eko-nomi Perjanjian Baru, gereja, dan Kerajaan, Ia pasti tidak akan membiarkan kita masuk ke neraka. Janganlah khawatir tentang neraka, juga jangan memikirkan surga. Kita memiliki sesuatu yang lebih baik daripada surga. Bukankah Kristus lebih baik daripada surga? Bukankah ekonomi Allah, yang menyalurkan Allah Tritunggal ke dalam manusia, jauh lebih baik daripada surga? Bu-kankah gereja lebih baik daripada surga? Surga akan di-goncangkan. Ibrani 12:26 menyatakan bahwa Allah akan mengguncangkan bukan hanya bumi, tetapi juga langit. Hanya Allah sendiri tidak mungkin digoyahkan. Kita te-lah menerima sebuah kerajaan yang tidak akan goyah, yaitu Kristus dengan gereja. Jangan terlalu berharap pada surga. Dalam dua pasal terakhir dari Alkitab, kita melihat Yerusalem Baru akan turun dari surga. Allah akan meninggalkan surga dan tinggal di Yerusalem Baru, itulah kegenapan gereja, sampai selama-lamanya.
Kita semua perlu nampak bahwa diselamatkan berarti dipanggil untuk menggenapkan tujuan Allah. Diselamatkan adalah dikeluarkan dari segala situasi negatif sehingga bisa masuk ke dalam sasaran Allah. Banyak orang Kristen telah diselamatkan, tetapi mereka tidak pernah masuk ke dalam sasaran Allah. Sasaran Allah yang pertama adalah Kristus. Kita ada di dalam Kristus. Kita ada di dalam kenikmatan Kristus. Inilah tanah permai Allah. Sasaran Allah yang kedua adalah gereja. Banyak tahun yang lalu saya belum nampak bahwa dalam arti tertentu, gereja juga merupakan tanah permai Kanaan. Tidak hanya demikian, ekonomi Perjanjian Baru Allah, kerajaan, dan perhentian hari Sabat, hari ini se-muanya juga merupakan tanah permai bagi kita. Apakah Anda di tanah permai Kanaan? Jika Anda berada di sana berarti Anda ada di dalam Kristus, di dalam kekayaan dan kenikmatan Kristus. Juga berarti Anda ada di dalam ekonomi Perjanjian Baru dan di dalam hidup gereja. Banyak di antara kita yang setelah diselamatkan ber-tahun-tahun baru menyeberang sungai. Sebelum menye-berang sungai, kita tidak di dalam ekonomi Allah mau-pun dalam gereja, lebih-lebih tidak berada di dalam Kerajaan Allah. Beberapa di antara kita mempunyai konsepsi yang mengira kerajaan itu telah digantungkan, Kerajaan Seribu Tahun baru akan datang kelak, namun kita tidak pernah masuk ke dalam realitas hidup kera-jaan hari ini.
Menurut gambaran Kejadian 12, Abraham berjalan menyeret-nyeret, tetapi dalam Ibrani 11:8 dikatakan bahwa ia mematuhi panggilan Allah demi iman dan pergi tanpa mengetahui ke mana ia harus pergi. Dalam pang-gilan-Nya, dengan jelas Allah memberi tahu Abraham apa yang harus ia tinggalkan, tetapi tidak memberi tahu dengan jelas ke mana ia harus pergi. Abraham mematuhi panggilan Allah dan pergi demi iman. Ini merupakan satu perkara yang besar. Di satu pihak, ia berjalan menyeret-nyeret; di lain pihak, ia mengambil langkah yang besar demi iman. Ketidaktahuannya ke mana ia harus pergi menyebabkan dia bersandar Tuhan dan menengadah bah-wa Allah yang hidup itulah peta perjalanannya.
6) Dipindahkan oleh Allah ke Tanah Kanaan
Tidak peduli bagaimana lambatnya Abraham men-jawab panggilan Allah, ia tidak dapat menunda-nunda Allah terlalu lama. Menurut perasaan Allah, seribu tahun sama dengan satu hari. Bisakah Anda menunda-nunda Allah seribu tahun? Tidak seorang pun dapat melakukan-nya. Paling banyak, kita bisa menundanya hingga 50 ta-hun, yang dipandang oleh Allah kurang dari 1 jam. Allah berdaulat atas segala sesuatu dan panjang sabar. Allah dapat berkata kepada Haran dan Terah, “Semua yang kalian lakukan adalah sia-sia. Setelah kalian mati, Aku akan membawa orang yang Kupanggil ke tanah-Ku.” Allah adalah Allah. Tidak ada seorang pun yang dapat meng-halangi-Nya. Sekali Ia memilih dan memanggil Anda, Ia tidak dapat dihentikan oleh apa pun. Cepat atau lambat, Ia pasti menggenapkannya. Ia akan datang kepada Anda sekali lagi dan sekali lagi. Jika seseorang mati tidak cukup menggenapkan maksud-Nya, akan ada orang lain lagi. Ia selalu mempunyai jalan. Ia lebih besar daripada Anda. Menurut Kisah Para Rasul 7:4, bukan Abraham yang memasuki tanah permai, melainkan Allah yang memindahkan dia. Meskipun Ibrani 11:8 mengatakan karena iman Abraham keluar, namun Kisah Para Rasul 7:4 mengatakan bahwa Allah yang memindahkan dia dari Haran ke Kanaan. Paling banyak kita hanya bisa menunda sedikit waktu Tuhan, akhirnya kita akan didapat-kan oleh-Nya. Jika kita berlambat-lambatan, kita hanya menghamburkan waktu kita sendiri. Allah menyuruh Abraham meninggalkan negerinya. Karena ia tidak mela-kukannya dengan cepat dan segera, maka Allah yang memindahkannya ke dalam Tanah Kanaan.
7) Melalui Negeri Itu ke Tempat yang Allah Janjikan
Di Haran, Abraham telah menyeberang sungai. Se-telah menyeberang sungai, ia menjadi musafir di negeri itu, kemudian melanjutkan perjalanannya ke arah selatan hingga tiba di suatu tempat yang disebut Sikhem (Kej. 12:6). Sikhem berarti “bahu yang memberikan tenaga”. Di Sikhem ada sebatang pohon tarbantin di More. More berarti “guru yang memberi pengetahuan”. Abraham me-lanjutkan perjalanan sampai di tempat dia beroleh tenaga dan pengetahuan. Tempat inikah yang dimaksud Allah supaya Abraham pergi? Ya, kita mengetahui hal ini sebab Allah menampakkan diri-Nya lagi setelah ia tiba di pohon tarbantin di More (Kej. 12:7).
Penampakan kembali Allah kepada Anda itulah pe-negasan tempat Anda yang benar. Mungkin beberapa tahun yang lalu Anda telah mengalami penampakan diri Allah. Setelah itu Anda mengembara, merantau, dan ber-kelana dari satu tempat ke tempat yang lain tanpa mengalami penampakan Allah lagi. Pada suatu hari, setelah tiba di pohon tarbantin di More, yaitu gereja, Tuhan menampakkan diri lagi kepada Anda. Penampak-kan diri Allah ini menegaskan bahwa Anda telah men-capai tempat yang benar. Banyak di antara kita yang dapat bersaksi bahwa setelah kita beroleh selamat, kita berkelana dalam agama Kristen tanpa menemui penam-pakan kembali diri Allah. Hal itu berlangsung terus hingga kita sampai ke Sikhem hari ini, dengan pohon tarbantin di More, yaitu hidup gereja, dan sekali lagi timbul penampakan dalam batin. Banyak di antara kita dapat bersaksi bahwa setelah kita tiba di gereja, kita merasakan Allah menampakkan diri lagi kepada kita dan berkata, “Inilah tempatnya.”
Pohon tarbantin adalah pohon yang kuat, kokoh; melambangkan kekuatan. Pohon tarbantin juga memberi-kan naungan terhadap terik matahari. Ini sangat ber-makna. Saya percaya bahwa simbol ini menyatakan hidup gereja yang memberi kita kekuatan dan naungan. Hidup gereja menguatkan kita dan menaungi kita dari terik matahari.
Ketika Allah menampakkan diri kepada Abraham di More, Ia berkata kepadanya, “Aku akan memberikan negeri ini kepada keturunanmu” (Kej. 12:7). Inilah per-tama kalinya janji tentang tanah dikatakan dengan jelas. Dalam Kejadian 12:1, Allah hanya berkata kepada Abra-ham, “Ke negeri yang akan Kutunjukkan kepadamu,” Allah tidak mengatakan kepadanya di mana negeri itu, atau Ia akan memberikan negeri itu kepadanya. Tetapi di sini dengan tegas Allah mengatakan di mana negeri itu dan Ia berjanji memberikan negeri ini kepada keturunan-nya. Ketika kita tiba di tempat di mana Allah memper-tegas melalui penampakan-Nya, kita juga akan menerima janji negeri yang permai hari ini — Kristus, gereja, dan kerajaan.
Di tempat Tuhan menampakkan diri kepadanya, Abraham mendirikan sebuah mezbah. Mezbah ini meru-pakan kesaksian yang menentang pembangunan Menara Babel. Di Babel, orang-orang membangun menara untuk menyemarakkan nama mereka sendiri. Di Sikhem, Abra-ham tidak membangun sesuatu supaya ia ternama; ia mendirikan mezbah bagi Tuhan dan memanggil nama Tuhan (Kej. 12:8). Ini menyatakan bahwa bila kita tiba di tempat yang Allah pilih, Allah menampakkan diri kepada kita, dan kita akan mempunyai persekutuan yang lebih dalam, lebih penuh, lebih kaya, dan lebih akrab dengan-Nya melalui menyeru nama-Nya. Kita semua dapat ber-saksi bahwa kita tidak pernah menyeru nama Tuhan sebanyak setelah kita memasuki hidup gereja. Menyeru nama Tuhan bergandengan dengan membangun mezbah bagi Allah yang telah menampakkan diri kepada kita. Dalam hidup gereja, di bawah pohon tarbantin di More, kita mempunyai penampakan diri Allah yang akrab. Apa yang akan kita perbuat dalam menanggapi hal ini? Kita akan mendirikan mezbah bagi-Nya dan menaruh segala apa adanya kita dan milik kita ke atas mezbah. Kita per-lu memberi tahu kepada Tuhan bahwa segala apa adanya kita dan yang kita miliki adalah bagi Tuhan, kemudian kita perlu menyeru nama Tuhan supaya memperoleh persekutuan yang lebih dalam, lebih kaya, dan lebih akrab dengan-Nya.
Sekarang kita telah melihat pengalaman dari orang Ibrani yang pertama, penyeberang sungai yang pertama. Abraham adalah penyeberang sungai yang pertama dan tiba di tempat di mana Allah dapat menampakkan diri lagi kepadanya, di mana ia mendirikan mezbah dan menyeru nama Tuhan. Tempat ini adalah tempat yang be-nar. Tempat ini bukan Ur, Haran, atau tempat-tempat lainnya, melainkan di bawah pohon tarbantin di More. Di sini kita memiliki penampakan diri Allah dan hadir Allah. Di sini kita menerima janji negeri yang permai. Di sini kita dapat membangun mezbah bagi Tuhan, menyeru na-ma-Nya dan mempunyai persekutuan yang akrab dengan-Nya.