← Daftar isi Kejadian (3) · bab 13/15

HIDUP BERDASARKAN IMAN

Dalam seluruh sejarah manusia tidak pernah ada buku yang ajaib dan indah seperti Alkitab. Kitab pertama di dalam Alkitab — Kitab Kejadian, bukanlah buku ten-tang doktrin, melainkan buku sejarah. Sejarah ini ditulis bukan secara manusiawi, tetapi secara ilahi. Kitab Ke-jadian merupakan biografi beberapa orang suci kuno yang menceritakan kepada kita sesuatu yang ilahi. Wahyu ilahi terkandung di dalam kehidupan dan cerita manusia da-lam Kitab Kejadian. Dalam berita ini kita perlu melihat wahyu ilahi dalam pengalaman Abraham yang hidupnya berdasarkan iman.

(2). Hidup Berdasarkan Iman

Dalam berita-berita yang lalu kita telah melihat bah-wa pengalaman orang yang terpanggil mempunyai tiga aspek, yakni aspek-aspek Abraham, Ishak, dan Yakub. Tahap pertama dari aspek pertama, yakni aspek Abra-ham, adalah terpanggilnya Abraham oleh Allah. Kita te-lah membahas butir ini dengan cukup jelas dalam dua berita yang lalu. Kini kita sampai pada tahap kedua dari pengalaman Abraham — hidup berdasarkan iman, atau boleh kita katakan kehidupan berdasarkan iman. Ketika kita membicarakan kehidupan berdasarkan iman, kita tidak mengacu kepada hayat yang di dalam, melainkan mengacu kepada kehidupan yang di luar, yaitu penem-puhan hidup sehari-hari, perilaku sehari-hari seseorang yang dipanggil. Perilaku sehari-hari ini adalah hidup berdasarkan iman, bukan berdasarkan apa yang kelihatan (2 Kor. 5:7).

Sejarah Abraham merupakan sebuah benih. Seluruh biografi Abraham adalah sebuah benih. Benih ini bukan-lah benih doktrin, melainkan benih sejarah kita. Sejarah Abraham adalah benih sejarah kita, karena sejarah kita bertumbuh dari sejarahnya. Dalam arti tertentu, penga-laman hidup kita dan Abraham adalah satu. Kita, orang-orang Kristen adalah keturunan Abraham yang sejati dan dialah bapa yang sejati dari setiap orang yang dipanggil Allah. Ketika kita membaca biografinya, kita pun mem-baca tentang diri kita sendiri. Kisahnya adalah kisah ten-tang kita. Sewaktu kita membaca seluruh pasal Kitab Kejadian tentang Abraham, hendaknya kita membaca dengan satu pengenalan bahwa ceritanya adalah cerita kita.

Kita perlu melihat langkah-langkah yang harus kita ambil dalam mengikuti Tuhan. Langkah pertama ialah dipanggil, langkah kedua ialah hidup berdasarkan iman. Sudahkah Anda dipanggil? Anda harus berkata dengan tegas, “Amin, aku telah dipanggil!” Abraham adalah orang pertama yang dipanggil; seperti yang telah kita lihat, ia tidak segera menjawab panggilan Allah, melainkan dengan menyeret-nyeret kakinya melalui lumpur dan air. Demikian juga cerita kita. Jawaban kita atas panggilan Allah sama dengannya. Pada prinsipnya, benih berada dalam ukuran yang kecil, sedangkan pertumbuhan berada dalam ukuran yang besar, dan tuaian adalah ukuran yang terbesar. Kita telah nampak bahwa ketika Abraham meninggalkan Haran, ia membawa serta Lot. Tidakkah Anda membawa seorang Lot juga dengan Anda? Jika Abraham, benih itu, membawa seorang Lot, mungkin sekali, setiap orang di antara kita membawa banyak Lot. Saya khawatir banyak dari pembaca berita ini masing-masing membawa serta lebih dari sepuluh Lot. Dari sini kita nampak bahwa sejarah kita terdapat dalam biografi Abraham.

Tidak peduli berapa lama Abraham menyeret kakinya melalui lumpur dan air, Allah tetap berdaulat atas segala sesuatu. Allah itulah Allah. Abraham bukan hanya dipanggil, bahkan ia sudah ditangkap. Ia keluar dari negerinya, sanak familinya, dan rumah bapanya, dan dibawa ke More, tempat di mana Allah menginginkan dia berada, di sana Allah menampakkan diri kembali kepada-nya (Kej. 12:6-7). Penampakan Allah sekali lagi ini meru-pakan satu pengesahan atas jawaban Abraham terhadap panggilan Allah. Panggilan Allah tegas, tetapi jawaban Abraham terhadap panggilan Allah tidak demikian. Na-mun akhirnya, Allah menerima juga jawaban yang penuh atas panggilan-Nya. Saya tidak khawatir, walaupun ba-nyak saudara saudari muda yang menyeret kaki mereka, cepat atau lambat, mereka akan tertangkap seluruhnya. Para pekerja Kristus dan saudara-saudara yang me-mimpin harus beriman dan jangan putus asa terhadap saudara saudari. Janganlah mempunyai perasaan bahwa saudara tertentu tidak berpengharapan. Sebaliknya kita harus berkata, saudara itu masih berpengharapan. Tung-gulah sejangka waktu, Anda akan melihat setiap orang datang ke More.

(a) Kekuatan — Penampakan Allah

Di More Allah menampakkan diri lagi kepada Abraham, sehingga Abraham berjumpa lagi dengan Allah (Kej. 12:6-7). Jika Anda berkata bahwa Anda telah dipanggil, saya akan menanyakan kepada Anda pertanyaan ini: Apakah tanda dari panggilan Anda? Tanda dari panggilan kita adalah penampakan kembali Allah. Penampakan kembali Allah, kedatangan-Nya kembali kepada kita, itulah tanda atas jawaban kita terhadap panggilan Allah. Penampakan kembali Allah kepada Abraham merupakan kekuatan yang memungkinkan Abraham hidup berdasarkan iman.

Jika Anda membaca catatan dalam Kejadian, Anda akan nampak bahwa pada zaman Abraham, umat manusia hidup dengan cara mendirikan kota benteng bagi per-lindungan mereka dan membangun menara yang tinggi untuk memasyhurkan nama mereka sendiri. Itulah kehidupan orang-orang di Babel. Tetapi cara hidup Abra-ham mutlak berbeda. Cara hidupnya merupakan kesaksian yang berkebalikan dengan cara hidup manusia yang merupakan perkembangan hidup Babel. Seperti yang telah kita lihat dalam berita ketiga puluh enam, di Ba-bel ada kota besar yang dibangun oleh manusia. Kota ini bukan dibangun dengan batu-batu ciptaan Allah, melainkan dengan batu bata buatan manusia. Batu bata dibuat dengan jalan mematikan unsur-unsur yang ada di dalam tanah yang menumbuhkan hayat. Tetapi Abraham, orang yang terpanggil, bukan hidup secara demikian. Bagi Abraham, tidak ada kota dan menara. Setelah pe-nampakan kembali Allah sebagai tanda atas jawaban Abraham terhadap panggilan Allah, Abraham segera mendirikan mezbah, bukan untuk memasyhurkan nama-nya sendiri, melainkan untuk menyeru nama Tuhan. Mengapa Abraham melakukan ini? Sebab ia memiliki penampakan kembali Allah. Bagaimana ia bisa melakukan ini? Juga karena ia memiliki penampakan kembali Allah. Ingat, catatan dalam Kejadian yang menyangkut Abra-ham adalah suatu biografi, bukan suatu doktrin, agama, atau tradisi. Abraham mendirikan mezbah bukan karena pengajaran atau tradisi agama. Ia mendirikan mezbah karena Allah telah menampakkan diri lagi kepadanya. Penampakan kembali Allah berarti segala-galanya bagi Abraham. Itu bukan sekadar tanda atas jawaban Abra-ham terhadap panggilan Allah, bahkan sebagai kekuatan bagi Abraham untuk hidup yang secara mutlak berbeda dengan cara hidup manusia umumnya. Hal ini menye-babkan dia hidup sebagai kesaksian yang berkebalikan terhadap generasinya. Mezbah yang didirikan Abraham adalah sebagai kesaksian yang berkebalikan dengan Me-nara Babel.

1) Setelah Tiba di Kanaan

Sekarang kita perlu menemukan kapan Abraham mengalami penampakan kembali Allah. Allah kita tidak pernah melakukan sesuatu tanpa tujuan dan Ia tidak pernah bertindak dengan sia-sia. Setiap hal yang diper-buat-Nya selalu mengandung tujuan dan makna. Setelah Abraham menjawab panggilan Allah, percaya, dan me-naati-Nya, ia sampai di pohon tarbantin di More (Kej. 12:6-7). Karena ia percaya kepada panggilan Allah dan menaatinya, maka ketika ia sampai di tempat itu, Allah menampakkan diri lagi kepadanya. Sebagai orang yang percaya dan menaati panggilan Allah, Abraham tidak mempunyai pilihan atas tempat di mana ia akan tinggal. Allah memanggil Abraham untuk kedua kalinya di Ha-ran, dan di sana ia menyeberang sungai, memulai suatu perjalanan yang panjang. Selama ia menempuh per-jalanan yang panjang ini, ia tidak mempunyai pilihannya sendiri. Ibrani 11:8 memberi tahu kita bahwa Abraham tidak mengetahui ke mana ia akan pergi. Ia tidak mem-punyai peta petunjuk jalan. Peta petunjuknya adalah satu persona yang hidup, yaitu Allah yang hidup. Selama ia menempuh perjalanan itu, ia terus menengadah ke-pada Allah; ia tidak dapat berhenti di tempat yang ia pilih sendiri. Dalam perjalanannya, hadir Allah itulah petunjuk arahnya, peta petunjuk jalannya. Ia mengikuti Allah dengan cara ini sampai ia tiba di More. Di More, Allah menampakkan diri kepadanya. Penampakan diri Allah di More ini menyatakan Abraham telah mencapai tempat di mana Allah menginginkan dia berada. Di sana Allah berkata kepada Abraham bahwa Dia akan mem-berikan negeri itu kepada keturunannya.

Penampakan diri Allah yang pertama kali kepada kita sama sekali tidak tergantung kepada kita, melainkan Allah sendiri yang memprakarsai panggilan ini. Tetapi setelah penampakan Allah ini, setiap penam-pakan diri Allah yang lain tergantung pada keadaan kita. Penampakan diri Allah yang pertama diprakarsai oleh-Nya dan tidak tergantung pada kita, tetapi penampakan yang berikutnya tergantung pada keadaan kita. Jika Abraham tidak datang ke More, ia tidak akan memiliki penampakan kembali Allah, penampakan kembali itu menguatkan dia untuk terus berjalan maju bersama Allah. Demikian berjalan maju bersama Allah merupakan kehidupan Abraham yang berdasarkan iman kepada Allah.

2) Setelah Berpisah dengan Lot

Penampakan diri Allah untuk kedua kalinya kepada Abraham tercatat dalam Kejadian 13:14-17. Dalam pasal ini kita nampak adanya kesulitan di antara Abraham de-ngan Lot. Secara jasmani, Lot adalah kemenakan Abra-ham, tetapi di hadapan Allah, ia adalah saudara Abraham. Meskipun Lot memberikan kesulitan kepada Abraham, Abraham tidak berebut dengannya. Sebaliknya, ia malah membiarkan Lot memilih. Setelah Lot berpisah dengan Abraham, meninggalkan dia sendirian, Allah kembali me-nampakkan diri kepada Abraham. Penampakan sekali lagi ini disebabkan Abraham tidak berebut atau berjuang bagi dirinya sendiri, melainkan menyerahkan semua pi-lihan kepada Lot saudaranya. Penampakan diri Allah kali ini juga memberi kekuatan kepada Abraham untuk hidup berdasarkan iman.

Setelah kita dipanggil Allah, kita perlu hidup berdasarkan iman. Inilah keperluan kita hari ini. Jika Anda telah dipanggil oleh Allah, Anda harus hidup berda-sarkan iman. Dalam Alkitab, iman berlawanan dengan apa yang kelihatan. Jika Anda dipanggil Allah, Anda ha-rus hidup berdasarkan iman, bukan berdasarkan apa yang kelihatan. Pandanglah dunia hari ini, tidak perlu disangsikan lagi kalau itu merupakan hasil tuaian hidup manusia yang ditabur di Babel. Sebuah benih telah ditabur di Babel dan dunia hari ini merupakan tuaian be-sar dari benih itu. Orang-orang mendirikan kota-kota besar bagi kehidupan mereka dan mendirikan menara tinggi bagi kemasyhuran mereka. Inilah situasi yang umum di bumi ini. Tetapi kita telah dipanggil. Apa yang akan kita perbuat? Kita harus hidup berdasarkan iman. Apakah arti hidup berdasarkan iman? Yaitu dalam segala hal hidup bersandar Tuhan. Abraham tidak mengumum-kan bahwa ia hidup berdasarkan iman, ia juga tidak mengkhotbahkan hidup berdasarkan iman; ia hanya hidup berdasarkan iman saja. Sekarang kita perlu me-lihat bagaimana Abraham hidup berdasarkan iman.

(b) Makna — Mezbah

1) Mezbah yang Pertama

Abraham mendirikan mezbah setelah tiba di More dan setelah Allah menampakkan diri lagi kepadanya (Kej. 12:7). Inilah mezbah pertama yang didirikan Abra-ham. Jika ingin hidup berdasarkan iman, pertama-tama kita harus membangun mezbah. Dalam Alkitab, mezbah berarti segala sesuatu kita adalah untuk Allah dan melayani Allah. Mendirikan mezbah berarti mempersem-bahkan segala apa adanya kita dan milik kita kepada Allah. Kita perlu meletakkan semua apa adanya kita dan milik kita ke atas mezbah. Sebelum kita melakukan se-suatu bagi Allah, Allah akan berkata kepada kita, “Hai anak, jangan melakukan apa pun untuk-Ku, yang Aku inginkan adalah dirimu. Aku ingin kamu meletakkan se-mua apa adamu dan milikmu ke atas mezbah bagi-Ku.” Inilah persekutuan yang sejati dan penyembahan yang sejati. Penyembahan yang sejati dari orang yang di-panggil adalah meletakkan semua apa adanya dan mi-liknya ke atas mezbah.

Menurut pandangan manusia, orang-orang akan mengatakan kita bodoh berbuat demikian. Mereka akan menyalahkan kita dengan berkata bahwa kita mengham-bur-hamburkan waktu dan menyia-nyiakan hidup kita. Seandainya mereka bersama dengan Abraham, mereka akan berkata, “Abraham, apa yang engkau perbuat? Eng-kau gila? Mengapa engkau membangun mezbah, barang yang tidak berharga, dan meletakkan segala sesuatu ke atasnya serta membakarnya? Bukankah itu bodoh?” Sebagai orang yang terpanggil, apa pun yang kita per-buat adalah suatu kebodohan di mata orang dunia. Ba-nyak dari sanak famili kita akan mengatai kita bodoh, karena kita terlalu sering menghadiri perhimpunan (si-dang) gereja. Mereka merasa heran, mengapa kita tidak tinggal di rumah dan melihat TV, bersama-sama dengan keluarga kita. Orang dunia tidak akan memahami menga-pa kita menghadiri sidang gereja beberapa kali seminggu. Menurut pikiran mereka, kita ini gila. Mereka akan bertanya, “Apa yang kalian perbuat di dalam gedung yang kecil itu? Mengapa kalian pergi ke sana tiap-tiap hari Rabu, Jumat, Sabtu, dua kali pada hari Minggu, bahkan sering juga pada hari Senin, Selasa, dan Kamis? Apakah kalian telah gila?” Memang, menurut orang du-nia, kita adalah orang-orang gila. Penampakan diri Allah membuat kita tergila-gila.

Mezbah berarti kita tidak menyisakan sesuatu pun bagi diri kita sendiri. Mezbah berarti kita mengakui bahwa kita hidup di bumi ini bagi Allah. Mezbah berarti hidup kita bagi Allah, Allah itulah hayat kita, dan makna hidup kita adalah Allah. Karena itu kita meletakkan segala sesuatu ke atas mezbah. Di sini kita tidak memasyhurkan nama kita sendiri; kita meletakkan semuanya ke atas mezbah bagi nama-Nya.

Jika Anda memeriksa pengalaman Anda, Anda akan melihat bahwa segera setelah Anda dipanggil, Allah me-nampakkan diri lagi kepada Anda, dan Anda berkata, “Tuhan, mulai sekarang segala sesuatu adalah milik-Mu. Semua apa adaku, semua milikku, semua yang dapat ku-kerjakan, dan yang akan kukerjakan adalah bagi-Mu.” Saya masih ingat apa yang terjadi pada sore hari itu, ketika saya diselamatkan. Saya keluar dari gedung gereja dan berjalan sepanjang jalan, saya menengadahkan pandangan saya ke langit serta berkata, “Ya Allah, mulai hari ini, segalanya adalah bagi-Mu.” Inilah suatu persem-bahan yang sejati: Dalam makna rohaninya, inilah mez-bah. Saya percaya banyak dari pembaca berita ini yang mempunyai pengalaman semacam ini. Ketika kita me-nerima panggilan Allah, kita “gila”, kita tidak mempedulikan apa yang akan terjadi. Sekalipun waktu itu kita tidak mengerti artinya, tetapi kita berjanji ke-pada Tuhan bahwa segala sesuatu yang kita miliki adalah bagi-Nya. Hari itu, ketika saya berjalan dan berkata demikian kepada Tuhan, saya tidak mengerti “segala-galanya” meliputi apa saja. Setelah beberapa tahun, saya mengalami banyak kesulitan, Tuhan di dalam saya berkata, “Tidak ingatkah engkau akan apa yang kauucap-kan pada sore itu ketika engkau berjalan di jalan? Bukankah engkau berkata, ‘Ya Allah, mulai hari ini segala-galanya adalah bagi-Mu?’” Ketika saya menanda-tangani perjanjian itu, saya tidak tahu isinya meliputi apa saja. Tetapi hal itu sudah terlambat untuk disesali; perjanjian itu sudah ditandatangani. Berkata kepada Allah bahwa segala-galanya adalah bagi-Nya ialah mezbah yang sejati. Kita semua dapat bersaksi bagaimana ma-nisnya perasaan itu dan bagaimana akrabnya perse-kutuan itu, sewaktu kita berkata kepada Tuhan bahwa segala-galanya adalah bagi-Nya. Waktu itu, kita masuk sedalam-dalamnya ke dalam diri Tuhan.

Meskipun kita bisa berkata kepada Tuhan bahwa segala apa adanya kita dan milik kita adalah bagi-Nya, namun beberapa hari kemudian kita bisa melupakannya. Tetapi yang memanggil kita tidak pernah melupakannya. Ia mempunyai ingatan yang hebat sekali. Sering kali Ia datang kepada kita dan mengingatkan kita akan apa yang telah kita katakan kepada-Nya. Boleh jadi ia ber-kata, “Tidakkah engkau ingat, apa yang engkau katakan kepada-Ku pada hari itu?” Ini bukan doktrin, melainkan suatu pengalaman yang riil. Kecuali Anda tidak terpanggil; Anda adalah orang yang terpanggil, maka saya yakin sepenuhnya bahwa Anda mempunyai penga-laman yang demikian. Tuhan menampakkan diri lagi ke-pada Anda dan pada penampakkan diri itu Anda menjadi gila, berjanji akan memberikan segala-galanya bagi Tuhan, tanpa mempertimbangkan bahwa segala-galanya itu meliputi apa saja. Anda hanya tahu mempersem-bahkan diri Anda kepadanya. Anda tidak menyadari makna dari apa yang Anda janjikan. Saya berterima ka-sih kepada Allah bahwa ketika kita melakukan itu, kita tidak jelas. Kita tidak menyadari berapa banyak kita terlibat terhadap Allah akibat kalimat yang pendek itu. Kita telah terikat olehnya. Dia itulah Tuhan. Dia itulah Sang pemanggil dan kita adalah orang-orang yang di-panggil. Semua tergantung kepada Dia. Tetapi pada saat Ia menampakkan diri kepada kita, kita menjadi gila dan berkata, “Ya Tuhan, segala-galanya adalah milik-Mu. Ambillah ya Tuhan, perbuatlah apa yang Engkau suka. Hamba mempersembahkan segala-galanya kepada-Mu.” Saat kita mempersembahkan diri kepada Tuhan, seolah-olah bermimpi belaka. Kemudian kita akan bangun dan mulai menyadari hal ini meliputi apa saja.

Pada masa permulaan pelayanan saya, saya sangat berbeban menolong orang-orang untuk mempersembah-kan diri mereka. Meskipun saya memberikan banyak pengajaran tentang mempersembahkan diri, namun tidak nampak hasilnya. Pengajaran saya tidak bekerja dengan memuaskan. Akhirnya saya mendapat pelajaran bahwa kita tidak dapat menolong orang untuk mempersembah-kan diri melalui pengajaran. Bukan pengajaran yang menyebabkan orang-orang mempersembahkan diri me-reka kepada Tuhan, melainkan penampakan diri Tuhan yang mendorong mereka berbuat demikian. Dapat me-nolong orang berjumpa dengan Tuhan dan datang ke hadapan-Nya, ini baru jitu. Kita tidak perlu menyuruh-nyuruh mereka mempersembahkan diri kepada Allah, atau untuk mempersembahkan segala-galanya kepada Tuhan di atas mezbah. Saat Allah menampakkan diri kepada mereka, tidak ada apa pun yang dapat mencegah mereka mempersembahkan diri mereka. Secara otomatis mereka akan berkata, “Tuhan, segala-galanya adalah mi-lik-Mu. Mulai sekarang, segala-galanya adalah bagi-Mu.” Tidakkah Anda memiliki pengalaman semacam ini? Ti-dakkah Anda meletakkan segala apa adanya Anda dan milik Anda ke atas mezbah bagi Allah dan bagi kehendak-Nya?

2) Mezbah yang Kedua

Setelah Abraham mendirikan mezbah bagi Tuhan di More, ia menjelajahi seluruh negeri itu. Allah bukan memberinya satu bagian tanah yang sempit, Ia mem-berinya satu negeri yang luas. Dalam perjalanannya, Abraham datang ke suatu tempat yang terletak antara Betel dan Ai. Betel di sebelah Barat dan Ai di sebelah Timur. Di sini di antara Betel dan Ai, Abraham men-dirikan lagi satu mezbah (Kej. 12:8; 13:3-4). Betel berarti rumah Allah, sedang Ai berarti timbunan reruntuhan (puing-puing). Betel dan Ai berdiri berlawanan satu terhadap yang lain. Apa makna berlawanan ini? Berarti, dalam pandangan orang-orang yang terpanggil, hanya rumah Allah saja yang berharga; semua yang lain hanyalah sebagai tumpukan reruntuhan belaka. Hari ini prinsipnya juga sama. Di satu pihak, kita mempunyai Be-tel rumah Allah, hidup gereja; selain ini, samua adalah reruntuhan. Segala sesuatu yang bertentangan dengan hidup gereja itulah reruntuhan. Dalam pandangan orang-orang yang dipanggil Allah, segala sesuatu di luar hidup gereja itulah reruntuhan. Sebab orang-orang yang ter-panggil memandang situasi dunia menurut pandangan Allah. Pandangan ini mutlak berbeda dengan pandangan dunia. Menurut pandangan dunia, segala yang ada di du-nia itu tinggi, bagus, dan mengagumkan; namun menurut pandangan orang-orang yang dipanggil Allah, segala yang berlawanan dengan rumah Allah adalah reruntuhan.

Pertama-tama kita mempersembahkan diri di More. Kemudian kita mempersembahkan diri di tempat yang terletak antara hidup gereja dan reruntuhan. Menurut pandangan kita, hanya rumah Allah yang berharga, selain ini, segalanya adalah reruntuhan. Di antara rumah Allah dan reruntuhan, kita mendirikan mezbah. Kita sekarang bisa bersekutu dengan Allah, menyembah Allah, dan melayani Allah.

3) Mezbah yang Ketiga

Abraham mendirikan mezbah yang ketiga di Mamre dekat Hebron (Kej. 13:18). Mamre berarti tenaga (ke-kuatan), dan Hebron berarti persekutuan, komunikasi, atau persahabatan. Menurut Kejadian 18:1, di Mamre Allah datang mengunjungi Abraham. Dalam kunjungan itu, Allah tidak hanya menampakkan diri kepadanya, bahkan tinggal di rumahnya dalam waktu yang cukup panjang, malahan berjamu dengannya. Kita akan melihat lebih jauh tentang hal ini jika kita membahas pasal ter-sebut. Meskipun More dan tempat yang terletak antara Betel dan Ai itu bagus, namun itu bukan tempat di mana Abraham tinggal dan bersekutu dengan Tuhan secara menetap. Tempat di mana Abraham tinggal untuk terus-menerus bersekutu dengan Tuhan adalah di Mamre dekat Hebron.

Kita semua perlu memelihara persekutuan yang terus-menerus dengan Tuhan. Hal ini bukan terjadi se-cara kebetulan, bukan terjadi secara berkala. Persekutu-an ini harus terus-menerus. Mungkin beberapa tahun yang lalu Anda mendirikan mezbah bagi Tuhan. Itu baik, tetapi apa yang terjadi setelah itu? Anda boleh berkata bahwa dua tahun yang lalu Anda mendirikan mezbah, tetapi bagaimana hari ini? Banyak di antara kita yang memiliki pengalaman di More, namun tidak mempunyai pengalaman di Mamre. Saya yakin bahwa hidup Abraham yang paling lama adalah di Hebron, tempat di mana ia secara terus-menerus bersekutu dengan Tuhan. Di sana, di Hebron, ia mendirikan mezbah yang ketiga. Kita se-mua sekurang-kurangnya perlu mendirikan tiga mezbah: yang pertama di More, yang kedua di antara Betel dan Ai, yang ketiga di Mamre dekat Hebron. Kita perlu men-dirikan mezbah di Mamre, di Hebron, supaya kita bisa menyembah Allah, melayani Allah, dan mempunyai per-sekutuan yang terus-menerus dengan Allah. Inilah peng-alaman dari mezbah ketiga, mezbah di Hebron.

(c) Ekspresi — Kemah

1) Karena Semua yang Dimilikinya Adalah bagi Tuhan, dan Ia Bersandar kepada Allah

Setelah Abraham mendirikan mezbah, ia memasang kemah (Kej. 12:7-8). Di Babel, pertama-tama orang mem-bangun sebuah kota, kemudian mendirikan menara. Te-tapi Abraham pertama-tama membangun mezbah, kemu-dian memasang kemah. Ini berarti bahwa Abraham adalah untuk Allah. Hal pertama yang ia kerjakan ialah menyembah Allah, bersekutu dengan Allah. Yang kedua baru ia memperhatikan kehidupannya. Kemah adalah bagi kehidupan Abraham. Abraham tidak mendahulukan kehidupannya, ini nomor dua. Bagi Abraham, perkara yang paling penting ialah mempersembahkan segala-galanya kepada Allah, menyembah, melayani Allah, dan bersekutu dengan Allah. Kemudian barulah Abraham memasang kemah bagi kehidupannya. Abraham tinggal di kemah, menunjukkan ia bukan milik dunia, sebaliknya merupakan satu kesaksian kepada orang-orang dunia (Ibr. 11:9).

2) Di Tempat Kesaksian

Pertama-tama Abraham memasang kemahnya di se-buah tempat di antara Betel dan Ai (Kej. 12:8; 13:3). Itu-lah tempat rumah Allah berada, juga tempat ia memulai bersaksi, mengekspresikan Allah melalui bersekutu de-ngan Allah. Mezbah merupakan permulaan kesaksiannya bagi Allah terhadap dunia; sedangkan kemahnya sebagai penggenap kesaksiannya bagi Allah terhadap dunia.

Kemahnya merupakan bentuk miniatur Kemah Suci (tabernakel) yang dibangun oleh keturunannya di padang gurun, yang disebut dengan “Kemah Suci kesaksian” (Kel. 38:21 Tl.). Ketika kemahnya dibangun di Betel, di satu aspek, kemah ini dapat dipandang sebagai rumah Allah, untuk kesaksian Allah di bumi.

3) Di Tempat Persekutuan

Kemudian Abraham memindahkan kemahnya ke Hebron, yang berarti persekutuan (Kej. 13:18). Mula per-tama kemahnya adalah suatu kesaksian bagi Allah terhadap dunia, kemudian kemah ini menjadi pusat di mana ia bersekutu dengan Allah. Hal ini dengan kuat dibuktikan melalui apa yang terjadi dalam pasal 18. Ketika itu Allah datang dan tinggal bersamanya dalam kemah di Mamre, di Hebron. Melalui pemasangan kemah oleh Abraham, Allah mempunyai satu tempat di bumi, di mana Ia dapat berkomunikasi dan bersekutu dengan ma-nusia. Kemahnya mendatangkan Allah dari surga ke bumi. Kita, semua orang yang dipanggil oleh Allah, se-harusnya memasang kemah. Di satu pihak, kemah se-macam ini adalah suatu kesaksian Allah terhadap dunia; di lain pihak, kemah adalah tempat persekutuan dengan Allah, mendatangkan Allah dari surga ke bumi.

Jangan mengira perkara kemah ini merupakan perkara yang kecil. Kemudian hari, ketika keturunan Abraham dipanggil keluar dari Mesir dan tiba di padang gurun, Allah menyuruh mereka mendirikan kemah dan juga menyuruh mereka mendirikan mezbah di depan kemah (Kel. 26:1; 27:1). Dalam Kitab Keluaran, kita melihat mezbah dan kemah, yaitu Tabernakel (Kemah Per-temuan). Tabernakel itu merupakan rumah Allah di bumi. Kemah Abraham adalah rumah Allah di bumi juga. Dalam Kejadian 18 kita melihat bahwa Allah datang dan tinggal bersama-sama Abraham di dalam kemahnya. Pada waktu itu, Abraham sebagai imam yang mempersembah-kan kurban kepada Allah. Ia membangun mezbah dan mempersembahkan kurban kepada Allah, ini membukti-kan bahwa dia berfungsi sebagai imam. Maksud Allah, semua orang yang dipanggil keluar adalah imam. Kita semua adalah imam. Kita tidak memerlukan orang lain untuk mempersembahkan kurban bagi kita. Kita harus melakukan hal ini sendiri. Ketika Abraham berjamu dengan Allah di dalam kemahnya, ia adalah imam besar, dan bagian dalam kemahnya adalah tempat maha ku-dusnya. Allah berada di sana. Dari sini kita dapat me-lihat bahwa kemah Abraham adalah lambang Tabernakel yang dibangun oleh keturunan Abraham di padang gurun sebagai tempat tinggal Allah dan imam-imam. Dalam Kitab Kejadian kita melihat seorang imam yang bernama Abraham yang hidup bersama dengan Allah di dalam kemahnya. Dan di samping kemah ini, ada sebuah mezbah.

4) Karena Iman, Tinggal sebagai Musafir di Negeri Asing

Jangan lupa, sejarah Abraham adalah sejarah Anda. Apakah Anda mempunyai kemah yang selalu memiliki penyertaan Allah? Orang-orang dunia tidak memiliki kemah semacam ini, mereka hanya mempunyai kota yang besar. Orang dunia hanya dapat melihat kota besarnya. Mereka berkata, “Lihatlah perseroanku. Pandanglah pen-didikanku, hasil karyaku. Lihatlah betapa banyak benda yang kumiliki.” Tetapi kita dapat berkata kepada orang-orang dunia, “Engkau memiliki segalanya, tetapi satu hal yang tidak engkau miliki — penyertaan Allah. Engkau tidak memiliki kemah — engkau hanya memiliki Kota Babel. Semua yang kau miliki tidak lain sebagian dari Babilon besar.” Baik kita sebagai orang-orang tingkat tinggi maupun tingkat rendah, itu tidak berarti banyak. Yang penting ialah di mana pun kita berada, kita mem-punyai kemah dan penyertaan Allah. Bila kita mempu-nyai kemah dan penyertaan Allah, kita pasti mempunyai perasaan yang sangat dalam di batin kita bahwa tidak ada satu pun yang abadi di bumi ini, segalanya se-mentara belaka. Kita memandang yang kekal itu. Bank, perseroan, kesuksesan — semuanya adalah sementara dan tidak berarti. Kita tidak mempunyai satu pun yang bersifat kekal di bumi ini. Kita senang memiliki kemah dan penyertaan Tuhan. Kita senang hidup dalam situasi demikian. Kita boleh berkata kepada orang-orang dunia, “Dokter A, aku tidak memiliki sebanyak yang engkau punya, tetapi aku memiliki sesuatu yang tidak kau miliki— yaitu penyertaan Allah. Aku tidak perlu menunggu alam kekal baru memiliki penyertaan Allah, aku memiliki penyertaan-Nya sekarang juga di dalam kemahku. Se-kelilingku adalah kemah, bayang-bayang dari Yerusalem Baru. Mungkin hal ini tidak berharga menurut pan-danganmu, tetapi di mata Allah ini sangat berarti.” Inilah makna memasang kemah.

Kapan saja kita menjawab panggilan Allah, Tuhan menampakkan diri lagi kepada kita dan kita mendirikan mezbah bagi Allah, berkata kepada-Nya bahwa segala apa adanya kita dan yang kita miliki adalah bagi-Nya, kita akan segera memasang kemah. Dengan spontan, orang banyak akan melihat bahwa inilah suatu pernyataan dan deklarasi bahwa kita bukan milik dunia. Memasang ke-mah menyatakan bahwa kita milik negeri lain. Kita bu-kan milik negeri ini, kita mencari sesuatu yang lebih baik. Kita tidak menyukai negeri ini, bumi ini, dan dunia ini. Kita berharap masuk ke negeri yang lain. Kita me-nempuh perjalanan berdasarkan iman, seperti musafir di negeri asing (Ibr. 11:9).

5) Menanti dengan Pengharapan akan Sebuah Kota yang Berdasar

Ibrani 11:10 mengatakan Abraham, “menanti-natikan kota yang mempunyai dasar, yang direncanakan dan dibangun oleh Allah.” Kota yang mempunyai dasar ini pastilah Yerusalem Baru, yang terletak di atas dasar yang kukuh dan dibangun oleh Allah (Why. 21:14; 19-20). Ketika Abraham tinggal di kemahnya yang tanpa dasar, ia juga sedang menanti dengan pengharapan akan kota yang mempunyai dasar. Saya tidak yakin kalau Abraham mengerti bahwa ia sedang menantikan Yerusalem Baru. Bahkan banyak orang Kristen yang tidak tahu bahwa yang mereka nanti-nantikan ialah Yerusalem Baru. Na-mun kita harus jelas, hari ini kita tinggal di dalam ke-mah hidup gereja, menunggu perampungan sempurna dari gereja, yaitu Yerusalem baru — kota Allah yang berdasar.

6) Hidup dalam Bayang-bayang Yerusalem Baru

Kemah Abraham merupakan bayang-bayang Yeru-salem Baru, dan Yerusalem baru merupakan kemah Allah yang terakhir dalam alam semesta (Why. 21:2-3). Ketika Abraham tinggal di dalam kemah, ia hidup di dalam bayang-bayang Yerusalem Baru. Selama ia tinggal di sana bersama-sama dengan Allah, ia menantikan se-buah kota, yang akhirnya menjadi Yerusalem Baru. Yeru-salem Baru, kemah yang kekal, akan menggantikan ke-mah yang sementara yang didiami oleh Abraham. Kemah Abraham merupakan benih tempat kediaman Allah yang kekal. Benih ini bertumbuh di dalam kemah yang di-bangun oleh keturunannya di padang gurun (Kel. 40), dan tuaiannya adalah Yerusalem Baru, kemah Allah, dan manusia. Allah masih memerlukan benih-benih semacam ini di dalam kita semua. Kita semua perlu menjadi orang yang hidup di dalam kemah dan yang memandang ke arah negeri yang lebih indah, negeri yang akan menjadi kemah kekal di mana Allah dan kita, kita dan Allah, akan tinggal bersama-sama hingga kekal. Kesenangan Abraham keseluruhannya tertuju pada negeri yang lebih indah itu. Sekalipun Allah telah berkata kepadanya akan memberi tanah itu kepada Abraham dan keturunannya, Abraham tidak tertarik terhadap itu. Ia mencari negeri lain dan sebuah kota yang mempunyai dasar. Akhirnya, Alkitab memberi tahu kita, negeri yang indah ini adalah langit baru dan bumi baru, sedang kota yang mempunyai dasar adalah Yerusalem Baru, tempat kediaman abadi bagi Allah dan bagi semua orang yang dipanggil-Nya.

Hari ini kita mengulangi hidup dan sejarah Abraham. Dulu hanya ada satu Abraham; sekarang ada banyak Abraham. Hidup gereja hari ini adalah tuaian kehidupan dan sejarah Abraham. Kehidupan Abraham yang berda-sarkan iman, sekarang diulangi kembali di antara kita. Di sini kita semua mendirikan mezbah dan memasang ke-mah. Perhatikan hidup gereja; kita memiliki mezbah dan kemah yang riil. Inilah gambar Yerusalem Baru yang akan datang, di mana kita akan selama-lamanya tinggal bersama-sama dengan Allah.

Alkitab berakhir pada kemah. Yerusalem Baru ada-lah kemah yang terakhir, tabernakel yang terakhir di dalam alam semesta. Mungkin suatu hari Abraham akan berjumpa dengan Allah di dalam Yerusalem Baru dan Allah akan berkata, “Abraham, tidakkah engkau ingat hari itu, ketika kita bersama-sama berjamu di dalam ke-mahmu? Kemahmu itulah bayang-bayang dari tabernakel yang kekal ini.” Kemah Abraham sebagai benih. Per-tumbuhan benih ini terjadi di Keluaran dan dituai di Wahyu 21. Pada prinsipnya, tidak ada perbedaan antara kemah Abraham dan Yerusalem Baru, kemah yang terakhir itu. Andaikata saya adalah Abraham dan ber-jumpa dengan Allah di Yerusalem Baru, saya akan ber-kata, “Ya Tuhan, hamba teringat hari itu, Engkau men-datangi kemah hamba. Kini hamba datang ke kemah-Mu.”