UJIAN ORANG YANG TERPANGGIL
Dalam berita ini kita akan melihat pengalaman Abraham mendapat ujian. Kita telah melihat bagaimana Abraham dipanggil oleh Allah dan bagaimana ia mem-peroleh kekuatan untuk menjawab panggilan itu karena penampakan diri Allah. Kita juga telah melihat, karena penampakan diri Tuhan, Abraham dibawa ke tempat di mana Allah menghendaki ia berada. Pertama-tama ia dibawa ke Sikhem (Kej. 12:6), kemudian ke suatu tempat di antara Betel dan Ai, suatu tempat di antara rumah Allah dan reruntuhan (Kej. 12:8). Tempat antara rumah Allah dan reruntuhan itu adalah titik puncak. Seharus-nya Abraham tetap tinggal di sana.
Akan tetapi, setelah Abraham mencapai tahap yang tinggi dalam pengalamannya terhadap Allah, tiba-tiba Abraham meneruskan perjalanannya menuju ke arah Se-latan (Kej. 12:9). Dalam mempelajari pasal ini, saya telah menghabiskan banyak waktu untuk menemukan sebab-sebab Abraham melanjutkan perjalanannya. Mengapa ia melanjutkan perjalanannya dan tidak tinggal di tempat di antara rumah Allah dan reruntuhan? Abraham telah mencapai puncaknya, telah mencapai tempat di mana Allah menghendakinya berada. Seharusnya ia bersandar pada belas kasihan Allah untuk menetap di sana. Tetapi Abraham melanjutkan perjalanannya ke Selatan. Ini ber-arti ia berjalan turun. Setelah ia mengalami Allah sede-mikian puncak, perjalanan apa pun adalah jalan menu-run. Abraham melanjutkan perjalanan, ini merupakan kegagalan Abraham.
Kita telah melihat, pada mulanya Abraham menyeret kakinya melalui lumpur dan air. Akhirnya, dia menang, dan terus berjalan ke Sikhem, setelah itu ke tempat de-kat Betel. Ini sangat baik. Di kedua tempat itu ia men-dirikan mezbah. Di tempat antara Betel dan Ai ia juga memanggil nama Tuhan serta memasang kemahnya se-bagai suatu pernyataan kepada seluruh dunia bahwa ia adalah kesaksian yang berkebalikan dengan situasi di Babel. Tidakkah Anda berpikir, dengan berbuat demikian Abraham telah mencapai titik yang tinggi dalam hal mengalami Allah?
Mungkin Anda berpikir, andaikata Anda adalah Abraham, Anda pasti akan tetap tinggal di sana. Tetapi kita jangan berpikir demikian, karena kita adalah Abra-ham hari ini. Abraham zaman dulu justru sama seperti kita. Seperti yang telah kita tunjukan dalam berita yang lalu, pengalaman Abraham adalah benih pengalaman kita. Catatan tentang Abraham dalam Kitab Kejadian adalah biografinya, tetapi juga merupakan otobiografi kita. Mungkin Anda berkata, “Bukan, itu adalah otobiografi Abraham dan biografiku.” Tetapi catatan ini adalah oto-biografi Anda, bukan biografi, sebab biografi Abraham ditulis oleh Musa dan otobiografi Anda ditulis oleh Anda sendiri. Pengalaman Abraham sama dengan pengalaman kita hari ini. Kita dan dia adalah satu. Tidakkah Anda memiliki waktu yang indah bersama Tuhan, saat Anda mencapai titik yang tertinggi dan berseru, “Haleluya! Betapa baiknya di sini! Tidak ada yang tempat yang lebih indah daripada tempat ini. Inilah tempat yang paling baik bagiku.” Tidak pernahkah Anda berkata demikian? Tetapi apa yang terjadi pada hari berikutnya? Anda mu-lai berjalan menurun. Kemarin malamnya Anda berkata, “Haleluya, inilah tempat bagiku.” Keesokan paginya Anda mulai berjalan menurun ke perbatasan Mesir. Ini berarti Anda berjalan ke tempat yang sangat dekat dengan dunia, dekat dengan gedung bioskop. Pada suatu malam Anda berada di tempat yang tinggi di Kanaan dan esok paginya Anda berjalan menurun ke perbatasan dunia. Tidakkah hal ini terjadi pada diri Anda? Saya sangat senang dan takjub mendengar seorang murid SMP meng-ucapkan doa yang menakjubkan dalam sidang. Tetapi saya perlu mengatakan perkataan yang jujur kepada me-reka: Saya tidak percaya pada kalian. Setelah mengucap-kan suatu doa yang mengagumkan pada sidang malam hari, keesokan paginya Anda berjalan menurun ke per-batasan tempat pertunjukan duniawi. Boleh jadi hari ini Anda berkata, “Haleluya, inilah tempat yang terbaik bagiku.” Tetapi pada akhir pekan Anda berjalan menurun ke gedung bioskop. Ingatlah, kita adalah Abraham hari ini. Kita mudah mencapai tempat yang tinggi, tetapi tidak mudah tetap tinggal di sana. Di tempat yang tinggi itu tidak ada ruang kosong. Jika Anda bergerak sedikit saja, Anda akan jatuh ke bawah. Sangat sulit untuk tetap bertahan di posisi yang ditunjukkan oleh Allah. Tempat tinggal itu dikelilingi oleh lubang-lubang, karena itu Anda mudah jatuh ke dalam salah satu lubang itu. Orang yang terpanggil tidak selalu akan mundur ke belakang, tetapi mereka mudah turun ke Mesir. Abraham tidak pernah kembali ke Kasdim, tetapi ia turun ke Mesir.
(d) Ujian
Dalam Kejadian 12:9—13:18 kita melihat ujian Abraham. Kata ujian adalah kata yang tidak menyenang-kan. Tidak seorang pun yang suka mengalami ujian. Apakah Anda suka mendapat ujian dalam hidup Anda? Sekalipun tidak ada orang yang menyukai ujian, tetapi sesungguhnya ujian merupakan pengalaman yang baik. Tidak lama setelah Abraham dipanggil dan memulai ke-hidupan berdasarkan iman, ujian datang kepadanya. Janganlah berdoa, “Ya Tuhan, Engkau demikian baik kepadaku. Janganlah membiarkan ujian datang menim-paku.” Doa semacam ini hanya mempercepat datangnya ujian. Tuhan justru akan menjawab yang sebaliknya ter-hadap doa Anda. Jika Anda berkata, “Tuhan, janganlah memberi ujian.” Tuhan malah berkata, “Aku akan segera memberi ujian.” Aku yakin tidak seorang pun dapat ber-kata bahwa sejak dia dipanggil oleh Tuhan, ia selalu menikmati waktu yang menggembirakan. Tidak seorang pun dapat berkata demikian.
Allah kita bukan hanya Allah yang kasih, tetapi juga Allah yang berdaulat. Allah kita tidak hanya Allah yang kasih, Allah yang terang, dan Allah hayat, tetapi juga Allah yang berdaulat. Segala sesuatu berada di bawah pengaturan ekonomi-Nya. Ia mengatur seluruh dunia untuk kita. Kita harus percaya, Allah mengatur segala sesuatu dalam alam semesta untuk setiap individu di an-tara kita. Boleh jadi Anda berkata, “Oh betapa kecilnya aku! Bagaimana mungkin Allah yang berdaulat mengatur semua untukku?” Anda harus percaya hal ini. Anda tidak terlalu kecil sehingga Allah tidak mengatur lingkungan Anda bagi Anda. Anda cukup besar untuk memperoleh pengaturan Allah. Saya telah mempelajari hal ini dari pengalaman sendiri. Lima puluh tahun yang lalu saya tidak menyukai kisah Abraham turun ke Mesir. Saya benar-benar merasa tidak senang dengan pengalaman ini. Pada waktu itu, ketika saya membaca kisah tentang tu-runnya Abraham ke Mesir, saya tidak mengerti dan me-rasa tidak baik. Saya bahkan bertanya kepada Allah. Tetapi sekarang, setelah saya menempuh pengalaman bertahun-tahun, saya merasa sangat senang. Kita sung-guh-sungguh perlu mendengar berita tentang ujian ter-hadap Abraham ini.
Untuk mencapai tempat yang tinggi dalam penga-laman kita terhadap Allah adalah mudah, tetapi untuk tetap tinggal di sana itu sulit. Pandanglah keadaan seke-liling Anda. Itu telah diatur sebelum Anda dilahirkan. Allah adalah Allah yang berdaulat. Walaupun Anda me-mandang diri Anda sebagai ciptaan yang kecil, tetapi me-nurut pandangan Allah, Anda adalah orang yang sangat penting. Sebelum dunia diciptakan, Allah telah mengatur segala sesuatu bagi Anda. Bahkan Ia mengatur sehingga Anda sekarang dapat membaca berita ini. Kita berada di bawah pengaturan Allah, janganlah coba-coba melarikan diri. Jika Anda melarikan diri ke suatu tempat, Anda akan menemukan tempat itu juga adalah tempat yang diatur oleh Allah bagi Anda. Bila Anda sudah tua, Anda akan menyembah dan berkata, “Tuhan, aku sepenuhnya percaya, sebelum dunia dijadikan, Engkau telah mengatur segalanya untukku.”
Ujian Abraham adalah suatu pelajaran untuk ia pelajari. Kita semua perlu mempelajari beberapa pelajar-an. Kita tidak dapat mempelajari pelajaran-pelajaran ini dari orang tua kita atau dari pengalaman-pengalaman saudara saudari kita. Kita semua harus mempelajari be-berapa pelajaran mengenai kedaulatan Allah.
1) Kelaparan
Seperti yang telah kita lihat, aspek kedua dari pengalaman Abraham adalah hidup berdasarkan iman. Untuk keperluan sehari-harinya ia hidup bersandar Allah. Dalam Kejadian 12:10 kita membaca bahwa di ne-geri itu terjadi kelaparan yang hebat. Bencana kelaparan ini merupakan ujian untuk mengetahui apakah Abraham bersandar kepada Allah dalam hal kebutuhan hidup se-hari-harinya.
Jika Anda meneliti Kejadian 12:10-20, Anda akan melihat dalam situasi ini Abraham lemah dan rendah. Ia gagal mempertahankan posisi yang telah ditentukan Allah, dan turun ke Mesir. Di sebelah belakang Kanaan adalah Babel, di samping Kanaan adalah Mesir dan ber-dekatan dengan Kanaan adalah Sodom. Abraham ber-angsur-angsur bergerak ke arah Selatan, lalu turun ke Mesir. Seperti yang akan kita lihat, di Mesir ia berbuat dosa dengan dustanya. Mungkin tidak seorang pun di antara kita yang percaya kalau Abraham dapat menjadi demikian lemah dan rendah. Allah telah menampakkan diri kepadanya di Ur, di Haran, dan di Sikhem. Di Sikhem, Allah berkata kepada Abraham, “Aku akan mem-berikan negeri ini kepada keturunanmu” (Kej. 12:7). Allah telah berkata dengan tegas kepada Abraham bahwa Ia akan memberikan negeri itu kepada keturunannya. Siapakah Allah yang telah berbicara dengan Abraham itu? Ia adalah Pencipta, Pemilik langit dan bumi. Dialah Allah yang menampakkan diri kepada Abraham. Ketika bencana kelaparan datang, seharusnya Abraham dengan tanpa ragu-ragu berkata, “Aku tidak khawatir dengan bencana kelaparan, sebab aku mempunyai Allah yang hidup. Aku tidak khawatir akan kekurangan makanan, sebab Dia yang memanggilku dan membawa aku ke sini. Yang telah dua kali menampakkan diri untuk mengesah-kan perjalananku adalah Allah yang Mahakuasa. Aku percaya kepada-Nya dan sekarang aku hidup dengan percaya bahwa Dia akan memenuhi kebutuhanku sehari-hari, aku tidak khawatir akan ada makanan atau tidak.” Seharusnya Abraham mempunyai doa semacam ini.
Tetapi, apakah yang diperbuat Abraham ketika ben-cana kelaparan datang? Apakah ia berdoa? Apakah ia berkata kepada istrinya, “Marilah kita berdoa”? Tidak. Seolah-olah Abraham sudah lupa berdoa. Ketika masa ujian datang menimpanya, ia tidak berdoa. Jangan me-nertawai Abraham. Ketika segala sesuatu sedang berjalan dengan baik, Anda mudah berdoa. Tetapi ketika bencana kelaparan tiba, Anda lupa bahwa Anda adalah orang Kristen, hanya ingat Anda adalah manusia. Anda melu-pakan Allah yang hidup, yang telah menampakkan diri kepada Anda, Anda hanya teringat akan perut Anda. Abraham memperhatikan perutnya. Ia memperhatikan keadaan: di negeri ini terjadi bencana kelaparan, sedang-kan di Mesir terdapat makanan yang limpah. Abraham dan istrinya tidak banyak bicara. Mereka berdua segera setuju pergi ke Mesir. Saya percaya, sebelum mereka mengambil keputusan ini, mereka sudah berjalan me-nurun. Kedua suami istri ini melupakan Allah. Mereka tidak memperhatikan ke mana Allah mengingini mereka pergi. Mereka seolah-olah tidak mempunyai Tuhan.
a) Berdosa dengan Berbohong
Ketika Abraham dan Sara sampai di perbatasan Mesir, ia berkata kepada istrinya, “Apabila orang Mesir melihat engkau, mereka akan berkata: Itu istrinya. Jadi mereka akan membunuh aku dan membiarkan engkau hidup” (Kej. 12:12). Karena takut orang-orang Mesir akan membunuh dirinya dan mengambil istrinya, Abra-ham memohon kepada Sara, bukan kepada Allah, kata-nya, “Katakanlah bahwa engkau adalah adikku, supaya aku diperlakukan mereka dengan baik karena engkau, dan aku dibiarkan hidup” (Kej. 12:13). Abraham dan Sara sama-sama setuju agar Sara berbohong bahwa ia bu-kan istri Abraham. Abraham rela mengorbankan istrinya untuk menyelamatkan dirinya. Sepertinya Abraham tidak memiliki standar moral. Di antara orang-orang Kristen tertentu, Abraham sangat ditinggikan. Sebenarnya ia tidak setinggi itu. Banyak di antara kita tidak akan melakukan perbuatan seperti yang dilakukan Abraham. Tetapi Abraham demikian rendah sehingga ia rela mengorbankan istrinya, membiarkan istrinya diperistri orang lain, untuk menyelamatkan hidupnya. Hal itu sung-guh memalukan! Percayakah Anda bahwa orang yang di-panggil Allah, bapa iman, dapat berbuat demikian? Dari sini kita tahu bahwa Abraham tidak lebih tinggi daripada kita. Paling-paling ia sama dengan kita. Untuk kepen-tingan perutnya, ia siap menjual istrinya, dan Sara me-matuhinya. Ia memang istri yang paling baik, teladan semua istri. Sara patuh. Ia menerima anjuran Abraham dan tidak menyalahkan Abraham.
Dalam perkara ini, Abraham adalah peramal yang baik, karena perkara-perkara yang terjadi di Mesir tepat seperti apa yang ia ramalkan. Orang-orang Mesir meng-ambil istrinya dan membawanya ke istana Firaun (Kej. 12:14-15). Ditinjau dari satu sudut, ini berarti Abraham telah menjual istrinya. Karena Sara, Firaun memberi sangat banyak kekayaan kepada Abraham — domba, kambing, sapi, unta, budak laki-laki dan perempuan (Kej. 12:16). Abraham menjadi kaya. Saya tidak mengerti bagaimana perasaan Abraham melihat istrinya dibawa. Dapatkah ia merasa damai menerima semua benda dari Firaun. Tetapi ia menerima semua itu. Ia tidak setia. Ia bukannya berkata, “Oh, aku tidak akan menerima ini. Aku mau Sara!” Tidak demikian yang terjadi, ia mem-biarkan Sara dibawa pergi. Saya percaya Abraham yakin bahwa istrinya telah hilang. Menurut pikirannya, Sara telah hilang. Sedikit-dikitnya ia telah menerima ternak, sapi, dan budak sebagai harga pembayaran karena ia telah melepas Sara pergi.
b) Dilindungi Allah
Tetapi Allah tidak membiarkan Abraham pergi. Allah datang, bukan untuk menanggulangi Abraham, melainkan menanggulangi Firaun. Ayat 17 mengatakan “Tetapi TUHAN menimpakan tulah yang hebat kepada Firaun, demikian juga kepada seisi istananya, karena Sarai, istri Abram itu.” Alkitab mengatakan bahwa tulah yang hebat itu menimpa Firaun dan seisi istananya. Walaupun tidak ditegaskan dengan kata-kata dalam Alkitab, saya yakin bahwa sejak Firaun mengambil Sara, ia menderita sakit yang parah, yang kemudian penyakitnya meningkat hing-ga hampir mati. Kita mengetahui bahwa tulah yang hebat itu menimpa dia dan seisi istananya. Tulah apakah itu? Apakah api yang membakar istananya? Saya yakin bukan itu. Setelah saya perhatikan sungguh-sungguh, saya be-nar-benar percaya, tulah itu pastilah suatu penyakit yang menimpa atas Firaun dan kepada setiap orang yang berada di istana, kecuali Sara. Seluruh istana itu mung-kin bertanya-tanya tentang apa yang terjadi. Mereka sangat heran mengapa setiap orang menjadi sakit, mengapa Firaun akan mati dan mengapa hanya Sara yang terkecuali. Boleh jadi mereka berkata, “Siapakah wanita ini? Mengapa ia tidak sakit?” Mungkin mereka menanyakan hal ini kepada Sara. Sara melihat perkem-bangan situasi yang sedemikian, dan ia mengerti. Ke-mudian ia memberi tahu Firaun bahwa dia adalah istri Abraham. Saya yakin, ini adalah peristiwa yang mungkin terjadi. Tangan Allah turun ke atas Firaun karena Sara. Ia datang melindungi Abraham dan Sara.
Ketika kita, orang-orang Kristen, beriman kepada Allah, semua orang yang ada di sekeliling kita menerima manfaatnya, tetapi jika kita gagal beriman kepada Allah, akan mendatangkan kerugian kepada orang-orang di sekeliling kita. Allah berdaulat atas segalanya, dan Firaun menderita. Sekalipun saya tidak berkata bahwa Allah mengambil sesuatu dari tangan Firaun dan memberikannya kepada Abraham, tetapi kenyataannya memang seperti itu. Akhirnya, Abraham bukan saja tidak kehilangan istrinya, bahkan memperoleh kekayaan yang sangat banyak.
Ketika ia berada di Mesir, Abraham mengalami karunia perlindungan Allah. Tanpa karunia perlindungan, tidak seorang pun di antara kita yang dapat tetap tinggal di tempat yang tinggi dalam pengalaman kita. Kita semua perlu karunia perlindungan. Jangan percaya akan pengalaman Anda, percayalah karunia perlindungan-Nya. Dalam karunia perlindungan Allah, sewaktu Abraham menjual istrinya di Mesir, Abraham tetap berada di tempat yang tinggi. Tidak peduli waktu itu ia berada di atas atau di tempat yang paling bawah, ia selalu berada dalam karunia perlindungan Allah. Dalam sudut yang baik, Abraham tidak pernah menyentuh Mesir sama sekali, karena karunia perlindungan setiap waktu menunjang-nya. Walaupun ia turun ke Mesir, ia masih tetap dalam karunia perlindungan itu. Bahkan sewaktu Anda jatuh, jika Anda tetap dalam karunia perlindungan, maka karunia perlindungan itu akan membawa Anda kembali ke tempat yang tinggi. Karunia perlindungan itu akan memberi tahu Abraham, “Abraham, jangan nakal lagi. Kenakalanmu memberikan kesempatan bagiku untuk me-nunjukkan kepadamu kedaulatanku, tetapi sebaiknya bersandarlah kepadaku.”
c) Setelah Belajar, Abraham Tahu bahwa Allah Bertanggung Jawab atas Segala Hal,
Segalanya Ada di Tangan Allah
Melalui pengalamannya di Mesir kali itu, Abraham mengetahui bahwa Allah yang memanggilnya itu juga me-meliharanya, dan segala sesuatu ada di tangan-Nya. Di bawah akan kita lihat, pasal selanjutnya membuktikan bahwa Abraham telah mempelajari pelajaran ini. Melalui pengalaman ini Abraham dididik tidak hanya percaya kepada Allah, tetapi juga mengetahui Allah itu riil dan setia.
Selama Anda adalah orang yang dipanggil Allah, Ia akan memelihara Anda, tidak peduli apakah Anda per-caya kepada-Nya atau tidak, bersandar kepada-Nya atau tidak. Jika Anda tinggal di tempat yang tinggi, Ia me-melihara Anda. Jika Anda jatuh sampai ke dasar pun, Ia lebih memelihara Anda. Apakah kita tetap di tempat yang tinggi atau jatuh sampai ke dasar, itu urusan kita; bagi Dia tidak ada bedanya, karena tidak peduli kita ada di puncak atau di dasar, Ia tetap memelihara kita. Inilah kisah Abraham yang juga adalah kisah kita. Melalui pengalaman, saya dapat bersaksi kepada Anda, Allah itu riil dan setia. Bapa kita adalah riil dan setia. Dia yang memanggil kita adalah riil dan setia. Tidak peduli apakah ekonomi dunia baik atau buruk, Allah tetap memelihara kita.
Kita, orang-orang yang dipanggil, dapat menikmati Allah. Mungkin kita telah menjual istri kita, Allah masih memelihara kita. Ketika kita mempunyai rencana men-jual istri kita untuk menyelamatkan nyawa kita, Allah merencanakan bagaimana melindungi istri kita dan mem-peroleh banyak benda bagi kita, bahkan membawa kita kembali ke tempat-Nya dengan segala kekayaan yang telah kita peroleh itu. Ketika saya pertama kali mem-baca kisah ini, saya tidak bisa menyetujuinya. Akhirnya saya tertawa sebab Allah yang memanggil kita sedemi-kian baik. Ketika Abraham merencanakan hendak men-jual istrinya, Allah menyiapkan berkat baginya, melin-dungi nyawanya, dan memberinya harta yang banyak. Seandainya pada waktu itu saya adalah Abraham, saya akan bertanya, “Ya Allah, apa yang dapat kukatakan? Aku tidak mempunyai muka untuk mengatakan sesuatu pun kepada-Mu.” Seandainya saya adalah Abraham, maka ketika saya memandang istri saya, ternak, dan budak-budak itu, saya hampir tidak mempunyai muka untuk berkata, “Bapa, terima kasih.” Saya akan berkata kepada Sara, “Sayangku, mari kita balik. Tidak peduli apakah budak-budak ini mau pergi bersama kita atau tidak, aku tidak patut sedikit pun atas kekayaan yang telah Allah berikan kepadaku ini, aku merasa malu untuk menik-matinya. Aku tidak patut, tetapi Allah memberi dengan cuma-cuma. Sara, sementara aku menjualmu, Allah memberi semua benda ini kepada kita. Engkau mungkin mengatakan itu baik, tetapi aku merasa malu. Sara, berdoalah dan katakanlah terima kasih kepada Allah bagiku. Aku sungguh tidak mempunyai muka untuk berdoa sendiri.” Saya yakin inilah yang terjadi atas diri Abraham pada waktu itu.
Dalam Kejadian 13:1 kita nampak bahwa Abraham keluar dari Mesir. Ia kembali ke tempat tinggi itu, ke tempat “di mana kemahnya mula-mula berdiri, antara Betel dan Ai, ke tempat mezbah yang dibuatnya dahulu di sana; di situlah Abram memanggil (menyeru) nama Tuhan” (Kej. 13:3-4). Abraham kembali ke tempat di mana ia mendirikan mezbah dan memasang kemahnya. Ketika Abraham di Mesir merencanakan menjual istri-nya, ia tidak mempunyai mezbah, tidak mempunyai ke-mah, juga tidak menyeru nama Tuhan. Tidak ada pernya-taan kesaksian yang berlawanan dengan Babel. Ketika ia di Mesir, ia kehilangan semuanya ini. Tetapi Abraham kembali kepada yang mula-mula, ke tempat mezbahnya, di sana ia kembali menyeru nama Tuhan.
2) Pertengkaran Antara Saudara
Setelah melewati semua pengalaman dalam pasal 12, boleh jadi mudah bagi Abraham atau bagi kita untuk mengatakan, “Puji Tuhan, aku telah mempelajari pela-jaran itu!” Tetapi ini memerlukan beberapa ujian lagi untuk membuktikan benar tidaknya kita telah mempe-lajari pelajaran itu dengan sungguh-sungguh. Salah satu ujiannya ialah pertengkaran antara saudara (Kej. 13:5-13). Abraham menjadi kaya setelah mencoba menjual is-trinya, dan kekayaan itu menimbulkan banyak kesulitan kepadanya. Ia menjadi demikian kaya. Lot, kemenakan-nya juga memperoleh kekayaan, sehingga tanah yang mereka diami itu menjadi demikian kecil untuk menampung mereka berdua. Dalam Kejadian 13:6 memberi tahu kepada kita: “Tetapi negeri itu tidak cukup luas bagi mereka untuk diam bersama-sama, sebab harta milik mereka amat banyak, sehingga mereka tidak dapat diam bersama-sama.” Maka terjadilah perkelahian antara para gembala Abraham dan para gembala Lot (Kej. 13:7). Hal ini menjadi suatu ujian yang lain lagi bagi Abraham. Sering kali, ujian kedua berasal dari berkat yang diterima pada ujian pertama. Anda mungkin berkata, “Puji Tuhan! Ketika aku berjalan keluar dari Mesir, aku tidak mempunyai muka untuk berterima kasih kepada Tuhan, tetapi sekarang, setelah tiga bulan, aku dapat memuji-Nya karena kebaikan-Nya kepadaku. Ia melindungi istriku dan memberiku semua kekayaan ini.” Jika Anda berkata demikian, Anda segera akan menemukan diri Anda dalam kesukaran, karena ujian yang kedua ini berasal dari berkat ujian pertama. Inilah pengalaman kita.
Pasal 13 menyatakan Abraham belajar suatu pe-lajaran. Kali ini ia tidak gagal; ia menang sebab telah mempelajari pelajaran dalam ujian yang pertama. Jika Anda membaca dengan cermat, Anda akan melihat bahwa dalam perkara ini kesalahan bukan pada diri Abraham, melainkan pada diri Lot. Abraham telah belajar tidak bertengkar untuk keuntungan dirinya sendiri, tidak mempunyai pilihan bagi dirinya sendiri, melainkan per-caya akan rawatan Allah. Ia tahu bahwa dirinya berada dalam tangan Allah dan di bawah rawatan Allah. Dalam pasal 13 ini tidak ada tanda-tanda sedikit pun yang menyatakan kegagalan di pihak Abraham. Ia benar-benar sukses. “Maka berkatalah Abram kepada Lot: ‘Janganlah kiranya ada perkelahian antara aku dan engkau, dan antara para gembalaku dan para gembalamu, sebab kita ini kerabat. Bukankah seluruh negeri ini terbuka untuk engkau? Baiklah pisahkan dirimu dari padaku; jika eng-kau ke kiri, maka aku ke kanan, jika engkau ke kanan, maka aku ke kiri’” (Kej. 13:8-9). Seolah-olah Abraham berkata kepada Lot, “Lot, kita adalah saudara-saudara Ibrani, hanya kitalah orang-orang Ibrani yang ada di sini, yang lainnya adalah orang-orang kafir. Mereka meman-dang kita. Janganlah terjadi pertengkaran di antara kita, itu akan memalukan Allah yang kita percayai. Lot, pandanglah negeri ini dan pilihlah tempat yang kau sukai. Aku tidak akan menuntut atau memilihnya.” Dalam be-nak Abraham, ia pasti berkata, “Pilihanku adalah Tuhan. Aku telah mendapat pelajaran karena turun ke Mesir. Sekarang aku tahu, aku ada di bawah rawatan Allahku dan di bawah rawatan-Nya segalanya adalah milikku. Aku tidak perlu memilih. Aku akan membiarkan Lot yang memilih.” Lot menentukan pilihannya. Ia memisahkan diri dari Abraham, kemudian “berkemah di dekat So-dom”, tanpa mempedulikan kejahatan orang-orang Sodom (Kej. 13:12-13).
Membiarkan Lot pergi bukanlah perkara yang kecil bagi Abraham. Abraham tidak mempunyai anak. Keme-nakannya, Lot, adalah sanak familinya yang paling dekat, terasa seperti anak sendiri bagi Abraham. Saya percaya, Abraham memperlakukan Lot seperti anaknya sendiri. Maka ketika Lot meninggalkannya, ia merasa sendirian. Namun pada saat demikian, Allah sekali lagi menampakkan diri kepada Abraham. Di Mesir, Allah me-nanggulangi Firaun dengan tulah, tetapi Ia tidak me-nampakkan diri kepada Abraham, sebab ia berada dalam posisi yang salah. Di Mesir, Abraham berada dalam ka-runia perlindungan Allah, tetapi tidak mengalami penam-pakan diri Allah. Sekarang, dalam pasal 13 ini, Abraham bukan hanya di dalam karunia perlindungan Allah, bah-kan telah kembali ke tempat yang semula, dalam posisi yang benar. Lagi pula, ia tidak bertengkar untuk kepen-tingan diri sendiri atau memilih bagi dirinya. Sebagai hasil didikan selama turun ke Mesir, Abraham tahu bah-wa masa depannya dan segalanya ada di tangan Allah, ia juga tahu bahwa dirinya berada di bawah rawatan Allah. Dalam situasi dan kondisi demikianlah Allah menampak-kan diri kepadanya dan berkata, “Pandanglah sekeliling-mu dan lihatlah dari tempat engkau berdiri itu ke timur dan barat, utara dan selatan, sebab seluruh negeri yang kaulihat itu akan Kuberikan kepadamu dan kepada keturunanmu untuk selama-lamanya” (Kej. 13:14-15). Abraham membiarkan Lot memilih tanah, kini Allah datang, seolah-olah berkata kepada Abraham, “Aku tidak memperkenankan engkau untuk memilih. Aku akan memberikan semua tempat pilihan ini kepadamu. Pan-danglah ke arah utara, selatan, timur, dan barat — semua adalah milikmu. Engkau memberi kesempatan memilih kepada Lot. Sekarang Aku memberikan semua-nya ini kepadamu.” Dari hal ini kita harus belajar tidak bertengkar untuk diri kita sendiri dalam hidup gereja. Biarkan saudara Anda mempunyai pilihannya. Jika Anda memberikan kesempatan memilih kepada saudara Anda, Allah akan datang dan memberikan semua yang bisa dipilih itu kepada Anda.
Saat ini dalam penampakan-Nya, Allah memperkuat janji yang bersangkutan dengan tanah permai dalam Kejadian 12:7 dan janji mengenai memperbanyak keturunan-nya dalam Kejadian 12:2. Kemenangan kita atas ujian selalu memperkuat janji-janji Allah kepada kita. Hal ini terjadi pada Abraham. Selain itu, kemenangan Abraham atas ujian ini membawa dia ke puncak dalam mengalami Allah. Ia memindahkan kemahnya dan berdiam di Hebron (Kej. 13:18), di sana ia menghabiskan sisa hidupnya bersekutu dengan Allah (Kej. 18:1).